Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 22 : Persyaratan Elana


__ADS_3


"Man is not naturally bad, man is naturally good. Everybody enjoys doing something good –everybody – without any exception."


Panti asuhan yang terletak di pinggiran ibukota itu tampak sederhana, bangunannya terlihat kuno seolah dibuat dengan mengadaptasi ciri arsitektur dari masa penjajahan belanda, lengkap dengan atap berbentuk limas dan tembok yang dihias batu alam di bagian bawahnya. Halamannya cukup luas, dan tersedia beberapa ayunan yang disediakan untuk bermain anak-anak panti di sore hari sepulang mereka dari sekolah dan menunggu waktu giliran mandi.


Matahari sudah beranjak sore dan terlihat dua buah mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman panti asuhan itu, tampak begitu kontras dengan situasi sekelilingnya yang sederhana. Mobil itu begitu berkilat hingga memantulkan refleksi pantulan dari pepohonan di sekitarnya, sementara anak-anak panti tampak berkerumun di sana, mengagumi tampilan mobil yang begitu bagus dan sangat jarang bisa mereka lihat dari jarak dekat.


Di dalam ruang tamu panti asuhan, tampak Elios yang didampingi pengacara duduk menunggu dengan pakaian rapih dan ekspresi serius ketika ibu pengurus panti asuhan menandatangani berkas-berkas adopsi final yang terakhir. Setelah proses legalisasi diselesaikan, dokumen itu diserahkan kepada pengacara yang langsung memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tasnya.


"Setelah proses akhir selesai, kami akan segera mengirimkan salinannya kepada ibu." pengacara itu berucap dengan nada serius yang segera ditanggapi dengan anggukan oleh Ibu pengurus panti asuhan.


Mata Elios terarah pada pintu yang menghubungkan ruang tamu itu dengan ruang belakang panti asuhan.


"Kalau begitu kami sudah bisa membawa anak itu sekarang, bukan?"


Ibu panti asuhan mengganggukkan kepala sekali lagi.


"Mohon menunggu sebentar, Nolan sedang dibantu kakak-kakak pantinya yang lain untuk membereskan pakaian dan benda-benda pribadinya." jawabnya cepat.


Elios mengangguk tipis tanpa ekspresi sebagai jawaban, meskipun dalam hatinya dia berpikir bahwa sebenarnya Nolan tidak perlu membawa apapun ketika keluar dari sini. Menjadi anak angkat Tuan Akram, dia akan diurus dengan baik dan akan mendapatkan barang-barang baru yang berlimpah untuk mencukupi semua kebutuhannya.


Tiba-tiba, seolah diingatkan, Elios mengeluarkan amplop dari balik saku jasnya dan menyerahkan pada ibu panti asuhan.


"Ini adalah donasi pertama dari perusahaan kami, Tuan Akram sebagai pemimpin perusahaan kami berniat menggalakkan CSR yang berpusat pada program kepedulian sosial dari perusahaan kami dengan menjadi donatur tetap panti asuhan ini, semoga dengan sedikit bantuan dari kami, panti asuhan ini ke depannya akan semakin baik dalam membantu anak-anak yatim yang masih membutuhkan perawatan dan pendidikan." Elios bertutur kata lancar sesuai dengan keahliannya berdiplomasi. Dibiarkannya si ibu pengurus panti asuhan itu membuka amplop yang diberikannya, dan senyum puas tersungging di bibirnya ketika melihat bagaimana mata ibu pengurus panti asuhan itu melebar dengan mulut menganga ketika melihat nominal yang tercantum di cek resmi yang diberikan atas nama perusahaan itu.


Tuan Akram memang tidak pernah main-main dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam menyumbangkan uangnya. Uang donasi pertama yang diberikan oleh Tuan Akram untuk panti asuhan itu bahkan bisa digunakan untuk membeli rumah baru yang lebih luas dari panti asuhan ini jika mau. Tetapi, Elios berharap pihak panti asuhan bisa mengelola dana ini dengan bijaksana untuk kesejahteraan anak-anak yatim yang berada di dalam naungan panti asuhan ini.


Sebenarnya di balik sifat Tuan Akram yang kejam, bukan kali pertama ini Tuan Akram berdonasi dalam jumlah besar pada pihak-pihak kurang mampu. Hanya saja beliau tidak pernah menggembar-gemborkan kegiatan sosialnya di publik seperti pihak-pihak lainnya yang haus pujian serta perhatian. Satu-satunya kegiatan amal atas nama beliau yang terekspos oleh publik adalah kegiatan lelang amal atau penggalangan dana yang biasanya dihadiri oleh kaum kelas atas, bangsawan dan selebritis untuk memamerkan kemurahan hati mereka kepada khalayak. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, itu hanya sebagian kecil dari sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh Tuan Akram tanpa nama.


Belum lagi dana CSR perusahaan beliau yang melimpah yang dikhususkan untuk hal-hal yang menyangkut kepedulian kepada lingkungan sekitar perusahaan seperti untuk membantu orang kurang mampu, pemberian beasiswa dan tunjangan kesehatan bagi masyarakat kelas bawah dan juga untuk membantu panti asuhan yang menampung anak-anak yatim seperti ini.


Elios juga berasal dari panti asuhan, jadi dia tahu bagaimana dana sekecil apapun dari para donatur akan sangat berguna bagi kehidupan anak-anak yatim tersebut.


"Karena dana tersebut sangat besar, kami akan mengirimkan bantuan akuntan dan auditor profesional dari perusahan kami yang akan datang setiap minggunya untuk mendampingi pengelolaan uang tersebut. Kami harap kerjasama ini bisa berlangsung baik hingga ke depannya." Elios berucap dengan ekspresi serius sementara sedetik kemudian perhatiannya teralih pada pintu yang terbuka di belakang ibu pengurus panti asuhan itu.


Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, dengan tubuh sedikit kurus dan ekspresi takut bercampur sedikit malu tampak keluar dengan didampingi oleh anak yang lebih besar. Sebuah tas dari bahan kulit sintetis berwarna cokelat yang sudah agak lusuh ditempatkan di samping anak itu, sepertinya berisi barang-barang yang hendak dibawanya.


Ibu pengurus panti asuhan langsung beranjak berdiri dan berjalan menghampiri anak itu, lalu menghela anak laki-laki itu supaya berjalan mendekati Elios.

__ADS_1


"Nolan, ini Tuan Elios, beliau adalah orang yang ditugaskan untuk mengurusmu mulai saat ini."


Mata Elios membalas tatapan ingin tahu Nolan dengan senyuman, diulurkannya tangannya untuk menyalami Nolan dan diberikannya senyumannya yang paling cerah.


"Kau sudah berada di tangan yang tepat, Nolan. Kami semua akan mengurusmu dengan baik." ucapnya begitu tangan kurus anak kecil tak berdaya itu ada di dalam genggamannya.


 



 


Keterkejutan mewarnai ekspresi Elana ketika melihat Akram menghancurkan kertas putih catatannya itu dengan kejam sampai tak berbentuk lagi. Sebenarnya Elana masih berharap bisa menyelamatkan kertas itu dengan mengambilnya diam-diam kalau-kalau Akram membuangnya, sayangnya harapannya berakhir sia-sia karena ternyata Akram memasukkan kertas yang sudah hancur itu ke saku kemejanya, memutus harapan Elana untuk mendapatkan kertas itu.


Pupus sudah rencananya yang bahkan belum sepersepuluh terlaksana. Padahal catatan yang dibuatnya itu berisi seluruh hasil pengamatannya selama seminggu ini, semua jadwal dicatatnya dengan rapih diam-diam sambil berharap menemukan celah keamanan yang bisa ditembusnya. Tetapi sekarang, dengan Akram mengetahui kegiatannya diam-diam di belakang punggungnya itu, sudah jelas Akram akan meningkatkan kewaspadaannya sehingga tidak mungkin bagi Elana untuk melarikan diri dari pulau ini.


Elana mengutuk dirinya yang teledor karena meletakkan kertas penting itu sembarangan hingga bisa ditemukan oleh Akram, harusnya dia menyelipkannya di salah satu buku tersembunyi dan menyimpannya di rak yang paling jauh dari jangkauan supaya tidak ketahuan. Tetapi, dia malah menyelipkannya di buku yang dia baca, dan dia ketiduran pula, hingga membuat Akram dengan mudah menyerangnya serta mengetahui rahasianya.


Sekarang Elana harus memutar otaknya dengan lebih keras. Dia harus menemukan rencana baru untuk melepaskan diri dari Akram. Dan rencana baru itu haruslah bisa membawanya keluar dari pulau ini. Sebab, jika Elana terus tertahan di pulau ini, sudah pasti tidak ada jalan baginya untuk bisa melarikan diri.


Ekspresi Elana yang berubah-ubah terpantul dalam pupil mata Akram yang bening ketika lelaki itu hanya diam mengawasi perempuan di depannya dengan tatapan mata tajam.


Akram tahu bahwa Elana masih akan terus berusaha membangkang terhadapnya. Dan dia akan menikmati melihat Elana memainkan rencana untuk melarikan diri terhadapnya sebelum kemudian menghancurkan rencana itu hingga berkeping-keping di depan mata Elana. Akram berniat untuk mengikuti permainan Elana sampai akhir, melihat sampai seberapa jauh perempuan itu akan terus memberontak dan bersikeras menolak tunduk kepadanya.


"Aku bersedia menjadi keluargamu." Elana menatap Akram dengan wajah yang sangat serius, membuat Akram mengangkat alis, tak menduga bahwa kalimat itulah yang akan muncul pertama kali dari bibir Elana.


Perempuan ini sedang berencana apa? Akram tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya-tanya meskipin dia tahu, bahwa apapun rencana Elana, Akram akan mampu mengimbanginya dengan lebih licik.


"Menjadi keluargaku berarti mengikuti persyaratanku. Aku ingin kau bersikap aktif dan sukarela ketika melayaniku di tempat tidur. Aku tidak suka merasa seperti sedang memperkosamu terus menerus setiap kali aku menidurimu." Akram mengabaikan tatapan Elana yang tampak mencibir perkataannya, lalu melanjutkan dengan dingin. "Dan aku tidak ingin kau membuat rencana untuk melarikan diri lagi di belakang punggungku. Bahkan kalau kau beruntung - meskipun itu mustahil - dan bisa lari sekalipun, itu tidak akan berlangsung lama. Aku akan mengejarmu dan mendapatkanmu seketika. Kau sebatang kara, tak memiliki dukungan apapun dan di mata negara kau sudah mati, sementara kekuasan dan kekuatanku sangat besar di negara ini. Kau harus sadar bahwa kekuatanmu tidak sebanding denganku."


Akram mengucapkan ancaman sekaligus merendahkan Elana dengan perkataannya, membuat Elana ingin membantah seketika. Tetapi dia akhirnya berhasil menguasai diri dan menggigit bibirnya kuat-kuat supaya tidak mengeluarkan bantahan sepatah kata pun.


Rencananya adalah bersikap patuh hingga Akram lengah. Tetapi tentu saja Elana tidak ingin selamanya disekap menjadi gundik Akram tanpa perlawanan. Yang membuatnya cemas adalah ketika melihat hasrat Akram yang masih begitu besar kepadanya, Elana takut bahwa masih akan lama sebelum Akram merasa bosan dan membuangnya.


Dan melihat kekejaman yang ditunjukkan Akram selama ini, Elana menduga bahwa dia tidak mungkin bisa melenggang dengan bebas ketika Akram sudah bosan kepadanya. Jika Akram sudah tidak menginginkannya lagi dan ingin membuangnya, Elana yakin bahwa dia akan dibunuh dan berakhir menjadi Jane Doe, mayat tak bernama yang mengenaskan.


Elana harus bisa menyembunyikan dari Akram bahwa jauh di dalam hatinya, dia tidak akan menyerah begitu saja kepada lelaki itu. Akram mungkin telah menjelaskan dengan gamblang bahwa melepaskan diri darinya merupakan suatu kemustahilan, tetapi Elana tahu, tidak pernah ada kemustahilan di dunia ini.


Jika dia tidak melepaskan harapannya dan bersabar menunggu waktu yang tepat, Elana yakin dia akan mendapatkan kesempatan untuk melepaskan diri dari lelaki itu.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti persyaratanmu.... Jika kau menginginkan aku bersikap sukarela, maka aku akan melakukannya...." pipi Elana memerah dan kalimatnya tersekat di tenggorokan. "Pokoknya apapun itu yang kau mau, aku akan patuh," Elana menghela napas panjang dan jantungnya berdebar ketika melanjutkan kalimatnya, menatap Akram dengan penuh kehati-hatian. "Tapi aku punya persyaratan yang harus kuajukan kepadamu."


Mata Akram berkilat seolah dirinya memang sudah menunggu Elana berucap seperti itu.


"Dan apa persyaratanmu itu, Elana?" Akram berucap dengan nada gelap yang membuat bulu kuduk berdiri.


Elana menarik selimut yang membungkus tubuhnya supaya makin kencang, seolah menjadikannya pegangan sekaligus tameng.


"Aku akan bersikap patuh kepadamu.... tapi aku tidak ingin dikurung di pulau ini..." Elana menatap serius ke arah Akram. "Aku tahu bahwa aku tidak bisa kembali ke kehidupanku semula, tapi... tapi aku tetap ingin menjalani kehidupan yang wajar, bukan hanya berdiam diri tanpa kegiatan, dikurung di sebuah pulau tanpa melakukan apapun dan pasrah menunggu kunjunganmu setiap akhir pekan."


"Jadi kau ingin kembali menjalani hidupmu yang dulu bahkan setelah merasakan semua fasilitas kelas atas yang kuberikan kepadamu disaat aku menempatkanmu dalam naunganku?" ekspresi Akram tampak sinis. "Bukankah hidupmu yang dulu tidak begitu baik? Kenapa kau begitu bersikeras kembali pada hidupmu yang miskin dan kekurangan itu? Apa kau rindu ingin menjadi pembersih toilet lagi?" tanya Akram setengah mengejek.


Elana mengepalkan tangannya. "Kalau aku harus menjadi pembersih toilet lagi, itu bukan masalah!" serunya keras. "Pekerjaan itu kulakukan sesuai dengan kemampuanku dan aku tidak merugikan siapapun ketika mengerjakannya. Jadi... jadi aku tidak pernah merasa malu untuk menjadi petugas pembersih toilet! Dan... dan kalau aku bekerja lagi pun, aku ingin hidup dari uangku sendiri... bukan dari uangmu!"


"Tidak." Akram menggeram. "Dengan menempatkanmu di bawah naunganku dan membuatmu menjadi keluargaku, maka aku akan mengurusmu. Termasuk segala kebutuhanmu. Akram Night tidak mungkin membiarkan wanitanya hidup miskin dan berkekurangan." Akram tampak marah mendengar usulan Elana dan nyali Elana ciut karena dia tahu kalau saat ini dia tidak bisa membuat Akram membiarkannya meninggalkan pulau ini, maka semakin tipis harapannya untuk melarikan diri dari Akram.


"Kalau kau tidak mau mempertimbangkan untuk membiarkanku keluar dari pulau ini, maka aku akan menarik kembali tawaranku untuk... untuk menerimamu dengan sukarela!" Elana menyahut dengan nada keras kepala, mendongakkan dagunya penuh keangkuhan.


Akram menatap tajam ke arah Elana dan senyum penuh ironi muncul di bibirnya. Dengan tubuh mungil yang hanya berbalut selimut dan kekuatan yang sangat kecil, Elana tidak seharusnya merasa percaya diri untuk bernegosisasi dengan Akram. Jika yang dihadapi oleh Akram adalah orang lain, sudah tentu dia akan menggilas lawannya itu tanpa ampun. Tetapi menghadapi Elana saat ini, dengan sukarela Akram bersedia melonggarkan sikap kejam dan kerasnya.


Karena rasanya sangat menyenangkan bermain-main dengan perempuan ini.


"Aku akan mempertimbangkan untuk mengizinkan kau keluar dari pulau ini, bahkan aku bersedia memikirkan kemungkinan membiarkan kau untuk bekerja kembali di luar sana." Akram berucap dengan nada dalam dan misterius. "Asalkan sekarang kau bisa menunjukkan usaha kerasmu untuk meyakinkanku. Kalau kau bisa membuatku yakin, mungkin aku akan menerima persyaratanmu."


Mata Elana yang jernih langsung melebar mendengar perkataan Akram yang penuh arti terselubung itu. Bibirnya langsung menyuarakan pertanyaannya.


"Menunjukkan usaha kerasku? Apa maksudmu?"


"Kau bilang, sebagai timbal balik persyaratanmu, kau akan bekerjasama denganku, melayaniku dengan sukarela bahkan bersikap aktif saat bercinta." Akram menyeringai, ekspresinya tampak sensual ketika lelaki itu menyandarkan tubuhnya dengan santai ke punggung kursi dan kemudian menepuk pahanya penuh arti. "Aku perlu bukti, jadi tunjukkanlah kepadaku. Naik ke pangkuanku dan cium aku."


 





 

__ADS_1



__ADS_2