
“Kau akan membunuhku?”
Suara Aaron terdengar gemetaran tak terkendali. Dia sama sekali tak menyangka kalau Xavier akan mengambil keputusan secepat ini untuk mencabut nyawanya. Dia masih ingin hidup, dia masih punya mimpi untuk menguasai seluruh kekayaan Keluarga Dawn. Dia tak mau mati konyol hanya karena alasan remeh seperti Serafina Moon.
“Aku sudah memberimu kesempatan untuk hidup sebelumnya. Aku bahkan membiarkan kau tetap bernapas karena nyawamu berharga untuk Sera. Tetapi kau berusaha membuat rencana di belakang punggungku, bukan cuma itu, kau juga berusaha menyeret Sera supaya jatuh bersamamu. Untung istriku itu cukup pandai dan bijaksana, bisa memilih dengan bijaksana di pihak mana yang paling benar.” Xavier menyeringai, tampak sangat puas. “Yang pasti, bukan di pihakmu,” sambungnya mengejek.
Mengenai hal itu, Aaron masih tak percaya. Tetapi sekarang, melihat Xavier dengan penuh percaya diri mengatakan akan mencabut nyawanya, membuktikan dengan gamblang bahwa Sera memang sudah beralih pihak, tidak tahu terima kasih dan tak berniat membelanya.
Alat pemberian Sabina yang diberikannya kepada Sera juga sudah jelas-jelas merupakan alat komunikasi dua arah sehingga Sera seharusnya bisa membalas ataupun menanggapi pesannya dengan cara mengirimkan pesan kepadanya menggunakan alat itu. Tetapi, ternyata Sera tak melakukannya. Mungkin perempuan murahan itu terlalu sibuk menghabiskan waktunya di tempat tidur bersama suaminya yang seperti monster ini hingga melupakan semua jasanya yang dia berikan di masa lalu kepadanya.
Meskipun sesungguhnya, semua bantuan yang diberikannya di masa lalu kepada Sera bukankah bantuan tulus, melainkan direncanakan untuk menciptakan posisi dirinya sebagai orang penting yang bisa dipercaya di hati Sera dengan harapan kalau dia akan bisa mengendalikan perempuan itu di masa depan.
Mereka semua sudah memanipulasi dan mencuci otak Sera selama bertahun-tahun supaya perempuan itu menganggap bahwa Aaron adalah malaikat penyelamatnya dan Xavier adalah musuh mengerikan yang harus ditakuti dan dibenci karena sangat kejam. Tetapi, hanya dalam hitungan waktu singkat, tiba-tiba Sera membuang semua yang tertanam di dirinya selama bertahun-tahun dan memilih untuk mengambil jalan yang bertolak belakang dengan rencana mereka semula.
Seluruh usaha mereka selama bertahun-tahun porak poranda hanya dalam sekejapan mata. Dan semua itu karena Xavier Light sialan ini.
Apakah benar yang dikatakan orang-orang bahwa Xavier sangatlah ahli memanipulasi dan bisa membuat orang-orang tunduk kepadanya? Ataukah lelaki itu menggunakan pesona ragawinya untuk menjerat Sera?
Kalau sudah begini, Aaron menyesal karena membiarkan Sera tetap polos tanpa pengalaman ketika mereka mengirimkan perempuan itu untuk mendekati Xavier. Aaron menahan diri untuk tak menyentuh Sera karena Roman Dawn berkata bahwa Xavier akan lebih tertarik dengan tipe perempuan polos tak berpengalaman dan tanpa dosa. Padahal, dia tahu bertapa kagumnya Sera kepadanya. Sedikit saja rayuannya untuk Sera, Aaron yakin bahwa dengan mudahnya perempuan itu akan jatuh ke dalam pelukannya tanpa perlawanan.
Tapi sekarang sudah terlambat. Nyawanya berada di ujung tanduk dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah….
Aaron menelan ludah, berpikir keras, mencari celah untuk menemukan kesempatan baginya meloloskan diri dari ultimatum kematian yang dijatuhkan oleh Xavier.
Matanya nanar, mengikuti gerakan Xavier ketika lelaki itu menggunakan ponselnya untuk memanggil anak buahnya. Dua orang anak buah Xavier melangkah masuk, yang satu langsung menarik nakas di dalam kamar itu mendekat ke arah Xavier dan mengangkat nampan berisi bekas makan Aaron lalu membawanya keluar dan menyerahkannya kepada rekannya yang lain. Sementara yang lain yang membawa kotak hitam di tangannya, dengan gerakan cepat langsung meletakkan kotak itu di atas nakas.
Xavier memberi isyarat kepada dua anak buahnya yang tersedia, dan mereka dengan sigap bergerak, menyerbu ke arah Aaron, mencekal kedua lengannya di kiri dan kanan, lalu memaksa Aaron dari posisinya bersimpuh, tak peduli pada Aaron yang meronta dan berusaha melepaskan diri, lalu setengah menyeret Aaron dan membawanya ke hadapan Xavier.
“Aku akan menyuntikmu dengan cairan pembunuh yang bisa dibilang tidak efektif,” Xavier terkekeh ketika membuka kotak hitam itu. Aura yang dikuarkan dari tubuhnya saat berucap terasa mengerikan, membuat bulu kuduk berdiri. “Kenapa aku bilang racun ini tak efektif? Karena, meskipun racun ini seratus persen bisa membunuhmu, tetapi proses kematiannya sangat lama.”
Xavier menyeringai. “Bisa dibilang, racun ini tidak efektif untuk membunuh dengan cepat, tetapi sangat efektif untuk menyiksa manusia. Racun ini berisi molekul kecil yang identik dengan molekul pyrogen dalam tubuh, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh bakteri atau sistem pertahanan tubuh yang memiliki fungsi untuk memicu termostat dalam tubuh. Molekul inilah yang membuat hipotalamus memberitahu tubuh supaya berusaha untuk mencapai target suhu termostat tersebut melalui berbagai proses menghasilkan panas. Tetapi, karena sifat molekul ini seribu kali lebih agresif daripada pyrogen, target suhu yang ditentukan oleh termostat ini sangatlah tinggi, hingga membuat tubuh secara agresif akan menggunakan segala cara untuk mencapainya." Xavier menghentikan kalimatnya sejenak untuk memastikan Aaron bisa mencerna perkataannya, sebelum melanjutkan kembali,
"Kau akan menggigil, denyut jantung dan tekanan darahmu meningkat drastis, sel tubuhmu melakukan pembakaran secara masif, sehingga rasanya akan sangat menyakitkan, seolah-olah dibakar dari dalam.” Xavier menyipitkan mata, memindai Aaron yang tampak semakin ketakutan seiring dengan pertambahan kalimatnya. “Pada akhirnya, ketika suhu tubuh yang ditentukan tercapai, kau akan mati dengan kerusakan total di dalam tubuhmu.”
Xavier lalu mengeluarkan tabung kecil dengan cairan berwarna keemasan di dalamnya, mengangkatnya dihadapan Aaron yang gemetar ketakutan seolah memamerkan mahakaryanya.
“Warna keemasan dari racun ini, didapatkan dari ekstrak vanila yang sengaja kutambahkan kedalamnya. Aromanya sangat harum dan lembut, menciptakan nuansa tak berbahaya yang menipu. Racun ini tidak berasa, tidak berwarna dan hanya akan memberikan pekat aroma vanila jika dicampurkan pada makanan. Tetapi, untuk saat ini, aku lebih senang menyuntikkannya langsung ke dalam aliran darahmu.” Xavier menyiapkan alat suntiknya dengan gerakan efektif, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya. “Bawa dia kemari.”
Anak buahnya langsung membawa Aaron lebih dekat. Yang satu mencekal tubuh Aaron sementara yang lain mengambil lengan Aaron sebelum kemudian menarik lengan itu paksa dan mendekatkannya ke arah Xavier yang sudah siap dengan jarum suntiknya.
Orang bilang, ketika manusia berada pada kondisi genting antara hidup dan mati, energi yang muncul untuk mencoba menyelamatkan nyawa akan meluap-luap luar biasa hingga di luar batas nalar.Dan hal itulah yang sekarang terjadi kepada Aaron.
Aaron tahu bahwa dia memiliki senjata rahasia yang efektif, dia juga tahu bahwa kedekatan posisinya dengan posisi Xavier berdiri saat inilah yang menentukan apakah dia akan berhasil melakukan maksudnya atau tidak.
Dan di detik yang paling menentukan itu, kenekatan membuat Aaron melakukan segala yang dia bisa untuk menyelamatkan nyawanya. Dia telah menggenggam ponsel mini itu diam-diam di tangannya. Ukurannya yang sangat kecil cukup untuk membuat benda itu tersembunyi dalam kepalannya tanpa ketahuan. Beruntung Xavier sepertinya sedang termakan oleh hasrat membunuh Aaron yang sangat kuat, sehingga lelaki itu tak berpikir untuk menyita ponsel mini itu dari tangan Aaron.
Mungkin, Xavier memutuskan untuk mengambil ponsel itu nanti dari mayat Aaron yang telah mati karena menganggap ponsel mini itu tak berbahaya.
Aaron yakin bahwa Xavier pasti sudah memeriksa ponsel mini yang ada di tangan Sera, hingga lelaki itu beranggapan bahwa yang dibawa Aaron pasti sama persis dengan milik Sera, hanya digunakan untuk bertukar pesan dan bukanlah benda berbahaya.
Tetapi Xavier salah. Sudah pasti sangat salah.
Seringai tertahan muncul di bibir Xavier ketika benaknya berpikir bahwa dia sudah berhasil memperdaya lelaki licik itu.
Ketika memberikan ponsel mini itu kepada Aaron, Sabina bilang bahwa ponsel ini bisa digunakan dalam kondisi mendesak sebagai alat perlindungan diri. Ada sebuah tombol kecil di ponsel itu yang bila ditekan akan mendorong bilah pisau kecil yang sangat tajam dengan efek merusak besar muncul dari sisi sampingnya.
Ketika salah seorang anak buah Xavier menarik tangan kirinya dengan paksa dan mendekatkan tangan Aaron ke arah Xavier untuk menerima suntikan, Aaron mengerahkan seluruh kekuatannya untuk meronta, menghentak sekuat tenaga dan berhasil melakukannya.
Lengan kanannya akhirnya bisa terbebas dari cekalan anak buah Xavier yang satunya, dan tanpa membuang-buang waktu lagi, lengan kanannya yang menggenggam ponsel mini yang telah beralih fungsi menjadi gagang belati itu langsung berayun, diiringi dengan tubuhnya yang meloncat maju, menyerbu ke arah Xavier, sehingga dengan sangat cepat – tanpa Xavier sempat menghindar – langsung berhasil menancapkan pisau itu tepat ke dada Xavier.
Xavier melebarkan mata, terkejut dengan gerakan Aaron yang tiba-tiba. Tangannya bergerak menyentuh pisau yang menancap di dadanya itu dengan mata melebar, merasakan darah hangat langsung mengalir keluar, membeludak dari luka tancapan pisau di dadanya, merembes ke pakaiannya hingga menciptakan aliran darah segar yang mengalir tak terkendali dari sana.
__ADS_1
Sementara itu, anak buah Xavier langsung bergerak sigap, mereka menangkap Aaron, meringkusnya, memukulinya dengan kasar hingga tubuh Aaron terjerembab di lantai, dan menahan lelaki itu tetap berada di sana. Pukulan yang diterima di kepala Aaron begitu kerasnya sehingga membuat Aaron pingsan seketika. Lelaki itu berbaring di sana, tak sadarkan diri sementara dua orang anak buah Xavier masih berjaga meringkus tubuhnya yang lunglai kehilangan kesadaran.
Keributan di dalam ruangan membuat anak buah Xavier yang lainnya berlarian datang, dan mata mereka melebar ketika melihat bahwa bos mereka berdiri dengan darah mengucur dari lukanya.
Xavier memiliki anemia aplastik dimana tubuhnya tak mampu menghasilkan sel darah dalam jumlah cukup, baik itu sel darah merah, sel darah putih, dan juga, trombosit. Trombosit itulah yang berperan untuk membantu membentuk bekuan darah, guna memperlambat atau menghentikan perdarahan, serta penyembuhan luka. Meskipun Xavier sudah meminum obat buatannya sendiri untuk mempertahankan kondisinya, tetap saja jumlah sel trombosit yang dihasilkannya di bawah normal, yang menjadikan pendarahan di luka hasil tikaman Aaron semakin menghebat seiring berjalannya waktu.
Xavier tahu bahwa dia harus mendapatkan pertolongan. Kalau tidak hasilnya akan fatal.
Saat ini matanya sudah berkunang-kunang dan kesadaran yang bercokol dalam otaknya hanya tersisa sedikit. Dia harus bertindak cepat.
Dengan sigap. Xavier menoleh ke arah anak buahnya dan memberi perintah tegas.
“Dokter Nathan. Minta dia membawa helikopter medis kemari. Katakan aku mengalami pendarahan hebat.”
Setelah berhasil mengucapkan perintahnya, tubuh Xavier goyah, tak bisa mempertahankan keseimbangannya. Salah seorang anak buahnya berusaha menopangnya, tetapi terlambat. Tubuh Xavier rubuh tak mampu lagi mempertahankan kesadarannya.
***
Sabina berhasil mencapai lantai paling atas gudang besar ini yang berwujud sebuah loteng terbuka berlapis beton yang sangat luas. Langkahnya cepat dan tak bersuara ketika dia mendekati sebuah bangunan kotak kecil yang semua sisinya terbuat dari dinding beton yang berada di tengah area loteng luas tersebut.
Dia lalu menemukan pintu kecil di dalam bangunan berbentuk persegi empat itu. Pintu itu terbuat dari besi baja dan tampak sangat berat. Sabina menduga pintu itu adalah jalan menuju tangga yang menghubungkan area loteng paling atas bangunan ini dengan lantai di bawahnya.
Disentuhnya pintu itu perlahan, dengan hati-hati. Lalu setelahnya, dia berusaha mendorong pintu itu supaya terbuka. Sayangnya, seperti dugaan Sabina, pintu itu terkunci rapat dari dalam, tak bisa dibuka dari luar.
Sabina mengambil beberapa waktu untuk berdiri di depan pintu itu dan menimbang-nimbang. Pintu ini terbuat dari baja tebal tahan peluru. Sabina mungkin bisa mencoba menembaknya, tetapi itu cukup berbahaya, karena sudah pasti suara hantaman peluru dengan baja akan menimbulkan keributan yang mungkin akan menarik para penjaga untuk berdatangan ke loteng ini.
Pikiran Sabina yang sibuk mencari cara untuk masuk ke dalam gudang itu terhenti ketika sebuah suara gemuruh terdengar mendekat. Kepalanya menoleh, mengikuti arah suara dan keterkejutan langsung menguasai dirinya ketika melihat sebuah helikopter terbang mendekat, membuat tubuhnya refleks langsung mencari tempat tersembunyi di bawah bayang-bayang di belakang bangunan berbentuk kotak tersebut.
Tangannya meraih pistolnya dan mempersiapkannya dengan waspada, sementara tubuhnya berbaring tengkurap, rebah di atas lapisan lantai beton yang menghampar di loteng tersebut. Sabina berharap supaya pakaiannya yang gelap menyaru dengan sekelilingnya hingga keberadaannya di atas loteng gudang ini tak terlihat dari atas helikopter yang menyalakan lampu terangnya menyinari seluruh area loteng tersebut.
Kenapa ada helikopter di sini? Apakah Sabina sudah ketahuan?
Suara gemuruh langkah kaki terdengar dari bawah sana, dan kembali perhatian Sabina teralih ketika terdengar suara pintu baja itu dibuka lebar-lebar dan dari derap langkah yang didengarnya, Sabina menduga ada puluhan orang yang menghambur keluar tepat pada saat helikopter itu mendarat di sisi depan bangunan kotak tersebut, menghalangi pandangan Sabina sehingga dia hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya untuk menduga-duga, tanpa bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Helikopter itu ternyata datang bukan untuk menyergapnya.
Dilihat dari pilot helikopter yang tampaknya tak mau repot-repot mematikan mesinnya, tampaknya helikopter itu sedang bersiap untuk pergi lagi setelah siapapun yang mengendarainya datang kemari, menyelesaikan maksud tujuannya datang ke tempat ini.
Didorong oleh rasa ingin tahunya yang meluap-luap, Sabina mengabaikan protokol keamanan diri yang dianutnya. Dia bangkit dari posisinya tengkurap, lalu merayap sambil tetap menggenggap pistolnya dan menggeser tubuhnya untuk bergerak ke sisi ujung bangunan kotak tersebut dan berusaha mengintip.
Tampak semua orang sibuk menaikkan sesuatu ke atas helikopter dan seluruh kesibukan berpusat di sana.
Sabina menelan ludah, lalu memutuskan untuk mengambil resiko sekali lagi dan bergerak memutari bangunan kotak itu. Dia mengintip dan melihat bangunan kotak itu terbuka lebar tanpa penjaga. Semua orang tampaknya sibuk berkutat di sekeliling helikopter sehingga mengendorkan keamanan di area pintu masuk yang langsung terhubung dengan tangga menurun itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Sabina meloncat masuk ke dalam pintu itu dan berlari cepat menuruni tangga untuk mencari tempat aman bersembunyi sebelum dia melaksanakan maksudnya untuk mengambil Aaron dari sini.
Masih didengarnya suara helikopter yang mengeras, menunjukkan bahwa kendaraan itu telah kembali mengudara pergi. Rasa ingin tahunya mengenai tujuan helikopter itu berada di tempat ini terasa mengusik, tetapi Sabina membuang pertanyaan di hatinya itu jauh-jauh.
Dia telah mendapatkan kesempatan untuk masuk ke bangunan ini. Sekarang dia harus menemukan tempat Aaron dikurung dan membawanya keluar dari sini.
***
Ketika Sera keluar dari kamar mandi, dia mengerutkan kening ketika melihat para pelayan tengah sibuk di depan lemari pakaiannya yang terbuka. Rambut Sera masih basah dan dia membalut tubuhnya dengan handuk besar milik Xavier yang memanjang menutupi sampai pertengahan betisnya.
Dengan penuh rasa ingin tahu, Sera mendekat untuk melihat apa yang dilakukan oleh para pelayan itu, dan matanya melebar ketika melihat bahwa para pelayan itu sedang mengatur pakaian di dalam lemarinya. Jumlahnya cukup banyak hingga tumpukannya menggunung dan di sisi lain lemari yang berupa gantungan baju, gantungannya sudah penuh dengan berbagai macam gaun yang disusun dengan cermat berdasarkan gradasi warna. Begitupun satu sisi lemari yang digunakan untuk menyimpan pakaian dalamnya, semuanya lengkap terisi penuh dengan pakaian dalam berwarna hitam, putih dan dominasi warna pastel yang sangat indah dipandang mata.
“Selamat pagi Nyonya, sebelum pergi tadi, Tuan Light menginstruksikan untuk menyimpan pakaian-pakaian ini kembali ke lemari Anda.” Salah seorang pelayan wanita yang tampak masih muda menyapanya dengan nada polos dan penuh sikap hormat.
Sera mengerutkan kening. Dia tahu bahwa Xavier telah pergi meninggalkan rumah ini pagi-pagi sekali untuk suatu urusan misterius yang dirinya bahkan tak ingin tahu. Ketika Sera terbangun pagi hari tadi, lelaki itu sudah tidak ada di sisi ranjangnya, menyisakan sprei kusut tetapi sudah mendingin, menandakan bahwa lelaki itu sudah pergi meninggalkan ranjang itu sejak lama.Tetapi, bukan itu yang menjadi perhatian Sera. Dia tertarik dengan kalimat yang diucapkan oleh pelayan itu dan bertanya untuk memastikan kembali.
“Apa maksudmu dengan menyimpan pakaian ini kembali? Sebelumnya pakaian ini ada di mana?”
__ADS_1
Kedua pelayan yang ada di dalam kamar itu tampak canggung dan bingung untuk menjawab. Mata mereka saling melempar pandang penuh isyarat dan peringatan. Tetapi akhirnya, yang bersuara tadi akhirnya berucap, memutuskan untuk berkata jujur.
“Sebelum Anda datang, ada instruksi dari Tuan Light untuk memindahkan seluruh pakaian Anda ke lemari di kamar sebelah. Tadi pagi, Tuan Light memerintahkan kami untuk mengembalikan pakaian itu ke tempatnya semula,” jelas pelayan itu dengan nada takut-takut.
Sera melebarkan mata dan mau tak mau merasa jengkel setengah mati kepada Xavier. Lelaki itu telah mengerjainya semalam, menempatkannya dalam posisi tidak nyaman karena tak punya pakaian ganti, bahkan pakaian dalam saja dia tidak punya!
Xavier bahkan memaksanya memakai pakaiannya dan juga boxer bekas pakainya tanpa pakaian dalam!
Awas saja, jika Xavier pulang nanti, Sera akan mengkonfrontasinya dan marah habis-habisan kepada lelaki itu.
Tetapi untuk sekarang, Sera tak mau membuang-buang energi untuk marah. Ada banyak gaun dengan warna indah di dalam gantungan lemarinya, dan Sera sangat ingin memakai yang berwarna magenta kali ini.
Dia meminta bantuan pelayan untuk mengambilkannya gaun itu, lalu memakainya dengan senang hati.
Gaun itu polos, dengan lengan sederhana tanpa aksen dan kerah sabrina yang sangat cocok dengan proporsi tubuh Sera yang ramping tapi berlekuk. Bagian atasnya membungkus tubuh dengan pas, lalu melebar di pinggangnya sampai ke pertengahan betisnya, tampak sangat cantik membungkus badannya.
Sera baru saja mengenakan pakaiannya ketika pintu kamarnya terbuka, membuatnya mengerutkan kening dan menoleh ketika sosok yang diketahuinya merupakan kepala pelayan di rumah ini, datang dengan membawa ponsel di tangannya.
Wajah kepala pelayan itu tampak cemas dan pucat, mengalirkan firasat buruk dalam benak Sera.
“Mohon terima telepon ini, Nyonya. Sifatnya darurat. Saya sudah menyiapkan mobil di depan.” Kepala Pelayan itu berucap dengan nada tegang sedikit tertahan.
Mau tak mau, Sera menerima ponsel itu dan mengangkatnya. Suaranya lemah diliputi kebingungan ketika menyuarakan salam sapaan kepada siapapun yang meneleponnya di seberang sana.
“Sera?” Suara lembut yang menyahutinya diseberang sana terdengar familiar dan membutuhkan waktu beberapa detik bagi Sera untuk mengenalinya. Itu adalah suara Elana. “Kau harus ke rumah sakit sekarang. Kumohon. Xavier terluka dan mengalami pendarahan fatal. Kondisinya kritis.”
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
__ADS_1
Yours Sincerely - AY