Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 56 : Rasa Iba


__ADS_3

Meskipun dalam kondisi lemah dan mengantuk, tetapi entah kenapa cengkeraman Xavier di tangannya sangatlah kuat. Sera sendiri membeliak, kepalanya menunduk, menatap pertautan tangan mereka. Perlahan dia berusaha melepaskan cengkeraman Xavier dari pergelangannya. Sayangnya, Xavier bersikeras, tak mau melepaskan.


Dengan frustasi, Sera mengangkat pandangan ke arah Xavier kembali.


"Kau bilang apa?" Sera sedikit menaikkan nada suaranya supaya bisa menembus kesadaran Xavier yang sudah mengantuk benar. Mungkin obat itu mengacaukan kesadaran Xavier hingga membuatnya seperti orang mabuk.


Sera mengenal Xavier, dia tahu pasti bahwa Xavier yang sadar sepenuhnya, tidak mungkin akan minta ditemani tidur olehnya dengan sikap manja layaknya seorang anak kecil.


Xavier memiringkan kepalanya. Matanya yang mengerjap setengah membuka, tampak berkabut. Tetapi, suaranya terdengar tegas ketika berucap.


"Aku ingin kau tidur denganku. Naiklah ke atas ranjang." Tanpa rasa bersalah dan dengan tenaga besar yang anehnya dimiliki oleh tubuhnya yang tampak lemah, Xavier mengguncang pergelangan tangan Sera dan menariknya ke arah ranjang, membuat Sera yang tak siap jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di tepi ranjang.


"Lepaskan dulu tanganku," Sera mengaduh sambil memelototi Xavier yang memasang ekspresi tak bersalah. "Aku harus kembali ke kamarku sendiri. Bukankah merupakan keputusanmu sendiri sehingga kita berpisah kamar? Kau tak bisa melakukan hal-hal semaumu terhadapku. Minta ditemani tidur kalau kau butuh, lalu mengusirku dari kamarmu kalau kau tak butuh. Aku bukan wanita rendahan yang bisa kau perlakukan semaumu!"


Sera mulai mengomel, sebelah tangannya ikut bergerak, berusaha melepaskan cengkeraman Xavier yang keras kepala. Tetapi, tetap saja tak berhasil karena Xavier terlalu kuat. Malahan, pergelangan tangan Sera mulai terasa sakit karena usahanya untuk melepaskan diri dengan paksa dari lelaki itu.


"Xavier!" Sera menghardik, mulai kehilangan kesabaran. "Lepaskan tanganku! Apa sebenarnya maumu?" Sera mulai dikuasai emosi bercampur frustasi.


Bagaimana bisa seseorang yang mengantuk dan dipengaruhi obat, memiliki kekuatan sebesar ini untuk mencengkeram tangannya?


Senyum Xavier tersungging, seolah lelaki itu tak menyadari betapa kerasnya Sera berusaha melepaskan diri. Lelaki itu bahkan mengabaikan tatapan penuh kemarahan dan seruan Sera yang diarahkan kepadanya.


"Tidur bersama. Aku ingin dipeluk." Xavier mengambil tangan Sera yang belum dibebaskannya, lalu menariknya ke bibirnya dan menghadiahkan kecupan lembut di punggung tangannya. "Jangan pergi, Serafina Moon," bisiknya serak, lalu matanya mulai terpejam rapat, dihanyutkan oleh kantuk.


"Xavier? Xavier?" Sera mulai panik, dia mengguncang tangannya dengan keras, berusaha mengganggu lelap lelaki itu. Sayangnya, usahanya itu harus berakhir dalam kesia-siaan. Lelaki itu tidur seperti batu, tenggelam dalam nyenyak yang dalam, hingga gangguan sebesar apapun, tak berarti baginya.


Lama Sera termangu sambil duduk di tepi ranjang. Matanya menatap jengkel ke arah cengkeraman Xavier yang masih ketat, tak kunjung lepas.


Sungguh lelaki yang sangat merepotkan....


Sera terus saja membatin, melampiaskan kekesalannya kepada laki-laki itu di dalam hati, sambil matanya terus mengawasi Xavier. Semula, dia hendak marah kepada lelaki itu, tetapi ketika matanya menyapu Xavier yang sedang lelap tanpa pertahanan, tiba-tiba, rasa iba membanjirinya, menghanyutkan marahnya hingga tak bersisa.


Lelaki ini pucat sekali....


Meskipun Xavier selalu tampak tegar, tetapi Sera sadar bahwa lelaki ini selalu menahan sakit selama ini, menutupinya dengan selubung keceriaan palsu, supaya kelemahannya tak terlihat.


Sera menghela napas panjang. Saat ini, tidak ada yang bisa dilakukannya karena pegangan Xavier masih keras membelenggu pergelangan tangannya. Dia tidak bisa kemana-mana.


Mungkin nanti, kalau lelaki itu benar-benar masuk ke fase tidur dalam, cengkeramannya di tangan Sera akan melemah hingga Sera bisa melepaskan dirinya...


Tanpa sadar Sera menguap. Barulah dia menyadari bahwa bukan hanya Xavier yang mengantuk. Dirinya juga mengantuk dan kelelahan. Kepulangan Xavier dan interaksi mereka berdua malam ini, bukan hanya menguras emosinya, tetapi juga melelahkan fisik Sera hingga hampir mencapai batasnya.


Sera menguap untuk kedua kalinya. Pada akhirnya, dia memilih untuk bersikap masa bodoh, lalu naik ke atas ranjang dan menyurukkan tubuhnya ke ruang sempit yang disisakan Xavier di pinggir ranjang.


Beruntung tubuh Sera cukup mungil, sehingga dia bisa menyelinapkan tubuhnya di sana dan tetap bisa berbaring nyaman meskipun tempatnya sempit.


Sera memejamkan mata, melupakan tangan Xavier yang masih melingkari pergelangan tangannya dengan kuat, lalu meleburkan diri dalam kantuk yang langsung menjemputnya dengan bersemangat, membawanya terbang ke dalam lelap, membuainya dalam tidur nyenyak yang menyenangkan.


***


Hari masih pagi ketika Xavier terbangun dari lelapnya,  dan dia tertegun ketika menemukan sesosok tubuh mungil yang bergelung meringkuk di bawah lengannya, merapat ke dadanya dan menempel erat seolah mencari sumber kehangatan di sana.


Xavier memang terbaring nyaman di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Tetapi, Sera sebaliknya, dia meringkuk tak berselimut. Perempuan itu seolah membanting tubuhnya di atas ranjang begitu saja dan tak sempat menyelipkan tubuhnya di bawah selimut karena langsung larut dibuai kantuk.


Pagi ini dihiasi oleh hujan lebat yang menyapa bumi dengan beringas dan tak sabaran. Suara gemuruhnya saat menjatuhi bumi terdengar begitu keras, menciptakan alunan musik alam yang memenuhi kamar ini dengan nuansa magis, seolah-olah mereka berada di dalam gua antah berantah yang terisolir, memisahkan diri dari manusia lainnya. Semua imajinasi itu masih didukung pula dengan awan hitam yang meredupkan langit dan membentengi matahari, menciptakan suasana sejuk remang yang terasa damai di dalam kamar tersebut. Sementara itu, udara dingin menyelinap masuk dari kisi-kisi jendela yang sedikit terbuka, menggulirkan dirinya memenuhi udara dan menciptakan nuansa dingin di kamar tersebut.


Pantas saja perempuan ini meringkuk dan merapat kepadanya. Insting pertahanan alaminyalah yang mendorong Sera untuk bergerak mendekati sumber kehangatan dan dalam kasus ini, Xavierlah sumber kehangatan itu.


Tetapi, kenapa Sera tidur di ranjangnya?


Sambil mengerutkan kening, Xavier berusaha mengorek informasi dari otaknya yang saat ini sudah aktif sepenuhnya. Meskipun semalam pikirannya sedikit berkabut karena efek kelelahan dan obat, tetapi tetap saia kemampuan otak Xavier untuk memvisualisasikan ingatannya akan apa yang terjadi semalam selalu jauh lebih hebat dibandingkan manusia biasa.


Tak lama setelah mendapatkan ingatannya dengan jelas, Xavier langsung menunduk, melabuhkan matanya pada tangannya yang tanpa dia sadari, masih mencengkeram pergelangan tangan Sera.

__ADS_1


Seketika Xavier langsung melepaskan cengkeramannya, dan matanya langsung menemukan jejak merah di pergelangan tangan Sera yang dikelilingi oleh warna putih pucat akibat kekurangan aliran darah.


Warna merah seperti itu, biasanya akan menjadi memar....


Rasa bersalah langsung menggayuti benak Xavier, membuatnya menyesali tindakan impulsifnya yang memaksa Sera tetap tinggal di kamar ini.


Xavier masih berkubang dalam rasa bersalah, tetapi perhatiannya tiba-tiba saja teralihkan saat  ponselnya - yang dia letakkan di nakas samping ranjang pada posisi yang berlawanan dengan sisi ranjang tempat Sera tertidur- tiba-tiba saja bergetar dalam getaran konstan yang menandakan bahwa ada orang yang meneleponnya.


Xavier mengambil ponsel itu segera, tak ingin getarannya mengganggu lelapnya Sera. Dilihatnya layar ponsel itu dan keningnya berkerut ketika melihat nama yang tertera di sana.


Akram? Kenapa Akram meneleponnya pagi-pagi buta seperti ini?


"Ada apa?" Xavier tak berbasa basi, lelaki itu langsung menyambar penasaran. Dia tahu bahwa Akram tidak akan meneleponnya sepagi ini, kalau tidak ada alasan yang sangat penting dan mendesak.


"Xavier, kau harus mengubah jadwalmu jika kau ingin Serafina Moon dan Aaron Dawn tetap bisa melakukan adegan haru mendayu-dayu antara dua manusia yang mengucapkan salam perpisahan." Akram menyahuti dengan nada suara tenang, tapi lelaki itu sempat menyelipkan nuansa humor kering di dalam suaranya.


"Apakah ada perubahan di jadwal penerbangan Aaron kembali ke Rusia?" Xavier menebak dengan cepat, sementara kerutan di keningnya tampak semakin dalam.


"Ya. Tebakanmu tepat. Pihak imigrasi mengeluarkan surat deportasi untuk Aaron dan lelaki itu harus keluar dari negara ini hari ini." Akram terdiam seolah sedang melirik jam tangannya di seberang sana. "Kepulangan Aaron yang harusnya lusa, dimajukan satu hari lebih cepat dari rencana. Dia sudah mendapatkan jadwal penerbangan pulang nanti sore pada pukul tiga " Sejenak Akram terdiam kembali, menunggu tanggapan Xavier di seberang sana.


Tetapi, ketika tidak ada suara dari Xavier, Akram akhirnya bertanya kembali. "Apa yang akan kau lakukan?"


Terdengar suara Xavier menghela napas di sana.


"Tetap pada rencanaku semula. Aku akan memastikan Sera bisa bertemu dan mengucapkan salam perpisahan kepada Aaron di bandara."


Kali ini, Akramlah yang menghela napas dan ketika lelaki itu berucap kembali, suaranya terdengar penuh ironi.


"Kau menjadi lemah jika menyangkut perempuan ini. Apakah kau menyadarinya?"


Xavier otomatis mengangguk. Tetapi, ketika dia sadar bahwa Akram tak bisa melihatnya, dirinya akhirnya berucap, memberikan alasannya.


"Serafina Moon akan menjadi ibu dari anak-anakku. Aku akan memastikan dia benar-benar terbebas dari seluruh beban hatinya."


***


Suara lelaki itu terdengar sayup-sayup menembus telinga Sera yang masih dikuasai oleh lelap tidurnya. Tubuhnya menggigil kedinginan dan tanpa sadar, dia semakin mendesakkan dirinya, menempel ke sumber kehangatan yang nyaman di dekatnya. Lalu, dirasakan lengan yang kuat merengkuhnya semakin erat, merapatkannya semakin dekat seolah ingin melindungi.


Meskipun mata Sera terpejam, tetapi kesadarannya sudah berangsur terbangun. Telinganya masih terbata-bata menerjemahkan apa yang ditangkap oleh indra pendengarannya itu, sehingga yang terdengar, hanyalah gumaman-demi gumaman sepatah kata yang tidak jelas.


Dipenuhi rasa ingin tahu, Sera terdorong untuk membuka matanya dan melihat dari mana sumber suara itu.


Matanya melebar ketika menyadari bahwa dia menempel lekat di tubuh Xavier, tenggelam dalam rangkulan lengannya yang kokoh, sementara lelaki itu tampaknya sedang mengakhiri pembicaraan melalui ponsel yang menempel di telinganya.


Mata Xavier melirik ke arah Sera. Lelaki itu lalu meletakkan ponselnya, dan menunduk, menatap Sera dengan pandangan menggoda.


“Selamat pagi. Hari ini dingin, ya?” sapa Xavier sambil menyeringai lebar.


Pipi Sera langsung memerah ketika menyadari bahwa bukan Xavier yang menariknya mendekat, tetapi Seralah yang dengan sukarela mendesakkan tubuhnya ke arah lelaki itu.


Seketika, dia mendorong tubuhnya mundur, berusaha memberi jarak atas kedekatan mereka dan menggulingkan tubuh, lalu bergerak turun dari ranjang. Sera tahu bahwa dia harus memasang kewaspadaan penuh saat ini.


Xavier yang berbaring di ranjangnya ini bukanlah Xavier yang lemah dan tak berbahaya seperti semalam. Lelaki ini sudah tersadar sepenuhnya dan kembali menjadi Xavier yang licik serta penuh tipu daya untuk memanipulasinya.


“Aku senang sekali ketika kau memutuskan untuk menemaniku sampai pagi. Tak kusangka kau sebegitu perhatiannya kepadaku,” Xavier berucap pongah, dengan sengaja seolah ingin memancing kemarahan Sera.


Dan dia berhasil. Dinikmatinya mata Sera yang menyala, begitu juga dengan rona pipinya yang menyemburat dan menyebar ke seluruh permukaan kulitnya. Bahkan, napas Sera pun terdengar terengah pendek-pendek, seolah sedang berjuang keras supaya tidak meledak di depan Xavier.


Sungguh, pemandangan yang menyenangkan untuk dinikmati di pagi hari ketika baru bangun tidur seperti ini.


“A-aku bukannya sukarela menemanimu tidur!” Sera berseru, berusaha menjelaskan dengan suara gemetar marah. “K-kau yang mencengkeram pergelangan tanganku dan tak mau melepaskannya!” Sera menyentuh pergelangannya yang mulai terasa nyerinya dengan tangannya yang satunya, lalu menunjukkan pergelangan tangannya itu ke arah Xavier dengan sikap menuduh.


“Lihat, ini sudah memar dan terasa sakit…,” gerutunya sambil meringis dan mengusap-usap area tak nyaman di permukaan kulitnya itu.

__ADS_1


Tatapan Xavier melembut. Sikap Sera saat ini malah lebih kelihatan seperti anak kecil yang merajuk, dan itu membuatnya senang. Karena itulah Xavier suka membuat Sera marah. Sebab, jika Sera sedang marah, perempuan itu menurunkan kewaspadaan dan ketakutannya terhadap Xavier, lalu menunjukkan citra dirinya yang asli.


Seorang perempuan polos yang masih seperti anak kecil di balik sikap waspada dan kecerdasan yang sudah dipoles sebagai tampilan luarnya.


“Maafkan aku. Mungkin semalam aku merasa tak aman, sehingga aku memaksamu menemaniku.” Xavier berucap lembut, lalu menunjuk ke arah nakas samping ranjangnya. “Aku punya obat memar yang efektif, obat  itu mempercepat prosesnya, sehingga memarmu bisa sembuh lebih cepat.”


Sikap Xavier yang tiba-tiba melunak itu mengejutkan Sera dan membuat dirinya jadi serba salah, tak tahu bagaimana menanggapinya. Dirinya sudah siap dengan pertengkaran hebat atau adu mulut yang panas. Tak disangkanya Xavier menyerah begitu saja, bahkan sebelum konflik mereka dimulai.


Hati Sera yang lembut sendiri, tak berdaya menolak tawaran perdamaian itu. Dia akhirnya bergerak duduk di tepi ranjang, di bawah pengawasan Xavier, lalu membuka laci dari nakas samping ranjang yang ditunjuk oleh Xavier.


Matanya melebar ketika melihat beberapa boks kotak salep pengilang memar tersusun rapi di sana. Kepala Sera langsung menoleh, menatap Xavier dengan curiga.


“Kenapa kau punya obat penghilang memar sebanyak ini?” tanyanya penasaran.


Pikiran Sera sudah berkelana kemana-mana. Dia langsung teringat cerita-cerita mengerikan tentang pria psikopat dengan watak masokis yang pernah dibacanya. Pria-pria itu suka menyiksa wanita hingga menyebabkan luka dan memar, lalu tanpa rasa bersalah memberikan obat memar dan obat luka untuk merawat pasangannya. Tetapi, itu adalah jenis hubungan beracun dengan penyiksaan berulang. Si pria akan terus melukai, lalu meminta maaf, lalu mengobati, tetapi setelah luka itu sembuh, penyiksaan pun dimulai kembali seperti lingkaran setan yang tak berujung yang akhirnya menyerap seluruh sari si perempuan sampai habis dan berujung mati.


Apakah jangan-jangan… Xavier adalah jenis pria yang seperti itu?


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.

__ADS_1


AY


__ADS_2