
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
Rasa hangat di tengkuknya yang mengirimkan senyar ke tubuhnya dan membuat bulu kuduknya berdiri, berhasil menarik Sera terbangun dari lelap tidurnya yang kelelahan. Dia mengerjapkan mata perlahan ketika kerjap cahaya langsung menyapa ketika matanya terbuka.
Membutuhkan waktu beberapa saat bagi Sera untuk memperoleh kesadarannya kembali dan mengingat semua yang terjadi kemarin hingga akhirnya dirinya berakhir di kamar rumah sakit ini.
Aroma manis vanila yang memabukkan ini….
Kepalanya masih berbantalkan lengan kokoh yang sama, milik tubuh hangat yang sekarang sedang memeluk rapat di belakang punggungnya. Sebelah tangan Xavier yang bebas juga masih memeluk pinggangnya, memerangkapnya kuat sehingga punggung Sera menempel ketat tak berjarak ke dada bidang lelaki itu.
Sera mencoba menjernihkan pikirannya dan mengingat-ingat. Sepertinya, setelah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Sera akhirnya malahan tertidur karena kelelahan, bersama dengan Xavier yang berbaring dengannya di atas ranjang ini.
Nuansa panas yang menciptakan senyar kembali terasa menyentuh tengkuknya, membuat apapun yang tadinya ada di dalam kepala Sera langsung menguap pergi dan membuat suara desahan tak tertahankan akhirnya lolos dari bibirnya.
“Kau sudah bangun?”
Suara Xavier yang terdengar parau di belakangnya membuat tubuh Sera sedikit terkesiap. Dia mencoba menoleh ke belakang, tetapi Xavier menghalanginya. Lelaki itu saat ini sedang menundukkan kepala dan menenggelamkan wajahnya di lekukan tengkuk Sera.
Rasa panas menggelitik yang mengirimkan senyar di permukaan kulit Sera itu ternyata berasal dari Xavier yang sedang asyik mencumbu permukaan lehernya yang sensitif dengan ciuman lembut yang terasa panas menggoda di sana.
“X-Xavier? Kau masih di sini?” Sera berucap terbata, menggigit bibir untuk menahan erangan yang hendak bergulung keluar dari sana ketika kecupan Xavier di tengkuknya berubah menjadi semakin intens dan sensual.
“Memangnya aku mau kemana, hmm?” Xavier bergumam parau sambil menyusurkan bibirnya ke area leher belakang Sera, lelaki itu lalu menolehkan dagu Sera sedikit sehingga bibirnya bisa berlabuh di sisi bawah telinga Sera, menggoda lembut di sana hingga Sera akhirnya tak bisa lagi menahan erangannya.
Sera tak bisa menjawab pertanyaan Xavier itu. Dia tak mungkin menyuarakan pikirannya begitu saja. Selama ini bisa dibilang Xavier selalu menghilang pergi di pagi hari setelah percintaan mereka. Dan itu jugalah yang Sera pikirkan akan terjadi pagi ini.
Dia menduga bahwa Xavier tidak akan ada di sisinya ketika dia membuka mata, tetapi ternyata dugaannya salah. Xavier masih ada di sini, memeluknya dan mencumbunya sebagai ucapan selamat pagi.
Dada Sera mengembang oleh rasa hangat, tetapi seketika dia menekannya sekuat tenaga, menahan perasaan senang apapun yang mungkin bertumbuh di sana langsung pupus tanpa sisa.
Jangan melayang terlalu tinggi. Nanti jatuhnya sakit.
Sera mengulang nasehat itu untuk dirinya sendiri, berusaha menguatkan hati menghadapi Xavier yang penuh manipulasi.
Tetapi, bagaimanapun juga dia hanyalah seorang perempuan biasa yang tak berpengalaman menghadapi lelaki. Ketika Xavier tiba-tiba saja melabuhkan giginya di lekukan antara leher dan bahunya dan menggigitnya sedikit kuat, Sera langsung memekik kaget, berusaha meronta dalam gerakan yang sia-sia karena Xavier masih kuat memeluknya.
Xavier menyusurkan lidahnya di bekas gigitannya dengan sikap posesif, lelaki itu lalu menghadiahkan kecupan di sana seolah sebagai permohonan maaf.
“Aku ada di sini sedang mencumbumu, jangan melamun dan memikirkan hal lain.” Xavier berbisik parau dengan nada memerintah. Lelaki itu lalu menarik Sera ke belakang supaya berbaring telentang sebelum kemudian menempatkan tubuh Sera di bawah tindihannya.
Tentu saja Xavier tidak menekan tubuh Sera mengingat istrinya ini sedang hamil, kedua tangannya menahan tubuhnya, sementara wajahnya menempel dekat ke wajah Sera, memaksa perempuan yang wajahnya merah padam penuh rona tersipu mendongak dan membalas tatapan matanya.
“Apakah kau tak sadar kalau rona merah yang bergulir di kulitmu ini sangatlah menggoda? Aku hampir-hampir lepas kendali.” Xavier menyusurkan bibirnya sambil lalu di kulit pipi Sera, membuat Sera menggelinjang geli. “Kita sudah menikah dan aku sudah menyentuhmu berkali-kali, tetapi kau masih saja merona. Apakah kau tak tahu bahwa kepolosanmu ini membuatku lepas kendali?”
“Xavier…” Sera mengerang ketika lelaki itu hendak mencium bibirnya. “A-apakah kau mau bercinta?” tanyanya panik dengan bibir gemetaran.
Xavier menghentikan niatnya untuk menyesap dan menciumi Sera habis-habisan. Sebagai gantinya, dihadiahkannya kecupan lembut selintas lalu di bibir perempuan itu untuk mengganti ciuman penuh hasratnya yang tertunda diberikan.
“Seharusnya kau tak perlu bertanya. Kau bisa merasakannya, bukan?” Dengan sengaja Xavier menekan tubuhnya kepada Sera, membiarkan perempuan itu merasakan sendiri bukti gairahnya. Lelaki itu seolah tak ingin di hentikan, bibirnya kembali menggoda dengan sensual, menghadiahkan kecupan-kecupan lembut yang tak bisa ditolak di ujung bibir Sera.
Ya. Tentu saja Sera merasakannya, apalagi Xavier tanpa tahu malu telah mendesakkan dirinya dengan tujuan supaya Sera merasakannya dengan jelas.
Pipi Sera semakin memerah ketika dia berusaha memalingkan wajah dan menghindari kontak mata dengan suaminya. Sayangnya, Xavier sudah terlalu bergairah untuk ditolak begitu saja. Lelaki itu mengarahkan wajah Sera kembali dan mengecupinya dengan penuh hasrat, membisikkan kalimat merayu dan menggoda yang menarik Sera supaya tenggelam ke dalam hasrat yang sama, bersamanya.
***
“Terima kasih.”
Ketika Xavier selesai menuntaskan hasratnya bersama Sera, lelaki itu kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping sebelum kemudian memeluk Sera erat menghadap kepadanya. Napas keduanya masih terengah, dibalut nuansa sensual atas kepuasan bersama yang belum juga hilang. Sera sendiri yang kelelahan hampir saja memejamkan matanya karena terbawa kantuk, tetapi ucapan Xavier yang muncul tiba-tiba itu membuat kantuknya terusir pergi dan matanya terbuka kembali.
Sera mendongakkan kepala, menatap ke arah Xavier dengan pandangan bingung penuh ingin tahu.
“Terima kasih untuk apa?” tanyanya perlahan dengan suara lemah.
Xavier menyeringai. Mata lelaki itu masih berkabut oleh pemenuhan ragawi yang membuatnya begitu rileks dan terpuasakan. Tangan Xavier bergerak menyusuri sisi wajah Sera, memujanya dengan guliran jemari lembut yang menggoda.
“Terima kasih karena kau tak pernah menolakku.” Xavier berucap dengan nada parau. “Aku selalu memintamu melayaniku dengan egois, dalam situasi tak tepat, dalam suasana hati tak enak. Namun, tak pernah sekalipun kau menolakku.”
__ADS_1
Itu karena Xavier sangat ahli sehingga mampu menghipnotis tubuhnya yang tak berpengalaman ini….
Sera menyerukan alasannya dari dalam hati, tak berani menyuarakannya karena dia sangat malu. Meskipun begitu, wajahnya kembali memerah saat memikirkan betapa lemahnya dirinya ketika menghadapi sentuhan Xavier. Lelaki itu benar, selain saat malam pertama mereka yang berlangsung dengan tekanan dan sedikit paksaan, semarah apapun dirinya kepada lelaki itu, dia tak pernah mampu menolak ketika Xavier berusaha menyentuhnya dengan intim.
Apakah itu semua karena tanpa sadar dia telah membunuh rasa benci dan ketakutan atas Xavier akibat traumanya, lalu malahan menumbuhkan perasaan lebih kepada Xavier. Seorang perempuan tak mungkin semudah itu luluh kepada sentuhan seorang lelaki yang tak disukainya, seahli apapun lelaki itu dalam merayu, bukan? Kalau begitu… apakah Sera sesungguhnya menyukai Xavier lebih daripada yang seharusnya?
Wajah Sera yang merona merah itu tentu saja tak lepas dari pengawasan Xavier. Lelaki itu menunduk dan menghadiahkan kecupan di dahi Sera sebelum kemudian bertanya dengan nada lembut.
“Apakah kau baik-baik saja?” Setelah diberi izin untuk menyentuh perut Sera sebelumnya, tangan Xavier kini bergerak luwes dan tanpa canggung menyusup di antara tubuh mereka dan mengusap perut Sera dengan gerakan lembut dan berhati-hati.
Sikap intim Xavier yang mengusap perutnya secara langsung itu langsung mengirimkan senyar panas ke tubuh Sera, membuat bibir Sera terbuka dan napasnya terengah. Hal itu membuat Xavier begitu tergoda, membuatnya tak mampu menahan diri untuk tidak melabuhkan bibirnya di bibir Sera yang seolah menanti, menyesapnya lembut dengan penuh hasrat.
Tapi Xavier menahan diri. Dia sudah membuat Sera melayaninya sebelumnya, jadi sekarang meskipun tubuhnya kembali berhasrat ingin memeluk perempuan itu, Xavier menekannya sekuat tenaga.
Perempuan ini sedang hamil muda dan dokter Nathan juga telah memperingatkannya untuk menjaga frekuensi bercintanya dengan Sera di saat kandungan perempuan itu belum kuat benar.
Semula Xavier berpikir bahwa itu akan mudah dilalui sebab dia akan menghindari Sera sejauh mungkin sampai perempuan itu melahirkan. Tetapi sekarang, dengan Sera yang berada di dekatnya, dia tahu bahwa dia harus berjuang sekuat tenaga untuk menahan diri, sebab tubuh Sera laksana batu api yang menggesek tubuhnya dengan kuat, menciptakan percikan api gairah yang memantik hasratnya supaya berkobar hebat membakar tubuhnya.
Tangan Xavier yang masih berlabuh di perut Sera bergerak mengusap permukaan perut yang masih datar itu dengan lembut, sebelum kemudian sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.
“Junior ini tidak akan terganggu kalau aku terus menerus menyentuh ibunya, kan?” tanyanya parau, menyelipkan kekhawatiran yang terpercik dari hasratnya yang berkobar.
Mata Sera melebar. Entah kenapa ada yang meletup di dalam dadanya, seperti ledakan kembang api yang menyala tak terkendali, membuat binar senang menyala di matanya.
“J-junior?” tanyanya seolah tak percaya.
Selama ini Xavier seolah-olah menghindari kedekatan personal dengan bayi di dalam kandungan Sera. Lelaki itu seakan tak mau mengakui anak mereka sebagai satu individu hidup dan seolah-olah menekankan bahwa mereka hanyalah makhluk yang sedang bertumbuh di dalam perut Sera. Xavier selalu menggunakan kata ‘bayi itu’, ‘kandunganmu’, ‘anak itu’, tanpa menyebut bayi Sera secara spesial.
Baru kali inilah Xavier menyebut anaknya dengan sebutan ‘junior’, seolah menghadiahkan nama kesayangan dan julukan khusus baginya.
Xavier terkekeh di bibir Sera. Lelaki itu menggesekkan hidungnya dengan sikap lembut di hidung Sera sebelum kemudian berbisik menggoda.
“Ya, Junior. Kenapa kau begitu terkejut? Kurasa itu nama yang cocok untuk dihadiahkan bagi anak kita. Kedengarannya bagus bukan? Xavier Junior Light.” Rasa posesif langsung mengembang di dalam dada Xavier ketika dia mengeja per kata nama anaknya dalam ucapan lambat-lambat.
Anaknya yang menyandang namanya. Seluruh dunia akan tahu bahwa dia memiliki jejak yang terwujud sempurna dan indah di bumi ini ketika dia harus pergi nanti.
Sikap Xavier yang hangat itu menular kepada Sera. Bibir Sera mengurai senyuman ketika mata beningnya menatap lekat mata Xavier dan berucap lembut.
“Bayinya kemungkinan kembar, apakah kau akan memberikan keduanya nama yang sama? Dan… belum tentu juga bayinya laki-laki… bisa saja kedua-duanya perempuan?” tanyanya pelan, memberanikan diri untuk menggoda lelaki di depannya.
“Kau benar juga, kurasa kita harus memikirkan nama anak kita dengan benar nantinya.” Xavier menatap Sera lembut. “Kau mengizinkanku untuk memberikan nama bagi anak kita, bukan?” tanyanya kemudian dengan ragu.
Sera tak perlu mempertimbangkan lagi saat menganggukkan kepalanya.
“Mereka anakmu, mereka pasti akan senang mendapatkan nama dari ayahnya.”
Kalimat Sera sesungguhnya sangat sederhana, tetapi di telinga Xavier itu terdengar penuh makna. Kenyataan bahwa dia yang sebatang kara ini akan memiliki anak dari garis keturunannya sendiri, terasa begitu membahagiakan hingga seolah-olah akan meledakkan dadanya.
“Kemungkinan besar mereka juga akan mewarisi genetikku dan mirip denganku. Apakah kau tak keberatan?” Xavier tiba-tiba merasa perlu untuk bertanya. Perasaan Sera kepadanya masih belum bisa dia petakan, tetapi kemungkinan besar Sera masih menyimpan benci kepadanya karena semua perlakukan dan pemaksaan yang diberikan oleh Xavier kepadanya sejak pertemuan pertama mereka. Jika anaknya nanti ternyata mirip dengannya, Xavier tidak ingin kebencian Sera terlampiaskan kepada anak-anak mereka saat dirinya sudah tak ada lagi nanti.
Sera mengangkat tangannya, memberanikan diri untuk menyentuh pipi Xavier dan membiarkan Xavier menatap kesungguhan di matanya. Sikap Xavier yang menunjukkan ketidakpercayaan dirinya yang kental entah kenapa membuat batin Sera tersenyuh dan terdorong untuk memberikan penghiburan kepada lelaki itu sekuat yang dia bisa.
“Mereka anak-anakmu. Tentu saja mereka akan mirip denganmu. Aku senang karenanya.” Mata Sera berbinar ketika melemparkan pujiannya. “Mereka pasti akan memiliki penampilan memesona seperti ayahnya, ditambah dengan kecerdasan yang mengaliri darah mereka. Mereka akan tumbuh menjadi makhluk luar biasa.”
Binar di mata Sera menular, membuat ekspresi Xavier bercahaya. Lelaki itu sejenak seperti kehilangan kata-kata, membuatnya harus menghela napas dalam-dalam untuk menyingkirkan sesak di dada yang membuat matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih.” Xavier berbisik serak, menghadiahkan ciuman lembut di bibir Sera. “Terima kasih karena sudah bersedia mengandung anakku,” sambungnya kemudian dengan suara bergetar penuh haru.
Sera mengangkat lengannya dan memeluk kepala Xavier yang membungkuk dan tenggelam di lekukan lehernya. Matanya terpejam ketika keharuan yang sama melingkupinya, menciptakan keheningan sakral yang melingkupi.
Kedua calon orang tua itu berpelukan dan saling mensyukuri keberadaan mereka satu sama lain dalam diam, tanpa kata, tanpa pernyataan lantang. Keduanya memilih untuk saling jatuh cinta di dalam hati saja.
***
“Apakah kau benar-benar bisa melakukanya, dokter?”
Aaron menatap ke arah dokter eksentrik dengan rambut panjang penuh uban yang dikuncir begitu saja di belakang punggungnya.
Dokter Rasputin yang berumur sekitar setengah abad dengan wajah kaku nan keras ditempa pengalaman ini memang dikenal sangat jenius karena mempunyai tangan ajaib yang luar biasa, tetapi sayangnya sang dokter juga dikenal memiliki kepribadian aneh yang sulit ditebak.
Entah apa yang menjadi latar belakang keputusannya, dokter Rasputin yang sukses mendaki jenjang karir sebagai dokter top khusus di bidang bedah plastik, tiba-tiba saja memilih pensiun dan mundur dari karirnya dan berhenti menjajakan bakatnya yang sangat dipuja oleh manusia-manusia di luar sana, yang ingin mengubah ciptaan Tuhan supaya menjadi lebih sempurna menurut citra pribadi mereka masing-masing dan melanggar kodrat yang sudah ditetapkan.
Ada yang bilang bahwa dokter Rasputin sudah muak dengan manusia-manusia dangkal yang hanya mementingkan penampilan fisik, ada juga yang bergosip bahw dokter Rasputin memilih untuk berlibur keliling dunia dan bersenang-senang karena uang yang dikumpulkannya sudah sangat banyak.
__ADS_1
Sesungguhnya, yang orang-orang luar sana tak tahu, adalah kenyataan bahwa sang dokter eksentrik itu sudah beralih profesi, merambahkan bakat tangannya ke dunia bawah tanah, membuka jasa ilegal untuk membantu para kriminal dan pelarian untuk mengubah wajah sehingga menjadi begitu berbeda dan tak bisa dikenali lagi.
Tentu saja setiap jasanya memerlukan bayaran yang mahal. Semakin tinggi harga yang dibayarkan, semakin cepat dan mudahlah seluruh prosesnya sampai wajah yang baru bisa didapatkan menutup wajah lama yang ingin disingkirkan.
Sesungguhnya, Aaron sendiri tak peduli dengan latar belakang cerita dokter Rasputin. Dia hanya ingin tahu apakah sang dokter bisa memberikan hasil yang baik sesuai dengan reputasinya. Karena untuk saat ini, waktu Aaron sudah didesak hingga hampir habis.
Pengumuman sayembara dari Xavier sudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Hanya tinggal menunggu waktu sampai semua pembunuh bayaran yang tertarik dengan hadiahnya datang mengejar dan mengincar nyawanya.
Saat ini Aaron memang bersembunyi di lokasi rahasia yang telah disiapkannya, tetapi bukannya tidak mungkin para pembunuh yang bisa mengakses segala informasi dan menembus seluruh portal batas keamanan itu, dapat mengetahui lokasinya dengan begitu mudah. Dengan usaha yang cukup, para pembunuh bayaran itu pasti bisa menemukan Aaron juga, mereka semua pasti tak akan menyerah dengan mudah sampai bisa membunuh Aaron dan memenangkan hadiah sayembara kematian yang jumlahnya luar biasa besar itu.
Aaron tak mungkin terus bersembunyi dan lari seumur hidupnya, karena itulah dia tahu bahwa dia harus bertindak secepatnya, untuk memastikan dirinya bisa melenggang bebas tanpa dapat ditemukan. Salah satu rencananya adalah menarik diri dan bersembunyi sementara, menyerahkan urusan perusahaan Keluarga Dawn yang telah jatuh ke tangannya kepada Daniel, asisten pribadinya yang setia.
Saat berada dalam persembunyiannya, Aaron berencana untuk mengubah identitasnya untuk sementara waktu, juga melakukan operasi bedah plastik untuk mengubah penampilan wajahnya menjadi begitu drastis secara permanen sehingga tak bisa dikenali lagi.
“Aku terkenal tidak pernah gagal.” Dokter Rasputin menjawab sambil lalu seolah-olah dia tak membutuhkan uang pasien yang datang memohon jasanya. Pesan yang dikirimkannya jelas: jika calon pasiennya tak yakin dengannya, maka tak perlulah memakai jasanya dan silahkan carilah dokter lain yang lebih meyakinkan.
Sikap angkuh dan arogan dokter Rasputin menyalakan kemarahan di benak Aaron, tetapi tentu saja dia menahannya sekuat tenaga. Untuk saat ini dia masih membutuhkan jasa sang dokter. Desas desus yang berkembang di dunia bawah tanah mengatakan bahwa dokter Rasputin telah mengembangkan teknik bedah plastik dengan cara khusus sehingga prosesnya hingga bisa mencapai hasil akhirnya yang menakjubkan. Yang lebih penting lagi, semua itu bisa dicapai dalam waktu tiga kali lipat jauh lebih cepat dari proses bedah plastik biasa.
Itulah yang dibutuhkan oleh Aaron sekarang, kecepatan kesembuhan yang bisa memenuhi batas waktunya yang sempit.
Mahalnya biaya untuk mendapatkan jasa sentuhan ahli tangan dokter Rasputin yang ajaib bukanlah masalah bagi Aaron, dia sudah kaya sekarang, dia mampu membayarnya. Setidaknya harganya jauh lebih murah dibandingkan jika dia harus mengeluarkan penawaran hadiah tandingan untuk melawan sayembara berhadiah Xavier yang dikeluarkan dengan nominal dalam jumlah yang fantastis.
Mungkin dia tak bisa melawan kekayaan Xavier. Tetapi dia bisa menghadapi Xavier dengan wajah baru yang dapat menusuk langsung ke jantung pertahanan musuhnya itu tanpa diduga.
“Kalau begitu, kapan kau akan mulai? Waktuku tidak banyak. Aku akan mentransfer uang mukanya kepadamu saat ini juga.” Aaron akhirnya mengambil keputusan untuk mengambil kesempatan yang ada secepatnya. Lagipula, dia sudah melakukan penyelidikan menyeluruh atas reputasi dokter Rasputin dan tahu pasti bahwa sang dokter memang tak pernah gagal.
Dokter Rasputin menyeringai, menatap Aaron dengan matanya yang berkilat misterius.
“Kapan saja kau siap, anak muda,” ujarnya dengan suara berat nan parau akibat pengaruh tembakau dan alkohol yang terus menerus dikonsumsinya.
Lelaki di depannya ini sesungguhnya sudah tampan, tetapi dengan kemampuan tangannya yang hebat, akan dimaksimalkanny seluruh potensi diri lelaki itu, akan dibuatnya lelaki ini menjadi jauh lebih tampan dan sempurna hingga mata manusia manapun pun tak akan mampu menolak godaan pesona wajahnya.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
__ADS_1
***
***