
Sera mengikuti langkah Elana menaiki tangga dan menuju ke pintu besar yang langsung menyambut ketika mereka memasuki lorong lantai dua.
Lantai ini berada di sayap bangunan yang berbeda dengan tempat Sera berada, dalam posisi yang berseberangan dan terpisahkan oleh rongga lebar berpagar yang menampilkan pemandangan lobby rumah di lantai satu.
“Lihat, Zac sudah bangun.”
Elana tersenyum lembut ketika memasuki ruangan dan melihat Zac tengah berada di dalam gendongan pengasuhnya. Anak itu langsung mengenali ibunya ketika melihatnya, tubuh montoknya langsung meronta-ronta dari pelukan pengasuhnya, mengulurkan tangan sambil mencondongkan tubuh ke arah ibunya, meminta digendong.
Permintaan bayi mungil yang menggemaskan itu langsung bersambut hangat. Elana mengulurkan tangannya dan dengan luwes mengambil bayi itu dari pelukan pengasuhnya. Perempuan itu kemudian mengucapkan beberapa instruksi dengan lembut ke pengasuh bayinya, sehingga sang pengasuh itu tampak menganggukkan kepalanya dengan hormat dan meninggalkan Elana serta Zac sendirian bersama dengan Sera.
Sera sendiri tampak terpesona mengamati interaksi Elana dengan Zac. Elana tampak begitu luwes menggendong dan memeluk anaknya, seolah-olah hal itulah yang memang dilakukannya setiap hari.
Mungkin, desas desus bahwa istri Akram Night benar-benar mencurahkan waktunya untuk mengurus anaknya dengan kedua tangannya sendiri, bukanlah gosip belaka. Sebab, dilihat dari bagaimana Zac meminta dipeluk ibunya dan tidak bergayut pada pengasuhnya saja, sudah cukup menunjukkan siapa yang paling banyak mencurahkan waktunya untuk mengurus bayi montok nan sehat itu.
Mata Sera yang awas langsung meneliti ke arah Zac, dan bibirnya mau tak mau menyunggingkan senyum penuh ironi ketika menemukan kesimpulannya: Akram Night bukan hanya mendominasi di dalam kehidupan nyata, lelaki itu ternyata tetap mendominasi dalam perwujudan genetiknya, sehingga anak lelakinya memiliki penampilan yang bisa dibilang merupakan duplikat kecil dari ayahnya.
Siapapun yang melihat Zac saat ini, pasti tidak akan meragukan lagi bahwa anak itu adalah milik Akram Night.
“Kau mungkin merasa canggung tiba-tiba harus menemaniku di sini,” Elana mengayun Zac yang langsung mengeluarkan gumaman khas bayi dari bibirnya karena kesenangan. “Tetapi, satu hal yang perlu kau tahu, Sera, apapun bentuk hubunganmu dengan Xavier dan apapun alasanmu menikahinya, aku berada di sini bukan sebagai musuhmu, aku ada sebagai temanmu.”
Sera mengerutkan keningnya. “Apakah kau… sama sekali tak penasaran kenapa aku dan Xavier memutuskan menikah secara tiba-tiba?” tanyanya cepat.
Elana langsung menggelengkan kepala. “Akram hanya bilang kepadaku bahwa Xavier mengambil keputusan impulsif untuk menikahimu, karena kalian berdua terikat masa lalu.” Elana menatap Sera dengan pandangan sedih. “Aku sungguh menyesal mendengar semua hal yang terjadi di masa lalu, yang membuat kalian pada akhirnya terikat dan terhubung satu sama lain seperti ini entah dengan cara positif maupun cara negatif. Tetapi, aku cukup mengerti dan memilih untuk tidak ikut campur. Aku percaya bahwa kalian berdua sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan terbaik untuk kalian berdua.”
Senyum Elana tampak keibuan ketika menatap Sera dengan pandangan lembut. “Hanya saja…. Aku ingin kau tahu, bahwa meskipun Xavier selalu menampilkan dirinya sebagai orang jahat, sesungguhnya dia tidak begitu.”
Kalimat terakhir Elana membuat Sera mengerutkan kening dan ingin menyanggah. Beruntung dia mampu menahan diri dengan tepat sehingga tak sampai melontarkan suara dari tenggorokannya.
Tetapi, tentu saja Elana bisa membaca ekspresinya dan melihat dengan jelas ketidaksetujuan yang melumuri mata Sera. Perempuan itu menghela napas, lalu menatap Sera dengan tatapan bijaksana
“Pada dasarnya, orang-orang selalu menganggap bahwa hanya ada tiga jenis orang jahat di dunia ini. Satu adalah orang jahat asli yang hitam sampai ke tulang sunsumnya, dua adalah orang gila yang berbuat jahat tanpa disadarinya, dan ketiga adalah orang baik yang disalahpahami sebagai orang jahat. Sementara itu, Xavier adalah anomali. Dia bukanlah salah satu dari ketiganya itu. Xavier adalah orang baik, yang mungkin sedikit gila sehingga dia sering disalahpahami sebagai orang jahat.”
Elana mengangkat bahunya. “Aku tak akan memaksa kau memahami perkataanku saat ini, karena menurutku, kau harus mengenal dekat Xavier dan menyelisik ke dalam isi hatinya untuk memahami calon suamimu itu dengan baik dan menyadari warna asli dirinya yang menunggu untuk kau temukan. Tetapi, sungguh aku ingin mengatakan kepadamu, Xavier memilih untuk menikahimu, itu berarti kau adalah wanita istimewa baginya. Aku tak akan masuk lebih jauh dan mencampuri hubungan kalian karena aku tahu posisiku sebagai orang luar yang bahkan tak kau kenal. Tetapi, aku memohon kepadamu, kumohon kesampingkan segala jerat masa lalu yang kusut masai membelit kalian berdua. Berilah kesempatan untuk pernikahan ini, sebab aku yakin jika kalian berdua berjuang bersama-sama, kurasa kalian akan menemukan jalan untuk berbahagia."
Nasehat Elana yang panjang lebar itu menggaung di udara, sementara otak dan logika Sera tak mampu mencernanya dengan cepat.
Semua yang dikatakan oleh Elana terasa berlawanan dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Xavier adalah orang baik? Xavier menganggapnya wanita istimewa? Jika mereka berjuang bersama dalam pernikahan ini, maka mereka akan berbahagia?
Sebenarnya, kebohongan macam apa yang diceritakan oleh Akram Night kepada istrinya, sehingga Elana menganggap bahwa pernikahannya dengan Xavier didasari oleh perasaan romantis untuk membentuk kebahagiaan dua hati yang bersatu?
Apakah jangan-jangan, Elana tak tahu bahwa Xavier memaksanya menjalani pernikahan ini dengan ancaman racun mengerikan yang dipaksakan disuntik ke tubuhnya, pun dengan menyandera ayahnya dan Aaron, malaikat penyelamatnya yang sangat berarti baginya?
Sera ingin meneriakkan kebenaran itu kepada Elana, tetapi ketika matanya menatap Elana yang tengah menciumi pipi anak lelakinya, hati lembutnya jadi tak tega mengatakannya.
Mungkin di depan Sera, Xavier bersandiwara sebagai orang yang benar-benar baik, sehingga Elana bisa memiliki penilaian positif yang bertolak belakang dengan apa yang Sera rasakan kepada Xavier. Tetapi, melihat senyum bahagia Elana dan aura berkilauan penuh kebahagiaan yang melingkupinya, sungguh Sera tak ingin merusak apa yang membungkus perempuan itu.
Sera tak ingin merusak citra Xavier di mata Elana dan merusak bungkus kedamaian yang melindungi perempuan cantik itu.
“Ah, sepertinya waktu makan malam sudah hampir tiba. Bagaimana kalau kita turun dan menjemput para lelaki supaya kita bisa bersama-sama ke ruang makan untuk makan malam?” Elana berpikir bahwa mereka telah memberikan cukup waktu bagi para lelaki di ruang duduk sana untuk bercakap-cakap dan menyelesaikan perkara apapun yang harus mereka bicarakan. Saat jam makan malam sudah hampir lewat, dan karena Elana menyusui Zac dengan ekslusif, dia mulai merasa kelaparan.
Sera menganggukkan kepala, melirik jam di dinding dan menyetujui bahwa ini bahkan sudah hampir terlambat bagi mereka untuk makan malam.
Tanpa kata, Sera lalu mengikuti Elana yang sedang menggendong Zac keluar dari kamar, menuruni tangga dan melangkah kembali ke arah ruang duduk.
Mereka sudah mencapai ambang pintu, dan Elana sudah membuka mulut untuk menyapa, ketika kemudian, terdengar suara Akram Night yang begitu tegas, membahana di udara dan diterjemahkan dengan jelas oleh indra pendengaran mereka.
“Kurasa, kau juga tak akan membantah kesimpulanku, bukan?” Akram Night terdengar bertanya dengan nada sinis yang kental, sebelum kemudian lelaki itu menyimpulkan. “Kau menikahi Serafina Moon hanya karena kau mengincar keturunan darinya untuk kepentingan dirimu sendiri.”
***
__ADS_1
Mata Xavier melirik ke arah chip yang diletakkan Akram di meja dan ekspresinya menegang.
Hanya dengan melihat kemarahan Akram saja, Xavier sudah bisa langsung menebak data apa yang ada di dalam chip itu. Sesuatu yang tak pernah dia ungkapkan sebelumnya.
Xavier berusaha bersikap santai. Matanya melirik ke arah pintu, memastikan bahwa tidak ada siapapun di sana selain para bodyguard yang dilatih untuk menulikan telinganya ketika atasannya sedang melakukan percakapan pribadi.
Dia melipat tangan dan memundurkan punggung, menyandarkan bahunya ke punggung sofa, lalu menoleh ke arah Nathan.
"Sesungguhnya, aku tak pernah berniat untuk menyembunyikan data ini. Karena, aku menganggapnya sebagai sesuatu yang tak penting. Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau akan menemukan jalan menuju data ini dan menguak semuanya. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanyanya sedikit penasaran.
Nathan menipiskan bibir sebelum menjawab, "Begitu kau terdaftar sebagai bagian dari Night Corporation, kau otomatis membuat persetujuan untuk terbukanya akses data secara digital menyangkut dirimu. Dengan begitu, seluruh data dirimu, termasuk data kesehatanmu akan terintegrasi dalam satu sistem canggih milik Night Corporation yang bisa menghimpun data menyangkut orang-orang dalam perusahaan dari sumber manapun, bahkan data yang dienskripsi sekalipun. Aku menemukan dokumen kesehatanmu yang dikirim dari Swiss ketika sedang melakukan pemeriksaan, tanpa sengaja."
Nathan menyipitkan mata. "Dokumen itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan isi, aku harus menggali lebih dalam menggunakan berbagai macam koneksi sehingga bisa mendapatkan seluruh bagiannya," sambungnya kemudian.
Xavier menyeringai, lelaki itu lalu membungkuk dan menuangkan segelas brandy dari botol kaca berkilauan yang tersedia di meja, ke dalam gelas kristal yang kemudian disesapnya. Sama sekali tak nampak keterkejutan ketika mendengar bahwa Dokter Nathan berhasil mengakses data yang sengaja dibiarkannya tenggelam dan tak terangkat ke permukaan.
“Jadi, kau menemukan hasil biopsi sunsum tulang yang kulakukan di Swiss. Itu berarti kau tahu penyakit yang kuderita, bukan?” Xavier mengangkat alisnya, mengalihkan matanya kembali menatap ke arah Akram dengan sikap sedikit menantang. “Jika kau memang sudah mengetahuinya, kurasa aku tak perlu menjelaskan apapun lagi.”
Ekspresi Akram langsung berubah gelap. Lelaki itu mengepalkan tangan memajukan tubuhnya dan menatap Xavier dengan sikap mengintimidasi.
“Kau bersikap seolah-olah penyakitmu adalah sesuatu yang remeh. Tetapi, aku sudah mempelajari dari Nathan bahwa kondisimu sangatlah serius. Anemia Aplastik bukanlah jenis penyakit yang bisa kau bahas sambil lalu dengan tertawa-tawa, Xavier. Dikatakan bahwa dua pertiga dari penderitanya, meninggal hanya dalam enam bulan setelah didiagnosa menderita penyakit itu.” Akram mengerutkan alisnya, tampak jelas tidak suka. “Kau tampak baik-baik saja di masa lalu. Bagaimana bisa kau tiba-tiba menderita penyakit ini?” tanyanya penasaran.
Xavier menyeringai, meskipun begitu sinar matanya tampak bersinar penuh ironi.
“Kecelakaan itu adalah pemicunya. Ketika kau mengatur kecelakaan mobil itu untuk melenyapkanku di masa lampau, ledakan akibat kecelakaan itu membuatku terpapar bahan kimia berbahaya yang mengandung radiasi dan mengubah susunan genetik tubuhku menjadi abnormal. Anemia Aplastik, anemia adalah kekurangan sel darah merah dan aplastik artinya kosong, itu berarti sunsum tulangku kosong, tak mengandung sel darah merah yang cukup. Sunsum tulang belakangku, sebagai pabrik penghasil sel darah, tidak bisa lagi memproduksi sel darah normal dan sehat. Aku tak punya sel darah merah untuk mengantarkan oksigen, aku juga tak punya trombosit untuk mencegah pendarahan terjadi.”
Xavier tersenyum lembut ketika menyambung ucapannya. “Kalau dipikir-pikir, pertemuan pertamaku dengan Lana terjadi di toilet ketika aku mengalami mimisan dan istrimu itu menawarkan sapu tangan untukku.”
Sikap Xavier tampak santai dan penuh nostalgia. Lelaki itu bahkan mengizinkan matanya bersinar hangat ketika menyebut tentang Elana dan pertemuan pertamanya yang unik dengan perempuan yang juga unik itu. Tetapi, sikap itu tak menular, ekspresi Akram malahan semakin muram setelah mendengar penjelasan Xavier.
Mata lelaki itu mengawasi kakak angkatnya dengan saksama, dan setelah mengetahui kebenarannya, barulah Akram menyadari apa yang selama ini diabaikan dan terlewatkan oleh matanya.
Pantas saja ada saat-saat tertentu dimana Xavier selalu tampak pucat, seolah-olah tak ada darah yang mengaliri tubuhnya.
“Kau menghilang selama lima tahun setelah kecelakaan itu. Penyelidikku mengatakan bahwa kau sedang memulihkan diri dari luka parah akibat kecelakaan tersebut. Apakah waktu itu, kau sebenarnya sedang memulihkan diri dari keracunan radiasi yang membuatmu mengalami anemia aplastik ini?” tanya Akram kemudian.
Xavier membaca ekspresi wajah Akram, lalu lelaki itu meletakkan gelas brandy dari tangannya ke meja dan menegakkan punggung. “Hei, aku menjelaskan penyebab aku mengalami penyakit ini, bukan untuk membuatmu merasa bersalah dan sesungguhnya, kau memang tidak perlu merasa bersalah. Sebagian dari Anemia Aplastik disebabkan karena turunan genetik. Siapa yang tahu kalau sesungguhnya aku telah mengidap penyakit ini sejak lama yang diturunkan oleh genetik orang tuaku yang entah siapa, lalu kecelakaan yang meledakkan bahan kimia berbahaya di mobilku itu hanyalah sedikit pemicu untuk membangunkan penyakitku dengan kekuatan penuh?”
Xavier berucap dengan nada serius. “Bagaimanapun, penyakit yang kuderita adalah tanggunganku sendiri. Aku tidak merasa perlu meminta pertanggungjawaban siapapun dan juga tak memerlukan kambing hitam untuk penyakitku ini," simpulnya kemudian.
Akram mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan oleh Xavier dengan lugas itu. Meskipun begitu, dia tak bisa menerima sepenuhnya.
Biarpun Xavier mengatakan tak menyalahkannya dan lain sebagainya, kenyataannya adalah bahwa Akram turut andil dan sedikit banyak menjadi penyebab sakitnya Xavier saat ini.
Di masa lampau, mereka adalah musuh. Ketika Xavier membunuh orang-orang di sekitar Akram dengan membabi buta, ketika itulah Akram memutuskan untuk menyingkirkan Xavier darinya. Kecelakaan mobil yang direncanakan itu, sebenarnya hanyalah sebuah peringatan kecil supaya Xavier menjauh darinya. Tetapi, pada prakteknya, semuanya melenceng dari rencana. Tabrakan mobil itu terlalu keras, disusul dengan ledakan yang tak disangka dan membakar hangus mobil yang dikendarai oleh Xavier.
Pada waktu itu, Akram memantau semuanya dan mengetahui bahwa Xavier ternyata berhasil diselamatkan dari kecelakaan itu dan langsung dikirim ke luar negeri dalam upaya menyelamatkan nyawanya dan menyembuhkan dirinya.
Penyelidiknya tidak berhasil mendapatkan hasil secara terperinci dari kondisi Xavier setelah kecelakaan itu dan hanya mengatakan bahwa Xavier tengah menjalani perawatan intensif dalam rangka pemulihan luka parah yang dideritanya setelah kecelakaan.
Akram sendiri, yang ketika itu lebih fokus dalam kepuasannya karena telah menyingkirkan Xavier, tidak merasa tertarik untuk menyelisik lebih jauh, dan menganggap bahwa luka parah Xavier adalah sejenis luka fisik, semacam patah tulang atau luka bakar yang biasanya terjadi setelah kecelakaan hebat. Lima tahun berikutnya bahkan dihabiskannya dengan melupakan Xavier, terlalu mensyukuri ketidakhadiran lelaki yang dulu dianggapnya sebagai musuh besarnya tersebut.
Sampai kemudian Nathan memberi laporan yang mengejutkan mengenai kondisi Xavier yang sesungguhnya....
“Apakah kau menjalani transfusi darah terus menerus?” Akram langsung mencari tahu tentang penyakit Anemia Aplastik secara umum dari Nathan begitu dia mendapatkan laporan, dan dia tahu bahwa penyakit ini membuat penderitanya mengalami defisit darah sehingga harus menerima transfusi darah untuk mengisi dan menjaga suplai sel darah merah dalam tubuhnya.
Xavier tersenyum tipis dan menggelengkan kepala sedikit. “Aku hanya mendapatkan transfusi darah ketika trombositku benar-benar habis sehingga aku mengalami pendarahan hebat. Selebihnya, aku mengkonsumsi obat yang dibuat dari pabrik kimia milikku sendiri.” Xavier menyeringai. “Selama lima tahun dalam masa pemulihan itu, aku tak tinggal diam dan berpangku tangan saja. Dengan dibantu oleh beberapa staf penelitiku, aku mampu menciptakan obat untuk menjaga suplai darahku sehingga bisa mendorong sunsum tulangku memproduksi sel darah bagiku. Tetapi, tentu saja obat itu tak bisa menggantikan kehebatan sunsum tulang yang normal dan bisa berproduksi penuh. Obat itu hanya menahan tubuhku, sehingga aku tak harus menjalani transfusi darah setiap hari dan menjagaku sehingga aku bisa tetap bugar dan beraktivitas seperti orang sehat biasanya. Tentu saja, aku tetap harus menerima tranfusi darah secara berkala, tetapi frekuensinya tak sesering yang harus diterima oleh penderita anemia aplastik biasanya. Sayangnya….”
Xavier menghentikan kalimatnya dan menatap Akram dengan penuh arti. “Sayangnya, obat itu memiliki efek samping.” sambungnya perlahan.
“Apa efek sampingnya?” Akram mengerutkan kening, menyambar dengan cepat dan penuh rasa ingin tahu.
__ADS_1
Kali ini, sikap santai kembali ditunjukkan oleh Xavier. Lelaki itu kembali menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kakinya sambil tak lupa mengulas senyumnya yang khas. “Obat itu memperpendek umurku. Setiap tahun masa hidupku yang bugar karena obat itu, mengurangi umurku dalam jumlah yang sama. Gampangnya seperti ini, jika aku menggunakan obat itu selama setahun, efeknya akan merusak tubuhku perlahan-lahan, hingga aku akan mati lebih cepat satu tahun dari jadwal kematianku yang sebenarnya.”
Xavier terkekeh seolah-olah apa yang diucapkannya itu adalah candaan menggelikan. “Sebenarnya, itu bukanlah menjadi hal yang penting bagiku. Aku bahkan sudah bersyukur karena lebih dari enam tahun berlalu dan aku masih hidup di sini,berkali-kali lipat dari jatah waktu enam bulan yang ditetapkan untuk sisa umurku. Tak ada yang tahu kapan manusia akan dijadwalkan mati. Kau bisa saja segar bugar hari ini dan tak bisa memuka matamu esok pagi, bukan? Jadi, sebenarnya, dari awal, aku menggunakan obat ini untuk menikmati hidupku selagi bisa, mendorong tubuhku tetap bugar sehingga aku bisa menyelesaikan segala hal yang masih menjadi beban hidupku, sebelum aku melepaskan semuanya dalam damai dan membiarkan kematian menjemputku.”
“Tetapi kau berubah pikiran.” Akram menyipitkan mata, menatap Xavier dengan pandangan menilai dan menyelidik. “Ada satu titik, entah apa itu, dimana kau memutuskan bahwa kau tak mau mati begitu saja. Jadi, kau akhirnya memutuskan menikahi Serafina Moon, untuk menyelamatkan dirimu, bukan? Nathan sudah menyelidiki perempuan itu, ibunya memiliki genetik kembar, begitu juga dengan neneknya, meskipun saudara kembar mereka tak berusia panjang. Bahkan, Serafina Moon juga memiliki saudara kembar yang meninggal ketika berada di dalam kandungan. Nathan melaporkan bahwa kau juga telah melakukan pemeriksaan medis kepada Serafina Moon secara diam-diam dan memastikan bahwa dia mengalami hiperovulasi atau multiple ovulasi yang menentukan secara pasti, bahwa jika Serafina Moon hamil nanti, bisa dipastikan dia akan mengandung anak kembar. Kau juga memberikan obat penyubur kepadanya untuk membuat kemungkinan itu menjadi seratus persen.”
Akram melirik ke arah Nathan sejenak ketika menyebutkan segala hal yang berhubungan dengan dunia medis kepada Xavier. Dia menunggu sanggahan dari Nathan jika ada kesalahan yang diucapkannya sebagai orang awam, tetapi, Nathan tampak dia mendengarkan dengan wajah serius, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk membantah atau membetulkan kesalahan.
Akram kemudian menatap Xavier kembali dengan tajam dan melanjutkan kalimatnya, “Serafina Moon adalah kandidat yang sempurna untukmu. Kau sebatang kara di dunia ini, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan donor sunsum tulang dari saudara sekandung ataupun dari orangtua dan kerabatmu bisa dibilang tidak ada. Tetapi, kau masih memiliki harapan untuk mengambil sel punca darah tali pusat dari keturunanmu sendiri sebagai alternatif donor untuk ditransplatasikan ke tubuhmu. Darah pada tali pusat mengandung mengandung stem cell yang mana kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan jika diambil dari manusia dewasa. Mengingat sel darah tali pusat itu diambil dari plasenta keturunanmu sendiri, hal itu akan mengurangi risikonya berkali-kali lipat dan kemungkinan kecocokannya untukmu hampir seratus persen. Nathan bilang bahwa bayi kembar akan menutup kemungkinan kurangnya jumlah sel untuk memenuhi kebutuhanmu, dan kau bahkan telah mengembangkan obat khusus untuk memicu perkembangan sel dari plasenta yang akan kau dapatkan nanti, untuk menjamin terpenuhinya kebutuhanmu untuk transplantasi sunsum tulang.”
Akram mencoba membaca ekspresi Xavier untuk menilai apa akibat analisanya bagi lelaki itu, sayangnya, Xavier sangat ahli menutupi perasannya, malahan menatap Akram dengan senyum khasnya yang menjengkelkan.
“Wow,” ujar Xavier dengan tatapan memuji. “Aku tak menyangka kau telah mempelajari segala sesuatunya dengan begitu mendetail sehingga aku tak perlu menjelaskan apa-apa lagi.”
“Aku tak akan bertanya apa yang menyebabkan kau bangkit dari kepasrahan untuk mati dan kemudian bersemangat memperjuangkan kehidupanmu lagi.” Akram berucap dengan nada dingin, tak sabar menghadapi sikap santai palsu yang ditunjukkan oleh Xavier. “Kurasa, kau juga tak akan membantah kesimpulanku, bukan? Kau menikahi Serafina Moon hanya karena kau mengincar keturunan darinya untuk kepentingan dirimu sendiri.”
Suara gemerisik di pintu membuat Akram menghentikan kalimatnya dan langsung mengangkat kepala ke arah sumber suara.
Bibirnya menipis dan langsung mengutuki dirinya sendiri ketika menemukan bahwa Elana tengah berada di ambang pintu, sambil menggendong Zac yang tampaknya masih setengah tertidur dan nyaman di pelukan ibunya. Sialnya, Serafina Moon tampak berdiri di samping Elana, menatap mereka semua yang berada di ruangan ini dengan mata lebarnya yang besar.
Akram terlalu memfokuskan diri pada Xavier sehingga kehilangan kewaspadaannya dan tak menyadari langkah kaki dua wanita yang datang kembali memasuki ruang duduk ini. Sepertinya, semua orang yang berada di ruangan ini juga mengalami hal yang sama dengan dirinya, terlalu fokus pada pembicaraan mereka sehingga tak menyadari ada yang datang mendekat ke ruangan ini.
Xavier sendiri menolehkan kepala, mengikuti tatapan Akram yang terpaku dan senyum di bibirnya sirna ketika dia menatap wajah Sera yang terpaku di ambang pintu, berada di sebelah Elana yang tampak berdiri dengan ekspresi serba salah.
Hanya dengan melihat kilat memperingatkan yang muncul dari mata Elana dan juga menatap wajah Sera yang pucat pasi, bisa dipastikan bahwa dua wanita itu telah mendengar dengan jelas setiap patah kata yang telah diucapkan oleh Akram sebelumnya.
***
***
***
REKOMENDASI NOVEL BAGUS DARI AUTHOR
JUDUL NOVEL : The Fragrance Of Frozen Plum Blossom
PENULIS : YOZORA
***
***
***
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
- Naskah per part selalu minimal 2500++ kata, bahkan kadang lebih dan prakata author cuma 100++ kata. Biasakan membaca dengan terperinci yak.
Thank You
__ADS_1
Sincerely Yours - AY