Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL ep 97 : Insting


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


"Wah, saya tidak menyangka kalau Anda ternyata juga datang kemari." Aaron mengulaskan setitik senyuman di sudut bibirnya. "Kalau saja saya tahu, mungkin kita bisa berangkat bersama-sama kemari, bukan?"


"Tentu saja," Nathan membalas basa basi dokter Oberon dengan sikap ramah formal yang sama. "Sayangnya, keputusan saya kemari cukup mendadak sehingga saya tidak merencanakannya," sambungnya kemudian.


Dokter Oberon menganggukkan kepala. Lelaki itu tampak memahami penjelasan Nathan, tapi seolah tak sadar diri dan tak segera pergi, malah melangkah semakin mendekati Nathan dan tindakannya itu membuat dirinya otomatis juga mendekat ke arah Xavier yang sedang mendorong kursi roda Sera di belakang tubuh Nathan.


Nathan melirik ke arah tubuh Xavier yang menegang ketika dokter Oberon melangkah mendekati mereka dan menembus perimeter kemanan yang dijaga dalam lingkaran tak kasat mata di sekeliling Sera. Nathan tahu bahwa dia Xavier sangat tidak suka ketika ada orang asing tak dikenal mendekati mereka, apalagi mendekati Sera yang seiring dengan kandungannya yang semakin besar maka semakin ketatlah penjagaan yang melingkupinya. Tetapi bagaimana lagi? Meskipun bagi Xavier, dokter Oberon adalah orang asing, tetapi bagi Nathan tidak begitu. Dokter Oberon adalah rekan kerjanya, dia tak mungkin mengusir pergi orang yang tak tahu apa-apa dan tak bisa disalahkan.


"Apakah urusan Anda di sini sudah selesai?" Dengan sikap serba salah, Nathan mencoba berbasa-basi dan ingin mengakhiri interaksi mereka secara halus. Dia tahu bahwa dokter Oberon adalah seorang penyendiri yang biasanya lebih memilih menghindari interaksi dengan orang lain. Tetapi entah kenapa, saat ini dokter Oberon malah menghampiri mereka duluan dan memulai percakapan yang tidak seharusnya dilakukan pada situasi seperti ini.


"Ah, belum, saya tadi bercakap-cakap dengan direktur fasilitas kesehatan ini menyangkut laporan keuangan. Setelah ini saya berniat berkeliling untuk melihat progress perkembangan dari proyek pembangunan area gedung tambahan baru di belakang yang sudah hampir mencapai delapan puluh persen."  Aaron menjawab sambil mengambil kesempatan untuk mencuri pandang, matanya melirik sekilas ke arah Xavier yang memasang ekspresi tidak sabar terang-terangan. Dia memilih mengabaikannya dan matanya kemudian beralih ke arah Sera yang duduk di kursi roda.


Rindu.


Seberkas rasa nyata langsung mencabik di dada Aaron, membuat sudut bibirnya berkedut ketika dia berjuang sekuat tenaga untuk menahan rasa sesak menyakitkan yang menyergap di dadanya. Dia tahu bahwa dia harus memasang ekspresi datar tak terbaca di bawah pandangan Xavier. Dia tahu bahwa dia tak boleh memberi celah. Xavier adalah musuh yang sangat cermat, jika dia menemukan satu titik saja ketidaksesuaian, sudah pasti dia akan langsung mencurigai Aaron yang saat ini berada dalam wujud dokter Oberon.


"Saya mengerti. Anda sedang bersama pasien. Kalau begitu saya tidak akan mengganggu. Silahkan, saya permisi dulu." Aaron mengalihkan tatapan matanya dari Sera setelah mengangguk sopan dengan sikap berjarak yang sengaja ditampilkannya. Dia juga melakukan hal yang sama kepada Xavier yang sedang memberengut menatapnya, lalu melambaikan tangannya tenang ke arah Nathan untuk berpamitan.


Nathan menganggukkan kepala ke arah dokter Oberon. Lelaki itu mengembuskan napas lega karena Xavier memilih menunggu diam dan tidak membuat drama yang akan merepotkannya. Sepenuhnya Nathan abai terhadap dokter Oberon yang menjauh, lalu matanya tertuju kepada Sera, memusatkan perhatiannya di sana.


"Kau tampak cukup baik untuk seorang perempuan hamil yang menempuh perjalanan jarak jauh cukup lama di mobil," sapanya sambil menghadiahkan senyuman lembut.


Sera terkekeh perlahan. "Tadinya Xavier ingin menyiapkan helikopter, tapi dia akhirnya sadar bahwa menaiki helikopter untuk perempuan yang sedang hamil besar sama berbahayanya dengan mengendarai mobil. Jadi, mobil menjadi pilihan kami." Mata Sera berbinar ketika mengucapkan candanya, menatap ke arah dokter Nathan, menularkan senyum keceriaan dan penuh harapannya.


"Baiklah, sepertinya kau memang sudah siap." dokter Nathan menyimpulkan cepat. Melihat bagaimana cerianya Sera kali ini, dia sungguh berharap hati perempuan itu kuat dan tidak ditelan kepedihan ketika melihat kondisi ayahnya nanti. "Kurasa, kita naik ke atas sekarang?" tanyanya perlahan sambil melirik ke arah Xavier untuk meminta persetujuan.


Xavier menganggukkan kepala. Tangannya bergerak meremas pundak Sera yang sedang duduk di kursi roda. Ketika Sera mendongakkan kepala untuk menatapnya, Xavier menunduk dan menatap istrinya lembut.


"Kau siap?" Pertanyaan itu sederhana dan singkat, tetapi tatapan mata dan nada suara Xavier menyiratkan segalanya. Lelaki itu mencemaskannya.


Sera menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangannya ke arah Xavier. Tanpa menunggu jeda, suaminya langsung membalas uluran tangannya, menautkan jari jemari mereka berdua seolah ingin menyalurkan kekuatan kepadanya.


Sera memejamkan mata, lalu kembali Sera dirinya menghela napas panjang sebelum kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha melonggarkan ketegangan ototnya, berusaha menetralkan syarafnya yang mengencang hingga terasa sakit, berusaha melegakan dadanya yang kesesakan oleh rasa cemas penuh antisipasi.


Sera akan bertemu ayahnya kembali. Dia bisa melihat ayahnya kembali. Ini adalah saat penuh kebahagiaan, bukan saat penuh kepdihan. Dia akan kuat. Hatinya harus kuat.


Sera membuka matanya, menatap Xavier yang menanti sabar di sisinya.


"Aku siap." Kali ini suara Sera tak bergetar, dipenuhi tekad yang kuat.


Xavier menganggukkan kepala tipis, lalu memberi isyarat ke arah dokter Nathan yang langsung mengerti dan mengarahkan mereka semua menuju lift khusus yang telah menanti.


***


 


Aaron tidak benar-benar pergi. Lelaki itu memilih menunggu dan mengawasi dari balik bayangan pilar besar yang ada di area depan lobby fasilitas kesehatan ini. Matanya yang menatap tajam dibanjiri kerinduan yang seolah tak bertepi, meluap-luap dan seakan ingin meledakkan dirinya.


Sera. Serafina Moon. Perempuan yang diabaikannya di masa lalu, dibuang dan diperalatnya tetapi ternyata diam-diam telah mengambil hatinya tanpa dia menyadarinya.


Mata Aaron terpaku pada perut Sera yang membuncit besar dan dia tak bisa menahan diri untuk tidak menggertakkan giginya. Bayi itu sudah terlalu besar untuk dibunuh dan memaksa Aaron harus menunggu dan bersabar hingga waktu bayi itu dilahirkan.


Xavier Light sialan! Bukan saja dia memaksa Sera mengandung bayinya, lelaki itu juga menanamkan benih kembar di perut Sera, membuat perempuan itu mengandung dua bayi dengan tubuhnya yang kurus dan lemah.

__ADS_1


Kalau sampai terjadi apa-apa pada Sera karena kehamilan sialan itu, sudah pasti Aaron tak akan memaafkan Xavier.


Tangan Aaron mengepal kuat hingga kukunya menekan telapak tangan dan menciptakan rasa perih tajam yang menyakitkan ketika melihat bagaimana Xavier mendorong kursi roda Sera yang tak berdaya memasuki lift untuk kemudian tubuh mereka menghilang ditelan lift yang beranjak naik. Aaron berusaha mengendalikan diri, menghela napas dalam untuk memadamkan bara yang membakar di dadanya dan menempatkan kembali pikiran rasionalnya di atas segalanya.


Sabar. Tunggu waktunya. Kesabarannya akan berbuah manis. Sera akan segera menjadi miliknya.


***


"Aku tidak menyukainya." Xavier berucap dengan nada dingin setelah mereka memasuki lift.


Nathan langsung menolehkan kepala, bertanya dengan bingung. "Siapa?"


"Dokter yang tadi, rekan kerjamu," jawab Xavier cepat.


"Kenapa kau tidak menyukainya? Tidak ada yang salah dari perilakunya, bukan?" Nathan tampak semakin bingung, menyuarakan pertanyaannya dengan penasaran.


Xavier mengerutkan keningnya dalam. "Dia menatap istriku."


"Xavier," Sera mengayunkan tangannya yang masih bertautan dengan tangan Xavier. Ekspresinya tampak mencela meskipun perempuan itu tak mampu menyembunyikan rona merah yang menyala di pipinya. "Kau tak boleh membenci seseorang hanya karena dia menatap istrimu," nasehatnya pelan.


Xavier mengetatkan jalinan jari jemarinya dengan Sera lalu meremasnya lembut. Bibirnya mengulas senyum menggoda meskipun kekeraskepalaan masih tercermin di ekspresi wajahnya yang kaku.


"Aku tidak sembarangan menilai lalu membenci orang. Nathan juga sering menatapmu, tetapi aku tidak membenci Nathan karena dia menatapmu, meskipun tidak bisa dikatakan aku menyukai Nathan." Xavier menyahuti dengan suara tenang dan perkataannya itu membuat Nathan bersungut-sungut.


"Ah, ya. Terima kasih telah menjelaskan secara gamblang bahwa kau tidak menyukaiku." Nathan berucap kemudian dengan nada sarkasme yang kental.


"Tetapi aku tidak membencimu." Xavier menyanggah kaku.


Nathan memutar bola matanya. Sungguh sulit memahami cara kerja otak Xavier. Dia tahu dia tak akan mampu, jadi lebih baik dia menerimanya saja.


"Ya ya ya. Kau tidak membenciku kau juga tidak menyukaiku. Jadi, posisiku netral dan aman." Perlahan Nathan menatap Xavier dalam-dalam, kembali menyuarakan rasa penasarannya yang belum tertuntaskan. "Kalau begitu, kenapa dengan mudahnya kau memutuskan membenci dokter Oberon?" tanyanya lagi.


Xavier tampak berpikir, lalu cepat dirinya menjawab. "Karena dia menatap seolah ingin memiliki Sera."


Xavier tampak tidak tersinggung dengan sikap sinis dokter Nathan. Bagaimanapun, dia tahu bahwa penilainnya itu mungkin tidak bisa diterima dengan logika biasa, juga tidak bisa dijelaskan dengan cara biasa. Yang pasti, Xavier sangat yakin dengan kesan pertama yang didapatnya dalam interaksi singkatnya dengan dokter Oberon tadi.


"Insting," jawabnya singkat, membuat Nathan dan Sera sama-sama menatapnya bingung.


"Apa katamu?" dokter Nathan tampak tak yakin dengan perkataan Xavier, jadi lelaki itu mengulang untuk bertanya.


"Kubilang, insting." Xavier menjawab pasti. "Aku merasakannya. Insting yang membuatku  tahu. Ada lelaki lain yang mengincar dan menginginkan milikku," geramnya dengan suara mengancam. "Aku ingin kau menyelidiki dokter Oberon, Nathan."


"Apa yang harus kuselidiki tentang dokter malang itu? Kau jelas tahu bahwa dia adalah direktur keuangan di rumah sakit yang dimiliki sebagian besar modalnya oleh Aaron. Dia benar-benar pria malang yang kehilangan mimpinya karena kecelakaan fatal yang menimpanya dua tahun lalu. Kau seharusnya mengasihani dia, bukannya menjadikannya musuh, Xavier. Dokter Oberon adalah pria penyendiri yang tak pernah ikut campur atau tertarik dengan orang lain. Kurasa kau salah menilai lawanmu." Nathan menyahuti dengan kalimat panjang yang menunjukkan ketidaksetujuannya, matanya kemudian melirik ke arah Sera seolah meminta bantuan dan Sera langsung mengerti.


"Xavier." Kembali Sera mencoba menarik perhatian Xavier dengan mengguncangkan pertautan tangan mereka. "Kurasa kau terlalu berlebihan. Apa kau tidak lihat kondisiku sekarang? Aku pucat dan berantakan, perutku buncit sangat besar karena mengandung dua bayi sehat di dalam perutku, dan kakiku bengkak serta tak cantik. Penampilanku tak akan membuat lelaki lain ingin memilikiku ditambah lagi kondisi perutku yang buncit ini menunjukkan bahwa aku sedang mengandung anak dari lelaki yang memilikiku. Tidak ada pria yang cukup gila di dunia ini yang mau menginginkanku pada kondisiku yang sekarang." Sera memberi penjelasan dengan suara lembut yang menenangkan, menambahkan senyuman manis untuk meredakan kegusaran Xavier yang siap meledak.


Apa yang dilakukannya berhasil, Xavier langsung membungkuk di depan kursi roda Sera, salah satu tangannya bertumpu pada lengan kursi roda Sera dan wajahnya mendekat ke arah perempuan itu, menggunakan ujung jari telunjuknya untuk menyentuh dagu Sera lembut dan mendongakkannya.


"Kau cantik. Keseluruhan dirimu. Dengan perut buncitmu, dengan kaki bengkakmu, bahkan dengan wajah pucat dan rambut berantakanmu," Xavier terkekeh pelan ketika melihat mulut Sera sedikit memberengut karena perkataannya. "Aku tak peduli dengan semua itu. Kau cantik. Titik." Xavier tak bisa menahan diri lagi, lelaki itu membuka mulutnya, mendekat ke arah bibir menggoda Sera yang ranum, siap untuk menyesap kelembutan dan kemanisan mulut itu dalam cecapan mulutnya.


Suara batuk yang disengaja didehemkan dengan keras tiba-tiba terdengar di belakang mereka, membuat Xavier menghentikan gerakannya seketika.


Lelaki itu menegakkan punggung dan sengaja memosisikan tubuhnya dengan sikap melindungi di hadapan Sera untuk menutupi Sera yang sedang menundukkan kepala dengan wajah merah padam karena malu di kursi rodanya, lalu membalikkan badan dan menatap langsung ke arah dokter Nathan dengan sikap mencela.


Sayangnya, hal itu tak berpengaruh pada dokter Nathan, lelaki itu hanya mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.


"Syukurlah kalian masih ingat untuk berhenti." Dokter Nathan sedikit menggerutu setengah menggoda. "Kurasa kalian tidak lupa kalau ada aku di dalam lift ini, bukan?" tanyanya kemudian dengan nada mengejek dan sebelum Xavier bisa membuka mulutnya untuk menyanggahi, tiba-tiba saja terdengar denting lift menggema di dalam ruangan ini, menandakan bahwa lift yang mereka tumpangi telah sampai di lantai tujuan.


Suasana langsung berubah, ada ketegangan yang terselip di sana, membuat percakapan apapun seolah langsung terhenti paksa.


Sekali lagi dokter Nathan berdehem seolah ingin menghalau rasa tegang yang melingkupinya, lalu dia memimpin bergerak keluar dari lift, diikuti oleh Xavier yang mendorong kursi roda Sera perlahan mengikuti.

__ADS_1


"Ruangan ayahmu, ada di ujung lorong ini." dokter Nathan berucap perlahan sambil melangkah cepat mendahului mereka.


***


 


"Ayahmu mendapatkan penanganan terbaik." Xavier berucap perlahan ketika mereka sampai di pintu yang tertutup rapat di hadapan mereka. "Percayalah, beliau mendapatkan penanganan terbaik yang bisa diberikan oleh fasilitas kesehatan ini."


Sera menelan ludahnya. Dia tadi sudah menyiapkan hati, tetapi entah kenapa ketika dia sudah begitu dekat, tiba-tiba rasa tegang mulai menguasai tubuh dan jiwanya lagi. Jantungnya berdentam-dentam tak terkendali, semntara aliran darahnya menderas, seakan mendidihkan jalur nadi yang dilewatinya. Sera mulai merasa tercekik, dia membuka mulut untuk menghela napas dalam-dalam, dan hal itu tak lolos dari pandangan Xavier.


Lelaki itu berlutut di sisi kursi roda Sera, menggenggam tangannya kuat-kuat.


"Aku tahu, rasanya pasti luar biasa. Setelah sekian tahun, kau akhirnya bisa bertemu dengan ayahmu lagi. Pikirkan saja bahagianya, berjanjilah kepadaku kau tidak akan pingsan karena luapan emosi, oke?" Kembali Xavier menyuarakan kecemasannya, menatap Sera dalam untuk memastikan lagi.


"Oke." Sera menjawab pelan, meyakinkan diri.


"Baiklah kalau begitu." Xavier bangkit dari posisinya berlutut dan memosisikan diri kembali di belakang Sera untuk mendorong kursi rodanya. Matanya kembali memberi isyarat ke arah Nathan dan dokter Nathan pun bergerak untuk membuka pintu ruang perawatan tersebut.


 


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***

__ADS_1


***


__ADS_2