
Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.
Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya
Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.
***
***
Author akan update episode tamat novel ini di hari Kamis 12 Desember 2019. Semoga bisa lolos di hari yang sama ya, kalau tidak mungkin baru akan lolos di hari jumat 13 Desember 2019. Terima kasih telah menemani Akram dan Elana dari awal sampai menjelang akhir. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua.
***
***
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Elana, aku akan menghancurkan wanita itu sampai berkeping-keping!” Akram berdiri dengan sikap kaku di dalam lift, matanya terpaku pada angka digital di atas lift yang menyatakan sedang berada di lantai mana mereka. Kedua tangannya mempersiapkan pistol di tangannya, membuka pengamannya sehingga siap ditembakkan sewaktu-waktu.
Xavier tidak menjawab, lelaki itu juga sama tegangnya dengan Akram, dan dia diam-diam juga telah menyiapkan pistol yang sama. Jantung Xavier bahkan berdegup lebih kencang dari biasanya. Didera oleh rasa takut yang sangat menyiksa dirinya.
Jika sampai terjadi sesuatu pada Elana. Itu semua karena dia lengah, meremehkan kekuatan tekad Maya hanya karena perempuan itu telah sakit, dan karenanya membuat Elana berada dalam kondisi berbahaya.
Berpuluh tahun dia menanti seorang perempuan yang bisa setia kepada Akram dan juga bisa dicintai oleh Akram. Sekarang, setelah Elana ada dan menenangkan hatinya, tidak mungkin dia akan mampu menanggung jika sampai Elana celaka.
Akram melirik ke arah Xavier yang pucat pasi dan lelaki itu menipiskan bibirnya ketika menyadari bahwa kemungkinan besar, dia juga sama pucatnya dengan Xavier. Meskipun begitu, ada pengetahuan baru di dalam benaknya. Reaksi Xavier kali ini, bukanlah topeng palsu yang dibuat-buat seperti biasanya. Lelaki itu menunjukkan emosinya tanpa menutup-nutupinya dan Akram tahu bahwa emosi Xavier dengan gamblang menunjukkan kecemasan yang nyata, sesuatu yang tak pernah ditunjukkan oleh Xavier sebelumnya.Xavier mencemaskan Elana dengan sungguh-sungguh.
Begitupun dengan dirinya. Akram melirik ke tombol penunjuk digital di lift yang terus bergerak naik, sementara kakinya bergeser dengan gelisah tak mau diam. Seandainya saja memungkinkan, Akram pasti sudah memimilih menaiki tangga sehingga kakinya bisa tergerakkan secepat mungkin menuju lantai tempat Elana dirawat. Tetapi, kali ini, untuk kesekian kalinya, Akram harus mengakui bahwa ada beberapa hal dimana kekuatan fisik manusia, bisa dikalahkan oleh mesin. Karena secara penilaian logika, seberapapun cepatnya Akram mampu berlari, dia sudah pasti akan kalah oleh kecepatan lift yang meluncur naik tanpa gangguan.
Elana….
__ADS_1
Jantung Akram berdebar kencang, memukul-mukul dadanya hingga nyaris terasa sakit.
Apa yang terjadi pada Elana saat ini? Kenapa detik terasa begitu cepat sekaligus lambat hingga bertubrukan dan mengacaukan ruang dan waktu? Bagaimana jika… bagaimana jika mereka ternyata terlambat dan Maya telah melabuhkan tangan jahatnya untuk mencelakai Elana?
Bayangan akan Elana dan bayinya yang terluka langsung menghantam Akram dengan ketakutan yang amat sangat. Dia tak akan mampu jika sampai Elana terluka, dia akan merasakan kesakitan yang berkali-kali lipat kalau sampai Elana celaka.
Akram merasakan jalur napasnya sesak dipenuhi kepanikan sehingga dia hampir megap-megap ketika kemampuannya menghirup oksigen untuk menghidupi paru-parunya seolah menghilang begitu saja. Tangan Akram yang memegang pistol gemetaran tak terkendali ketika dia berusaha menenangkan diri.
Lalu, tiba-tiba saja tangan Xavier yang terasa sedingin es menepuk pundaknya, membuat Akram terlonjak dari rasa paniknya dan mengangkat kepala, untuk kemudian langsung berhadapan dengan Xavier yang pucat pasi, tetapi menyorotkan sinar kuat di matanya.
“Kau harus tenang,” ucap Xavier dengan nada sungguh-sungguh. “Dengan begitu, maka kita bisa menyelamatkan Elana,” Xavier menyipitkan mata, menatap tajam ke arah Akram sebelum kemudian mengucapkan kalimatnya lambat-lambat supaya Akram bisa memahami apa yang dikatakannya. “Saat ini Maya sedang menderita cacar api akibat virus yang kuberikan kepadanya. Virus itu akan sangat menyakitinya, apalagi jika serangan nyeri serasa panas terbakar datang menderanya. Hal itu akan mengalihkan fokusnya sehingga kita bisa mencari cara untuk menyelip dalam kelengahannya dan menyelamatkan Elana.”
“Virus cacar api?” Akram hampir berteriak dengan suara parau. “Apakah itu akan membahayakan Elana dan bayinya?”
“Jangan khawatir. Elana memiliki kekebalan alami terhadap virus itu, karena racun yang pernah kusuntikkan kepadanya itu, dibuat dari pengembangan virus itu, untuk menciptakan reaksi yang berkebalikan. Jika virus cacar api menyebabkan rasa gatal yang panas, maka racun yang kusuntikkan kepada Elana, memiliki efek sebaliknya, mendinginkan hingga sedingin es dan mengakibatkan hipotermia. Tetapi, induk dari pengembangan racun itu berasal dair virus yang sama. Karena itulah, sistem kekebalan tubuh Elana sudah tentu telah memiliki pertahanan khusus terhadap virus yang ini. Dia tak akan tertular, begitupun bayi dalam kandungannya,” Xavier mengawasi Akram kembali dengan sungguh-sungguh. “Dan aku, sebagai pengembang resmi virus dan racun tersebut, tentu saja telah mendapatkan vaksinnya sehingga aku kebal terhadapnya. Yang menjadi masalah adalah kau, kau tidak kebal terhadap virus itu. Jadi, untuk meminimalisir kemungkinan kau tertular, kita akan berbagi peran, aku akan menyerang dari jarak dekat, kau dengan kemampuan menembakmu yang luar biasa, bidiklah Maya untuk melumpuhkannya.”
Sebelum Akram sempat memberikan tanggapan, suara denting lift yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai tujuan pun terdengar keras. Mereka tidak sempat memikirkan apapun lagi, dan langsung melompat keluar dari lift dan seketika berhadapan dengan pada bodyguard yang menatap bingung ke arah Akram dan Xavier yang sama-sama membidik senjata di tangan mereka.
“Tuan Akram… ada ap…” salah satu pemimpin bodyguard itu memberanikan diri untuk maju dan bertanya, tetapi suaranya terhenti ketika langsung bersirobok dengan tatapan Akram yang tajam dan membunuh.
“Apakah kau membiarkan seorang perempuan bernama Maya melewati perimeter keamanan di sini?” hardiknya tak sabar, sementara langkah kakinya berjalan cepat melalui lorong, diikuti oleh Xavier dan para bodyguard di belakangnya.
“Betul, tuan. Baru saja, belum ada beberapa menit yang lalu, Nona Maya datang untuk menemui Nona Elana. Dia bilang datang membawakan vitamin khusus untuk nona Elana jadi…”
“Bodoh!” Akram tak bisa menahan diri untuk memukul kepala bodyguard bodoh itu dengan gagang pistolnya, mengerahkan seluruh frustasi dan kemarahannya di sana dengan pukulan keras hingga membuat bodyguard itu terhantam mundur dengan langkah terhuyung untuk menjaga keseimbangannya, sementara hidungnya mengucurkan darah segar.
Lalu, langkah Akram terhenti di depan pintu ruang perawatan Elana. Kakinya melambat, sementara jantungnya berdebar semakin kencang tak terkendali.
Suasana terdengar sepi. Apakah… apakah itu artinya Elana….
Rasa sakit menusuk membuat jantung Akram seolah dicabik oleh tangan besar tak kasat mata, membat napasnya terasa sesak dan area dadanya terasa nyeri. Tetapi, Akram kemudian menguatkan hati. Dia membidik dengan pistolnya, dia kemudian melangkah menyerbu masuk ke dalam kamar itu diikuti oleh yang lainnya.
“Jangan berani-berani bergerak atau dia mati!” suara parau Maya yang menahan sakit terdengar mengancam, membuat langkah Akram terhenti seketika.
Dirinya sudah masuk setengah ke dalam kamar perawatan Elana yang besar, begitupun yang lainnya, dan apa yang tampak di depan pandangan matanya sangatlah mengerikan.
Maya yang tengah merangkulkan lengannya melingkar di leher Elana dari belakang, sementara sebelah tangannya yang lain mengancamkan pisau tajam tepat di bawah dagu Elana. Dan posisi dua orang perempuan itu sangatlah genting, tepat berada di ujung balkon besar yang ada di sisi luar kamar Elana, membuat angin malam bertiup kencang dari ketinggian lantai dan menyebabkan baik rambut Elana dan Maya sama-sama berkibar karena tiupan angin tersebut.“Kalau kalian berani mendekat, aku akan mendorong perempuan rendahan ini jatuh ke bawah, sehingga dia dan bayinya akan mati!”
Ancaman Maya terdengar tak main-main. Kakinya dan Elana sudah ada di salah satu sisi balkon berpagar rendah itu, dengan posisi Elana berada di pinggir.
Ruang perawatan Elana terletak hanya satu lantai di bawah lantai tertinggi rumah sakit ini, yang berarti, tidak akan ada manusia yang selamat jika diterjunkan dari lantai ini. Tubuhnya sudah pasti akan menghantam tanah dan hancur berkeping-keping seketika.
Dan…. Hanya perlu satu dorongan saja untuk membuang tubuh Elana jatuh ke bawah serta membunuhnya.***
__ADS_1
***
***
Mata Maya membelalak terkejut ketika menemukan bahwa Akram dan pasukan bodyguardnya tiba-tiba merangsek masuk ke dalam kamar itu.
Dia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan secepat itu ketahuan. Napasnya terengah ketika rasa sakit menderanya, bercampur dengan kepanikan yang membuat kepalanya seakan pecah, kacau balau dan tak bisa berpikir jernih.
Tadi, ketika hendak menusuk Elana langsung saat perempuan itu tengah terlelap di atas tempat tidur nyamannya, pikiran jahat memasuki benak Maya secara tiba-tiba dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk membunuh serta menusuk Elana secara langsung.
Jika dia melakukan itu, maka darah Elana akan bermuncratan kemana-mana, pun dengan pisaunya dan juga tangannya. Semua itu akan membasahi dirinya dengan mengerikan, belum lagi penampilan sosok mayat mati dengan tubuh terkoyak di depan matanya, sudah pasti akan menghantui mimpi-mimpi buruknya untuk ke depannya.
Meksipun niat membunuh Maya sangatlah besar,sebagai seorang perempuan, Maya ternyata memiliki ketakutan terhadap luka sayatan dan darah. Tentu saja, itu mungkin disebabkan bahwa karena gaya hidupnya yang kelas atas, sudah jelas bahwa Maya tak pernah menggunakan pisau untuk melukai makhluk hidup lain sebelumnya.
Otaknya lalu berpikir keras, berusaha menghindari adegan berdarah-darah di hadapannya, sementara matanya terpaku pada jendela kaca dengan tirai besar yang sedikit terbuka di sisi dinding kamar perawatan itu, menampilkan sedikit pemandangan balkon kecil di sana. Seketika, Maya mendapatkan ide brilian untuk melemparkan tubuh Elana ke bawah sana, sehingga, jika Elana mati pun, mayatnya tidak akan ada di depan mata, tetapi ada jauh di bawah sana.
Karena itulah, dibangunkannya Elana yang kemudian membuka mata dengan rasa terkejut yang amat sangat hingga tak mampu berbuat apa-apa. Lalu di bawah ancaman pisau, dibawanya Elana menuju tepian balkon yang terletak di salah satu sisi dinding kamar ini.
Balkon ini sebenarnya bukan untuk dipijak ataupun untuk bersantai, fungsinya hanya sebagai estetika untuk menampilkan pemandangan indah dari kamar. Sebab, angin yang begitu kencang di lantai tinggi yang meniup area balkon ini, jelas sangat tidak representatif bahkan hanya untuk berdiri bersantai di dekat pagarnya. Dan karena balkon ini bukan untuk diinjak oleh manusia, maka pagar pembatasnya pun di buat rendah, sangat mudah untuk dilompati.
Maya berencana mendorong Elana supaya perempuan itu mati karena jatuh dari lantai tinggi gedung bangunan rumah sakit ini, lalu dia berpikir untuk melenggang pergi dengan selamat, setidaknya mampu mengulur waktu hingga dia bisa melarikan diri sebelum kehebohan di bawah sana akibat tubuh Elana yang jatuh di dasar membuat para bodyguard itu menyadari bahwa yang melompat dari gedung tinggi itu adalah nona mereka.
Sayangnya, ternyata tindakan Maya ini, meskipun telah dilakukan dengan berhati-hati, ternyata kurang cepat dilakukan. Sebelum dia bisa bertindak dan mendorong Elana ke bawah untuk menuntaskan dendamnya, Akram dan anak buahnya sudah merangsek masuk dan mereka semua menodongkan pistol ke kepalanya.
Sudah kepalang tanggung. Akram sudah menghadang di pintu keluar dengan tatapan kelam dipenuhi kemarahan luar biasa.
Sudah jelas tak akan ada kesempatan bagi Maya untuk melarikan diri lagi….
Tangan Maya bergerak dengan sengaja, menempelkan pisau tajamnya itu ke leher Elana dan menggores permukaan kulit leher Elana yang rapuh. Dia menyeringai senang, merasa di atas angin ketika mendengarkan erangan kesakitan tertahan Elana dan menemukan kalau mata Akram juga bersinar ketakutan.
Hah! Akhirnya! Akhirnya dia bisa membuat Akram merasa takut!
“Kau takut aku membunuh kekasih jalangmu, ini Akram?” Maya yang seolah kehilangan logikanya tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. “Bagaimana sekarang rasanya ketika tanganmu seolah terbelenggu dan kau tak bisa berbuat apa-apa? Aku akan sangat senang sekali ketika bisa menghadiahkan rasa sakit tak terkira itu kepadamu!” bentak Maya dengan mata melotot marah dan suara menjerit serak tak terkendali. “Aku akan mendorong tubuh jalang ini ke bawah biar dia mati seketika!” ancamnya bagai kehilangan kewarasan.
“Aku akan membidik kepalamu hingga hancur berkeping-keping sebelum kau bisa melakukannya,” Akram menggeram, berusaha tetap tenang dan membidik ke arah Maya dengan akurat. Matanya menghindar untuk menatap ke arah Elana, karena ketika tatapannya bertemu dengan tatapan mata Elana yang ketakutan di bawah ancaman pisau Maya, ketika pandangannya melihat leher Elana yang berdarah karena goresan pisau tajam yang diarahkan kepadanya, gemetar hebat langsung melanda tubuh Akram, dan serangan panik itu kembali menyerangnya.
Akram memang yakin bahwa dia akan mampu menembak kepala Maya dengan bidikannya. Tetapi, dia tak bisa menjamin bahwa pada saat itu, Maya belum mendorong tubuh Elana hingga jatuh dari balkon itu dan merenggut nyawanya.
***
__ADS_1