Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 63 : Pembalasan


__ADS_3

Begitu kuatnya pelukan Xavier sehingga tubuh Sera setengah terangkat dari lantai tempatnya menjejak. Lelaki itu benar-benar menenggelamkan tubuh Sera dalam rengkuhan lengannya, menekankan seluruh kekuatannya ke dalam pelukan kencangnya itu seolah-olah ingin meremukkan seluruh tulang Sera dan meleburkan tubuh mungil Sera menjadi satu dengannya.


"Hei." Sera mengerutkan kening ketika pelukan Xavier terasa semakin kuat menekan tubuhnya, membuatnya hampir-hampir sesak napas. Tangan Sera yang berada di belakang punggung Xavier berjuang keras untuk bergerak dan menepuk punggung lelaki itu, berusaha memantik pikiran logis Xavier supaya tidak memeluknya terlalu erat. "Xavier... tolong, aku susah bernapas."


Suara Sera yang setengah tercekik itu rupanya berhasil merasuk ke dalam kesadaran Xavier dan membuat lelaki itu mengangkat wajahnya yang semula menunduk dan terbenam di bahu Sera.


"Ah, maafkan aku." Xavier melonggarkan pelukannya dan menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram lembut bahu perempuan itu, lalu mendorongnya sedikit menjauh. "Kau tidak apa-apa?" Mata Xavier tidak melirik ke arah mata Sera, malahan mencuri pandang ke arah perutnya.


Hal itu membuat Sera mengerutkan kening. Lelaki ini sungguh aneh. Apa jangan-jangan Xavier mencemaskan kandungannya yang tertekan oleh tubuhnya jika memang Sera hamil? Kepastian kehamilan Sera dari test darahnya yang terakhir kali sudah jelas belum keluar dan perut Sera bahkan masih rata seperti sebelumnya. Bagaimana bisa sebuah pelukan erat mampu melukai janin yang ukurannya masih begitu kecil dan tersembunyi aman jauh di dalam lingkupan rahimnya?


Sera mengawasi wajah Xavier yang pucat dan perempuan itu tiba-tiba menyadari bahwa ada kerutan di antara kedua alis Xavier. Lelaki itu seolah-olah sedang menahan sakit.... Astaga! Xavier seharusnya memikirkan dirinya sendiri karena imbas pelukan kencang tersebut sepertinya lebih terasa bagi Xavier sendiri.


Apakah pelukan yang terlalu erat itu melukai bekas luka yang terbebat di balik perban dadanya?


"Kau tidak apa-apa?" Bukannya menjawab pertanyaan Xavier, kali ini malah gantian Sera yang bertanya. Tangannya bergerak lembut untuk menghela Xavier supaya mundur. "Bagaimana luka di dadamu? A-apakah tidak sebaiknya kau duduk di sofa dulu?" tanyanya khawatir.


"Tidak, tidak." Xavier bersikeras. Lelaki itu merengkuh Sera kembali ke dalam pelukannya, tetapi pelukan yang ini tidak seerat sebelumnya, hanya memerangkap Sera tetapi tak sampai setengah meremukkannya. "Biarkan aku memelukmu sebentar. Diamlah."


Suara Xavier terdengar parau dan menuntut, hingga tak ada yang bisa dilakukan oleh Sera selain menurutinya. Dia terpaku di sana, membiarkan lelaki itu memeluknya dalam senyap yang terasa canggung baginya.


Lama kemudian, barulah Xavier melepaskan pelukan itu. Dia tampaknya sudah bisa menguasai diri, mata Xavier sudah kembali teduh dan terkendali, sementara semburat rona aliran darah sudah muncul di wajahnya yang pucat.


Lalu secara tiba-tiba Xavier menggerakkan tangannya dan menangkupkanya ke kedua sisi pipi Sera, gerakannya lembut ketika mendongakkan perempuan itu ke arahnya.


"Kalau kau benar-benar hamil, mereka bilang kemungkinan besar kau akan hamil anak kembar," bisiknya kemudian dengan suara parau nan takjub.


Pipi Sera langsung memerah mendengar ucapan Xavier tersebut, apalagi lelaki itu saat ini menatapnya dengan begitu tajam, seolah ingin menyelisik masuk ke dalam hati Sera. Sera berusaha memalingkan wajah, tetapi kepalanya tertahan oleh Xavier sehingga dia tidak bisa melakukannya.


"I-itu... kehamilan itu masih belum pasti. Bukankah hasilnya belum keluar?" sanggah Sera dengan suara kikuk.


Xavier tiba-tiba membungkukkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke wajah Sera dan menyatukan ujung hidungnya dengan hidung Sera, menggesekkannya lembut. Tindakannya sangat intim, seolah-olah lelaki itu didorong oleh niat spontan yang tak bisa ditahannya.


"Hasilnya sudah hampir pasti. Tes darah terakhir itu hanya demi semakin meyakinkan Dokter Nathan saja. Kau sudah pasti hamil, kau sedang mengandung, anak itu sedang bertumbuh di sini." Xavier tak bisa menyembunyikan ketakjuban di dalam suaranya. Lelaki itu menundukkan kepala, lalu tangannya bergerak tanpa izin mengusap perut Sera, membuat Sera terkesiap karena terkejut.


"Maaf." Xavier menyeringai, lelaki itu tiba-tiba saja melangkah mundur dan tangannya bergerak mengusap rambutnya seolah gugup."Ini sangat mengejutkan bagiku. Kau tahu.... Bagi diriku yang sebatang kara di dunia ini, tak punya satu orang pun yang berhubungan darah denganku... pengetahuan bahwa akan ada seorang anak, seorang anak yang sekarang sedang bertumbuh dan akan dilahirkan dengan teraliri oleh darahku, seorang anak yang merupakan keturunanku... hal itu sedikit mengguncangku."


"Apakah itu mengguncangmu dalam artian baik... Atau buruk?" Sera menyahuti, bertanya dengan hati-hati.


Xavier mengusap wajahnya. "Kau masih merasa perlu bertanya?" Lelaki itu menyeringai penuh ironi. "Tentu saja aku senang. Kau tahu, akhirnya akan ada manusia lain di dunia ini yang berbagi genetik dengan diriku, bagaimana mungkin aku tak bahagia?"


Sera mengawasi ekspresi Xavier dan entah kenapa dia langsung tahu bahwa Xavier tak sedang berbohong ataupun berusaha memanipulasinya. Kali ini lelaki itu benar-benar menurunkan topeng palsu yang selalu melingkupi ekspresinya. Segenap emosi yang campur aduk di dadanya -terkejut, takjub, bahagia, cemas- semuanya itu ditampilkan oleh Xavier di wajahnya dengan gamblang dan terbuka.


Berita kehamilannya ini tentu saja membuat Sera sama terkejutnya seperti Xavier. Tetapi, pemikiran awal yang membuatnya yakin bahwa dia sudah pasti akan mengandung anak Xavier, entah sekarang entah nanti, membuatnya lebih bisa menerima kabar kehamilannya ini dengan mudah. Tentu saja Sera juga bisa memahami apa yang dirasakan oleh Xavier, lelaki itu layaknya pohon subur yang berdiri seorang diri di tengah gurun tandus, terlalu lama dilingkupi sepi hingga tak mau mengharap apapun lagi. Kehadiran tunas hijau kecil di sebelahnya, tentu saja langsung membolak balikkan dunianya, meruntuhkan semua tembok emosi yang dibangunnya hingga lebur tanpa sisa.


Tetapi, sikap antusias Xavier menyangkut anaknya ini mau tak mau menumbuhkan rasa waspada di benak Sera. Selama ini, Sera berpikir bahwa Xavier hanyalah menginginkan sel punca dari tali pusat keturunannya saja untuk menyelamatkan nyawanya. Sera lupa bahwa kemungkinan besar akan ada ikatan emosional yang terbentuk dari seorang Xavier yang tadinya sebatang kara, dengan keturunan pertamanya, dengan makhluk pertama dan mungkin adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang berbagi genetik dengannya.


Mereka baru saja berdebat masalah kebebasan Sera dan anak-anaknya tadi sebelum panggilan telepon doker Nathan menginterupsi.


Dan Sera langsung bertanya-tanya dalam hati. Jika sebelum Sera hamil saja Xavier sudah berencana mengikat anak-anaknya, apalagi sekarang?


Sera tahu bahwa Xavier tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menahan Sera dan anak-anaknya di dalam naungannya nanti. Sebab, dia masih ingat jelas isi surat perjanjian kesepakatah yang ditandatanganinya di hadapan pengacara Xavier. Di sana terdapat klausul yang dengan jelas menerangkan bahwa setelah Sera melahirkan anak Xavier Light dan menyerahkan tali pusat anak-anaknya secara sukarela, maka di detik itulah Sera berhak menjemput kebebasannya sendiri.

__ADS_1


Atau jangan-jangan, maksud klausul itu adalah bahwa Sera boleh pergi sendiri, tetapi dengan tidak membawa anak-anaknya?


Sera baru sadar bahwa klausul itu sama sekali tidak memberikan penjelasan terperinci tentang anak-anak mereka nantinya.


Apakah Xavier hendak menguasai anak-anaknya nanti dan mengusir Sera menjauh? Astaga! Kenapa hal itu tak terpikirkan oleh Sera sebelumnya?


"Xavier." Sera akhirnya bertekad untuk memulai percakapan. Segala sesuatunya sepertinya harus dibahas sejelas-jelasnya di awal. Sedikit terlambat memang karena kemungkinan besar sudah ada bayi di dalam kandungannya, tetapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?


Lelaki itu sebelumnya tampak sibuk dengan rencana-rencana di dalam kepalanya sendiri, tetapi ketika Sera memanggilnya, kepala Xavier terdongak. Ekspresinya langsung berubah menjadi dingin dan waspada ketika melihat kecemasan di wajah Sera.


"Ada apa?" sahutnya penuh antisipasi.


Sera menelan ludah. "Kurasa kita harus menyambung pembicaraan kita tadi, apalagi sekarang saat kemungkinan besar aku sudah hamil." Mata Sera memindai wajah Xavier, berusaha memahami suasana hatinya. "Aku ingin tahu seperti apa rencanamu menyangkut anak-anak kita nanti, kau.... Kau tidak sedang berpikir untuk mengubah keputusanmu dalam memberiku kebebasan, bukan?"


Mata Xavier menyipit, menatap Sera dengan pandangan menyelisik. "Kebebasan seperti apa yang kau inginkan, Sera? Jika kau menginginkan kebebasan dariku, maka aku akan menepati janii untuk memberikannya kepadamu. Segera setelah kau melahirkan anakku, aku akan menceraikanmu."


Sera tertegun sejenak mendengar kalimat yang diucapkan dengan lugas dan tanpa ragu tersebut . Seolah-olah Xavier memang sudah tak sabar ingin membuangnya dan hanya menginginkan anaknya saja.


"Lalu, bagaimana dengan anak-anak... kita?" Suara Sera terdengar tersekat, tetapi dia berusaha tegas demi mendapatkan kejelasan dari Xavier. "Apakah kau akan mengambil mereka dariku?"


Xavier mengerutkan keningnya dalam. "Dari mana kau mendapatkan ide itu di pikiranmu? Aku tak akan memisahkan seorang anak dari ibu kandungnya. Sera, aku akan menghadiahimu perceraian dan kebebasan yang kau mau, tetapi menyangkut anak kita nanti, aku tak bisa memberikan kebebasan sepenuhnya. Anak itu dilahirkan dalam sebuah pernikahan yang sah, dia akan menyandang namaku di belakang namanya dan dia juga mewarisi genetikku di aliran darahnya." Xavier menatap Sera dengan bersungguh-sungguh. "Aku memiliki tanggung jawab sebagai seorang ayah, baik secara nama maupun garis darah, karena itulah aku beriskeras menjagamu dan anak-anakmu di bawah naungan perlindunganku di masa depan nanti. Aku ingin supaya kau tidak menganggap itu sebagai kekangan bagi kebebasanmu. Kuharap kau mengerti bahwa aku sedang mempersiapkan segalanya supaya semua tetap berjalan baik dan aman bagi kalian ketika nanti aku sudah tak ada lagi."


Kalimat terakhir Xavier itu terasa janggal hingga Sera tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.


"Ketika nanti kau sudah tidak ada lagi? Apa maksudmu? Kau akan pergi kemana?" Benak Sera membisikkan firasat buruk bahwa Xavier sesungguhnya sedang membicarakan mengenai kematian. Tetapi, pikiran logis Sera langsung menyangkalnya.


Bukankah Xavier mengambil sel punca dari tali pusat bayi itu untuk menyembuhkan dirinya? Lelaki yang siap menjalani prosedur kesehatan guna menyelamatkan nyawanya tak mungkin mau menyambut kematiannya dengan sukarela, bukan?


Keduanya menoleh ke arah pintu dan langsung berhadapan dengan seorang perawat yang sepertinya memang dikirimkan khusus untuk menyampaikan pemberitahuan kepada mereka.


"Ruang USG sudah siap. Mari, silahkan ikuti saya."


***


"Apa yang kita perkirakan sebagai kantong kehamilan sudah tampak di sini." Dokter Amera menggerakkan cursornya melingkar pada warna putih bulat yang tampak kontras dengan kegelapan di layar. "Tetapi, sepertinya kita harus menunggu sampai usia kandungan delapan minggu untuk lebih memastikan." Dokter Amera memandang pasangan suami istri di depannya itu berganti-ganti sebelum kemudian mengucapkan penawaran dengan nada suara berhati-hati. "Atau jika ingin melihat lebih jelasnya, kita bisa melakukan USG dalam."


"USG dalam?" Sera mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Xavier dengan penuh rasa ingin tahu. "Itu yang seperti apa?" tanyanya lugu.


Saat ini Sera sedang berbaring di atas ranjang pemeriksaan, pakaian yang menutupi perutnya diangkat hingga terbuka dan dokter telah mengoleskan sejenis gel dingin di sana sebelum menempelkan alat USG itu di perutnya. Xavier sendiri sedang berdiri di sebelah Sera, di sisi dekat kepala perempuan itu, sementara matanya menatap lekat ke arah tampilan besar layar yang menampilkan citra dari pemindaian USG yang tervisualisasikan di sana.


"USG dalam ini sering disebut sebagai USG Transvaginal dimana kami akan menggunakan alat khusus untuk memeriksa masuk ke dalam. Jika pemeriksaan USG dalam dilakukan, alat ini akan masuk sampai ke dekat rahim sehingga gambaran yang terlihat dari citra pemindaiannya akan tervisualisasikan lebih jelas." Dokter Amera menjelaskan dengan nada terisirat, tak mau sampai membuat pasangan di depannya jadi canggung.


Mata Sera melebar ketika dia mampu mencerna penjelasan dokter perempuan itu, bibirnya ternganga, setengah tak percaya.


"Masuk ke rahim? J-jadi... masuk ke...." Suara Sera tersekat di tenggorokan, tak mampu mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Kengerian bercampur tidak percaya terpampang nyata pada ekspresi wajahnya. Lalu, pikirannya yang tak bisa diatur malahan segera membuat bayangan prosedur USG dalam itu tervisualisasi di ruang imajinasinya. Wajah Sera langsung berubah merah padam, antara malu luar biasa yang bercampur dengan rasa takut tak terkira.


Tanpa disangka, Xavier memilih mengambil alih dan menyelamatkan Sera. Lelaki itu meraih tangan Sera dan meremasnya lembut, lalu mengambil keputusan untuk mereka berdua dengan nada tegas.


"Menurut saya, kami tak perlu melakukan USG dalam untuk memastikan kehamilan istri saya, Dokter. Hasil test darah akan keluar beberapa saat lagi, jadi kami memilih bersabar sejenak dan menunggu," ucapnya tenang.


Dokter Amera mengerjapkan mata, tanpa bisa ditahan, matanya terpancang penuh kekaguman kepada ketampanan Xavier dan sikap tenangnya yang menghanyutkan. Sungguh beruntung perempuan hamil di depannya ini bisa memiliki suami yang bukan hanya sempurna dalam penampilan fisik, tetapi sepertinya juga memiliki pribadi dewasa yang memesona.

__ADS_1


Dua orang di depannya ini adalah klien penting yang direkomendasikan oleh Dokter Nathan kepadanya, dia tidak tahu pasti tetapi setahunya, Xavier Light adalah kakak dari Akram Night, pemilik rumah sakit ini. Dokter Amera sendiri tahu bahwa dia tak boleh bersikap sembarangan dalam menetapkan prosedur pemeriksaan.


"Baiklah." Dokter Amera berdehem, dia lalu mengangguk ke arah perawat di ruangan itu supaya membersihkan sisa gel di perut Sera karena prosedur USG sudah selesai. "Kalau begitu, saya akan meresepkan vitamin untuk istri Anda."


"Apakah hasil citra USG ini bisa dicetak? Biasanya pasien akan mendapatkannya, bukan?" Xavier tiba-tiba bertanya, membuat Sang Dokter yang hendak melangkah ke meja kerjanya dan menuliskan rasep menghentikan langkahnya sejenak dan menganggukkan kepala cepat.


"Ya. Jika Anda menginginkannya maka anda akan mendapatkan hasil cetak citra USG-nya, Tuan," jawabnya sambil menahan senyum. Sekali lagi dia memandang pasangan di depannya itu berganti-ganti dan langsung menyimpulkan dalam hati bahwa sang suami rupanya lebih antusias menyangkut kehamilan ini jika dibandingkan dengan sang istri


***


"Serafina Moon sepertinya sudah mengandung anak Xavier Light."


Suara Dimitri di sambungan telepon itu membuat Aaron yang tengah memegang gagang telepon sambil menatap ke luar jendela dengan pemandangan bersalju nan gelap muram di depannya itu mengetatkan gerahamnya seketika. Cengkeraman tangannya di ponselnya pun ikut mengetat tanpa dia sadari.


"Dari mana kau mengetahuinya?" Aaron mendesiskan kalimat pertanyaannya dengan penekanan di setiap patah kata yang diucapkannya, menahan emosinya yang mulai bergolak.


"Bisa dikatakan aku memiliki mata-mata yang mengawasi diam-diam dimanapun Xavier Light berada." Dimitri terkekeh di seberang sana, seolah tak menyadari suara Aaron yang berubah menjadi geraman. "Jadi, langkah apa yang akan kau ambil? Aku sudah bilang kepadamu, bukan? Serafina Moon berusaha mengandung dan memiliki anak demi menyelamatkan nyawa Xavier Light. Sekarang dia sudah berhasil dan dia akan memberikan sel punca dari plasenta bayinya untuk proses transplantasi sunsum tulang belakang demi menyelamatkan suaminya itu. Kupikir, jika memang kau ingin membalas dendam kepada mereka berdua, maka sekaranglah saatnya."


"Kau ingin aku bertindak sekarang? Dengan menyerang Serafina Moon?" Aaron mengerutkan kening, berusaha memastikan.


"Bukankah dengan begitu maka sekali tepuk, dua ekor lalat akan mati?" Dimitri menyahuti setengah bertanya. "Jika kau melukai Serafina dan terutama memastikan supaya bayinya itu tak terlahir ke dunia ini, sama saja dengan kau melenyapkan kesempatan Xavier Light untuk mendapatkan sel punca dari plasenta itu, bukan?"


Aaron termenung, dia tentu saja tahu kebenaran dari kalimat yang diucapkan oleh Dimitri itu, tetapi dia memutuskan untuk bersikap tenang dan tidak terbawa nafsu.


"Kekuatanku belumlah cukup besar, aku harus menperhitungkannya dulu," jawabnya kemudian sebelum kemudian memutuskan sambungan telepon.


Setelahnya, Aaron melemparkan ponselnya ke meja dan membanting tubuhnya ke atas kursi besar yang terletak di belakang meja kerjanya. Lelaki itu membungkukkan tubuh ke depan, menumpukan sikunya ke meja dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Sera hamil dengan lelaki itu. Sera mengandung anak Xavier Light. Dia sudah tahu bahwa Sera adalah perempuan jal*ang dan murahan yang dengan mudahnya bisa berkhianat tanpa tahu malu, tetapi dia sama sekali tak menyangka bahwa Sera akan tega mengkhianatinya sampai separah ini.


Selama ini Aaron berusaha menyangkal dengan menumbuhkan rasa benci tak terkira dan juga rasa jijik pada Sera. Tetapi sekarang, di titik lukanya yang paling dalam, Aaron tak akan menyangkal bahwa sandiwaranya yang berpura-pura menjadi orang terbaik dan menyelamatkan Sera demi mencuci otak perempuan itu agar merasa berhutang budi padanya, ternyata telah melibatkan hatinya. Dia tak akan membantah bahwa ada cinta di jiwanya yang bertumbuh tanpa bisa ditahan terhadap Serafina Moon.


Karena itulah, pengkhianatan ini terasa luar biasa sakit dan merobek-robek jiwanya sampai berhamburan. Orang yang dia kira telah terbentuk jiwanya menjadi sosok paling setia kepadanya, ternyata bisa mengkhianatinya semudah dan secepat itu.


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :

__ADS_1


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


__ADS_2