
“Meminta bantuan kepadaku?”
Elana mengerutkan kening, menatap terkejut ke arah Xavier. Sama sekali tak terbayangkan olehnya bahwa Xavier akan membutuhkan bantuannya. Lelaki itu sudah memiliki segalanya, bukan? Kenapa dia harus membutuhkan bantuan dari Elana? Kening Elana berkerut semakin dalam ketika dia sampai pada kesimpulan yang sangat mengerikan.
Apakah jangan-jangan, Xavier akan meminta bantuannya untuk mencelakakan Akram? Tetapi, Xavier bilang bahwa dia sangat menyayangi Akram sebagai adiknya, apakah… apakah Xavier berbohong kepadanya?
Xavier sendiri tampak mengamati perubahan demi perubahan di ekspresi wajah Elana dan senyum terkembang di wajahnya.
“Buang semua pikiran negatif dari kepalamu yang mungil itu, Lana. Aku tidak akan mencelakai Akram kalau itu yang kau pikirkan,” ujarnya tepat sasaran yang langsung membuat pipi Elana memerah. “Aku hanya ingin kau mempertimbangkan dengan sangat untuk menerima tawaranku,”
Elana mengerjapkan mata. “Tawaran tentang apa?” tanyanya kemudian dengan gugup.
Xavier mengamati Elana lekat-lekat, lalu berucap dengan ekspresi datar.
“Tawaran untuk menjadi asistenku, asisten pribadiku. Aku akan berkantor di perusahaan Akram mulai lusa, jika kau menerima, kau bisa mulai pada hari yang sama.”
“Tapi aku sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang asisten pribadi… apalagi dari orang sepertimu,” Elana menyahut dengan terkejut. Dia tentu masih ingat ketika Elios mengatakan bahwa Xavier sangatlah jenius hingga hampir bisa dibilang kemampuan otaknya bisa mengalahkan artificial intelegence sekalipun.
Bagaimana mungkin Xavier menginginkan Elana yang hanya lulusan sekolah menengah atas biasa dan tanpa pengalaman untuk menjadi asistennya?
“Itu bukan masalah, aku akan melatihmu dengan baik. Dengan pelatihan dariku, kau akan menjadi asisten dengan keahlian terbaik hanya dalam beberapa bulan, aku adalah mentor yang sangat ahli, kalau kau ingin tahu,” Xavier tampak percaya diri dan penuh keyakinan. Lelaki itu bahkan mengedipkan sebelah matanya seolah menggoda
.
Elana kembali menelan ludah kebingungan. Tawaran Xavier terdengar menggoda. Tetapi, Elana selama ini selalu berusaha untuk bersikap sesuai kemampuan dirinya sendiri. Dia tahu kemampuannya, karena itulah dia bersikeras menjadi seorang cleaning service ketika Akram memberikan pekerjaan baginya di perusahaannya. Elana juga tak ingin mendapatkan posisi tinggi karena koneksi, sebab dia tahu bahwa ada yang memiliki kemampuan di atasnya yang lebih pantas untuk menduduki posisi tersebut.
Mulut Elana terbuka untuk mengucap penolakan, tetapi Xavier rupanya sudah bisa membaca dan menebak ekspresi Elana yang hendak menolak mentah-mentah tawarannya. Karena itulah sebelum kata-kata penolakan itu meluncur dari bibir Elana, Xavier langsung mengeluarkan senjata terakhirnya yang dia tahu tak akan mampu ditolak oleh hati Elana yang lembut.
“Aku ingin berdamai dengan Akram,” ucap Xavier dengan nada sungguh-sungguh. “Dan kau adalah satu-satunya makhluk di dunia ini yang bisa menjadi penengah antara aku dan Akram. Jika tidak ada kau di antara kami, kau mungkin bisa membayangkan pertengkaran dan kerusakan yang terjadi akibat pertengkaran itu, apalagi posisi ruang kerjaku berada di sebelah ruang kerja Akram yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara kami berdua. Dengan adanya dirimu yang bekerja sebagai asistenku, kau akan selalu ada di antara kami,” Xavier mengawasi kekhawatiran Elana lalu menyambung perkataannya. “Tenang saja, kau akan duduk di sebelah meja kerja Elios, jadi kau tidak akan terkurung satu ruangan hanya berdua denganku,” ucapnya menenangkan.
***
***
“Lana menerima tawaranku,”
Begitu Akram yang diikuti beberapa pengawal pribadinya melangkah masuk ke ruang tamu Xavier, lelaki itu langsung menyambutnya dengan kalimat yang kental oleh nada kemenangan.
Akram sama sekali tidak menunjukkan reaksi di wajahnya, meskipun alisnya sedikit terangkat. Dia sudah menduga bahwa Elana pasti akan memberikan persetujuannya kepada Xavier. Lelaki di depannya ini sudah pasti memiliki keahlian kelas tinggi untuk memanipulasi orang lain supaya terpengaruh dan mengikuti apa yang dia mau.
Meskipun begitu, untuk kali ini Akram tidak akan mengganggu keputusan Elana. Perempuan itu dengan sukarela menyetujui, itu sudah bagus. Segalanya akan lebih mudah setelah ini.
“Bagus kalau kau tidak memaksanya. Dimana dia?” Akram menjawab sambil lalu, sengaja mengabaikan Xavier sementara matanya mencari ke belakang punggung lelaki itu.
Xavier tersenyum. “Para petugas medis sedang melakukan pemeriksaan medis kepadanya. Mereka mengambil darahnya untuk memastikan bahwa sisa racun itu sudah tidak ada sama sekali. Hasilnya akan keluar sebentar lagi. Jika hasilnya bagus, maka kau bisa tenang dan membawa Elana pulang.”
Akram menganggukkan kepala, instingnya yang tajam langsung memahami apa yang tersirat di mata Xavier.
“Masih ada lagi yang ingin kau bicarakan?” tanyanya dengan nada dingin, menebak dengan akurat.
Tatapan Xavier menajam. “Masih mengenai Lana. Aku ingin kau mengeluarkannya dari tempat tinggalmu. Beri dia apartemen sendiri, atau rumah sendiri, pokoknya yang terpisah dari tempat tinggalmu.”
“Lancangnya kau!” Akram langsung tersulut seketika, dia merangsek maju dan mencekal kerah baju Xavier. Tangannya yang sebelah bahkan sudah terkepal, siap memukul mulut beracun yang seolah diciptakan untuk memprovokasinya.
Xavier sendiri sama sekali tidak berkedip diserang seperti itu. Ekspresinya tampak datar ketika dia berusaha menjelaskan.
“Ini semua demi Lana. Aku tidak melakukannya untuk memprovokasimu. Apa kau masih perlu diingatkan, ketika kau mengumumkan pernikahan kalian nanti, jika kau tidak mengeluarkan Lana dari rumahmu, pers akan langsung menemukan bahwa kalian telah tinggal bersama. Apalagi jika nanti Lana hamil dan mereka menghitung-hitung bulan sampai anaknya lahir, dia akan menghadapi tuduhan sebagai wanita nakal yang menjebakmu dengan kehamilan agar kau bersedia menikahinya.” Xavier memperhatikan kilatan di mata Akram, lalu menyambung dengan cepat. “Meskipun kita sudah berpandangan modern, tetapi sebagian besar dari masyarakat di negara ini tentu masih memiliki nilai-nilai tradisional yang mereka pegang. Kau pikir apa pandangan mereka pada seorang perempuan yang tinggal bersama seorang laki-laki sebelum menikah, kehilangan keperawanannya dan bahkan mengandung terlebih dahulu sebelum dinikahi? Kita para lelaki biasanya akan selalu terlepas dari stigma negatif tersebut, tetapi para perempuanlah yang akan menanggung segala cibiran dan cemoohan, Lana akan dipandang rendah oleh mereka secara moralitas.”
Akram langsung tertegun, pegangan tangannya pada kerah baju Xavier terlepas seketika. Lalu seakan waktunya benar-benar tak tepat, suara langkah kaki terdengar dari lorong di belakang Xavier, membuat Akram langsung melepaskan pegangannya dari Xavier dan beranjak menjauh, berdiri kaku dan menunggu.
Tak lama kemudian, sosok Elana muncul masih dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh petugas medis yang bertugas. Ekspresi wajah Elana tampak cerah ketika melihat Akram dan Akram langsung bersyukur karena sepertinya perempuan itu tidak mendengar apa yang barusan dilontarkan oleh Xavier kepadanya.
“Akram,” ketika kursi roda Elana sudah berada di dekat Akram dan petugas medis itu bergerak menyerahkan selembar kertas hasil laboratorium ke tangan Xavier sebelum beranjak pergi, Elana mencoba berdiri dari duduknya. Sayangnya, kakinya yang sejak tadi hanya digunakan berbaring masih belum siap menyangga tubuhnya, terlalu lemas untuk dijejakkan secara tiba-tiba. Beruntung Akram langsung menangkap tubuh Elana, membawanya ke pelukan dan menggendongnya dengan cepat.
“Hasilnya bagus. Tidak ada sisa racun di darahnya,” Xavier menunjukkan kertas yang dibawanya ke arah Akram.
Akram membaca hasil itu dengan cepat, lalu menganggukkan kepalanya tipis.
__ADS_1
“Aku akan membawa Elana pulang,” sahutnya cepat sebelum kemudian membalikkan tubuh dan melangkah ke pintu keluar.
Saat sudah di ambang pintu, Akram tiba-tiba berhenti dan menolehkan kepala sedikit ke arah Xavier. “Sampai jumpa lusa. Jangan membuat masalah di perusahanku,” ucapnya tenang dengan nada mengancam tersirat yang membuat senyum Xavier langsung melebar.
***
***
“Aku mengatakan setuju ketika Xavier memintaku untuk menjadi asisten pribadinya. Itupun dengan syarat asal kau juga menyetujuinya… dan Xavier bilang kalau kau sudah setuju, apakah itu benar?”
Ketika mobil yang mereka kendarai melalu meninggalkan rumah Xavier, barulah Elana berani memulai pembicaraan. Ditatapnya wajah Akram yang datar dengan hati-hati, mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu, tetapi tak mampu menembusnya.
Akram hanya menganggukkan kepala tipis.
“Kau tidak mengatakan iya dengan terpaksa dan dia tidak menggunakan ancaman mengerikan untuk membujukmu, kan?” tanya Akram dengan nada menyelidik.
Elana langsung menggelengkan kepala. “Tidak… dia hanya bilang akan melatihku,” Elana menahan diri untuk mengungkapkan permintaan tolong Akram yang sebenarnya kepadanya. Akram tidak akan percaya kalau Xavier melakukan ini semua untuk berdamai dengannya. Yang ada, malahan Akram akan menuduh Xavier melakukan kebohongan dan mencoba memanipulasi Elana.
“Menurutku itu bagus untukmu, seraplah apapun yang diajarkan oleh Xavier kepadamu dengan baik. Dia memiliki banyak ilmu yang bisa kau pelajari,” Akram tersenyum lembut, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap pucuk kepala Elana. “Dan kau bisa datang kepadaku kapanpun kau mau,” sambungnya dengan nada penuh arti.
Pipi Elana langsung memerah. “Kau… sudah berjanji untuk tidak memanggilku ke ruang kerjamu di jam makan siang untuk… untuk…”
“Itu ketika kau masih menjadi seorang cleaning service yang bertugas di bawah sana yang akan menimbulkan kecurigaan kalau kau menghilang setiap jam makan siang untuk pergi menemuiku. Sekarang, kalau kau menjadi asisten Xavier, kau akan berada satu lantai denganku. Aku sudah memutuskan bahwa setiap jam makan siang harus kau habiskan bersama denganku,” tatapan Akram berubah sensual dan jari jemarinya yang tadinya mengusap kepala Elana bergerak turun, menyusuri pipi Elana dengan lembut, lalu mengusap bibir Elana yang tampak begitu menggoda di matanya.
Perlahan Akram menundukkan kepalanya, tak tahan oleh godaan bibir ranum merah yang pasti akan terasa begitu manis untuk dicecap itu. Akram menempelkan bibirnya ke bibir Elana, berbisik di sana dengan sengaja.
“Baru beberapa jam aku tak memelukmu, aku sudah rindu menyatu denganmu. Bagaimana bisa aku hidup terpisah jauh darimu?” erang Akram dengan nada misterius sebelum kemudian melumat bibir Elana tanpa ampun.
***
***
Ranjang itu sudah berantakan tak karuan akibat pergerakan mereka ketika bercinta tadi. Akram sendiri masih berusaha mengendalikan napasnya yang tersengal, dirinya berbaring di atas tubuh Elana, menggunakan lengannya untuk menjaga supaya tubuhnya yang besar tidak membebankan dirinya seluruhnya untuk menimpa perempuan itu.
Akram sungguh tidak bisa melepaskan Elana. Hanya perempuan inilah yang bisa membuat hati dan tubuhnya bergolak tak terkendali sampai begitu kuat. Dan hanya perempuan inilah yang terasa begitu tepat di pelukannya dan memuaskannya dengan begitu sempurna.
Perlahan Akram menggeserkan bibirnya untuk mengecup bagian dahi Elana yang lembab, membuat mata Elana yang terpejam terbuka sedikit.
“Kau baik-baik saja?” suara Akram berubah serak ketika melihat kilauan di mata bening Elana, ditambah lagi dengan senyumnya yang mewarnai bibirnya dengan begitu indah, membuat Akram tidak bisa menahan diri untuk tidak menghadiahkan kecupan kecil di sana.
Gairahnya terbangkitkan lagi dengan mudahnya, seolah dirinya adalah bubuk mesiu yang mudah terbakar dan Elana adalah dinamit yang mampu meledakkannya bahkan hanya dengan percikan kecil apinya yang tak disengaja.
Tetapi, Akram telah menghabiskan berjam-jam sebelumnya untuk melumat dan memuaskan dirinya atas tubuh Elana tanpa ampun. Meskipun perempuan itu tidak melawan atau menolaknya, Akram tahu bahwa Elana butuh beristirahat, apalagi perempuan itu baru benar-benar sembuh dari racun yang menyerang tubuhnya.
Menekan hasratnya yang menyiksa dan juga keegoisannya yang menggelegak serta mendorongnya ingin memiliki Elana lagi. Akram menggeser tubuhnya yang masih berada dekat di atas Elana dan duduk disamping ranjang. Diambilnya selimut yang teronggok di kaki ranjang, lalu diselimutkannya ke tubuh Elana, sebelum kemudian Akram bergerak menghadiahkan kecupan lembut di permukaan kulit pundak telanjang Elana yang menggoda.
“Beristirahatlah sebentar. Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Aku akan kembali lagi untuk memelukmu segera,” Akram berbisik perlahan di telinga Elana, lalu menegakkan tubuh dan berdiri di samping ranjang, mengawasi Elana.
Perempuan itu rupanya sudah setengah tertidur ketika Akram melepaskannya, tanpa perlawanan, langsung membalikkan tubuh dengan posisi meringkuk dan lengan tertekuk untuk membantali kepalanya.Ekspresi Akram melembut ketika memandang wanitanya yang berbaring di atas ranjangnya. Setelahnya, dia mengubur hasratnya dalam-dalam dan mendorong tubuhnya untuk membalikkan tubuh dan melangkah keluar dari kamar itu.
Ada hal-hal yang harus diselesaikannya dengan segera menyangkut perkataan Xavier tadi.
***
***
“Aku ingin kau menyiapkan rumah itu dengan sempurna dan bisa ditinggali esok hari.”
Akram memberikan serentetan perintah kepada Elios yang berada di seberang sana.
“Pastikan seluruh pasukan pengaman menjaga secara ketat di perimeter lingkar terdalam sehingga tidak ada satupun penjahat yang bisa mendekati area rumah itu. Lakukan pengaturan jadwal jaga yang efektif,” Akram menekankan poin-poin penting menyangkut keamanan Elana, lalu menyambung hal penting lain yang baru diingatnya. “Ambil beberapa pelayan pribadi dari rumah utama, jadwalkan dia untuk datang di pagi hari dan menyiapkan segala urusan Elana, membersihkan rumah, menyediakan hidangan untuk makan malam, lalu pergi sebelum Elana pulang dari pekerjaannya. Aku ingin semua siap esok malam ketika aku membawa Elana untuk melihat rumah itu,”
“Saya akan menyiapkannya, Tuan.”
Elios yang dibangunkan pada dini hari nang dingin dalam kesepiannya tampak dengan sigap mencatat perintah mendadak yang dibuat oleh Akram secara mengejutkan.Dia memang dilatih untuk tidak membantah apapun perkataan tuannya. Karena itulah meskipun terkejut luar biasa, Elios sama sekali tidak mempertanyakan perintah Akram kepadanya.
__ADS_1
Tetapi… semua itu sungguh mengejutkan luar biasa…. Tuan Akram akan melepaskan Elana untuk tinggal sendiri? Semalam ketika tuan Akramnya menginformasikan bahwa Elana secara resmi akan menjadi asisten pribadi Xavier Night, Elios sudah dihantam oleh keterkejutan yang luar biasa. Kali ini…. Keputusan Akram di pagi buta malahan memberikan imbas syok yang berkali-kali lipat dari sebelumnya…. Ada angin apa yang membuat Tuannya itu bisa mengambil keputusan yang sangat drastis secara tiba-tiba?
“Seluruh dokumen identitas baru Elana. Aku juga ingin itu semua sudah siap esok hari tanpa satupun celah di dalamnya.” Akram bersuara kembali di telepon dan membangunkan Elios dari segala lamunannya.
Dengan cepat, Elios pun menyahutkan pengertiannya.“Saya akan memastikannya segera, Tuan.”
“Dan siapkan juga dokumen-dokumen pendukung untuk persyaratan pengajuan pernikahan,”
Kalimat terakhir Akram itu langsung memukul Elios di ulu hati, membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk dengan pedih dan keras seketika. Elios menjauhkan ponsel di tangannya, menatapnya dengan tak percaya, sebelum kemudian menempelkan lagi ponsel itu di telinganya ketika mendengar Akram memanggilnya.
“Apa yang terjadi, kau tidak apa-apa?” tanya Akram cepat.
Elios menggelengkan kepalanya segera sebagai jawaban. Ketika menyadari bahwa Tuannya Akram tidak bisa melihat wajahnya ketika mereka sedang berbicara melalui sambungan telepon, Elios langsung menyahut dengan gugup.
“Saya tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit batuk. Saya… saya akan menyiapkan semuanya, tuan!” dengan gugup Elios menyahut, menyembunyikan keterkejutannya yang luar biasa.
Sepuluh tahun lebih Elios mengikuti Akram Night sebagai asistennya yang setia. Dan sepanjang tahun berjalan itu, dia semakin mengenal hati Akram Night yang kelam dan layu hingga menghitam hingga dia meyakini bahwa musim semi tidak akan mungkin menyelimuti permukaan hati Akram Night yang sudah mati hingga ke akar-akarnya.
Ternyata di salah. Elanalah yang ternyata mampu menjadi musim semi di hati Akram Night. Sungguh, tidak disangka seorang perempuan biasa yang sederhana itulah yang akhirnya berhasil membuat Akram Night bertekuk lutut di bawah kakinya.
***
***
Ketika melangkah memasuki kamarnya yang temaram, mata Akram langsung bersirobok dengan permukaan punggung halus Elana yang telanjang.
Selimut yang membungkus tubuh Elana sudah melorot akibat gerakannya semasa tidur, membuat mata Akram dengan bebas bisa menikmati kehalusan permukaan kulit tubuh Elana yang tak tertutup suatu apapun.
Dengan langkah perlahan nyaris tak terdengar, Akram bergerak untuk duduk di samping ranjang. Matanya memindai tubuh perempuan itu yang masih memunggunginya. Tubuh Elana bergerak naik turun seiring napasnya yang teratur, memastikan bahwa perempuan itu saat ini sedang tertidur lelap.
Tanpa bisa menahan diri, tangan Akram bergerak menyusuri lekuk tulang punggung Elana, membuat tubuh Elana begidik sedikit, memberikan reaksi atas sentuhannya.
Senyum sensual langsung tersungging di bibir Akram, pemandangan kulit telanjang Elana menggodanya, pun dengan kelembutan yang terasa jelas di ujung jarinya. Akram tidak bisa menahan diri lagi, dia melepaskan jubah tidurnya dan menyusup berbaring di belakang tubuh Elana, merapatkan kulit tubuhnya yang telanjang ke tubuh Elana, sementara tangannya bergerak menggoda, menyusuri lekuk di bawah lengan perempuan itu, sebelum kemudian bergerak ke sisi pinggulnya dan mengusap di sana dengan rabaan sensual.
Sentuhannya sudah tentu membangunkan Elana dari tidur lelapnya. Perempuan itu mengerjapkan mata, masih setengah tidur dan terkesiap ketika merasakan napas panas Akram di sisi belakang kepalanya dan gigitan sensual Akram di telinganya.
“Aku ingin bercinta lagi,” Akram berbisik parau, menghadiahkan kecupan lembut di leher belakang dan pundak Elana.
Elana menggelinjang, berusaha menahan lelaki itu tapi tak mampu.
“Kau… kau kan sudah melakukannya sejak tadi… apakah kau tidak lelah?” Elana berucap perlahan dengan pipi merah padam karena malu ketika sentuhan Akram berubah menjadi sangat intim, lelaki itu bahkan sudah melempar selimut yang menutup tubuh telanjangnya entah kemana.
“Itu tidak cukup. Tidak akan pernah cukup… jika bersamamu,” dengan gerakan lembut, Akram mendorong tubuh Elana supaya terlentang, lelaki itu dengan cepat menempatkan dirinya di atas tubuh Elana, dengan pas sesuai yang seharusnya, lalu ketika merasakan bahwa perempuan itu sudah siap menerimanya, Akram menyatukan dirinya, bergerak kembali untuk membawa mereka berdua menuju puncak kenikmatan.
\=====
\=====
\=====
Halo, mulai minggu ini setelah benar-benar sembuh dari sakit, author akan berusaha memenuhi target untuk 6 part setiap minggunya ya.
Minggu ini dengan part yang baru kalian baca berarti sudah 4 part yang baru terpenuhi. Sorry, author harus bagi waktu dengan pekerjaan author di real life yang juga membutuhkan perhatian.
Dua part selanjutnya akan author posting besok hari Sabtu subuh kira2 jam lima pagi.
Untuk lolos reviewnya, author tidak tahu kapan. Doakan seperti sabtu kemarin dimana hari sabtu pun tetap ada lolosan review dan episode terbaru bisa keluar ya.
Jika tidak/ jika sabtu minggu admin editor mangatoonnya libur dan tidak melakukan lolosan review, mari kita berharap bisa dikeluarkan hari senin ya.
Salam hangat, AY
\===
__ADS_1