Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 92 : Menahan Rindu


__ADS_3


Dalam perjalanan, Akram lebih banyak diam, membiarkan Elana beberapa kali melirik lelaki itu dengan penasaran. Elios sendiri yang menyetir di bangku depan memilih untuk tak banyak bersuara, tatapan mengerikan yang dilemparkan oleh Akram kepadanya tadi sudah cukup untuk membuatnya bungkam dan memberikan kesempatan bagi tuannya untuk menikmati waktu pribadinya bersama Elana.


Elios juga sibuk mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi memuji Elana dengan tulus di depan Akram. Sudah jelas kalau tuannya ini menguarkan aura cemburu mengerikan ketika kekasihnya dipuji oleh lelaki lain di depan matanya. Bahkan Elios yang merupakan anak buah Akram yang paling setia pun bukanlah sebuah pengecualian.


"Kita akan pergi ke rumah siapa?" Elana tiba-tiba menyadari bahwa mobil melaju semakin dekat dengan jalan menuju kantor pusat tempat gedung perusahaan Akram berada. Tetapi, ketika di perempatan terakhir, mobil yang mereka kendarai berbelok arah dan masuk ke kawasan perumahan dengan penjagaan ketat berpagar tinggi di area depannya.


Akram melirik sedikit ke arah Elana, bibirnya tak bisa menahan senyum ketika menemukan betapa penasarannya perempuan itu.


"Kau akan tahu nanti," rupanya Akram masih ingin berteka teki. "Kita akan sampai beberapa saat lagi."


Menyadari bahwa Akram tidak berniat memberikan jawaban kepadanya untuk saat ini, Elana akhirnya memilih untuk bersabar, diam dan menunggu.


Mobil yang mereka kendarai akhirnya berbelok ke jalur khusus yang terlindung pepohonan rindang nan sejuk. Elana merasakan mobil itu memelan, lalu berhenti di depan sebuah rumah mungil elegan yang dipenuhi nuansa putih mengagumkan.


Rumah itu terletak di ujung jalan, sedikit terpisah dari yang lain. Di bagian depan jalan yang mengarah ke rumah ini, Elana melihat beberapa petugas keamanan tampak beriaga, membuat suasana rumah yang tersendiri ini terkesan begitu aman dan tak menakutkan sama sekali.


Rumah itu sendiri tidak terkesan besar dan megah layaknya istana seperti rumah-rumah lain yang mereka lewati ketika memasuki kompleks perumahan mewah ini. Ukurannya kecil, mungkin hanya seratus meter persegi, tetapi dikelilingi oleh halaman rumput berpagar pepohonan rindang yang sangat luas, berwarna hijau indah dan dihiasi tanaman bunga di berbagai sisi yang tampak berwarna-warni dan mekar menakjubkan di bawah terpaan cahaya matahari yang berkilauan.


Akram bergerak turun dari mobil, lalu lelaki itu mengulurkan tangannya dan mengajak Elana turun mengikutinya.


Mereka kemudian berdiri bersisian di halaman rumah tersebut, menatap keindahan rumah putih dengan struktur bangunan khas eropa abad pertengahan tersebut di depan mata mereka.


Akram mengeratkan pegangannya ke tangan Elana yang digandengnya sejak tadi, meremasnya lembut untuk membuat Elana mengalihkan pandangan dari keterpesonaannya terhadap rumah itu dan kembali menatapnya.


"Selamat datang di rumahmu," ucap Akram dengan nada suara menggoda.


Mata Elana melebar seketika, dipenuhi ketidakpercayaan yang nyata.


"Ru... rumahku?" serunya kaget, hampir saja terloncat mundur ke belakang kalau saja Akram tidak sedang menahan tangannya.


"Ya, rumahmu. Rumah milikmu sendiri. Elios sudah membuatkan identitas yang sepenuhnya baru untukmu. Dan rumah ini juga sudah diatasnamakan dengan namamu. Mulai sekarang kau akan tinggal di sini," suara Akram terdengar serius dan tegas.


Elana masih menatap Akram dengan kebingungan nyata.


"Jadi... inikah maksudnya kau akan membebaskanku?" tanyanya kemudian dengan nada berhati-hati.


Akram menganggukkan kepala. "Aku ingin kita memulai segalanya dari awal dengan benar untuk kali ini. Kau sebagai Elana dan aku sebagai Akram, dua manusia yang tak sengaja bersimpangan jalan satu sama lain, lalu terikat takdir secara sukarela. Aku ingin membuat kenangan baru untuk menggantikan semua kenangan buruk yang pernah kau lalui karena perbuatanku," Akram mengambil tangan Elana lalu mengecupnya lembut penuh perasaan. "Mulai sekarang aku akan mengejarmu dengan cara yang sepantasnya. Bukan dengan pemaksaan, tapi aku akan mencoba mengambil hatimu layaknya yang dilakukan seorang gentleman yang mencoba mengambil hati seorang wanita dengan sabar, hingga wanita itu akhirnya bersedia menjadi miliknya, menjadi pengantinnya."


Keterkejutan di wajah Elana yang belum sirna, langsung tergurat lagi memenuhi dirinya, membuatnya ternganga tanpa bisa ditahan?


"Pe... pengantinmu?" Elana terbata, hanya bisa mengeluarkan satu patah kata karena pita suaranya seolah dipelintir dan hanya bisa mengeluarkan suara tercekik dari batang tenggorokannya.


"Satu bulan," Akram menatap Elana dengan tatapan serius yang menusuk dalam. "Berikan aku waktu satu bulan untuk mengejarmu dan membuatmu jatuh cinta kepadaku dengan cara yang tidak dipaksakan. Aku akan membebaskanmu selama satu bulan untuk jatuh cinta kepadaku. Dan ketika penghujung waktu itu tiba, aku akan memgambilmu kembali ke dalam pelukku, memasangkan cincin bertulis namaku di jarimu dan tak akan melepaskanmu lagi," Akram tiba-tiba menyelipkan sesuatu yang dingin dan menyejukkan di jemari Elana, ketika Elana menunduk serta melihat jarinya, dia langsung mendongak kembali, menatap Akram dengan tatapan tak percaya berlumur kebingungan.


Sebuah cincin berlian mungil yang tampak sederhana tetapi luar biasa indah dengan kilauannya, telah tersemat di jari manis Elana. Akram rupanya telah mempelajari Elana dengan cermat hingga tahu bahwa yang diinginkan oleh Elana bukanlah cincin dengan berlian besar mencolok yang luar biasa mahalnya, melainkan sebentuk cincin kecil yang pas di jari dan memiliki makna yang beratus kali lebih berharga daripada nilai berlian itu sendiri. Dan bukan hanya itu, Akram rupanya telah berhasil menebak ukuran jari Elana dengan tepat sehingga cincin itu tampak begitu pas terpasang di sana, seolah-olah memang diciptakan untuk mengikat jari Elana seorang.


"Cincin ini tiada duanya di dunia dulunya dipesankan oleh ayahku khusus untuk melamar ibuku. Cincin ini adalah cincin pertunangan milik Marlene Night yang diwariskannya kepadaku. Ibuku menyukai kesederhanaan, dan cincin ini baginya adalah perlambang cinta yang tulus dari ayahku kepadanya, bukan sebentuk cincin yang menggambarkan status kekayaan dari lelaki pemberi cincin. Ibuku bilang aku harus memberikannya kepada wanita yang pantas menerimanya. Aku telah menyesuaikan ukurannya supaya pas dengan ukuran jari jemarimu yang mungil," Akram membawa kembali tangan Elana ke bibirnya, dan mengecup lembut tepat di cincin yang disematkannya.


Mata Akram kemudian menatap tajam ke arah Elana, berpadu dengan sinar kelembutan yang berpendar, menyelip di sana.


"Ini adalah cincin pertunangan dariku untuk mengikatmu sehingga tidak ada lelaki lain yang bisa mendekati apalagi menyentuhmu. Ini adalah tanda kepemilikanku yang menyatakan, bahwa kau akan menjadi istriku... kuharap setelah satu bulan berlalu nanti, kau akan memberiku jawaban pasti, bahwa kau akan bersedia menjadi istriku."


Meskipun Akram bersikap lembut seolah memberikan Elana kebebasan, terdengar jelas dalam nada suaranya yang arogan, bahwa lelaki itu sama sekali tidak berniat untuk melepaskan Elana sepenuhnya, bahkan jika pada keputusan akhirnya nanti, Elana ternyata ingin menolak menikahinya.


Hal itulah yang menggelitik hati Elana, membuatnya tak bisa menahan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Jika sebulan nanti... ternyata aku tidak ingin menikahimu dan....dan aku lebih memilih untuk melepaskan diri darimu...apa yang akan kau lakukan?"


Ekspresi Akram langsung menggelap hingga nyaris mengerikan ketika mendengar kalimat Elana itu. Elana bahkan bisa melihat bagaimana geraham Akram menegang dan berkedut seolah lelaki itu sedang menahan gejolak emosinya.


"Itu tak akan terjadi," geram Akram kemudian, "Aku tidak melihat ada kemungkinan lain selain kau menerima lamaranku dan menikah denganku," nada suara Akram semakin dipenuhi kearoganan angkuh yang kental, seolah-olah lelaki itu akan menggilasnya kalau sampai Elana berani melarikan diri darinya.


Tetapi, ketika Akram melihat wajah Elana yang ekspresinya tak dapat dia tebak, lelaki itu langsung melembutkan dirinya, tidak menyembunyikan ketakutannya dan segera membawa perempuan itu ke dalam pelukannya, sementara Akram menenggelamkan wajahnya di kelembutan rambut Elana yang harum.


"Jangan menolakku Elana," Akram berucap dengan suara sendu bercampur permohonan. "Aku tidak ingin memaksakan kehendakku kepadamu lagi. Karena itu... janganlah menolakku!" nada suara Akram dipenuhi ancaman, tetapi entah kenapa Elana mendengar alunan penuh permohonan tak berdaya di sana.


Elana melingkarkan tangannya di punggung Akram, lalu balas memeluk laki-laki itu dengan erat. Tak ada kata terucap dari bibirnya, tetapi gerakannya sudah menunjukkan isyarat penerimaan yang mudah dipahami.


Satu bulan. Dalam satu bulan dia akan memberi kesempatan kepada Akram untuk memenangkan hatinya. Jika memang lelaki itu pantas mendapatkan hatinya, maka Elana akan berusaha sekuat tenaga untuk belakar mencintai Akram sepenuh hati.


***



***


"Elios akan datang kembali menjemputmu?" Elana masih merebahkan kepalanya di atas pangkuan Akram, mendongakkan kepala untuk menatap lelaki itu yang menunduk membalas pandangan matanya. Dia baru terbangun dan membuka mata ketika menyadari bahwa dia telah tertidur begitu lama hingga sekarang, kegelapan telah mulai merayapi langit, tampak jelas dari balik tirai jendela yang tertembus bayangan kegelapan dari luar rumah.


Akram telah meminta Elios meninggalkan mereka, lalu datang menjemput kembali di malam hari. Setelah Elios pergi tadi, Akram menghabiskan sepanjang pagi menjelang siang untuk menunjukkan pada Elana setiap bagian dari seluruh sisi rumah ini tanpa melewatkan satu titikpun.


Rumah mungil ini hanya memiliki satu lantai dan tak bertingkat, seolah-olah Akram sengaja menghindarkan keberadaan tangga bagi Elana yang ceroboh. Terdapat ruang tamu kecil yang menyatu dengan sofa besar untuk bersantai di bagian tengah rumah, ruang itu pun langsung menyambung dengan dapur luas yang sangat cantik. Keseluruhan desain dan perabotan di dalam rumah ini, telah diatur dengan nuansa putih, pink, dan warna pastel lain yang sangat feminim.


Di dalam rumah ini terdapat dua kamar yang salah satu kamarnya telah diatur sebagai kamar Elana. Di dalam kamar itu terdapat ranjang besar yang tertutup sprei dan bedcover warna peach sedikit krem, sekali lagi seakan disengaja untuk menonjolkan sisi feminim penghuninya.


Bukan hanya itu, Akram juga telah menyiapkan segalanya secara mendetail. Lemari-lemari pakaian yang ada di kamar itu telah dipenuhi pakaian untuk berbagai keperluan yang diatur dengan rapi dan terpisah, ada pakaian santai, ada pakaian untuk bekerja, bahkan gaun tidur dan pakaian dalam, semua sudah tertata rapi di sana, pas dengan ukuran tubuh Elana tanpa meleset sama sekali.


Yang membuat Elana senang adalah, Akram tak lupa menempatkan rak buku besar di sudut kamar, lengkap dengan buku-buku berbagai genre memenuhi setiap bagiannya. Lelaki itu ternyata masih ingat betapa Elana sangat suka membaca dan menghabiskan waktu di perpustakaannya ketika dikurung di pulau Hijau di masa lampau.


Akram bilang akan ada koki dan pelayan pribadi yang datang setiap pagi untuk menyiapkan sarapan dan segala keperluan Elana sebelum berangkat kerja, pun dengan supir pribadi yang akan selalu menjemput Elana bekerja tepat waktu.


Koki itu akan menyiapkan sarapan dan setelah Elana pergi bekerja, koki tersebut akan menyiapkan makan malam yang bisa dipanaskan, sehingga Elana tak akan kelaparan ketika tiba dari tempat kerja di malam hari. Sementara itu, pelayan pribadi akan membersihkan rumah serta mengurus segala keperluan Elana seperti mencuci pakaian dan piring kotor, merapihkan rumah, mengganti gorden dan sprei serta berbagai pekerjaan berbersih lainnya.


Tentu saja Elana sudah berusaha menolak segala tawaran yang dirasanya terlalu berlebihan baginya itu. Tetapi, Akram bersikeras mengadakan peraturan itu, dan tetap bergeming ketika Elana berusaha menggunakan berbagai macam alasan untuk membantahnya.


Perkataan bahwa Elana mampu mandiri dan mengurus hidupnya sendirian dengan baik karena dia memang terbiasa sebatang kara, sama sekali tak digubris oleh Akram. Lelaki itu bahkan mengisyaratkan bahwa Elana mungkin akan merasa sakit dan butuh bantuan di masa depan sehingga kehadiran orang-orang untuk melayaninya.


Pada akhirnya Elana menyerah dan memilih mengikuti pengaturan dari Akram untuk menghindari perdebatan tanpa henti.


Ketika hari sudah beranjak siang, Akram kemudian memesan makan siang untuk mereka makan bersama. Setelahnya, Akram mengatakan akan mengurus berapa pekerjaan sambil menepuk pangkuannya, meminta Elana membaringkan kepala dan beristirahat di sana.


Elana tidak menolak, hingga sepanjang sore itu, Elana menghabkab waktunya berbaring dengan kepala di pangkuan Akram sementara tubuhnya meringkuk di atas sofa besar tengah ruangan tersebut. Akram sendiri menggerakkan tangannya dengan lembut dan konstan untuk mengusap kepala Elana, sementara dia sibuk menelepon untuk urusan pekerjaan di sisi yang lainnya.


Alunan suara Akram yang sedang menelepon dengan suara dalam dan bernuansa tegas itu seakan menjadi musik pengantar tidur yang menyenangkan bagi Elana, itu masih ditambah dengan belaian di kepalanya, hingga keduanya menjadi kombinasi kuat yang mendatangkan kantuk tak tertahankan pada dirinya. Elana akhirnya memejamkan mata dan tenggelam dalam lelap tanpa bisa melawan dengan kepala rebah di pangkuan Akram.


Ketika Elana terbangun, dia mendapati Akram tengah menatapnya dan lelaki itu lalu bilang bahwa Elios akan datang sebentar lagi untuk menjemputnya. Ketika Elana memastikan kembali mengenai kedatangan Elios, Akram menganggukkan kepala, memasang senyum ironi di wajahnya.


"Aku ingin menuliskan kembali kisah kita dari awal. Jadi, meskipun berat, aku akan membuat segala sesuatunya selayaknya sebuah hubungan yang wajar antara dua pasangan yang sedang berusaha menumbuhkan rasa cinta dan belajar untuk menyatukan perasaan. Jadi... tidak akan ada bercinta di antara kita. Untuk menghindari itu, aku tidak akan menginap di sini."


Mata Elana langsung melebar dipenuhi ketidakpercayaan, perempuan itu bahkan langsung duduk menghadap ke arah Akram dengan tatapan tak percaya, memandang Akram seolah-olah lelaki itu sedang sakit.


"Tidak akan ada bercinta?" ulang Elana ragu, tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Akram terkekeh, tangannya bergerak mengusap rambut Elana dengan jengkel.

__ADS_1


"Ya. Tidak akan ada bercinta. Kita akan memulai tahap awal seolah perkenalan, mengikat hatimu pelan-pelan dan bukan tubuhmu. Kenapa kau tampak begitu terkejut? Apakah kau pikir aku tak bisa mencintai dengan wajar tanpa melibatkan hubungan seksual di dalamnya?"


Pipi Elana merah padam mendengar pertanyaan Akram tersebut, meskipun begitu, dia tetap berusaha menjawab dengan suara terbata.


"Bukan... bukan begitu.... hanya saja... k..kau..."


"Aku adalah seorang maniak seks di matamu, aku mengerti itu," Akram menyimpulkan cepa, tersenyum dengan bijaksana, tangannya lalu bergerak menangkup pipi Elana dengan kedua tangannya. "Aku akan mengubah pandanganmu terhadapku. Aku akan menunjukkan bahwa aku bisa mencintai tanpa harus bersetubuh...." mata Akram menyusuri wajah Elana dan berlabuh di bibirnya, kobaran gairah langsung menyala di mata itu dan Akram mengerang seolah kewalahan. "Tapi sepertinya pengaturan itu baru akan efektif...mulai besok," putusnya pelan, akhirnya menyerah kalah dan memilih tenggelam pada hasrat.


Rona merah langsung memenuhi wajah Elana kembali.


"Kau tidak bisa melakukan itu. Elios akan datang sebentar lagi," ujarnya perlahan, mencoba mengingatkan Akram pada situasi.


Tetapi Akram malah menyeringai, lelaki itu menarik Elana supaya duduk di atas pangkuannya, agar perempuan itu bisa merasakan bukti gairahnya yang bergolak penuh hasrat. Bibirnya bergerak perlahan menyusuri bibir Elana, menghadiahkan kecupan-kecupan kecil menggoda di sana.


"Masih ada waktu, sebelum dia datang," Akram menggigit bibir Elana dengan penuh hasrat. "Lagipula, siapa yang bilang kalau aku tidak bisa bermain cepat? Aku bisa bercinta dengan cepat dan tetap sama nikmatnya," sambung Akram kemudian dengan nada sensual yang disengaja, lalu merengkuh Elana ke dalam pelukan dan ciuman penuh nafsu, menenggelamkan perempuan itu ke dalam hasratnya yang tak bertepi.


***



***


Setelah membuat Elios menunggu hampir dua jam di dalam mobil, Akram akhirnya tampak melangkah keluar dari rumah mungil itu.


Begitu melihat Akram datang, Elios langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya. Tanpa suara, Akram melangkah memasuki mobil dan tetap diam ketika Elios sudah duduk di belakang kemudi.


Sikap diam Akram membuat Elios ragu, dia akhirnya membuka mulut dan bertanya dengan nada berhati-hati.


"Apakah kita pergi sekarang?" tanyanya perlahan.


Akram menggelengkan kepala. "Aku ingin menunggu sebentar," tatapan Akram masih terpaku pada kaca jendela rumah mungil yang tertutup itu, cahaya yang berpendar di dalam dari lampu yang menyala menunjukkan bahwa penghuninya masih terjaga.


"Situasi di sekeling rumah ini sudah pasti aman," Elios berucap perlahan seolah mengerti apa yang sedang berkecamuk di benak tuannya. "Seluruh perimeter keamanan di lingkar dalam area sekitar rumah ini sudah dijaga ketat tanpa kecuali," sambungnya cepat.


Akram menganggukkan kepalanya tipis sebagai tanggapan. Mata lelaki itu masih terus menatap jendela rumah Elana. Mereka berdua terus menunggu beberapa lama di dalam mobil di tengah nuansa hening tanpa kata hingga akhirnya cahaya lampu yang menembus jendela rumah itu itu dipadamkan.


Akram menghela napas, lalu memberi isyarat pada Elios untuk menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.


Elios sendiri tidak segera menjalankan mobilnya, lelaki itu malah menoleh ke arah Akram dan menatap ragu.


"Anda yakin akan meninggalkan Nona Elana tidur sendiri?" Elios berani bertanya karena melihat ekspresi tersiksa luar biasa yang melumuri wajah Akram saat ini.


Sekali lagi Akram menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Elios, bibirnya sendiri tampak menipis menahan siksa.


Anggukan Akram membuat Elios tidak mengucapkan pertanyaan apapun lagi, lelaki itu kemudian dengan patuh menyalakan mobil dan perlahan menjalankan mobil untuk meninggalkan tempat itu.


Ketika mobil itu melaju melewati gerbang terluar perumahan mewah tersebut, Akram menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan mata.


Dia ingin membuat Elana merindukannya. Karena dengan merindukannya, maka perempuan itu akan menyadari perasaannya kepada Akram dan mungkin mencintainya. Akram sungguh putus asa ingin dicintai oleh Elana. Dan untuk mendapatkan itu, dia rela harus mengalami malam kesepian yang menyiksa jiwa dan raganya sampai beberapa waktu ke depan.


***



***


__ADS_1


***



__ADS_2