Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 12 : Memuaskan Dahaga


__ADS_3


"In that moment, he need to counsume her, to fill her, to mark her as his."


 


Akram berbaring bersisian dengan perempuan itu sementara matanya menatap ke arah langit-langit kamar yang tinggi. Perempuan itu tidak berkata apapun sepanjang Akram bersamanya tadi, beberapa kali Elana bertahan seolah hendak melawan, tetapi tubuhnya yang lemah akhirnya tak berdaya di bawah kekuatan Akram, berbaring dengan kepala berpaling dan mata terpejam seolah ingin mimpi buruk yang dialaminya lekas berakhir.


Mimpi buruk?


Akram menggertakkan giginya tanpa sadar, membuat gerahamnya mengeras dan ekspresinya tampak menakutkan. Tidak pernah ada satu perempuan pun yang berani menganggapnya sebagai sebuah mimpi buruk sebelumnya. Wanita-wanita kelas tinggi yang mengenalnya selama ini, begitu memujanya, ingin disentuh oleh dirinya hingga rela merendahkan diri menyembah di bawah kakinya, mencoba merayunya dengan menampilkan seluruh kecantikan dan keindahan fisik mereka kepada Akram tanpa tahu malu.


Tetapi sudah tentu Akram hanya menganggap mereka sambil lalu. Wanita-wanita cantik yang pernah bersamanya, semuanya hanyalah dia gunakan untuk memuaskan kebutuhan fisik dan sama sekali tidak pernah menyentuh hatinya. Bahkan Akram kadang tidak bisa mengingat nama-nama dan wajah mereka.


Tetapi yang ini berberda.


Akram melirik sejenak ke arah Elana ketika perempuan itu mencoba menggeser tubuhnya dengan tidak nyaman di atas ranjang besar yang mereka bagi bersama. Elena berusaha bergerak sejauh mungkin dari dirinya, menggulingkan tubuhnya sampai ke sisi ranjang terjauh yang berlawanan lalu berbaring miring memunggunginya. Seolah-olah, berada seranjang, berdekatan dengan Akram sama sekali tak tertahankan oleh jiwanya.


Akram mengerutkan kening. Sekali lagi merasakan sengatan rasa jengkel yang merayapi hatinya. Kehadiran Elana dalam kehidupannya terasa begitu berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya, dan Akram menyadari bahwa dia menaruh perhatian lebih kepada perempuan ingusan biasa dari golongan lemah yang seharusnya tidak pantas untuk menerima perhatian sekecil apapun darinya.


Mungkin karena perlakuan Elana kepadanya sangat berkebalikan dengan apa yang dilakukan oleh semua perempuan lain terhadapnya. Mungkin karena Elana menolaknya, membencinya, tidak mau menerima sentuhannya dengan sukarela dan tidak memujanya, sesuatu yang tidak pernah dirasakan oleh Akram sebelumnya.


Dan obsesi serta hasrat tak berkesudahannya terhadap Elana.... Akram sendiri bahkan tidak mampu menjelas keinginannya yang menggebu terhadap Elana, seolah perempuan itu membuatnya tergila-gila.


Mata Akram melirik ke arah jendela memanjang yang terpasang tinggi dengan bingkai hitam dan hiasan kaca mozaik di bagian atasnya. Jendela itu adalah satu-satunya akses yang memberikan tampilan pemandangan luar di lantai tiga rumah ini yang sepenuhnya digunakan sebagai ruang pribadi Akram. Jendela itu terbuat dari kaca anti peluru raksasa yang sangat tebal, tertutup rapat sehingga mampu menampilkan pemandangan pergantian langit dari waktu ke waktu. Kaca jendela itu dirakit dengan teknologi tinggi, selain mampu melindungi pemandangan dari dalam kamar sehingga tidak bisa dilihat menembus dari luar, jendela kaca itu mampu menggelap di kala terang dan berubah menjadi jernih bening di kala malam hingga Akram bisa melihat pemandangan bintang yang tergelar berpendar di langit hitam.

__ADS_1


Dan saat ini, pemandangan langit hitamlah yang membentang di mata Akram, menunjukkan bahwa hari sudah beranjak malam dan mungkin saja dini harilah yang sudah datang menjelang.


Kening Akram berkerut ketika menatap Elana yang hendak jatuh tertidur dengan tubuh basah berkeringat sementara pendingin ruangan menyala maksimal di tempat tidur yang lembab dan basah. JIka dia mengikuti apa yang dilakukan oleh Elana, mereka bisa saja jatuh sakit setelahnya. Dan sakit adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh Akram terjadi, baik kepada dirinya, maupun kepada Elana. Karena masih banyak sekali yang ingin dilakukannya pada perempuan itu, dan hal itu hanya bisa dilakukan jika mereka berdua sama-sama sehat.


Akram bergerak mendekati Elana, dan senyum ironis muncul di bibirnya ketika menyadari bahwa tubuh Elana, meskipun sedang membelakanginya, tampak menegang seiring dengan pergeseran tubuhnya di atas ranjang tersebut.


Bahkan setelah mereka bersama, perempuan itu masih belum terbiasa dengan dirinya.


Biasanya itu bukanlah menjadi suatu masalah. Akram bukanlah tipe yang menginginkan sentuhan fisik setelah selesai bersama dengan seorang wanita. Dengan wanita-wanitanya di masa lampau, begitu Akram terpuaskan nafsu jasmaninya, dia akan menghindari tindakan-tindakan intim seperti berpelukan di atas ranjang ataupun tidur bersama dalam satu ranjang yang sama.


Wanita-wanita itu tentu saja mengharapkan bisa bermanja-manja dan menggelayut di lengannya setelah mereka bercinta, tetapi Akram sama sekali tidak memiliki niat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akram sudah pasti akan mengusir wanita yang sudah selesai bersamanya dari atas ranjangnya, atau, kadang Akram sendiri  yang akan pergi meninggalkan wanita itu, menjaga komitmennya untuk tidak bersikap lebih selain hanya memuaskan jasmani dan pemenuhan kebutuhannya sebagai seorang laki-laki dewasa.


Dan sekali lagi, Akram harus mengakui bahwa kali ini berbeda. Sekarang, meskipun pemenuhan sudah didapatkannya, dia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengusir Elana dari ranjangnya. Kehadiran Elana yang berada satu tempat tidur bersamanya setelah mereka bersama entah kenapa tidak terasa mengganggunya, dia sendiri bisa saja pergi dan meninggalkan Elana sendirian di atas ranjang, tetapi Akram tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan ranjang ini tanpa Elana bersamanya.


Sebenarnya, ada satu ruangan lain di lantai tiga ini, sebuah ruangan besar dengan ranjang luas yang diperuntukkan untuk Akram beristirahat, terpisah dari Elana dan bebas dari gangguan apapun. Tetapi sekarang, pikiran harus tidur sendirian di atas ranjang luas itu - yang biasanya sangat dinikmatinya - terasa tidak menarik sama sekali.


Tidak memedulikan penolakan bisu Elana, Akram semakin mendekat, tangannya membalikkan tubuh Elana dengan paksa, sehingga perempuan itu berbaring telentang menghadapnya. Bibir Akram menipis, ketika menyadari betapa keras kepalanya Elana, berusaha memalingkan wajah dan tidak ingin membalas tatapan mata tajamnya.


Ingin rasanya Akram marah, tetapi Akram memilih menahan diri. Saat ini prioritas terpenting adalah membersihkan diri lebih dulu supaya mereka dapat tidur dengan nyaman untuk mengumpulkan energi. Hari-hari ke depan masih panjang bagi Akram untuk memuaskan diri dan dia dipenuhi antisipasi ketika membayangkan waktu bebasnya sampai akhir pekan nanti untuk bersama Elana.


"Aku ingin mandi," Akram berucap dengan nada suaranya yang dingin dan arogan. Dan ketika Elana hanya melebarkan mata, menatap Akram seolah Akram orang bodoh, kejengkelan merayapi diri Akram perlahan sebelum kemudian dia mendesis penuh perintah. "Bangun. Kau juga."


Mata Elana lebih lebar dari sebelumnya, menunjukkan keterkejutan ketika mendengar perintah Akram yang tidak disangkanya itu. Pipinya memanas, dan tubuhnya beringsut menjauh meskipun percuma.


"Aku... aku tidak ingin mandi. Kau mandilah sendiri." Elana berseru terbata, membantah sekuat tenaga.

__ADS_1


Akram seolah tak peduli dengan kemarahan Elana yang dilontarkan kepadanya. Baginya, kemarahan Elana dan sikap membangkangnya yang masih belum bisa dipadamkan malahan membuat dirinya makin marah, makin tak sabar untuk menguasai perempuan itu dan membuatnya tunduk di bawah kakinya.


Dengan gerakan cepat, Akram bangkit dari ranjang, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Elana dalam gendongannya. Perempuan itu jelas-jelas tak mau bekerjasama, tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal dalam usahanya untuk mencoba melompat dari pegangan Akram.


"Diam atau aku akan melakukan yang lebih buruk dibanding mandi," ucap Akram mengancam.


Mendengar itu, seketika rontaan Elana terhenti. Mandi merupakan pilihan kedua, tetapi jika dibandingkan harus melayani Akram lagi, tentu Elana sudah pasti lebih bisa berkompromi dengan kegiatan mandi. Meskipun dia harus menahan diri sekuat tenaga karena tahu bahwa Akram tidak akan meninggalkannya sendiri. Lelaki itu seolah tak peduli dan melangkah masuk ke dalam ruang mandi yang terletak di sisi berlawanan dari tempat tidur sambil membawa Elana bersamanya.


- - -



- - -


 


 


 


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2