
"Your lips were suppossed to taste like forbidden fruit. Yet, every breath exchanged beetwen our urgents mouth tasted limitless."
Elana membuka pintu kamar mandi perlahan, melongokkan kepalanya dengan waspada. Matanya langsung menyambar ke arah tempat tidur, dan helaan napas lega langsung terhembus dari bibirnya ketika mendapati Akram masih tertidur dalam posisi telungkup yang sama ketika Elana meninggalkannya untuk mandi tadi.
Hari sudah cukup siang, menjelang jam sepuluh ketika Elana akhirnya terbangun dan berhasil melepaskan diri kembali dari tindihan Akram yang lelap. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri karena Akram benar-benar tak berbelas kasihan kepadanya sepanjang malam. Bergegas Elana mengambil pakaian ganti, setengah berlari ke kamar mandi dan tak lupa mengunci pintunya sebelum dia menenggelamkan tubuhnya yang penat ke dalam rendaman air hangat berbusa dari bath tub.
Dan sekarang, dia sudah segar kembali, siap keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap yang setidaknya bisa membentengi dirinya dari mata Akram yang mesum kalau-kalau lelaki itu sudah terbangun saat Elana selesai mandi.
Tapi syukurlah, Akram sepertinya masih lelap. Dan itu tidak biasanya, karena akhir pekan yang lalu dimana Akram menghabiskan waktu panjangnya di pulau ini bersama Elana, lelaki itu selalu terbangun pagi-pagi sekali dan sudah rapih ketika Elana membuka mata.
Mungkin karena Akram mabuk semalam, jadi pagi ini dia tak bisa bangun pagi. Elana langsung merapalkan kalimat kutukan yang berisi harapan agar Akram terbangun nanti dengan sakit kepala luar biasa akibat hangover setelah mabuk. Lelaki maniak seks itu pantas mendapatkan sakit kepala yang mematikan setelah apa yang diperbuatnya pada Elana.
Di akhir pekan sebelumnya, Elana hampir-hampir tak berdaya di bawah kuasa Akram. Di sepanjang akhir pekan dimana lelaki itu tinggal di sini, bisa dibilang Akram mengurungnya di dalam kamar ini. Lelaki itu hanya melepaskan cengkeramannya ketika memberi kesempatan Elana untuk makan, dan itu pun harus dilakukan di dalam kamar. Selebihnya, Akram akan memaksa Elana melayaninya tanpa henti sepanjang waktu.
Tetapi untuk sekarang, Elana tidak mau hal yang sama terjadi lagi pada dirinya, dia tak mau dikurung di kamar dan dipaksa melayani Akram sepanjang hari. Karena itulah dia harus berhasil keluar dari ruangan ini sebelum Akram terbangun.
Setengah berjingkat, Elana melangkah menyeberangi ruangan, hati-hati supaya tak menciptakan suara sekecil apa pun. Beruntung karpet abu-abu tebal yang melingkupi langkahnya itu mampu meredam suara yang mungkin timbul. Dalam sekejap Elana sampai di depan pintu dan menekan beberapa tombol yang sudah dihapalnya untuk keluar kamar.
Suara 'pip' pelan terdengar, disusul oleh pintu yang terbuka. Bersamaan dengan itu, terdengar gerakan dari arah ranjang yang membuat tubuh Elana menegang dipenuhi teror.
Beberapa saat Elana membeku, jantungnya berdebar ketakutan ketika membayangkan Akram yang telah terbangun tiba-tiba menyergapnya, mencegahnya keluar kamar dan menyeretnya kembali ke ranjang. Tetapi beberapa detik kemudian, ketika tidak ada gerakan dan suara sama sekali dari arah Akram, Elana memberanikan diri untuk menolehkan kepala.
Lelaki jahat itu masih tidur pulas, hanya sedikit melakukan perubahan posisi hingga selimut yang membungkus tubuhnya melorot sampai ke panggul, menampilkan punggung telanjangnya yang kuat dan berotot.
Pipi Elana memerah dan segera dia mengalihkan pandangannya dari punggung Akram. Elana mendorong pintu ruangan supaya terbuka lebar dan meloncat kecil melewati ambang pintu sebelum kemudian menutup kembali pintu itu dengan hati-hati.
Berkebalikan dengan hujan badai semalam, cuaca pagi menjelang siang ini cukup cerah, dilihat dari terangnya sinar matahari yang menembus melalui panel kaca jendela kuno berhias mozaik warna-warni di samping tangga turun ke lantai dua Perpustakaan adalah tempat pertama yang akan dituju oleh Elana pagi ini, dia membayangkan bersantai melepas penat sambil membuka lebar jendela besar yang ada di perpustakaan, lalu mengambil tempat duduk di dekat jendela sambil membaca, membiarkan matahari memandikan lembaran demi lembaran halaman buku yang siap menenggelamkan alam pikirannya.
Elana mulai melangkah kecil menuruni anak-anak tangga sambil bersenandung untuk menghibur diri ketika terdengar olehnya suara kencang helikopter yang mendarat di landasan
Akram mengerutkan kening ketika deru helikopter menembus saluran ventilasi kamarnya dan mengganggu gendang telinganya. Suara itu terasa tajam menusuk satu sisi kepalanya yang terasa berdentam nyeri hingga membuat Akram mengerang tak nyaman
Perlahan dibukanya mata dan langsung melihat bagaimana cahaya matahari telah menyentuhkan jejak sinarnya ke seluruh penjuru kamar, membuat semuanya tampak terang benderang. Badai yang begitu kuat semalam ternyata telah menarik matahari untuk melakukan penebusan dosa, dengan memberikan sinar secerah mungkin hari ini.
Sayangnya, cahaya yang terang itu terasa menyakitkan bagi mata Akram yang sensitif karena baru bangun setelah mabuk semalam.
Masih setengah tidur, Akram memejamkan mata kembali, mengulurkan tangan untuk meraih wanitanya, ingin tenggelam dalam pelukan lengan feminim lembut yang dia yakin bisa meredakan sakit kepalanya. Tetapi sisi sebelahnya terasa kosong. Tiada tubuh mungil yang biasanya tidur meringkuk dan mudah diraih dengan lengannya.
Di mana Elana?
__ADS_1
Mata Akram langsung terbuka lebar. Terkesiap, dia mendorong tubuhnya untuk duduk tegak dan mengembalikam kesadarannya yang masih tenggelam di bawah hangover akibat mabuknya semalam.
Perempuan itu tidak ada di dalam kamar.
Jantung Akram berdebar ketika pikiran bahwa Elana tengah melarikan diri melintas cepat di kepalanya. Tetapi, setelah logikanya kembali, Akram sadar bahwa Elana tidak mungkin melarikan diri dari tempat ini. Pulau ini penuh dengan perangkap, berpenjagaan ketat dan dikelilingi oleh benteng tinggi dengan banyak binatang buas seperti buaya air asin dan hiu di pantai dan lautannya. Elana akan lebih dulu jadi mayat sebelum dia bisa berhasil melarikan diri.
Para bodyguardnya sudah pasti mengawasi gerak-gerik Elana jika perempuan itu melangkah keluar dari kamar ini. Jika perempuan itu sedang menghabiskan waktu di luar kamar, kemungkinan besar di Elana sedang berada di perpustakaan. Oh, tentu saja Akram tahu bahwa Elana sering menghabiskan waktunya sehari-hari di perpustakaan. Dia selalu mendapatkan laporan terperinci mengenai kegiatan Elana sehari-hari, dan dia memiliki cctv di setiap titik di villa ini, yang mana tampilan layar cctv di dalam kamar hanya bisa diakses olehnya.
Akram menyentuh kepalanya yang terasa sakit, belum lagi ada bunyi berdenging imajiner yang terasa menyiksa gendang telinganya. Benaknya mengutuk , Edgor, salah satu relasi bisnisnya yang baru saja datang mengujungi negara ini dan mengajaknya makan malam bersama semalam untuk merayakan kedatangannya. Edgor memiliki kilang anggur di italia dan makan malam bersama Edgor selalu tak lepas dari berbotol-botol anggur mahal yang melimpah untuk dinikmati. Pada acara makan malam itu, Edgor memaksanya mencicipi anggur langka yang disimpan hampir seratus tahun lamanya dan Akram akhirnya mencicipi lebih banyak dari yang seharusnya hingga membuatnya mabuk.
Ketika mabuk itulah, hasratnya semakin menggebu tak terkendali menginginkan Elana untuk meredakan rasa nyeri di tubuhnya yang bergairah tanpa pelampiasan. Jadi, ketika acara makan malam selesai, Akram langsung memerintahkam Elios menyiapkan helikopter untuknya guna membawanya ke Pulau Hijau. Akram bahkan tak peduli ketika Elios dengan cemas mengabarkan bahwa terjadi hujan badai besar yang membuat perjalanan dengan helikopternya sangat berisiko tinggi.
Dia sampai ke pulau ini setelah pilot helikopternya berjuang setengah mati menembus badai, membuat helikopter yang ditumpanginya berguncang dengan luar biasa ekstrem dari awal hingga akhir perjalanan.
Akram tersenyum sinis ketika ibu jarinya bergerak memijit pangkal hidungnya, mencoba meredakan nyeri kepala yang menyiksanya.
Kucing kecil yang liar itu tetap mencakar dan membencinya, dan Elana bahkan tidak tahu kalau Akram telah mempertaruhkan nyawanya hanya demi menemuinya di pulau ini
Akram terbiasa dipuja dan tidak pernah repot-repot berusaha untuk membuat wanita mencintai dan tergila-gila kepadanya, karena itulah sikap penolakan dan tidak tahu terima kasih Elana terasa asing baginya.
Apakah Elana sedang memainkan teknik jual mahal? Berpura-pura menolak padahal mengincar tangkapan ikan yang lebih besar?
Tetapi, Akram menyadari bahwa sinar teror bercampur kebencian yang menyala di mata Elana itu nyata dan tidak dibuat-buat. Perempuan itu membencinya setengah mati dan juga... ketakutan kepadanya.
Akram menggerakkan sebelah tangannya untuk membuka laci meja samping tempat tidur, diambilnya beberapa butir aspirin dari kotak obatnya dan ditelannya sekaligus dengan bantuan air putih dari botol yang selalu tersedia di samping ranjang.
Suara deru helikopter terdengar semakin dekat. Akram tahu siapa yang datang. Itu adalah pekerja yang selalu datang untuk memperbaiki dengan cepat semua kerusakan yang ditimbulkan oleh badai sebelumnya. Dan ada juga Nathan yang menumpang helikopter yang sama. Elios biasanya mengirimkan Nathan untuk memeriksanya setelah Akram menghabiskan waktu malamnya dengan kondisi mabuk.
Akram tahu bahwa dirinya harus menyambut Nathan dengan penampilan segar supaya sang dokter merasa bahwa dia telah repot-repot datang ke pulau ini untuk hasil yang sia-sia. Dengan cepat Akram turun dari ranjang, lalu melangkah ke kamar mandi.
Hembusan angin laut yang sejuk langsung menyambar wajah Elana ketika dia melangkah melewati ambang pintu depan demi memastikan dugaannya akan siapa yang datang berkunjung ke pulau ini. Hembusan angin itu berhasil membuat Elana tersenyum senang. Matahari memang bersinar terik di atas sana, tetapi ajaibnya, angin yang bertiup di pulau ini terasa menyejukkan dan menyenangkan.
Elana menebak bahwa yang datang adalah para pekerja perbaikan yang pernah datang sebelumnya. Kedatangan helikopter memang belum tentu membawa penumpang manusia, bisa saja helikopter datang membawa persediaan obat-obatan atau barang-barang yang diantarkan atas perintah Akram. Elana sendiri tahu kalau untuk barang-barang yang berat seperti berkarung-karung persediaan bahan makanan atau pakaian maupun perabotan, selalu diantar dengan menggunakan pesawat pengangkut barang atau kapal besar yang datang menurunkan muatannya setiap periode waktu tertentu.
Elana tahu itu semua karena dia sedang mengukur dan memindai seluruh akses keluar masuk pulau ini. Meskipun Akram mengancamnya dan menakutinya dengan keberadaan para bodyguard, buaya air asin dan ikan hiu, Elana tetap saja tidak bisa menahan nalurinya untuk mencoba melarikan diri dari tirani Akram.
Dia tahu kesempatannya kecil, tapi dia juga tahu bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Karena itulah Elana menolak menyerah dan berusaha mencari titik harapan sekecil apapun. Usahanya sekarang dimulai dengan mencatat seterperinci mungkin kemungkinan-kemungkinan akses keluar masuk pulau ini dan detail yang menyertainya.
Menghabiskan waktu di perpustakaan dilakukannya bukan hanya untuk membaca saja. Dia membaca di perpustakaan yang berada di lantai dua villa, sengaja memilih duduk di dekat jendela besar di sana untuk memantau situasi sehari-hari dengan jelas dari atas.
Kebetulan sekali Elana bisa melihat pemandangan dermaga pulau, pintu gerbang depan villa, dan juga landasan helikopter serta pesawat dari jendela itu. Elana melihat dengan jelas ketika pesawat maupun kapal yang mengirim barang-barang datang, dan Elana yang pura-pura membaca sambil memunggungi kamera cctv yang terpasang di atap mengawasi setiap detail yang ada dengan seksama.
__ADS_1
Hanya bibi Ana dan sosok bertubuh kekar yang sepertinya adalah kepala keamanan di tempat ini yang memiliki akses untuk mendekati dan berkomunikasi dengan petugas pengantar persediaan. Selama proses pemindahan barang dan persediaan dari kapal atau pesawat ke dalam villa, para bodyguard yang bertugas tampaknya tak menurunkan intensitas penjagaannya, mereka tetap menjaga gerbang dan mengawasi siapapun yang keluar masuk.
Lebih sulit lagi, para pengangkut masuk ke gerbang sambil membawa karung-karung yang sebelumnya harus lolos pemeriksaan gerbang, lalu mereka keluar dengan tangan kosong untuk diperiksa kembali sebelum diperbolehkan keluar gerbang. Siapapun yang datang, bahkan para pekerja perbaikan juga mendapatkan perlakuan yang sama.
Ketatnya penjagaan itu membuat Elana berpikir bahwa rencananya menyelinap ke kapal atau pesawat pengangkut tanpa ketahuan adalah hal yang hampir mustahil.
Suara ramai yang berasal dari samping villa membangunkan Elana dari lamunannya yang rumit dan suara itu membuatnya tertarik. Perlahan, langkah kakinya membawanya menghampiri ke arah suara berada.
Hujan badai semalam datang dengan intensitas yang dahsyat. Bukan hanya membuat tanah di sekeliling pulau berlumpur dan merusak rumput di taman yang tertata rapih, tetapi ternyata juga menumbangkan beberapa pohon yang batangnya tak mampu kokoh menahan hempasan angin kencang.
Suara-suara ramai yang mengusik lamunan Elana tadi ternyata benar merupakan suara orang-orang yang memakai seragam petugas konstruksi dan berjalan datang dari arah helikopter yang mendarat. Sepertinya orang-orang itu kembali didatangkan ke pulau ini untuk menangani kondisi kerusakan di pulau pasca badai besar semalam.
Beberapa orang langsung bergerak menyingkirkan batang-batang pohon yang bertumbangan dan mulai membelah pohon malang itu menjadi potongan-potongan kecil, sementara yang lain begerak memperbaiki atap villa yang rusak karena tertimpa pohon besar yang tumbang. Selain itu, ada kelompok kecil lain yang merubungi pohon kelapa yang telah gosong di ujungnya karena tersambar petir, berusaha menggergaji batangnya supaya tumbang dan tak sampai membahayakan orang lain.
"Mengerikan, bukan? Aku sendiri akan langsung menolak jika ditawari tinggal di pulau ini. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba tsunami datang melanda atau angin topan membabat habis tempat ini?"
Suara asing menyapa yang tidak dikenalnya membuat Elana langsung menolehkan kepala dengan waspada. Keningnya berkerut melihat seorang lelaki muda - sepertinya seusia Akram - berpakaian santai elegan di sampingnya Wajah lelaki itu tampan dengan aura flamboyan dan berhias senyum lebar merayu sambil menatap Elana dengan riang.
Melihat kening Elana yang berkerut curiga itu membuat Nathan langsung memasang senyum terbaiknya dan mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. Dia biasa ditatap dengan tatapan terpesona atau tatapan penuh terima kasih, sehingga tatapan curiga yang diberikan Elana kepadanya membuatnya tidak nyaman.
"Hai Elana, aku Nathan, dokter pribadi Akram. Kau mungkin baru pertama melihatku, tetapi aku sempat memeriksamu di rumah sakit ketika kau masih belum mendapatkan kesadaranmu. Meski dokter lain yang memeriksamu ketika kau sadar, aku tetap memantau kondisimu dan bertanggung jawab atas penyembuhanmu...." senyum Nathan memudar ketika Elana tak juga membalas uluran tangannya yang ramah, perempuan itu malahan menyimpan tangannya di belakang punggung, sebagai tanda penolakan nan kasat mata.
Nathan berdecak dan tak bisa menahan senyum penuh ironi yang muncul di bibirnya. Sungguh langka, sepertinya, pesonanya sama sekali tak mempan pada perempuan ini. Elana benar- benar terlihat seperti perempuan yang sulit ditaklukkan, berbanding terbalik dengan perempuan-perempuan murahan yang berkerumun merubungi Akram sebelumnya.
Pantas Akram sampai merasa perlu memaksakan kehendaknya dengan cara yang cukup brutal untuk menjadikan perempuan itu miliknya dan juga Akram sampai repot-repot menempatkan Elana ke pulau terpencil ini yang Nathan yakin tujuannya adalah agar Elana tak bisa melarikan diri.
Ketika tak sadarkan diri dalam kondisi kurus dan pucat pasi di ranjang pasien, Elana tampak tak menarik di mata Nathan. Tetapi sekarang, di bawah sinar matahari yang berkiauan, dengan gaun indah berkibar dan rambut tertiup angin, Elana terlihat begitu memesona, terselubungi aura kepolosan nan bercahaya hingga nyaris tampak seperti peri hutan yang sangat cantik.
Itu semua memancing naluri mata keranjang Nathan bangkit untuk menggoda. Hanya menggoda saja dan tak boleh lebih jauh dari itu karena Nathan tahu bahwa konsekuensinya akan sangat mengerikan jika dia sampai berani mengusik apa yang sudah diklaim sebagai milik Akram.
"Kalau kau mau bersikap ramah kepadaku, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk membantumu menyelinap keluar dari pulau ini," senyum Nathan melebar ketika melihat Elana tampak sedikit tertarik, dia membuka mulut, hendak menggoda lagi, tetapi tiba-tiba saja Elana memandang ke belakang punggungnya dan terkesiap seolah ketakutan.
Penuh rasa ingin tahu, Nathan menolehkan kepala ke arah sumber ketakutan Elana dan wajahnya ikut memucat ketika menemukan Akram entah sejak kapan telah berdiri di belakangnya, hanya sejangkauan langkah darinya.
Yang mengerikan adalah Akram ternyata tengah membidikkan pistol hitam di tangannya tepat ke arah kepala Nathan, dipenuhi oleh aura membunuh nan kental.
"Menjauh dari milikku, Nathan. Atau aku akan meledakkan kepalamu hingga kau akan masuk ke kuburanmu dengan wujud tak utuh lagi."
__ADS_1