
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
Tinggal 2 Episode Lagi!
EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020
EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )
EPILOG Penutup EOTL : SELASA 17 Novermber hanya di PSA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 November 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers
Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.
***
***
***
“Aku mengirim Aaron hari ini pulang ke Rusia. Dia akan kembali ke kehidupannya semula, meskipun dia memakai wajah dokter Oberon.”
Xavier yang duduk di kursi di samping ranjang berucap dengan nada tenang kepada Sera yang duduk di tepi ranjang menghadapnya.
“Dia akan berurusan dengan pihak berwajib menyangkut pencurian identitas dan pembunuhan dokter Oberon yang asli.”
Sera menatap Xavier dengan cemas. “Jika kau melibatkan pihak berwajib dalam kasus Aaron, bukankah itu juga akan....” Suara Sera tertelan di tenggorokan, tak mampu melanjutkan kalimatnya. Meskipun begitu, Xavier langsung tahu apa yang hendak Sera katakan.
Kasus pembunuhan dokter Oberon bukan hanya melibatkan Aaron, tetapi juga melibatkan dokter Rasputin sebagai kaki tangan. Entah dokter Rasputin ikut serta dalam pembunuhan dokter Oberon atau tidak, tetap saja lelaki itu terlibat dengan melakukan operasi untuk menukar tampilan wajah antara dokter Oberon dengan Aaron. Lagipula, polisi Rusia sepertinya sudah lama mengincar dokter Rasputin untuk dijerat. Lelaki itu telah merepotkan polisi dan interpol karena bekerjasama dengan penjahat-penjahat kelas tinggi untuk mengoperasi wajah mereka menjadi berbeda sehingga bisa lolos dari kejaran hukum serta bebas melarikan diri ke luar negeri. Para penegak hukum itu pastilah sudah menanti-nanti kesempatan untuk menjerat dokter Rasputin dan menangkapnya.
“Seperti apapun kondisi dokter Rasputin saat ini, dia akan menghadapi konsekuensi sesuai dengan perbuatannya.” Lelaki itu menjawab dengan tenang dan tanpa ekspresi. Xavier memang sudah memaafkan ayahnya, tetapi dia masih tak mau menyebut dokter Rasputin sebagai ayahnya.
Seolah ingin mengalihkan pembicaraan dari nuansa yang tak nyaman ini, Xavier lalu meraih tangan Sera dan meremasnya lembut.
“Kurasa, kita harus saling berpelukan sekarang,” ujarnya kemudian.
Sera memasang senyumannya.
“Kau membutuhkan pelukanku?” Dengan lembut Sera membuka lengannya untuk suaminya dan Xavier langsung beranjak dari kursi tempatnya duduk, lalu membawa tubuh istrinya berbaring dan memeluknya di atas ranjang.
Pelukan mereka terasa hangat dan menyenangkan, membuat hati terasa damai seolah dialiri perasaan lega yang menenangkan.
“Aku dan kau sama-sama membutuhkan pelukan. Kau tahu, dirimu telah memberiku topangan ketika aku harus memaafkan dokter Rasputin dan aku memberimu kekuatan ketika kau harus mengucapkan selamat tinggal kepada Aaron.” Xavier menghadiahkan kecupan lembut di dahi Sera, lalu bibirnya bergeser untuk mengecup pipi istrinya. “Kurasa setelah ini, kita bisa hidup dengan tenang, menjalani hari-hari damai bersama anak-anak kita, bukan?”
Sera menengadah, wajahnya dekat dengan wajah tampan suaminya dan dia tak bisa menahan diri untuk tak memberikan ciuman ke bibir Xavier. Kecupannya lembut, bukan dipenuhi hasrat untuk menggoda, namun dipenuhi kasih sayang untuk menguatkan.
“Setelah ini kita akan hidup dalam damai, bersama si kembar.” Sera menyahuti dengan nada bahagia, tetapi ekspresi Sera berubah serius ketika berucap kemudian. “Namun, kau masih punya satu tanggung jawab lagi, Xavier. Kau punya tanggung jawab untuk tetap sehat,” bisik Sera mengingatkan.
Sera mencemaskan Xavier. Dia tahu bahwa berbagai hal yang terjadi akhir-akhir ini, menyangkut pengejaran Aaron dan kenyataan mengenai ayah kandung Xavier, semua itu telah menguras energi Xavier sampai habis. Lelaki itu dalam kondisi tak sehat dan sekarang memaksakan diri dengan meminum obat yang memberikan efek negatif jika terus-terusan diminum dalam jangka panjang. Sera harus memaksa Xavier untuk mengambil keputusan secepatnya supaya bersedia menjalankan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuk memperbaiki kondisinya.
“Aku tahu.” Kali ini Xavier tak berniat membantah perkataan Sera. Perempuan itu menunjukkan kecemasan di matanya dan Xavier tidak ingin Sera merasa lebih cemas lagi. Lagipula, Sera benar, dia harus menjadi ayah yang sehat untuk si kembar. Istrinya membutuhkannya, begitu juga dengan kedua putri cantiknya. “Aku akan mengatur jadwal konsultasi dengan dokter ahli yang direkomendasikan oleh dokter Nathan untuk persiapan operasi,” sambungnya kemudian dengan kalimat menenangkan, Ingin membuang kecemasan dalam hati Sera.
“Kau akan melakukannya?” Sera tak bisa menahan kelegaan di dalam suaranya. Selama berkali-kali dia berusaha meyakinkan Xavier untuk menjalankan operasi, Xavier selalu memberikan jawaban mengambang tanpa kepastian kepadanya, seolah-olah lelaki itu masih ragu dan masih ingin memutar balik keputusannya. Namun, saat ini adalah pertama kalinya Xavier memberikan jawaban pasti kepadanya dan hal itu membuat Sera sangat bahagia.
“Kau berjanji? Biarkan aku mendampingimu saat konsultasi dengan dokter, ya?” Sera menempatkan kedua tangan mungilnya untuk menangkup pipi Xavier, matanya berkaca-kaca, perasaan lega dan senang tampak meluap diekspresinya.
Xavier tersenyum, entah kenapa hatinya tersentuh oleh sikap Sera yang begitu bersyukur ketika mendengar bahwa Xavier bersedia untuk dioperasi. Selama ini Xavier sibuk dengan pertimbangan dan pikirannya sendiri dan anpa disadarinya, dia telah membuat Sera cemas memikirkannya. Sekarang, hanya dengan Xavier mengatakan bahwa dia akan berkonsultasi untuk persiapan operasi saja, Sera sudah begitu leganya. Perempuan ini telah mencemaskannya setengah mati, dan Xavier menyesal telah mengombang-ambingkan perasaan Sera dengan ketidakpastian selama ini.
__ADS_1
“Kau tahu. Melihat kondisi dokter Rasputin, sedikit banyak hal itu mendorongku untuk melakukan operasi. Aku tak mau berakhir seperti dirinya. Sendirian, lemah dan menyerah pada penyakitnya.” Xavier menghela napas dalam-dalam. “Aku menyadari bahwa kondisiku yang berbeda dengan dokter Rasputin adalah suatu anugerah yang harus kusyukuri. Kurasa, si kembar terlahir di dunia ini memang untuk menyelamatkanku, jadi aku akan mengambil kesempatan itu dan jika aku selamat nanti, aku akan menebus apa yang telah kau berikan kepadaku, apa yang telah diberikan si kembar kepadaku, dengan mengabdikan hidupku kepada kalian bertiga.” Xavier berucap dengan nada sungguh-sungguh, matanya yang bening dengan kilauan indah menatap langsung ke mata Sera, menyiratkan ketulusan luar biasa di sana.
Air mata menetes dari sudut mata Sera dan perempuan itu tertawa sekaligus menangis mendengar perkataan suaminya.
“Kau tak perlu mengabdi kepada kami bertiga untuk membalas budi.” Sera masih menangkup wajah Xavier dengan telapak tangannya di sisi kiri dan kanannya. Perempuan itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Xavier dan menggesekkan hidungnya ke hidung lelaki itu dengan sayang. “Kau hanya harus mencintai kami bertiga seumur hidupmu, itu sudah cukup,” sambung Sera kemudian dengan suara serak penuh haru, sementara tetesan air mata dengan keharuan yang sama mengalir deras membasahi pipinya.
Xavier terkekeh. Lelaki itu lalu mengecup kedua sisi aliran air mata Sera dengan sayang, sementara ibu jarinya bergerak mengusap air mata itu dengan penuh kelembutan.
“Aku berjanji kepadamu, aku berjanji kepadamu. Aku akan mencintai kalian seumur hidupku, sayangku.” bisiknya kemudian dengan suara parau penuh kesungguhan.
***
“Kau akan baik-baik saja di Rusia sana. Pihak berwajib di sana, juga Dimitri, mereka akan mengurusmu dengan baik.” Credence memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menyeringai, menatap ke arah Aaron yang berjalan lunglai sambil menundukkan kepala. Lelaki itu sudah tak diikat dan diborgol lagi, bebas lepas dan dibiarkan berjalan sendiri meskipun ada beberapa bodyguard yang mengawal di sekelilingnya. Sayangnya, kondisi Aaron itu tak menutup kenyataan bahwa sesungguhnya di balik kebebasan Aaron itu, ada belenggu yang akan lekat selamanya.
Belenggu itu berupa bom dan racun yang selamanya bercokol di tubuh Aaron, membuatnya terikat dan tak bisa melepaskan diri apapun yang terjadi.
Aaron sendiri tetap menundukkan kepalanya dan menurut ketika para bodyguard menggiring tubuhnya untuk terus berjalan melewati area luas di hanggar pesawat menuju jet pribadi yang akan mengantarnya kembali ke negaranya. Lelaki itu tampak linglung, seolah di dalam benaknya dipenuhi kabut berputar yang memudarkan kesadarannya.
Credence mengangkat alis ketika melihat bahwa Aaron tak menanggapi perkataannya. Namun, dia hanya mengangkat bahu dan memutuskan untuk tak mempermasalahkannya.
Bagi seseorang yang dipupuskan cintanya lalu harus menjalani hidup dengan bom dan racun yang mengikatnya, Aaron memang layak untuk shock dan bertingkah seperti orang linglung.
Credence sendirilah yang menawarkan diri untuk mengawal Aaron hingga naik ke pesawat yang akan mengantar lelaki itu kembali ke asalnya. Di Rusia sana, Dimitri sudah menanti untuk mengambil alih tugas dan juga pihak berwajib di Rusia juga sudah menunggu giliran untuk menjemput Aaron. Akram terlalu sibuk membagi waktunya dengan istri dan anaknya, pun dengan Xavier yang pasti membutuhkan saat-saat pribadi dengan Sera setelah melewati gelombang besar ini, jadi Credence yang tidak memiliki pekerjaan apapun di tangannya karena dia sedang mengambil liburan berpikir bahwa dialah yang sebaiknya menjalankan tugas ini.
Mata Credence mengawasi Aaron yang menunduk dengan tatapan mata kosong dan dia menghela napas panjang. Tadinya, dia berpikir bisa menggunakan Sabina untuk mendekati Aaron dengan harapan Sabina bisa mengalihkan perhatian Aaron dari Sera. Namun, ternyata semua hal berjalan di luar dugaan hingga mereka tak perlu menggunakan Sabina lagi. Perempuan itu sudah kembali ke tangan Dimitri dan kalau dilihat dari gelagatnya, Dimitri sepertinya tidak akan mau melepaskan Sabina untuk mendampingi Aaron.
Yah, bagaimanapun ini bukan urusannya lagi. Credence memutuskan dengan cepat. Apapun yang terjadi pada Aaron setelah lelaki itu sampai di Rusia nanti, sudah tidak menjadi urusannya lagi. Dia yakin bahwa Xavier akan mengurus Aaron dengan baik sehingga lelaki itu tak akan mungkin kembali dan mengganggu rumah tangganya lagi.
“Lebih baik kau tidak kembali lagi. Jangan bertindak bodoh.” Credence mengucapkan peringatan terakhirnya sebelum memberi isyarat kepada para bodyguard supaya bergerak membawa Aaron menaiki tangga pesawat yang sudah siap lepas landas.
Tubuh Aaron menegang dan lelaki itu mendongakkan kepala sambil menahan langkahnya. Untuk pertama kalinya, Credence melihat kilasan emosi di mata lelaki itu.
“A-apakah... kau yakin bahwa Sera... sama sekali tidak memiliki perasaan yang tersisa untukku?” tanyanya kemudian dengan suara gemetar lemah.
Credence menyipitkan mata dan menipiskan bibir ketika mendengar pertanyaan itu. Lelaki ini tampak begitu menyedihkan, terlihat kalah dan terbuang. Namun, itu adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri. Lelaki itu telah mengorbankan banyak orang demi keegoisannya sendiri dan demi mengejar obsesinya.
Credence berpikir bahwa bersikap kejam dan membunuh harapan Aaron sampai habis adalah jalan terbaik bagi lelaki malang itu supaya benar-benar berhenti mengganggu kehidupan Xavier dan keluarganya. Bagaimanapun, kebaikan hati Xavier yang tak biasa dengan mengampuni nyawa Aaron adalah sesuatu yang tak biasa dan patut disyukuri oleh lelaki itu. Aaron seharusnya merasa sangat beruntung karena dia masih bisa menghirup napas sampai detik ini dan tak mati di bawah kendali racun Xavier yang mengerikan.
“Sera sendiri yang menyuntikkan bom itu kepadamu dan menyuruhmu tak mengganggu keluarganya lagi. Kau pikir, perempuan yang masih menyimpan perasaan kepadamu akan tega melakukan hal semacam itu kepadamu?” Credence menyahuti kemudian dengan suara dingin. “Jangan pernah berharap lagi kepada Sera dan jangan pernah berpikir untuk mencoba menjangkaunya lagi. Saat ini, Sera sedang berbahagia dengan Xavier dan anak kembarnya. Bagi mereka, kau hanyalah kecoa pengganggu kebahagiaan mereka. Jadi, lebih baik kau enyah untuk kebaikanmu sendiri,” sambungnya kemudian, menusukkan setiap kalimatnya dengan sengaja.
Mata Credence mengawasi tubuh Aaron yang lunglai seolah terpukul dengan kalimatnya. Lelaki itu lalu menghela napas setengah kesal.
“Kau harusnya mensyukuri kehidupan yang masih kau dapatkan untuk sekarang. Lebih baik kau fokus pada kehidupanmu sendiri. Sebab, setidaknya kau masih memiliki nyawamu meskipun hidupmu terpenjara,” tutupnya kemudian.
Setelah mengucapkan kalimatnya, Credence memberi isyarat kepada bodyguardnya supaya membawa Aaron menaiki pesawat itu dan kali ini Aaron tak menolak.
Tubuhnya yang lunglai digiring pasrah, menaiki pesawat yang akan membawanya pergi, menjauh dari tempat ini dan tak bisa kembali lagi, mungkin untuk selamanya.
***
“Dia bertambah gemuk dalam waktu cepat!”
Sera berucap senang sambil menimang bayi mungil cantik itu di dalam pelukannya.
__ADS_1
Sera masih duduk di atas kursi rodanya saat dia mengunjungi Elana dan bayinya dan Sera sangat bahagia karena dia mendapatkan kesempatan untuk menggendong putri cantik Akram dan Elana di pelukannya.
Xelena, bayi kecil dengan nama yang berarti sinar rembulan itu sedang terbangun, tetapi karena perutnya kenyang habis disusui, dia tidak menangis. Matanya yang besar dan dinaungi bulu mata yang lentik tampak membuka lebar, menatap ke arah wajah Sera dengan tertarik. Pipi montoknya terlihat kemerahan dengan rona sehat, membuatnya tampak sangat menggemaskan.
Kondisi Xelena sudah semakin membaik seiring berjalannya hari sehingga kemungkinan besar dalam beberapa hari ke depan, Akram sudah boleh membawa Elana dan bayinya pulang ke rumah. Karena itulah Sera beruntung masih bisa menengok Xelena sebelum dibawa pulang ke rumah, karena berbeda dengan kondisi Xelena, si kembar belum boleh pulang sebab masih harus berada di dalam kotak inkubator, begitupun dengan Sera yang juga belum bisa pulang karena masih harus menyediakan ASI ekslusif untuk kedua bayinya.
“Dia cantik sekali.” Xavier sedang memangku Zac yang tampak aktif dan senang dipangku oleh pamannya. Anak lelaki tampan itu bermain-main dengan jari jemari Xavier, menarik-nariknya dengan bersemangat dan Xavier hanya tersenyum serta membiarkan Zac berbuat semaunya. “Akram akan sibuk mengusir lelaki-lelaki yang merubungi Xelena seperti kumbang merubungi bunga kalau Xelena sudah besar nanti.”
Elana yang duduk di tepi ranjang terkekeh pelan. Sinar bahagia tampak di matanya ketika dia menatap dua orang anaknya, buah hatinya dengan Akram yang sangat dicintainya.
“Kau pikir, si kembar tidak akan tumbuh menjadi anak yang cantik juga? Kurasa, kau nantinya tak akan punya waktu mencemaskan Akram karena aku yakin bahwa kau pun akan menjadi ayah yang sibuk mengusir para pemuda yang mengejar si kembar nanti,” sahut Elana setengah bercanda.
Berbeda dengan Sera yang tertawa ketika membayangkan hal itu, ekspresi Xavier langsung berubah suram ketika membayangkan si kembar yang saat ini begitu lucu dan menggemaskan akan tumbuh menjadi anak gadis yang dikejar oleh lelaki. Dua anak perempuannya yang sangat berharga itu sudah pasti akan dia jaga dengan sepenuh hati. Xavier bertekad untuk mengusir mereka semua supaya tidak berani main-main dengan si kembar nantinya.
“Siapapun yang mendekati si kembar, juga yang mendekati Xelena, harus berhadapan denganku dulu untuk melihat apakah mereka bisa lolos kualifikasi.” Xavier menyahuti dengan ekspresi serius. Matanya lalu terarah kepada Zac yang masih bermain-main dengan tangannya, dia lalu menepukkan telapak tangannya ke telapak tangan Zac, membuat anak lelaki itu tertawa senang dan mengulang-ngulang kembali gerakannya. “Lagipula, aku punya pasukan tambahan di sini. Zac akan tumbuh menjadi kakak lelaki yang kuat dan melindungi adik-adiknya, dia akan mengusir para lelaki yang mencoba mendekati adik-adiknya. Bukankah begitu, Zac?” Xavier bertanya dengan nada riang dan Zac yang masih duduk di pangkuannya langsung membalas dengan anggukan bersemangat meskipun sepertinya anak itu tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pamannya.
Elana dan Sera saling bertukar pandang dan keduanya langsung tertawa melihat tingkah Xavier dan Zac yang sangat kompak. Perhatian mereka baru teralihkan saat pintu ruangan itu terbuka dan sosok Akram memasuki ruangan.
“Akram.” Elana langsung menyapa, menyebut nama suaminya. Terlihat jelas cinta di matanya ketika menatap suaminya yang hadir dan langsung menebarkan aura mendominasi ke seluruh penjuru ruangan.
Akram membalas tatapan Elana dengan kedalaman cinta yang sama, eksperi keras lelaki itu langsung melembut ketika melangkah mendekati Elana sebelum kemudian berdiri di sampingnya dan meremas pundak istrinya lembut.
Namun, Elana seketika langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres. Ekspresi Akram tampak begitu muram dan gelap. Elana sudah mengenal Akram sejak lama, dia tahu pasti bahwa Akram hanya akan menampakkan ekspresi semuram ini jika itu berhubungan dengan kabar buruk.
“Akram? Ada apa?” Elana seketika bertanya, mengubah nada suaranya menjadi penuh kecemasan. Hal itu membuat Sera dan Xavier saling bertukar pandang, menyadari perubahan situasi yang langsung menjadi muram dan kelam dalam sekejap. Mereka berdua pun ikut memusatkan pandangan mereka ke arah Akram, menanti lelaki itu untuk menjawab.
***
***
***
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
Tinggal 2 Episode Lagi!
EOTL 129 & EOTL 130 : Jumat, 13 November 2020
EOTL akan tamat di episode 130 ( Jumat, 13 November 2020 )
EPILOG Penutup EOTL : SELASA 17 Novermber hanya di PSA
Bonus Epilog EOTL ( FREE ) dan Ebook Full plus Bonus 10 Part Xavier’s Happy Family ( PREMIUM ) akan diposting pada hari SELASA 17 NOVEMBER 2020 hanya di projectsairaakira website/ PSA/ PSA Vitamins Readers )
Setelah EOTL Tamat, Bonus Epilog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers
Season 3 dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.
***
***
***
__ADS_1