
"If i lay here. If i just lay here. Would you lie with me and just forget the world?"
"Kau hendak naik kendaraan umum? Bagaimana caranya kau bisa sampai ke halte di jalan raya, sedangkan jarak antara lobby apartemen ini dengan pintu gerbangnya sangat jauh? Apa kau hendak berjalan kaki ke sana?" Akram tampak menahan kesabaran, menatap langsung ke wajah Elana yang tampak polos tak berdosa.
"Kalau aku tidak sedang terlambat, aku bisa berangkat lebih pagi dan berjalan ke gerbang depan, sekalian olahraga pagi untuk kesehatan. Tapi sekarang... bolehkah aku menumpang mobilmu? Sampai ke gerbang depan saja, setelahnya aku akan turun dan menunggu angkutan umum di halte dekat jalan raya. Oh ya... mungkin kau bisa memberiku kartu pass untuk lewat lift? Sehingga aku bisa keluar masuk ke apartemen ini tanpa harus merepotkan supir untuk mendampingiku? Aku kan sudah memakai microchip yang kau tanamkan di tubuhku, jadi, meskipun aku bisa keluar masuk dengan bebas, aku tidak mungkin bisa melarikan diri darimu, kan?" Elana tersenyum lebar, tiba tiba mendapatkan ide bagus yang ingin diusulkannya pada Akram. "Atau... bolehkah aku meminjam uangmu untuk membeli sepeda? Sama seperti uang untuk kendaraan umum, kau bisa memotongnya dari gajiku nanti. Kalau bisa, aku ingin membeli sepeda yang bekas saja dan murah, yang cukup untuk diakomodasi oleh uang gajiku. Jadi, aku bisa bersepeda dari kantor ke tempat ini ...."
Kata-kata yang meluncur dari bibir Elana terhenti tiba-tiba karena Akram langsung bergerak mendekat, suaranya berbahaya karena lelaki itu tampaknya sudah berada di batas kesabaran.
"Kau ingin bersepeda? Kau pikir aku akan membiarkanmu bersepeda di jalanan yang ramai itu? Di sana banyak kendaraan bermotor dan ada jalur-jalur yang tidak mengakomodasi pengendara sepeda! Kau bisa terserempet, tertabrak atau bahkan terlindas kendaraan!" bentak Akram naik darah
Siapapun yang sedang tertimpa sial harus menghadapi kemarahan Akram akan memilih untuk berlindung, memohon ampun atau lari terbirit-birit bersembunyi, tetapi berbeda dengan Elana, perempuan itu malahan mendongakkan kepala, tak gentar melawan Akram.
"Tapi mengendarai sepeda adalah satu-satunya jalan keluar yang menurutku paling tepat. Di perusahaanmu aku adalah seorang cleaning service, aku tidak bisa naik bus karyawan karena tidak ada jalur ke arah apartemen ini. Seluruh karyawan yang menaiki bus karyawan memiliki rumah di kawasan kota penyangga di pinggiran kota dan tidak ditengah kota seperti tempat apartemenmu berada. Aku juga tidak mungkin diantar jemput mobil oleh supirmu setiap hari. Suatu saat pasti akan ada yang melihat dan orang-orang akan curiga. Kau sendiri, kan, yang bilang kalau aku tidak boleh dihubungkan dengan dirimu sama sekali?"
Perkataan Elana yang panjang dan berani telah berhasil membuat Akram mengatupkan mulutnya dalam kertak gigi penuh kegusaran bercampur rasa marah.
Gusar karena hampir sebagian besar yang dikatakan oleh Elana itu benar adanya, dan marah karena dia tidak bisa membayangkan Elana yang begitu rapuh mengendarai sepeda - jenis kendaraan dengan tingkat perlindungan keamanan paling rendah - lalu turun ke jalan raya yang penuh dengan bahaya dari berbagai macam pengguna kendaraan bermotor yang kadang tak punya otak saat berkendara
"Aku akan memikirkan cara lain nanti. Untuk sekarang kau harus mengikuti pengaturan sebelumnya. Supir yang bertugas atau aku sendiri yang mengantarmu. Persetan jika ada orang yang melihat dan mengetahui hubungan kita." Akram melirik jam tangannya, sengaja tidak memberi kesempatan pada Elana untuk membantah.
"Ayo, aku sudah terlambat, dan kemungkinan kau juga kalau tidak cepat." ujarnya sambil membalikkan badan ke arah pintu, melangkah keluar dan membiarkan Elana mengikutinya menuju lift sambil berlari-lari kecil.
Mobil pribadi yang digunakan oleh Akram adalah jenis mobil sport berkursi dua penumpang yang berbentuk rendah seperti peluru untuk mengakomodasi kemampuannya melaju cepat dan menyelip dengan lincah menembus keramaian di jalan raya. Bentuk mobil itu sangat indah, tanpa sudut dan penuh dengan lekukan eksotis layaknya tubuh penari spanyol yang berlekuk indah dengan sudut menawan menggoda mata.
Sehari-hari ketika Akram menggunakan supir untuk mengakomodasi transportasinya, Akram lebih suka menggunakan mobil sedan pabrikan eropa yang lebih memberikan kenyamanan untuk duduk di kursi belakang. Tetapi, ketika sedang menyetir sendiri, barulah Akram mengeluarkan mobilnya yang ini. Selain karena kemampuannya yang efektif menembus jalan raya, mobil ini juga memiliki fitur keamanan tinggi yang melindungi penumpang di dalamnya dengan kerusakan minimal jika kebetulan suatu saat nanti dia sedang sial lalu terjadi kecelakaan.
Akramlah yang lebih dahulu masuk ke mobil, lalu duduk di belakang kemudi sebelum kemudian menekan tombol supaya pintu di bagian kursi penumpang di sebelahnya terbuka.
"Masuklah," Akram memerintah dengan suara setengah memaksa dari balik kemudi ke arah Elana yang berdiri dengan ragu sambil memandangi mobilnya. Ketika Elana tak juga bergerak, Akram mengerutkan kening dan menaikkan nada suaranya. "Masuk, Elana." perintahnya lagi.
Elana menelan ludah. Sebenarnya, selain ketika dia teledor dan menerima tawaran tumpangan dari Karel yang ternyata menjerumuskannya ke dalam cengkeraman Akram Night, bisa dibilang dia hampir tidak pernah duduk di bagian depan sebuah mobil.Jika dia naik angkutan umum pun, Elana tidak pernah duduk di sebelah supir, dia selalu memilih duduk di bagian belakang yang lebih nyaman bersama penumpang lainnya.
Dan sekarang, dihadapannya terpampang sebuah mobil dengan bentuk aneh yang tak pernah dilihatnya secara langsung sebelumnya
Mobil itu berwarna hitam, sangat ramping dan mengingatkan Elana pada mobil milik superhero Batman di film terkenal mengenai pahlawan berkostum kelelawar yang pernah disaksikannya di televisi. Ketika Akram membuka pintu di bagian kursi untuknya, Elana baru menyadari bahwa mobil itu hanya muat untuk dua orang penumpang saja.
__ADS_1
Mobil itu tampak sangat sempit. Elana jadi bertanya-tanya bagaimana caranya Akram memasukkan kakinya yang panjang ke ruang bawah di balik kemudi? Tidakkah lelaki itu merasa tidak nyaman duduk di sana?
Ketika Akram mengulang perintahnya untuk ketiga kalinya, disertai ancaman akan mengangkut Elana masuk ke mobil dengan tangannya sendiri kalau Elana tak juga bergerak, barulah Elana tersadar dari lamunan. Reflek dia langsung terloncat, berusaha masuk ke mobil dengan gugup. Tetapi, karena mobil itu posisinya cukup rendah, kepala Elana malahan terantuk ambang pintu dan tubuhnya terjerembab masuk ke mobil.
Elana panik dan tangannya menggapai untuk mencari pegangan, tetapi malah mendarat, mencengkeram tepat di area pribadi Akram, membuat tubuh Akram bereaksi seketika.
"Bodoh! Berhati-hatilah!" bentak Akram cepat, menyembunyikan rona merah yang bersemburat dalam hitungan detik di pipinya ketika merasakan tubuhnya berdesir dirambati gairah oleh sentuhan Elana yang tak sengaja.
Elana langsung melepaskan pegangannya dari area pribadi Akram, wajahnya merah padam dan panas karena malu. Susah payah dia bangkit dan berusaha membetulkan posisinya, lalu akhirnya bisa duduk dengan tepat di kursi penumpang itu.
Ternyata meskipun terlihat sangat sempit, kursi penumpang ini terasa sangat nyaman diduduki. Bukan hanya dari tempat kakinya yang longgar untuk di luruskan dan keempukan jok tempatnya duduk, kenyamanan juga tercipta karena bentuk kursi itu seolah dirancang khusus, disesuaikan dengan lekuk tubuh manusia, sehingga terasa pas dan nyaman diduduki.
"Pasang sabuk pengamanmu." Akram berucap sambil menatap ke depan, siap melajukan mobilnya. Ketika tak ada reaksi, diliriknya Elana yang tidak segera bergerak dan malahan tampak kebingungan.
Sabuk pengaman yang ada di mobil Akram bentuknya sedikit berbeda dengan yang ada di mobil Karel, tampak lebih rumit dengan beberapa kaitan yang terhubung hingga membuat Elana bingung memikirkan bagaimana cara memasang sabuk pengaman tersebut.
Kebingungan Elana langsung membuat Akram berdecak tak sabar.
"Benar-benar perempuan yang merepotkan!" Akram menggerutu dengan wajah kesal yang tidak ditutup-tutupi, tapi tak urung lelaki itu melepaskan sabuk pengamannya sendiri sebelum kemudian membungkukkan tubuh juga ke arah Elana, membantunya memasangkan sabuk pengaman dengan gerakan cepat.
Elana langsung memundurkan tubuh dengan tegang hingga menempel di batas kursinya ketika dirasakanya Akram sangat dekat dengannya. Bahkan ketika lelaki itu mengangkat kepala setelah membantu Elana memasang sabuk pengaman, wajah mereka malahan berakhir sangat dekat, hampir-hampir bersentuhan
Seketika itu juga Akram mendesiskan umpatan seolah mengutuk dirinya sendiri, lalu sebelah tangannya bergerak ke belakang kepala Elana dan langsung menarik wajah Elana ke arahnya, menempel pada dirinya. Ujung jarinya mengusap bekas lebam di bibir Elana, dan ketika dilihatnya sudah tidak ada kesakitan di mata Elana, Akram langsung berhasrat untuk mencium perempuan di depannya.
Ciuman itu berlangsung sangat lama, seolah-olah Akram adalah musafir di padang pasir yang telah berkelana begitu lama dan tiba-tiba menemukan oase di berair jernih untuk memuaskan dahaganya. Akram meneguk kenikmatan dari bibir Elana seakan ingin menyesap sarinya sampai tandas, penuh hasrat yang hampir-hampir tak terkendali.
Ketika lama kemudian ciuman itu terlepas, bibir Akram masih menempel di bibir Elana, seolah enggan beranjak, memberikan kecupan kecil sambil lalu di sana, sementara mata Akram masih terpejam, berusaha menenangkan diri dan mengendalikan gairahnya yang bergolak naik.
Setelah napas mereka berdua yang tersengal kembali normal, barulah Akram menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Elana, mengembalikan posisi tubuhnya ke balik kemudi lalu melajukan kendaraannya keluar dari tempat parkir bawah tanah itu menuju ke jalanan luar yang disirami oleh cahaya matahari pagi.
Keduanya memilih untuk tetap memelihara kesenyapan setelah adegan ciuman yang tak direncanakan tersebut. Akram memilih menatap lurus kedepan dan berkonsentrasi mengemudi, sementara Elana memilih untuk membuang muka, menolehkan kepala ke jendela luar, seolah-olah tak sudi melihat ke arah Akram sedetik pun
Sosok lelaki itu berpakaian hitam dan mengenakan topi yang dipasang rendah hingga hampir menutup wajahnya. Dia mengawasi dari balik mobil boks berstiker kamuflase dari salah satu merk produsen roti terkenal, dan mermarkir mobilnya di bawah pepohonan rimbun tak jauh dari pintu gerbang apartemen itu. Lelaki itu langsung menyalakan ponselnya untuk menghubungi atasannya ketika melihat mobil sport yang dikendarai oleh Akram melaju melewati gerbang apartemen menuju ke jalan raya.
"Target sudah keluar. Kali ini tanpa supir dan dipastikan sedang menjalankan mobilnya sendiri," lapornya dengan suara rendah, merasa yakin bahwa hanya Akram Nightlah yang memikiki akses untuk mengendarai mobil sport mewah tersebut
Sejenak orang itu terdiam dengan ekspresi serius sementara telinganya tampak mendengarkan dengan saksama instruksi dari seseorang yang berucap dengan nada datar dan tegas dari seberang saluran telepon.
__ADS_1
Orang itu lalu menganggukkan kepala ketika gilirannya berbicara meskipun tahu bahwa orang yang berada di seberang saluran telepon sana tidak akan bisa melihat anggukannya.
"Benar, Tuan. Karena jarak antara apartemen dengan lokasi kantor pusat yang cukup dekat, maka tempat terbaik untuk melakukannya berada di perempatan ke tiga dimana terdapat tikungan cukup tajam di salah satu sisinya." orang itu terdiam untuk mendengarkan lagi, lalu kembali menganggukkan kepala, kali ini dengan lebih bersemangat. "Baik, Tuan, kami akan memastikan semua berjalan dengan sempurna. Tuan akan segera mendapatkan laporannya nanti. Tenang saja, kali ini, Akram Night tidak akan bisa lolos."
Aroma pizza yang masih hangat setelah dipanaskan di microwave menguar perlahan dari kantong kertas di pangkuan Elana, tercium dan menyapa hidungnya dengan sangat menggoda.
Elana belum sempat sarapan apapun tadi sebelum berangkat. Sekarang, perut Elana langsung keroncongan menanggapi stimulasi yang menggoda indra penciumannya itu, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk membuka kantong kertas di pangkuan, lalu mengintip ke bagian dalamnya.
Air liur Elana langsung memenuhi mulutnya demi melihat dua potong pizza yang masih hangat di sana, penuh dengan topping lezat yang sangat menggoda perut Elana yang lapar.
Perlahan, Elana membuka kantong kertas itu lebih lebar, berpikir untuk mengambil beberapa gigitan guna meredakan perutnya yang keroncongan.
"Jangan coba-coba."
Suara Akram tiba-tiba terucap, meretakkan keheningan canggung yang sempat teruntai di antara mereka.
Elana mendongakkan kepala, menatap Akram dengan bingung.
"Jangan coba-coba apa?" Elana benar-benar tidak tahu kenapa Akram memperingatkannya, dia merasa sama sekali tidak berbuat salah.
Akram melirik sedikit ke arah tangan Elana yang sedang bersiap membuka kantong kertas berisi pizza di tangannya, bibirnya menipis dengan ekspresi tidak suka.
"Jangan coba-coba makan di dalam mobil. Aku tidak suka orang-orang yang makan dalam mobil. Mereka meninggalkan remah-remah yang mengotori mobil, mereka memicu jamur dan bakteri yang menodai habitat kabin mobil yang steril, dan yang paling buruk, mereka juga menebarkan aroma tak sedap ke seluruh penjuru mobil." Akram berucap sinis, penuh penekanan di setiap katanya.
Elana langsung menutup kembali kantong kertas di tangannya, memilih diam tak melawan meskipun hatinya jengkel setengah mati. Akhirnya, untuk meredakan kemarahannya, Elana membuang muka, memusatkan pandangannya ke luar jendela, sambil berharap dalam hati supaya mobil ini cepat sampai ke tujuan sehingga dia bisa segera menjauh dari Akram dan mencari tempat untuk memakan pizza serta menuntaskan laparnya.
Tak disangka, pandangannya tiba-tiba terarah ke sebuah truk besar yang berlawanan arah dengan mereka, truk itu melaju dengan ugal-ugalan hingga membuat kening Elana berkerut memperhatikan.
Belum sempat Elana mengambil kesimpulan apapun, tiba-tiba, kepala truk itu seolah kehilangan kendali dan mengarahkan kemudinya tepat ke arah mobil yang sedang mereka kendarai.
"Akram, awas!" Elana berteriak keras memperingatkan di detik yang sama saat laju truk itu semakin dekat tak terhindarkan lagi. Akram sendiri langsung membanting kendali untuk menyelamatkan mereka berdua, meskipun tampaknya apa yang dilakukannya itu sudah terlambat.
Suara hantaman terdengar memekakkan telinga begitu truk itu menabrak mobil mereka, menciptakan guncangan keras luar biasa yang pasti akan membuat tubuh Elana terlempar ke luar jendela kalau saja dia tidak mengenakan sabuk pengaman dan kalau saja airbag mereka tidak langsung mengembang untuk melindungi tubuhnya dari benturan dan kerusakan fatal...
__ADS_1