Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 18 : Mustahil Membunuh


__ADS_3


 


Eps 4/6 Minggu Ini


***


Matahari masih menyambut di atas langit saat pesawat jet pribadi mereka mendarat di area privat bandara yang sudah disiapkan untuk pendaratan pesawat mereka.


Pesawat yang mereka tumpangi memiliki kecepatan 3 kali lipat lebih unggul dibandingkan pesawat komersil biasa, sehingga waktu tempuhnya bisa dipangkas hingga sepertiganya. Sebagian besar dari waktu perjalanan itu pun, malahan digunakan oleh Sera untuk tidur pulas hingga hampir-hampir tak membuka mata.


Sepertinya efek obatnya semalam berlumlah perlina dari aliran darahnya, meninggalkan jejak kantuk yang terus menerus menstimulasi otaknya supaya tertidur dan mengistirahatkan beban saraf neuronnya yang kemarin telah distimulasi berlebihan.


Xavier tampaknya juga tak keberatan dengan hal itu. Lelaki itu tak banyak bicara sejak mereka memasuki pesawat dan memilih membiarkan Sera beristirahat, sama sekali tak mengganggunya. Mungkin semua itu dilakukannya dengan maksud memberikan kesempatan bagi Sera untuk mengumpulkan tenaga guna menghadapi hal-hal berat yang akan terbentang di depannya.


Saat salah seorang awak kabin membangunkan Sera, pesawat itu ternyata sudah mendarat dengan mulus tanpa Sera menyadarinya. Dia membuka mata dan langsung berhadapan dengan Xavier yang sudah berdiri menunggu sambil mengawasinya santai, seolah memiliki kesabaran tak terbatas di dalam jiwanya.


Mereka membawa rombongan ke tempat ini, sebagian besar merupakan para bodyguard dan pelayan khusus berbaju elegan dengan ekspresi kaku seperti robot, yang bertugas mengurus dan menyiapkan segala sesuatu, termasuk koper dan barang-barang dalam kotak-kotak hitam besar yang diangkat dengan hati-hati menuruni pesawat.


Sera bahkan tak berani menebak-nebak tentang benda-benda mengerikan semacam apa yang Xavier bawa ke tempat ini. Mungkin itu senjata, atau bahkan yang lebih mengerikan lagi, bisa saja itu adalah racun dalam tabung-tabung kaca yang dipersiapkan untuk rencana kejam Xavier di tempat ini.


"Ayo." Xavier bergumam pelan setelah semua bawaan mereka diturunkan. Lelaki itu menunggu sampai Sera bangkit berdiri dari kursinya, lalu membalikkan tubuh dan melangkah keluar menuju tangga pesawat sambil memberi isyarat supaya Sera mengikutinya.


Xavier seperti menyimpan sesuatu, hampir-hampir tak mengajak Sera berkomunikasi sepanjang perjalanan di atas pesawat tadi. Seolah-olah lelaki itu sedang fokus pada sesuatu yang lain....


Sera sendiri tak punya pilihan lain selain mengikuti di belakang Xavier. Dia melangkah melewati ambang pintu pesawat yang terbuka, mengangguk sedikit kepada awak kabin yang mengangguk hormat di sana, untuk menghantarkan kepergiannya.


Hawa dingin seketika menerpa wajahnya saat Sera menjejakkan kakinya menuruni anak tangga pesawat, meniupkan udara membekukan yang langsung membuat hidung dan pipinya memerah. Sera merapatkan kerah mantel bulu angsa yang dipakainya dan mencoba mengabaikan proses tubuhnya yang serang beradaptasi dengan perbedaan musim yang kontras.


Tubuhnya akan segera menyesuaikan diri. Bagaimanapun, dahulu dia pernah tinggal lama di tempat ini.


Tanpa rencana dan tanpa persiapan, Sera telah dibawa untuk menginjakkan kakinya kembali ke tempat ini. Ke negara dimana dirinya telah direnggut dari akar indah yang melingkupi, lalu diterjunkan ke rawa-rawa kelam yang penuh dengan batu tajam mengiris jiwa dan raga.


Di tempat ini... semua siksaan dan kesakitan telah ditanggungnya selama bertahun-tahun...


Sera merasakan gemetar mulai merayapi tubuhnya. Dirinya langsung mencoba menguasai emosinya, menjaga supaya tak sampai lepas kendali dan mempermalukan dirinya sendiri lagi seperti kemarin.


Tidak. Sera harus berpikiran dingin dan berjuang membendung semua kenangan buruknya yang sedang berusaha merangsek keluar saat dia berada di tempat terkutuk ini.


Dia harus kuat. Kali ini, dia harus benar-benar kuat!


Beberapa mobil berwarna hitam legam yang dijaga oleh orang-orang berjas gelap tampak sudah menunggu di bawah sana. Mereka semua bersikap sangat sopan, memberi salam dan membungkuk dalam saat berhadapan dengan Xavier yang melangkah mendekat dengan Sera mengikuti di belakangnya, ke arah salah satu mobil yang telah menunggu dengan pintu penumpang yang telaj dibuka.


"Tuan Dimitri telah melakukan apa yang anda perintahkan. Semua telah siap di sana." Salah seorang pria berpakaian gelap itu langsung berucap setelah memberi salam. "Mari ikut kami," sambungnya kemudian.


Xavier hanya menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangannya ke arah Sera tanpa kata. Kali ini, Sera tahu bahwa waktunya tidak tepat untuk pertunjukan pembangkangan demi menunjukkan kekeraskepalaannya. Karena itulah, tanpa menyanggah, Sera menerima uluran tangan tersebut.


Xavier membantunya masuk ke dalam mobil dan menyusul duduk di sebelahnya. Lalu kendaraan itu melaju, membawa mereka ke tujuan yang sampai detik ini tidak berani ditebak oleh Sera.



"Dimitri yang dikatakan oleh orang tadi, apakah dia Dimitri yang sama dengan yang itu?" Setelah mengamati bahwa ada semacam sekat pemisah yang tidak tembus suara ditempatkan di antara sisi supir dan penumpang, barulah Sera berani bertanya.


Xavier yang bersedekap sambil bersandar santai pada kursi penumpang dalam duduknya di sebelah Sera, tampak melirik dengan malas mendengar pertanyaan Sera.


"Dimitri yang mana?" Xavier malah balik bertanya, bersikap pura-pura bodoh.


Sera menipiskan bibir menahan kesabaran. "Dimitri yang menjadi pemimpin grup Mafia paling berkuasa di negara ini? Kau pasti tahu tentang dia, kan? Apakah yang dimaksud orang tadi adalah Dimitri yang itu?"


"Ah, kau memang pandai, Serafina Moon." Xavier menyeringai ke arah Sera, entah kenapa lelaki itu suka menyebutkan nama lengkap Sera dengan nada lambat-lambat seolah ingin mengejeknya. "Kau benar. Dia memang Dimitri yang itu."

__ADS_1


Sera mengangkat alisnya. "Bagaimana bisa? Waktu itu, berita tersebar luas bahwa Dimitri berhasil memgambil alih pabrik senjata milik Akram Night dan juga pabrik senjata biologis milikmu. Itu berarti Dimitri berhasil menaklukkan kalian. Bagaimana bisa sekarang Dimitri malahan bersikap seperti anak buah yang melayani majikannya?" Sera menyuarakan pikirannya dengan segera, tak bisa menahan rasa penasarannya.


Xavier mengangkat alis, kali ini senyumnya tidak ditahan-tahan lagi.


"Menurutmu, kenapa?" Sekali lagi, Xavier menjawab pertanyaan Sera dengan pertanyaan kembali.


Mata Sela melebar ketika otaknya langsung meneriakkan jawabannya tanpa harus berpikir keras.


"K-kau...kau meracuni Dimitri?" simpulnya seketika,


Xavier tak menampik. Lelaki itu memiringkan kepala, sedikit menunduk dan mengawasi Sera dengan saksama.


"Manusia akan lebih menurut kepada orang yang memegang kunci kelangsungan hidupnya. Karena itulah, untuk orang-orang yang ingin kukuasai, aku selalu menggunakan racun yang hanya dirikulah yang bisa membuat penawarnya." Xavier merendahkan nada suaranya. "Mereka semua yang teracuni olehku, mereka tidak akan menemukan penawarnya dibelahan bumi mana pun, mereka juga tidak akan bisa memetakan susunan kimiawi racunnya sehingga tak akan bisa membuat sendiri penawarnya. Sementara aku, aku seorang dirilah yang tahu bagaimana membuat penawar racun itu. Hanya aku yang tahu dan aku menyimpannya diam-diam di dalam kepalaku ini," Xavier menyentuh kepalanya dengan sikap menggoda. "Dan tidak ada satu pun stock penawar yang tersedia untuk digunakan, karena aku sengaja tidak membuatnya. Aku hanya akan membuatnya jika benar-benar diperlukan."


Xavier memberi jeda sejenak supaya Sera memahami kalimatnya sebelum dia kemudian melanjutkan, membantu Sera membuat kesimpulan mengerikan.


"Jadi Sera, jika kau ingin membunuhku, kau harus berpikir panjang. Kau tidak tahu ada berapa orang di luar sana yang diracuni olehku, dan menggantungkan hidup mereka pada penawar yang rumusannya hanga tersimpan di dalam isi otakku. Kau harus tahu bahwa tidak semua dari mereka adalah orang jahat. Contohnya, kepala pelayanku. Dia orang biasa, seorang ayah dari empat anak perempuan yang masih remaja. Tetapi, karena dia bekerja kepadaku, maka dia menerima racunku. " Xavier menatap Sera yang memucat dengan seringai kejam. "Termasuk dirimu, Sera, kau juga teracuni. Ingatlah bahwa jika aku mati, maka kau dan banyak orang lainnya akan kubawa mati bersamaku."


Keheningan membentang di dalam ruang kabin kursi penumpang mobil itu. Sera terpaku, membeku, menyadari kenyataan mengerikan bahwa musuhnya, Xavier Light, selain sangat licik, juga sangat kejam. Lelaki itu tak segan-segan membawan nyawa-nyawa tak berdosa untuk terjun dalam jurang kegelapan bersamanya, jika memang diperlukan.


Jadi... apakah semua usahanya selama ini sia-sia? Karena bagaimanapun caranya, Sera tak akan mungkin bisa membunuh Xavier?


Pada situasi saat ini, mustahil membunuh Xavier. Kecuali, jika dia memang berniat ikut mati dan juga bersedia menanggung dosa karena membawa para korban tak bersalah untuk ikut tercabut nyawanya bersama lelaki itu....


"Tidak mustahil."


Xavier tiba-tiba berucap seolah bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam benak Sera. Hal itu membuat Sera menengadah segera, menatap lelaki di sampingnya tersebut dengan tatapan mata bingung.


"Apa maksudmu?"


Xavier balas menatap Sera penuh arti.


Sera membeliak. "Apa?" tanyanya tak percaya. Seolah-olah telinganya menjadi bebal dan tak sanggup mencerna apa pun yang dikatakan oleh Xavier.


"Kau tahu aku tertarik kepadamu. Kau bisa merayuku, membuatku tergila-gila kepadamu dan membuatku berlutut di kakimu. Setelahnya, kau bisa memerintahkanku membuat semua serum penawar itu sebelum kemudian membunuhku." senyum Xavier menyiratkan hasrat penuh makna. "Kau tahu, mungkin aku tak keberatan. Sebab, aku yakin kalau aku akan mati dengan bahagia."


Perkataan Xavier segera membuat Sera mendengkus marah.


"Jangan membuat candaan yang menjijikkan," serunya dengan nada mencela yang pekat.


Sayangnya, apa yang dikatakan oleh Sera tanpa pikir panjang itu ternyata menyulut Xavier dengan cepat, membuat lelaki itu tiba-tiba meraih pundak Sera, lalu mendorongnya berbaring tanpa daya di kursi penumpang, sebelum kemudian Xavier menempatkan tubuhnya di atas Sera.


Mata Sera melebar, menatap panik ke arah Xavier yang membungkuk di atasnya. Lelaki itu menahan kedua tangan Sera di sisi kiri dan kanan kepalanya, mencengkeram dengab pergelangannya kuat.


Tubuh Xavier bergerak perlahan, memerangkap Sera hingga Sera laksana tikus masuk jebakan ular, terjepit dan tak bisa bergerak.


"Kau... kau mau apa?" seru Sera dengan panik.


Xavier mendekatkan wajahnya ke wajah Sera, matanya tajam, penuh dengan hasrat bercampur percikan api kemarahan yang masih disembunyikan dengan baik di dalam sekam.


"Aku hanya ingin memastikan bagian mana dari candaanku yang menjijikkan untukmu." Xavier mendesis dengan geraham mengetat. "Apakah itu tentang kau yang merayuku... ataukah itu tentang aku yang tergila-gila kepadamu." ketika berbicara, bibir Xavier sudah menempel dekat ke bibir Sera. Lelaki itu mencicip sedikit dengan menggoda sebelum mendesahkan kalimat janji penuh makna tepat di bibir Sera. "Karena dengan senang hati, aku akan menunjukkan kepadamu bahwa tak ada satu pun yang menjijikkan dari kedua hal itu."


Bibir Xavier mulai menjajah bibirnya, Sementara, Sera yang terperangkap di antara kursi mobil yang berguncang lembut di atas jalanan aspal mulus di bawah kepalanya dan Xavier yang bersiap memiliki di atasnya, akhirnya menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menghindari ciuman Xavier dengan memalingkan kepala sekuat tenaga hingga lehernya terasa sakit.


"K-kau gila! kita ada di dalam mobil yang sedang berjalan!" Sera berseru putus asa, mencoba mengembalikan kesadaran Xavier yang kini seolah berkabut dibuai hasrat.


Xavier terkekeh. "Supir tak akan mengganggu kita. Kau tentu sudah melihat sekat kedap suara itu, yang memisahkan kabin penumpang dengan kabin supir. Lagipula, apa salahnya jika kita melakukannya di dalam mobil? Aku bukannya belum pernah melakukannya sebelumnya, dan kupikir, baik di dalam mobil, maupun di atas ranjang, sama-sama nikmatnya."


Mata Sera melebar ketakutan, rona wajahnya hilang sudah, memucatkan wajahnya seolah aliran darah tersirap dari kepalanya.


"Kau... kau memang gila!" Sera mulai memberontak, dia berusaha melepaskan dirinya sekuat tenaga. Tangannya berusaha meronta meskipun cengkeraman Xavier di sana begitu kuatnya. Kakinya menjejak tak kenal lelah, berusaha menendang ataupun menyakiti lelaki bengis yang menindihnya ini. Sekuat tenaga, Sera mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersimpan pada buliran sel tubuhnya untuk mendorong semua gerakan penolakan yang bisa dia lakukan.

__ADS_1


Sepertinya Sera berhasil dengan caranya itu. Karena, meskipun Xavier tampaknya tidak kesulitan meredam rontaan Sera dengan tubuh kuatnya, tetap saja seluruh gerakan Sera itu berhasil membuat mobil yang mereka kendarai berguncang hingga menarik perhatian supir mereka yang langsung menyalakan intercom penghubung ke kabin penumpang.


"Apakah ada masalah, Tuan?"


Suara supir itu yang menguar dari intercom penghubung tersebut, langsung memenuhi seluruh area kabin, membuat baik Xavier maupun Sera sama-sama tertegun mendengarnya.


Xavier berdecak tak suka, lalu menjawab dengan nada dingin.


"Tidak ada masalah. Aku hanya sedang menghibur wanitaku di sini. Matikan intercom-mu dan fokuslah menyetir ke depan. Sebab, jika kau mengganggu lagi, aku tak akan segan-segan menembak kepalamu dari belakang."


Senyap membentang beberapa detik, sebelum kemudian supir malang itu berucap dengan nada gemetaran.


"Baik, Tuan. K-kita akan segera sampai tak lama lagi."


Lalu hening. Sudah bisa dipastikan hubungan intercom itu tak akan pernah tersambung lagi.


Pada saat yang sama, Sera bergerak cepat, mengambil kesempatan sebelum perhatian dan kendali Xavier teralihkan kembali ke arahnya.Dia meronta kembali, berteriak keras penuh peringatan ke arah Xavier,


"Lepaskan aku!"


Kali ini, Xavier tak menahan. Kedua tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Sera membuka, pun dengan tubuhnya yang tak lagi memerangkap perempuan itu.


Xavier bangkit, lalu kembali ke tempatnya semula. Sementara, Sera dengan terengah dan panik bergegas melenting duduk dan menggeser tubuhnya secepat dia bisa ke sisi paling pinggir kursi, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Xavier.


"Tenang saja." Xavier tersenyum mengejek ke arah Sera. "Minatku sudah hilang, jadi aku tak akan menyentuhmu... kali ini." Kalimat Xavier mengambang di udara, dipekati oleh nada misterius seolah-olah lelaki itu melepaskan Sera hanya untuk kali ini saja, tetapi tidak di kesempatan berikutnya.


Ketika mata Sera masih membeliak waspada, antara ketakutan dan tak percaya dengan integritas Xavier, lelaki itu hanya menipiskan bibir, lalu mengalihkan pandangannya ke pemandangan di jendela luar, sebelum kemudian menoleh kembali ke arah Sera dengan kilat keji penuh semangat di matanya.


"Buang kekhawatiranmu terhadapku. Untuk sekarang, kau harus fokus pada yang satu ini dulu," ucap Xavier dengan nada tegas penuh makna sebelum kemudian menyambung kembali dengan riang, "Karena kita sudah hampir sampai."


Perubahan nada suara Xavier dari sebelumnya penuh hasrat dan beralih menjadi serius berhasil mengalihkan perhatian Sera. Dia lalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Xavier, menatap pemandangan luar jendela mobil yang melaju, untuk melihat kemana sesungguhnya mobil ini menuju.


Lalu, seberkas pengenalan langsung memerciki otak Sera. Pepohonan pinus yang berlumur salju putih ini, jalanan lurus berlapis salju tebal yang menampilkan pola alur panjang jejak ban mobil yang melintasi permukaannya ini....


Sera hapal dengan tanjakan panjang yang saat ini sedang mereka lalui, dia bahkan tahu persis bahwa beberapa ratus meter ke depan, akan ada tikungan curam yang membentuk lengkung elips tipis berbatas jurang.


Lalu setelah tikungan itu... akan ada rumah besar serupa castil yang membentang megah di sisi kanan jalan... dan itu adalah Rumah peristirahatan milik Keluarga Dawn.


Tubuh Sera gemetaran ketika dia menyadari kemana mereka akan menuju. Kepalanya menoleh, menatap Xavier dengan bibir terbuka yang juga gemetaran, tak mampu mengucap kata sebab suaranya tersekat di tenggorokan.


Tapi, Xavier memang tak perlu mendengar pertanyaan dari Sera untuk mengemukakan jawabannya. Bibirnya tersenyum kembali. Kali ini, kekejian dan nyala api membunuh di matanya sudah terbebas lepas, tak lagi tersembunyi dalam sekam.


"Aku sudah tak sabar untuk menyapa Roman dan Samantha Dawn. Bagimana denganmu, Sera? Kau pasti juga sudah tak sabar untuk menabur rindumu kepada mereka, bukan?"


 




 


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR


Thank You. By AY

__ADS_1


__ADS_2