Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 67 : Terbakar Api


__ADS_3

“Aku tak menyangka kalau kau juga mengundang istriku.”


Demi kesopanan, Xavier berdiri dari duduknya dan menarikkan kursi yang tadi didudukinya untuk Sera. Suaranya terdengar halus, tetapi saat berucap, tatapannya tajam menusuk ke arah Akram yang menyusul istrinya masuk ke ruangan itu dengan ekspresi tak bersalah.


Akram mengangkat alisnya. Tentu saja lelaki itu menyadari dengan jelas tatapan penuh tuduhan yang dilemparkan oleh Xavier kepadanya. Dia lalu mengangkat bahu tanpa beban.


“Elana yang mengundang Sera datang kemari. Kau tahu, dua ibu hamil ini sudah lama ingin bersua dan menghabiskan waktu untuk mengobrolkan dan berbagi pengalaman kehamilan satu sama lain.” Akram merangkul Elana erat, seolah-olah ingin menunjukkan perlindungan bagi istrinya itu. “Tidak ada hubungannya denganmu,” sambungnya kemudian dengan suara yang tak kalah menusuk.


Xavier segera mengalihkan pandangannya ke arah Elana. Tetapi, perempuan itu malahan menatapnya dengan tatapan berbinar yang penuh senyum, seolah-olah Elana adalah malaikat tanpa dosa yang tak menyembunyikan rencana apapun di belakang punggungnya.


Akhirnya Xavier menghela napas panjang. Jika menghadapi Akram, mungkin dia siap berkonfrontasi, tetapi jika menghadapi Elana, Xavier tahu bahwa dirinya akan luluh dan memilih mengalah saja.


Dialihkannya pandangannya ke arah Sera yang sudah melangkah ke dekatnya. Matanya mempelajari ekspresi Sera yang datar dan tak menyiratkan emosi apapun selain senyum formal nan kaku di bibirnya yang diulaskan hanya demi pertunjukan semata. Xavier akhirnya ikut mengulas senyum, dia lalu memundurkan tubuhnya dan memberi jalan supaya Sera duduk di kursi yang telah ditarikannya, sebelum kemudian lelaki itu mengambil tempat duduk di sebelahnya.


Xavier kemudian berucap ke arah Elana, mencoba menjelaskan kenapa dia begitu terkejut melihat kehadiran Sera di acara makan malam ini.


“Maafkan reaksiku yang berlebihan. Aku hanya mencemaskan keadaan Sera yang masih hamil muda. Kondisinya masih rentan dan kupikir yang paling aman bagi Sera adalah berdiam di rumah dan mengambil waktu beristirahat sebanyak mungkin….”


“Aku baik-baik saja, Xavier.” Sera menyela dengan suara dingin yang tajam. “Kau bisa melihatnya sendiri, kan?” sambungnya lagi bertanya.


Xavier langsung menghentikan kalimatnya ketika disela, lelaki itu kemudian menolehkan kepala ke arah Sera, mengawasi dengan pandangan menyelisik yang sengaja, memindai keseluruhan diri Sera hingga membuat perempuan itu jengah, sebelum kemudian sebuah seringaian penuh ironi muncul menghiasi bibirnya.


“Ya. Syukurlah, kau tampak sehat dan baik-baik saja.” Mata Xavier menatap tajam sebelum kemudian menambahkan kalimatnya dengan sengaja, “dan juga sangat cantik,” sambungnya penuh arti.


Rona merah langsung menghiasi Sera, tetapi perempuan itu berusaha menahan diri supaya tak menunjukkan emosinya.


“Terima kasih,” jawabnya singkat, sekali lagi berucap hanya demi kesopanan.


Nuansa canggung dari pasangan suami istri itu seolah menyebar ke seluruh ruangan, membuat Elana melemparkan tatapan mata penuh arti ke arah Akram yang langsung memberi isyarat kepada istrinya supaya tidak ikut campur.


“Halo.”


Sebuah suara lembut nan maskulin tiba-tiba saja terdengar dari sebelah Sera. Pada saat itu, barulah Sera menyadari bahwa ada orang lain yang duduk di sebelahnya. Sera menolehkan kepala dan matanya langsung melebar ketika matanya menemukan sosok tampan nan elegan dalam balutan jas hitam yang menempel rapi di tubuhnya.


Lelaki itu tampak begitu sempurna, seolah setiap inci penampilannya telah diperhitungkan dengan saksama untuk memesona orang lain. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang terlepas dari penataan sisiran ke belakangnya yang elegan. Semua kesempurnaan itu, masih ditambah dengan wajah kuat dengan garis aristokrat kental yang tersusun indah dan pastinya membuat jantung siapapun, termasuk Sera, berdesir karenanya. Tetapi desiran yang dirasakan oleh Sera, tentu saja tidak mempunyai arti lebih. Itu hanyalah desiran biasa seorang perempuan yang melihat keindahan penampilan lawan jenisnya yang patut diapresiasi dan dikagumi.


Mata Sera melebar ketika dia akhirnya mengenali sosok di sampingnya itu. Credence Evening. Sera mengetahui tentang lelaki itu ketika dia sedang mempelajari tentang Xavier. Credence Evening adalah salah satu pendukung Xavier dan bisa disebut teman baiknya. Yang paling pasti, meskipun penampilannya tampak begitu sopan dan elegan, penampilan Credence sama menipunya dengan pesona Xavier Light yang murah senyum. Sera tahu bahwa Credence sama berbahayanya dengan Xavier, karena itulah dia sadar bahwa dia harus sangat berhati-hati di depan lelaki ini.


Mata Credence yang tajam langsung mengetahui makna pengenalan yang tampak jelas di mata Sera. Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya dengan penuh rasa percaya diri ke arah Sera.


“Sepertinya kau sudah tahu siapa aku. Tetapi, alangkah baiknya jika aku bersikap sesuai norma dengan memperkenalkan diriku terlebih dulu. Aku Credence Evening, bisa dibilang aku adalah sahabat Akram dan Xavier sejak muda. Maafkan aku tidak menghadiri pernikahanmu dengan Xavier. Seandainya saja waktu itu Xavier memberitahuku, aku pasti akan mengosongkan jadwalku dan memastikan untuk datang. Sayangnya, Xavier rupanya telah melupakan keberadaanku sehingga tak mau repot-repot menyampaikan kabar gembira ini kepadaku.” Credence tersenyum penuh perhitungan, sementara matanya melirik ke arah Xavier yang balas menatap tajam dari sebelah Sera.


Seringaiannya semakin lebar ketika tangan mungil Sera menyahuti uluran tangannya tanpa pikir panjang. Dengan penuh semangat, digenggamnya tangan Sera dan diguncangnya sedikit.


“Senang berkenalan denganmu, Serafina Moon, kuharap kita bisa berteman baik.”


Sera mengangkat alis ketika menyadari bahwa Credence sengaja menunjukkan bahwa lelaki itu sudah mengetahui tentang dirinya dengan menyebutkan nama lengkapnya secara gamblang. Tetapi, dia memilih tidak bereaksi apa-apa, dan hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi.


Entah kenapa Sera merasakan ketidaknyamanan dari tubuh Xavier yang menegang di sampingnya, pun dengan mata Xavier yang secara terang-terangan menusuk tajam ke arah jabatan erat tangannya dengan Credence.


Sayangnya, seolah ingin menantang Xavier, Credence malahan membawa tangan Sera ke bibirnya, lalu mengecupnya dengan sikap elegan yang sopan tetapi menyiratkan keintiman, sebelum kemudian melepaskannya.


Pipi Sera memerah merasakan panasnya kecupan bibir Credence yang tidak terduga di punggung tangannya. Tanpa sadar, Sera menggenggam tangannya sendiri dan mengusapnya dengan canggung. Hal itu tentu saja tak lolos dari tatapan Xavier yang mengawasi lekat, membuat kobaran api kemarahan menyala di mata Xavier.


Seketika itu juga, Xavier melemparkan tatapan mata penuh peringatan ke arah Credence yang hanya tersenyum tenang seolah tak peduli.


Suasana canggung yang tak mengenakkan kembali menggayuti udara di seluruh ruangan itu, membuat nuansanya menyesakkan dan mengunci tenggorokan hingga membuat semua kata terucap jadi tertahan di leher masing-masing.


Beruntung di saat bersamaan, para pelayan datang membawa masuk hidangan di nampan perak yang menguarkan aroma harum menggoda indra penciuman, perhatian mereka pun teralih, memudarkan nuansa canggung yang tadinya sempat memenuhi ruang makan itu.


***

__ADS_1


Setelah selesai acara makan malam, para lelaki memilih melanjutkan minum di bar yang ada di ruang duduk, sementara di seberang ruangan, Sera sedang duduk berdua dengan Elana di sofa besar yang menempel di dinding. Tampak Elana membuka album foto masa kecil Zac dan menunjukkannya kepada Sera yang menatapnya penuh minat.


Xavier sendiri menyesap brendinya, lalu membanting gelas kristalnya di meja bar sambil menatap tajam ke arah Akram dan Credence.


“Kenapa Xavier? Kau tampak murung.” Tanpa rasa bersalah, Credence menggoyang-goyangkan es batu di gelas kristalnya sambil memasang senyum.


Xavier mengerutkan kening ke arah Credence, dan matanya langsung menyipit tajam.


“Kenapa kau tiba-tiba saja ada di negara ini dan memiliki waktu untuk makan malam di sini? Bukankah kau bilang bahwa kau sangat sibuk dengan pekerjaanmu sehingga tak punya banyak waktu luang?”


“Aku memang tak punya banyak waktu luang.” Credence mengangkat bahu. “Aku kemari untuk urusan pekerjaan. Sesuai jadwalku, aku harus mengurus beberapa cabang perusahaan di sini. Lagipula, aku sangat terkejut ketika mendengar kabar pernikahanmu dari Akram. Kenapa kau tak mau repot-repot memberitahuku, Xavier? Bahkan sampai istrimu sudah hamil pun, kau tak mengabariku.”


“Untuk apa aku mengabarimu?” Xavier menjawab dengan dingin. “Kau tak sedekat itu denganku. Bahkan jika aku mati pun, kau tidak masuk ke dalam prioritas orang yang perlu diberi tahu.”


“Tentu saja aku perlu tahu.” Credence tetap memasang senyum tenangnya, lelaki itu tampaknya tidak tersinggung dengan jawaban ketus Xavier.  “Apa kau lupa kalau aku memiliki saham di beberapa perusahaanmu?”


“Jika aku mati, aku akan memastikan kalau perusahaanku tidak ikut mati.” Xavier bersungut-sungut, matanya masih melirik ke arah Akram yang diam saja sambil menyesap minumannya. “Apa sebenarnya rencanamu malam ini, Akram? Kau sengaja mempertemukanku dengan Sera di acara makan malam ini, bukan?”


Akram menggelengkan kepala sedikit, matanya menyipit. “Sudah kubilang kalau Elanalah yang mengundang Sera. Tidak ada hubungannya denganku,” jawabnya datar. “Lagipula, kenapa kau harus tak senang? Bukankah seharusnya kau senang karena bisa melihat keadaan istrimu secara langsung dan memastikan kehamilannya sehat?”


Xavier menipiskan bibir. “Aku tak perlu menemuinya langsung untuk memantau keadaannya,” sahutnya dingin.


“Jadi, selama ini diam-diam kau memasang kamera untuk mengawasi istrimu itu? Atau kau meminta seluruh pegawaimu memata-matai istrimu sendiri?” Credence ikut campur dalam percakapan, menyela kalimat Xavier dengan rasa tertarik. Ketika Xavier memilih mengabaikan pertanyaanya, lelaki itu tak juga menyerah. “Kenapa aku merasa bahwa pernikahanmu ini bukanlah pernikahan yang biasa, Xavier? Bagaimana bisa seorang suami memisahkan diri dari istrinya yang sedang hamil anaknya dan bukannya mendampingi?”


“Perihal pernikahanku memang bukanlah urusanmu. Memangnya kau tidak punya hal lain yang lebih penting untuk kau urusi?” Xavier mengangkat alis ketika melihat ketertarikan Credence yang tak biasa. “Lagipula, pernikahanku ini memang bukanlah pernikahan biasa, ini hanyalah pernikahan berdasarkan kesepakatan timbal balik. Aku memberikan bantuanku kepada Sera dan sebagai balas budi, Sera bersedia melahirkan anak untukku.”


“Jadi, jika pernikahan ini hanya pernikahan teknis, maka kehamilan istrimu juga didapatkan dengan cara teknis? Maksudku, jika memang berdasarkan kesepakatan kerjasama saja, berarti kalian melakukan semacam inseminasi buatan atau mungkin bahkan bayi tabung, bukan?” Credence mengerutkan kening, tampak berpikir keras. “Kalau begitu, memang benar kalau dibilang bahwa kemungkinan istrimu mengandung bayi kembar sangat besar. Jenis pembuahan dengan campur tangan tindakan medis memang bisa diatur menyangkut jumlah embrio yang akan ditumbuhkan di dalam kandungan.”


Xavier berdehem, tampak kehabisan kata ketika mendengarkan pertanyaan Credence itu.


“Tidak. Tidak ada campur tangan medis. Pembuahannya alami,” jawabnya kemudian dengan nada suara enggan.


Credence mengangkat alis. “Jadi, kalian bersetubuh untuk menghasilkan kehamilan itu? Dan kau bilang itu hanyalah pernikahan berdasarkan kesepakatan saja?”


“Sudah kubilang pernikahanku hanyalah kesepakatan.” Xavier tidak pernah membiarkan dirinya mabuk, dirinya memiliki ketahanan yang cukup kuat dengan alkohol sebelumnya, tetapi malam ini, dia minum lebih banyak dari biasanya, membuatnya sedikit lepas kontrol. Matanya menyipit, menatap ke arah Credence dengan sikap menyelidik terang-terangan. “Lagipula, kenapa kau begitu peduli dengan kehidupan pernikahanku, Credence? Biasanya kau hanya memikirkan masalah bisnis dan tak peduli dengan masalah pribadi. Apa yang membuatmu berubah menjadi semacam wanita-wanita penggosip yang sangat suka mencampuri kehidupan orang lain?”


Credence mengangkat bahu. Sejak tadi dia terlihat santai, tetapi ketika berucap kali ini, lelaki itu membalas tatapan Xavier dengan tatapan tajam yang sama, sinar matanya seolah menantang, mengukur-ngukur sampai di mana batas kesabaran Xavier terhadap ucapannya.


“Karena… Sepertinya, Serafina Moon masuk ke dalam kriteria wanita idamanku. Aku sedang menimbang-nimbang apakah aku akan maju mendekatinya atau tidak. Jika memang kehidupan pernikahanmu memang hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, maka bukan masalah bagimu jika aku mendekati Sera, kan?”


Mata Xavier membeliak, kali ini, kemarahan tampak langsung membakarnya, membuat seluruh tubuhnya menegang dan tangannya mengepal.


“Apakah kau sudah gila? Serafina Moon sekarang sedang mengandung anakku! Pria tak bermoral mana yang mendekati perempuan yang sedang hamil anak lelaki lain?” serunya dalam geraman.


Credence menyeringai. “Sudah sejak lama kau mengenalku, kau pasti tahu bahwa moral bukanlah pertimbangan utamaku,” jawabnya dengan nada keras kepala.


Seketika, Xavier langsung menolehkan kepalanya ke arah Akram, tatapan menuduhnya ditujukan tajam kepada saudara tirinya itu.


“Ini pasti rencanamu, bukan? Aku bukan orang bodoh, dan aku bisa menebak semua skenario ini dengan jelas dari awal. Kau yang menyuruh Credence mendekati Sera, kan?  Apakah kau masih mau menyangkal?”


“Aku tidak menyangkal.” Akram menjawab tenang, matanya melirik sedikit ke arah Sera dan Elana yang tampak asyik mengomentari setiap foto yang ditunjukkan Elana dari album foto Zac kesayangannya. Dua makhluk itu tampaknya tak mendengar percakapan mereka dan asyik sendiri di seberang sana. “Aku memang meminta Credence mendekati Sera. Memang apa salahku? Jika Credence bersedia dan Sera menyambut, bukankah itu bisa menjadi keuntungan bagimu? Kau sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kematianmu, bukan? Tidakkah kau senang karena aku membantumu menemukan penjaga yang tepat untuk Sera dan anak-anaknya nanti jika kau benar-benar telah pergi meninggalkan mereka dan tak ada lagi di dunia ini untuk menjaga mereka di masa depan nanti? Jika Credence dan Sera menemukan kecocokan, kurasa itu adalah hal paling baik untuk kalian semua.”


Akram sengaja bersikap kejam, melemparkan niat Xavier ke mukanya sendiri supaya lelaki itu memikirkannya. Dan sikap kejamnya menusuk Xavier sampai ke palung hati terdalamnya, membuatnya tertegun hingga tak mampu berkata-kata.


Keheningan langsung merayapi ketika para lelaki itu memilih menyesap minumannya masing-masing, seolah ketiganya sibuk dengan pikirannya sendiri. Akramlah yang akhirnya memutuskan meninggalkan keheningan kaku itu dengan menyeberangi ruangan dan melangkah ke arah istrinya.


“Wanita hamil, ini sudah malam, bukankah sudah waktunya kau tidur?” ujarnya dengan nada lembut ke arah Elana. Hari memang sudah beranjak malam, sudah hampir pukul sepuluh lebih, ditambah lagi, hujan teras tampak diguyurkan dari langit dan membasahi bumi di luar sana, masih pula ditambah angin kencang dengan suara ribut yang bersaing dengan kerasnya suara petir menyambar-nyambar. Kemungkinan besar, badai akan semakin menguat tengah malam nanti, sesuai perkiraan cuaca yang diumumkan sebelumnya.


Elana mendongakkan kepala, menatap suaminya dengan penuh cinta. Bayinya sudah lelap di boksnya setelah disusui tadi, dan sekarang dia juga merasa sedikit mengantuk. Tetapi, tentu saja dia tak akan melupakan Sera begitu saja. Pertemuan makan malam ini adalah rencananya, Elana tak akan berhenti sebelum bisa mencapai tujuannya, yaitu mempersatukan Xavier dan Sera.


“Kurasa sudah waktunya kami semua pulang sebelum badai menghantam. Aku akan pulang sekarang sebelum badai datang," Xavier melirik ke arah Sera yang langsung berubah murung ketika dirinya mendekat. “Kau juga butuh beristirahat, Elana,” sambungnya kemudian dengan nada lembut.

__ADS_1


“Aku juga sebaiknya pulang, sudah larut malam.” Sera menyahuti pelan, melirik ke arah jam di dinding lalu menilai selintas derasnya hujan yang terpantul dari kaca jendela.


Menghabiskan waktu bersama Elana terasa sangat menyenangkan, dia tadi menunggui Elana menyusui Zac sampai tidur dan setelahnya melihat foto-foto lucu Zac sambil mendengarkan kisah pengalaman kehamilan pertama Elana.


Semua itu terasa menghibur hatinya hingga tak terasa sudah beberapa jam berlalu sejak mereka menyelesaikan makan malam mereka. Sekarang, Sera sedang menghitung-hitung waktu pulangnya. Rumahnya terletak di pinggiran kota dan berada di lokasi yang paling jauh dibandingkan mereka semua. Butuh beberapa jam untuk bisa mencapai rumahnya. Sera hanya berharap dia bisa mencapai rumah sebelum badai besar datang menghantam.


“Apakah Credence akan akan menginap di sini malam ini?” Elana tiba-tiba bertanya dengan nada polos, menatap dengan mata besarnya ke arah Akram. “Rumah Xavier cukup dekat, jadi Xavier bisa pulang dengan aman sebelum badai datang. Tetapi, bagaimana dengan Sera? Sepertinya hujan badai akan semakin parah seperti yang dikatakan oleh perkiraan cuaca, aku mencemaskan Sera di perjalanan nanti karena rumahnya cukup jauh dari sini. Bolehkah kusiapkan kamar tamu supaya Sera bisa menginap malam ini?” Tanpa menunggu jawaban Akram, Elana menoleh ke arah Sera dan menggenggam tangannya. “Menginaplah di sini, Sera. Aku belum puas menghabiskan waktu bersamamu. Besok kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama, dengan Zac juga. Mungkin kita bisa berjalan-jalan untuk mencari perlengkapan bayi, seperti yang kita rencanakan tadi?”


“Aku bersedia mengantarkan kalian jika kalian ingin berjalan-jalan.” Credence tiba-tiba menyahuti di saat yang tepat. “Akram pasti sibuk bekerja besok, begitu pula dengan Xavier. Tetapi, aku mengambil waktu liburku esok untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan yang menumpuk. Aku tidak keberatan untuk menjadi supir dan bodyguard dua wanita hamil yang sama-sama memesona.” Dengan suara ramah, Credence menawarkan dirinya.


Elana tersenyum lebar.


“Kalau tidak merepotkan, kami akan senang sekali,” jawabnya menyetujui ke arah Credence dengan penuh rasa terima kasih. Perempuan itu lalu menolehkan kepalanya lagi ke arah Sera. “Jadi? Menginap saja malam ini ya, Sera?” tanyanya.


Sera baru saja membuka mulut untuk menjawab, tetapi Xavier tiba-tiba melangkah maju. Lelaki itu membungkuk dan mencengkeram lengan Sera sebelum kemudian dengan lembut ditariknya Sera supaya berdiri dalam gandengannya.


“Tidak. Sera akan pulang denganku.” Xavier memutuskan dengan nada dingin tak terbantahkan, menatap tajam ke arah semua orang yang ada di dalam ruangan itu –terutama ke arah Credence- dengan sikap keras. “Aku tidak sibuk besok. Untuk membeli perlengkapan bayi kami berdua\, aku bisa mengantarkan Sera sendiri." Kalimat Xavier terdengar penuh makna. Lelaki itu melirik sekilas ke arah jam tangannya\, lalu menyambung kembali ucapannya. “Kurasa kami harus bergegas pergi sebelum badai menghantam. Kami berpamitan dulu\, selamat malam.”


Tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk menyanggah, Xavier langsung menganggukkan kepala sopan, lalu menghela Sera yang lengannya masih dia cengkeram untuk mengikuti langkahnya meninggalkan ruangan, keluar dari rumah itu dan langsung menuju ke arah mobilnya yang sudah menunggu.


“Xavier.” Ketika mereka keluar dari rumah itu dan menyeberangi lobby untuk menuju ke arah mobil dengan supir yang sudah menunggu, Sera akhirnya memberanikan diri untuk memanggil nama lelaki itu. Entah kenapa ekspresi Xavier terlihat begitu gelap mengerikan, seolah-olah lelaki itu menyimpan bara di dalam jiwanya yang bisa meledak kapan saja. “Xavier,” Sera memanggil lagi ketika Sera tak mempedulikan panggilannya. Tangannya bergerak berusaha melepaskan cengkeraman Xavier di lengannya, tetapi lelaki itu malah menguatkan genggamannya, membuat Sera sedikit meringis kesakitan. Sera meronta, mengguncangkan lengannya dengan putus asa. “Xavier, lepaskan. Kau menyakitiku,” serunya kemudian.


“Diam.” Suara Xavier terdengar dingin dan tegas, menembus suara hujan deras yang bersimponi dengan angin dan petir. Lelaki itu membuka pintu mobil, lalu mendorong Sera masuk ke dalam kabin penumpang mobil sebelum dia menyusul di belakangnya, memerangkap Sera di mobil yang langsung melaju sesuai perintahnya.


Ketika Xavier memajukan tubuh ke arah intercom dan memberikan perintah tujuan perjalanan mereka kepada supir, Sera langsung terkesiap dan melemparkan pandangan penuh protes ke arah Xavier.


“Kau menyuruh supir ke hotel? Kenapa kau tidak mengantarku pulang ke rumah?” tanyanya khawatir.


Xavier menggelengkan kepala tipis. Gerahamnya tampak mengetat.


“Kita akan terjebak di dalam badai kalau memaksakan diri melanjutkan perjalanan. Menepi ke hotel untuk malam ini adalah keputusan terbaik.” Lelaki itu tiba-tiba menolehkan kepala dan menatap ke arah Sera dengan sinar mata penuh arti. “Lagipula, sudah lama kau tidak bertemu suamimu. Tidakkah kau ingin melepas rindu bersamaku?”


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2