Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 20 : Perempuan Keras Kepala


__ADS_3


"You are mine and i am yours. And no one in the world can alter that."


Jika Akram tidak punya apapun yang bisa digunakan untuk mengancam Elana, perempuan itu akan terus mencoba membangkang terhadapnya, dan bukan hanya itu, Akram takut jika dia terus mendesak Elana sampai ke batasnya, perempuan itu tidak akan ragu untuk melukai dirinya sendiri. Perempuan itu sudah pernah mencoba bunuh diri sekali dan Akram telah menggunakan segala jenis ancaman verbal yang mengerikan untuk menakuti Elana supaya tidak mencoba untuk kedua kalinya.


Tetapi, siapa yang tahu apa yang mungkin terjadi di masa akan datang? Bisa saja karena dia masih belum berhasil menundukkan hati Elana, perempuan keras kepala itu memutuskan untuk melukai dirinya lagi.


Apa yang terjadi kalau dia tidak ada ketika Elana sedang nekat dan dia tidak berhasil mencegah Elana melakukan perbuatannya?


Dirinya sudah tentu akan kehilangan Elana.


Memikirkan itu semua membuat jantung Akram terasa diremas, diliputi sebuah perasaan asing yang tidak dia sukai.


Memiliki kedudukan sebagai pemimpin yang berkuasa membuatnya mempunyai banyak musuh yang siap menusuk dari belakang jika dia lengah. Dan seperti metode yang diterapkannya pada orang lain, Akram tahu bahwa takut kehilangan sesuatu adalah sebuah kelemahan. Karena itulah sejak awal Akram melatih diri untuk membentengi jiwanya supaya tidak melembut.


Tidak pernah ada suatu benda pun yang dianggap terlalu bernilai bagi dirinya, juga tidak ada satu orang pun yang dirasa cukup berharga sehingga mampu membuatnya merasa takut kehilangan. Karena itulah ancaman dengan menyandera orang yang berharga baginya tidak mungkin bisa membuahkan hasil.


Musuh-musuhnya selalu kebingungan karena Akram tidak pernah ragu mengorbankan siapapun yang dekat dengannya untuk mencapai tujuan. Dahulu kala, pernah terjadi ketika musuhnya menculik dan menyandera salah satu kekasih Akram -yang mereka pikir paling disayangi oleh Akram- dan mencoba menekan Akram untuk menuruti kehendak mereka. Sayangnya, tujuan mereka tak tercapai, Akram hanya melenggang sambil lalu tanpa peduli dan malahan mempersilahkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan pada perempuan itu.


Tapi kali ini berbeda. Akram tidak ingin kehilangan Elana. Dia tidak bisa membayangkan perempuan itu tak ada di dunia ini. Dia tidak bisa membayangkan Elana berada di tempat yang ada diluar jangkauannya.


Mungkin itu semua hanya karena hasratnya masih begitu meluap-luap pada perempuan itu. Akram menyimpulkan sendiri dalam hati sementara keningnya berkerut dalam. Akram tidak pernah merasakan hasrat sebegitu besarnya pada seorang perempuan, karena itulah dia masih membutuhkan Elana di sisinya, sehingga Akram bisa menjelajah pengalaman sensual barunya terhadap Elana sepuas mungkin.


Meskipun begitu, untuk saat ini Akram tahu babwa dia harus menjaga supaya musuh-musuhnya tidak bisa menyadari betapa pentingnya Elana bagi dirinya. Kalau tidak, Elana akan berada dalam posisi berbahaya setiap saat karena mereka akan selalu mengincar Elana sebagai senjata pamungkas untuk menekan Akram.


"Tidak juga," Nathan mengambil waktu sejenak untuk mengawasi wajah Akram yang tampak berpikir keras. sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Akram sebelumnya dengan nada misterius,


Mendengar jawaban Nathan itu, Akram langsung mengangkat pandangannya dengan tertarik.


"Apa maksudmu?" tanyanya tak sabar.


"Balik halaman terakhir laporan dari Elios itu," Nathan menyeringai, seolah tak sabar melemparkan bom kejutan kepada Akram.


Dengan gusar dan tak sabar, Akram membalikkan lembar terakhir berkas laporan itu, dan tubuhnya menegang penuh antisipasi ketika membaca serta memahami isinya.


Ibu kandung Elana ternyata pernah melahirkan lagi seorang anak laki-laki sepuluh tahun yang lalu, dan karena anak itu sebatang kara setelah ibunya meninggal, anak itu kemudian ditempatkan di panti asuhan yang dikelola oleh negara.


"Elios sudah mengamankan anak itu, dia sudah berada di bawah kuasamu. " Nathan berucap cepat untuk menarik perhatian Akram, "Dan aku sudah melakukan test DNA untuk mengetahui kecocokan DNA antara Elana dan anak itu... Kau mungkin ingin melihat sendiri hasilnya?" Nathan mengeluarkan benda yang disebutnya penting itu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Akram.


Mata Akram langsung menyapu berkas laporan hasil test DNA di tangannya dengan seksama, dan kemudian, ekspresi murungnya terangkat, berganti dengan seringaian lebar penuh kepuasan.


Anak lelaki itu jelas-jelas berhubungan darah dengan Elana. Bukti tak terbantahkandari test DNA ini juga berguna sebagai pendukung kesimpulan akhir dari seluruh data yang dikumpulkan Elios tentang ibu kandung Elana. Dengan bukti yang tak terbantahkan ini, wanita itu sudah pasti adalah ibu kandung Elana.


Bagus. Sekarang dia punya adik laki-laki Elana sebagai senjata tersembunyinya. Akram sudah menggenggam erat kelemahan Elana dan perempuan itu sekarang tak akan bisa lolos darinya.

__ADS_1


"Apakah kau akan memberitahukan pada Elana tentang hal ini?" Nathan bertanya cepat, penuh rasa ingin tahu.


Akram menggelengkan kepala, ekspresinya tampak kejam dan matanya bersinar dingin.


"Tidak. Aku akan memakai senjata ini di saat yang tepat, tetapi bukan sekarang." jawabnya lugas. Tiba-tiba seolah teringat sesuatu, Akram langsung mempertanyakan hal lain yang juga berhubungan dengan kehadiran Nathan di tempat ini.


"Apakah kau akan memberikan suntikan kontrasepsi berkala kepada Elana?" tanyanya kemudian.


Nathan menggelengkan kepala.


"Tidak. Aku lupa mengatakan kepadamu kemarin, suntikan hormon untuk mengatur mekanisme organ reproduksi Elana bukan diberikan sebulan sekali, melainkan tiga bulan sekali. Kau tentu tahu cara kerja kontrasepsi itu dimana hormon yang disuntikkan kepada Elana akan mempengaruhi organ reproduksinya dan menekan proses ovulasi sehingga tidak ada sel telur yang dibuahi."


Nathan tiba-tiba merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar kepada Akram, "Efek samping hormon bisa beragam, tapi efek yang paling sering adalah menekan periode menstruasi perempuan, hormon ini juga menipiskan dinding rahim, padahal kau tahu bahwa rahim menebalkan dinding rahim untuk sarang yang empuk bagi sel telur yang telah dibuahi. Ketika tidak terjadi pembuahan, maka dinding rahim itu diluruhkan dan dibuang dalam periode waktu tertentu sehingga terjadilah proses menstruasi. Dalam kasus Elana yang dinding rahimnya menipis karena efek hormon kontrasepsi, maka tidak ada yang harus diluruhkan sehingga proses menstruasinya tidak terjadi, atau jika terjadi, hanya serupa bercak-bercak ringan saja..."


Nathan tiba-tiba mengedipkan matanya penuh arti kepada Akram. "Kau pasti senang, kan, jika wanitamu tidak mengalami gangguan sebulan sekali yang harus membuatmu terpaksa menahan hasrat? Aku tahu kau selalu bisa memilih perempuan lain yang sudah pasti bersedia untukmu, tetapi mengingat hasratmu yang begitu besar pada Elana..."


Akram tiba-tiba menggerakkan tangan, masih dengan wajah tanpa ekspresi, membuat Nathan menghentikan perkatannya.


"Apakah berbahaya?" tanya Akram dengan tatapan serius.


"Apanya yang berbahaya?" Nathan balik bertanya kebingungan dengan pertanyaan Akram yang singkat itu.


Akram berdehem sejenak, seolah tak nyaman membahas hal ini bersama Nathan.


Pertanyaan itu membuat mata Nathan melebar seolah tak percaya.


"Kau tidak pernah peduli dengan efek samping kontrasepsi dari pasangan-pasanganmu sebelumnya, Akram. Bagimu, mengetahui mereka bersih dan tidak menderita penyakit menular seksual lalu memastikan bahwa mereka tidak akan mengandung benihmu sudah cukup bagimu, kenapa sekarang kau peduli dengan yang ini?"


"Jawab saja pertanyaanku, Nathan." Akram menggeram, ekspresinya berubah gelap dan tak sabar.


Dan Nathan mengenal ekspresi itu, Akram sudah hampir mencapai batas kesabarannya. Dan kalau dirinya ingin selamat, dia harus memberikan jawaban yang diinginkan oleh Akram.


"Penggunaan kontrasepsi hormonal memang memiliki berbagai efek samping ringan pada perempuan, tapi kontrasepsi jenis ini sebenarnya tidak berbahaya, malah bisa memberikan keuntungan, seperti menyebabkan ovulasi tertekan sehingga risiko kanker ovarium sangat berkurang, getah serviks juga mengental, jadi bukan hanya bisa mencegah sperma masuk tapi bisa juga membunuh kuman penyakit sehingga kemungkinan infeksi panggul sangat menurun, dan juga menipisnya selaput lendir akan membuat pengguna kontrasepsi ini terhindar dari terjangkitnya kanker endometrium." Nathan berucap sambil mengawasi ekspresi Akram, dan dia tahu bahwa dia sudah aman begitu menemukan binar kelegaan di mata lelaki itu.


"Tapi ingat, Akram. Kau harus membawa Elana kepadaku tepat setelah tiga bulan dari suntikan pertama," senang karena berhasil meredupkan sinar kelegaan di mata Akram, Nathan segera mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul merah jambu dan meletakkannya di meja depan Akram. "Ini buku kontrol kontrasepsi Elana, aku sudah menuliskan tanggal suntik perdananya dan juga mengisikan jadwal untuk kedatangannya berikutnya. Jangan sampai melewatkan jadwal ini, Akram, atau kau akan mendapatkan seorang janin kecil dengan genetikmu yang kuat yang akan menghuni rahim Elana selama sembilan bulan sebelum dia siap untuk dilahirkan."


Akram menggertakkan gigi, lalu menatap Nathan dengan tajam, tidak mau menanggapi pancingan Nathan terhadapnya.


"Helikopter menunggumu di landasan, kurasa kau sebaiknya kembali ke pusat kota sebelum terlalu sore dan badai menjelang."


Nathan membelalakkan mata mendengar kalimat Akram itu.


"Kau mengusirku? Setelah semua bahaya yang kulalui dengan menaiki helikopter di tengah angin kencang yang menghembus hingga helikopter itu oleng kesana kemari dan membuat jantungku berhenti berdetak beberapa kali? Aku datang kemari memang untuk mengantarkan berkas dari Elios, tapi sebenarnya bukan itu pekerjaan utamaku. Elios mengirimku kemari untuk melaksanakan prosedur check up rutin setelah kau menempuh badai ditengah hujan yang membasahi tubuhmu berjam-jam. Tapi aku berani bertaruh, kau tidak akan mengizinkanmu memeriksamu, bukan?"


Akram menggelengkan kepala tipis. Ekspresinya bahkan tidak berubah setelah menerima protes beruntun Nathan terhadapnya.

__ADS_1


"Aku tidak butuh diperiksa dan kau harusnya senang karena aku membayarmu penuh meski kau tak bekerja. Jadi sekarang, pergilah dari sini," usirnya dingin dan tanpa perasaan.


Nathan menggerutu dengan suara perlahan yang ketus ketika dia membereskan tas kerjanya, tapi tak urung dia melangkah juga ke pintu juga, bersiap untuk pergi sebelum kemudian menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah Akram guna melontarkan pemikirannya.


"Aku bertanya-tanya, daripada kau menggunakan banyak sumber daya untuk mencari keluarga Elana yang tersisa, kenapa kau tidak memberikan saja bayi di perut Elana dengan sengaja? Bayi itu tentu akan bisa membuat Elana patuh kepadamu, sebab Ikatan antara ibu dan anak tentulah lebih kuat daripada ikatan seorang kakak dengan adik yang tidak pernah dia temui dan tidak pernah dia sadari kehadirannya seumur hidupnya." setelah mengucapkan pendapatnya itu Nathan melangkah meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya tanpa mau repot-repot menunggu respon Akram terhadap kalimatnya itu.



Ketika Akram melangkah memasuki ruang perpustakaan, dilihatnya Elana tengah berbaring dengan berselonjor di sofa dekat jendela terbesar ruangan ini. Kepala perempuan itu lunglai di lengan sofa sementara matanya terpejam rapat dalam tidurnya yang lelap.


Akram bahkan tidak perlu bertanya dimana Elana karena dia tahu dari pengawasan cctv bahwa perempuan ini biasanya menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan ini. Dan tebakannya ternyata benar, Elana sedang tidur tanpa pertahanan diri di sini.


Akram menatap wajah polos Elana yang tertidur pulas dan senyum ironi muncul di bibirnya. Beruntung Elana adalah perempuan yang suka membaca sehingga dia tidak kesulitan mengisi waktunya sendirian di villa ini jika Akram sedang tidak ada. Wanita-wanita lain mungkin akan sibuk merengek minta ditemani karena tidak ada hiburan menarik di sini dan beberapa saat kemudian mereka akan menjadi gila karena bosan.


Langkah Akram berhenti ketika lututnya menyentuh sofa tempat Elana berbaring. Matanya turun menatap buku terbuka yang tampaknya sedang dibaca Elana sebelum perempuan itu tertidur. Keningnya berkerut ketika selembar kertas putih penuh dengan coret-coretan tangan terselip di balik lembaran buku itu.


Akram duduk di sofa, di sisi yang tidak sedang ditiduri Elana, lalu ditariknya lembaran kertas putih itu dengan penuh rasa ingin tahu. Bibirnya menipis ketika matanya membaca dan mencerna coretan-coretan tulisan tangan yang sepertinya telah dibuat Elana dengan penuh kehati-hatian.


Itu adalah catatan jadwal kedatangan kapal pengirim persediaan dan juga helikopter pengangkut barang yang datang secara berkala ke pulau ini. Elana mencatat dengan rapih hari dan jam tepatnya dari kedatangan dan kepergian dua mode transportasi itu. Dia juga mencatat siapa orang-orang yang boleh mendekati kapal serta helikopter, prosedur dan lama waktu menurunkan persediaan di gudang villa dan bagaimana situasi gerbang ketika akses sedang dibuka untuk keluar masuk barang serta persediaan.


Perempuan ini sepertinya masih tak mau menyerah dalam usahanya melarikan diri dan kemungkinan besar Akram harus menggunakan adik laki-laki Elana untuk mengancam perempuan ini lebih cepat dari yang seharusnya.


Akram menyelipkan kembali kertas itu ke tempatnya, lalu mengambil buku itu dari pegangan Elana, menutupnya dan meletakkannya di lantai. Matanya menatap tajam ke arah Elana sebelum kemudian jemarinya bergerak tanpa bisa ditahan untuk menelusuri sisi wajah Elana, mengusap permukaan kulit yang rapuh itu dengan ujung jarinya yang kuat.


Akram membungkukkan wajahnya tepat di depan Elana sebelum kemudian menepuk lembut sisi wajah perempuan itu, menangkupnya dengan tangannya yang besar


"Bangun, kucing mungil. Sekarang bukanlah waktunya untukmu tidur," bisiknya dengan suara parau menahan gairah.


Suara Akram yang kuat rupanya mampu menjangkau sisi terdalam dari mimpi Elana yang lelap. Dia mengerjap dan membuka mata sementara kesadaran perlahan-lahan bergerak membanjiri pikirannya.


Dan ketika mata Elana terbuka, dia langsung bertatapan dengan mata tajam yang menatapnya dalam. Wajah Akram begitu dekat dengannya hingga Elana membuka mulut untuk menyerukan protes, tetapi mulutnya yang terbuka langsung dibungkam oleh ciuman Akram.


Elana yang tak siap karena disergap ketika bangun tidur tak bisa berbuat apapun ketika Akram bergerak menindihnya di atas sofa, tangan kirinya berusaha mendorong dada Akram dengan percuma sementara tangan kanannya sekuat tenaga mencoba menyingkirkan tangan Akram yang bergerak menyusuri sisi pahanya dan membuat gaunnya terangkat ke atas.


"Akram..." Elana benci ketika dia harus menyuarakan nama Akram, tetapi saat ini dia tidak punya pilihan. "Ti... tidak....jangan... ini di perpustakaan, siapapun... siapapun bisa masuk...."


"Tidak akan ada yang berani masuk kemari jika aku ada di sini bersamamu, Elana. Lagipula, jika kau bertanya-tanya, aku sudah mematikan kamera pengawas di ruangan ini dan juga mengunci pintunya." ucap Akram tak terbantahkan.





__ADS_1


__ADS_2