Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
okEpisode 95 : Prioritas


__ADS_3


Ketika mereka melewati lobby yang lalu lalang ramai oleh banyak karyawan yang turun untuk makan siang, Elana menyadari bahwa Xavier langsung menjadi pusat perhatian. Semua orang, terutama perempuan sudah pasti langsung terpaku dan tak bisa melepaskan pandangan matanya dari lelaki itu, terpesona luar biasa seolah-olah mata mereka telah terperangkap oleh makhluk paling indah dari semua makhluk yang pernah mereka lihat.


Ketika dengan santai Xavier keluar dari lobby perusahaan dan berjalan tenang menyusuri trotoar lebar nan teduh langsung menuju area restoran dan kantin di sisi perusahaan, Elana berucap lagi dengan penuh rasa ingin tahu.


“Pertemuan makan siang dengan auditor diadakan di restoran di dalam perusahaan ini?” tanyanya cepat.


Xavier menoleh ke arah Elana, lalu menyeringai lebar.


“Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan auditor itu lewat skype. Kami sudah bicara tatap muka selama beberapa jam tadi. Jadi, tidak ada pertemuan dengan auditor, kita hanya akan makan siang biasa.


Elana mengerutkan keningnya tak mengerti. “Kalau tidak ada pertemuan denga auditor, kenapa harus bersamaku?”


Xavier terbahak seolah tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


“Karena aku ingin makan siang bersamamu, dan karena…. Merenggutmu dari Akram tanpa dia bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya…terasa sangat sangat sangat menyenangkan,” sambungnya dengan nada ringan tanpa dosa.


***



***


Mereka duduk di salah satu sisi restoran yang menyediakan menu hidangan ayam panggang yang menggiurkan. Restoran itu cukup ramai karena ini adalah jam makan siang karyawan.


Sama seperti yang terjadi di lobby tadi, lagi-lagi Xavier tampak menarik perhatian. Beberapa orang mungkin masih belum menyadari siapa Xavier sebenarnya, dan beberapa yang lain pastilah menganggap Xavier adalah seorang model atau artis yang berkepentingan dengan perusahaan mereka. Sebab, jika ditilik dari penampilanh Xavier, wajah yang dimilikinya sangat cocok untuk berada di dalam industri entertainment.


Beruntung ada meja kosong dengan letak sedikit terpisah dari yang lain, tersembunyi di sudut ruangan dan tertutup pilar sehingga menghalangi pandangan orang untuk menatap mereka secara langsung.


Xavier sendiri, ternyata bukanlah orang yang sudah diajak bicara. Sambil menunggu pesanan datang, mereka bercakap-cakap tentang segala hal, mengenai sistem keuangan, kondisi ekonomi negara, situasi politik, bahkan mengenai gosip artis sekalipun, lelaki ini bisa menyambungkan kalimatnya dengan baik.


Mungkin karena lelaki ini memiliki kelebihan dalam hal ingatan….


Elana menyimpulkan perlahan tepat saat pesanan makanan mereka datang. Matanya berkali-kali mencuri pandang dan mengawasi lelaki di depan9nya itu dengan penuh rasa ingin tahu.


Ketika tiba-tiba Xavier mengangkat pandangannya dan menatap Elana, seketika itu juga Elana  tergeragap dan langsung mengalihkan matanya untuk menatap makanan di depannya.


“Jadi, apa kau sudah memutuskan?” Xavier tampak menahan senyum melihat tingkah Elana, tetapi lelaki itu memutuskan untuk tidak mengganggu Elana dan mengalihkan topik pembicaraan ke arah hal lain.


Elana menyuap ayam panggang yang renyah di luar tapi lumer dan lembut di dalam itu dengan lahap, sementara keningnya berkerut ketika menatap Xavier.


“Memutuskan tentang apa?” tanyanya bingung.


Mata Xavier melirik ke arah cincin berlian di tangan Elana, lalu tatapannya kembali lagi ke arah perempuan itu.


“Kau mengenakan cincin ibu kami. Jadi aku asumsikan bahwa Akram telah melamarmu secara resmi,” Xavier menyuapkan makanan di mulutnya secara elegan, mengunyah dan menelan dengan cara yang sama indahnya seperti yang Elana lakukan, lalu menatap Elana kembali dengan tajam. “Aku jadi bertanya-tanya, apa jawabanmu? Kau akan menikahi adikku yang arogan itu?”


Elana mengambil gelas air putih di mejanya dan menelan air minum itu dengan gugup. Matanya melirik cincin yang diberikan oleh Akram kepadanya dan pipinya memerah malu. Entah kenapa pembicaraan ini tiba-tiba membuat makanan yang ditelannya tersangkut di tenggorokan.


“Aku… aku belum memikirkannya,” jawab Elana cepat, tak menemukan jawaban atas pertanyaan Xavier.


Xavier memiringkan kepala. “Kau pasti sudah tahu kalau Akram tidak akan menerima jawaban tidak darimu,” ujarnya tenang.


Elana menganggukkan kepala canggung. “Akram memberikan aku waktu bulan untuk jatuh cinta kepadanya,”


Xavier meletakkan garpunya, menatap ke arah Elana dengan sungguh-sungguh.


“Adikku itu tidak pernah jatuh cinta sebelumnya dan kali ini dia benar-benar belajar dari nol layaknya bayi yang baru lahir. Karena itulah, dia menganggap urusan jatuh cinta bisa diselesaikan dengan tenggat waktu seperti pemberian pinjaman. Tetapi, bagaimanapun perasaanmu nanti, kuharap kau bisa memberikan jawaban yang sebaik-baiknya untuk Akram,” suara Xavier berubah serius ketika berucap, dan pada detik itulah Elana menyadari bahwa dibalik semua sifat bermusuhan yang ditampilkannya, Xavier benar-benar peduli terhadap Akram.


“Kau… berbicara seperti seorang ahli. Apakah kau sendiri pernah merasakan jatuh cinta?” Elana tak tahu kenapa kalimat itu bisa terlepas dari mulutnya, dan kenapa dia punya keberanian untuk menanyakan itu. Bagaimanapun, dia penasaran dengan jawabannya.

__ADS_1


Xavier menipiskan bibir selayaknya menahan senyum, lelaki itu mengambil gelas dan menyesapnya, tetapi matanya tetap menatap tajam ke arah Elana.


“Aku pernah hampir jatuh cinta. Untung saja aku menghentikannya tepat waktu,” jawabnya kemudian dengan nada misterius yang menyisipkan sedikit getir di sana.


***



***


“Wow!”


Nathan tak bisa menghentikan dirinya untuk menatap ke arah Akram dengan pandangan takjub. Dia telah melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Akram dan untuk kali ini perkembangannya benar-benar begitu bagus di luar dugaan.


“Kau baik-baik saja… dari semua sisi,” sambung Nathan kemudian, masih mengawasi Akram dengan nada tak percaya.


Akram mengerutkan kening, menatap Nathan dengan tak suka karena lelaki itu terus lekat memandanginya layaknya memandang hewan aneh di kebun binatang.


“Oke aku memang baik-baik saja. Aku meneleponmu datang kemari hanya untuk memastikan. Bisakah kau tak menatapku seperti itu?” ujarnya perlahan dan meluruskan kembali lengan kemejanya yang tergulung.


Nathan menganggukkan kepala dan sedikit terkekeh mendengar perkataan Akram.


“Maaf, aku hanya sedikit tak percaya. Biasanya ketika kau berhadapan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Xavier, kau akan terkena serangan panik, kesulitan bernapas, keringat dingin dan detak jantungmu berkejaran tak terkendali. Untuk saat ini kau terlihat begitu tenang, padahal sumber traumamu ada di ruangan sebelahmu seharian ini dan kalian terus menerus berinteraksi beberapa hari terakhir ini tanpa ada insiden apapun yang terjadi kepadamu.”


Akram menipiskan bibir dan mau tak mau menyetujui perkataan Nathan. Beruntung perkembangan baiknya terjadi saat ini, karena kalau sampai dia terkena serangan panik parah di hadapan Xavier dan Elana, dia akan membuat Xavier puas tak terkira dan menggunakan itu sebagai senjata untuk terus menerus menyerangnya.


“Apakah jangan-jangan, penyebab traumamu sebenarnya menjadi obat dari traumamu juga? Aku pernah mendengar terapi ekstrim tentang penyembuhan phobia dengan mendekatkan sesuatu yang mereka takuti secara bertahap dan membiasakan pasien dengan itu. Tidak kusangka ternyata cara itu bisa berhasil. Kau terbiasa terus menerus berinteraksi dengan Xavier, jadi kau kehilangan reaksi panik akibat traumamu….” Nathan mengerutkan kening, berusaha mencari kesimpulan yang pasti dari kondisi Akram.


Kali ini Akram menggelengkan kepala tak setuju. “Tidak. Sebenarnya sumber traumaku bukan karena aku takut pada Xavier. Dia bukan penyebabnya. Serangan panikku muncul karena setiap aku melihatnya, kelebatan ekspresi mayat yang tergantung ketika kutemukan itu langsung menyerbu dan memenuhi kepalaku…” Akram menyentuh dahinya seolah berusaha menelaah dirinya sendiri. “Kali ini aku tak merasakannya sama sekali. Bayangan itu memudar.”


“Karena Elana?” Nathan menyahut, menebak dengan tepat.


“Curiga tentang apa?” Nathan mengerutkan kening tak mengerti.


“Curiga tentang kehamilannya,” jawab Akram cepat.


Seketika Nathan tertawa, matanya menatap Akram dengan geli. “Akram. Jika Elana hamilpun, usianya baru beberapa hari. Seorang dokter dengan peralatan canggih pun tak akan bisa menemukan tanda-tandanya jika usia janin belum minimal satu bulan dari hari pembuahan, bahkan kadang dengan alat usg biasa, jika diperiksa pada usia dua bulan dari tanggal pembuahan pun, belum ditemukan janin dan hanya terlihat kantong kehamilan sebagai bukti adanya persiapan kelahiran.”


Nathan menyambung kalimatnya dengan nada lebih serius. “Tetapi, ibu hamil akan memproduksi hormon HSG, hormon yang muncul saat persiapan pembentukan plasenta bayi. Hormon itu terlepas ke urinenya dan paling banyak terlepas di pagi hari ketika baru bangun tidur. Dua minggu dari proses pembuahan, kau bisa mencoba memeriksa kadar hormon HSG dengan membeli test pack dengan sensivitas terbaik dan meminta Elana memeriksa urinenya setiap pagi. Aku tidak menjamin hasilnya akan positif di hari pertama kau memeriksanya. Tetapi, jika Elana benar-benar hamil, hasilnya pasti akan positif sebelum kandungannya berusia satu bulan. Aku juga bisa melakukan pemeriksaan darah untuk pengecekan hormon HSG, tetapi tentu saja itu tak akan bisa dilakukan setiap hari.”


“Tapi, bukankah kalau dia hamil akan ada tanda-tandanya? Seperti mual, muntah dan sebagainya?” Akram balas menatap dengan pandangan serius yang sama, penuh dengan ingin tahu.


Nathan mengangguk. “Aku bukan dokter kandungan. Kalaupun nanti Elana benar-benar hamil, aku akan merekomendasikan dokter kandungan terbaik untuknya. Tetapi sepengetahuanku, mual, muntah, pusing dan sebagainya juga dipengaruhi oleh kadar HSG yang tinggi. Karena itulah banyak wanita hamil mengalaminya di pagi hari. Sepanjang plasenta masih terbentuk, selama itulah HSG diproduksi, dan ketika plasenta sudah terbentuk sempurna mungkin di usia kandungan tiga sampai lima bulan, pada saat itulah HSG berhenti diproduksi dan mual muntah juga menghilang. Itulah sebabnya, jika seorang ibu yang sudah hamil besar memeriksa urine dengan test pack, hasilnya akan negatif.”


“Harus seorang wanita.” Akram bersedekap dengan ekspresi keras.


“Apa?” Nathan sampai harus menolehkan kepala untuk menatap Akram karena bingung dengan perkataan Akram yang berada di luar konteks pembicaraan.


“Dokter yang kau rekomendasikan itu haruslah seorang wanita. Aku tidak ingin ada dokter lelaki menyentuh-nyentuh istriku nanti,” sahut Akram dengan nada arogan yang biasa, membuat Nathan membelalakkan mata seolah tak percaya dengan tingkah sahabatnya yang satu ini.


***



***


“Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, aku akan memanggilmu nanti,” Xavier berucap dengan senyumnya yang khas ketika mereka sudah berada di lantai paling atas bangunan.


“Iya… te… terima kasih atas makan siangnya,” sahut Elana dengan sopan.


Xavier terkekeh, lalu kembali mengedipkan mata dengan menggoda.

__ADS_1


“Mungkin aku akan sering melakukannya ke depannya nanti, mencurimu dari Akram di jam makan siang,” ujarnya sambil lalu dengan niat jahil yang kental, lalu menganggukkan kepala ke arah Elana sebelum kemudian melangkah masuk ke dalam ruangannya dan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.


Sejenak Elana masih terpaku di tempatnya berdiri dalam keheningan. Matanya menatap ke arah dua pintu besar yang sama-sama tertutup rapat di depan matanya. Lalu dia menoleh ke arah meja Elios dan menyadari bahwa lelaki itu sedang tak ada di sana.


Elana melirik jam tangannya, tahu bahwa jam istirahat belumlah habis. Mungkin Akram sedang makan di luar, begitupun dengan Elios.


Dengan gerakan cepat, Elana melangkah kembali ke meja kerjanya, meletakkan tasnya lalu menyalakan komputer kembali. Program software untuk asisten yang baru dipelajarinya sangatlah menarik. Elana baru saja mendapatkan beberapa jadwal dari Xavier dan dia akan mencoba memasukkannya ke dalam program itu.


Dia baru saja menunduk untuk melihat catatan di buku agendanya ketika mendengar suara pintu ruang kerja Akram dibuka. Dengan cepat Elana mendongakkan kepala dan menyadari bahwa Akram sendirilah yang muncul di sana.


Lelaki itu melangkah mendekati Elana dengan gerakan pelan seperti seekor macan kumbang yang sedang mengincar mangsa, dan baru berhenti ketika dia tepat berada di depan meja Elana.


“Enak?” tanya Akram dengan nada datar, menyelipkan sikap mengintimidasi di dana.


Elana menengadah sambil mengerutkan kening. “Apanya?” refleks dia bertanya kembali.


Akram menipiskan bibir dengan sikap jengkel. “Makan siangmu dengan Xavier. Ayam panggang di restoran terbaik di komplek perusahaan ini, hanya berdua saja. Apakah rasanya enak?”


Seketika itu juga Elana langsung membelalakkan mata. “Kau… kau menyuruh orang mengikuti kami?” tanyanya terkejut.


Akram mendengkus kesal. “Aku tidak perlu melakukan itu. Ada GPS di lenganmu, ingat? Dan juga kamera pengawas ada di mana-mana di seluruh penjuru perusahaan ini,” mata Akram mengawasi Elana dengan tatapan menelisik. “Aku sudah menduga kalau Xavier berbohong tentang pertemuan itu. Dia akan selalu menghindari pertemuan secara langsung dan tak akan melakukannya kalau tak terpaksa. Yang membuatku bertanya-tanya, apa yang sedang kalian obrolkan? Kalian tampak sangat akrab ketika mengobrol.”


Elana mengerutkan kening, “Kenapa kau bertanya? Mungkin saja kau telah memasang alat penyadap di bawah meja makan kami, kan?” sindirnya sedikit mencela.


Bibir Akram menipis. “Aku tidak akan melakukan sejauh itu, kecuali terpaksa,” geramnya serius.


“Akram,” Elana menatap Akram dengan ngeri. “Kau tidak sungguh-sungguh akan melakukan itu, kan? GPS ini saja sudah cukup berlebihan, belum lagi kamera pengawas dan kau juga memikirkan tentang penyadap? Apakah kau tak mempercayaiku?” tanya Elana dengan nada bingung.


Akram menatap Elana tajam. “Bagaimana bisa aku mempercayaimu? Kau belum menyatakan cintamu kepadaku. Kau sama sekali tak menunjukkan bahwa kau tergila-gila kepadaku, dan kau bahkan belum mengucapkan janji setiamu kepadaku. Siapa yang bisa menjamin kalau kau tidak akan melarikan diri dariku dengan lelaki lain yang berhasil menggodamu?”


Pipi Elana langsung merah padam mendengar perkataan Akram tersebut.


“Aku bukan wanita seperti itu,” dengan terbata karena malu, Elana berusaha menjelaskan. “Pri… prioritasku saat ini hanyalah belajar. Aku ingin menjadi perempuan yang lebih cerdas….”


“Jadi ada di urutan berapa diriku pada daftar prioritasmu, Elana?” suara Akram menajam ketika dia menyela kalimat Elana dengan nada tak sabar.


Elana tampak gelisah mendengar kalimat Akram tersebut, tapi tak urung, dia tetap berusaha mengatakan kejujuran.


“Pokoknya… saat ini prioritasku adalah untuk belajar… semua hal yang bisa kupelajari… agar aku bisa menjadi lebih baik dan…”


“Jika itu membuatku dinomorduakan, maka lupakan tentang belajar,” Akram tiba-tiba sudah bergerak ke samping meja Elana dan menarik perempuan itu berdiri, lalu langsung membawanya ke dalam pelukan, memerangkapnya dengan erat hingga Elana tidak bisa melepaskan diri. “Peraturan pertama jika nanti kita menikah, Calon Nyonya Night, Tuan Night akan selalu menjadi nomor satu untukmu sementara semua hal lain boleh kau abaikan,”


Akram mengangkat dagu Elana mendongak ke arahnya, lalu lelaki itu langsung melumat bibir Elana tanpa ampun, setengah membungkuk sambil memeluk Elana erat dan hampir mengangkat tubuh Elana supaya lekat kepada tubuhnya.


Pada saat yang sama, denting lift terdengar, sebuah bunyi yang diabaikan oleh dua sejoli yang tengah larut dalam pertunjukan ciuman panas nan menggelora. Di dalam lift itu, Elios berdiri di tengahnya dengan mulut ternganga karena terkejut langsung mendapatkan sajian pemandangan adegan mesra begitu lift yang ditumpanginya membuka.


Dengan refleks laksana robot, Elios otomatis menekan tombol lift kembali supaya pintunya menutup dan menggerakkan lift yang tadinya telah sampai di tujuan, kembali turun ke lantai bawah dengan tujuan random.


Demi keselamatan nyawanya, Elios lebih baik tidak kembali ke ruang kerjanya selama beberapa saat. Lagipula, kemungkinan besar bosnya tidak akan menegurnya kali ini karena menghabiskan waktu istirahat lebih lama dari biasanya.


Elios memutuskan dengan riang bahwa dia akan minum segelas cappucino hangat di café dan baru akan kembali lagi setelah minumannya tandas.



******




__ADS_1


__ADS_2