
"Chemistry is you touching my arms, and it setting fire to my mind, then burn my body."
David, seorang lelaki dari divisi personalialah yang diminta oleh Elios untuk mengantarkan dan memperkenalkan Elana ke divisi cleaning service.
Hari masih pagi, baru pukul delapan lebih, sementara itu perusahaan Akram mengadaptasi jam kantor di dunia barat yang dimulai pukul sepuluh pagi dan berakhir pada pukul lima sore, karena itulah situasi di lobby ini belum cukup ramai. Pada saat mereka datang memasuki kantor pusat perusahaan milik Akram yang sangat megah, David sudah menunggu di lobby dan langsung berdiri sopan begitu melihat Elios melangkah masuk, dengan Elana mengikuti canggung di belakangnya.
Sikap David begitu hormat pada Elios, lelaki itu bahkan sedikit membungkuk ketika bersalaman dengannya.
Rupanya, kedudukan Elios sebagai asisten dan tangan kanan Akram membuatnya cukup disegani di perusahaan ini.
Elios memperkenalkan Elana sambil lalu kepada David, kemudian dua lelaki itu tampak bercakap-cakap dengan formal tanpa melibatkan Elana di dalamnya.
Elana sendiri tak tertarik dengan pembicaraan mereka dan memilih menggunakan kesempatan itu untuk memandang ke sekeliling serta mempelajari situasi yang ada. Megah adalah kata pertama yang tersimpulkan di hati Elana pada pengamatan pertamanya. Lobby perusahaan itu cukup besar, dengan lantai yang sangat luas berlapis marmer hitam sebagai tempatnya berpijak, tampak kontras dengan bagian atap yang dibentuk tinggi serupa kubah raksasa berwarna putih gading di atas sana. Di sisi lain, tampak pilar-pilar raksasa dari marmer putih yang menjulang tinggi di setiap sisi bangunan.
Lobby yang megah ini cukup sesuai untuk mengimbangi tingginya gedung yang sempat membuat Elana ternganga lebar ketika pertama kali mobil yang dikendarai oleh supir membawa mereka memasuki area depan di kawasan gedung perkantoran milik Akram.
Kawasan ini terletak di area yang sangat luas dengan gedung kantor tinggi itu sebagai pusatnya. Ketika mereka masih berada di dalam mobil, Elios menjaskan bahwa di luar gedung pusat itu, fasilitas lengkap untuk menunjang kebutuhan karyawan dibangun dengan sempurna mengelilingi gedung kantor pusat.
Fasiltias itu berupa taman-taman yang sangat terawat, yang dikelilingi oleh jalur untuk bersepeda dan jalur untuk pejalan kaki yang dialasi dengan bata klasik dan disusun berjajar dengan sangat rapih. Berseberangan dengan taman, di bawah naungan pohon-pohon raksasa yang meneduhkan, terdapat cafe-cafe kecil di dalam bangunan seragam yang berjajar dan berbaur dengan restoran mini yang menjual berbagai jenis makanan yang berlokasi di gedung-gedung mungil tersendiri dengan gaya bangunan klasik nan indah. Tak cukup hanya dengan lengkapnya fasilitas kuliner, di sisi lain juga terdapat kawasan pertokoan yang menjual berbagai kebutuhan, bersebelahan dengan bangunan klinik kesehatan yang cukup mewah yang juga dilengkapi dengan pusat penitipan anak khusus untuk karyawan. Selain itu, masih banyak terdapat berbagai fasilitas publik lainnya yang tersedia untuk karyawan.
Ketika Elios selesai menjelaskan itu semua di mobil, Elana berakhir dengan mulut ternganga dan mata berbinar menatap ke luar jendela ke arah bangunan-bangunan yang tersusun rapih di luar. Akram seolah-olah membangun kota tersendiri yang lengkap untuk memenuhi seluruh kebutuhan karyawannya, sehingga mereka tidak perlu keluar lagi untuk mencari apa yang mereka butuhkan, karena semuanya sudah tersedia di dalam sini.
Suara Elios yang memanggil namanya mengalihkan perhatian Elana dari lamunan. Dia segera mengangkat pandangannya dan melihat David tengah meninggalkan mereka untuk sejenak dan tampak bericara dengan petugas resepsionis yang telah siap bertugas di balik meja resepsionis di tengah lobby nan megah itu.
Sementara itu, Elios berdiri di depannya, menanti Elana menaruh kembali perhatian kepadanya sebelum mulai berbicara.
"David dari bagian personalia adalah orang yang saya tugaskan untuk mengantar Anda ke divisi Anda," Elios berucap singkat, lalu menggenggamkan sebentuk kartu ke tangan Elana
Elana menundukkan kepala, menatap ke kartu di tangannya dengan penuh rasa ingin tahu, dan matanya melebar ketika melihat bahwa di kartu berwarna emas berpadu hitam itu, tercantum fotonya, berikut nama dan juga status pekerjaannya sebagai seorang cleaning service. Nama yang tertulis di kartu itu bukan nama lengkapnya, tetapi mencantumkan nama 'Lana' sebagai nama depannya.
Setidaknya nama barunya ini cukup mirip dengan nama lamanya. Kemungkinan besar, Akram sudah memikirkan itu ketika memberi nama palsu itu kepadanya. Elana akan mudah menoleh jika dipanggil dengan nama 'Lana' sama seperti ketika dia dipanggil dengan nama aslinya.
"Ini adalah kartu identitas resmi untuk karyawan perusahaan. Selain tamu, hanya karyawan resmilah yang boleh berlalu lalang di area kantor ini. Anda harus mengingat untuk selalu mengenakan kartu identitas ini di area kantor, karena jika Anda tidak mengenakannya, petugas keamanan akan menghampiri dan memeriksa Anda karena mecurigai Anda sebagai penyusup." Elios menjelaskan tanpa diminta. "Oh, dan kartu identitas karyawan ini juga berlaku sebagai alat tukar pembayaran di seluruh area perusahaan. Jadi jika Anda membeli makanan, atau barang, atau obat dan yang lainnya di kawasan komersil di area perusahaan ini, Anda cukup menggunakan kartu karyawan yang akan discan oleh pegawai yang bertugas. Di awal bulan, seluruh rekening belanja selama sebulan penuh akan ditagihkan dan bisa dilunasi tunai ataupun dipotongkan di gaji karyawan. Sementara itu, untuk kasus Anda, jangan khawatir, Tuan Akram akan melunasi sebesar apapun tagihan Anda, jadi gaji Anda akan tetap utuh nantinya."
Elana memutar bola matanya tanpa sadar mendengar kalimat terakhir Elios itu. Buat apa gajinya utuh kalau dia bahkan tak bisa mengambilnya?
__ADS_1
"Jadi, aku boleh membeli makan siang dengan kartu ini?" Elana bertanya, matanya berbinar membayangkan jajaran restoran mini yang ada di luar tadi. Sekilas pandang, Elana telah melihat bahwa restoran-restoran di luar tadi tampak menjajakan berbagai macam jenis makanan yang menggiurkan. Akan sangat menyenangkan jika dia bisa mencicipi makanan itu satu persatu setiap harinya.
Elios mengerutkan kening melihat reaksi Elana. Perempuan ini tampak biasa saja dan tak terkesan ketika Elios menjabarkan tentang fasilitas mewah yang diberikan oleh Akram dengan murah hati kepadanya. Akram jelas memperlakukan Elana dengan sangat istimewa, contohnya saja bisa dilihat dari tindakan Akram memberikan black card kepada Elana, padahal Akram tidak pernah memberikan kartu yang sangat eksklusif kepada orang lain sebelumnya.
Tak tahukah Elana bahwa dia bisa menutup satu butik ternama secara penuh, mengusir semua pengunjung lain dan berbelanja di sana sebagai tamu tunggal serta memperoleh pelayanan super eksklusif, dengan menggunakan black card itu?
Dan sekarang, Elana malah tampak begitu bahagia, dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar, hanya karena mengetahui bahwa dia bisa menggunakan kartu di tangannya untuk membeli makanan di seluruh restoran kecil yang tersedia di area perusahaan.
"Anda bisa membeli apapun yang Anda mau, Nona Elana. Tinggal menunjukkan kartu identitas karyawan itu pada kasir dan mereka akan memindainya," Elios menatap wajah Elana dan memutuskan untuk bertanya. "Atau mungkin ada makanan yang Anda inginkan yang tidak tersedia di dalam sini? Saya bisa menyuruh orang untuk mendapatkannya dan memberikannya kepada Anda segera."
Elana langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak... tidak! Di sini semua sudah cukup. Te... terima kasih," ujarnya menolak dengan nada halus.
Kedudukan Elios cukup tinggi di perusahaan ini, sementara Elana hanyalah seorang petugas kebersihan dengan kelas jauh di bawahnya. Melihat Elios bersikap seperti seorang pelayan yang sedang melayani putri raja terhadapnya tentu saja membuat Elana diliputi oleh rasa canggung dan ingin segera melepaskan diri dari percakapan ini.
Tetapi, bagaimanapun juga, penjelasan Elios membuat Elana lega. Setidaknya dia tidak perlu kebingungan untuk membeli kebutuhan makan siangnya dalam kondisi tanpa uang sepeserpun. Meskipun begitu, Elana akan bersikeras bahwa Akram harus memotong dari gajinya untuk pembayaran bulanan tagihan makan siangnya nanti. Sebab, biarpun dirinya terikat di bawah ancaman Akram, Elana masih punya harga diri yang dijaganya rapat, dia tidak akan mengemis pada Akram untuk memenuhi kebutuhan makan siangnya sebagai karyawan di perusahaan ini.
Pada saat yang sama, David tampak melangkah mendekat kembali ke arah mereka, senyumnya ramah sebelum.dia mengangguk ke arah Elios.
"Kalau begitu, saya akan membawa pegawai baru ini ke divisinya." ucap David sopan yang dibalas dengan anggukan tipis Elios. Elios kemudian melirik ke arah Elana, lalu memberi isyarat dengan menunjuk jam tangannya sendiri.
Elana memilih tidak memberi reaksi apapun pada isyarat yang diberikan oleh Elios kepadanya. Setelahnya, David membalikkan arah dan memberi isyarat supaya Elana mengikuti langkahnya hingga Elana bergerak menjauh meninggalkan Elios.
David rupanya sangat ramah, dan sepertinya lelaki itu cukup terkenal di perusahaan ini karena semua orang yang berpapasan dengan mereka langsung menyapa David dengan riang seolah mereka semua bersahabat akrab.
Mereka berdua melangkah melalui lorong-lorong panjang di area gedung ini dan Elana berkonsentrasi mencoba menghapal jalan yang mereka lalui. Bahkan setelah melangkah begitu jauh, saat ini mereka masih berada di lantai satu yang sejajar dengan lobby. Ini cukup gawat, karena meski mereka belum berpindah satu lantai pun, Elana sudah kebingungan menghapal jalan karena luasnya area ini dan rumitnya lorong yang satu dengan yang lainnya.
"Jangan khawatir, seiring berjalannya waktu, kau akan hapal dengan tempat ini. Kau petugas kebersihan, jadi kemungkinan besar kau akan berkeliling ke seluruh gedung untuk melaksanakan tugasmu. Nanti mintalah denah peta gedung ini pada supervisormu, dia akan membantumu untuk menginstallnya di ponselmu. Kami menyediakan peta digital khusus untuk setiap karyawan mengingat begitu luasnya bangunan ini," David menatap ke arah Elana dan tersenyum ramah. "Tuan Elios mengatakan bahwa kau adalah salah satu bagian dari program CSR kegiatan sosial perusahaan yang mengambil anak-anak siap kerja dari panti asuhan dan memberikan mereka pengalaman kerja selama beberapa periode. Mungkin kau harus memulai dari jabatan terendah sebagai petugas kebersihan, tetapi jangan khawatir, di sini semua orang dinilai dari kerja keras mereka, tidak akan ada yang merendahkanmu meski kau seorang petugas kebersihan sekalipun."
Elana hanya menganggukkan kepala dan menyimpan informasi itu dalam hati. Jadi alibinya di tempat ini adalah sebagai perwakilan anak yatim dari panti asuhan yang bisa mendapatkan pekerjaan karena program CSR kegiatan sosial perusahaan. Dia harus mengingatnya baik-baik supaya tidak salah kata nantinya.
Sepertinya semua sudah disiapkan dengan rapih untuk mengakomodasi persyatan Elana, dan Elana bersyukur bahwa meskipun beberapa hal tidak sesuai dengan rencananya, setidaknya dia bisa keluar dari kurungan Akram setiap harinya, menghirup udara bebas yang semu dan berperan sebagai dirinya sendiri, anak yatim piatu dari panti asuhan yang bekerja sebagai petugas kebersihan untuk menyambung hidup.
__ADS_1
David menyerahkannya pada supervisor yang mengepalai dan mengkoordinir seluruh petugas kebersihan di area gedung ini. Elana mendapatkan locker untuk menyimpan barang berharga seperti dompet dan ponselnya, lalu diberikan seragam yang langsung bisa dipakainya dan diserahkan pada salah satu petugas senior untuk proses pelatihan dan pendampingan pada hari pertamanya bekerja.
Beberapa jam kemudian berlangsung sangat cepat bagi Elana. Karena besarnya gedung ini, maka ada banyak sekali petugas kebersihan yang ada di divisinya dan setiap beberapa periode, jadwal baru diatur untuk memaksimalkan kemampuan pegawai di seluruh area perusahaan.
Sejak pagi, Elana mengikuti seniornya menjalankan tugas di area lantai tiga bersama sekelompok petugas kebersihan lainnya. Mereka terus bergerak untuk bekerja, menyisir setiap ruangan dan memastikan semuanya dibersihkan dengan seksama, ruang kerja para staff dirapihkan sebelum semua karyawan datang, ruang meeting disiapkan hingga bisa dipakai kapan saja, sampah-sampah dikumpulkan dalam trolley pengangkut sampah yang mereka bawa, begitu juga dengan area toiletnya yang bahkan dalam satu lantai tersedia begitu banyak dan harus mereka pastikan bersih dan wangi untuk digunakan oleh para karyawan.
Karena begitu banyaknya ruangan yang harus dibersihkan, pada saat jam istirahat tiba, mereka baru membereskan separuh lebih dari tugas mereka di lantai tersebut.
Elana mengikuti bu Winda, senior yang mendampinginya melangkah kembali ke divisi cleaning service ketika jam istirahat tiba. Di sana sudah banyak para petugas yang aru saja datang dari pos mereka masing-masing, berkumpul di area locker dan sedang bersiap untuk makan siang.
"Kau akan makan siang dengan kami, bukan?" bu Winda, perempuan setengah baya yang masih tampak bugar dalam menjalankan pekerjaannya itu tersenyum keibuan pada Elana, "Aku bisa merekomendasikan menu mana yang enak, banyak dan murah diantara restoran-restoran yang tersedia di luar sana," sambungnya kemudian.
Elana menganggukkan kepala, lupa bahwa dia harus siap sedia untuk Akram di jam makan siang, dan malah memutuskan untuk mengikuti ajakan bu Winda pergi makan siang bersama karyawan-karyawan yang lain.
Baru saja Elana menelan suapannya yang kelima dari menu nasi dan kuah sup sayuran yang begitu menyegarkan, beberapa laki-laki berpakaian jas formal dan mengenakan tanda pengenal khusus petugas keamanan yang serupa dengan para bodyguard Akram, melangkah memasuki restoran kecil tempat Elana dan rekan-rekan kerjanya memilih makan siang ini.
Elana langsung teringat pada perkataan Elios bahwa dia harus bersiap sedia untuk Akram di jam makan siang. Firasat buruk langsung menghantam Elana dan makanan lezat yang dikunyahnya tiba-tiba terasa seperti kertas hambar yang sulit ditelan.
Mereka semua tidak mungkin akan terang-terangan menyeretnya pergi dari sini, bukan?
__ADS_1