
Xavier tercengang, matanya melebar sementara lidahnya seolah kelu, tak mampu berucap ketika mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Sera kepadanya.
Dari semua prediksinya akan berbagai jenis reaksi Sera dalam menanggapi tawaran kebebasan yang diberikannya, tak pernah sedikit pun Xavier membayangkan bahwa bukannya menerima tawarannya itu dengan senang hati, Sera ternyata memberikan reaksi berlawanan arah dan menolak mentah-mentah kebebasan yang diberikan oleh Xavier kepadanya.
Perempuan ini, secara tidak terduga malahan berkomitmen memberikan tubuhnya untuk melahirkan anak-anak Xavier.
Xavier tahu bahwa Sera adalah perempuan yang sangat pemalu, karena itu, bahkan di dalam imajinasi terliarnya sekalipun, tak pernah Xavier membayangkan bahwa Sera akan meminta diberikan anak olehnya.
Perempuan itu tentu tahu bagaimana caranya membuat anak, kan? Mereka harus terlibat dalam situasi intim yang mendekatkan jiwa dan raga dalam prosesnya. Apakah itu semua benar-benar tidak apa-apa bagi Sera?
Xavier mengepalkan jemarinya, lalu mencoba membujuk Sera kembali dengan nada persuasif.
"Aku membebaskan ayahmu dan juga Aaron, untuk melepaskan semua beban yang mengikatmu denganku, bukan untuk memberikan tambahan beban hutang budi kepadamu yang harus kau bayar." Dengan frustasi, tangan Xavier bergerak mengusap rambutnya, sesuatu yang hampir-hampir tak pernah dia lakukan sebelumnya. "Kenapa kau tidak mau mengikuti saja jalan lurus yang kusiapkan untukmu dan mempermudah segalanya?" Xavier menggerutu, berucap seolah kepada dirinya sendiri.
"Aku hanya tak ingin memiliki hutang budi kepadamu." Sera bersikeras, menatap Xavier lekat-lekat. "Jika kau memang ingin membebaskanku, maka kau harus memberikanku kesempatan bagiku untuk membayar timbal balik yang setimpal atas jasa yang telah yang kau berikan kepadaku."
Xavier mengerutkan kening, frustasi mulai menguasai dirinya semakin kuat. "Aku tidak membutuhkan timbal balik darimu. Tidaklah kau paham?" erangnya kehabisan kesabaran.
Sera menghela napas dalam untuk menekan suaranya yang mulai gemetar.
"Xavier Light, aku bersikeras. Kau tak akan bisa menceraikanku begitu saja. Hanya akan ada satu kesepakatan saja yang mau kusetujui, yaitu kita impas dalam hal kebaikan. Kau membebaskan ayahku dan Aaron, maka aku memberimu anak untuk menyelamatkan nyawamu. Aku menutup diri untuk kemungkinan kesepakatan lainnya, kau harus memaksaku dengan kekerasan jika kau ingin membuangku." Sera mendongakkan dagunya, menatap ke arah Xavier dengan menantang.
Mata Xavier menyipit, mengawasi Sera dengan saksama dan menyadari betapa keras kepalanya perempuan bertubuh rapuh yang seharusnya kalah kekuatan darinya ini.
Seharusnya Xavier mengambil jalan keras untuk menyingkirkan paksa Sera dari hidupnya, seharusnya dia tidak mempersulit dirinya sendiri. Tetapi, wajah Sera yang penuh tekad dengan mata jernih melebar dan bibir menipis saat menatapnya menanti jawaban itu, berhasil menggugahnya.
"Baiklah. Aku akan meminta pengacaraku mengubah seluruh klausul kesepakatan kita. Sesuai dengan permintaanmu, aku akan membebaskan Ayahmu dan Aaron dan sebagai gantinya, kau wajib memberiku anak." Xavier memutuskan dengan suara tenang meskipun firasat buruk membanjiri hatinya.
Segala sesuatunya akan berubah rumit mulai sekarang. Dia menyetujui negosiasi ini hanya demi membebaskan Sera melalui cara yang diinginkan oleh perempuan itu, tidak ada tujuan lainnya.
Seorang anak untuk menyelamatkan nyawanya? Sera tak tahu bahwa Xavier tak ingin nyawanya diselamatkan. Dia ingin mati, mati dengan tenang dan tanpa beban.
Tetapi, jika Sera bersikeras menginginkan seorang anak, maka dia akan memberikannya. Lagipula, bayangan memiliki seorang penerus yang membawa cetak biru genetiknya, entah kenapa terasa sangat menyenangkan bagi Xavier yang sebatang kara tanpa manusia sedarah di dunia ini.
Seorang anak bukanlah masalah. Kehadirannya tak akan mematahkan niat Xavier untuk menyambut kematiannya. Dia sudah bertekad tak akan menggunakan plasenta bayi itu untuk menyelamatkan dirinya, dia sudah bertekad untuk mati.
Meskipun begitu, Xavier akan menjamin kehidupan anak itu seperti dia menjamin kehidupan Serafina Moon setelah dia mati nanti. Xavier akan memastikan mereka berdua hidup aman dan berkecukupan untuk seterusnya.
Ekspresi Sera tampak cerah mendengar jawaban Xavier, seolah kelegaan melingkupi dirinya.
"Jadi... kau setuju?" tanyanya lagi, berusaha memastikan.
Xavier tersenyum sinis yang disengaja.
"Kau ingin memberikan seorang anak bagiku, baru kau mau menerima perceraian itu, bukan? Maka aku akan memberikan anak itu kepadamu." Xavier berucap dengan sikap tak bersahabat yang sedikit kasar.
Sera menelan ludah. Tiba-tiba saja merasa ragu dengan keputusannya memperjuangkan pernikahan ini. Meskipun akhirnya menyetujuinya, Xavier tampak tidak senang dan menunjukkan keterpaksaannya dengan gamblang.
Apakah Sera salah karena menolak ketika Xavier ingin menceraikan dirinya dengan mudah? Tetapi, lelaki itu telah memutuskan untuk membebaskan ayahnya dan Aaron, Sera tak mungkin pergi melenggang pergi menjauh dengan ringan tanpa tahu terima kasih, bukan?
Apalagi, ketika dirinya melihat Xavier terbaring tak berdaya dalam kondisi lemah, juga menyadari penyakit yang saat ini menggerogoti Xavier dari dalam. Bagaimanapun, Sera adalah seorang perempuan yang tahu diri, dia tidak akan bersikap seperti wanita jahat yang kabur dari suaminya yang sedang sakit, hanya untuk mengejar kebahagiaan dirinya sendiri.
Jika dia berhasil melahirkan seorang anak untuk menyelamatkan nyawa Xavier, maka langkahnya akan ringan tanpa beban. Lagipula, Xavier hanya mengambil sel punca dari plasenta bayinya, selebihnya anak itu akan berada di pelukan Sera, menjadi teman hidupnya yang sebatang kara ini. Bukankah itu adalah solusi yang paling baik bagi mereka berdua?
Ketika Sera pergi dari kehidupan Xavier nanti, dia akan memiliki bayi mungil yang akan menjadi teman hidupnya, sementara itu Xavier yang kemungkinan besar akan menjalani kehidupan dengan arah berlawanan darinya, akan mendapatkan kesehatannya kembali sepenuhnya. Sebuah kesepakatan bagus yang menguntungkan kedua belah pihak. Tetapi, kenapa Xavier terlihat sangat muram ketika menerimanya?
Apakah jangan-jangan lelaki itu sudah terlalu muak dengannya sehinga tak tahan untuk terikat dengan Sera lebih lama lagi dan ingin membuangnya saat ini juga?
Tanpa disadari Sera, perubahan ekspresi wajahnya saat memikirkan semua itu, berada di bawah pengawasan Xavier yang salah mengartikannya. Lelaki itu mengira, Sera benar-benar tertekan dan terpaksa menerima dirinya hanya demi tuntutan pembalasan budi. Karena itulah, ekspresinya berubah semakin dingin ketika mengucapkan pengaturannya.
"Untuk pertama-tama, pengacaraku akan merevisi klausulnya. Lalu yang kedua, kita akan menunggu sampai Dokter Nathan bisa melakukan test darah. Kita akan melihat apakah kau hamil atau tidak dari hasil test itu," ucapnya kemudian.
Sera menunduk, menjalinkan kedua tangannya yang saling meremas dengan gugup.
"B-bagaimana jika aku tidak hamil?" tanya Sera dengan nada hati-hati.
Xavier menyipitkan mata, mengawasi Sera tanpa belas kasihan sebelum berucap.
"Maka sesuai permintaanmu, aku akan berusaha keras membuatmu hamil." Xavier menatap Sera dalam-dalam dengan sengaja, membuat perempuan itu gemetar hingga tak berani membalas tatapannya. "Dan aku tak akan berhenti sampai kau benar-benar hamil."
__ADS_1
***
Aaron mengucapkan terima kasih kepada supir truk yang bersedia mengangkut dan membawanya ke area kota, lalu dia meloncat turun dari truk itu dan membawa langkahnya terseok menuju trotoar pinggir jalan.
Udara dingin menusuk kulitnya, membuat lengannya harus bergerak untuk memeluk dirinya sendiri dalam upaya menghangatkan tubuh yang sia-sia.
Aaron memang tak pernah ke negara ini sebelumnya, tetapi dia familiar dengan tempat ini karena kedua orang tuanya memiliki kewarganegaraan dari negara ini sebelum kemudian memutuskan untuk menikah, menetap dan bekerja di Rusia hingga Aaron dilahirkan. Jadi, meskipun tinggal jauh dari tempat ini, Aaron banyak mengikuti berita menyangkut perkembangan terbaru, terutama yang berhubungan dengan dunia bisnis.
Karena itulah, dia tahu bahwa Dimitri Kazak memiliki salah satu cabang perusahaan di negara ini yang bergerak di bidang distribusi obat-obatan.
Aaron tidak mungkin salah mengingat alamatnya. Pasti ada di sekitar sini. Dimitri Kazak adalah mafia paling kuat di Rusia dan lelaki itu juga merupakan atasan dari Sabina. Aaron tak tahu bagaimana Dimitri bisa terkait dengan Xavier, tapi satu hal yang dia tahu pasti, yaitu bahwa Dimitri adalah musuh dari Xavier Light.
Karena itulah Dimitri menyusupkan Sabina untuk mengawasi Xavier, bukan?
Jika saat ini Sabina tertangkap oleh pihak Xavier, ataupun membelot dan berada di pihak Xavier, Dimitri pasti akan sangat marah dan menganggap bahwa Xavier telah berani meletakkan tangan kepada anak buahnya, itu berarti Dimitri berada di pihak musuh Xavier, satu pihak dengannya.
Aaron tidak mengenal Dimitri. Meskipun mereka sama-sama berada di Moskow, tetapi dunia Aaron dan Dimitri sungguh bertolak belakang. Aaron murni bekerja di bidang bisnis dan menangani segala hal yang berhubungan dengan bisnis legal Roman Dawn, sementara Dimitri jelas-jelas bergerak di dunia bawah dan hanya menggunakan bisnis legal sebagai kedoknya.
Tetapi untuk saat ini, hanya Dimitrilah satu-satunya harapan Aaron. Dia hanya berpegang pada kondisi dimana mereka sama-sama musuh Xavier, juga memandang bahwa mereka berasal dari negara yang sama. Dia berharap dengan pertimbangan itu, maka Dimitri akan bersedia menolongnya.
Setidaknya Aaron masih memiliki hati Serafina Moon yang bisa menjadi jalan untuk menusuk jantung pertahanan Xavier Light. Selain itu, Aaron jelas-jelas memiliki kekayaan melimpah yang didapatnya dari warisan keluarga Dawn. Hal itu akan membuatnya memiliki nilai lebih di mata Dimitri Kazak, sehingga mafia itu akan mau bekerjasama dengannya.
Mulai saat ini, Aaron akan memposisikan diri untuk menjadi musuh Xavier Light. Tadinya dia berpikir bahwa Xavier sudah mati akibat pisau yang dia tusukkan ke dadanya, tetapi mengingat lelaki itu telah mengirimkan anak buahnya datang menyergap motel tempatnya bersembunyi untuk meringkusnya, maka bisa dipastikan bahwa lelaki sialan itu pastinya masih hidup.
Aaron tahu bahwa dia tak akan bisa melawan Xavier Light seorang diri, dia harus mendapatkan sekutu, dan Dimitri sang mafia adalah orang yang menurutnya sepadan untuk menghadapi Xavier.
Dengan napas terengah dan kaki diseret kepayahan, Aaron melangkah menuju pintu gerbang kantor perusahaan milik Dimitri yang megah. Langit masih pekat meskipun hari sudah bergulir menuju dini hari, dan Aaron sendiri sampai detik ini tak tahu bagaimana caranya dirinya bisa menjangkau Dimitri Kazak yang berada di pucuk pimpinan perusahaan ini.
Penampilannya sendiri sangat menyedihkan, dengan pakaian lusuh penuh darah dan keringat, belum lagi ditambah mukanya yang kotor dan bengkak akibat dihajar sebelumnya. Para satpam yang berjaga di pintu gerbang perusahaan itu sudah pasti akan mengiranya sebagai gelandangan atau orang gila dan akan mengusirnya bahkan sebelum Aaron bisa mengutarakan maksudnya.
Tetapi Aaron tidak punya pilihan lain, dia harus nekat kalau tidak dia bisa mati terlunta-lunta di jalanan.
Napas Aaron mulai berat ketika dia sampai ke dekat gerbang perusahaan milik Dimitri itu. Sesuai dengan dugaannya, pasukan kemanan tampak berjaga dengan siaga di sana. Mereka semua tampak seperti pasukan keamanan biasa, tetapi Aaron tahu pasti bahwa anak buah Dimitri pastilah bersenjata lengkap.
Mendekati mereka sama saja mempertaruhkan nyawa, tetapi Aaron menguatkan tekad dan tak memperlambat langkahnya.
"Berhenti di sana!" Suara salah satu pemimpin penjaga keamanan langsung menghardik tegas, membuat tubuh Aaron membeku kaku secara otomatis.
"Ini adalah area private perusahaan. Yang tak berkepentingan dilarang mendekat!" Kembali pemimpin penjaga keamanan itu memberikan peringatan, sementara sinar lampu yang terang langsung diarahkan ke wajah Aaron, membuatnya menyipitkan mata dan mengerutkan kening karena silau.
Aaron mengangkat tangannya ke atas wajah untuk melindungi matanya dari cahaya sekaligus menunjukkan bahwa dia tak sedang membawa senjata berbahaya yang mengancam pasukan penjaga di depannya.
"Namaku Aaron Dawn," Aaron mencoba berteriak, tetapi tenggorokannya terasa sangat sakit seolah mau sobek. Rasa sakit itu mengirimkan nyeri mengerikan yang seolah membelah kepalanya, membuat Aaron mengerutkan keningnya untuk menahan sakit dan memaksa dirinya melanjutkan bersuara, "A-aku datang dengan damai. Aku ingin bertemu dengan Dimitri Kazak," teriaknya lagi, menyambung kalimatnya.
Sayangnya, teriakannya itu menghabiskan seluruh energi yang dimilikinya, dan itu masih ditambah dengan cahaya terang yang menerangi tanpa toleransi tepat menusuk ke matanya, menciptakan rasa pusing mendera yang membuat kepalanya seolah sedang digergaji dengan gergaji tumpul berkarat yang melumpuhkannya pelan-pelan.
Pertama-tama, Aaron jadi tak bisa mendengar apa-apa, kemudian citra yang diterjemahkan oleh indra pengelihatannya jadi mengabur dan berputar selayaknya gasing berkecepatan tinggi. Lalu sebagai pukulan akhir, kegelapan langsung merenggut kesadarannya tanpa belas kasih, membuat tubuh Aaron langsung rubuh, jatuh berguling di rerumputan tanpa sempat mengutarakan maksudnya sepenuhnya.
***
Xavier mengucapkan kalimatnya dengan tenang, tetapi ada isyarat sensual di sana yang membuat pipi Sera merah padam.
"B-baiklah, kalau begitu, kita sepakat." Sera mencoba memecah keheningan penuh kecanggungan yang membentang di antara mereka dan menyahuti perkataan Xavier sebelumnya dengan kalimat persetujuan.
Mata Xavier sendiri tampak menyusuri keseluruhan diri Sera tanpa izin, mengawasi setiap detail Sera seolah ingin menyelisik dan mencari-cari titik lemah yang bisa diserangnya.
"Segera setelah pengacaraku menyiapkan berkasnya, kau akan mendapatkan sebuah rumah di pinggiran kota yang berudara sejuk dan bersih untuk kau tempati, rumah itu sudah dilengkapi dengan staff rumah tangga yang loyal dan juga para pengawal yang siap menjamin kemanananmu. Seluruh kebutuhan hidupmu akan kujamin, dan kau bebas keluar kemanapun, ke mall, ke kelab malam atau ke restoran restoran dan tempat hiburan yang menurutmu menyenangkan untuk menghibur dirimu. Tidak ada batasan, tetapi kuharap kau tetap bertanggung jawab dan menjaga martabatmu dengan statusmu yang masih menjadi istriku." Xavier menjabarkan ketentuan panjangnya dengan suara datar tanpa emosi.
Reaksinya berbeda dengan Sera yang langsung melebarkan mata, terkejut dengan keputusan itu.
"K-kita... tidak akan tinggal bersama?" tanyanya bingung.
Xavier menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Jika hasil test darahmu ternyata menunjukkan bahwa kau mengandung. Maka kau akan menjalani kehamilanmu dengan aman di rumah yang telah kusiapkan bagimu. Jangan khawatir, aku juga menyediakan tenaga medis profesional yang akan siap siaga membantumu dalam kondisi apapun." Xavier menatap Sera tanpa perasaan. "Aku tak akan menemuimu dan tak akan menyentuhmu. Tetapi aku akan memastikan bahwa diriku hadir saat kau melahirkan nanti. Begitu proses kelahiran selesai dan anak kita dilahirkan ke dunia dengan selamat, maka aku menganggap kesepakatan kita sudah berakhir. Aku akan menceraikanmu secepatnya."
Xavier mengawasi Sera dan memperhatikan bagaimana wajah Sera berubah pucat pasi mendengar penjelasannya. Dilihatnya bibir Sera terbuka, seolah perempuan itu hendak menyanggah perkataannya, tetapi Xavier langsung menggerakkan tangannya, memberi isyarat supaya Sera tak berkata-kata dahulu.
"Aku belum selesai bicara," ucap Xavier dengan nada tajam ke arah perempuan yang tergugu itu. "Kemungkinan kedua, jika kau belum hamil, maka seperti yang kukatakan kepadamu sebelumnya, aku akan membuat pengaturan jadwal untuk mengunjungimu dan membuahimu sesuai dengan pemantauan jadwal masa suburmu. Selebihnya, jika kau akhirnya berhasil hamil, maka semua hal di pengaturan pertama akan otomatis berlaku," sambungnya tanpa belas kasihan. Dia sengaja menggunakan bahasa ilmiah tanpa perasaan untuk menyebutkan mengenai hubungan fisik mereka di atas ranjang, supaya Sera tahu bahwa Xavier hanya menganggap hal itu sebagai kewajiban ilmiah yang harus dilakukan untuk memiliki seorang anak secara alami.
__ADS_1
Xavier bisa saja menggunakan metode inseminasi buatan atau bayi tabung kepada Sera, tetapi itu berarti dia mengizinkan tim dokter dan orang lain untuk menjamah sisi paling intim dari diri Sera dalam proses pelaksanaan metode tersebut secara teknis. Untuk saat ini, Xavier tak ingin membiarkan itu terjadi. Pun dia berpikir bahwa seorang anak yang dilahirkan secara alami, tentu akan lebih baik dibandingkan menggunakan metode lainnya yang memerlukan campur tangan ilmu pengetahuan dalam prosesnya.
"Xavier...." Sera berucap ragu lalu tiba-tiba menghentikan perkataannya, seolah-olah ada yang mengganjal di perasaannya yang sulit untuk diungkapkan.
Xavier mengerutkan keningnya. "Kau sudah memberikan persyaratanmu dan aku menyetujuinya. Sekarang, aku telah memberikan persyaratanku dan kuharap kau bersikap adil dengan menyetujuinya juga." Dengan sengaja, Xavier mengabaikan ekspresi protes di wajah Sera. "Sudah dini hari, maukah kau meninggalkanku sendiri? Aku lelah dan ingin beristirahat," usirnya terang-terangan.
Sikap dingin Xavier menusuk sampai ke dalam hati Sera, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya. Entah apa yang terjadi pada Xavier yang menyebabkan lelaki itu berubah seratus delapan puluh derajat dan bersikap seolah-olah tak sabar ingin menyingkirkan Sera dari pandangannya.
Tetapi, Xavier sudah menyetujui kesepakatan yang diajukannya, dan itu sendiri sudah merupakan pencapaian bagus, bukan? Mengenai pengaturan Xavier yang lain-lainnya, Sera mungkin butuh waktu untuk menelaahnya terlebih dahulu.
Mereka berdua sama-sama butuh waktu, dan Sera tak mau memaksakan kebersamaannya terhadap Xavier yang tak menginginkannya. Karena itulah dia menganggukkan kepala dan beranjak dari posisinya duduk, berdiri sebelum kemudian melangkah mundur menjauh dari tepi ranjang perawatan Xavier.
Sejenak Sera berdiri ragu di sana, memilin jari jemarinya dengan canggung, tetapi kemudian dia berucap,
"A-aku pergi dulu," bisiknya berpamitan.
Sebagai jawaban, Xavier menganggukkan kepalanya tipis dan memejamkan mata, seolah tak ingin melihat Sera lagi.
Mau tak mau, Sera akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan ruangan. Kesepakatan sudah disetujui, tetapi entah kenapa hati Sera terasa hampa dan sakit. Rasa sakit itu membuat mata Sera terasa panas, penuh dengan air mata menyesakkan yang berdesak-desakan di ujung matanya, tak sabar untuk meluncur turun dari sana dan jatuh bergulir dengan bebas di pipinya.
"Sera." Suara Xavier tiba-tiba terdengar memanggil, membuat tangan Sera yang sedang memegang gagang pintu ruang perawatan itu membeku.
"Y-ya?" Dengan suara tersendat Sera menjawab, tak mau menolehkan kepala karena tak ingin matanya yang berkaca-kaca terlihat oleh Xavier.
"Pulanglah. Kau tak perlu menungguiku di rumah sakit. Kau tak berguna di sini dan aku juga tak memerlukanmu di sini." Kalimat Xavier diucapkan dengan nada kejam. "Dokter Nathan akan memanggilmu kembali ke rumah sakit, saat sudah tiba waktunya tes darah bisa dilakukan."
Kalimat Xavier itu menusuk dan meremas hati Sera yang sudah patah dan terbelah, membuat air mata yang sejak tadi ditahannya langsung meluncur turun, jatuh menetes di pipinya.
Sera hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban kepada Xavier, karena dia tak mampu bersuara tanpa terisak. Setelahnya, perempuan itu membuka pintu ruang perawatan Xavier dan menghambur pergi, meninggalkan pintu tertutup di belakangnya.
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
AY
__ADS_1