
Samantha Dawn mencekiknya.
Sera membelalakkan mata, menatap terkejut dan memandang ke arah Samantha Dawn yang melotot sambil mencengkeramkan kedua tangannya yang keriput ke leher Sera, mencoba memutus jalan napasnya.
Perempuan tua itu tampak seperti orang gila di mata Sera. Rambutnya putih keabuannya yang biasanya disisir rapi dengan gaya elegan itu sekarang tampak terurai acak-acakan tidak disisir, sebagian besar jatuh menutupi mukanya yang menyeringai menyeramkan, seolah puas melihat Sera melotot meregang nyawa.
"Seharusnya kau yang mati!"
Samantha Dawn berteriak histeris, dengan raungan khasnya yang parau dan penuh kebencian, menjeritkan ungkapan isi hatinya yang selalu diteriakkannya kepada Sera saat perempuan tua itu marah besar dan menghajarnya sebagai pelampiasan.
Kalimat itu terlalu sering diludahkannya kepada Sera hingga Sera bahkan mulai menganggapnya sebagai mantra kutukan yang menang layak diterimanya.
"Seharusnya anakku Anastasia masih hidup! Seharusnya kau yang mati! Kau yang mati! Kau yang mati!"
Suara teriakan itu membahana, sementara Sera menggeliat karena paru-parunya seolah mau meledak, sesak karena buntu tak bisa mensirkulasikan udara, dan rasa sakitnya langsung menyebar, dari dada lalu merayap ke sekujur tubuh dengan hujaman menusuk mengerikan yang mendera sekujur tubuhnya tanpa kecuali.
Dia memang pantas mati. Dia tak berguna. Dia tak bisa menyelamatkan nyawanya. Dia tak bisa menyelamatkan nyawa ibunya...
Tubuh Sera yang tadinya berjuang, meronta-ronta di tengah cekikan kedua tangan Samantha yang menduduki tubuhnya, akhirnya melemas, pasrah, berserah dan ingin menyerah saja.
Tapi... dia belum membalaskan dendamnya kepada Xavier.
Pria jahat itu adalah penyebab semua malapetaka beruntun yang menimpa keluarganya, membuatnya terpisah dari kedua orang tuanya, membuat ayahnya invalid tanpa daya dan menjadi sandera bagi kebebasannya, membuat ibunya bunuh diri karena tak tahan dengan kepahitan yang mendera, dan membuat Sera mengalami siksaan mengerikan sepanjang masa hidupnya, dan dikekang oleh dendam serta ancaman Keluarga Dawn hingga saat ini.
Dia belum boleh mati!
Dengan kekuatan yang berasal dari jiwanya, Sera mengangkat tangannya, dia mencengkeram kedua tangan Samantha yang mencekiknya, lalu menarik tangan itu sekuat tenaga supaya melepaskan cekikannya dari leher Sera.
Usahanya berhasil. Tangan itu terlepas dan Sera mendorong tubuh Samantha supaya menjauh, sementara dia langsung menghirup kuat-kuat udara supaya terpompa ke paru-parunya yang tadi dikunci paksa.
Mata lalu Sera terbuka lebar, kali ini benar-benar terbuka di dunia maya.
Dia langsung menatap langit-langit kamarnya, sementara kebingungan masih menyelimuti pikirannya, membuatnya berkabut dan kehilangan arah untuk membedakan antara mimpi dan kenyataan.
Bayangan tentang Samantha yang mencekiknya hingga sesak napas.... itu semua hanyalah mimpi?
Tapi semua terasa nyata... bahkan napasnya yang sesak pun...
Sera mengerutkan kening ketika suara riuh rendah terdengar samar di telinganya. Itu seperti suara ramai orang yang berteriak dan berbicara di satu waktu bersmamaan.
Makin lama setelah kesadarannya makin jernih, suara ramai itu pun terdengar makin jelas dan keras.
Suaranya dari arah depan rumahnya?
Dipenuhi rasa ingin tahu, Sera bergegas bangkit dari posisi tidurnya, meloncat dari ranjang dan langsung terkesiap ketika menyadari apa yang membuat jalan napasnya begitu tersiksa hingga membuatnya mimpi buruk layaknya sedang dicekik oleh Samantha Dawn.
Kebakaran?
Oksigen di sekelilingnya sangatlah tipis, semuanya bercampur dengan hasil buangan asap bakaran yang mengepul berwarna hitam dan berasal dari luar kamarnya. Asap hitam itu seolah tak mau dihalangi, mencari segala macam cara untuk mencapai jalur napas Sera, seolah ingin membungkusnya dalam kematian yang menyiksa.
Dipenuhi oleh rasa syok yang membuat tubuhnya terpaku, Sera hanya bisa membelalak menatap asap hitam yang dengan lincah berhasil menembus lubang ventilasi udara, celah-celah pintu, dan terus berusaha menyusup melalui semua jalur yang bisa dilewatinya. Dilihat dari asap yang mengepul tebal, sudah bisa dibayangkan besarnya api yang melalap rumahnya di luar kamarnya.
Astaga, kenapa bisa ada kebakaran besar di rumahnya?
Rumah ini, meskipun sederhana dan kecil, adalah warisan dari kakeknya dari pihak ibu. Mungkin dari pekerjaannya di perusahaan besar yang menrimanya berdasarkan kualifikasi dan kecerdasannya yang mumpuni, Sera menerima banyak uang sebagai pendapatannya. Tetapi, semua uang itu diambil oleh Roman Dawn tanpa belas kasihan dan hanya menyisakan sedikit untuk biaya makan serta kehidupan sehari-hari Sera.
Alasan penghematan adalah salah satu hal yang menyebabkan Sera memilih tinggal sendiri di rumah mungil di perumahan yang hanya dihuni oleh para lansia ini. Tetapi, Sera tidak melakukannya dengan terpaksa. Dia senang dan bahagia tinggal di sini. Sera sangat mencintai persembunyian kecil dan sederhana ini, tempat ibunya dulu tumbuh besar dan tempat paling hangat yang paling menyenangkan bahkan jika dibandingkan dengan rumah tinggal yang jauh lebih besar sekalipun.
Tetapi sekarang… kebakaran telah menghanguskan rumah ini….
Seluruh kamar Sera sudah dipenuhi oleh kabut hitam yang mengerikan, layaknya bayangan kematian yang siap mencekik nyawanya. Bedanya kali ini, semua bukanlah mimpi, jika Sera tak berhasil menyelamatkan diri, dia benar-benar akan kehabisan napas dan mati.
__ADS_1
Sera mengerjap, insting bertahan hidupnya akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari keterpanaan dan membuatnya langsung berpikir cepat untuk mencari jalan keluar.
Udara mulai dipenuhi oleh kabut hitam yang menyesakkan dada, membuat Sera terbatuk-batuk karena asap itu mulai mengaliri tenggorokannya dan membuat jalur pernapasannya terasa pedih dan panas. Sera mengambil kain tipis yang menutupi permukaan nakas kecil di samping ranjangnya, lalu dengan sengaja menumpahkan gelas berisi air ke atas kain itu dan menutupkan kain basah itu ke mulutnya.
Ada jendela besar di salah satu sisi kamarnya yang langsung mengarah ke bagian depan rumahnya.
Saat ini, meskipun asap tebal sudah membumbung tinggi memenuhi udara sampai ke langit-langit rumah disertai dengan hawa panas yang menyusulnya, Sera yakin bahwa dia sudah pasti mampu mencapai jendela itu.
Dengan langkah kakinya yang penuh tekad, Sera segera berlari, mengabaikan matanya yang pedih tak karuan dan dadanya yang sesak hingga panas. Dia hampir sampai di dekat jendela itu ketika sebuah suara keras terdengar dari luar.
“Mundur! Kami akan memecahkan jendela ini!”
Instruksi itu terdengar begitu tegas hingga tanpa pikir panjang Sera langsung menurut. Lalu, tanpa menunggu jawaban dari Sera, terdengar suara memukul yang keras dari luar sana.
Butuh beberapa waktu sampai orang-orang di luar Sana berhasil, dan Sera yang menunggu sambil berdiri panik, mulai merasakan paru-parunya seolah terbakar dan napasnya mulai habis.
Sera menekan kuat kain basah itu di mulutnya, sementara matanya mulai berair dan pandangannya berkunang-kunang.
Kemudian, bersamaan dengan suara pukulan keras yang entah untuk kesekian kalinya, yang dibarengi dengan pecahan kaca panas berhamburan dan teralis besi jendela yang terlepas dari engselnya, Sera tak mampu mempertahankan kesadarannya untuk terus membuat otaknya terjaga.
Tubuhnya ambruk, pandangannya gelap, dan satu-satunya yang diingatnya sebelum dia pingsan sepenuhnya adalah ketika tampak siluet-siluet gelap manusia-manusia yang menembus asap tebal itu dan merubunginya.
Ketika Xavier memasuki ruangan itu, matanya langsung menatap ke arah Sera yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Mata perempuan itu terpejam rapat sementara ada beberapa luka goresan di kulit pucatnya yang diberikan antiseptik dengan warna mencolok yang tampak kontras di kulitnya. Perban putih untuk luka bakar ataupun luka sayatan kaca yang lebih parah juga tampak di bagian tangan dan sisi dahinya.
Selebihnya, tidak ada luka lagi.
Xavier memindai keseluruhan diri Sera dan entah kenapa merasakan perasaan lega tak terduga yang menyusup ke dalam jiwanya.
Para penyelamat yang dikirimkannya sedikit terlambat untuk mengeluarkan Sera dari rumah itu. Mereka tidak mempertimbangkan bahwa teralis besi yang berada di bagian jendela rumah kuno itu tertanam sebegitu kuatnya dan terbuat dari besi mati yang sangat kokoh. Karena itulah, mereka sedikit kesulitan untuk menghancurkan jendela itu.
Untunglah, meskipun tersendat, mereka berhasil tepat waktu untuk menyelamatkan Sera yang sudah pingsan karena kehabisan oksigen.
Suara pintu yang terbuka di belakangnya membuat Xavier menolehkan kepala dengan waspada. Tetapi ekspresi tegangnya mengendor ketika melihat Nathanlah yang ada di sana.
“Ternyata kau ada di sini. Aku mencarimu untuk membicarakan kondisi wanita ini,” ucap Nathan dengan ekspresi kaku.
Xavier melemparkan pandangannya ke arah Sera yang masih belum sadarkan diri, lalu lelaki itu membalikkan tubuh dan menghampiri Nathan, mengajaknya keluar ruangan.
“Mari kita bicarakan di luar,” ujarnya cepat dan memimpin langkah keluar ruang perawatan itu.
“Wanita itu terlalu banyak menghirup asap kebakaran dan terluka di permukaan kulitnya terkena serpihan kaca panas, dan juga ada beberapa luka bakar minor di tubuhnya. Hanya itu. Selebihnya dia tidak apa-apa.” Nathan, yang masih merasa jengkel karena dipanggil mendadak di waktu istirahatnya oleh Xavier untuk menangani salah satu korban kebakaran tengah malam tadi, menatap ke arah Xavier dengan pandangan curiga. “Kau secara khusus memintaku menanganinya. Serafina Moon. Siapa dia?”
Xavier melirik ke pintu ruangan tertutup tempat Sera dirawat, lalu membalas tatapan curiga Nathan dengan sikap defensif.
“Bukan urusanmu,” jawabnya singkat.
Nathan mendecakkan mulutnya sambil mengangkat alis. “Kau tak pernah terlibat dengan perempuan sebelumnya,” kepala Nathan menunduk dan dia menyipitkan mata ketika membaca laporan status pasien. Korban kebakaran di sebuah pemukiman padat penduduk yang untungnya berhasil dipadamkan sebelum memakan puluhan rumah milik manusia tak berdosa. Hanya ada dua rumah terbakar dan korban luka-luka. Tidak ada korban jiwa.
Setelah membaca laporan itu, Nathan mengangkat kembali kepalanya dan menatap ke arah Xavier dengan ngeri. “Apakah kau yang menyebabkan kebakaran ini terjadi?”
Nathan tentu saja bisa menebak dengan tepat. Xavier sama kejamnya seperti Akram. Jika dua kakak beradik itu ingin menghilangkan bukti atau mencapai suatu tujuan yang ekstrim, mereka tak segan-segan membakar habis seluruh pemukiman jika diperlukan.
Ketika ekspresi Xavier malahan berubah muram dan lelaki itu tak juga menjawab, Nathan melirik ke arah kamar Serafina dirawat dengan was-was.
“Kau membakar semuanya untuk melenyapkan saksi dan bukti? Apakah korban yang ada di dalam sana itu adalah calon korbanmu yang ingin kau bunuh?” ekspresi Nathan berubah serius. “Aku tidak pernah mau ambil peduli dengan urusanmu, pun jika kau membunuh musuh-musuhmu. Tetapi, tidak boleh ada pembunuhan disengaja di rumah sakit ini apalagi terjadi pada pasien yang berada di bawah pengawasanku. Kau tentu tahu bahwa aku adalah seorang dokter, bukan? Tugasku adalah menyelamatkan nyawa, bukan melenyapkannya. Jika kau hendak melakukan pembunuhan berencana di sini, maka aku akan mencegahnya,” ancam Nathan dengan tegas.
Xavier memasang ekspresi bosan mendengarkan kalimat panjang Nathan. Lelaki itu menipiskan bibirnya.
“Aku bukannya mau membunuh saksi. Dia, Sera, adalah calon asisten pribadiku. Mana mungkin aku membunuhnya?” sahut Xavier sambil lalu.
“Asistenmu atau bukan, mereka semua tidak terlepas dari target pembunuhanmu. Apa kau lupa bahwa asisten pribadimu yang terakhir mati di tanganmu?” sahut Nathan dengan nada mencela.
__ADS_1
Xavier mengibaskan tangannya. “Dia pengkhianat. Pengkhianat pantas mati. Itu kasus yang berbeda.
”“Aku tak akan ikut campur dengan segala metode pembunuhanmu yang mengerikan serta alasannya. Tetapi, membakar pemukiman padat penduduk adalah sikap yang sembrono. Apakah kau tak pernah memikirkan korban jiwa orang tak berdosa yang mungkin saja terenggut nyawanya karena ini?” seru Nathan sedikit marah.
Xavier memang mengerikan, tetapi sebagai seorang dokter yang mengutamakan keselamatan nyawa manusia sebagai kode etiknya, dia merasa harus memperingatkan Xavier supaya hal semacam ini –tindakan bermain-main dengan nyawa manusia- tidak terulang lagi di masa depan.
Xavier menyilangkan tangan, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding, lalu menatap ke arah Nathan dengan sikap mengejek.
“Apakah waktu itu kau juga semarah ini pada Akram ketika dia membakar habis rumah kontrakan milik Elana untuk menghapuskan jejak perempuan itu?” bibir Xavier mengular senyum tipis ketika memperhatikan keterkejutan di di mata Nathan ketika mendengarkan pertanyaannya. “Ya, tentu saja aku tahu. Ketika mengincar Elana dulu, aku melakukan penyelidikan menyeluruh terhadapnya. Tidak ada yang tidak bisa diketahui oleh penyelidikku, bahkan informasi yang sudah dimusnahkan atau dikuburkan dalam-dalam sekalipun, aku pasti menemukannya.”
“Aku baru mengetahui kebakaran itu setelah peristiwanya terjadi. Tetapi jika aku mengetahuinya sebelumnya, sikapku akan tetap sama, aku akan berusaha mencegahnya karena aku tak pernah menyetujui tindakan apapun yang mempermainkan nyawa manusia.” Nathan mengepalkan tangan. “Akram memastikan seluruh penduduk selamat pada malam itu. Hanya ada satu korban jiwa dan itu adalah Elana palsu yang mayatnya dibeli dari mayat tak bernama di rumah sakit ini. Dia juga memberi ganti rugi yang sangat besar dalam bentuk donasi dari penyumbang tak bernama. Orang-orang yang menjadi korban bahkan mensyukuri kebakaran itu,” geram Nathan membela Akram.
“Kalau begitu, aku akan melakukan hal yang sama dengan Akram. Mereka yang menjadi korban, akan menerima ganti rugi berkali lipat yang akan sangat mereka syukuri. Jangan memberlakukan standar ganda. Nathan. Memuji tindakan yang satu karena dia adalah temanmu, tetapi mencela tindakan yang lain hanya karena dia adalah musuhmu,” Xavier mendongakkan dagunya dengan sikap angkuh. “Sekarang, lebih baik kau berhenti mengurusi urusanku dan menjalankan tugasmu sebagai seorang dokter. Aku ingin kau memastikan bahwa calon asistenku sehat dan baik-baik saja, sehingga aku bisa membawanya pulang ke rumahku.”
Nathan terdiam sejenak, mencerna kalimat Xavier, lalu akhirnya memutuskan untuk berkompromi dan tak memperpanjang perdebatan mereka. Dia kemudian mengembalikan lagi ranah pembicaraan menyangkut pasien wanita yang saat ini berada di dalam ruang perawatan.
“Wanita itu, jika dia memang benar asisten pribadimu dan kau tidak berniat jahat kepadanya… kurasa kau perlu mengetahui ini…,” Nathan menghentikan ucapannya, tampak ragu.
Tubuh Xavier menegak dan dia menjadi waspada.
“Ada apa?” tanyanya cepat.
"Aku biasanya tidak mempedulikan apa yang terjadi di masa lalu pada pasienku. Tetapi yang satu ini, sedikit menggangguku. Hasil rontgen menunjukkan bahwa tulang rusuknya pernah patah di beberapa sisi, begitupun di pergelangan tangan dan tulang keringnya.” Nathan mengerutkan kening, seolah tak nyaman dengan percakapan ini. “Dan juga, ketika tim medis menyisir permukaan kulitnya untuk memindai apakah ada bekas luka bakar di tubuhnya, aku melihat ada bekas luka dalam di permukaan kulit punggungnya, yang meskipun sudah memutih dan memudar, tetap saja terlihat jelas dari mata seorang dokter sepertiku. Itu… seperti bekas penyiksaan. Menurutku, perempuan itu telah dicambuk berkali-kali di masa mudanya sehingga bekasnya tertanam dalam di kulitnya dan tak bisa hilang.”
Yang pertama kali terjaga adalah indra penciumannya.
Dia menghidu aroma menyenangkan, aroma citrus yang berpadu dengan kayu cendana yang lembut dan sedikit guratan aroma vanila tipis yang sensasinya baru tercium setelahnya.
Sera mengerjapkan mata lalu membukanya perlahan, dan matanya langsung terpaku pada langit-langit berwarna putih dari sebuah ruangan yang bermandikan cahaya matahari.
“Selamat siang.”
Suara yang sangat dikenali oleh Sera langsung menyambar indra pendengarannya yang terlambat siaga.Tentu saja Sera mengenali suara itu.
Dengan waspada Sera menolehkan kepala ke arah sumber suara tersebut, dan matanya langsung bersirobok dengan Xavier yang memasang senyum lembut palsu di mulutnya, masih dengan penampilanya yang indah layaknya malaikat.
Lelaki ini tampak segar dan bersemangat dan Sera menyadari bahwa aroma menyenangkan yang menyapa indra penciumannya di detik pertama ketika kesadaran menyambar otaknya tadi ternyata berasal dari lelaki ini.
Sera mengerutkan keningnya, merasa benci kepada lingkaran nasib yang menjebaknya hingga dia tak bisa berbuat apa-apa.
Oh Astaga…. Déjà vu yang tidak diinginkan malahan terjadi lagi.
Sepertinya nasib memang sedang ingin membawanya pada kesialan, karena apapun yang dia lakukan, kemanapun dia mencoba menghindar, nasib selalu mengembalikannya kepada lelaki jahat ini.
***
***
Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.
Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.
Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.
Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR
Thank You. By AY
__ADS_1