
Keheningan membentang di udara dengan aura mengerikan ketika pertanyaan Akram seolah terlempar di antara mereka semua dan menciptakan kengerian bagi semua manusia yang sedang sial berada di dalam ruangan itu – tentu saja Xavier tidak terhitung di dalamnya.
Xavier adalah satu-satunya yang bisa tetap tersenyum lebar menanggapi kemurkaan Akram yang sudah hampir meledak.Sambil mengangkat bahu, Xavier menatap Akram dengan sikap menjengkelkan.
“Aku dan Elana sudah menjalani sesi yang sangat akrab tadi. Dan kami memutuskan untuk mengakhiri sesi yang meyenangkan itu dengan saling berpelukan. Rasanya begitu damai hingga kami sama-sama tertidur, bukan begitu Elana?” Xavier menatap Elana riang, melemparkan tanggung jawab untuk menjawab kepada perempuan itu.
Mata Elana melotot marah pada Xavier. Lelaki ini memang telah berhasil meyakinkannya bahwa sebagai seorang kakak dia sangat mencintai Akram, tetapi mencintai bukan berarti tidak akan mengganggunya. Xavier bersikap seperti kanak-kanak, layaknya seorang kakak yang senang mengganggu adiknya dan membuatnya menangis. Tetapi, berbeda dengan kanak-kanak dimana akan berujung dengan adegan sang adik yang menangis dan sang kakak yang dimarahi ibunya, apa yang dilakukan oleh Xavier malahan memancing kemarahan Akram yang tentunya akan menciptakan akibat sangat mengerikan.
Sang adik yang salah paham bisa membunuh sang kakak yang bertepuk sebelah tangan dan tak ada seorang ibu untuk menengahi keduanya.
Padahal Elana sudah memantapkan diri untuk membantu menyelesaikan kesalahpahaman antara dua bersaudara itu. Tetapi, kalau Xavier tidak mencoba mempermudah situasi dan selalu berusaha membuat Akram marah serta membencinya, bagaimana bisa kedua bersaudara ini didamaikan?
“Elana?”
Akram menggeramkan panggilannya dengan nada tidak sabar dengan nada menuntut penjelasan. Lelaki itu tampak begitu marah hingga membuat Elana menelan ludah karena gugup.
Xavier sialan itu telah menggunakan kalimat bermakna ambigu untuk menggambarkan apa yang terjadi di antara mereka berdua tadi pagi hingga bisa diintepretasikan dengan bebas ke arah yang salah. Sekarang Xavier malahan tampak melepas tanggung jawab, melemparkan kewajiban kepada Elana untuk memusnahkan prasangka Akram.
“Aku… aku tidak melakukan apapun… selain… selain…,” suara Elana terbata, kebingungan mencari kalimat yang paling tepat guna menjelaskan apa yang terjadi tadi antara dirinya dengan Xavier.
“Selain memeluk dan menenangkanku, lalu kami tertidur bersama sambil berpelukan,” Xavier menyelesaikan kalimat Elana dengan gamblang untuk membantu Elana menjelaskan apa yang terjadi.
Apa yang dikatakan oleh Xavier memang merupakan suatu kebenaran, tetapi caranya menjelaskan malahan semakin memperburuk keadaan.
“Ayolah Akram, kau tak perlu mendesak Elana untuk mengatakannya dengan mulutnya sendiri. Kau hanya perlu mempercayai apa yang kukatakan. Kau lihat sendiri, bukan? Elana bahkan tidak bisa membantah kata-kataku. Itu berarti apa yang kukatakan kepadamu adalah sebuah kebenaran.” sambung Xavier dengan nada meremehkan.
Kalimat yang keluar dari mulut Xavier langsung mempengaruhi Akram dengan telak. Bayangan lengan kurus Elana yang seharusnya hanya digunakan untuk memeluknya, ternyata telah melingkari tubuh Xavier dan juga memeluknya…. Bayangan dua anak manusia yang tertidur bersama sambil berpelukan…. Semua bayangan itu membuat darahnya mendidih, bergolak dalam gelembung panas yang meledak-ledak, siap untuk menghancurkan.
Elana adalah miliknya dan akan selalu menjadi miliknya. Perempuan itu hanya boleh menyentuh dirinya sebagai lelakinya. Dan perempuan itu hanya boleh disentuh olehnya! Itu adalah peraturan dasar yang telah ditetapkan oleh Akram pada hubungan mereka berdua. Hubungan eksklusif yang mungkin akan mengikat selamanya sampai mereka mati.
Jika ada yang berani merusak peraturan itu... jika sampai ada lelaki lain yang disentuh oleh Elana....
Seketika itu juga, Akram menarik pistol dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke arah kepala Xavier. Ekspresinya begitu gelap menyeramkan, dipenuhi aura membunuh berbahaya yang menguar dari tubuhnya.
Orang-orang yang ada di ruangan itu langsung bereaksi dengan caranya masing-masing. Para tenaga medis memekik dan melangkah mundur untuk melindungi diri, para bodyguard melangkah maju sambil mengeluarkan senjatanya masing-masing, berniat untuk melindungi tuan mereka sendiri-sendiri. Regas juga mengeluarkan pistol dari balik jasnya, dan Elana hanya terperangah melihat situasi yang tadinya tampak damai langsung berubah menjadi menegangkan, hanya karena tingkah provokatif Xavier yang tak tahu adat.
***
***
Dimitri berada di atas helikopter yang terbang di udara dengan suara keras baling-balingnya memenuhi indra pendengaran. Dia tengah duduk sendiri sementara beberapa bodyguard bersenjata ada mendampinginya di dalam helikopter tersebut.
__ADS_1
Dimitri memang sengaja tidak membawa banyak orang. Dia tidak memerlukannya. Jika apa yang dikatakan oleh Regas benar adanya, maka satu perempuan saja sudah cukup untuk menjadi tameng pelindung sehingga dia bisa keluar selamat dari medan perang dengan membawa jaminan bernilai tinggi. Dia sudah pasti akan lolos dengan tubuh tanpa luka, sempurna tanpa kekurangan suatu apapun.
Begitu dia mendapatkan perempuan itu, maka piala kemenangan ada di tangannya.
Tangan Dimitri memegang ponselnya dan melirik pesan yang ada di sana dengan ekspresi puas. Regas telah mengirim pesan kepadanya, memberitahu bahwa waktunya telah tiba untuk penjemputan. Itu artinya, wanita yang memegang peran utama dalam kisah ini, sudah berada pada jebakan yang tepat untuk direnggut seketika.
Bibir Dimitri mengurai senyum ketika lelaki itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya, lalu menarik sebuah pistol sebagai gantinya. Sebentar lagi dia akan menunjukkan wajahnya di depan dua musuh besarnya, sekaligus memamerkan betapa kuatnya dirinya. Dimitri sungguh-sungguh tidak sabar untuk memamerkan kemenangannya di depan Akram Night dan Xavier Light.
Sebentar lagi… sebentar lagi dia akan tiba di tujuan…. Dan sebentar lagi saat kemenangan yang menggelora itu akan segera tiba untuk dia reguk sepenuhnya dalam kepuasan tanpa tanding.
***
***
Xavier sendiri, yang menerima todongan pistol di kepalanya sama sekali tak gentar. Mata lelaki itu berkilat, malahan seolah sedang menahan tawa. Seolah-olah sikap Akram itu malahan terasa menggelikan baginya dibandingkan dengan menakutkan.
“Apakah kau akan membunuhku sekarang, Akram? Di depan perempuanmu?” sahut Xavier dengan suara setengah mengejek, menunjukkan pengetahuan pasti bahwa Akram tidak mungkin memberikan pertunjukan berdarah-darah di depan mata Elana dengan sengaja.
Akram menyipitkan mata, niat membunuh tak surut dari dirinya.
“Kau telah kurang ajar menyentuhkan tanganmu pada Elana. Bukankah aku sudah bilang? Berani kau menyentuh perempuanku sedikit saja, maka kau akan mati,” suara Akram terdengar penuh tekad. Seolah-olah lelaki itu sudah berada di batas kesabarannya.
Tanpa menunggu reaksi Xavier selanjutnya, jari Akram kemudian bergerak, hendak menarik pelatuk pistolnya. Tetapi, gerakan tangan mungil yang mencengkeram pakaianya mengalihkan perhatiaan Akram, membuatnya menoleh dan menatap langsung ke arah Elana yang ternyata telah mendekatkan kursi roda ke arahnya.
“Ku…. Kumohon jangan membunuhnya, tidak terjadi sentuhan lebih daripada yang seharusnya… aku… aku sungguh-sungguh hanya sedang menenangkan Xavier,” ucap Elana dengan suara perlahan dan penuh kehati-hatian, tahu bahwa jika dia sampai salah kata sedikit saja, Akram bisa meledak dan melenyapkan nyawa tanpa pikir panjang.
“Menenangkan psikopat gila itu? Memangnya muslihat apa yang dia lakukan kepadamu sehingga kau merasa perlu menenangkannya? Dia itu orang gila dan tak perlu ditenangkan!” Akram masih menodongkan pistolnya ke arah Xavier, tetapi kemarahannya sekarang mengarah pada Elana. “Aku sudah bilang kepadamu untuk tak terjebak dengan segala sandiwaranya! Kenapa kau malah menurunkan pertahananmu dan menyentuhnya?” hardik Akram penuh ketidakpuasan. “Apakah sekarang setelah kau berakrab-akrab dengan Xavier, kau jadi senang menghabiskan waktu di rumah ini bersamanya, hah? Apakah kau jadi memilih tinggal di sini daripada pulang bersamaku?”
“Hei, dia mengatakan yang sebenarnya, bukan salahnya. Aku yang membuatnya memelukku. Dia hanya berniat baik untuk menghiburku. Tidak ada sepercikpun niatan seksual di dalam pelukan kami…,” Xavier tiba-tiba merasa perlu untuk membela Elana, lupa kalau ada pistol yang ditodongkan ke arahnya. Dia tahu bahwa Akram selalu bersikap keras dan kejam, tetapi dia tak menyangka bahwa Akram juga akan bersikap keras kepada Elana.
Apakah dugaannya salah? Apakah ternyata hati Akram masih begitu kerasnya dan Elana ternyata belum berhasil meluluhkannya?
“Diam kau!” Akram menggeram ke arah Xavier, tidak suka ketika lelaki itu bergerak untuk membela Elana. Akram jadi merasa bahwa Xavier dan Elana seolah-olah sedang bekerjasama untuk menentangnya.
Elana seharusnya menentang Xavier dalam segala hal, tetapi kenapa sekarang perempuan itu seolah mendukung Xavier? Dan Xavier sendiri… kenapa lelaki itu berubah sikap dan malahan mencoba memberikan pembelaan untuk Elana? Bukankah seharusnya Xavier akan selalu membenci dan mencoba menghancurkan Elana karena Elana adalah makhluk yang sangat penting bagi Akram?
Apa yang sebenarnya terjadi di dua puluh jam dirinya tidak ada dan Xavier bebas menghabiskan waktunya bersama Elana? Apakah hati Elana benar-benar tergerak oleh Xavier? Apakah perempuan itu….
Tangan Akram yang menggenggam gagang pistol bergetar dan mengencang ketika pikiran-pikiran buruk dipenuhi kecemburuan memenuhi kepalanya. Buku-buku jarinya makin memutih dan auranya sungguh mengerikan, membuat siapapun yang memiliki akal sehat pasti akan memilih berlindung dan menjauh dari kemurkaannya.
“Akram,” hanya Elana yang tampaknya bisa menghadapi kemurkaan Akram tanpa merasa gentar. Perempuan itu seolah tidak ingin menyerah. Kali ini bahkan Elana terpaksa menggunakan kondisi fisiknya untuk melunakkan lelaki itu. “Aku… aku sedikit kedinginan dan tak enak badan… aku ingin pulang,” bisik Elana perlahan, mencoba membuat perhatian Akram sepenuhnya ke arahnya sehingga lelaki itu lupa dengan niatnya membunuh Xavier.
“Pulang?” mata Akram tiba-tiba melebar. Perkataan Elana itu menohok ke dalam jiwanya, membuatnya tertegun. “Pulang…. Kemana?” sambung Akram kemudian, seolah-olah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
__ADS_1
Pipi Elana memerah, tetapi tak urung dia menjawab. “Pulang… bersamamu,” jawabnya perlahan dengan nada enggan.
Akram langsung menurunkan pistolnya dan memusatkan perhatiannya ke arah Elana. Lelaki itu hanya menatap Elana dan seolah lupa pada yang lainnya.
“Kau bilang…. Bahwa bersamaku…. Ke apartemenku…. Itu pulang?” tanya Akram tanpa bisa menyembunyikan nada takjub di dalam suaranya. Lelaki itu tampaknya sedang berusaha memastikan apakah Elana tidak sedang salah kata.
Elana mengerutkan kening, mendongakkan dagunya dan menatap Akram dengan jengkel.
“Aku tidak punya tempat lain untuk pulang selain ke tempatmu, bukan?” sahutnya cepat.
Itu hanya kalimat biasa, tetapi entah kenapa terasa begitu berarti bagi Akram. Elana bilang bahwa dirinya adalah tempatnya berpulang. Itu sudah cukup bagi Akram. Hanya satu kalimat saja dan seluruh kemarahan Akram langsung luruh digantikan oleh kepuasan tak terperi.
Bibir Akram menipis mendengar jawaban Elana, tetapi ada kilat di matanya yang menunjukkan sinar kepuasan. Diliriknya Xavier dengan tatapan sinis, terlalu senang dengan apa yang dikatakan oleh Elana hingga dia kehilangan minat membunuh lagi.
“Kau dengar itu Xavier? Apapun yang sedang coba kau lakukan, itu percuma. Elana akan selalu memilih pulang bersamaku,” ujarnya dengan nada pongah penuh kemenangan.
Xavier mengangkat bahu dan tersenyum masam. Rupanya dugaannya sebelumnya salah. Hati Akram bukan hanya telah diluluhkan oleh Elana. Adiknya itu sepertinya malah sudah mencopot hatinya dari tubuhnya dan menyerahkannya seratus persen untuk digenggamkan ke dalam tangan Elana.
“Terserah kepadamu,” jawab Xavier akhirnya dan memilih membalikkan tubuh dan menatap Akram dengan penuh isyarat. “Kurasa, kalau kau tak ingin melihat pertunjukan yang mengganggu setelah ini, kau harus segera membawa Elana pergi meninggalkan tempat ini,” Xavier berucap khusus kepada Akram dan melemparkan lirikan penuh isyarat ke arah Regas, kemudian dia menggerakkan tangannya dengan isyarat lambaian selamat tinggal. “Selamat jalan, aku akan melanjutkan kegiatanku untuk menikmati minum anggur, sampai jumpa tiga hari lagi,” ujarnya ringan sambil melangkah ke mini bar untuk mengambil minuman bagi dirinya sendiri.
Tadinya, Xavier berencana menunjukkan kepada Akram dan Elana, keindahan reaksi dari racun penghancur darah yang diberikannya pada Regas. Dia menganggap itu akan menjadi pertunjukan yang menarik bagi Akram. Tetapi sekarang, melihat wajah Elana yang pucat dan kelelahan di atas kursi roda, Xavier merasa tak tega kalau sampai Elana ikut melihat pertunjukan berdarah-darah yang akan menciptakan trauma dan mimpi buruk bagi perempuan itu. Karena itulah dia memberi isyarat pada Akram untuk segera membawa Elana pergi dari tempat ini. Sebab, Xavier tahu bahwa sebentar lagi, racun yang diberikannya ke tubuh Regas akan segera bereaksi.
Akram langsung menangkap maksud isyarat Xavier. Dia menganggukkan kepala tipis, lalu tangannya bergerak mengelus puncak kepala Elana, mencoba berucap dengan nada lembut di luar kebiasaannya.
“Kita akan segera pulang,” Akram mengangkat ponselnya dan berpaling sejenak, bermaksud untuk menelepon supirnya supaya membawa mobil ke lobby rumah Xavier.
Pada saat yang sama, suara gerakan tergesa-gesa terdengar, disusul dengan pekik Elana ketika direnggut dan ditarik paksa bangkit dari kursi rodanya.
Akram melepaskan ponselnya dan menoleh waspada sambil refleks menodongkan kembali pistolnya. Begitupun dengan Xavier yang melupakan jalannya menuju bar dan langsung membalikkan tubuh sambil menarik pistol dari jasnya serta langsung membidik sasaran.
Tetapi, keduanya ternyata terlambat.
Keduanya lengah oleh kegiatan kecil yang membuat mereka melepaskan perhatiannya dari Elana. Pengetahuan bahwa Xavier telah meracuni Regas membuat Akram dan Xavier berpikir bahwa Regas sama sekali tidak berbahaya. Tetapi nyatanya, racun yang sengaja diberikan oleh Xavier dengan jumlah sedikit untuk memperlambat proses reaksi racun itu, ternyata malah belum berefek sepenuhnya, membuat Regas masih cukup kuat untuk melakukan aksi.
Di depan mata mereka, Regas menggunakan lengannya untuk meringkus leher Elana dari belakang, memaksa Elana berdiri bersandar kepadanya dengan penuh ketakutan dan ketidakberdayaan. Di tangannya yang lain, Regas memegang pistol hitam yang diarahkannya langsung, menempel ke pelipis Elana.
“Jangan bergerak!” Regas berteriak panik ketika melihat Akram dan Xavier sama-sama menodongkan pistol ke arahnya. Sungguh suatu pengalamanan yang mengerikan. Tetapi, saat ini entah kenapa Regas merasa lebih kuat dan berkuasa. Itu semua karena dia memegang sesuatu yang sangat penting di tangannya. Wanita bernama Elana ini, sungguh memiliki pengaruh besar pada dua makhluk buas di depannya ini.
Bahkan hanya dengan mengetatkan cekikan lengannya ke leher Elana dan memainkan jemarinya di pelatuk pistol yang menempel di pelipis Elana, dia bisa melihat sinar ketakutan nyata yang berkilat, baik di mata Akram maupun Xavier.
“Kalau kalian bergerak, perempuan ini mati!” teriak Regas penuh ancaman yang tak main-main.
***
__ADS_1
***