
"Selamat pagi,"
Ketika Elana membuka mata, yang tampak dihadapannya adalah Akram yang masih mengenakan jubah tidur. Lelaki itu sedang tersenyum, dan membawa sesuatu pada nampan di tangannya.
Berbeda dengan semalam dimana kegelapan yang temaram melingkupi mereka berdua, kali ini cahaya matahari pagi dibiarkan menerobos masuk ke dalam kamar dan menebarkan sinarnya memenuhi ruangan dari tirai jendela yang dibuka. Sekeliling mereka begitu terang dan Elana bisa melihat betapa tampannya Akram ketika lelaki itu melepas topeng cemberutnya dan menggantinya dengan ulasan senyum manis yang indah dipandang mata.
Elana mengusap mata dan menggeliat, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Gerakannya tersebut membuat selimut yang dikenakannya tiba-tiba melorot sampai ke pinggang, membuat Elana dengan gugup langsung meraihnya dan mencengkeram dengan kedua tangannya untuk ditutupkan ke dada. Mata Elana menatap ke arah Akram dengan waspada, takut kalau gerakan tak sengajanya itu akan salah diartikan oleh Akram sebagai sikap merayu tak tahu malu.
Lelaki itu tidak mungkin bergairah lagi hanya karena melihat selimutnya melorot, bukan? Setelah semalam hampir tanpa henti dia....
Mata Elana terpaku pada mata Akram yang berkilat saat menatapnya. Tetapi, sepertinya tatapan Akram bukannya sedang bergairah melainkan terpaku pada satu tempat di tubuh Elana.
Elana menunduk mengikuti arah pandangan Akram dan menyadari bahwa lelaki itu sedang menatap bekas-bekas memar di tubuhnya. Permukaan kulit Elana yang pucat membuat tanda memar gelap itu tampak lebih parah dari yang seharusnya. Padahal, menurut apa yang dirasakan oleh Elana sendiri, rasanya sudah tak semenyakitkan ketika memar itu baru terbentuk. Ketika itu, rasanya menusuk dan menyebar ke sekujur tubuh, membuatnya kesakitan bahkan hanya untuk menggerakkan tubuh. Sekarang, asalkan permukaannya tidak ditekan dengan keras, Elana tidak akan merasa sakit.
Sejak kejadian mengerikan yang menimpa Elana itu, Akram sendiri tampaknya menghindari membahas tentang upaya pemerkosaan yang hampir menimpa Elana ketika sedang berada di rumah Dimitri. Lelaki itu merawat memarnya dengan baik, mengoleskan salep seperti yang diinstruksikan oleh dokter Nathan kepadanya dan juga menyentuh permukaan kulit Elana yang memar dengan kehati-hatian yang amat sangat.
Tetapi, Akram hampir tidak pernah membicarakan kejadian mengerikan yang menimpa Elana tersebut. Elana pun demikian adanya, ingatan itu masih terasa begitu traumatis baginya, sehingga ketika Akram tidak mengangkat topik itu ke permukaan, Elana pun memilih menenggelamkannya dalam-dalam jauh di ingatannya yang paling tersembunyi.
Dengan gerakan tenang, Akram meletakkan nampan yang penuh berisi sarapan di tangannya itu ke nakas samping meja. Lelaki itu lalu bergerak naik ke atas ranjang, duduk di dekat Elana sementara jemarinya menyusuri permukaan kulit perempuan itu dengan sentuhan bergulir lembut layaknya kecupan sinar matahari pagi pada manusia-manusia yang bergerak menyapa hari.
"Bekasnya menggelap, tapi sisi-sisinya sudah mulai memudar, aku akan mengoleskan salepnya kembali setelah kau mandi," Akram berucap lembut, mengalihkan tatapannya dari memar berbekas itu dan kembali ke mata Elana. Keheningan tertahan sempat membentang di antara mereka berdua sebelum kemudian Akram menaikkan jemarinya yang mengusap leher Elana dan bergerak ke pipi perempuan itu, lalu mengelus pipi Elana dengan lembut. "Kau pasti ketakutan waktu itu," sambungnya parau dengan suara serak.
Elana menelan ludah. Perasaannya campur aduk. Antara kengerian yang muncul akibat memori yang membanjiri dirinya, bercampur dengan rasa lega karena Akram akhirnya mengangkat pembahasan menyesakkan dada itu ke permukaan, memberi kesempatan bagi Elana untuk membersihkan ruang hatinya yang dipenuhi oleh trauma.
"Aku... aku memang ketakutan, tapi aku berhasil bertahan..." sambung Elana pelan, berusaha menunjukan senyum untuk menutup dirinya yang rapuh terhadap Akram.
Mata Akram menggelap, pun dengan ekspresinya, seolah-olah ingatannya tentang peristiwa itu mengobarkan kemurkaan mengerikan di dalam jiwanya.
"Aku tahu. Aku melihat videonya." ucap Akram dengan nada gelap berbahaya.
Keterkejutan langsung melingkupi wajah Elana. Pipinya memerah antara malu dan syok yang mendera.
"Kau... kau melihat videonya?" tanyanya dengan nada mengulang perkataan Akram. Elana sempat melihat artis wanita yang jahat itu merekam percobaan perkosaan biadab itu dengan ponselnya, tetapi sungguh dia tak menyangka kalau rekaman itu bisa sampai ke tangan Akram.
"Dimitri mengirimkan lelaki yang mencoba memperkosamu itu kepadaku, dengan membawa bukti video itu. Aku langsung menghabisi keparat itu dengan tanganku sendiri," rahang Akram mengeras ketika lelaki itu mengetatkan gerahamnya dengan geram, "Seharusnya aku tidak memberikan kematian yang mudah kepadanya, seharusnya kusiksa dulu dia supaya merasakan kengerian dan ketakutan seperti yang kau rasakan sebelum ajal menjemputnya,"
"Akram," Elana dengan ragu menyentuhkan jemarinya ke rahang Akram, mencoba meredakan kemarahan lelaki itu yang tampaknya sudah berkobar begitu besar hingga membuat auranya terlihat begitu menakutkan. Bahkan, Elana harus mendorong keberaniannya sampai ke puncak untuk berhasil menggerakkan tangannya menyentuh pipi Akram seperti ini.
Sentuhan Elana ternyata memberikan pengaruh kepada Akram, lelaki itu mengerjapkan mara, lalu amahnya meyusut perlahan-lahan. Mata Akram kembali terpaku pada Elana dan entah kenapa ada kesedihan terisirat di sana. Akram meraih tangan Elana, membawanya ke bibir dan mengecup telapak tangan perempuan itu.
__ADS_1
"Kau pasti benar-benar ketakutan waktu itu... berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan diri dari lelaki yang tenaganya berkali-kali lipat dari dirimu... berteriak meminta tolong tapi tak ada yang menolong...."
"Tapi... Dimitri... dia datang tepat waktu dan mengentikan semua," Elana menyanggah, berusaha menghentikan kalimat Akram yang seolah tanpa jeda.
Tatapan Akram semakin tajam, dan kesakitan bercampuh pedih tampak semakin kental, melumuri makna tersirat di bola mata hazel itu.
"Aku tidak sedang membicarakan kejadian jahanam itu. Aku sedang membicarakan malam dimana aku memperkosamu dengan biadab," suara Akram terdengar parau, seolah menahan rasa bersalah tak terperi.
Efeknya luar biasa. Wajah Elana langsung pucat pasi, tak menyangka bahwa Akram akan membawa kejadian lama yang telah lalu itu seakan membuka kembali luka lama di dada Elana.
Seketika Elana memalingkan wajah, didorong oleh perasaan ingin melarikan diri dari lelaki itu. Saat ini dia tidak ingin membicarakan itu semua dengan Akram. Itu adalah titik dimana hidup Elana diputar balik dengan paksa, mendorongnya terlibat dengan Akram Night dalam ikatan kencang yang dipaksakan.
Detik itu pula kekacauan merambati pikiran Elana. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apakah dirinya sudah mulai terlena dengan pernyataan cinta Akram hingga melupakan hasratnya untuk melarikan diri lalu dengan sukarela membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan nafsu Akram? Bahkan... bahkan Elana mulai menikmati sentuhan Akram dan tak mampu menolak lagi rayuannya... apakah itu... apakah itu berarti Elana sudah menjadi makhluk tak bermoral yang bahkan tak bisa menghargai tubuhnya sendiri?
"Elana," Akram langsung meraih dagu Elana, memaksa perempuan itu menengadah dan menghadap ke arahnya ketika menyadari bahwa Elana sedang berusaha menjauh serta menjaga jarak. "Tidak, tidak sayang. Aku yang bersalah dalam hal ini, kau hanyalah perempuan tak polos tak berdosa sebelum aku memaksakan kehendakku kepadamu dan mencemarimu. Aku perlu membahas ini bukan untuk menghakimi penyerahan dirimu kepaku, tetapi supaya aku bisa meminta maaf kepadamu dengan benar," suara Akram begitu parau, dipenuhi oleh kesungguhan.
Jemari Akram bergerak naik, mengusap air mata yang bergulir di pipi Elana ketika mendengar kalimatnya. Bibirnya pun mengikuti, mengecup air mata itu sebelum kemudian lelaki itu memeluk Elana erat dan berbisik di telinganya.
"Aku minta maaf atas semua hal jahat yang kulakukan kepadamu. Aku meminta maaf karena telah memaksakan kehendakku kepadamu, menawanmu, merantaimu supaya ada di sisiku dan memaksamu mencintaiku," Akram kembali menghadiahkan kecupan di sisi wajah Elana dekat dengan telinganya, "Semua perilaku keji itu kusesali setengah mati. Tetapi kenyataan bahwa di detik ini aku berakhir bersamamu, sama sekali tak kusesali," Akram memeluk Elana erat di dadanya, melingkarkan kedua lengannya yang kuat untuk merengkuh perempuan itu tenggelam di lingkupan dadanya yang bidang. "Kuharap kau juga tak menyesali kehadiranku di hidupmu, kuharap kau bersedia memberiku satu kesempatan untuk memulai semua dari awal mula, sehingga pada akhirnya, kau juga merasa seperti apa yang kurasa kepadamu,"
Elana memejamkan mata ketika kalimat Akram terlontar ke udara, memasuki gendang telinganya dan memenuhi hatinya. Untuk saat ini, Elana butuh menelaah perasaannya sendiri. Dia masih belum bisa memberikan jawaban pasti. Memang sekarang dirinya bisa menikmati sentuhan dan pelukan Akram tanpa rasa terpaksa yang menyesakkan dada.... Tetapi....apakah itu cinta? Benarkah?
Karena jauh di dalam jiwanya, ada pikiran kuat yang selalu membisikkan bahwa Akram sebenarnya tidak bersungguh-sungguh mencintainya. Lelaki itu mungkin sedang kebingungan menelaah hasrat nafsunya kepada Elana dan salah mengartikannya sebagai cinta.
"Aku mencintaimu. Karena itu aku meminta kepadamu satu kesempatan untuk memulai dari awal. Kita berdua, meniti kembali garis yang sama dengan cara berbeda..." suara Akram terdengar penuh ironi, "Aku bahkan bersedia mengambil risiko untuk membebaskanmu, demi satu kesempatan itu,"
Ucapan Akram yang penuh teka-teki itu menarik Elana dari perasaannya yang berkecamuk. Dia mengangkat kepalanya, menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu.
"Membebaskanku?" tanyanya perlahan, seolah tak yakin dengan apa yang didengarnya.
Akram tersenyum, lelaki itu menunduk, tak bisa menahan diri untuk tidak menghadiahkan kecupan di bibir Elana yang menggoda.
"Kalau untuk mendapatkanmu sepenuhnya aku harus melepaskanmu, maka aku akan melakukannya," Akram mengusap bibir Elana yang lembab bekas ciuman dengan ibu jarinya, lalu tanpa memberikan kesempatan pada Elana untuk bertanya, lelaki itu bergerak sigap dan mengambil kembali nampan penuh makanan yang tadi dibawanya. Diletakkannya nampan itu di pangkuan Elana, senyumnya terkembang melihat mata Elana melebar kesenangan ketika menatap menu makanan lezat yang ada di sana.
Jus jeruk segar, potongan berbagai macam buah berry yang dipadu dengan yoghurt kental nan menggiurkan, susu cokelat hangat, croissant dengan isian almond dan butter harum meleleh dan masih hangat di dalamnya, menu lengkap telur, kentang tumbuk dan juga sosis yang masih panas dan menguarkan aroma harum karena baru diangkat dari penggorengan. Tentu saja bukan Akram yang memasak ini semua, jika Akram yang memasak pastilah semua makanan ini hanya akan menjadi gumpalan gosong mengerikan.
Akram sengaja meminta Elios datang dan membawakan menu sarapan ini dari restoran langganannya. Dan asistennya yang setia itu tentunya langsung melaksanakan perintahnya tanpa cela. Tiba di apartemen ini tepat waktu dan membawakan menu pesanan dengan sempurna dan tanpa cela.
Memikirkan tentang Elios, barulah Akram sadar bahwa dia telah meninggalkan asistennya itu di lantai bawah sejak lama.
Dengan lembut Akram mengambil sepotong blueberry berlumur yoghurt dan memasukkannya ke mulut Elana yang tak menolak. Akram terkekeh, lalu kembali menghadiahkan kecupan ke mulut Elana yang sedang berusaha mengunyah buah manis dan lezat itu.
__ADS_1
"Setelah makan bersiaplah. Aku juga akan bersiap-siap. Kita akan pergi ke suatu tempat," ucapnya perlahan dengan nada misterius.
***
Elana menuruni tangga dengan terburu-buru. Dia tahu dirinya telah menghabiskan waktu cukup lama untuk mandi, tetapi mau bagainamana lagi, tadinya Elana berniat untuk mandi dibawah shower dengan cepat, tapi matanya melirik ke atas bath tub dan dia tergoda untuk berendam di sana. Berendam di dalam air hangat pastilab akan terasa lebih nikmat, apalagi tubuh Elana terasa begitu lelah dan pegal setelah Akram tak henti-hentinya mengganggu tidurnya semalam.
Lalu ketika sedang berendam, Elana lupa diri, asyik menikmati kehangatan air berbusa dengan aroma sandalwood yang menenangkan hingga apa yang dia rencanakan dari mandi selama lima belas menit ternyata berubah menjadi berendam selama hampir satu jam.
Setelah menyadari betapa lama waktu yang dihabiskannya, Elana berdandan secepat dia bisa, mengambil baju yang berada di tumpukan paling atas, menyisir rambut sekedarnya, lalu berlari terburu-buru menuruni tangga dengan sikap sembrono.
Kecerobohan Elana membuat kaki mungilnya tersandung di anak tangga paling bawah, kembali dia hampir jatuh tertelungkup di karpet yang mengalasi lantaim. Beruntung Akram kebetulan berada di dekat sana dan lelaki itu langsung menangkapnya dengan sigap.
"Hati-hati," Akram mengerutkan kening dalam melihat sikap ceroboh Elana. Perempuan ini bisa saja sedang mengandung bayi dan tindakannya tadi bisa saja bukan hanya membahayakan bayinya tetapi juga membahayakan Elana sendiri.
Elana mendongak, berusaha menetralkan napasnya yang terengah, lalu menatap Akram dengan mata lebar beningnya yang dilepenuhi tatapan memohon maaf.
"Ma.. maaf aku mandi lama sekali, aku... aku berendam lalu lupa..."
"Tidak apa-apa Nona Elana, santai saja. Lagipula kami sedang membicarakan masalah pekerjaan tadi, jadi menunggu seberapa lamapun bukanlah masalah,"
Suara lain terdengar menyahut dari sisi berseberangan, membuat Elana menolehkan kepala dengan terkejut. Matanya melebar seketika saat menemukan sosok lain di ruangan ini selain Akram.
"E... elios?" Elana berucap memanggil nama lelaki itu dengan keterkejutan yang nyata, tidak menyangka bahwa lelaki itu akan ada di sini. Elios tampak mengenakan kacamatanya yang biasa, dan berpakaian santai, tidak mengenakan setelan pakain resmi yang biasanya dipakainya untuk bekerja.
"Ha... hai Nona Elana... Anda... anda terlihat sangat cantik pagi ini," Elios meringis ketika merasakan tatapan mata Akram begitu tajam menusuk ke arahnya. Kalau saja tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Elios sudah terkapar mati dengan luka parah di sekujur tubuhnya. "Saya... saya datang kemari untuk menjemput Anda..."
Akram meraih dagu Elana, lalu mengarahkan kepala Elana yang tengah menatap Elios supaya kembali ke arahnya.
"Elios akan menjadi supir kita untuk hari ini. Dia akan mengantar kita ke suatu tempat yang hendak kutunjukkan kepadamu," kembali mata Akram bersinar misterius. Akram lalu meraih pinggang Elana dan menghela perempuan itu agar berjalan bersisian dengannya keluar dari apartemen itu bersama dengan Elios.
***
***
__ADS_1