
CRAZY UPDATE 1 dari 10
Hello,part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( beberapa hari/besok baru lolos review) , maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
***
***
“Akram!”
Dengan panik Elana melepaskan pagutan Akram yang penuh hasrat di bibirnya, dia lalu berusaha mendorong dada Akram menjauh. Dia melirik ke arah lift dan mengerutkan keningnya.
Tadi sekilas, ditengah ciuman Akram yang menuntut, Elana mendengar suara denting lift yang selalu berbunyi otomatis ketika pintu lift terbuka. Tetapi sekarang, tak ada siapa-siapa di pintu itu, membuat Elana mengerutkan kening dengan bingung.
Apakah tadi hanya perasaannya saja? Atau jangan-jangan Elios…
“Perempuan,” Akram meraih dagu Elana yang berani-beraninya mengalihkan pandangan darinya di saat dia bahkan tak mampu melepaskan tatapannya dari perempuan itu. “Pandang aku,” ujar Akram dengan suara menuntut penuh perintah.
Dengan enggan, Elana menolehkan kembali wajahnya ke arah Akram, menatap mata berwarna hazel bening yang kali ini tampak begitu jernih layaknya burung elang yang mengincar mangsanya.
“Jangan pernah mengalihkan matamu dari diriku,” Akram menyambung kalimatnya yang arogan, lalu keningnya berkerut tampak berpikir sebelum kemudian menatap Elana dengan mengancam. “Dan aku tidak akan membiarkanmu menghabiskan waktu makan siangmu bersama Xavier lagi kalau itu bukan untuk kepentingan bisnis.”
“Tapi Xavier adalah atasanku,” Elana menyahut, tak sependapat dengan keputusan Akram.
“Aku juga atasanmu. Aku pemilik perusahaan ini, kedudukanku di tempat ini lebih tinggi dari siapapun sehingga apa yang kukatakan bisa langsung diadaptasi menjadi sebuah peraturan,” sahut Akram penuh keyakinan.
Elana menipiskan bibir, menatap Akram dengan pandangan mencela.
“Kau bilang di tempat kerja maka kita akan bersikap seperti pekerja. Tapi kau menggunakan alasan pribadi untuk membuat peraturan dan kau… kau bahkan menciumku di tempat kerja,” protesnya marah.
Akram terkekeh. “Apa yang salah dengan mencium calon istriku sendiri?” sahutnya menggoda, membuat pipi Elana langsung terasa panas dan merah padam.
“Tapi… tapi di sini aku adalah seorang karyawan dan aku adalah bawahan langsung Xavier. Bahkan… bahkan Xavier juga bersikap profesional di bidang pekerjaan… sementara kau… kau malah menghabiskan waktumu dengan menggoda bawahanmu di tempat kerja…” sanggah Elana lagi, masih tak mau menyerah untuk melawan Akram.
Kening Akram langsung berkerut. “Bersikap profesional? Lalu apa pendapatmu tentang Xavier yang mengajakmu makan siang secara pribadi dan membicarakan hal-hal di luar konteks pekerjaan kalian pada saat makan siang? Itu bukan termasuk sikap profesional menurutku,” cibirnya sinis.
“Tapi, tak ada salahnya dengan itu!” Elana menyahut cepat. “Itu kan dilakukan di jam makan siang, di mana seorang karyawan terlepas dari segala ikatan pekerjaan dan mendapatkan waktu istirahat…sementara sekarang jam istirahat sudah habis dan jam kerja sudah dimulai...”
“Jadi maksudmu, kau hendak menghabiskan waktu makan siangmu dengan Xavier untuk seterusnya?” Akram membungkukkkan tubuh hingga wajahnya dekat dengan wajah Elana. “Jangan bermimpi, Tuan Putri. Jam makan siangmu akan selalu kau habiskan denganku mulai saat ini.”
Elana menatap Akram dengan bingung. “Ke.. kenapa harus begitu? Lagipula, bukannya kau sibuk terus sehingga kadang tak ada di tempat saat jam makan siang?”
Elana tahu tentang kesibukan Akram karena ketika Elios mengajarinya tadi, lelaki itu menggunakan jadwal Akram selama beberapa bulan terakhir sebagai contoh dan Elana langsung ternganga ketika menyadari betapa penuhnya jadwal pertemuan dan kegiatan Akram sepanjang hari.
Lelaki itu bekerja tanpa henti layaknya sebuah mesin, meskipun Elana menyadari, bahwa ketika Elana masuk ke dalam kehidupan Akram, lelaki itu tampaknya banyak menghapus dan membatalkan jadwalnya di malam hari, dengan konsekuensi kesibukannya akan bertambah dua kali lipat di siang harinya.
Kenyataan bahwa beberapa hari terakhir ini Akram tidak bekerja karena menemaninya, juga pada hari ini Akram malah diam di kantornya dan tampak santai, bahkan sempat menggodanya seolah lelaki itu tak punya pekerjaan apapun, membuat Elana mau tak mau didera rasa bersalah. Karena sepertinya dia telah mendatangkan begitu banyak sehingga mengganggu kinerja Akram di perusahaannya.
“Aku bisa mengatur jadwalku semauku, kau tak perlu khawatir,” Akram menyahut perlahan. Lagi-lagi lelaki itu seolah punya kekuatan aneh untuk membaca apa yang berkecamuk di dalam hati Elana. “Tetapi, kalaupun nanti aku tak ada di tempat untuk menemanimu makan siang, kau tetap tak boleh pergi bersama Xavier. Itu peraturan baru di tempat ini,” ujar Akram memberi ultimatum.
Elana membuka mulut segera, bersiap memberikan bantahan. Tetapi, pada saat yang sama, suara pintu dibuka membuat Elana menolehkan kepala. Matanya langsung melebar ketika melihat sosok dokter Nathan muncul di ambang pintu, dengan senyum menggoda yang membuat pipi memerah malu.
“Maaf aku sebenarnya tak mau mengganggu kalian berdua. Tetapi, aku ada janji di rumah sakit sebentar lagi. Jadi, sebelum aku pergi, aku ingin memeriksa kondisi kesehatan Elana terlebih dahulu,”dokter Nathan memberikan isyarat ke arah Elana. “Kalau kalian sudah beres… silahkan masuk, Elana,” sambungnya dengan nada penuh arti dan tak lupa mengedipkan sebelah mata dengan sengaja sebelum kemudian menghilang kembali, masuk ke dalam ruang kerja Akram.
Pipi Elana merah padam ketika dia menengadah ke arah Akram yang tampaknya sama sekali tak merasa bersalah.
__ADS_1
“Kenapa wajahmu merah?” Akram menangkup pipi Elana dengan lembut. “Kau demam?” tanyanya tanpa dosa.
Elana sekali lagi berusaha mendorong Akram menjauh. Tetapi sayangnya, tangannya tanpa sengaja menumbuk di bagian dada Akram yang terluka, membuat lelaki itu sedikit meringis meskipun tak mengeluarkan keluhan sama sekali dari bibirnya.
Menyadari kesalahannya, wajah Elana yang murah padam langsung berubah pucat. Matanya berbinar penuh kekhawatiran sementara tangannya yang tadinya mendorong Akram menjauh sekarang bergerak ke arah sebaliknya, berusaha menarik Akram supaya mendekat ke arahnya.
“Akram? Astaga… aku mendorong tepat di jahitan lukamu… apakah kau tidak apa-apa?” tanyanya panik.
Akram menganggukkan kepala, ada senyum di bibirnya meskipun sinar sakit masih berkedip di matanya.
“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, metabolisme tubuhku bagus sehingga ketika aku terluka, aku bisa sembuh dengan cepat,” perlahan Akram bergerak mundur untuk membebaskan Elana. Tetapi, lelaki itu tidak menjauh sepenuhnya, sebab tangannya langsung terulur ke arah Elana begitu kedekatan mereka terlepas. “Ayo, biarkan Nathan memeriksamu,” ujar Akram sambil menghela tubuh Elana ke ruangannya.
“Tapi apa yang perlu diperiksa dariku? Aku sehat-sehat saja, bukan?” ujar Elana setengah bertanya kepada dirinya sendiri.
Akram menundukkan kepala sedikit untuk mengawasi Elana. Entah kenapa matanya bersinar dengan sesuatu yang misterius dan tak terungkapkan.
“Kau sekarang tinggal sendirian. Jadi aku harus memastikan kau benar-benar sehat. Setitik saja dari Nathan yang mengatakan kalau kau sakit, maka aku akan membawamu kembali untuk tinggal bersamaku,” ucap Akram dengan ultimatum yang tak terbantahkan.
***
***
"Dia baik-baik saja,” Nathan menyelesaikan pemeriksaan luarnya terhadap Elana, lalu memasukkan kembali peralatannya dengan santai. “Semuanya oke, aku akan melakukan pemeriksaan beberapa hari lagi untuk memastikan semuanya benar-benar baik dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Akram yang berdiri sambil bersandar di meja kerjanya tampak mengerutkan kening. Tangannya bersedekap seolah-olah bersantai, tetapi tubuhnya tampak tegang seolah-olah menunggu hasil pemeriksaan Elana, merupakan siksaan baginya.
“Sungguh?” Akram terdengar tidak percaya. “Kau yakin kau sudah memeriksa dengan benar? Apakah kau benar-benar yakin kalau kau tidak menemukan apapun?”
Pertanyaan Akram yang penuh arti itu membuat Elana mengerutkan kening tak mengerti. Akram tampak… tidak puas. Kenapa?Apakah lelaki itu tidak puas karena Elana dinyatakan sehat-sehat saja?
Kalau begitu… apakah Akram berharap Elana didiagnosa sakit? Tapi… kenapa Akram ingin Elana sakit?
Akram sendiri seolah memahami isyarat yang dikirimkan oleh Nathan kepadanya, meskipun ketidakpuasan tampak sekali jelas di bola matanya. Lelaki itu lalu menegakkan tubuh dan memberi isyarat kepada Nathan untuk pergi.
“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu untuk mengatur jadwal pemeriksaan berikutnya, kau boleh pergi,” ujar Akram sambil lalu, kemudian bergerak mendekati Elana.
“Dok… dokter Nathan,” Elana tiba-tiba memanggil, membuat Nathan yang tadinya bergerak hendak bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan langsung membeku kaku. Lelaki itu langsung menatap Elana penuh rasa ingin tahu.
Perempuan ini tentu saja tidak pernah memanggil namanya terlebih dahulu dan memulai percakapan dengannya. Bahkan bisa dibilang Elana hanya berbicara kepadanya ketika ditanya atau ketika Nathan dengan aktif mengajaknya bercakap-cakap.
Dari sudut matanya, Nathan bisa menangkap ekpresi Akram yang juga menggelap penuh rasa ingin tahu. Lelaki itu tentu sama penasarannya dengan dirinya.
“Ya, Elana? Ada yang ingin kau tanyakan?” Nathan membatalkan gerakannya yang hendak bangkit dari sofa. Dia duduk kembali dengan sikap tenang dan tak mengintimidasi, lalu menunggu dengan sikap tubuh santai.
Elana sendiri terlihat gugup entah kenapa. Perempuan itu menjalin jari jemarinya dengan gelisah, sementara bibirnya tak jua mengucap kata, seolah kelu dan memilih membisu. Tetapi akhirnya, Elana tampak menguatkan diri. Perempuan itu menengadah, lalu menatap Nathan dengan wajah memerah karena malu.
“Kau… kau tidak menyuntikku?” tanya Elana perlahan dengan suara tersekat.
Nathan kali ini terang-terangan saling melempar pandang dengan Akram yang masih berdiri di belakang Elana dengan tangan memegang bagian punggung sofa tempat Elana bersandar. Kening Akram tampak berkerut, tetapi sepertinya tebakan Akram dan tebakan Nathan sudah pasti menuju ke arah yang sama.
“Menyuntik apa?” Nathan hampir seratus persen paham apa yang dimaksudkan oleh Elana. Tetapi, dia sengaja bertanya supaya Elana bisa mengungkapkan maksudnya dengan jelas.
Elana berdehem, beberapa kali perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Nathan, lalu akhirnyaa, ketika matanya bersirobok kembali dengan Nathan, bibir perempuan itu berhasil mendapatkan puncak keberaniannya dan membuka.
“Apakah kau… tidak memberikan suntikan kontrasepsi kepadaku? Aku ingat ini sudah tiga bulan…” Elana menghentikan kalimatnya dan menyadari kalau dokter Nathan tidak sedang menatap dirinya, melainkan dia sedang menatap ke arah Akram. Dengan kening berkerut, Elana menoleh ke arah Akram di belakangnya, lalu kembali lagi ke arah dokter Nathan, kali ini dipenuhi dengan kecurigaan. “Ada apa? Apa yang salah?” tanya Elana kemudian.
Seketika Akram memberikan isyarat gelengan perlahan ke arah Nathan yang langsung dimengerti oleh lelaki itu. Akram memutuskan bahwa sebelum mereka memastikan kondisi Elana, perempuan itu sebaiknya tidak usah tahu tentang kemungkinan kehamilannya.
“Oh, suntikan itu…” Nathan berdehem seolah-olah sedang mencuri kesempatan untuk berpikir. “Sebentar, aku akan mencarinya…” dengan cekatan Nathan memuka tas dokternya lagi, lalu bergerak mencari-cari. Tak butuh waktu lama sampai dia menemukan apa yang dicarinya, sebuah botol kaca bening dengan cairan tak berwarna layaknya air putih biasa. “Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan suntikannya.”
Elana mengangukkan kepala dan duduk tenang serta menunggu.
Sebenarnya sikap saling lempar pandang diam-diam antara Akram dan Nathan itu terasa mengganggunya. Seolah-olah mereka sedang berbisik di belakangnya dan menyiapkan rencana yang tak Elana ketahui. Tetapi, gerakan dokter Nathan yang sedang menyiapkan jarum suntik menarik perhatiannya, membuat Elana kembali menjalinkan jari-jemarinya yang sempat terlepas tadi.
__ADS_1
Sebuah gerakan di sebelahnya, disusul dengan tangan besar Akram yang menangkup jemarinya membuat Elana langsung mendongakkan kepala dan bertatapan dengan Akram. Lelaki itu telah berpindah dan duduk di sampingnya, tanganya terasa begitu hangat di atas tangan Elana, sementara tatapan lelaki itu tampak dalam, menelisik ke jiwa.
“Kau takut disuntik?” tebak Akram. Lagi-lagi dengan akurat.Elana sedikit tersipu, tetapi dia tentu saja mencoba tampak kuat di di depan Akram.
“Se.. semua orang pasti takut disuntik, apa yang aneh dari itu?” sahutnya dengan sikap defensif.
Sudut bibir Akram sedikit terangkat dalam senyum tipis yang nyaris tak terdeteksi. Lelaki itu lalu menggenggam tangan Elana lembut dan berucap dengan nada sedikit arogan.
“Tapi aku tak takut disuntik,” sahut Akram dengan nada sedikit mengejek.
Elana melebarkan mata, menatap Akram dengan jengkel. “Kurasa kau memang pengecualian untuk segala hal,” sahutnya kemudian dengan nada mencela yang nyata.
Sementara itu, di depan mereka, Nathan tampak mengawasi interaksi Elana dengan Akram dengan tatapan takjub.
Akram jelas-jelas sudah berubah. Hanya dalam beberapa bulan saja bersama Elana, lelaki itu tampak sudah membuka diri dan melembutkan hati. Sebelumnya, perempuan manapun, atau siapapun bukan hanya perempuan, yang berani menantang dan menyanggah perkataan Akram Night, sudah tentu tidak akan berakhir dengan baik. Tetapi sekarang, lelaki itu menerima begitu saja celaan dan sanggahan Elana, dan tampaknya tidak marah sama sekali, malahan menikmati.
Nathan akhirnya terpaksa berdehem untuk mengalihkan perhatian dua makhluk yang tampak saling bertatapan di depannya seolah mereka berada di dunia mereka sendiri. Ketika Akram dan Elana sama-sama menoleh ke arahnya, Nathan menunjukkan jarum suntik di tangannya.
“Kurasa aku siap untuk menyuntik,” ujar Nathan setengah bercanda dengan senyum lebar yang membuat Akram langsung melemparkan tatapan mata penuh peringatan kepadanya.
Proses penyuntikan itu berlangsung singkat dan tak semenyakitkan yang dibayangkan oleh Elana. Setelahnya dokter Nathan benar-benar berpamitan untuk kali ini. Akram sendiri meminta Elana menunggu di sofa sementara dia mengantar dokter Nathan keluar.
Ketika sampai di luar ruangan, Akram menutup pintu di belakangnya. Matanya sempat melirik ke arah Elios yang tampaknya sudah kembali di meja kerjanya dan mulai bekerja, lalu kembali Akram mengalihkan perhatiannya kepada Nathan.
“Aku sudah memberi isyarat kepadamu supaya tidak menyuntikkan kontrasepsi kepadanya. Apa yang kau suntikkan pada Elana, kalau begitu?” tanyanya cepat dengan nada waspada.
Dokter Nathan mengangkat bahunya. “Hanya sejenis vitamin dan antioksidan yang bagus buat tubuhnya. Untung saja aku membawanya tadi,” sahutnya dengan nada ringan.
Akram menatap tajam ke arah Nathan. “Kau seharusnya tinggal bilang kalau dirimu tak membawa obatnya dan menunda penyuntikan, sehingga tak perlu menyuntikkan apapun ke tubuhnya,” suara Akram sedikit bergetar. Tentu saja dia masih ingat bagaimana Xavier menyuntikkan serum racun itu ke tubuh Elana dan membuatnya sakit. Dia tak ingin Elana mengalami rasa sakit, terlebih lagi, perempuan itu kemungkinan besar sedang mengandung anaknya. “Bagaimana kalau itu berimbas pada bayi yang dikandungnya?” tanyanya cemas.
Nathan menggelengkan kepala, menatap Akram dengan tatapan jengkel. “Akram, bagaimanapun, aku ini seorang dokter. Sebelum aku memberikan sesuatu kepada pasienku, tentulah aku sudah mempertimbangkan segala konsekuensinya. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berisiko menyakiti pasienku,” Nathan menggerakkan tangannya untuk menepuk punggung Akram dan menenangkannya. “Bayi itu bahkan belum bisa dipastikan keberadaannya, tetapi kau sudah begitu protektif. Berusahalah untuk mengendorkan kewaspadaanmu sedikit, kalau tidak saat anakmu dilahirkan nanti, wajahmu akan bertambah jelek karena penuh keriput dan kerutan,” sambil sedikit terkekeh, Nathan melemparkan kalimat ejekan itu sebelum kemudian melangkah menjauh menuju lift.
Dalam perjalanannya, Nathan masih sempat menoleh ke arah Elios dan tersenyum?
“Oh, jangan-jangan kau juga mengalami hal yang sama denganku, ya? Aku terpaksa mengurung diri di ruangan Akram dan tak bisa keluar selama beberapa lama. Kau sendiri, apa yang kau lakukan untuk menhindari pemandangan penuh kemesraan yang menyakitkan mata?” tanyanya lugas kepada Elios.
Elios melirik ke arah Akram yang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi masam dan menjawab Nathan dengan nada gugup dan cepat.
“Aku… minum cappucino,” jawabnya perlahan yang langsung disahuti oleh tawa terkekeh Nathan.
“Malangnya kau. Mungkin kalau nanti ada kejadian yang sama lagi, kau bisa menghubungiku dan kita bisa minum cappucino bersama,” sahutnya sambil melemparkan tatapan menyindir ke arah Akram sebelum kemudian melangkah memasuki lift dan pergi.
***
***
CRAZY UPDATE 1 dari 10
Hello,
Part crazy update diposting secara bertahap sepanjang hari kamis tanggal 7 November 2019.
Untuk lolos reviewnya, author tidak bisa menjamin sepuluh bisa lolos langsung secara bersamaan ya.
Mudah-mudahan sesuai mau author bisa lolos langsung ke sepuluh-sepuluh partnya.
Tetapi, jika admin Editor mangatoon membutuhkan waktu bertahap untuk mereview part crazy update ini sehingga episode2nya keluarnya tidak bisa berbarengan dan bertahap terpisah-pisah jam atau bahkan terpisah hari ( beberapa hari/ baru lolos review besok) , maka mohon permaklumannya ya.
Regadrs, AY
__ADS_1