Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 36 : Rasa Takut


__ADS_3


"Sometimes people hate you not because you did something wrong but because you're better than them and they cannot beat you."


"Xavier Light sudah pasti menjadi otak di balik semua peristiwa ini. Kau pikir siapa lagi? Hanya dia yang cukup gila untuk ditakuti para saksi dan hanya dia yang bisa membunuh anak buahnya dengan lebih dari dua puluh tusukan di tubuh,"


Akram menyebutkan nama itu dengan nada datar, meskipun begitu, ada kilatan di matanya yang menunjukkan bahwa gangguan dan serangan dari sosok Xavier yang mencoba membunuhnya melalui upaya di bawah tangan, bukanlah perkara yang baru sekali ini terjadi.


Elios sedikit memucat ketika mendengar nama itu disebut, keningnya berkerut, setengah tak percaya.


"Xavier Light? Tapi ... bukankah dia masih di luar negeri untuk penyembuhan dari luka parahnya akibat kecelakaan besar sebelumnya?" Elios tidak menyebutkannya, tetapi dari penekanan dalam kalimatnya, menunjukkan bahwa ada keterlibatan Akram dalam kecelakaan yang menimpa Xavier tersebut.


"Orang seperti Xavier sangatlah licik, Mungkin dia menggunakan wajah dan nama baru untuk masuk kembali ke negara ini sehingga dia bisa lolos dari pengawasanmu." Akram mengerutkan kening dengan ekspresi muram. "Dia sudah kembali dan datang untuk menuntut balas," simpulnya perlahan.


"Tapi sekarang, dengan kegagalan percobaan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Anda, dia pasti tahu bahwa Anda sudah menduga siapa otak di balik semua ini." Elios tampak berpikir, "Apakah menurut Anda, Xavier akan tetap bersembunyi dan menanti, lalu baru bertindak kembali di saat Anda lengah?"


Akram menggelengkan kepala, jemarinya mengetuk foto di tangannya sebelum mengangsurkan foto itu kembali kepada Elios.


"Xavier tidak akan bersembunyi. Sudah kepalang basah. Aku berani bertaruh bahwa dia akan muncul di hadapan kita sebentar lagi," Akram mengawasi Elios yang sedang memandang foto-foto mayat yang diangsurkan kepadanya dengan ekspresi bingung, lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Kau pikir, untuk apa Xavier menusuk anak buahnya yang malang itu hingga dua puluh tujuh tusukan? Dan kenapa dia memastikan kita menemukan mayat tersebut untuk kemudian sengaja meninggalkan jejak supaya forensik kita bisa memastikan bahwa mayat itu adalah anak buahnya? Dengan kelihaian Xavier, kalau dia mau, dia bisa memusnahkan mayat itu dan membuat kita mustahil bisa menemukannya. Tetapi, dari caranya ini, sudah pasti dia ingin kita menemukan mayat itu serta menyadari keberadaannya. Xavier tahu tidak ada gunanya lagi bersembunyi, dia pasti akan muncul."


Elios mengawasi ekspresi Akram, lalu bertanya kembali dengan nada berhati-hati.


"Apakah Anda.... tidak apa-apa?"


Akram menyeringai. "Aku sudah belajar membunuh monster menakutkan yang membayangi diriku dimasa lalu sejak lama. Xavier yang sekarang bukanlah musuh menakutkan bagiku, dia makhluk lemah yang bersembunyi di balik kekejaman tanpa tanding dan kegilaan yang tak bisa disembuhkan lagi," mata Akram kembali berkilat oleh sinar dingin membekukan. "Kupikir kecelakaan hebat yang menimpanya akan membuatnya mundur dan menyerah. Sayangnya, kegilaan Xavier ternyata terlalu kuat untuk diredam. Di masa lalu, aku hanya memberikan hukuman berat padanya tapi tak bisa membunuhnya karena terikat janji. Meskipun begitu, jika Xavier terus menerus menempatkan dirinya sebagai kerikil tajam di jalanku, kemungkinan besar aku harus melanggar janjiku pada ibuku untuk tidak mencabut nyawa Xavier apapun yang terjadi."


Keheningan membentang ketika Akram mengucapkan kalimat terakhirnya, menciptakan udara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.


Elios menghela napas panjang setelahnya, seolah-olah hawa mengerikan penuh dendam yang menguar dari tubuh Akram membuatnya napasnya sesak layaknya ikan yang mengelepar saat terdampar di daratan tanpa pertolongan.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Elios kemudian, masih menyelipkan nada hati-hati di dalam suaranya. Perseteruan Akram dengan Xavier, bukanlah perseteruan biasa antar musuh yang terjalin karena keadaan. Perseteruan itu terjalin sejak lama, dalam konflik yang sudah mengakar dan kebencian yang begitu dalam hingga mendarah daging di masa lampau.


"Kita akan menunggu dan melihat apa langkah Xavier berikutnya. Hanya pastikan bahwa kita sudah satu langkah di depan. Gunakan seluruh sumber daya yang kita miliki untuk fokus menemukan Xavier dan mengawasinya. Aku ingin ketika dia datang untuk memamerkan batang hidungnya, kita semua sudah siap memberikan penyambutan untuknya."


"Baik, Tuan," Elios menjawab cepat, lalu menggumamkan permohonan izin undur diri untuk melaksanakan tugasnya.


Ketika dia baru berbalik langkah, Akram memangilnya kembali.


"Elios, tingkatkan perlindungan untuk Elana, terutama ketika dia sedang berada di area luar. Apartemenku saat ini mungkin memiliki penjagaan cukup ketat yang tidak bisa ditembus oleh Xavier. Kenyataan bahwa dia mengatur kecelakaan di jalan umum adalah bukti bahwa Xavier tidak mampu menembus perimeter keamanan di tempat tinggalku. Elana akan terlindungi ketika dia berada di dalam rumah, tetapi lain lagi ceritanya jika dia berada di luar." mata Akram menyipit penuh perhitungan, "Kita harus memastikan Xavier sama sekali tidak menghubungkan Elana dengan diriku. Jika sampai Xavier tahu tentang Elana, dia akan menjadikan Elana sebagai targetnya. Kau tahu bahkan sejak kecil pun, Xavier memiliki obsesi gila untuk mencabik-cabik segala sesuatu yang kusukai lebih dari yang lain." tangan Akram mengepal ketika emosi masa lalu yang aneh menelisik kembali ke dalam jiwanya, seolah terbangkitkan. "Jaga Elana supaya jauh dari jangkauan tangan Xavier," geramnya dengan nada mengancam, seolah memberikan ultimatum kepada dirinya sendiri.


Elios mematap Akram ragu-ragu. "Setelah ini, apakah Anda masih berencana untuk membiarkan Nona Elana keluar dari rumah? Apakah tidak sebaiknya Anda menjaga supaya Nona Elana aman di dalam rumah sampai kita bisa membereskan masalah ini?"


Akram menggelengkan kepala tipis. "Kau tahu, aku sudah mengikat janji dengan Elana dan aku tidak akan mengingkarinya. Mungkin untuk beberapa saat ke depan, dengan kondisi tangannya itu, Elana akan aman terlindung di dalam rumah sakit. Tetapi, aku yakin, segera setelah kondisinya pulih, perempuan keras kepala itu akan menagih janjinya lagi supaya diizinkan pergi bekerja," Akram menghela napas. "Kalau boleh memilih, aku lebih baik menahan Elana di pulau terisolasi itu karena dia akan aman di sana.... tidak!... Mungkin lebih baik lagi aku memutuskan seluruh ikatanku dengan Elana dan membebaskannya hingga dia tidak perlu terlibat dalam jalinan benang kusut yang rumit ini," ekspresi Akram menggelap, seolah menahan bara di dadanya. "Tetapi aku tidak bisa melakukannya. Yang paling kuinginkan saat ini adalah menjaga Elana supaya tetap berada dalam jangkauan pandanganku, dan aku tidak akan membiarkan Xavier mengganggu serta merusak segalanya lagi seperti yang pernah terjadi di masa lampau. Kurasa sudah saatnya aku menghadapi Xavier dengan cara yang sepantasnya, tidak lagi terikat janji pada orang yang telah meninggalkan dunia ini."


Akram Night membalikkan tubuh setelah memberi isyarat pada Elios supaya lelaki pergi. Sementara itu, Elios memilih menunggu sampai punggung Akram menghilang di balik pintu kamar perawatan Elana sebelum kemudian menghela napas dalam-dalam.

__ADS_1


Dia tahu bahwa setelah ini, segala sesuatunya akan menjadi sangat sulit. Mereka harus ekstra waspada, dengan pertahanan kuat dan keamanan penuh, sekaligus siap menyerang dengan kekuatan ekstra jika diperlukan.


Sebab Xavier Light bukanlah orang sembarangan, dan hubungannya dengan Akram Night sangatlah kompleks, melibatkan memori mengerikan serta trauma mendalam yang harus dilalui oleh Akram muda bertahun-tahun yang lalu. Bisa dibilang bahwa masa lalu Akram Night dengan Xavier Lightlah yang telah membentuk Akram menjadi sosok kejam dan mengerikan seperti sekarang.


***



***


Elana tengah terbuai dalam tidur tidur ayamnya ketika suara pintu yang dibuka membangkitkan kesadarannya seketika. Dengan cepat dia menolehkan kepala ke arah pintu, dan mengerutkan kening ketika melihat Akram Night melangkah kembali memasuki ruangan tempat dirinya dirawat


Hari memang sudah malam, suasana sunyi dan pemandangan kegelapan langit yang terpampang dari luar jendela seolah memberi isyarat agar para manusia yang bernaung di bawah perlindungan malam, segera naik ke peraduan dan beranjak tidur. Elana sendiri mengira bahwa Akram akan pergi bersama Elios dan tak kembali lagi. Nyatanya, Akram malah hadir kembali ke tempat ini dan membuat Elana bertanya-tanya.


"Kenapa kau kembali lagi?" Elana tak tahan untuk tidak menyuarakan pertanyaannya, dan nada suaranya yang seolah tak suka membuat Akram mengerutkan kening.


"Aku datang untuk tidur, kau pikir untuk apa lagi?" sahut Akram sinis, melepaskan jasnya dan menyampirkannya di lengan sofa, lalu melepas kancing kemejanya dan menggulung lengan bajunya.


Tadi Akram datang kemari sepulang kerja untuk menyuapi Elana makan malam, karena suster yang bertugas melaporkan bahwa Elana selama beberapa malam ini hampir tidak menyentuh makanannya. Hilangnya nafsu makan Elana ini tentu mengusik perhatian Akram karena dia sendirilah yang paling tahu betapa besarnya nafsu makan Elana ketika sedang sehat. Karena itulah Akram khusus datang lebih awal dari biasanya, meninggalkan segala pekerjaannya, khusus untuk memaksa Elana makan. Elios mungkin sempat datang untuk menginterupsinya tadi, tetapi Akram sejak awal memang tidak berniat meninggalkan rumah sakit ini sampai pagi.


Elana menggigit bibir, menatap Akram dengan kening berkerut.


"Kau... kau tak perlu tidur di kamar ini setiap malam untuk menebus rasa bersalahmu. A... aku tidak menyalahkanmu atas semua luka yang kualami, aku tentu sadar bahwa itu... itu semua adalah kecelakaan yang tak bisa dikontrol ataupun dicegah," Elana berucap terbata seolah kesusahan merangkai kata. Karena terbiasa berkonfrontasi dengan Akram, sungguh terasa sulit baginya untuk mengucapkan kalimat dengan nada berdamai seperti itu kepada Akram.


Sudah tentu Elana masih belum mampu memaafkan Akram atas segala perbuatan kejamnya yang dia lakukan kepada Elana selama ini. Tetapi, beberapa hari terakhir, melihat Akram tanpa absen selalu datang ke kamar perawatannya dan tidur di sofa rumah sakit yang sudah pasti terasa jauh tidak nyaman dibandingkan ranjang di rumahnya sendiri, telah membuat hati Elana tanpa bisa ditahan merasa tersentuh.


"Siapa bilang aku merasa bersalah? Aku hanya sedang menjaga propertiku supaya tetap berada dalam kondisi baik dan bisa dipergunakan lagi,"


Mata Elana melebar, pipinya sedikit merona, merasa terhina tapi masih tak yakin bahwa Akram akan tega melontarkan hinaan itu kepadanya.


"Properti? Apa... apa maksudmu?" Elana mendesiskan pertanyaan, berusaha memastikan dengan lugas apa makna pernyataan Akram itu.


Akram bersedekap, menyipitkan mata. "Apakah kau lupa dimana posisimu, Elana? Kau adalah propertiku, wanita milikku dan aku berada di sini setiap malam, merepotkan diriku dengan tidur di ranjang rumah sakit yang tak nyaman, itu semua bukan karena aku merasa bersalah kepadamu, tetapi lebih karena aku ingin mengintimidasi dokter yang merawatmu supaya memberikan penanganan terbaik, agar kau lekas sembuh dan bisa kugunakan lagi," Akram melabuhkan tatapan sinisnya ke tangan Elana yang digips, lalu sengaja berucap dengan nada mengejek. "Selama gips itu terpasang, aku tidak bisa menidurimu, bukan hanya karena aku masih punya hati untuk tidak meniduri perempuan yang sakit, tetapi gips itu juga menurunkan nafsuku. Masih butuh beberapa waktu lagi sampai gips itu bisa dilepas dan kau pikir seberapa besar kerugianku? Memelihara properti yang bahkan tidak bisa kugunakan?"


Nada merendahkan dalam suara Akram luar biasa menusuknya, menghujam sampai kedalaman hati Elana, menenggelamkan jiwanya hingga terhina sampai ke dasar.


Ternyata Elana salah telah mengira bahwa meskipun sedikit, Akram memikiki sifat manusiawi di dalam jiwanya. Elana terlalu tinggi menilai Akram sementara lelaki itu tidak pantas menerimanya.


Wajah Elana merah padam, sementara sinar kebencian menyala di matanya untuk Akram.


"Kalau kau memang ingin memastikan propertimu ini lekas sembuh, mungkin sebaiknya kau tidak datang kemari sampai aku benar-benar sembuh. Dengan tidak melihatmu, aku yakin bahwa proses penyembuhanku akan lebih cepat!" Elana berseru menyerang Akram, matanya dipenuhi luka sementara bibirnya bergetar seolah menahan sakit.


Akram menyipitkan mata, menatap Elana dengan ekspresi arogan nan gelap.


"Siapa kau hingga merasa berhak mengaturku? Aku akan datang ketika aku ingin datang dan aku akan pergi ketika aku ingin pergi," Akram melirik jam tangannya, lalu menatap Elana tajam dan memutuskan untuk menyudahi adu argumentasi mereka sampai sini saja. "Tidurlah! Hari sudah larut. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan dan aku tidak ingin kau menggangguku!"

__ADS_1


Elana tidak perlu diperintahkan dua kali untuk memutuskan interaksinya dengan Akram. Dia merasa benar-benar sakit juga kelelahan dan keberadaan Akram di ruangan ini sudah jelas tidak membuatnya merasa lebih baik.


Dengan cepat Elana memalingkan muka berlawanan dengan posisi Akram, memfokuskan pandangannya pada nuansa remang di dinding depan matanya dan berusaha menetralkan emosinya yang bergolak di dada. Matanya sendiri terasa panas dengan buliran air mata yang terkumpul di sudutnya, hendak mengalir dan menetes ke pipinya.


Sekuat tenaga Elana menahan diri, melarang buliran air mata itu untuk menggulirkan diri terjatuh


Tidak akan dibiarkannya Akram berhasil membuatnya meneteskan air matanya kembali! Tidak akan! Sebab lelaki jahat nan kejam serta bermulut pedas itu tidak layak menerimanya, tidak akan pernah layak!


***



***


Malam telah larut ketika Akram akhirnya meletakkan pekerjaannya dan melabuhkan tatapan matanya ke arah ranjang peraduan tempat Elana berbaring.


Kesunyian berpadu dengan cahaya temaram melingkupi mereka berdua dan dari napas Elana yang teratur, membuat dadanya nak turun dengan lembut, Akram memastikan bahwa Elana sudah tertidur pulas.


Perlahan Akram menyingkirkan layar digital pekerjaannya ke pinggiran sofa dan mematikan lampu baca yang terletal di nakas samping sofa. Akram lalu beranjak bangun dan membawa langkahnya mendekat ke pinggir ranjang Elana, berhenti tepat di sana.


Lama dia berdiri terpaku di samping ranjang Elana, mengawasi sosok Elana yang lelap sementara berbagai emosi tak terjelaskan bergolak di dalam dadanya.


Dia tidak bermaksud merendahkan Elana sampai sejauh itu. Tetapi, sikap bersahabat Elana yang tak terduga, yang memintanya untuk menghapuskan rasa bersalah, diluar dugaan malahan membangunkan sikap defensif Akram hingga tanpa sadar dirinya langsung memasang benteng pertahanan guna mengusir Elana supaya tidak melangkah lebih dekat jauh ke dalam hatinya.


Akram sedikit membungkuk ke dekat Elana, tangannya tak bisa memahan diri untuk menyapu rambut perempuan itu, lalu melingkarkan untaian rambut Elana nan lembut ke jarinya. Matanya yang tajam mengawasi keseluruhan wajah Elana dan hatinya berdenyut ketika menemukan titik air mata tersisa disudut mata yang terpejam rapat itu.


Akram mengusap bekas air mata itu dengan lembut, membuat Elana bergerak sedikit seolah terganggu sebelum kemudian perempuan itu kembali terlelap dalam tidurnya.


Tak bisa menahan diri lagi, Akram menggeser tubuh Elana hingga ke sisi ranjang yang berlawanan, lalu menempatkan dirinya untuk naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Elana di ranjang rumah sakit yang sama.


Meskipun ukuran ranjang ini cukup besar untuk kategori sebuah ranjang rumah sakit, tetapi tetap saja dengan tubuh Akram yang tinggi dan kontras dengan Elana yang mungil, mereka berdua harus menempel erat supaya tidak sampai terjatuh dari ranjang.


Akram memiringkan tubuh ke arah Elana, lalu perlahan menempelkan tubuh Elana ke dirinya, berusaha sedapat mungkin agar tidak menyakiti tangan kanan Elana yang masih terbebat gips tebal. Matanya lalu terpejam sementara pikirannya masih berkecamuk.


Kedekatannya dengan Elana telah menciptakan nuansa baru di hatinya yang membuat Akram kebingungan karena dia tidak pernah mengizinkan orang lain melangkah masuk lebih dalam ke hatinya. Di satu sisi, Akram dipenuhi rasa antisipatif yang kuat untuk mempelajari hal-hal baru yang membanjiri perasaannya, tetapi di sisi lain, dia didera ketakutan akibat trauma masa lalu yang pernah menderanya


Ketakutan itulah yang membuat Akram terus menerus berusaha mendorong Elana menjauh dari hatinya.


Akram terbiasa mengunci hatinya, menutupnya rapat dengan segel permanen tanpa kunci, yang seharusnya membuat pintu hatinya tidak bisa dibuka oleh siapapun. Akram telah mahir bersikap seperti robot tak beremosi sejak lama, belajar untuk tidak menyukai sesuatu lebih dari yang seharusnya dan belajar untuk menganggap segala sesuatu tiada berarti baginya, sehingga ketika dia harus kehilangan hal-hal itu, hatinya yang keras dan mati rasa, tidak akan merasakan apapun. Sebab dia tidak akan merasa sedih ketika kehilangan sesuatu yang tidak dicintainya.


Akram telah belajar untuk menumpulkan indra perasaannya terhadap rasa sakit akibat kehilangan, karena di masa lalu, di masa kecilnya yang kelam dan gelap, Xavier Light menggunakan kelemahannya itu untuk menghancurkan segala sesuatu yang pernah disayanginya, menghancurkan jiwa Akram sampai ke rusak parah, hingga tak mungkin bisa disembuhkan lagi.


***


__ADS_1



__ADS_2