Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Free BONUS EOTD 3 : Zachary Night Part 3


__ADS_3


PENGUMUMAN


PO BUKU CETAK edisi Koleksi Essence of The Darkness dan Sincerity


ESSENCE OF THE DARKNESS - 954 halaman


Sincerity ( Bonus Part kisah kehamilan anak pertama dan kehamilan anak kedua Elana ) - 250 halaman


Cara PO


1, Jika ingin melakukan PO melalui PSA buka projectsairaakira.com' atau cek IG @projectsairaakira @anonymousyoghurt untuk info lebih lanjut



Jika ingin melakukan PO melalui WA, Silakan Wa mimin PSA di 0896-3650-7974


Jika ingin PO melalui reseller (PO lewat IG,  Shopee, Tokopedia dll) silakan cek Instagram reseller sbb:


@chochovan95


@angelvin_olshop


@salenovel14


@rumahbukubundarasya


@cintabukubookshop



Thank You


Yours Sincerely


Anonymous Yoghurt.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=




“Ini... bagaimana kalau kau menyebutnya sebagai ‘nota pembalasan’?” Akram berucap dengan nada ringan. “Kau masih anak-anak dan kadang-kadang, penyelesaian dengan cara anak-anak tak bisa membantumu karena kau akan dihakimi oleh orang dewasa yang berpegang pada norma dan aturan. Karena itulah, gunakan Ayahmu ini. Selama kau masih anak-anak, maka Ayahmu akan membantumu. Buku ini, gunakan dengan baik. Jika ada anak-anak atau siapa pun itu yang menghina Ibumu, maka catat namanya dengan terperinci, terutama nama keluarganya, lalu serahkan kepada Ayah. Ayah akan membantumu memberikan pelajaran bagi siapa pun yang menghina ibumu,” ucap Akram dengan sikap kelam, menguarkan nuansa gelap dalam setiap patah kata yang dilontarkannya.


Mata Zac langsung melebar terkejut ketika mendengar penjelasan ayahnya. Tangannya yang sudah terulur untuk menyentuh buku itu berubah kaku, tertegun di sana dan ragu untuk mengambil.


Akram mengurai senyum tipis ketika melihat tingkah anaknya itu. Dia tahu bahwa Zac mungkin masih kecil, tetapi jika menyangkut ketajaman intuisi, anak itu jelas bisa diandalkan.


“Kau tidak segera mengambil buku ini seperti mengambil tiket lotere yang mudah dan cepat.” Bibir Akram masih melengkung penuh arti. “Apakah itu artinya, kau memahami maksud Ayah?” tanyanya kemudian.


Zac masih tampak ragu. Namun, tak urung anak itu pun menganggukkan kepala.


“Bukankah ketika ayah memberikan buku ini kepadaku, ayah juga memberikan tanggung jawab yang berat di pundakku?” tanyanya kemudian.


Mata Akram berbinar oleh nuansa puas yang membuat bola mata hitamnya berkilat. Lelaki itu kemudian menganggukkan kepalanya.


“Kau benar. Buku ini memang terlihat seperti jalan keluar yang mudah. Seperti tiket gratis atau lotere yang bisa kau hambur-hamburkan sesuka hatimu. Namun, seperti quotes dari superhero favoritmu, siapa itu? Laki-laki tarantula?” Akram menghentikan kalimatnya sejenak dan bertanya.


Zac seketika mengerutkan kening.


“Spiderman, Ayah. Manusia laba-laba,” koreksinya cepat dengan kening berkerut seolah tak rela tokoh superhero favoritnya disalahartikan.


Akram mengangkat bahu.


“Ya, semacam itulah. Dia adalah satu-satunya superhero yang sepadan untuk dikagumi karena dia memiliki kutipan yang cukup bagus. Yaitu tentang kekuatan dan tanggung jawab. Semakin besar kekuatan dan kekuasaan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab yang kita bawa.”


Akram menyodorkan buku notes warna hitam itu ke hadapan Zac dan mengedikkan dagunya ke sana.


“Buku ini juga sama. Ini hanyalah sebuah buku. Namun, buku ini menggenggamkan kekuasaan yang sangat besar di dalam tanganmu. Dengan memegang buku ini, kau memiliki kekuasaan -dengan menggunakan kekuatan ayahmu ini- untuk memegang nasib orang-orang dalam genggamanmu. Kau bisa menghancurkan kehidupan dan masa depan orang yang kau tulis namanya di buku ini jika kau mau, karena kemungkinan besar, ayahmu punya kekuasaan untuk melakukannya. Seperti yang ayah bilang, setiap nama yang kau tulis di buku ini, ayah tak akan segan-segan memberikan penghukuman terburuk kepada mereka semua.”


Akram menghentikan kalimatnya dan memberikan kesempatan bagi Zac untuk menelaah dan memahami setiap patah kata yang diucapkannya. Anak itu tampak memasang ekspresi wajah serius dan setelah yakin bahwa Zac memahaminya, Akram pun melanjutkan kembali perkataannya.


“Karena itulah, jika kau menerima buku ini, kau harus benar-benar membuat pertimbangan yang serius sebelum kau menuliskan nama di dalamnya. Kau harus memastikan apakah dia layak, apakah penghukuman itu sepadan dengan perbuatannya, dan apakah kau sudah bersikap adil. Ayah ingin, hanya nama-nama yang benar-benar kau anggap layak saja yang kau tuliskan di buku ini. Ayah membebankanmu tanggung jawab untuk menentukan nasib orang-orang ini.” Jari jemari Akram yang kokoh dan lentik kemudan mengetuk permukaan lapisan kulit warna hitam dari buku notes mungil tersebut. “Ambil dan terimalah,” perintahnya kemudian.


Zac sendiri masih terdiam meragu. Matanya menatap ke arah buku itu dan kemudian dia menengadahkan kepalanya, menatap ayahnya dengan mata besarnya yang polos dan penuh binar.


“Ayah, bagaimana jika aku tak berani menerima buku ini?” tanya Zac perlahan. Dia menyebut tentang buku, tetapi makna pertanyaannya cukup jelas, yang Zac maksud bukan tentang buku semata, tetapi juga menyangkut tanggung jawab berat yang menyertai buku ini.


Akram menatap putranya lekat-lekat, lalu menganggukkan kepala tipis.


“Itu berarti, kau masih belum siap menerima beban tanggung jawab. Tentu saja ayah tidak akan memaksamu. Dan menyangkut permasalahan di sekolahmu, ayah akan menggunakan cara ayah sendiri untuk menyelesaikannya tanpa melibatkanmu,” sahut Akram kemudian, tanpa nada menghakimi.


Zac tampak termenung diam. Kerutan serius yang terbentuk di antara kedua alisnya yang tebal membuat wajahnya tampak lucu dan menggemaskan. Setelah beberapa lama, anak itu tampaknya sudah mengambil keputusan. Zac menatap ayahnya lagi, dan kali ini matanya terlihat dipenuhi tekad yang sangat kuat.


“Kalau begitu, aku akan mengambil buku ini Ayah.” Zac meraih notes kecil itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke saku celananya. Anak itu tampak antusias sekaligus berhati-hati, menunjukkan kedewasaan yang jauh lebih tinggi tingkatannya dibandingkan usianya saat ini. “Aku akan mempergunakannya dengan sangat berhati-hati,” tambahnya kemudian memberikan janji.


Akram tak menanggapi berlebihan, hanya kilasan puas saja  yang terlihat memercik di bola matanya yang gelap.


“Bagus. Ayah percaya kepadamu,” ucapnya kemudian seolah memberikan semangat.


Saat mereka akhirnya menikmati hidangan makan malam, Akram menggunakan kesempatan untuk menatap Zac yang sedang menghabiskan menu makanan di piringnya dengan lahap. Anak itu selalu makan dengan benar dan tak memilih-milih menu makanan, apa yang disajikan di piringnya, itulah yang dia makan. Mungkin, hal itulah yang membuat kecukupan gizi dan nutrisi Zac terpenuhi sehingga anak itu tumbuh dengan tubuh yang jauh lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak sebayanya. Dan seperti sifat alami manusia, jika ada satu yang menonjol dengan kelebihan yang berbeda, biasanya ada orang-orang yang memiliki sindrom mental kepiting**, yang ingin menjatuhkan orang yang berada di tingkat tertinggi supaya terjerembap di titik bawah bersama mereka.


Tentu saja, secara fisik, Zac menuruni dirinya, membuat Akram cukup puas dengan perkembangan fisik Zac. Ya, orang tua mana yang tidak senang jika putranya tumbuh dengan sehat dan kuat? Meskipun dia tahu bahwa memiliki fisik menonjol akan membuat Zac memiliki banyak musuh, tetap saja Akram senang karena Zac mewarisi kelebihan dirinya.


Di sisi lain, merasa bahwa segala sesuatu lebih baik dimulai secara dini, Akram juga mulai memerhatikan perkembangan mental putranya. Putranya tumbuh dalam situasi yang tak biasa, karena itulah Zac harus kuat dan kokoh bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.


Dia tahu, bahwa di masa depan nanti, Zac akan mewarisi segala yang dimilikinya, dan itu bukan hanya menyangkut kekayaan, tetapi juga kekuasaan dan segala privelese yang menyertainya. Tentu saja dia tak ingin Zac tumbuh menjadi anak kaya yang bermental buruk dan tak bertanggung jawab atas tindakannya. Karena itulah, Akram memutuskan untuk mulai membangun mental kokoh bagi Zac mulai sekarang. Itu jugalah yang membuatnya terdorong untuk memberikan buku notes hitam beserta segala kekuasaan tanpa batas yang menyertainya.


Akram cukup puas dengan reaksi Zac. Anak biasa mungkin akan langsung mengambil buku itu dan dengan sembrono akan segera menuliskan nama orang-orang yang ingin disingkirkannya serta membiarkan sang ayah menghancurkan kehidupan orang-orang itu.  Namun, sesuai dugaannya, Zac memiliiki kebijaksanaan di usia belia. Tahu bahwa menerima buku notes hitam itu sama dengan menerima konsekuensi yang menyertainya. Akram percaya kepada Zac dan tahu pasti bahwa anak itu akan menggunakan buku notes hitam tersebut dengan bijaksana.


***




Selesai makan malam, seperti biasanya Zac akan langsung masuk ke kamarnya untuk membaca buku sebelum beranjak tidur. Akram sendiri tak langsung masuk ke dalam kamar, melainkan memilih untuk berjalan ke kamar Zelena, menengok putrinya yang memang terbiasa tidur lebih cepat setiap malam. Sejak kecil, Zelena adalah anak yang teratur, bahkan ketika masih bayi pun, anak itu akan menyusu  di jam-jam yang nyaris sama dan kemudian tidur di jam-jam yang sama pula. Tentu saja ketika Zelena beranjak besar, secara otomatis jam tidurnya juga berkurang. Namun, jadwal tidurnya yang teratur tidak berubah. Anak itu selalu tidur lebih cepat, terutama ketika dia kelelahan setelah jadwal olahraga di sekolahnya.


Diam-diam, berusaha supaya gerakan dan langkahnya tak mengganggu Zelena, Akram melangkah pelan menyeberangi ruang kamar luas dengan nuansa pink dan putih yang sangat feminin itu dan kemudian berdiri di tepi ranjang tempat Zelena tidur.

__ADS_1


Untuk beberapa lama, Akram menatap wajah Zelena dan tatapan mata kelamnya yang biasanya menguarkan sinar tajam mengerikan langsung berubah lembut seketika.


Zelena memiliki tempat khusus yang sangat berharga bagi Akram karena putrinya itu begitu mirip dengan Elana. Hal itu membuat Akram memperlakukan Zelena berbeda, lebih memanjakannya dibandingkan ketika dia sedang bersama Zac.


Akram mendudukkan diri di tepi ranjang dan kemudian membungkukkan tubuhnya sebelum menghadiahkan kecupan lembut di dahi Zelena yang terbaring nyenyak.


Ciuman yang diberikannya tampaknya mengganggu tidur nyenyak Zelena karena anak itu langsung mengerutkan kening dan menggerakkan tangan untuk mengucek matanya yang mulai terbuka.


Ketika mata lebar indah yang sangat mirip dengan Elana itu membuka, nuansanya masih tampak berkabut karena kantuk, tetapi dengan cepat Zelena langsung mengenali ayahnya.


“Ayah,” panggil Zelena dengan suara menggemaskan. Anak itu membuka matanya lebar-lebar dan kemudian mengangkat kedua tangannya ke arah ayahnya.


Akram tak segera menyambut, namun mengangkat sebelah alisnya dan menatap putrinya dengan tatapan penuh arti.


“Tidurlah lagi,” perintah Akram dengan nada tegas.


Namun, Zelena yang sudah biasa menghadapi ketegasan setengah hati ayahnya tahu pasti bahwa ayahnya akan luluh dengan mudah jika menyangkut dirinya. Karena itulah, dia menatap ayahnya dengan mata besarnya yang lebar dan berkilauan indah, tetap mengulurkan tangannya ke arah ayahnya dengan keras kepala, menghadiahkan pandangan mengibakan yang sudah tentu tak mudah ditolak.


Akram menipiskan bibir. Di dunia ini, hanya ada dua makhluk perempuan yang membuatnya tak pernah bisa mengeraskan hatinya. Yang pertama adalah Elana, dan yang kedua adalah Elana junior yang saat ini begitu keras kepala meminta digendong.


Sejak Zelena kecil, sesibuk apa pun Akram, dia selalu menyempatkan diri untuk menengok bayi Zelena di kamarnya setelah dia pulang dari bekerja, mandi dan membersihkan diri. Jika bayi Zelena sudah tidur, maka tanpa pikir panjang Akram akan mengangkat sang bayi ke dalam gendongannya, membuainya sesaat sampai si bayi tenggelam dalam tidur yang lebih dalam sebelum kemudian membaringkan kembali Zelena di dalam boks bayinya. Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang, semalam apa pun Akram pulang, dia pasti menyempatkan diri untuk menengok Zelena ke dalam kamarnya, dan seperti sudah terbiasa, Zelena yang terbangun akan mengangkat kedua tangannya meminta digendong.


Menatap mata putrinya yang keras kepala, mau tak mau Akram menghela napas tipis dan kemudian langsung membungkuk untuk mengangkat Zelena ke dalam gendongannya.


Kedua lengan mungil Zelena langsung memeluk lehernya dan seperti kebiasaannya ratusan kali, Zelena meletakkan pipinya yang masih menyisakan montok lemak bayi ke bahu ayahnya dan mulai memejamkan mata sambil melengkungkan senyuman senang


“Ayah! Ayah! Ayo menyanyi lagu untukku!” seru Zelena dengan nada bersemangat kemudian.


Akram mengerutkan keningnya dengan bibir mengerucut seolah putus asa.


“Ayah tidak bisa bernyanyi, bukankah kau pernah bilang bahwa suara ayah jelek sekali? Bahkan lebih jelek dari Paman Xaviermu?” tanya Akram berusaha mengelak dari tugas menyanyi yang terkadang suka diminta oleh Zelena kepadanya jika anak itu sedang bosan.


“Suara ayah memang paling jelek, bahkan jika dibanding dengan Paman Nolan pun suara Ayah juga lebih jelek.” Zelena berucap dengan kejam, tak mau sedikit pun memberikan muka kepada ayahnya. Anak itu sedang bersandar di bahu ayahnya dengan damai dan mata terpejam, karena itulah dia tak melihat bibir Akram yang semakin mengerucut cemberut.


Namun, tak lama kemudian Zelena melanjutkan ucapannya dengan suara polos yang membuat Akram tak bisa marah kepada putrinya.


“Namun, suara ayah adalah yang terbaik dari trio suara jelek.” Gumamnya pelan.


Akram mengangkat alisnya.


“Trio suara jelek?” tanyanya ingin tahu. Sepertinya baru kali inilah Akram mendengar istilah itu dari Zelena. Tampaknya Zelena diam-diam memberikan julukan kepada orang-orang tanpa sepengetahuannya.


“Ya, Ayah, Paman Nathan dan juga Paman Credence. Kalian bertiga adalah trio suara jelek. Namun, Ayah tetap yang terbaik, meskipun suara Ayah tidak enak didengar, tetapi aku suka suara ayah, jadi tetap saja bisa diterima.” Zelena mengangkat kepalanya, kedua tangan mungilnya masih melingkar di leher ayahnya, membuat wajahnya yang imut menggemaskan begitu dekat dengan wajah Akram.


Mata Akram menatap putrinya itu dengan tatapan mata menyelisik dan entah bagaimana, dia nyaris tak bisa menahan senyum lebarnya melihat bagaimana Zelena mengerutkan kening dan mengimitasi ekspresi serius layaknya orang dewasa seperti seorang juri yang sedang memberikan penilaian di acara pentas bakat yang dihadiri oleh orang-orang bersuara jelek.


“Ayah masih bisa diterima... akan tetapi, Paman Nathan dan Paman Credence tidak bisa,” gumam Zelena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menyesali pemikirannya. “Paman Credence terlalu serius ketika menyanyi sehingga suaranya kaku seolah sedang membaca teks pidato dan bukannya menyanyi. Kak Zac bahkan bilang kalau Paman Credence menyanyi, suaranya terdengar sedang melakukan rap. sedangkan Paman Nathan—” Zelena berdecak sebelum melanjutkan. “Paman Nathan tidak bisa ditolong lagi, dia begitu penuh percaya diri tetapi suaranya sungguh jelek, tak ada satu nada pun yang pas, bikin sakit telinga—” Zelena menggerutu dengan kening berkerut semakin dalam mengomentari cara bernyayi dokter Nathan. Tampaknya, trauma di pesta ulang tahun sebelumnya dimana dokter Nathan menguasai pengeras suara dan memaksa menyanyikan lima lagu anak-anak secara beruntun dengan suara yang menyakitkan telinga yang dia anggap sebagai hadiah ulang tahun terindah Zelena malah menyisakan trauma mendalam bagi anak itu.


Akram menipiskan bibirnya.


“Aku akan melarang dokter Nathan untuk menyanyi lagi di hadapanmu di kemudian hari,” putusnya tegas, tak ingin anaknya didera oleh trauma tak menyenangkan dari suara orang yang bernyanyi jelek. Dia lalu menundukkan kepala, menatap putrinya dengan serius. “Dan apa maksudmu mengatakan bahwa Ayahmu ini adalah yang terbaik dari yang terjelek? Bukankah sebagai ayahmu yang mengasuhmu dari kau masih bayi merah sampai sebesar sekarang, Ayah layak mendapatkan predikat yang terbaik dari yang terbaik?” tanyanya setengah bercanda.


Zelena langsung terkikik mendengar perkataan ayahnya itu.


“Ayah memang yang terbaik dari yang terbaik, kecuali dalam hal menyanyi.” Suara Zelena terdengar tegas seolah keputusannya tidak bisa dibantah. “Paman Xavier memiliki suara yang lebih indah, dan setiap Paman bernyanyi, beliau terlihat seperti peri dari dunia dongeng! Sedangkan Paman Nolan, suaranya begitu lembut dan indah, ditambah lagi Paman Nolan sangat sangat sangat tampan!” Zelena tak bisa menahan binar di matanya ketika berucap.


Sekali lagi, Akram tak bisa menahan bibirnya yang mengerucut penuh ironi kemudian.


Zelena terkikik lagi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.


“Jika aku hanya tertarik pada ketampanan, Ayah tahu pasti bahwa aku akan memilih Paman Credence sebagai juaranya, tetapi aku tidak melakukannya!” seru Zelena, membantah dengan nada serius.


Akram mengembuskan napas pendek pelan-pelan, lalu melengkungkan senyum lembut dan kemudian meletakkan telapak tangannya ke belakang kepala Zelena dan mendorong kepala anak itu untuk rebah kembali di bahunya.


“Sudah, cukup bicaranya, tidurlah sekarang, hari sudah malam,” bisiknya memerintah tetapi tetap saja tak bisa menghilangkan nuansa lembut di dalam suaranya.


Zelena menurut, merebahkan pipinya di bahu ayahnya tanpa protes dan kemudian mengeratkan pegangan di leher ayahnya.


Akram berayun kemudian, membuai Zelena supaya tertidur kembali. Keheningan yang syahdu pun tercipta di antara mereka, terasa begitu berharga di setiap detiknya.


“Ayah?” Suara Zelena yang sudah mengambang di antara kantuk terdengar memecahkan keheningan kemudian.


“Hmm?” Akram menggumam sebagai jawaban.


“Kenapa Ayah tak juga menyanyi?” tanya Zelena lagi.


Akram menipiskan bibir. Sepertinya, dia memang tak bisa melarikan diri dari keinginan putrinya yang keras kepala. Mata Akram melirik ke arah pintu yang tertutup dan memastikan bahwa tak ada yang bisa mendengar dari luar kamar, dan baru setelah dia yakin, dia pun membuka mulutnya, mulai menyanyikan lagu pengantar tidur anak-anak dengan nada berat dan sedikit sumbang.


Zelena tersenyum dengan mata terpejam semakin erat. Suara ayahnya mungkin tidak bagus, tetapi suara itulah yang menenangkan tangisnya ketika dia masih bayi dan suara itu jugalah yang selalu ada ketika dia jatuh dalam demam tinggi dan merasa sakit di seluruh tubuhnya. Suara nyanyian ayahnya mungkin bukan suara terbaik di dunia, tetapi sudah jelas bahwa bagi Zelena, suara itu adalah suara paling menenangkan di dunia yang mampu membunuh semua ketakutan dan rasa sakitnya.


Di luar kamar, Elana sudah membuka gagang pintu kamar Zelena. Tadinya dia berencana untuk bersama-sama dengan Akram melihat Zelena sebelum tidur. Namun, gerakannya terhenti ketika dia melihat Akram tengah berdiri memunggunginya, tampak berayun membuai Zelena yang terlihat sudah lunglai di dalam gendongannya.


Wajah anak itu terlihat jelas dari posisi Elana berdiri saat ini, tampak damai dengan mata terpejam rapat dan bibir sedikit terbuka dalam tidurnya. Di sisi lain, Akram masih berayun pelan dan menggumamkan lagu pengantar tidur yang terdengar sumbang.


Elana tak bisa menahan diri untuk melengkungkan bibir dan tersenyum. Sosok Akram sebagai seorang ayah memang sangat mengagumkan untuk dilihat dan setiap Elana melihat sisi Akram yang ini, hatinya tak bisa tahan untuk tidak meleleh dalam rasa hangat yang menyenangkan.


Jika mengingat Akram di masa lampau, tentu tak ada yang bisa membayangkan bahwa lelaki yang dipenuhi dengan esensi kegelapan ini bisa berubah menjadi ayah yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya.


Melihat itu semua, Elana merasa tak menyesal bahwa dia memilih untuk jatuh cinta kepada suaminya di masa lampau dan memercayakan dirinya untuk membangun keluarga bersama Akram Night. Tak disangka, pilihannya adalah pilihan terbaik yang pernah dia ambil seumur hidupnya.


Elana mencuri pandang sejenak adegan Akram yang sedang menidurkan Zelena dan berniat menyimpan pemandangan indah itu di dalam benaknya selamanya. Dia kemudian menutup pintu itu kembali perlahan-lahan, tak ingin mengganggu nuansa syahdu yang tercipta di dalam sana ketika jalinan penuh kasih sayang terasa menguat dan melingkupi seorang ayah dan putrinya yang saling mencintai.


***


Sayangnya, kesan baik Elana terhadap Akram langsung memudar ketika lelaki itu datang ke kamar kemudian. Akram melepaskan kemeja piyamanya dan naik ke tempat tidur telanjang dada. Otot tubuhnya tampak begitu menggoda dipandang mata, tetapi pada saat itu, Elana berusaha keras memfokuskan diri pada buku yang dibacanya, tak mau melirik dan ketahuan sedang mengagumi tubuh suaminya.


Akram selalu bertingkah seperti serigala jahat yang siap memangsa gadis bertudung merah** jika sedang berduaan saja dengan Elana di dalam kamar, tidak bisa dibayangkan jika Elana menunjukkan sikap sedikit saja bahwa dia mengagumi tubuh suaminya. Bisa-bisa, Akram akan menganggap Elana menggodanya dan kemudian melahap Elana semalaman tanpa memberikan ampun kepada Elana dan tak mau membiarkan Elana beristirahat sampai pagi. Elana jelas masih teringat jelas bagaimana Akram jika sedang ‘bersemangat’, jika itu terjadi, dia akan ditinggalkan di pagi hari dengan tubuh lemas kelelahan sementara Akram dengan segar dan ceria serta wajah berseri-seri berangkat ke kantor tanpa beban seolah dia tak bekerja keras malam sebelumnya.


Tentu saja, jika menyangkut stamina, Elana jelas bukan tandingan Akram, karena itulah dia tak ingin memprovokasi suaminya sehingga sang suami terpacu menjadi serigala jahat di atas ranjang.


“Jangan membaca buku lagi.” Akram meraih buku di pangkuan Elana dan dengan sikap serampangan membuangnya. Dia lalu menarik istrinya supaya berbaring di pelukannya. Namun, Akram jelas bukan orang yang bisa hanya berbaring biasa saja tanpa menyentuh lebih dalam. Tangannya yang tadinya mengelus-ngelus sisi lengan Elana tiba-tiba merayap, bergerak lembut dengan ujung jari memutar, menelusuri bagian demi bagian lengkung pinggang dan panggul Elana yang indah dan terbalut gaun tidur sutra lembut yang semakin menonjolkan sisi feminin dirinya.


Sebagai seorang ibu yang telah melahirkan dua anak baginya, Elana tetap bertubuh ramping dan mungil seperti perempuan remaja yang belum punya anak. Namun, dua kali kehamilan membuat lekuk tubuh Elana berubah lebih berisi dan lebih indah, dan Akram sangat menyukainya karena perempuan itu menjadi lebih lembut dan enak dipeluk.


“Akram.” Elana menegur dan sedikit terkesiap ketika guliran jari jemari Akram menciptakan rasa geli yang merayapi tulang punggung dan memberdirikan bulu kuduknya. Namun, kata peringatan Elana yang memanggil namanya itu sama sekali tak dipedulikan oleh Akram, lelaki itu malahan menundukkan kepala dan menghadiahkan kecupan lembut di lekukan leher Elana, menghidu aroma menyenangkan yang membuat hasratnya memanas tanpa bisa ditahan.


“Kau harum sekali.” Akram berbisik parau di lekukan leher Elana, tangannya mulai bergerak kemana-mana, menunjukkan keinginannya. “Aku menyesal karena tak bisa ikut bergabung bersamamu untuk mandi malam nanti. Bagaimana kalau aku menggantinya dengan memelukmu sepanjang malam, hmm?” tambah Akram merayu dengan nada parau.


Elana mengerucutkan bibirnya, tak bisa menahan diri mendengar rayuan suaminya itu.


“Kau tak perlu menebus apa-apa, aku tidak apa-apa mandi sendirian,” gumam Elana kemudian sambil memutar bola matanya.

__ADS_1


Namun, sudah jelas Akram tak berniat melepaskan Elana begitu saja. Lelaki itu mengangkat kepalanya, lalu menghadiahkan kecupan tipis di bibir Elana.


“Tidak. Tentu saja istriku merasa sedih karena harus mandi malam sendirian. Jadi aku bertekad untuk menebusnya.” Suara Akram terdengar keras kepala, lalu tanpa memberi kesempatan Elana membantah, lelaki itu langsung melabuhkan bibirnya untuk mencium bibir Elana.


Elana jelas tahu bahwa suaminya adalah laki-laki yang tak bisa ditolak di atas tempat tidur, lagipula, dia memang tak ingin menolak suaminya. Karena itulah ketika Akram menggulirkan tubuh dan memosisikan diri dengan hati-hati di atasnya sambil memperdalam ciumannya, Elana tak menolaknya. Dengan lembut dan penuh penerimaan, dia melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya.


Sikap Elana itu membuat Akram beraksi, memperdalam ciumannya dalam tekanan yang semakin kuat dan penuh hasrat. Ciumannya yang tadinya lembut berubah dengan cepat menjadi ciuman penuh hasrat yang membakar. Lidahnya menggoda, membuka bibir Elana yang lembut dan mungil, mulutnya pun tak tinggal diam, mengeksplorasi bibir Elana dalam kecupan dan gerusan yang dalam, menstimulai reaksi panas yang sama dari tubuh Elana.


Akram menyesap saripati kemanisan dari mulut Elana dengan keposesifan yang nyata. Elana sendiri meletakkan kedua telapak tangan di dada Akram yang suhunya terasa meningkat panas, berusaha mendorong lelaki itu sedikit supaya dia bisa mengambil kesempatan untuk bernapas sejenak. Namun, Elana jelas sadar bahwa dia tak mungkin menolak dan menjauh dari Akram. Satu-satunya pilihan bagi dirinya adalah menyambut hasrat Akram yang ditumpahkan sepenuhnya kepada dirinya, membiarkan suaminya mencintainya. Elana menyambut ciuman Akram dengan sama berhasratnya dan sikapnya itu membuat Akram tak bisa menahan diri lagi, memiliki dan menguasai Elana dengan sepenuh hasrat, menghabiskan malam itu dengan menumpahkan cintanya kepada istrinya tanpa henti.


***


Tommy tidak masuk sekolah hari ini dan itu sudah diduga oleh Zac. Namun, Zac tak bereaksi berlebihan dan bersikap biasa saja di sekolah. Saat di kelas, Zac sadar bahwa guru wali kelasnya beberapa kali melempar pandang ke arahnya, tetapi Zac mengabaikannya, menunjukkan wajah tenang dan baik-baik saja.


Saat tiba waktunya istirahat, Zac menarik laci mejanya dan mengeluarkan kotak bekal dan tumbler minumannya. Teman di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Anak-anak di sekolahnya memang memiliki kebiasaan membawa bekal masing-masing dan memakannya bersama-sama di meja kelasnya waktu istirahat. Setelah acara makan bersama selesai, waktu yang tersisa digunakan untuk berinteraksi dan bercakap-cakap satu sama lain.


Zac makan dengan tenang, menikmati makannya dengan sikap elegan tanpa suara. Dia tak menyadari bahwa teman-teman sekelasnya, terutama yang perempuan tampak memandang kagum kepada sikap elegan Zac saat makan. Dan teman laki-lakinya yang lain yang biasanya makan dengan berantakan di usia mereka yang belia itu, tak bisa menahan rasa iri mereka ketika melihat bahwa Zac makan begitu rapi, tak membiarkan satu bulir pun remah-remah makanan terjatuh dan dia juga pandai makan dengan mulut tertutup, mengunyah rapi tanpa menonjolkan sisi pipinya yang penuh makanan serta sama sekali tak bersuara ketika mengunyah makanannya!


“Wow! Menumu enak sekali!” Ruben, teman sebelah bangku Zac melirik ke arah kotak makanan Zac yang selalu kaya dengan menu-menu yang sedap dipandang mata.


Ruben adalah anak yang ceria dengan pipi sedikit berisi dan bintik-bintik di sekitar hidungnya. Anak itu selama ini menjadi teman baik Zac dan sifatnya yang ceria membuatnya selalu bersuara lantang dan keras. Karena suara Ruben yang keras itulah, semua anak yang ada di kelas itu diam-diam melirik ke arah Zac dan menatap langsung ke kotak makanan yang ada di depannya.


Apa yang dikatakan oleh Ruben memang benar adanya. Bekal makanan Zac begitu menarik dan menggiurkan, beberapa anak bahkan melirik kotak makanannya sendiri dan mengerutkan kening ketika melihat bahwa menu makanannya tak secantik dan menggiurkan seperti menu makanan milik Zac. Tak perlu ditanyakan tentang harga, sebab sekolah ini adalah sekolah swasta yang eksklusif dan nomor satu di kota mereka. Karena itulah, untuk memberikan menu makanan mahal bagi anak-anak mereka, para orang tua jelas mampu melakukannya. Akan tetapi, menu makanan mereka yang dibuat oleh tukang masak di rumah akibat kedua orang tua mereka yang sibuk, jelas tak sebanding dengan milik Zac yang bervariasi dan lucu dipandang.


Zac tahu semua mata memandang kepadanya, dia lalu tersenyum, menatap menu bekal di hadapannya dengan pandangan berbinar.


“Bekalku dibuatkan oleh Ibuku,” beritahu Zac dengan sengaja, tahu pasti bahwa semua orang di kelasnya mencuri dengar perkataannya. “Ibuku adalah ibu terbaik di dunia,” tambah Zac dengan nada bangga kemudian.


Ya, tentu saja, Ibunya adalah yang terbaik. Zac jelas tahu bahwa meskipun ibunya selalu lelah ketika terbangun di pagi hari, ibunya itu tak pernah melewatkan satu pun hari tanpa membuatkan Zac dan Zelena bekal makanan dengan kedua tangannya sendiri. Zac sebenarnya juga tak mengerti kenapa ibunya selalu terbangun dengan ekspresi lelah di pagi hari seperti orang yang baru saja melakuka olahraga berat, dia juga bingung memikirkan sebabnya, karena setahunya, bukankah orang tidur itu untuk mengumpulkan energi dan harusnya orang yang tidur cukup akan bangun dengan tubuh segar dan tak lelah lagi? Seperti ayahnya misalnya. Ayahnya selalu tampak berseri-seri di pagi hari, bangun dengan begitu segar dan tampak siap menjalani hari dengan kuat.


Yah, mungkin karena ada perbedaan metabolisme tubuh antara ibunya dengan ayahnya? Zac sendiri tidak tahu jawabannya. Namun, satu hal yang pasti, sekarang saat menatap bekal makanannya yang cantik dan bervariasi, Zac merasa sangat bangga. Sebab dia tahu bahwa ini bukanlah bekal makanan biasa, ini adalah perwujudan cinta seorang ibu kepada anak-anaknya yang diterima Zac dengan senang hati.


Zac mengedarkan pandangan matanya ke arah teman-teman sekelasnya yang tampak melirik lagi ke bekal makanan Zac. Mereka semua pastilah merasa iri karena mereka tak memiliki Ibu seperti Ibu Zac yang rela bangun pagi setiap hari untuk membuatkan bekal makanan putranya, dan bukan hanya bekal biasa, tetapi juga adalah bekal yang cantik dan menggiurkan!


Senyuman bangga tersungging di bibir Zac. Dia jelas tahu bahwa di antara teman-teman sekelasnya, ada teman-teman Tommy yang dulu juga ikut bersama Tommy mengejek ibunya. Sekarang, biarkan mereka tahu rasa ketika mereka tahu bahwa Ibu Zac jauh lebih baik dari semua ibu di dunia.


Tangan Zac tanpa sadar menepuk sakunya, tempat di mana dia menyimpan notes warna hitam pemberian ayahnya. Dia memutuskan untuk tak menggunakan notes itu saat ini dan akan berusaha sendiri untuk membela ibunya sekuat tenaga dan membuktikan kepada teman-temannya bahwa ibunya, yang sangat dicintainya, adalah ibu terbaik di dunia.


Ya, untuk saat ini, dalam perkara membela ibunya, Zac yakin bahwa dia cukup kuat untuk melakukannya sendiri tanpa perlu meminta bantuan ayahnya. Perkara nanti dia akan menggunakan kekuasaan di dalam buku notes hitam yang diberikan kepadanya, mungkin itu harus diputuskan di masa depan, saat Zac mempertimbangkan situasi dan kondisi di masa depan pula.


Zac tahu bahwa dia harus bersikap dewasa supaya bisa tumbuh menjadi lelaki yang kuat seperti ayahnya. Dengan begitu, dia bisa membantu ayahnya untuk melindungi Ibunya di masa depan. Dia bertekad tumbuh menjadi sosok yang kuat dan bisa diandalkan di masa depan, sehingga kedua orang tuanya akan merasa bangga kepadanya.


End of Part Zachary Night


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



****Crab mentality atau sindrom mental kepiting***


Merupakan istilah yang menggambarkan perilaku seseorang yang ingin menjatuhkan dan menghalangi keberhasilan orang lain.


Fenomena psikologis ini kerap kali membuat seseorang mengalami kesulitan untuk menghargai pencapaian orang lain sehingga muncul rasa iri dan berupaya membuat orang tersebut ada di kondisi yang sama.


Istilah ini berasal dari tingkah laku kepiting dalam percobaan ketika sekelompok kepiting ditelakkan di dalam satu ember bersama-sama.


Secara alami, ketika satu ekor kepiting berhasil memanjat naik dan hampir keluar dari ember, maka rekan-rekan kepiting yang lain akan langsung bekerja sama untuk mencapit dan menarik kepiting yang sudah berhasil naik itu sehingga kepiting itu terjatuh kembali ke dasar ember bersama-sama dengan yang lainnya.


Begitu pula ketika ada kepiting yang lain yang mencoba lagi, maka rekan-rekannya akan kembali menariknya sehingga tak ada satu pun kepiting yan bisa lolos keluar ember dan semuanya terjebak di dalam ember bersama-sama tanpa ada satu pun yang bisa melarikan diri.



****Dongeng Serigala jahat dan gadis bertudung merah ( Little Red Riding Hood )***


Merupakan dongeng dari Prancis tentang seorang gadis kecil dan serigala besar yang jahat. Cerita ini telah berubah beberapa kali dalam sejarah dan isinya telah diadaptasi untuk mengikuti perkembangan zaman.


Cerita ini berkisah tentang seorang gadis bernama Kerudung Merah, yang mengenakan kerudung/jubah merah (di dongeng Perrault) atau topi sederhana (dalam versi Grimms' disebut topi merah kecil). Gadis itu berjalan melalui hutan untuk memberikan makanan kepada neneknya yang sedang sakit (jus anggur dan roti pisang).


Seekor serigala ingin memakan gadis itu, dan roti pisang dalam keranjang, tetapi takut dengan anjing kecil yang dibawanya. Serigala itu mendekati si Kerudung Merah dan bertanya ke mana gadis itu pergi. Dia menyarankan gadis itu untuk memilih beberapa bunga. Sementara itu, serigala pergi ke rumah nenek dan berhasil masuk dengan berpura-pura menjadi gadis itu. Dia menelan seluruh tubuh nenek, (dalam beberapa cerita, dia mengunci nenek di dalam lemari), dan menunggu gadis itu dengan menyamar sebagai nenek.


Ketika gadis itu tiba, dia melihat neneknya terlihat sangat aneh. Si Kerudung Merah kemudian berkata, "Telinga Nenek besar sekali!," ("Supaya aku bisa mendengar suaramu lebih jelas", jawab serigala), "Tapi, Nek, mata Nenek besar sekali!," ("Supaya aku bisa melihatmu lebih jelas", jawab serigala), "Tapi Nek tangan Nenek besar sekali!," ("Supaya aku bisa memelukmu dengan erat", jawab serigala) dan terakhir "Tapi Nek mulutmu besar sekali!" ("Supaya aku dengan gampang memakanmu!", jawab serigala). Serigala langsung melompat dari tempat tidur dan menelan si Kerudung Merah, kemudian tertidur lelap.


Seorang penebang pohon (dalam Grimm Brothers, dan dalam tradisi Jerman seorang pemburu), datang untuk menyelamatkan mereka dan membuka perut serigala yang masih tertidur dengan kapaknya. Si Kerudung Merah dan neneknya keluar tanpa terluka. Lalu mereka mengisi tubuh serigala dengan batu-batu berat. Serigala terbangun dan mencoba melarikan diri, tetapi batu-batu itu menyebabkan dia ambruk dan mati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


PENGUMUMAN


PO BUKU CETAK edisi Koleksi Essence of The Darkness dan Sincerity


ESSENCE OF THE DARKNESS - 954 halaman


Sincerity ( Bonus Part kisah kehamilan anak pertama dan kehamilan anak kedua Elana ) - 250 halaman


Cara PO


1, Jika ingin melakukan PO melalui PSA buka projectsairaakira.com' atau cek IG @projectsairaakira @anonymousyoghurt untuk info lebih lanjut



Jika ingin melakukan PO melalui WA, Silakan Wa mimin PSA di 0896-3650-7974


Jika ingin PO melalui reseller (PO lewat IG,  Shopee, Tokopedia dll) silakan cek Instagram reseller sbb:


@chochovan95


@angelvin_olshop


@salenovel14


@rumahbukubundarasya


@cintabukubookshop



Thank You


Yours Sincerely


Anonymous Yoghurt.

__ADS_1



__ADS_2