Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 54 : Bantuan


__ADS_3

Perkataan Xavier itu langsung menusuk ke indra pendengaran Sera, begitu mengejutkannya hingga selama beberapa saat, dia hanya bisa ternganga seperti orang bodoh dan tak mampu memberikan reaksi apapun.


Xavier dengan penuh percaya diri telah menuduh Sera jatuh cinta kepadanya? Betapa sombongnya! Berani-beraninya Xavier merendahkan perasaan Sera dengan sikap penuh percaya dirinya yang menyebalkan itu!


Sera lalu mendongakkan dagunya ke arah Xavier dengan sikap angkuh, seluruh tubuhnya menegang, siap untuk melawan.


"Xavier Light, aku melunak karena kita mau tak mau harus bekerjasama untuk beberapa saat ke depan. Aku bersikap baik karena kau juga telah berbuat baik kepadaku. Tidak lebih dari itu." Bibir Sera gemetar, menyembunyikan keraguannya saat dia menyambung kembali perkataannya. "Asal kau tahu, kau adalah jenis lelaki yang sudah pasti akan menjadi pilihan terakhirku untuk jatuh cinta."


Sera menatap tajam ke arah Xavier, dan keningnya berkerut ketika melihat seberkas kelegaan di mata Xavier saat mendengar kalimatnya itu.


Lelaki ini lega ketika mendengar bahwa Sera tak sedang jatuh cinta kepadanya?


"Aku senang mendengarnya, Nyonya Light." Seolah bisa membaca pikiran Sera, Xavier langsung berucap membenarkan. "Demi ketenangan kita berdua, aku berharap bahwa hubungan kita hanya akan menjadi hubungan fisik dengan tujuan transaksional dan tidak lebih dari itu. Kita memang sepakat akan punya anak bersama, tetapi aku berpikir bahwa lebih baik kita berteman saja dan menyelesaikan seluruh ganjalan emosi di antara kita. Aku tak ingin direpotkan oleh urusan drama dan air mata di masa depan."


Jika Xavier mengucapkan kalimat dingin tak berperasaan itu dua minggu yang lalu, mungkin Sera akan menangis, sama seperti ketika pertama kali dia menerima perlakuan dingin Xavier di kamar rumah sakit waktu itu. Tetapi sekarang, seiring dengan berlalunya hari saat Sera dipaksa menghabiskan waktunya sendirian tanpa Xavier di dekatnya, dia mampu membangun benteng pertahanan hatinya yang membuat Sera berhasil menampilkan ekspresi dingin yang sama untuk menanggapi Xavier.


"Baik, kau tak perlu khawatir, Xavier. Aku tidak akan melibatkan hatiku jika berurusan denganmu. Ini akan menjadi hubungan fisik dengan tujuan transaksional, seperti yang kau katakan," sahut Sera dengan nada suara tanpa emosi, berhasil menutup diri sepenuhnya.


Sikap Sera yang jauh berbeda itu membuat Xavier mengangkat alis, seolah-olah terkejut akan perubahan diri Sera yang tak lagi bisa dibaca emosinya. Mata Xavier menyipit, mempelajari ekspresi Sera, sebelum kemudian bertanya dengan sengaja.


"Apakah kau ingin menemui Aaron Dawn, ataukah menemui ayahmu terlebih dahulu?"


Mata Sera mengerjap, kali ini emosi keterkejutan tak bisa disembunyikan dari ekspresinya.


"K-kau mengizinkan aku untuk menemui mereka?" tanyanya seolah tak percaya.


Xavier menatap Sera seolah sedang berbicara dengan orang bodoh,


"Aku sudah bilang bahwa aku akan membebaskanmu, bukan? Setelah aku menunaikan tugasku dengan melepaskan ayahmu dan membebaskan Aaron, maka apapun yang akan kau lakukan kepada mereka sudah bukan merupakan urusanku lagi." Xavier berdehem sejenak. "Meskipun begitu, karena statusmu masih istriku dan calon ibu dari anak-anakku, maka sebaiknya aku mendampingimu dalam kunjungan yang kau rencanakan, demi keamananmu."


Sera mengerutkan kening. Jika Xavier ingin mendampingi Sera dalam rencana kunjungannya, sudah pasti Sera tak akan memilih untuk mengunjungi Aaron. Pertemuan pertama antara Xavier dan Aaron terjadi pada situasi yang sangat mengerikan. Meskipun Sera sangat ingin melihat kondisi Aaron, dia tak ingin membuat Aaron serasa dikejar teror kalau dia sampai datang bertemu dengan membawa Xavier bersamanya.


"Aku... aku ingin melihat ayahku saja." Sera memutuskan kemudian setelah berpikir panjang.


Telinga Xavier yang tajam tentu saja langsung mencerna kata 'saja' yang ditambahkan oleh Sera di belakang kalimatnya. Keningnya pun ikut berkerut.


"Kau hanya ingin menemui ayahmu saja? Bagaimana dengan Aaron?" tanya Xavier cepat.


Sera menggelengkan kepala.


"Pengacaramu bilang bahwa Aaron sudah menerima penawar racun dan saat ini sedang dalam proses penyembuhan. Nanti saat Aaron sudah sembuh benar, dia akan mengurus semua prosedur sehingga Aaron bisa segera pulang ke Rusia. Jadi, kurasa menyangkut Aaron, aku tak ingin membebaninya lagi dengan menemuinya."


"Bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pun, kau tak mau melakukannya?" Xavier kembali bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


Sera menggelengkan kepala dengan sikap mantap.


"Tidak. Kurasa Aaron akan lebih bahagia jika tidak berurusan lagi denganku."


"Semudah itu kau melepasnya? Bukankah dia cinta pertamamu? Apakah kau tak ingin memperjuangkannya?" Kembali Xavier menyuarakan pertanyaannya yang kali ini langsung mengusik Sera hingga membuatnya melemparkan tatapan marah ke arah lelaki itu.


Apa sebenarnya maksud Xavier dengan sikapnya yang seolah mendorong Sera mendekati Aaron? Apakah lelaki itu ingin menunjukkan kepada Sera bahwa dia benar-benar ingin membuang Sera menjauh, sehingga dengan sengaja menyodor-nyodorkan Sera kepada Aaron?


Xavier tak bisa seenaknya saja menentukan jalan hidup Sera. Jika memang dia ingin membuang Sera, maka ketika nanti saatnya tiba, Sera tak akan mengizinkannya mencampuri kehidupannya lagi!


"Tentang siapa cinta pertamaku dan lelaki mana yang akan kupilih untuk mengisi hatiku, bukanlah ranahmu untuk kau bahas. Meskipun sekarang kau adalah suamiku dan akan menjadi ayah dari anak-anakku, tetapi dalam hubungan kita, statusmu hanya sebatas itu saja. Tidak lebih." Sera menatap Xavier dengan sikap sinis. "Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa urusan hati, merupakan urusan kita masing-masing?"


Xavier tak menjawab. Lama lelaki itu hanya memandangi Sera terang-terangan dengan tatapan tajam menyelisik yang seolah ingin menembus kedalaman hatinya. Sementara itu, Sera memilih menundukkan kepala, tak mau membalas tatapan mata Xavier dan mengepalkan tangannya untuk menahan kejengkelannya.


"Baiklah."


Tiba-tiba saja, Xavier memecah keheningan dengan ucapannya, membuat Sera menengadah kembali dan otomatis bertanya.


"Baiklah apanya?"


"Baiklah. Kita lupakan tentang Aaron karena kau tak mau menemuinya lagi. Besok aku akan membawamu untuk menjenguk ayahmu yang sudah dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih baik," sahut Xavier menyambung kalimatnya.


Mata Sera menatap ke arah Xavier dengan ragu. "Apakah kondisimu sudah tidak apa-apa?" Ada kecemasan tersembunyi yang tersirat dari suara Sera ketika bertanya.


Meskipun Xavier sudah tampak jauh lebih baik dari terakhir kali Sera melihatnya di kamar perawatan rumah sakit, tetapi tetap saja Xavier tampak belumlah pulih benar. Lelaki itu sudah mampu berbicara lancar dan tampak mampu menghela napas tanpa terlihat terlalu kesakitan seperti sebelumnya, meskipun begitu permukaan kulitnya yang memucat dan kenyataan bahwa Xavier masih harus duduk di kursi roda, mendorong Sera untuk mengkhawatirkan lelaki itu.


Xavier memiringkan kepala dan mengulas senyum, seolah-olah senang karena Sera mencemaskannya.


"Aku sudah hampir sepenuhnya sehat. Yah, aku memang masih harus menggunakan kursi roda ini karena Nathan memaksaku. Dia meminta supaya aku tidak banyak bergerak selama dua minggu ke depan, untuk semakin mempercepat pemulihanku menuju sempurna." Lelaki itu tampak benar-benar santai ketika membicarakan kondisinya. "Sebenarnya, aku bisa berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat untuk menopang tubuhku, tanpa kursi roda. Bukan kakiku yang cedera, tetapi dadaku. Jadi, berjalan bukanlah masalah untukku."


Perkataan Xavier itu membuat mata Sera langsung terarah ke dada Xavier. Lelaki itu mengenakan kemeja biasa, tetapi Sera yakin, bebat yang mengikat di dada Xavier pastilah sangat tebal.


Tiba-tiba saja, rasa bersalah langsung menyeruak dan memenuhi benak Sera.


"Maafkan aku," bisiknya perlahan.


Xavier menatap Sera bingung. "Minta maaf untuk apa?

__ADS_1


***


"Jadi, sampai dengan saat ini, Sabina masih ada di tangan Xavier?" Aaron bertanya sambil menyesap minuman beralkohol yang disajikan oleh Dimitri kepadanya. Minuman itu cukup menyenangkan di lidah, sensasinya manis yang dibalut getir nan pekat, dan tubuhnya langsung disenyari nuansa hangat yang dimulai dari tenggorokannya lalu langsung menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.


Mereka sudah berpindah ke ruang tengah cottage itu dan masing-masing duduk pada sofa yang berseberangan sambil menyesap minuman di tangan mereka.


Dimitri menatap Aaron dengan tajam.


"Sabina adalah urusanku dan aku akan menyelesaikannya sendiri. Kau hanya harus fokus untuk memeriksa surat-suratmu yang sudah siap. Penerbanganmu kembali ke Rusia dijadwalkan esok lusa, dan kuharap semuanya lancar sampai kau bisa meninggalkan negara ini dan kembali ke Rusia."


Aaron menganggukkan kepala. "Semua surat-surat dan dokumen pendukungku untuk meninggalkan negara ini sudah lengkap. Tetapi aku butuh bantuanmu untuk melakukan satu hal."


"Apakah itu?" Dimitri menyahuti segera dengan pertanyaan.


"Aku ingin... jika bisa, kau menghubungi Serafina Moon dan mengatur supaya dia bisa menemuiku sebelum aku berangkat ke Rusia." Aaron menjawab perlahan.


"Menghubungi Serafina Moon mendatangkan resiko bagiku. Kau pasti sudah tahu bahwa Serafina Moon sekarang sudah menjadi istri Xavier, bukan? Dengan statusnya itu, maka perimeter pertahanan di sekelilingnya dijaga dengan sangat ketat. Akan terlalu sulit mengirimkan pesan kepadanya. Bahkan, jika dia menerima pesan itu pun, belum tentu Serafina bisa meloloskan diri dari para penjaganya untuk mencari jalan menemuimu." Dimitri memiringkan kepala, tatapannya tampak menyelisik. "Lagipula, untuk apa kau ingin menemui kekasih kecilmu itu sebelum berangkat ke Rusia? Apakah kau ingin membuatat adegan selamat tinggal antara dua kekasih yang penuh dengan keharuan?" tanya Dimitri tanpa bisa menyembunyikan nada sinis di dalam suaranya.


Aaron menggelengkan kepala. "Sudah kubilang Serafina Moon bukanlah kekasihku. Dia hanyalah alat, semacam hewan peliharaan bagiku. Dan alasan aku ingin menemuinya, adalah karena aku ingin memberikan semacam peringatan dan balas dendam kecil kepadanya sebelum aku pergi."


Dimitri mengawasi ekspresi jahat di wajah Aaron lalu mengangkat bahunya.


"Baiklah, aku akan mengusahakannya. Tapi aku tidak bisa berjanji akan berhasil," jawabnya sambil lalu.


Dimitri berpikir bahwa dia harus menyampaikan kepada Akram mengenai permintaan Aaron ini. Biarlah Akram yang mendiskusikannya dengan Xavier nanti. Keputusan ada di tangan mereka, Dimitri hanyalah seorang pembawa pesan yang menjalankan tugasnya demi menyelamatkan dirinya sendiri.


***


Sera menjalinkan jemarinya dan meremasnya canggung.


"Aku meminta maaf karena Aaron telah menusukmu dan membuatmu terluka parah," jawabnya perlahan.


Bibir Xavier menipis. "Aaron yang menusukku, kenapa kau yang meminta maaf untuknya?" Ekspresi Xavier langsung berubah dingin, membuat Sera menyadari bahwa kemungkinan dia salah ucap dan membuat Xavier tidak suka. Padahal, meskipun diucapkan untuk mewakili Aaron, permintaan maafnya itu tulus dari dasar hatinya.


"B-bagaimanapun, Aaron terlibat denganmu, itu semua karena a-aku." Dengan nada terbata, Sera berusaha menjelaskan.


Xavier menyipitkan matanya. "Aaron, lelaki itu sudah dewasa. Dia bisa mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya dan tidak memerlukan dirimu untuk mewakilinya meminta maaf."


Sera begidik ketika mendengar nada gelap mengerikan yang tersirat dalam suara Xavier.


"K-kau... sudah tidak menyimpan dendam lagi kepada Aaron, kan?" tanyanya dengan nada was-was.


"Tapi... tapi Akram sudah tak mengincar Aaron lagi, bukan?" Kecemasan merayapi Sera. Dia benar-benar ingin Aaron terbebas dari segala hal menyangkut dirinya yang memberati lelaki itu. Kalau sampai Aaron terluka karena dirinya, Sera tak mungkin bisa memaafkan diri sendiri.


"Untuk saat ini, tidak. Aku menjamin Aaron bisa pulang ke negaranya dengan selamat." Xavier menjawab cepat. Dia memilih tak mengatakan kepada Sera bahwa Akram bersikeras untuk tetap mengawasi Aaron karena firasatnya mengatakan bahwa Aaron kemungkinan besar akan menjadi masalah di kemudian hari. Akhirnya, Xavier pun memberikan persetujuan atas tindakan Akram memanfaatkan Dimitri yang terkekang oleh racun dan bom di tubuhnya untuk mengawasi Aaron dalam jarak dekat dengan berpura-pura menjadi sekutunya.


Yah, Dimitri memang bertugas mengawasi Aaron, sementara Xavier sendiri akan mengawasi mereka berdua, karena sesungguhnya, Xavier tidak mempercayai baik Dimitri maupun Aaron.


"Kenapa kau tersenyum?" Pertanyaan Sera itu membuat pandangan kosong Xavier yang tadinya sibuk berfikir jadi kembali fokus. Sera rupanya sejak tadi mengawasi Xavier dan kebingungan karena Xavier tengah tersenyum sendiri ketika sedang memikirkan rencana liciknya untuk menjatuhkan Dimitri sekaligus Aaron.


Xavier membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Sera, tetapi pada saat yang sama seorang anak buah Xavier muncul di ambang pintu dan meminta izin untuk menginterupsi.


Xavier mengerutkan kening atas gangguan itu, tetapi tak urung, disuruhnya anak buahnya masuk juga.


Anak buahnya dengan patuh melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan canggung, mengangguk sopan sedikit ke arah Sera sebelum kemudian memfokuskan pandangannya kembali ke arah Xavier.


"Mohon maaf, Tuan. Tetapi, kepala pelayan tadi mengangkat telepon dari Tuan Akram untuk Anda. Tuan Akram meminta untuk dihubungi segera."


***


Sera menatap ke arah Xavier yang mendorong kursi rodanya ke sudut ruangan, tepat di depan jendela kaca dengan tirai terbuka yang menampilkan pemandangan taman di halaman samping rumah yang tertata rapi.


Kursi roda Xavier memiliki sistem elektrik canggih yang dikendalikan oleh tombol-tombol digital dalam jumlah banyak dan rumit yang terletak di lengan kursi rodanya, karena itulah lelaki itu bisa menggerakkan kursi rodanya semaunya kesana kemari tanpa memerlukan bantuan orang lain untuk mendorongnya.


Sera melirik sedikit ke arah Xavier yang sedang bercakap-cakap dengan suara rendah sehingga telinganya tak bisa mencerna isi percakapan itu. Merasa serba salah, Sera melirik kembali ke piring makanannya yang belumlah habis sepenuhnya. Dia menghela napas panjang, lalu mendorong piringnya menjauh.


Orang bilang, bahwa sebaiknya tak usah berbicara atau bercakap-cakap satu sama lain ketika sedang makan. Hal itu benar adanya karena yang pertama, makan sambil berbicara bisa menyebabkan tersedak, akibat makanan yang ditelan salah masuk, bukannya masuk ke batang kerongkongan, tetapi malah masuk ke batang tengorokan yang sama-sama terbuka saat manusia menelan sambil berbicara. Sedangkan yang kedua, ketika bahan percakapan itu tak cocok dengan hati, maka bisa menghilangkan selera makan sampai lenyap tanpa bekas, seperti yang dialami oleh Sera saat ini.


"Serafina." Xavier tiba-tiba memanggil, membuat Sera tergeragap dan menoleh ke arah Xavier. Matanya menemukan bahwa Xavier sudah menyelesaikan percakapan teleponnya.


"Ada apa?" Serafina bertanya, sedikit bingung.


"Bisakah kau kemari dan mengambilkan obatku untuk kuminum? Obatnya ada di nampan di atas meja kecil itu, juga air minumnya." Xavier mengedikkan dagunya ke arah meja kecil yang dimaksudkannya, memberi isyarat ke arah Sera.


Sera menggumam untuk mengiyakan, bergegas dia bangkit dari duduknya, lalu beranjak menuju meja kecil yang terletak menempel di dinding, dekat dengan rak pajangan berisi poci teh dan piring-piring keramik yang menjadi hiasan area ruang makan itu. Tanpa kata, dibawanya nampan berisi obat dan air minum itu menuju ke tempat Xavier duduk di atas kursi rodanya.


Xavier mengambil butiran obatnya sementara Sera sempat menghitung bahwa ada enam butir obat yang harus diminum oleh Xavier.


"Terima kasih," Xavier mengambil obat dari wadah kecil di atas nampan, lalu menelannya dengan air sekali teguk. Sera menerima kembali gelas itu ke nampan yang dibawanya, sebelum kemudian meletakkan kembali nampan tersebut ke meja kecil tempatnya semula.


Setelahnya, dengan kikuk Sera menatap ke arah Xavier dan berucap,

__ADS_1


"Kurasa, aku akan kembali ke kamar." Sera ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya dan menjauh dari Xavier, karena itulah tanpa menunggu jawaban Xavier atas ucapan pamitnya, Sera langsung membalikkan tubuh dan hendak melangkah pergi meninggalkan ruang makan itu.


"Serafina."


Untuk kedua kalinya, Xavier memanggilnya dengan nama panjangnya yang berhasil membuat Sera menghentikan langkah perginya dan menolehkan kepala dengan bingung.


"Ada apa lagi?" Sera bertanya dengan nada canggung.


"Aku ingin kau membantuku." Xavier menjawab singkat, dengan nada misterius.


Hal itu langsung membuat Sera memutar tubuhnya kembali, melemparkan tatapan bingung ke arah Xavier.


"Membantu apa?" tanyanya lagi.


"Bisakah kau menemaniku kembali ke kamar?"


Alis Sera berkerut dalam hingga nyaris menyatu. "Bukankah kursi rodamu adalah kursi roda elektrik sehingga kau bisa menjalankan kursi rodamu tanpa perlu bantuan orang lain untuk mendorongnya?" Sera bertanya dengan nada curiga. Lelaki ini terang-terangan tak mau tinggal sekamar dengan Sera sehingga pindah ke kamar tamu dengan menggunakan kursi rodanya sebagai alasan. Sera tak akan mau diperdaya lagi oleh Xavier hingga ujung-ujungnya jadi merugikan dirinya sendiri.


"Aku memang membutuhkanmu menemaniku ke kamarku, tetapi bukan untuk membantu mendorongkan kursi rodaku." Xavier menjawab ringan, matanya menatap lekat ke arah Sera.


"Lalu untuk apa?" Rasa penasaran menguasai diri Sera, membuatnya langsung menyambar kalimat Xavier dengan pertanyaan.


Xavier menyeringai, matanya menatap menantang ke arah Sera.


"Aku membutuhkan bantuanmu untuk mandi," sahutnya dengan nada suara rendah.


Hampir saja Sera terloncat mundur karena perkataan Xavier itu. Tetapi pikiran rasionalnya mendorong dirinya untuk memastikan kembali apa yang telah didengar oleh telinganya.


"Apa maksudmu dengan mandi?" tanya Sera dengan nada suara waspada.


Seringaian Xavier semakin lebar.


"Sejak pulang dari rumah sakit, aku belum sempat mandi, hanya bisa mencuci muka sebelum makan malam. Sebelum tidur aku ingin mandi dengan air hangat dan juga mencuci rambutku. Tetapi, kau tahu sendiri kalau dengan kondisi lukaku ini, aku kesulitan untuk mandi sendiri tanpa bantuan. Jadi, karena statusmu di rumah ini adalah istriku, maka cukup wajar jika aku meminta bantuanmu untuk memandikanku."


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan 10 besar.


AY

__ADS_1


__ADS_2