Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 110 : Pertimbangan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


“Aku menyerahkan pengejaran dokter Rasputin kepada Dimitri, jika memang sesuai dugaan bahwa dokter Rasputin masih ada di Rusia, maka Dimitri adalah orang yang tepat untuk melakukan pencarian, dia memiliki kuasa yang besar di dunia bawah tanah di negara ini, aku yakin bahwa dokter Rasputin tidak akan bisa bersembunyi lama. Cepat atau lambat dia akan ditemukan.”


Credence menyahuti dengan nada suara tegas ketika Xavier menanyakan tentang perkembangan pengejaran terhadap dokter Rasputin.


“Aku mengerti.” Xavier mengangukkan kepala. “Kalau begitu, apakah kau akan kembali ke kantor pusatmu di London?” tanyanya kemudian.


“Sepertinya tidak.” Credence terdengar menimbang-nimbang sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Perusahaanku di London berjalan cukup baik dengan orang-orang kompeten  di posisi yang tepat untuk menjalankannya. Aku hanya perlu menerima laporan setiap beberapa periode sekali, lalu memberikan beberapa keputusan krusial menyangkut kebijakan perusahaan. Perusahaan itu bisa dibilang sudah sempurna hingga bisa berjalan sendiri dan memberikan profit memuaskan bahkan tanpa perlu melakukan usaha berlebih.” Credence mengangkat bahunya. “Kau tahu aku menginginkan tantangan, jadi aku memutuskan untuk mendirikan cabang perusahaan baru di negaramu.”


“Bukankah kau sudah punya?” Xavier mengerutkan kening. Credence memiliki beberapa perusahaan besar yang bergerak di bidang keuangan dan investasi yang sangat maju, perusahaannya itu sudah memiliki anak cabang di beberapa negara maju di seluruh penjuru dunia, termasuk di negara tempat Xavier berada.


“Ah, bukan cabang perusahaan yang itu.” Credence menyebut perusahaan dengan kekayaan luar biasa miliknya dengan nada ringan meremehkan seperti menyebutkan sesuatu yang tidak penting. “Aku sedang membicarakan perusahaanku yang lainnya.”


“Yang lainnya?” Xavier mengerutkan kening. “Maksudmu perusahaan yang kau besarkan dari nol secara diam-diam tanpa menggunakan bantuan atau bayang-bayang nama besar perusahaanmu yang lainnya?”


“Ya, perusahaan di bidang pengadaan bahan pangan dan pertanian.” Credence terkekeh. “Mereka hanya tahu bahwa aku adalah petani yang kebetulan memiliki banyak uang dan ingin berinvestasi di bidang yang kusukai. Aku cukup bersemangat untuk memimpin perusahaan ini sendiri, sebagai refreshing atas kemonotonan hidupku selama ini, juga sebagai pembuktian bahwa tangan midasku ini ternyata juga bisa berlaku di bidang usaha yang sangat bertolak belakang dari bidang usaha yang kugeluti selama ini.”


“Kurasa dengan bidang yang berberbeda pun, kau akan berhasil seperti biasanya.” Xavier mengucapkan pendapatnya sambil menahan senyum.


Orang lain mungkin mendapatkan refresing dengan berlibur, bersenang-senang atau menghabiskan waktu dengan melakukan hobinya atau bersantai sepanjang hari. Tapi Credence sungguh ajaib, lelaki itu melakukan refreshing dengan merintis perusahaan baru dari nol dan mendedikasikan waktunya untuk membangun perusahaan itu supaya sukses demi pembuktian kemampuannya.


“Karena itulah, aku akan membereskan segala sesuatunya di sini dan di kantor pusatku terlebih dahulu, setelah itu aku akan terbang ke negaramu. Tidak seperti sebelumnya, aku mungkin akan menetap cukup lama di sana, jadi kau bisa menggunakanku kapan saja kau membutuhkan bantuan.” Credence terdengar serius dengan ucapannya. Hutang budinya kepada Xavier di masa lampau membuatnya merasa, bahwa sebanyak apapun yang dia lakukan untuk membantu Xavier, tidak akan pernah sepadan untuk membalas bantuan yang pernah diberikan oleh Xavier kepadanya di masa lampau.


“Kapan kau akan tiba di sini?” Xavier bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Segera setelah semuanya beres. Aku akan mengabarimu dan Akram.” Credence tampak memberikan jeda keheningan sejenak, seolah-olah menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya berikutnya. “Xavier. Kau ingat akan rencana yang disampaikan Dimitri kemarin?”


Xavier mengerutkan kening. “Tentang membawa Sabina kemari untuk memancing Aaron?” Lelaki itu sedikit menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak yakin akan melakukannya. Kau tentu tahu bahwa microchip yang kutanamkan di kepalanya, meskipun bisa mengendalikan otaknya dan membuatnya seperti robot, tetap saja merupakan hasil penelitian yang belum sempurna. Sabina bisa saja menjadi gila atau meledakkan kepalanya tiba-tiba. Aku tak ingin dia melakukan kegilaan itu saat dia berada di dekat Sera.”


“Tapi, kita bisa mengambil risiko itu untuk mendapatkan hasil yang cepat.” Credence menyahuti untuk memberikan pertimbangannya. “Jangan khawatir. Aku akan memastikan bahwa Sabina tidak berdekatan dengan Sera. Dia hanya akan muncul untuk memancing Aaron. Bagaimana menurutmu?”


Xavier terdiam dan menimbang-nimbang cukup lama, menciptakan keheningan yang cukup panjang dalam percakapan telepon mereka.


“Apakah kau bisa menjamin bahwa Sabina tidak akan mendekati Sera?”


“Aku akan memberikan penjagaan ketat kepada perempuan itu. Dan bukankah microchip itu memiliki kemampuan meledakkan diri sendiri? Jika Sabina menunjukkan perilaku menyimpang, aku sendirilah yang akan menekan tombol peledak diri sendiri pada microchip di kepala Sabina.” Suara Credence terdengar datar tanpa emosi. Lelaki itu dibesarkan sebagai akademisi dengan pendidikan tinggi yang membuatnya tampak elegan dan bersih dari noda kejahatan. Namun sesungguhnya, Credence tidak sebersih itu. Kehidupannya di masa lampau melibatkannya dengan jaringan bawah tanah yang kelam yang masih melekat di dalam perilakunya meskipun sekarang dia lebih banyak duduk di belakang meja dengan mengenakan setelan tiga potong yang rapi.


Ledakan microchip itu sendiri sesungguhnya bukanlah sesuatu yang mengerikan jika dilihat dari luar. Itu bukanlah ledakan mengerikan dengan api dan suara keras laksana ledakan bom yang membuat kepala hancur. Itu adalah ledakan kecil yang tak mungkin terlihat dari luar, disesuaikan dengan ukuran microchip itu yang memang sangat kecil. Meskipun begitu, ukurannya yang kecil bukan berarti bisa membuat microchip itu bisa diremehkan begitu saja. Efek microchip yang meledak di batang otak itu mampu menjalar dan bisa membuat otak manusia meleleh di bagian dalam, tanpa memperlihatkan kerusakan apapun jika tampak dari luar.


Xavier menghela napas panjang.


“Aku akan mempertimbangkannya lebih dulu. Aku akan mengabarimu nanti,” ucapnya kemudian dengan kening berkerut dalam.


***


 


“Suara detak jantung bayi itu memenuhi ruangan dan bergema di sana, menciptakan ketakjuban yang berpijar di dua pasang mata milik Xavier dan Sera.


“Kalian bisa mendengarnya? Mereka berdua sangat sehat.” Dokter kandungan yang menangani Sera berucap kemudian dengan nada lembut ke arah Sera.


Dokter Nathan yang juga ikut berada di ruangan tersebut melirik ke arah dokter kandungan yang menangani Sera, kedua dokter itu saling melempar pandang, tampak menahan senyumnya ketika menatap wajah Xavier dan Sera berganti-ganti. Entah sudah berapa kali mereka melakukan pemeriksaan USG kehamilan ini, tetapi ketakjuban di mata kedua calon orang tua baru ini tak pernah pudar. Mereka terlihat sangat bahagia sekaligus cemas, layaknya manusia yang tak sabar menanti keajaiban baru yang akan segera terlahir kemudian.


“Apakah segala sesuatunya baik-baik saja?” Xavier bertanya lagi seolah tak yakin, matanya masih terpaku pada citra USG yang terpampang pada layar besar di hadapannya.


Dokter kandungan itu telah selesai membaca data hasil USG dan langsung menganggukkan kepalanya.


“Semuanya normal dan baik-baik saja. Mereka akan lahir dengan sehat dalam waktu dekat.” Dokter kandungan itu menjawab dengan suara tenang. “Saya akan meresepkan vitamin dan kalsium untuk sang ibu,” dokter kandungan itu menganggukkan kepala berpamitan lalu melangkah keluar dari ruang USG untuk menuju meja kerjanya.


Suster yang juga ikut mendampingi selama proses USG segera bergerak mengambil tisu basah untuk mengusap perut Sera, tetapi Xavier mendekat dan memberi isyarat pada suster itu bahwa dialah yang akan mengambil alih tugas itu.

__ADS_1


Sera tersenyum lebar ketika melihat Xavier mengelus dengan usapan berhati-hati ke perutnya yang membuncit.


Dengan sangat cekatan, Xavier kemudian berinisiatif untuk mengambil alih tugas suster dengan membersihkan bekas gel dingin di perut Sera yang tadinya dipakai untuk proses USG-nya. Mata Sera melembut ketika dilihatnya Xavier membungkukkan tubuh dan menghadiahkan kecupan di perut Sera sebelum kemudian tangannya bergerak mengancingkan kembali gaun hamil Sera.


“Kau hanya perlu makan banyak dan berbahagia sampai saat kelahiran nanti.” Xavier berucap kepada Sera dengan senyuman lebar, membuat Sera terkekeh karenanya.


Mata Xavier meredup ketika melihat senyuman istrinya dan dengan refleks lelaki itu menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke bibir Sera, hendak menghadiahkan kecupan lembut nan penuh cinta di sana.


Sayangnya, di detik terakhir sebelum bibir mereka bersentuhan, suara dokter Nathan yang berdehem menghancurkan segalanya. Bibir Xavier bahkan belum berhasil menyentuh bibir Sera, tetapi dengan malu Sera sudah menggerakkan tangannya untuk mendorong Xavier menjauh dan menolak ciuman yang akan diberikannya.


“Kalian tentu tidak lupa kalau aku masih ada di sini, bukan?” dokter Nathan berucap dengan nada penuh ironi, lelaki itu bersandar di dinding, menatap ke arah Xavier dengan tatapan jengkel.


Tatapannya itu dibalas oleh Xavier dengan kejengkelan yang sama.


“Kenapa kau masih di sini? Bukankah tugasmu sudah selesai?”


“Aku di sini bukan karena dirimu.” Dokter Nathan memutar bola matanya, lalu setelah yakin bahwa pakaian Sera sudah terkancing dan tertutup seluruhnya, barulah dia melangkah mendekat.


Dokter Nathan memang bersikap sangat berhati-hati terhadap Sera. Dia tidak takut terhadap Xavier, tetapi dia tahu bahwa dia akan sangat terganggu oleh tingkah Xavier jika lelaki itu dipenuhi kecemburuan kalau sampai dirinya melihat sedikit saja kulit Sera yang tersingkap.


Dokter Nathan mendekat ke arah kaki Sera, lalu menyentuh pergelangan kakinya yang bengkak. Seketika Sera terkesiap, merasakan nyeri di sana yang menyengat tak terkira.


“Apa yang kau lakukan?” Xavier menyipitkan mata, menatap dokter Nathan dengan pandangan curiga karena sang dokter tiba-tiba menyentuh dan menyakiti istrinya.


“Dokter kandungan sudah memastikan bahwa kondisi bayi kalian berdua baik-baik saja. Sekarang tinggal tugasku untuk memeriksa kondisi sang ibu.” Tangan dokter Nathan sudah lepas dari kaki Sera, tetapi matanya masih terpaku di sana, mengamati dengan serius. “Bengkaknya cukup parah, dengan kandunganmu yang semakin besar, pasti rasanya sangat menyiksa.” Sang dokter mendekat ke samping Xavier, lelaki itu lalu mengawasi wajah Sera dan menyentuh pergelangan tangannya untuk memeriksa dan menganggukkan kepalanya sedikit. “Tapi wajah dan pergelangan tanganmu tidak bengkak, jadi ini masih aman.”


“Sera hampir tidak bisa berjalan karena kakinya sakit ketika digunakan untuk menapak, apakah itu tidak apa-apa?” Xavierlah yang kemudian bertanya untuk mewakili Sera.


“Aku mengerti, rasanya pasti tidak nyaman, tapi untuk ibu hamil di trimester ketiga, berjalan kaki minimal lima sampai sepuluh menit sehari cukup baik untuk dilakukan. Kau juga bisa membantu Sera dengan merendam kakinya di air hangat serta menjaga asupan makannya. Tambahkan menu makanann yang mengandung kalium karena kalium bisa menjaga keseimbangan kadar cairan tubuh, makanan tinggi kalium cukup mudah, kau tinggal menambahkan semangkuk yoghurt atau pisang di setiap menu makananmu.” Dokter Nathan mengawasi Xavier dengan hati-hati, lalu berbisik perlahan. “Ah dan ada beberapa hal yang ingin kusampaikan. Aku ingin bicara denganmu di luar sebentar.”


Dokter Nathan langsung menoleh ke arah Sera, merasakan tatapan ingin tahu yang dilemparkan oleh perempuan itu ke arahnya dan dia langsung menyeringai dengan gaya santai yang ringan. “Bukan menyangkut kesehatanmu dan bayimu, Sera. Kalian semua sehat aman dan terkendali,” candanya sambil lalu. “Aku ingin berbicara dengan Xavier menyangkut masalah pekerjaan,” ujarnya kemudian meminta permakluman kepada Sera.


Xavier langsung mengerti isyarat itu, dia menganggukkan kepala untuk menanggapi.


Apa yang ingin dikatakan oleh dokter Nathan sudah pasti tak boleh didengar oleh Sera sebab kemungkinan besar itu berhubungan dengan Aaron. Karena itulah dia bergerak untuk mengecup dahi Sera dan berbisik dengan nada lembut.


“Tunggu di sini sebentar ya? Aku akan kembali untuk menjemputmu,” bisiknya perlahan yang dijawab Sera dengan anggukan.


***


 


Xavier menutup ruang pemeriksaan di belakangnya dan langsung bertanya. Mereka saat ini berdiri di lorong yang cukup sepi dan aman. Dari sudut matanya, Xavier bisa melihat bahwa ada beberapa bodyguard yang berjaga di ujung lorong untuk menahan supaya tidak ada siapapun yang bisa datang mendekat.


“Kau meminta hadir pada meeting bulanan yang diadakan oleh bagian keuangan, bukan?” Nathan menyahuti dengan ekspresi tenang. “Aku sudah mengaturnya. Kau sudah masuk ke dalam daftar peserta meeting.”


Ada kilat yang menyala di mata Xavier mendengar perkataan dokter Nathan itu, seolah-olah ketidaksabarannya terpantik dan membakar dirinya.


“Kapan?” tanyanya singkat kemudian.


“Aku memajukan jadwalnya karena aku tahu pasti kau menginginkan secepatnya. Besok pagi jam sepuluh,” sahutnya cepat.


Xavier menganggukkan kepala.


“Aku tidak ingin dokter Oberon tahu bahwa aku akan hadir. Aku ingin membuat kejutan sehingga bisa mempelajari ekspresinya dengan sempurna tanpa rekayasa. Jika dia memang Aaron, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri saat berhadapan denganku secara tiba-tiba.”


Nathan menganggukkan kepala. “Kau bisa tenang, aku sudah mengaturnya.”


“Terima kasih, Nathan.” Xavier biasanya bersikap arogan dan suka memprovokasi orang, namun dia cukup rendah hati untuk mengucapkan terima kasih pada orang yang telah membantunya.


Dokter Nathan sendiri langsung menyeringai ketika menerima ucapan terima kasih dari Xavier yang sama sekali tak disangkanya itu. Tangannya menepuk pundak Xavier dengan santai sebelum kemudian berucap dengan nada ringan.


“Tidak perlu berterima kasih, siapa yang tahu kalau aku akan menuntut bantuanmu di kemudian hari nanti?” tatapan mata Nathan berubah serius ketika melanjutkan kalimatnya kemudian. “Aku hanya ingin ini semua cepat berakhir. Kau tahu, sekarang setelah kau sudah mendapatkan rekonsiliasi terbaik dengan Sera, seharusnya kalian bisa melangkah maju tanpa digayuti oleh masa lalu. Perkara Aaron dan yang lain-lain ini, aku sangat ingin kau bisa cepat membereskannya sehingga kalian berdua bisa bebas untuk bahagia.”


Xavier menganggukkan kepala dengan sikap tegas.


“Aku sama denganmu, Nathan,” ucapnya dengan nada serius penuh tekad. “Aku juga sudah tak sabar ingin membereskan segala sesuatu yang berhubungan dengan gangguan Aaron. Tanpa sisa,” sambungnya dengan nada suara gelap penuh ancaman mengerikan.


***

__ADS_1


 


“Kau tak perlu melakukan ini, Xavier.” Sera yang duduk di kursi menunduk dan menatap Xavier yang berlutut di bawahnya. Rona merah tampak memenuhi seluruh permukaan kulit Sera, membuatnya tampak begitu cantik di mata Xavier.


“Aku sekaligus ingin mencoba khasiat garam mandi yang kutambah aroma khusus untuk merelaksasikan dirimu.” Xavier berucap dengan tenang. Lelaki itu sudah menyiapkan baskom berisi air hangat yang sudah diisi dengan garam mandi yang telah meleleh berbaur dengan air yang menebarkan aroma bunga yang manis dan menenangkan. Aroma itu begitu menyenangkannya hingga membuat Sera menundukkan kepala dan menatap ke arah Xavier dengan penuh rasa ingin tahu.


“Kau... memakai bunga apa? Wanginya enak sekali.”


Xavier sedang memasukan bongkahan garam berbentuk dadu dengan warna biru yang indah seperti permata, membuat Sera semakin melebarkan matanya karena baru pertama kalinya dia melihat garam mandi dengan bentuk seperti itu.


“Ini adalah persian rock salt, jenis garam mandi yang sangat bagus untuk relaksasi saraf yang tegang. Orang sering menyebutnya dengan nama blue rock salt atau safir rock salt karena warna birunya yang berkilauan dengan kristal garam ini mirip dengan warna batu safir. Kau juga suka aroma harumnya? Aku menggunakan minyak hasil sulingan atau distilasi dari minyak atsiri yang berasal dari bunga neroli.”


“Bunga Neroli?” Sera mengangkat alis. Dia seorang perempuan dan dia tahu banyak nama bunga yang indah, tapi tak sekalipun dia pernah mendengar tentang nama bunga Neroli.


“Ah, kau tidak pernah mendengarnya? Bunga Neroli adalah bunga pohon jeruk yang berjenis Seville Bitter Orange. Bunganya kecil berwarna putih, mirip seperti jasmine, namun aromanya jauh lebih manis dengan nuansa madu yang segar dan meninggalkan sensasi hangat di kulit. Ini sangat bagus untuk untuk mengurangi peradangan nyeri di kakimu dan aromanya juga bisa menghilangkan stres.”


Sera tersenyum menatap ke arah Xavier yang tampak menjelaskan segala sesuatunya dengan bersemangat. Meskipun Xavier terkenal sebagai ahli peramu racun, sepertinya membuat racun bukanlah satu-satunya hobi dari suaminya ini.


Lelaki ini sangat suka membuat sesuatu yang sifatnya aneh-aneh untuk menyenangkan Sera. Seperti di waktu lampu ketika dia membuatkan sabun mandi dengan aroma cream soup jagung untuk Sera, lelaki itu benar-benar berhasil menciptakan penemuan yang luar biasa karena ketika Sera mandi dengan sabun itu untuk menyenangkan Xavier, dia harus menahan sekuat tenaga keinginan untuk menyesap air sabun rendaman mandinya karena aroma cream soup-nya tercium begitu lezat dan menggoda.


Beruntung sekarang garam mandi untuk merendam kakinya yang dibuatkan oleh Xavier bukanlah sesuatu yang aneh. Aromanya begitu menyenangkan dan seperti yang dikatakan oleh Xavier, membuatnya merasa sangat rileks.


Mata Sera menyusuri Xavier yang tengah menunduk dan tak menatapnya. Lelaki itu sedang memasukkan tangannya ke baskom air panas untuk mengukur kadar suhu dan memastikan jumlah garam yang dimasukkannya mencukupi. Setelahnya, lelaki itu tiba-tiba mendongak dan matanya segera bertemu dengan Sera yang merona malu karena ketahuan tengah menatap suaminya dengan terpesona.


Xavier menyeringai, lelaki itu bahkan tak menutup-nutupi sikap merayu yang ditunjukkannya kepada istrinya yang sedang hamil besar.


“Bukan masalah untuk mengagumi suamimu, suamimu memang tampan.” Xavier terkekeh seketika saat melihat wajah Sera yang merengut ketika mendengarkan kepongahan yang dilontarkannya tanpa tahu malu. Tangannya kemudian bergerak menyentuh kaki Sera yang bengkak, membuat Sera terkesiap seketika.


 


 


 


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


 


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2