
Hai ini adalah episode 10/10 yang author upload sesuai jadwal. Untuk kapan lolos reviewnya, author tak tahu, tetapi sabar saja ya, karena memang untuk part yang menggunakan gambar, proses reviewnya lebih lama daripada yang tanpa gambar.
***
***
Hai, untuk yang sudah update Mangatoon versi terbaru 1.7.1 , kalian sudah bisa melakukan VOTE dengan menggunakan POIN melalui MANGATOON lho.
Tinggal Klik halaman depan novel Essence Of The Darkness di MANGATOON, lalu pilih tulisan VOTE di sebelah nama author annonymous yoghurt, dan berikan POIN mu untuk novel author ya
Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.
***
***
Author akan update episode tamat novel ini di hari Kamis 12 Desember 2019. Semoga bisa lolos di hari yang sama ya, kalau tidak mungkin baru akan lolos di hari jumat 13 Desember 2019. Terima kasih telah menemani Akram dan Elana dari awal sampai menjelang akhir. Author sangat berterima kasih kepada kalian semua.
***
***
Keputusan impulsifnya ternyata membuahkan hasil yang sama sekali tak diduganya. Dan itu membuat Maya bersyukur karena tadi dia tidak pulang ke rumah dan malahan memutuskan untuk mendatangi rumah Edward dan mengatur lebih lanjut mengenai rencana mereka.
Maya yang berdiri diam dan bersembunyi di balik pepohonan rindang di dekat rumah Edward memandang marah dengan mata melotot ketika melihat kegagalan yang terpampang nyata di depan matanya.
Credence telah datang dengan petinggi dari pihak berwenang dan menangkap Edward tanpa bas basi.
Calon sekutunya itu ditangkap tanpa ampun, tanpa bisa membantah dan tanpa perlawanan dengan mudahnya, menggagalkan seluruh rencana Maya sebelumnya.
Dia telah mengusulkan supaya Edward melarikan diri ke luar negeri esok pagi, sementara itu, Maya akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghapuskan jejak bukti yang menunjukkan keterlibatan Edward dalam penggelapan yang tersebut.Dia mengusulkan semua hal itu, merencanakannya dengan baik, karena dirinya berpikir bahwa Credence baru menyelesaikan setengah dari pekerjaannya dan dia masih ada kesempatan.
Tetapi, entah apakah dia ini sedang dibohongi oleh Credence, atau memang Credence memiliki kemampuan kelas tinggi untuk menyelesaikan semuanya secara kilat hanya dalam satu hari, lelaki itu tampaknya sudah menyelesaikan semua penyelidikannya hingga memiliki kepercayaan diri penuh untuk melibatkan pihak berwenang dan menjebloskan Edward tanpa bisa melawan masuk ke dalam penjara.
Kalau begitu, bagaimana rencana pertemuan Maya dengan Dimitri? Apakah ini berarti, rencannya untuk bekerjasama dengan pemimpin mafia Rusia itu juga gagal?
Jika kabar ini sampai ke tangan Dimitri, sudah tentu lelaki itu berpikir bahwa orang-orangnya di negara ini sudah gagal total dan dia langsung membatalkan perjalannya kemari?
Jika itu yang terjadi, maka semua yang telah disusun oleh Maya benar-benar gagal total seluruhnya… dia harus memulai semuanya dari nol, mencari kekuatan lain yang bisa dipijak untuk melawan Akram Night.
Itu semua, sudah pasti akan membutuhkan waktu lama.
Maya mengepalkan tangannya, sementara giginya gemeretak menahan murka. Mata Maya mengikuti arah mobil polisi yang beranjak pergi, diikuti dengan mobil hitam Credence yang mengekor di belakangnya. Setelah itu, semuanya sunyi senyap. Rumah Edward gelap dan kosong melompong, seolah-olah semua orang yang menjadi saksi penangkapan itu ikut diangkut dan diamankan.
Tidak! Dia tak mau menunggu lebih lama lagi.
Luka di sakit hatinya masih menganga lebar, saling berlomba memberikan rasa nyeri dengan tubuhnya yang sakit parah karena penyakit kulit menjijikkan yang dideritanya.
Maya tahu bahwa dia harus membalas kepada Akram dengan cepat dan menghasilkan kerusakan maksimal, barulah kemudian dia bisa merasa lebih baik.
Otak Maya yang jahat dan mulai putus asa kembali berpikir keras, mencari-cari bagaimana cara menyakiti Akram Night dengan kejam dan memuaskan, lalu akhirnya dia menyadari sesuatu yang penting yang telah dia lewatkan dengan bodohnya karena teralihkan oleh rasa sakit dan nyeri yang mendera tubuhnya.
Yang paling menyakitkan bagi Akram, tentulah jika dia berhasil menyakiti Elana… dan bayi sialan yang sedang dikandungnya. Perempuan sialan itu ternyata sangat licik, dia berhasil menjerat Akram karena dia hamil. Sudah tentu Akram akan menikahi Elana karena perempuan itu telah hamil duluan. Dasar perempuan licik yang pandai menjerat laki-laki. Seandainya saja Elana tak ada di dunia ini, sudah pasti Akram akan melabuhkan pilihan kepadanya yang berkali-kali lebih sempurna jika dibandingkan dengan Elana!
Mata Maya menyala seperti orang gila ketika pikiran yang sama gilanya memenuhi otaknya.
__ADS_1
Jika dia berhasil menyakiti Elana dan bayinya, tentu dia akan merasakan kepuasan yang luar biasa besar. Ya... Maya tidak sabar untuk merasakan kepuasan itu. Dia akan menghancurkan Elana sampai ke serpihan terakhir, baru setelah itu dendam kesumatnya terpuaskan.
***
***
Ekpresi Akram tampak menggelap ketika dia menerima telepon dari Elios di depan Elana.
Elios memang memiliki jaringan pengawasan yang cukup kuat dan sudah tentu lelaki itu telah memasang orang untuk mengawasi kediaman Edward. Karena itulah, begitu pihak berwajib datang bersama Credence dan meringkus Edward tanpa ampun, Elios langsung mendapatkan kabar seketika itu juga dan langsung menghubungi Akram untuk menginformasikan perkembangan terbaru.
Tetapi, secanggih apapun pengawasan yang mereka lakukan, ternyata dengan mudahnya mereka kecolongan informasi, dan itu dilakukan dari dalam perusahaannya sendiri.
Mata Akram menyala oleh kemarahan. Xavier dan Credence telah mengambil keputusan sendiri di luar persetujuannya. Dua orang itu telah mengambil tindakan tanpa membicarakannya terlebih dulu dengan Akram. Entah apa tujuannya, tetapi Akram curiga bahwa hal ini dimotori oleh Xavier.
Apa sebenarnya yang ada di dalam benak Xavier yang licik itu? Apakah lelaki itu ternyata berniat mengambil alih kekuasaannya dari dalam dan menggerogoti kejayaan perusahaannya dengan berpura-pura menjadi sosok baik yang membantunya?
Seharusnya sejak awal, dia tak memberikan kelonggaran kepada Xavier hingga berhasil masuk dan memegang posisi penting dalam perusahaannya. Meskipun Xavier telah berkorban besar untuk menyelamatkan Elana, seharusnya Akram menyingkirkan jauh-jauh Xavier dari urusan perusahaannya sehingga lelaki itu tak punya kesempatan untuk ikut campur dalam urusan intern di dalam perusahaannya, lalu dengan tinggi hati mengambil keputusan untuk melangkahi otoritasnya.
Ekspresi Akram yang menggelap dan dipenuhi kemarahan itu membuat Elana yang sedari tadi sedikit mencuri dengar percakapan Akram dan Elios mengerutkan kening dengan khawatir.
Ketika dilihatnya kemarahan menyelubungi diri Akram hampir tak terkendali, Elana langsung menggerakkan tangan, berusaha menenangkan dan melembutkan hati lelaki itu.
“Akram?” Elana tetap bertanya meskipun dari apa yang didengarnya, dia bisa menduga seperti apa situasinya. “Apa yang terjadi?”
Akram tertegun, seolah-olah dibangunkan dari pikirannya yang bergejolak. Mata Akram lalu beralih ke arah Elan dan terpaku di sana ketika lelaki itu akhirnya berucap pada Elios di seberang sana.
“Aku akan menghubungi Xavier. Kau pergilah menemui Credence,” perintahnya tegas yang langsung dimengerti oleh Elios.Akram lalu mematikan sambungan ponselnya dan menatap Elana dengan bibir menipis.“Xavier dan Credence sepertinya telah melangkahi otoritasku dan mengambil keputusan sendiri. Mereka meringkus Edward malam ini secara tiba-tiba tanpa membicarakan apapun sebelumnya denganku dan tanpa persetujuanku.”
Kerutan di kening Elana semakin dalam ketika dia berpikir keras untuk mencari alasan baik dibalik seluruh keputusan yang diambil oleh Xavier. Dia tahu bahwa Xavier bermaksud baik, dan dia merasa sedih karena dirinya tak memiliki kekuatan untuk meyakinkan Akram bahwa apapun yang dilakukan oleh Xavier, adalah untuk membantu Akram.
Dendam masa lalu dan semua hal buruk yang terjadi pada Akram akibat ulah Xavier, tentulah telah membuat Akram terbiasa berprasangka buruk kepada Xavier. Hubungan dua kakak beradik itu memang telah berkembang menjadi jauh lebih baik, mengingat mereka sekarang bisa bekerjasama, bercakap-cakap dengan normal untuk menyelesaikan masalah bersama. Berbeda dengan dulu ketika Akram dan Xavier tak mungkin bisa berada lebih dari sepuluh menit di dalam ruangan yang sama tanpa saling menyakiti. Tetapi, Akram telah terbiasa mengambil prasangka yang paling buruk terhadap Xavier, dan kekeras kepalaan lelaki itu membuat Elana kesulitan meyakinkan Akram supaya mau berpikir yang sebaliknya.
Perlahan Elana berdehem, menatap Akram dengan berhati-hati.
“Mungkin… mungkin Xavier memiliki alasan tersendiri. Dia menangkap pelaku penggelapan di perusahaanmu, bukankah itu jelas menunjukkan bahwa dia berniat membantumu? Dan kenapa dia melakukan penangkapan itu tanpa persetujuanmu, bisa saja… dia tak mau mengganggumu yang sedang mengambil cuti untuk bersamaku, bukan?” tanya Elana pelan, berusaha menanamkan pemikiran positif di benak Akram.
Sayangnya, sepertinya Elana tak berhasil kali ini. Jika menyangkut Xavier, Elana tahu bahwa dia memang akan selalu kesulitan untuk melembutkan hati Akram.
Tangan Akram bergerak perlahan, menyentuh dagu Elana dan mendongakkannya, sementara lelaki itu mendekatkan wajahnya layaknya seorang predator yang memutuskan untuk menelan bulat-bulat mangsanya, membuat jantung Elana langsung berdebar karena rasa ngeri yang terselip di dalam benaknya.
“Kenapa, Elana?” Akram berucap dengan nada lambat-lambat penuh ancaman. “Kenapa aku selalu merasa, bahwa apapun yang dilakukan oleh Xavier, kau selalu berusaha untuk membelanya? Kedekatan macam apa yang kalian bagi bersama yang kalian mainkan di belakang punggungku?”
Pertanyaan Akram itu menggaung di udara, dan Elana menyadari konsekuensi mengerikan kalau sampai dia salah menjawab dan salah bereaksi. Akram adalah lelaki posesif dan pencemburu, itu Elana sudah tahu sejak dulu, tetapi satu yang pasti, ketika berhadapan dengan Xavier, lelaki itu memiliki rasa cemburu yang berpuluh-puluh kali lipat dibandingkan biasanya.
Mulut Elana membuka untuk menjawab, tetapi pada saat yang sama, ponsel Akram kembali berdering, membuat Akram mengalihkan perhatiannya dari sikap mengintimidasi terhadap Elana, dan kembali memandang layar ponselnya.
Kali ini tidak lebih baik, ekspresi Akram bahkan lebih geram dari sebelumnya. Lelaki itu menggertakkan gigi hingga gerahamnya tampak kaku, lalu melirik sekilas ke arah Elana dengan tatapan gusar.
“Ini Xavier. Dia menelepon,” Akram beranjak dari posisi duduknya di tepi ranjang Elana. “Aku akan menerima telepon di luar,” putusnya kemudian sambil melangkah pergi menuju pintu ruang perawatan Elana, lalu membukanya dan keluar dari sana, menutup pintu di belakangnya dan meninggalkan Elana sendirian tanpa merasa perlu untuk menunggu jawaban serta reaksi Elana.
***
***
“Kau pasti sudah berpikiran buruk saat ini,” suara Xavier tampak tenang ketika lelaki itu mengawali pembicaraan dengan Akram yang gusar.
“Jelaskan padaku supaya aku tak berpikiran buruk kepadamu,”Akram menyahut dengan kasar kemudian. “Kau mengambil keputusan di luar persetujuanku dan juga melangkahi otoritasku. Bagaimana mungkin aku tak memiliki pikiran buruk kepadamu setelah kau melakukan itu?” hardik Akram kemudian.
Xavier tampak menghela napas panjang.
“Aku mengerti Akram. Bagaimanapun, kau memang selalu berpikiran buruk kepadaku. Bahkan saat aku hanya duduk diam dan bernapas pun, kau tetap akan menanamkan pemikiran negatif itu dalam kepalamu.”
“Jangan bersikap seolah kau korbannya di dalam hal ini. Kau itu penjahatnya dan akan tetap begitu!” Akram menyela dengan nada tak sabar ketika mendengarkan perkataan Xavier. “Jelaskan segera kepadaku kenapa kau mengambil keputusan untuk menangkap Edward secara terburu-buru.”
“Edward memutuskan untuk melarikan diri ke luar negeri esok pagi. Aku harus mengambil keputusan cepat untuk meringkusnya sebelum dia berhasil lari,” jawab Xavier seketika.
Akram mengerutkan kening. “Melarikan diri ke luar negeri? Bukankah selama ini penyelidikan Credence begitu berhati-hati sehingga Edward sama sekali tak sadar kalau Credence sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menjeratnya? Darimana Edward tahu? Atau jangan-jangan, penyelidikan Credence tak sehati-hati yang kukira?”
__ADS_1
“Penyelidikan Credence dilakukan tanpa cela,” Xavier berucap langsung untuk membela kredibilitas Credence. “Maya adalah pelakunya.”
“Maya?” Akram menyipitkan mata. “Maksudmu, dia membocorkan penyelidikan Credence kepada Edward?”
“Ya. Dan dia juga menawarkan untuk menghapuskan bukti-bukti yang memberatkan Edward, dia juga yang mengusulkan kepada Edward untuk melarikan diri ke luar negeri sementara dia membereskan permasalahan Edward di sini,” jawab Xavier cepat.
“Apa keuntungannya bagi Maya? Kenapa dia mau repot-repot membela Edward? Jika dia memang ingin membalas dendam, seharusnya dia memikirkan cara yang lebih baik daripada merepotkan diri dengan urusan lelaki tua koruptor itu…”
“Akram, Maya tak sesederhana itu. Dia menawarkan bantuan Edward sebagai ganti untuk memuluskan jalannya ke tujuan membalas dendam yang lebih rumit,” sela Xavier cepat.
Akram mengerutkan kening. “Yang lebih rumit? Maksudmu… Dimitri?” tebaknya tepat.
“Kau benar,” Xavier menyeringai di seberang sana, suaranya terdengar senang karena Akram langsung bisa menebaknya. “Maya meminta pertemuan dengan Dimitri, dan lelaki Rusia bodoh itu sedang dalam perjalanan ke negara ini untuk menemui Maya. Kita tak perlu mengejar tikus perusak itu jauh-jauh, dia yang akan datang kemari dan menyerahkan diri ke tangan kita,” ucap Xavier dengan nada puas.
Keheningan langsung tercipta ketika Akram tampak berpikir keras dan belum menanggapi perkataan Xavier.
Ketika kemudian Akram berbicara, suaranya terdengar dingin dan memerintah.
“Kurasa lebih baik kita membicarakan segala sesuatunya secara detail dan bertatapan langsung. Aku akan menunggumu di lounge privat di area lobby rumah sakit, sekarang,” perintahnya kemudian dengan nada tegas.
***
***
“Aku akan pergi sebentar,” ketika kembali ke dalam kamar untuk menemui Elana, ekspresi Akram sudah tak sekeras tadi, dan itu tak lolos dari pengamatan Elana.
Sepertinya, Akram dan Xavier telah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman yang membuat suasana memanas sebelumnya.
Elana mendongakkan kepala dan menatap Akram dengan tatapan berhati-hati.
“Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyanya.
Seulas senyum muncul di bibir Akram.
“Semuanya baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah yang harus diselesaikan,” tatapan Akram berubah menilai ketika lelaki itu menyambung kalimatnya kemudian. “Aku akan menemui Xavier di bawah,” sambungnya cepat.
Elana sama sekali tak merubah ekspresinya, dia hanya memiringkan kepala, menatap Akram dengan tatapan ingin tahu dan berusaha tidak menimbulkan salah persepsi yang bisa membuat rasa cemburu Akram terpercik dan tersulut.
“Apakah… kau akan melanjutkan berseteru dengan Xavier?” tanyanya kembali.
Sayangnya, Elana sepertinya tak berhasil untuk bersikap biasa-biasa saja di depan Akram menyangkut Xavier. Tatapan lelaki itu menajam kembali, meskipun ekspresinya tak sekeras dan tak semengerikan sebelumnya.
“Kau selalu memiliki perhatian lebih terhadap Xavier,” simpulnya mengawasi. “Kita akan membicarakannya nanti. Untuk sekarang, ada hal-hal yang harus kuselesaikan lebih dulu.”
Akram membungkuk untuk mengecup dahi Elana, lalu seolah itu terasa tak cukup, lelaki itu membaw Elana ke dalam pelukannya dan melumat bibirnya keras-keras, seolah-olah ingin meninggalkan jejak dirinya di tubuh Elana dan menanamkan dirinya kuat-kuat di dalam pikiran Elana sehingga perempuan itu tak memiliki kesempatan untuk memikirkan lelaki lain selain dirinya.
Setelah memberikan ciuman yang cukup lama dan mendalam, Akram melepaskan pertautan bibirnya dengan Elana, wajahnya masih begitu dekat dengan wajah Elana ketika dirinya berucap.
“Aku pergi dulu. Tidurlah, ini sudah hampir tengah malam. Jangan kemana-mana,” perintahnya dengan nada arogan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya.
Sementara itu, Elana yang ditinggalkan sendirian, hanya bisa menyentuhkan tangannya untuk mengusap bibirnya yang basah dan lembab habis diciumi oleh Akram.
Ekspresinya sedikit geli ketika pikiran yang lucu menggelitik benaknya.
Akram menyuruhnya supaya tak pergi kemana-mana. Memangnya saat ini, dalam kondisi lemah di atas ranjang rumah sakit, Elana bisa pergi kemana?
***
***
__ADS_1