Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 2: Trauma


__ADS_3

SEASON 2 – ESSENCE OF THE LIGHT



"Kenapa kau tak mau menebus anak kita? Sebegitu bekukah hatimu sehingga kau memilih membuangnya?"


Suara Marlene Night gemetar penuh air mata ketika dirinya berbicara. Perempuan itu tampak kacau balau, matanya bengkak dan sembab tak karuan, sementara wajahnya pucat pasi dirundung duka.


Sejak anak angkatnya, Xavier diculik, Marlene-lah yang paling menderita dan dipenuhi oleh rasa bersalah yang mendera jiwanya. Dia menghabiskan waktunya dengan menangis dipenuhi kecemasan, memikirkan nasib Xavier kecilnya yang jatuh ke dalam tangan penculik karena keteledoran mereka.


Rasa bersalah itu semakin kental setelah mereka menerima panggilan permintaan tebusan dari para penculik yang meminta dalam jumlah tak masuk akal, karena para penculik itu mengira bahwa Xavier adalah Akram, putra kandung mereka sekaligus putra mahkota keluarga Night yang sesungguhnya.


Marlene memang mensyukuri bahwa bukan Akram yang diculik oleh gerombolan penjahat itu, tetapi tetap saja, tidak seharusnya Xavier menjadi berada pada situasinya sekarang. Seolah-olah Xavier telah menjadi tumbal untuk menggantikan Akram.


Memikirkan itu semua membuat rasa bersalah nan pekat semakin mendera diri Marlene. Apalagi sekarang, ketika Baron, suaminya memutuskan bahwa mereka tidak sanggup memenuhi permintaan para penjahat itu atas jumlah uang tebusan yang tak masuk akal, lalu lepas tangan dalam usaha menyelamatkan Xavier melalui jalur negosiasi dan memilih menyerahkan semuanya kepada pihak kepolisian.


Baron menolak membayar uang tebusan itu karena angkanya begitu besar sehingga jika Baron memaksakan untuk menjual semua aset dan harta perusahaannya pun, bisa mengakibatkan perusahaan yang mereka miliki kolaps dan hancur berantakan.


Para penculik itu sepertinya terlalu memandang tinggi kekayaan Baron Night, mereka meminta uang tebusan dengan menggunakan dasar laporan kekayaan Baron Night di media sebagai salah satu orang terkaya di negara itu, tanpa memperhitungkan, bahwa laporan kekayaan itu bukan hanya berisi harta bergerak saja, tetapi juga berisi harta tak bergerak seperti aset tetap dalam bentuk bangunan, tanah, kendaraan dan aset liquid dalam bentuk saham.


Sebagian besar harta itu tidak bisa dicairkan dengan mudah dan membutuhkan waktu lama serta proses yang penuh kehati-hatian. Ketika bisa dicairkan pun, kemungkinan besar akan menciptakan kerugian besar yang bisa meruntuhkan perusahaan.


Baron Night adalah seorang pemimpin yang baik. Dia sangat mencemaskan Xavier, tetapi di sisi lain, dia juga memikirkan nasib puluhan ribu karyawannya yang mungkin akan kehilangan pekerjaan dan tumpuan hidup mereka jika perusahaan Night corporation tempat mereka bernaung tiba-tiba saja hancur, karena pemilik mereka menggadaikannya untuk membayar uang tebusan.


Menawarkan perusahaan kepada pemilik baru merupakan satu-satunya jalan, tetapi, dengan permintaan angka tebusan yang sebegitu fantastis dan kondisi yang mendesak seperti ini, siapa yang memiliki harta dan mau mengeluarkan uang sebegitu besar untuk membeli perusahaan raksasa ini?


Baron Night akhirnya mengambil keputusan menyakitkan yang paling bijaksana yang bisa diambilnya. Dia memilih mengorbankan satu nyawa, untuk menyelamatkan puluhan ribu nyawa yang bergantung kepadanya.


“Aku tidak membuang anak kita,” Baron Night meremas pangkal hidungnya dengan hati pedih. Lelaki setengah baya itu membalikkan tubuh dan mendekati istrinya. Tangannya bergerak mencoba menyentuh bahu Marlene, tetapi istrinya itu langsung menepis sentuhannya, memilih menutup wajahnya yang penuh air mata.


Baron tidak memaksa. Lelaki itu menghela napas panjang dan memalingkan wajah.


“Aku tahu kau sangat marah kepadaku, Marlene. Tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Seluruh karyawan kita… mereka ada puluhan ribu jumlahnya, dan mereka semua memiliki anak istri yang harus dihidupi. Aku tidak akan bisa menanggung rasa bersalah jika aku menghancurkan kehidupan mereka…”


“Lalu? Apakah kau pikir kau akan bisa menanggung rasa bersalah jika terjadi sesuatu pada Xavier?” Marlene mengusap air matanya dengan kasar, mendongakkan kepala dan menatap menantang ke arah suaminya. “Dia anak angkat kita, yang kita ambil dari panti asuhan dengan tekad untuk bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kehidupannya. Xavier diculik karena para penjahat itu mengira dialah pewaris utama kita! Secara tidak langsung Xavier telah menyelamatkan Akram! Dengan pengetahuan seperti itu, masih bisakah kau menjalani hidupmu dengan tenang nanti, jika terjadi apa-apa pada Xavier? Ataukah karena kau tahu bahwa Xavier hanyalah seorang anak angkat, maka dengan mudahnya kau melepaskan tanggun jawabmu untuk menyelamatkannya? Dimanakah hati nuranimu? Jika semua ini terjadi pada Akram? Akankah kau melakukan hal yang sama?”


Marlene meneriakkan protesnya dengan penuh emosi, membuat dadanya turun naik akibat kemarahan yang bercampur dengan tangis.


“Kita masih punya harapan, Marlene. Polisi sedang bergerak, mereka akan segera menemukan Xavier…”


“Tapi ini sudah beberapa hari sejak kau menolak memberikan uang tebusan kepada para penculik itu! Dan tidak ada kabar apapun mengenai Xavier! Para penculik itu pasti sangat marah karena kegagalan mereka mendapatkan uang, mereka pasti melampiaskan kemarahan mereka kepada Xavier! Bagaimana…. Bagaimana jika mereka membunuhnya…?” suara Marlene gemetar tak terkendali didera ketakutan yang amat sangat. Kembali sedu sedan terdengar dari bibirnya, diiringi banjir air mata yang menyayat hati, membuat Baron harus menelan ludah berkali-kali untuk menahan rasa frustasi.


“Marlene…” Baron kembali membuka mulut dan berusaha membujuk istrinya. Tetapi, sebelum kalimat selanjutnya berhasil meluncur dari tenggorokannya, telepon yang ada di ruangan itu tiba-tiba berdering keras, memecahkan keheningan berhias isak tangis dan mengalihkan perhatiannya.


Seolah mendapatkan firasat, Baron bergegas mengangkat telepon itu, mendengarkan dengan saksama suara pemberitahuan dari seberang sana. Setelahnya, tangan Baron gemetaran ketika hendak meletakkan gagang telepon itu ke tempatnya.


Lelaki itu kemudian menghambur ke arah Marlene yang masih duduk tersedu, lalu berlutut di depan Marlene, meraih kedua jemari Marlene di pangkuannya dan meremasnya lembut dengan mata berbinar penuh harapan.


“Mereka menemukan Xavier, Marlene! Anak kita masih hidup!”



Sayangnya, begitu mereka sampai di rumah sakit, hantaman mengerikan malahan membuat jiwa keduanya semakin didera rasa bersalah yang tak terkira.


Xavier ditemukan oleh polisi di kawasan terpencil di tepi hutan daerah pedesaan, tubuhnya dibuang begitu saja dalam kondisi hidup dan mati, dan entah berapa lama anak itu bertahan teronggok tak berdaya di luar sana, terkapar di tanah diterjang hawa dingin dan terik matahari silih berganti.


Seorang pencari kayu bakar yang masuk ke dalam hutan tak sengaja menemukannya ketika telinganya mendengar suara rintihan anak kecil dari antara semak-semak hutan yang tumbuh subur di sana.Ketika ditemukan, kondisi Xavier sangatlah mengenaskan. Tubuhnya penuh dengan luka mengerikan hingga bisa dibilang, tak ada satu bagian pun dari kulitnya yang selamat, memar, luka bakar dan bengkak-bengkak di wajahnya, membuat pencari kayu bakar itu tadinya mengira bahwa dia menemukan mayat anak kecil.


Tetapi ternyata salah, meskipun berada dalam kondisi yang hampir tidak bisa dipercaya bisa hidup, Xavier ternyata masih mampu bertahan dan menjaga supaya napasnya masih tersimpan di tubuhnya.

__ADS_1


Dokter bilang, itu semua karena tekad Xavier untuk hidup yang sangat kuat, dan Marlene sangat mensyukuri hal itu.


Saat ini, Marlene yang masih belum diperbolehkan masuk ke ruang perawatan intensif Xavier, hanya bisa berdiri di depan jendela kaca besar dan mengawasi Xavier yang masih terbaring lemah di ranjang perawatan di sana. Baron sendiri sedang bercakap-cakap dengan dokter yang menangani Xavier untuk mencaritahu bagaimana perkembangan kondisi Xavier hingga saat ini.


Suara percakapan mereka hanya terdengar bagaikan dengungan samar di telinga Marlene. Marlene memang ingin memusatkan dirinya kepada Xavier saat ini, dia ingin menebus rasa bersalahnya dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anak angkatnya yang malang itu.


Mata Marlene sudah penuh air mata ketika kedua tangannya menempel di kaca jendela itu. Matanya terpaku menatap Xavier dan kesedihan langsung memenuhi jiwanya.


Tubuh mungil Xavier terbaring di atas ranjang perawatan dalam kondisi tak sadarkan diri dan mengenaskan. Alat penunjang kehidupan terhubung ke tubuhnya, membuat kondisi Xavier tampak mengerikan dengan kabel-kabel dan selang yang menempel di sana ditambah lagi perban yang membalut hampir sekujur tubuhnya.


Luka penyiksaan di tubuh Xavier tidak seharusnya bisa diterima dengan nalar akan sanggup ditanggung oleh anak berumur sembilan tahun seperti Xavier. Dokter bahkan sengaja membuat Xavier jatuh ke dalam kondisi koma, supaya anak itu tidak terdera sakit sekaligus bisa mempercepat proses penyembuhanya.


Marlene menggigit bibir untuk menahan dadanya yang terasa sesak dan sakit, semua itu menghantarkan isakan tak tertahankan yang lolos dari bibirnya dan membuat air matanya membanjir penuh kesedihan.


Apa yang terjadi kepadamu ketika kau diculik, sayang? Penderitaan seperti apa yang kau tanggung? Kau pasti sangat ketakutan saat itu. Maafkan ibu… maafkan ibu, ya sayang?


Pertanyaan-demi pertanyaan menyakitkan itu terus bermunculan di benak Marlene, menyiksanya dengan kepedihan tak terperi.


“Marlene….”


Suara Baron tiba-tiba terdengar di belakangnya, membuat Marlene yang sedang berkubang dalam kesedihan jadi terperanjat.


Perlahan dia menolehkan kepala dan matanya langsung bertemu dengan Baron yang kali ini tampak pucat pasi, begitupun dengan sang dokter yang tampak begitu muram.


Firasat buruk langsung menggayuti benak Marlene.


Baron tidak akan sepucat itu dan dokter tidak akan semuram itu jika tidak ada apapun yang terjadi pada Xavier.


"Ada apa? Apakah Xavier tidak bisa diselamatkan lagi?"


Kepanikan langsung melanda diri Marlene, membuat jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Lalu, tiba-tiba saja, Baron bergerak mendekat ke arahnya dan menyentuhkan kedua tangannya ke bahu Marlene sebelum kemudian meremasnya lembut seolah ingin menyalurkan kekuatan.


“Xavier akan selamat, sayang. Tetapi, dokter bilang, kau harus tahu. Karena ini berhubungan dengan terapi penyembuhan mental Xavier setelah dia terbangun nanti…..” Baron menelan ludah dan mengentikan kalimatnya, seolah-olah tenggorokannya tersekat dan tak mampu mengeluarkan suara.


“Ada apa? kenapa kau berhenti? Katakan kepadaku apa yang terjadi dengan Xavierku?”


Rona pucat di wajah Baron semakin menyebar dan lelaki itu lalu menoleh ke arah sang dokter, seolah berharap mencari pertolongan.


Dokter itu berdehem, lalu mengambil alih tanggung jawab untuk menyatakan yang terburuk bagi Marlene.


“Kondisi fisik Xavier, meskipun luka parah, kami yakin bisa disembuhkan dengan perawatan intensif. Tetapi, untuk saat ini kami juga akan mempersiapkan segala terapi yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mentalnya…”


“Kesehatan mental? Apa yang terjadi dengan anakku? Aku tahu bahwa peristiwa penculikan ini akan membuat Xavier trauma. Tetapi, kalian tentu tahu bahwa Xavier memiliki kejeniusan dan kedewasaan tiga kali lipat dari umurnya sebenarnya, bukan? Xavier akan mampu mengatasi trauma itu dengan baik seperti orang dewasa, aku percaya kepadanya…” untuk mengatasi ketakutannya, Marlene mulai berbicara kembali seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Perkataannya membuat Baron dan sang dokter saling bertukar pandang sebelum kemudian dokter itu menggelengkan kepalanya dengan muram.


“Masalahnya tidak sesederhana itu…” seperti yang terjadi pada Baron tadi, suara sang dokter juga tersekat di tenggorokan. Tetapi, dokter itu berhasil mengatasinya dan langsung melemparkan kenyataan mengerikan yang diketahuinya kepada Marlene. “Xavier bukan hanya menerima siksaan fisik dan mental… hasil dari pemeriksaan kami menemukan bahwa… Xavier telah dilecehkan dengan brutal dan mengerikan, dilakukan dengan kejam oleh orang gila yang tak berbelas kasihan kepada anak kecil. Hal itulah yang membuat kami berkonsentrasi pada kemungkinan trauma berat yang….”


Suara dokter itu berubah samar dan semakin lama semakin pudar dari indra pendengaran Marlene. Pun dengan indra lainnya, hanya menyisakan suara berdenging tak terkendali sebelum kemudian kegelapan menguasai dirinya.


Keterkejutan, rasa ngeri dan penyesalan menghantam Marlen begitu keras hingga membuatnya kehilangan kesadaran.


Marlene masih bisa mendengar suara suaminya yang berteriak memanggil namanya dengan panik sebelum kemudian kegelapan memeluknya dan dia tak ingat apa-apa lagi.



Entah sudah berapa hari dilalui Marlene dalam penantian, dia sudah tak pernah menghitungnya lagi.


Sekarang, duduk di samping ranjang perawatan rumah sakit, Marlene melakukan apa yang biasa dilakukannya setiap hari sejak Xavier ditemukan.

__ADS_1


Dia sendirilah yang turun tangan untuk merawat, menggantikan pakaian Xavier, mengompresnya ketika anak itu terserang demam, dan bahkan sering tertidur di samping ranjang rumah sakit, dekat dengan anaknya.


Rasa bersalah yang begitu kental membuat Marlene memutuskan untuk menebus dosanya itu dengan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Xavier, bahkan tak peduli kalau dia sampai melupakan anak kandungnya sendiri.


Karena Marlene menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah sakit, Akram benar-benar terlantar dan tak pernah tersentuh oleh Marlene. Akram diserahkan kepada para pengasuhnya dan mau tak mau kehilangan kasih sayang seorang ibu yang seharusnya masih mencurahkan perhatian kepadanya yang baru berusia lima tahun.


Baron sendiri tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan yang diambil oleh Marlene. Apa yang terjadi pada Xavier saat ini, adalah hasil dari keputusan tak punya hatinya yang memilih untuk mengorbankan Xavier. Sekarang, ketika Marlene memilih mencurahkan perhatiannya kepada Xavier untuk menebus kesalahannya, Baron hanya bisa mengawasi dari kejauhan, sambil memeluk anak lelakinya yang diabaikan.


“Apakah kau ingin aku membacakan buku untukmu? Dokter bilang, mendengarkan suara orang yang dekat denganmu dalam ritme yang teratur, akan membantu menjaga gelombang otakmu tetap stabil,” Marlene tersenyum sambil membuka salah satu buku yang tertumpuk di nakas samping ranjang.


Marlene tahu bahwa Xavier sangat suka membaca buku. Buku-buku yang diangkut Marlene ke rumah sakit ini sebagian juga merupakan koleksi bacaan milik Xavier yang disusun denga rapi di rak buku dalam kamarnya.


Karena mengetahui hobi Xavier inilah, ketika dokter menyarankannya untuk berbicara, mendongeng, bersenandung atau membaca buku untuk menjaga ritme kontak dan kestabilan pasien, Marlene memilih membacakan buku untuk Xavier.


Suara Marlene terdengar lembut ketika dia mulai membaca baris demi baris buku itu untuk Xavier. Suatu ketika, di tengah dia membaca, matanya terangkat dari buku dan mengawasi wajah Xavier, lalu senyum manis muncul di bibirnya.


“Jika kau sadar, kau pasti akan menertawakanku karena membacakan buku yang sudah pernah kau baca untukmu,” bisik Marlene dengan suara lembut. “Aku tahu bahwa kau bisa langsung menghapal seluruh isi buku di luar kepala hanya dengan sekali membaca, karena itulah, kau tak pernah menyentuh buku yang sama,” Marlene menutup buku di pangkuannya dan meletakkan kembali buku tersebut ke nakas samping ranjang.


Perempuan itu lalu mencondongkan tubuhnya ke dekat kepala Xavier, tangannya terulur untuk mengusap rambut di dahi anaknya, membelainya dengan penuh kasih.“Jika kau bangun nanti, maukah kau memaafkan ibumu ini?”


Marlene berbisik dengan suara parau menahan tangis, dan seperti waktu-waktu sebelumnya, air matanya jatuh tak terbendung lagi ketika mengawasi penderitaan yang harus ditanggung Xavier saat ini.


Tetapi, kali ini respon Xavier berbeda. Entah karena dia mendengar suara isakan tangis Marlene yang tembus ke balik kesadarannya, entah karena memang sudah waktunya bagi dirinya untuk bangun, tangan Xavier mulai bergerak perlahan, menunjukkan bahwa kesadaran sudah mulai merambati tubuhnya.


Lalu, tanpa diduga, ketika Marlene hendak mengecup dahi anak lelakinya dan mengucapkan selamat tidur, bulu mata Xavier yang tebal dan panjang tiba-tiba mengerjap, membuat kelopak matanya bergerak-gerak, sebelum kemudian terangkat dan membuka.


Mata indah itu langsung bertemu dengan mata Marlene yang terperangah.


Xavier mengerang, berusaha mengeluarkan suara. Tetapi, tenggorokanya begitu kering dan terasa sangat sakit. Bahkan, mengeluarkan suara untuk berbicara saja terasa begitu berat untuknya, membuatnya merasaka kesakitan tak terperi di sekujur tubuhnya dan mengharuskannya untuk mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa.


“I… i… bu?”


Mata Xavier yang terbuka langsung mengenali Marlene dengan baik. Seketika, rona kebahagiaan langsung memenuhi jiwa Marlene, perempuan itu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Xavier, untuk memastikan anak lelakinya itu mendengar suaranya.


“Ya. Ini ibu. Ini ibu, sayang. Sekarang kau sudah baik-baik saja. Ada ibu bersamamu. Kami semua ada untukmu…”


Marlene berbicara dalam satu napas hingga dia terengah karenanya. Lalu, seolah teringat, perempuan itu kemudian menegakkan tubuh dan menatap Xavier dengan panik.


“Ibu akan memanggil dokter kemari. Mereka masih belum tahu kalau kau belum bangun. Tunggu sebentar ya? Jangan tidur lagi!”


Kepanikan begitu mendera diri Marlene, sehingga bukannya menekan tombol yang tersedia untuk memanggil petugas medis supaya datang, perempuan itu malahan lari terbirit-birit keluar ruangan untuk memanggil dokter.



N.O.T.E.D


Eps 1 - 4 akan author gunakan untuk mengulas masa lalu Xavier dulu. Yang menunggu romance Xavier, sabar yakk nanti pasti muncul.



Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.

__ADS_1


Regards, AY



__ADS_2