Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 3 : Obsesi Akram


__ADS_3


"Romantic love is an obsession. It possesses you. You lose your sense of self. You can't stop thinking about another human being"


Suara dentam musik yang memekakkan telinga itu mereda, seiring dengan pintu kelab yang telah ditutup. Para tamu sudah meninggalkan lokasi, sebagian besar dalam keadaan mabuk, sebagian yang lain tersenyum lebar, meninggalkan beban mereka di belakang punggungnya. Elana yang sedang dalam perjalanan menyeberang untuk kembali menuju toilet perempuan menoleh ke arah area kelab yang sangat luas. Matanya mencari-cari keberadaan Sachi, tetapi tidak menemukannya.


DJ yang memainkan musik nan memekakkan telinga itu sudah meninggalkan posnya, begitupun dengan bartender yang sedari tadi bertugas di belakang bar panjang berwarna hitam gelap di ujung ruangan. Para pelayan yang tampak mendominasi area tempat duduk tamu, sibuk membersihkan berbagai kekacauan yang ditinggalkan di sana. Sampah-sampah sudah dikumpulkan dan seluruh area dibereskan supaya rapih. Nanti ketika jam empat dini hari menjelang, mereka semua akan meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan kelab itu sampai nanti dibuka kembali pukul sebelas malam hari.


Setelah insiden berdarah di toilet laki-laki tadi, Elana menjalani pekerjaannya dengan tenang sampai jam kerjanya habis. Dia tak lelah membersihkan apa yang menjadi tugasnya, bergerak bolak-balik dari toilet perempuan ke toilet laki-laki untuk bekerja, mengabaikan gangguan dari para lelaki mabuk yang hanya untuk berjalan saja sudah sempoyongan tak terkendali, dan terus fokus menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Pekerjaan pembersih toilet ini meskipun sepertinya remeh, tapi pada prakteknya cukup berat. Itu semua dikarenakan para tamu yang hilir mudik terus menerus mengotori toilet bahkan di detik pertama setelah Elena membersihkannya.


Ketika akhirnya jam tiga pagi terlewati dan sekarang kelab ini bersiap-siap untuk tutup, Elana bersigap untuk melakukan pembersihan akhir. Kedua toilet yang menjadi tanggung jawabnya akan dibersihkannya sampai berkilau, hingga ketika kelab malam ini dibuka malam hari nanti, keduanya sudah langsung siap untuk digunakan.


Pukul empat dini hari, ketika semua karyawan sudah bersiap pulang, Elana telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera menuju ke ruang ganti dan loker, mengganti pakaiannya dan menyimpan seragamnya ke dalam tas. Baju seragamnya ini cukup kotor setelah dipakai bekerja, Elana berpikir untuk membawanya pulang dan mencucinya segera setelah sampai di rumah kontrakannya. Jika dicuci sepagi mungkin, maka di malam hari baju kerjanya itu akan kering dan siap dibersihkan.


"Kerja bagus," Karel, penanggung jawab bagian cleaning service yang bertugas menilai pekerjaannya tiba-tiba muncul menyapa ketika Elana berjalan keluar melewati halaman parkir kelab yang telah tutup.


Elana mendongakkan kepala, dan langsung memasang senyum, menerima pujian itu dengan senang hati. "Terima kasih, Pak," ujarnya rian. Meskipun usia Karel sepertinya masih muda, mungkin masih dua puluh limaan, Elana sengaja memanggil Karel dengan sebutan 'pak' karena lelaki itu adalah atasannya.


Karel tersenyum masam, langkahnya tetap mengiringi di sebelah Elana.


"Tidak usah pakai 'pak', panggil nama saja," ucapnya memberi izin.


"Baik, pak... eh Karel," Elana menjawab dengan gugup, menundukkan kepala canggung.


Mata Karel lalu mengawasi sosok Elana dan menyadari bahwa kesan pertama memang bisa menipu. Sachi membawa Elana datang kepadanya untuk bekerja sebagai pembersih toilet, Karel langsung merasa skeptis gadis sekurus itu dan terlihat lemah mampu menjalankan pekerjaan yang cukup berat dan menguras fisik sebagai pembersih toilet kelab malam.


Tetapi, baru satu malam menjelang dan Karel harus menjilat ludahnya ketika melihat hasil pekerjaan Elana malam ini. Elana menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, dia terus menerus bekerja tanpa lelah, tidak sibuk bermain mata dengan para tamu seperti yang dilakukan pekerjanya yang lain, dan setelah bertahun-tahun bekerja sebagai supervisor yang membawahi para cleaning service di kelab ini, baru kali inilah Karel menemukan pekerja yang benar-benar bersemangat dengan hasil yang memuaskan.


Ini mungkin baru satu malam sehingga terlalu dini bagi Karel untuk mengambil keputusan penilaian atas hasil kerja Elana. Tetapi sekarang dia merasa optimis bahwa Elana akan benar-benar diterima di pekerjaan itu setelah melewati tiga hari tahap training.


Karena Elana diam saja ketika melangkah bersamanya menyeberangi halaman parkir kelab yang sangat luas itu, Karel akhirnya membuka kembali percakapan.


"Kau pulang naik apa?"


Elana mendongakkan kepala lagi, mata besarnya tampak jernih dan kebingungan.


"Saya... saya tadi berangkat kemari bersama Sachi, tapi ketika pulang Sachi sudah tidak ada...mungkin ... mungkin saya akan berjalan ke halte dan menunggu angkutan umum pertama yang lewat," jawabnya jujur.


Karel mengerutkan kening. "Sachi mungkin pulang bersama salah seorang pelanggannya," Karel berucap dengan nada penuh arti, membuat pipi Elana memerah ketika menyadari maksud Karel. "Ini masih jam empat pagi dan langit masih gelap. Angkutan umum pertama baru akan beroperasi jam lima pagi. Apa kau tidak takut menunggu sendirian di halte yang gelap itu?" sambungnya bertanya.


Halte yang dimaksud oleh Karel adalah halte di pinggir jalan yang terletak tak jauh dari pintu depan kelab. Di siang hari mungkin halte itu cukup ramai dengan hiruk pikuk pejalan kaki serta pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar, pun dengan banyaknya mobil yang lalu lalang di jalanan besar yang sangat sibuk ini. Tetapi, pagi ini kondisinya tentu sebaliknya. Suasana sangat sepi, hanya sedikit mobil yang lewat dan kegelapan masih melingkupi suasana.


"Tidak apa-apa, saya tidak takut," Elana menatap Karel dengan tatapan penuh tekad, yang entah kenapa mengetuk hati Karel dan membuatnya tersenyum.


"Bagaimana kalau kuantar kau pulang?" Karel menunjukkan kunci mobil di tangannya, sementara dagunya menunjuk ke arah depan, "Mobilku ada di depan sana," sambungnya.

__ADS_1


Mata Elana membelalak lebar, sejenak ada ketakutan yang terbersit di sana. Karel sepertinya orang baik dan lelaki itu adalah bosnya, tetapi tetap saja Elana baru mengenalnya beberapa jam. Membiarkan dirinya masuk ke dalam mobil dengan orang asing yang baru dikenalnya, sudah tentu bukan merupakan langkah yang bijaksana. Apalagi dengan mengantarnya, Karel akan mengetahui alamat rumahnya. Yah, meskipun alamat rumahnya tertera lengkap di data karyawan, entah kenapa Elana merasa tidak nyaman membiarkan seorang lelaki yang bukan apa-apanya mengantar dirinya pulang.


Sepertinya merupakan keputusan yang lebih baik jika Elana pulang sendiri dengan menggunakan kendaraan umum, karena itulah dia langsung setengah membungkuk sopan ke arah Karel, menjaga sekuat tenaga agar atasannya itu tidak tersinggung.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi saya... saya lebih baik pulang dengan kendaraan umum saja, Anda pasti kelelahan juga dan ingin segera beristirahat, saya tidak ingin Anda harus repot-repot mengantar saya dulu," setelah berucap terbata dengan postur tubuh membungkuk hormat, Elana cepat-cepat melarikan langkahnya pergi, meninggalkan Karel yang terpana tak sempat memberikan sanggahan.


 



 


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Elana sampai di kamar kontrakannya yang reyot. Matahari sudah bersinar begitu terang, memberi bantuan pada kaum manusia yang sibuk beraktivitas menjalani hari yang sibuk.


Elana membanting tubuhnya yang kelelahan ke atas tempat tidur, bahkan terlalu lelah untuk mengganti pakaiannya. Tas yang dibawanya tergeletak begitu saja di lantai, sementara mata Elana terpejam rapat.


Ini adalah pengalaman pertamanya begadang dan tidak tidur semalaman, dan tubuhnya masih beradaptasi dengan keadaan itu. Yang dirasakannya sekarang adalah sakit di sekujur tubuhnya, seolah seluruh syaraf di balik permukaan kulitnya berteriak meminta diistirahatkan.


Elana berusaha menenggelamkan dirinya dengan cepat supaya masuk ke alam mimpi. Waktunya tidur hanya sedikit dan dia harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Nanti jam dua belas dia harus bersiap untuk menjalani shift pekerjaan yang satunya sebagai penjaga supermarket.


Elana membuka sebelah matanya, mengintip ke arah tasnya yang tergeletak di lantai dan menghela napas panjang. Baju seragam pembersih toilet itu belum lagi dicucinya. Dia harus mencucinya sepagi mungkin untuk memastikan baju itu kering sebelum dipakai bekerja malam nanti.


Dengan lunglai Elana memaksa dirinya bangun dari tempat tidur. Sekali lagi dia menghela napas ketika menarik baju seragam itu dari tasnya dan melangkah ke kamar mandi. Dia akan mencuci dan menjemur seragam ini sampai bersih, baru kemudian membiarkan tubuhnya beristirahat sampai waktu kerjanya berikutnya.


 



 


"Jadi?" Akram mengangkat sebelah alis, seolah tak sabar.


"Ini data yang berhasil kita dapatkan sampai saat ini, Tuan Akram." Elios, tangan kanan kepercayaan sekaligus asistennya, menyerahkan berkas-berkas yang cukup tebal ke tangan Akram


Akram menerimanya, lalu membuka berkas-berkas itu dan memindainya dengan tajam, memastikan tidak ada informasi yang terlewat dari matanya.


"Jadi dia baru bekerja hari pertama di tempat itu," Akram menyimpulkan sambil terus merekam informasi tentang gadis yang ditemuinya kemarin dalam pikirannya. Elana. Elana Maresha yang Akram yakin nama belakangnya tidak merujuk pada nama keluarga melainkan nama pemberian dari pihak panti asuhan. Perempuan itu tinggal di panti asuhan sampai umur tujuh belas tahun. Tidak diketahui asal-usul orang tua kandungnya. Dan saat ini berusia sembilan belas tahun. Sepuluh tahun lebih muda dari dirinya.


Mata Akram menyipit ketika mengamati foto-foto yang didapatkan oleh anak buahnya ketika mengikuti Elana diam-diam sepanjang hari ini. Ada foto Elana baru keluar dari rumah reyot yang diindikasikan sebagai tempat tinggalnya saat ini, ada pula foto Elana yang bertugas menjaga bagian kasir di sebuah supermarket kecil pinggiran kota.


Di satu foto yang menampakkan wajah Elana secara jelas, entah kenapa jantung Akram langsung berdesir. Jemarinya yang panjang mengelus permukaan wajah Elana di atas foto, dan dalam sekejap, dia langsung merasakan gairahnya naik ke permukaan.


Obsesi anehnya yang muncul secara tiba-tiba pada gadis pembersih toilet yang baru ditemuinya itu terasa mengganggu. Apalagi Akram sama sekali tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Gadis itu jauh berbeda dari seleranya selama ini, wanita-wanita berpengalaman kelas atas yang cantik luar biasa dengan perawatan tubuh kelas satu yang selama ini ditidurinya hanya untuk bersenang-senang.


Akram masih terpaku memandangi wajah polos Elana di dalam foto. Gadis itu bahkan tidak perlu mengaplikasikan make up pada wajahnya, tetapi tampilannya yang segar sudah berhasil membuat Akram terpesona.

__ADS_1


Apakah mungkin kepolosan tak ternoda Elana yang menariknya bagaikan bunga segar menarik kumbang yang kelaparan ingin mereguk madu?


Mungkin memang seperti itu. Akram menyeringai. Yang pasti, dia harus segera menyingkirkan obsesi mengganggu ini dengan segera. Seharian ini pikirannya dipenuhi dengan keinginan menyentuh dan melumat Elana dan seluruh imajinasinya itu mulai merusak konsentrasinya. Dia harus segera mendapatkan gadis itu, memuaskan nafsunya lalu meninggalkan gadis miskin itu dengan kompensasi pengganti yang adil sebelum melenggang dengan puas dan tidak terganggu lagi dengan obsesi aneh yang berteriak minta dipuaskan.


Akram meletakkan berkas-berkas itu dan tersenyum tipis pada Elios yang masih menunggu instruksi.


"Malam nanti kita akan berkunjung kembali di kelab itu. Aku akan mengambil gadis itu malam ini." putusnya dengan nada ancaman yang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri.


 



 


"Sepertinya Karel puas dengan pekerjaanmu," Sachi menghampirinya ketika mereka berganti shift di sore hari, perempuan itu tampak segar seperti habis mandi ketika datang tadi, tetapi make up tebalnya tak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. "Dia menanyakan tentangmu tadi, sepertinya ingin memastikan bahwa kau benar-benar datang malam ini. Aku bilang pada Karel kalau kau pasti akan datang, karena kau adalah pekerja keras," Sachi berdiri di samping locker Elana, menoleh pada Elana di sebelahnya. "Kau tidak menyerah, bukan?"


Elana yang berdiri di depan lokernya setelah mengganti kemeja basahnya setelah mengepel area supermarket tersenyum lebar.


"Aku pasti akan datang," tawaran gaji yang menggiurkan adalah dorongan nomor satu bagi Elana, dia tidak akan menyerah semudah itu.


Sachi tertawa. "Aku tahu aku telah menawarkan orang yang tepat ketika membawamu ke pekerjaan itu." tangan Sachi menepuk pundak Elana, "Malam tadi memang sedikit ramai dan kacau, pengunjung sangat banyak di malam minggu, tapi aku bisa memastikan bahwa malam nanti akan sedikit sepi. Kelab paling lengang di minggu malam, kau bisa sedikit bersantai malam ini,"


"Kau tidak datang bekerja malam ini?" Elana bertanya cepat begitu mendengar perkataan Sachi.


Sachi menggelengkan kepala, menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.


"Tidak. Aku mendapatkan tangkapan ikan besar semalam. Seorang pengusaha kaya yang tidak segan-segan mengobral dompetnya untuk memberikan apapun yang aku inginkan," Sachi mengedipkan mata. "Dia sudah punya istri, tapi istrinya sibuk menghabiskan waktu untuk berbelanja di luar negeri, jadi sekarang dia mencari kasih sayang dariku," suara Sachi merendah ketika berbisik lagi, "Dia membookingku kembali malam ini. Siapa tahu karena puas dengan pelayananku, dia akan menjadikanku istri simpanannya, kalau itu terjadi, aku tidak perlu bekerja lagi di tempat ini. Tenang saja Elana, kalau aku sudah sukses nanti, aku tidak akan melupakanmu," Sachi tersenyum lebar, menepuk-nepuk ringan pundak Elana beberapa kali sebelum kemudian melangkah pergi menuju area depan supermarket untuk menjalankan tugasnya di belakang mesin kasir.


Elana masih tertegun mendengar semua perkataan Sachi tadi. Kepalanya menoleh, menatap ke arah Sachi yang saat ini sedang melayani pelanggan supermarket dengan senyum ramahnya yang khas. Sachi memang sangat cantik, tubuhnya bagus, tinggi dengan pinggul melengkung seperti biola klasik, tetapi Elana masih tidak menyangka bahwa Sachi memanfaatkan tubuhnya dengan cara-cara yang mungkin bertentangan dengan hati nurani Elana.


Seperti itukah kesuksesan menurut pandangan Sachi? Menjadi wanita simpanan pria kaya sehingga bisa hidup bermewah-mewah?


Elana menghela napas panjang, dia tahu bahwa dia tidak berhak menghakimi keputusan orang lain dalam kehidupan mereka.


Siapa yang tahu mereka berbuat itu karena ada alasan yang tidak mereka katakan pada orang lain?


Elana melirik ke arah jam di dinding. Sebentar lagi waktunya pulang. Elana harus pulang dulu untuk berganti seragamnya sebelum berangkat ke kelab malam ini. Dia harus berangkat lebih pagi karena malam ini tidak ada Sachi yang mengantarkannya sehingga dia harus mengandalkan kendaraan umum seperti biasa.


 




__ADS_1



__ADS_2