Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 91: Kamuflase


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


"Dia bukan Aaron."


Xavier berucap dingin sambil menatap hasil pemeriksaan yang muncul di laptopnya.


"Apakah kau yakin?" Akram bertanya pelan. Dia tahu bahwa kecil kemungkinan Xavier salah dalam menyimpulkan, tetapi dia butuh penjelasan yang lebih terperinci supaya benar-benar yakin dengan apa yang dikatakan oleh Xavier.


"Sangat yakin." Xavier menganggukkan kepalanya. "Aku melakukan uji coba dengan mengambil sampel rambut mayat itu. Kau tentu tahu bahwa Aaron telah menerima racun sekaligus penawar dariku. Baik racun maupun penawar dariku, itu sangatlah unik dan memiliki efek sampai ke dalam sel hingga jejaknya bisa dilacak pada tubuh manusia yang terpapar dan tak bisa hilang sampai puluhan tahun ke depan. Karena itulah, aku menggunakan rambut mayat itu untuk melakukan pencarian jejak." Xavier menjawab dengan lancar, lalu menutup laptopnya dan menyeringai. "Mayat itu bersih. Tidak ada jejak sama sekali baik dari racun maupun dari penawar milikku. Jadi, aku bisa menyimpulkan dengan pasti bahwa meskipun mayat itu."


"Kau benar-benar yakin? Kau tahu, kan? Mayat itu sudah dimodifikasi secara genetik sehingga DNA-nya jadi berantakan dan tak bisa dilacak ataupun dicocokkan lagi?" Akram kembali bertanya, mengerutkan kening sambil menanti jawaban Xavier.


"Pemeriksaanku tidak memiliki hubungan langsung dengan DNA. Entah itu rusak atau utuh, tidak akan berimbas pada hasilnya. Aku murni melakukan pelacakan jejak kimiawi dari racun ataupun penawarku dan aku sangat yakin meskipun DNAnya sudah dirusak sampai parah, tidak akan mempengaruhi hasilku." Xavier memundurkan punggungnya pada kursi besar yang ada di hadapan Akram. "Kurasa, satu hal itu yang terlewat oleh Aaron. Dia sudah melakukan segalanya secara teliti, operasi wajah pada mayat yang sangat identik dengan dirinya, ukuran tubuh mayat yang sama persis seperti dirinya, bahkan perusakan DNA yang membuat mayat itu tidak mungkin utuk dilacak berdasarkan DNA-nya. Semua usaha sudah dia lakukan dengan sangat sempurna untuk membuat kita meyakini bahwa mayat itu adalah Aaron. Tetapi, tentu saja dia melewatkan satu bagian kecil yang mungkin dianggapnya remeh. Dia tidak menyadari bahwa racun dan penawarku seharusnya meninggalkan jejak tak terhapuskan di tubuhnya, dan jejak itu tak bisa diimitasi dengan mudah."


"Jadi, menurutmu, Aaronlah yang berada di balik semua ini?" Akram bertanya kembali. "Kalau dia memang pelakunya, berarti kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dia masih hidup, bukan?"


"Tentu saja. Aku yakin seratus persen bahwa dia masih hidup." sahut Xavier dengan nada yakin. "Aku meremehkan Aaron selama ini dan kesalahankulah penyebabnya sehingga dia bisa menemukan celah untuk bertahan. Tetapi, sesungguhnya, kita bisa mengambil keuntungan dari mayat itu."


Akram mengerutkan keningnya. Jika mayat itu ternyata bukanlah Aaron, maka itu tak akan berguna, Akram sudah berencana melenyapkan mayat itu dengan mengkremasinya di suhu tinggi hingga menjadi abu, lalu membuang sisa mayat tak berguna itu ke lautan. Akan tetapi, perkataan Xavier membuat otaknya berpikir, dan ketika dia menemukan kesimpulan, ekspresinya tampak waspada sekaligus tak percaya.


"Kau... kau tidak berpikir untuk menunjukkan mayat itu kepada Sera untuk memanipulasi Sera supaya berpikir bahwa Aaron sudah meninggal, bukan?" tanyanya cepat, dipenuhi ketidak setujuan.


Tanggapan Xavier adalah tertawa. Lelaki itu menipiskan bibir, memasang ekspresi seolah terluka mendengar perkataan Akram.


"Aku tahu aku memang mampu memenuhi ekspetasi terburukmu dengan menjadi sosok yang paling keji dan paling jahat, Akram. Namun, kau tidak mungkin berpikir bahwa aku sekejam itu dengan menunjukkan mayat pada istriku yang sedang hamil besar, bukan?" tanya Xavier dengan nada miris.


Akram berdehem, sedikit dipenuhi rasa bersalah. Kenyataannya, itulah yang memang dipikirkan oleh Akram. Dia berpikir bahwa Xavier memang sekejam itu dan mampu menunjukkan mayat itu kepada Sera, demi membuat Sera berhenti memikirkan Aaron yang selama ini jelas menjadi pengganjal antara hubungan Xavier dengan Sera. Namun, ternyata dugaan Akram salah, Xavier sepertinya sudah berubah, sosok kejam yang sangat suka menyiksa para pengkhianat dengan metode paling mengerikan yang pernah ada itu telah berubah menjadi sosok suami yang berdedikasi dan sangat protektif terhadap istri dan calon bayi mereka.


"Yah, memang aku sempat berpikir seperti itu." Akram tak menyangkal, berusaha menyingkirkan rasa bersalah di dalam pikirannya. "Kau tahu, jika kau berniat melakukan itu, maka aku tak akan setuju. Seorang ibu hamil harus selalu bahagia dan tidak boleh mengalami shock atau trauma yang bisa berimbas kepada kondisi bayinya."


"Aku tahu." Xavier menganggukkan kepala dan tidak membantah. "Yang kumaksud dengan mengambil keuntungan dari mayat itu, adalah dengan melihat mayat itu, aku jadi bisa menebak langkah yang diambil Aaron untuk menyembunyikan dirinya dengan sempurna sehingga dia bisa lolos dari kejaran kita."


"Langkah apa?" Akram biasanya jeli, tetapi dia tetap mengakui bahwa terkadang, Xavier yang memiliki kejeniusan tak terbantahkan, bisa lebih teliti dan lebih jeli dari dirinya.


Xavier mengangkat alisnya. "Apakah kau tak menyadarinya? Kenyataan bahwa mayat itu memiliki wajah yang sama persis dan sempurna dengan Aaron, menunjukkan bahwa mayat itu telah mengalami operasi plastik yang sangat baik. Bahkan aku tidak bisa menemukan bekas operasinya sama sekali. Operasi itu begitu sempurnanya hingga tiada cela dan operasi itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sangat ahli."


"Aku mengerti bahwa mayat itu telah menjalani operasi yang sangat bagus di area wajah, dia juga menjalani modifikasi genetik sehingga DNAnya tidak bisa terlacak. Tapi, apa hubungannya dengan manfaat bagi kita dalam menghadapi Aaron?" Akram menyela lagi, tampak tidak puas dengan jawaban Xavier.


"Operasi plastik yang sempurna. Itu adalah kuncinya." Xavier menyeringai. "Aku berani bertaruh bahwa Aaron juga telah menjalani operasi plastik yang sama sempurnanya dengan mayat itu dan ditangani oleh dokter ahli yang sama pula. Dia berganti identitas dan berganti wajah serta sangat berhati-hati supaya identitas barunya ini sama sekali tak terhubung dengan dirinya yang lama. Karena itulah dia tidak jatuh ke dalam umpan Sabina yang telah kita pasang, dan karena itulah kita tidak bisa menemukannya dari persembunyiannya. Karena Aaron telah berganti menjadi orang yang berbeda."


"Kau yakin bahwa Aaron telah melakukan itu?" Akram mengangkat alisnya. Entah kenapa dia tak bisa berhenti bertanya semenjak pembahasan mereka tadi. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Xavier. Dirinya dan Xavier terlalu memandang rendah Aaron dan menganggap lelaki itu tak sepadan untuk menjadi musuh mereka. Tetapi, kenyataannya, Aaron mungkin lebih licik dan lihai dari apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Yah, kenyataan bahwa Aaron bisa bersabar dan tidak menonjolkan diri selama bertahun-tahun dengan menjadi bawahan Roman Dawn yang dipandang sebelah mata menunjukkan betapa liciknya lelaki itu. Aaron memiliki kemampuan luar biasa, tetapi dia sengaja menyembunyikannya dengan tujuan supaya Roman Dawn tidak merasa terancam dengan kehadirannya. Dia bersedia menyembunyikan potensinya dan bersandiwara layaknya bayang-bayang, rela diperlakukan seperti pelayan rendahan sebagai kamuflasenya. Padahal di balik itu semua, ternyata Aaron telah mengumpulkan kekuatan di belakang Roman Dawn diam-diam, lelaki itu membeli sebagian besar saham milik Keluarga Dawn, dia juga mengambil alih hak atas beberapa properti yang memiliki potensi luar biasa di kemudian hari, dan beberapa 'pencurian' tak terlacak berikutnya yang dilakukan dengan apik sehingga Roman Dawn bahkan tak menyadarinya ketika hal itu dilakukan di depan batang hidungnya.


"Kurasa kita harus mengubah metode pengejaran kita." Xavier mengerutkan keningnya. "Ini akan sulit karena kita tidak tahu Aaron berubah menjadi siapa. Bisa saja dia membunuh pemilik wajah asli lalu mencuri identitasnya dan menempatkan dirinya dengan identitas itu. Jika hal itu terjadi... kemungkinan Aaron lebih dekat dari yang kita duga."


"Dia masih mengejarmu... ah tidak, dia masih mengejar Serafina Moon." Akram menyimpulkan dengan tenang dan Xavier menganggukkan kepalanya untuk mengkonfirmasi. Tak ada bantahan darinya, apa yang mereka pikirkan tetap sama. Sejak Aaron mengeluarkan sayembara itu, Xavier yakin bahwa Aaron benar-benar menginginkan Sera kembali ke sisinya.


Yah, memang menyedihkan. Ketika Serafina ada untuk memujanya, Aaron sama sekali tak menghargainya. Namun, ketika Serafina berpaling darinya, barulah Aaron menyadari bahwa dia telah mengabaikan sesuatu yang sangat berharga. Manusia memang diliputi keserakahan, mereka tak menghargai apa yang mereka genggam dan terus menerus menginginkan milik orang lain. Tetapi, ketika mereka kehilangan apa yang dulunya terpegang dan tak mereka hargai, barulah mereka merasakan betapa berharganya yang telah hilang itu.


Memikirkan itu semua membuat Xavier mengepalkan tangannya. Bahkan dia sendiri... juga telah menjadi manusia yang serakah itu. Dia pernah merelakan Sera sekali, mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja ketika perempuan itu pergi darinya. Namun, ternyata dia tak bisa hidup tanpa Sera. Kehidupan mereka yang luar biasa damai sepanjang menghabiskan hari-hari kehamilan Sera, terasa begitu menyenangkan untuknya. Terlalu menyenangkan hingga Xavier tak mau kehilangannya. Dia menjadi serakah, lupa bahwa dia menderita penyakit yang bisa membunuhnya setiap saat dan mulai berharap bisa menjalani hidup selamanya dengan Serafina.


"Akram." Tiba-tiba saja Xavier merasa ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membicarakan tentang Aaron lagi dan pemikiran tentang Serafina membuatnya ingin bertanya. "Bagaimana kabar Elana? Kurasa kehamilannya beberapa minggu lebih tua dari kehamilan Sera, bukan?"


Seketika ekspresi Akram berubah. Ketika nama Elana disebut, Akram seolah langsung bertranformasi dari lelaki beraura gelap dan kejam menjadi seorang suami dan ayah yang penuh kilau kehangatan. Bibir Akram menyeringai sebelum kemudian membentuk sebuah senyum lebar yang nyaris konyol.


"Aku benar-benar diberkati." Akram tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh. "Kehamilan Elana yang pertama menyiksaku setengah mati. Kau tentu tahu bagaimana aku dipaksa tidur terpisah dan menjauhi istriku sendiri karena Elana selalu muntah setiap kudekati atau setiap mencium aromaku, bukan? Berbulan-bulan kulalui dengan penuh siksaan saat Elana mengandung Zac di bulan-bulan pertamanya. Tetapi saat ini, semuanya berbeda, luar biasa berbeda." Mata Akram berkilauan oleh sinar hangat yang nyaris menyilaukan jika bisa kasat mata. "Elana menempel padaku setengah mati, dia sangat manja dan dia...." Suara Akram merendah, penuh kepuasan. "Dia selalu minta dipeluk setiap saat."


"Terberkatilah kau, kau telah mendapatkan penebusan dari siksaan kehamilan pertama Elana." Xavier melemparkan senyum tahu sama tahu, terkekeh mendengar kepuasan yang kental di dalam suara Akram.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri? Bagaimana kabar Sera? Kudengar, sejak penemuan mayat itu, kau mengetatkan penjagaan keamanan di rumahmu? Apakah kau sudah mendapatkan firasat bahwa mayat itu palsu?" tanya Akram kemudian.


Xavier menganggukkan kepala. "Aku juga melarang Sera keluar. Yah, bukan berarti dia bisa berjalan-jalan kemana-mana dalam kondisinya sekarang. Kau tahu, perut Serafina sangat... besar. Dan itu membuatnya kepayahan." Xavier menjawab dengan nada menyesal, seolah-olah dirinya digayuti oleh rasa bersalah.


Akram mengangkat bahunya. "Bukankah itu normal? Pada kehamilan kembar, ukuran perut memang lebih besar dari kehamilan biasa, bagaimanapun, ada dua bayi yang sedang bertumbuh di sana. Bukankah Nathan selalu melakukan pemeriksaan rutin dan menyatakan bahwa kandungan Sera baik-baik saja?"


Xavier menghela napas panjang. "Nathan bilang semua normal. Tetapi... kau tahu bahwa Sera sangat kurus, bahkan usahaku untuk memberinya makan banyak, sepertinya tak berhasil. Seolah semua nutrisi yang diterimanya langsung diteruskan kepada dua bayinya dan tak menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Aku sangat khawatir. Kaki Sera sangat bengkak dan dia kesulitan berjalan, dia kepayahan seperti yang kubilang, napasnya terengah dan kadang sesak, dia bahkan tidak bisa menemukan posisi yang tepat untuk tidur malam, selalu bergerak gelisah sepanjang malam." Xavier meremas rambutnya menahan frustasi. "Jika saja aku bisa, aku ingin menanggantikannya menanggung semua kesakitan dan kesulitan yang dideritanya dalam kehamilan ini. Kalau saja aku tahu bahwa kehamilannya akan begitu sulit, mungkin dulu aku akan mempertimbangkan lebih dulu ketika akan menghamili Sera."


"Aku telah membujuk Sera supaya mau dirawat di rumah sakit. Tetapi Sera menolak, dia hanya mau menerima perawat khusus yang dibayar untuk merawatnya di rumah, tetapi dia tak mau tinggal di rumah sakit selama masa-masa akhir kehamilannya. Dia bilang bahwa rumah sakit memberikannya trauma." Xavier menjawab dengan nada tak puas.


Akram menganggukkan kepalanya. "Menurutku, keputusan merawat Sera di rumah adalah keputusan tepat. Dia bisa menghabiskan waktunya dengan santai, melewati hari dengan melakukan apa yang dianggapnya menyenangkan, dengan begitu dia akan rileks dan memiliki suasana hati baik. Di kehamilan pertama Elana dulu, ketika Elana kepayahan akibat mual dan muntah tak terkendali, aku memaksa Nathan tinggal di rumahku dan aku juga membayar perawat khusus untuk merawat Elana di rumah. Pada akhirnya, perawat itu malah mengambil pensiunnya dan menjadi pengasuh Zac hingga sekarang."


Akram menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kau tentu tahu bahwa perasaan ibu hamil adalah kunci utama bagi mereka untuk menjalani kehamilan dan kelahiran tanpa potensi berbahaya. Jika Sera dirawat di rumah sakit, geraknya akan terbatas, dia hanya akan menjalani hari-harinya di kamar, seperti seorang pasien penderita penyakit padahal dia tak sakit apa-apa. Secara mental, itu tidak baik. Ada yang mengatakan bahwa ketika seseorang terus menerus diperlakukan seperti orang sakit, dia akan percaya bahwa dirinya memang benar-benar sakit lalu mental yang sakit akan mempengaruhi fisik hingga menyebabkan fisik sakit." Akram menatap Xavier sebelum kembali melontarkan pendapatnya. "Lagipula, keamanan di rumahmu jauh lebih baik dibandingkan keamanan di rumah sakit."


Akram tidak mengatakannya secara langsung, tetapi lelaki itu jelas menyinggung kembali insiden yang melibatkan Maya di masa lampau. Pada waktu itu, Maya berhasil lolos dari keamanan rumah sakit dan menyerang Elana. Jika saja pada saat itu keberuntungan tidak berpihak pada mereka, bisa-bisa Elana yang terluka dan Maya berhasil melakukan kejahatannya.


"Ya. Penjagaan kemanan di rumahku memang sangat ketat dan berteknologi tinggi. Setidaknya aku bisa merasa yakin bahwa meskipun Aaron mencoba segala cara, dia tak akan bisa menembusnya untuk mendekati Sera." Xavier tampak setuju dengan pendapat Aaron.


Mata Akram terlihat menajam ketika lelaki itu mengawasi Xavier dengan saksama. "Apakah menurutmu, Aaron sudah berada di dekat kita dan sedang menunggu kita lengah?" tanyanya.


Xavier menyeringai, kepalanya mengangguk menyiratkan persetujuan.


"Menurutku, Aaron sudah lebih dekat dari yang kita kira, dan kita tak boleh lengah sama sekali."


 


***


***

__ADS_1


***


***


Hello.


 


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


 


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


Mohon maaf atas keterlambatan posting belakangan ini dikarenakan masih ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Mohon dimaklumi. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.


 


 

__ADS_1


__ADS_2