
Keheningan membentang di ruangan itu. Xavier tampak tersenyum manis, sementara Elana tertegun dipenuhi keterkejutan luar biasa.
Tawaran itu sungguh tidak terduga, tentu saja sangat menggoda. Sejak keluar dari pulau itu, Elana telah berjuang, mencoba melepaskan diri dari Akram tetapi gagal. Seluruh usahanya telah dipatahkan oleh Akram, bahkan sebelum dia bisa mencoba.
Sekarang.... sebuah tawaran akan kebebasan dilambai-lambaikan di depan hidungnya, sebuah tawaran yang sangat menarik untuk diraih.
Elana melirik ke arah Xavier yang masih duduk menunggu dalam senyuman manis. Tiba-tiba dia sadar, Xavier tidak sesederhana itu. Lelaki itu selalu memiliki maksud di balik tindakannnya. Kalau tidak berhati-hati, Elana bisa bisa malah terperosok jatuh dalam perangkapnya.
"Kenapa kau menawarkan itu?" tanpa menutupi kecurigaannya, Elana langsung bertanya.
Xavier mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kau bertanya?" lelaki itu malahan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Elana tampak ragu, tapi akhirnya menjawab juga.
"Akram bilang.... kau tidak akan membantu orang lain kecuali itu menguntungkan bagimu," mata Elana yang lebar menatap Xavier dengan tatapan penuh ingin tahu. "Kau menawarkan kebebasan untukku, tanpa meminta imbalan sepeser pun. Kalau begitu, apa untungnya untukmu?"
Xavier menipiskan bibir mendengar pertanyaan itu. Matanya bersinar tajam ke arah Elana, seolah ingin Elana memahami maksud kalimatnya dengan baik.
"Kau meninggalkan Akram, itu sudah merupakan suatu keuntungan untukku," jawabnya lambat-lambat.
"Ba... bagaimana bisa?" Elana tak bisa mencerna maksud kalimat Xavier. Dia sungguh bingung.
Mata Xavier berkilat. "Apakah kau tidak sadar bahwa Akram terikat kepadamu lebih daripada yang seharusnya? Adikku itu selalu tampak keras di luar, tetapi dia memiliki hati lembut tersembunyi di dalam yang kadang mudah jatuh hati ketika dia lengah. Semakin lama kau bersama dengan Akram, semakin dalam ikatan di antara kalian berdua," Xavier menatap Elana dengan tatapan menusuk. "Kalau kau hanya setengah hati pada Akram, akan lebih baik baginya jika dia kehilanganmu secepat mungkin. Aku mungkin akan menikmati lagi melihat hatinya yang hancur karena kau meninggalkannya."
"Se... sebegitu bencinyakah kau pada Akram, sehingga kau... kau selalu merenggut apa yang disukainya dan menikmati melihatnya patah hati?" Elana bertanya dengan suara bergetar. Entah kenapa, foto-foto hasil forensik Anastasia terlintas kembali di pikirannya. Kali ini tidak menimbulkan rasa takut yang terlalu besar kepada Xavier, malah menimbulkan rasa empati tak terperi kepada Akram.
"Benci?" Xavier menyeringai. "Apakah kau tahu, Elana? Batas antara benci dan cinta itu setipis benang? Kadang kau bisa salah mengartikan cinta sebagai kebencian, begitu juga sebaliknya," Xavier tampak sungguh-sungguh dengan perkataannya. "Aku sendiri bisa dengan lantang mengatakan kalau aku sangat mencintai adikku."
"Seorang yang mencintai akan selalu memberi! Bukannya berusaha merenggut lalu menyakiti!" seru Elana tiba-tiba, dia sungguh tidak tahan untuk tidak memprotes logika Xavier yang terbalik.
"Aku memberikan Akram Night perlindungan dari segala sesuatu yang mengkhianatinya, tidakkah kau sadar?" sahut Xavier cepat, membuat Elana terpana.
"Perlindungan? Perlindungan seperti apa? Bukankah kau beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Akram? Bagaimana mungkin kau mencoba membunuh Akram tapi kau bilang kau melindunginya?" sanggah Elana tak percaya.
Xavier menegakkan punggung, suaranya tertahan seolah semula dia ragu untuk menjelaskan. Tapi, tak urung akhirnya dia berkata juga.
"Di mata dunia, aku memosisikan diriku sebagai musuh Akram Night. Kau tahu keuntungan dari itu? Seluruh musuh-musuh Akram yang ingin menghabisi nyawa adikku, semuanya menghubungiku untuk meminta bekerjasama denganku. Karena, hanya akulah yang setara dengan Akram Night baik secara kekayaan maupun kekuasaan. Mereka semua begitu gelap mata dan rakus untuk membunuh, dilanda dendam dan dengki hingga tak sabar lagi mengatur rencana untuk mencabut nyawa Akram... dan aku sengaja membantu mereka, membiarkan mereka berpesta pora dalam kesenangan sesaat karena merasa mimpi mereka untuk menghancurkan Akram Night akan segera terwujud.... Lalu, aku lalu mengagalkan rencana mereka di detik terakhir,"
"Meng... menggagalkan rencana mereka....?" Elana terbata, matanya terbelakak.
"Kau tahu kenapa setiap rencana pembunuhan terhadap Akram Night selalu gagal? Tidak, Lana, itu bukan karena dewi keberuntungan selalu menaungi Akram dan melindunginya. Itu semua karena aku selalu memastikan kalau seluruh rencana itu digagalkan." Xavier menggertakkan gigi. "Aku bahkan bersedia menanggung sebutan sebagai seorang pecundang sementara Akram disebut sebagai pemenang," mata Xavier berkilat penuh bahaya. "Apakah kau pikir, seorang jenius seperti aku bisa gagal kalau aku benar-benar ingin menghabisi seseorang? Perencanaan yang kubuat pasti sangatlah matang, tanpa cela dan celah. Aku pasti akan berhasil jika aku sungguh-sungguh ingin melakukannya."
Elana mengerjap, dipenuhi ketidakpercayaan. "Ta... tapi truk itu.... kecelakaan yang menimpaku dan Akram...."
"Jadi kau sungguh ada bersama Akram waktu itu? Maafkan aku karena memberikan trauma buruk padamu," Xavier tersenyum lembut, ekspresinya juga berubah, penuh permohonan maaf. "Tapi kecelakaan itu juga sudah diatur supaya tidak berhasil. Truk yang menabrak mobil Akram tidak menimbulkan kerusakan berarti. Itu semua bukan hanya karena fitur keamanan mobil Akram yang canggih, tetapi karena ada campur tanganku. Teknisiku memasang fitur pengendali jarak jauh di truk itu, sehingga seberapa dalam pun supir truk itu berusaha menginjak gas untuk menabrak, teknisiku bisa menghentikannya dari jarak jauh dengan perkiraan yang tepat. Sehingga, biarpun tabrakan itu tetap terjadi, kerusakannya tidak begitu parah. Apa kau pikir kondisinya bisa seberuntung itu dengan truk berukuran sangat besar, tetapi hanya menabrak setengah sisi belakang mobil dan membuat penumpangnya di bagian depan selamat?"
__ADS_1
Ekspresi Xavier berubah gelap ketika lelaki itu melanjutkan kalimatnya, seolah sulur-sulur kekejaman yang tengah disembunyikan rapat-rapat di hadapan Elana, berhasil menelusup ke raut wajahnya, menyelipkan binar kejam yang mengerikan.
"Menjadi musuh Akram mempermudahku mendeteksi musuh Akram yang lain. Karena, semua orang selalu berpikir bahwa musuh dari musuhku adalah temanku. Tentu saja setelah percobaan pembunuhan yang gagal itu, aku menghabisi mereka sampai ke akar-akarnya sehingga parasit itu tidak memikiki kesempatan untuk hidup lagi," Xavier menatap ke arah Elana, dan ketika dia menyadari sinar ketakutan di mata perempuan itu, bibirnya mengular senyum. "Aku memang seorang pembunuh kejam nan gila. Aku senang menumpahkan darah dengan tanganku serta menikmatinya. Tetapi, aku tidak pernah membunuh tanpa alasan," suara Xavier berubah menjadi desisan rendah penuh ancaman.
"Kalau begitu... bagaimana dengan hewan-hewan peliharaan Akram yang kau bunuh? Bagaimana dengan... dengan...." Elana ingin menyebutkan nama itu, tapi suaranya tertahan ditenggorokannya yang seolah dicekik dengan tali tak kasat mata.
"Bagaimana dengan Anastasia?" Xavier dengan santai melanjutkan kalimat Elana. Mata Xavier berkilat kembali, penuh kekejaman dan kebencian yang gelap menakutkan. "Aku sudah bilang bahwa setiap pembunuhan yang kulakukan, semuanya ada alasannya," Xavier memiringkan kepala, lalu menatap Elana dengan tatapan menggoda seolah mengajak bercanda. "Kalau kau ingin kubunuh, kau harus memberikan alasan yang tepat untukku, sebelum aku mengayunkan pisauku dan merenggut nyawamu dengan senang hati," sambungnya kemudian.
Elana terpaku mendengar kalimat terakhir Xavier tersebut. Entah lelaki ini gila, entah selera humornya memang sangat rendah. Yang pasti, candaan Xavier itu adalah candaan paling mengerikan yang pernah Elana dengar seumur hidupnya.
Segala penjelasan Xavier masih berputar-putar di kepalanya, menunggu untuk dicerna oleh otaknya. Tentu saja dia tidak akan semudah itu mempercayai Xavier. Lelaki ini manipulatif dan mampu berbohong tanpa berkedip sekalipun.
Siapa yang tahu kalau ternyata semua yang diucapkan Xavier tadi hanyalah sebuah skenario kebohongan besar, yang diatur untuk membuat Elana goyah?
"Jadi itukah yang kau mau?" Elana menatap Xavier dengan pandangan menyelidik. "Menunggu sebuah alasan yang tepat untuk membunuhku? Karena itulah kau mencoba menggiringku untuk meninggalkan Akram? Supaya kau memiliki alasan untuk membunuhku?"
Xavier tersenyum. "Semula itulah yang kuinginkan," lelaki itu tampak tidak berniat untuk menutup-nutupi maksud jahatnya. "Tetapi, setelah mengenalmu, aku mengurungkan niatku itu. Kau hanyalah hewan kecil tak berdosa yang terjebak di tengah-tengah pertikaian kami. Membebaskanmu akan menjadi kelegaan bagi hatiku yang penuh dosa, sekaligus akan membebaskan kalian berdua dari rasa sakit yang lebih dalam."
Xavier tiba-tiba melangkah bangkit dari duduknya, menatap Elana dengan tatapan serius tanpa senyum.
"Tapi tenanglah, Lana. Aku orang yang sabar dan aku bersedia menunggu. Tawaranku untuk membebaskanmu masih akan berlaku sampai pertemuan terakhir kita nanti. Di saat itulah kau harus memberikan jawaban kepadaku," Xavier menghela napas panjang. "Hanya, berhati-hatilah menjaga hatimu, Lana. Sebuah hubungan fisik tanpa perasaan, tetap memiliki jalannya sendiri menuju hati. Kedekatan fisik, pelukan, sentuhan, ciuman, genggaman tangan, semua itu akan menumbuhkan rasa membutuhkan yang akan menjadi penyubur sempurna bagi kunci yang akan membuka jalan ke hatimu. Aku sungguh khawatir, jika kau tidak menerima tawaranku saat ini, semakin lama kau akan tenggelam semakin dalam hingga kesulitan untuk mengentaskan dirimu dari Akram. Tidak ada kesempatan kedua, melompat untuk melarikan diri di saat kau masih kering, atau menerjunkan dirimu sekaligus hingga basah tengggelam sepenuhnya. Hanya itu pilihanmu dan kuharap kau memikirkannya baik-baik,"
Setelah mengucapkan kalimat penutupnya, Xavier membuat gerakan tangan seolah berpamitan, lalu melangkah pergi tanpa kata, melangkah masuk ke sebuah pintu yang menyaru dengan dinding layaknya pintu rahasia dan menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.
***
***
"Elana!" Nathan bergerak cepat menghambur ke arah ranjang tempat Elana berbaring. "Kau sudah sadar. Kau tidak apa-apa?" dengan cepat Nathan memegang nadi Elana, mengukur suhunya, memeriksa alat monitor tanda kehidupan Elana dan juga aliran infus serum penawar tersebut. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Nathan menghela napas panjang, lalu membanting duduk tubuhnya yang lemas karena dipenuhi kelegaan yang amat sangat, ke sisi ranjang Elana di bagian ujung kakinya.
Elios sendiri tampak tak kalah sibuk, lelaki itu mengelilingi pintu kaca yang terbuka, mengumpat-umpat ketika menyadari bahwa mereka benar-benar telah ditipu oleh layar digital canggih yang menutup semua pemandangan di dalam kamar tanpa mereka sadari.
Elios menghampiri Elana, lalu berhenti tepat di samping ranjang. Kecemasan masih melumuri bola matanya, apalagi ketika dia melihat sebuah kursi tunggal kosong yang tampaknya telah diseret dari tempatnya semula ke posisi tepat di hadapan ranjang Elana
"Apakah Xavier datang menemuimu?" tanya Elios langsung, matanya memindai Elana dengan saksama. "Apakah kau baik-baik saja?" Elios melupakan sikap formalnya yang biasa dia lakukan ketika berbicara dengan Elana, karena saat ini jantungnya berdegup kencang tak terkendali.
Bodohnya mereka! Dengan layar digital yang menutup pandangan ke dalam, Elana bisa saja dibunuh dan mati di dalam sini sebelum mereka menyadarinya. Mereka telah lengah dan kurang hati-hati hingga membuat Akram murka luar biasa.
Tadi, Elios melakukan pelaporan seperti biasa kepada Akram yang mewajibkannya melapor setiap satu jam sekali. Ketika Akram meminta Elios memeriksa keadaan Elana, Elios menjelaskan dengan polos bahwa mereka berada di luar ruangan yang dibatasi dinding dan pintu kaca besar sehingga bisa mengawasi Elana tanpa mengganggu istirahatnya. Lagipula, sejak tadi Elana tidur pulas karena pengaruh obat, begitu penjelasan yang diberikan Elios kepada Akram.
Seketika itu juga, dengan instingnya yang tajam, Akram langsung mengetahui bahwa ada yang tidak beres. Tuannya itu menghardik Elios dan Nathan atas kelengahan mereka, lalu menyuruh Elios dan Nathan memeriksa dengan segera pintu itu dan memastikan kondisi Elana di balik pintu tersebut.
Dugaan Akram benar, pintu itu ternyata adalah kamuflase dari layar digital raksasa yang sangat canggih. Beruntung di belakang pintu tersebut, Elana masih hidup dan bernyawa. Kalau tidak, Akram Night pasti akan menghabisi nyawa mereka saat itu juga.
"Elana baik-baik saja," Nathanlah yang menjawab, dia melirik ke arah ponsel Elios yang terus berkedip-kedip. "Lebih baik laporkan terlebih dahulu situasi terbaru ini terhadap Akram. Bilang bahwa Elana baik-baik saja. Aku sudah memastikannya."
__ADS_1
"Oh, baiklah," wajah Elios tampak pucat ketika dia mengangkat panggilan telepon yang sudah pasti berasal dari Akram. Suara geraman marah Akram bahkan terdengar menembus speaker ponsel tersebut, membuat wajah Elios semakin pucat ketika dia terus menjelaskan dengan kalimat beruntun sambil melangkah keluar dari ruangan tempat Elana dirawat supaya bisa berbicara lebih leluasa.
Ditinggalkan sendirian, Nathan kembali menatap Elana dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Jadi, Xavier menemuimu?" simpulnya cepat, melirik kembali ke arah kursi kosong yang ditinggalkan Xavier di sana.
Elana mengangguk, menunjuk sisi dinding tempat pintu rahasia itu berada. "Sepertinya dia keluar dan masuk dari pintu rahasia itu," jawab Elana lemah.
Nathan menghela napas panjang. "Tapi sepertinya, dia tidak menyentuh atau menyakitimu, dan hanya mengajakmu berbicara?" tanyanya lagi dengan nada memastikan.
Elana kembali mengangguk. Kali ini matanya tak mampu membalas tatapan mata dokter Nathan. Entah kenapa dia merasa tak sanggup jika dokter Nathan menginterograsi dan memaksanya mengatakan dengan terperinci apa yang telah dikatakan oleh Xavier kepadanya. Terutama tentang.... tawaran kebebasan itu.
Tetapi, Nathan ternyata tidak melakukannya. Lelaki itu hanya mengerutkan kening sedikit, tapi sama sekali tidak menunjukkan intensitas untuk memaksa Elana membuka mulutnya.
"Aku tidak akan memintamu menjelaskan apa yang dikatakan Xavier kepadamu karena itu mungkin menyangkut masalah pribadi. Tapi, aku tak ingin kau sampai lupa, Elana. Xavier adalah psikopat, dan bukan hanya itu, dia adalah seorang jenius. Kedua hal tersebut jika disatukan, akan menciptakan kombinasi mematikan dengan imbas yang sangat mengerikan." Nathan memandang Elana dengan bersungguh-sungguh. "Entah sudah berapa kali Xavier berurusan dengan pihak berwajib yang mencoba menguji alibinya dan ingin menjatuhkan tuduhan atas berbagai macam pembunuhan keji yang mungkin hanya dia yang mampu melakukannya. Tetapi polisi-polisi itu selalu gagal mendatkan pembuktian yang mereka kejar. Kau tahu kenapa?"
Ketika pertanyaan itu tiba-tiba diajukan kepadanya, yang bisa dilakukan oleh Elana hanyalah menggelengkan kepala.
"Karena setiap rencana Xavier selalu sempurna. Dia selalu berpikir ratusan langkah lebih maju dibandingkan yang lain. Bahkan mereka bilang Xavier mampu memanipulasi mesin pendeteksi kebihohongan digital yang dioperasikan oleh Artificial Intelligence yang sangat canggih," Nathan menjawab sendiri pertanyaannya sambil menatap Elana dengan tajam. "Apapun yang dikatakan oleh Xavier kepadamu, kau harus sangat berhati-hati Elana. Dia bahkan mampu memanipulasi sistem kecerdasan buatan komputer yang sangat canggih. Mungkin saja saat ini dia sedang berusaha memanipulasimu supaya kau masuk melangkah dengan sukarela ke dalam pola yang sudah ditetapkannya untukmu."
***
***
Malam sudah begitu larut dan Akram sudah menunggu Elana di jalur parkir depan Lift ketika mobil yang membawa Elana sampai di sana. Elana memang telah dibawa pulang tidak lagi menggunakan ambulans melainkan dengan mobil biasa.
Setelah proses penginfusan tahap pertama diselesaikan, dokter bilang bahwa hipotermia itu tidak akan menyerang Elana lagi, setidaknya sampai nanti hari ketiga setelah ini ketika proses pemberian infus tahap kedua diberikan. Jika sampai pemberian infus tahap kedua ini terlambat diberikan, maka hipotermia yang parah akan menyerang Elana sama seperti ketika hari pertama Elana ditusuk oleh racun itu.
Nathanlah yang membimbing Elana keluar dari mobil dan membawanya melangkah menuju Akram. Tanpa berkata apapun, Akram langsung merangkul Elana, membungkuk untuk merangkul punggung dan belakang lututnya, lalu membawa Elana ke dalam gendongannya.
Dengan tenang Akram memberikan instruksi kepada Elios dan Nathan untuk memberi laporan terperinci esok pagi, sebelum kemudian dia berbalik menuju lift dan membawa mereka berdua naik menuju ke apartemen.
Ketika Akram menggendongnya melewati pintu apartemen, Elana tidak tahan dengan kediaman Akram nan muram dan mulai bertanya.
"Akram....?" suara Elana terhenti ketika Akram menundukkan kepala dan menatapnya dengan tajam. Lelaki itu bahkan menggertakkan gigi seolah menahan marah, membuat suara Elana tertahan antara takut bercampur bingung.
Langkah Akram terasa cepat membawa mereka menaiki tangga dan langsung memasuki kamarnya.
"Akram?" Elana berusaha bertanya tetapi suara Akram langsung menghentikannya.
"Sshh...Bicara nanti," bisik Akram dengan nada menuntut dan tak terbantahkan.
***
__ADS_1