Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 83: Klausul Xavier


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Langit siang Rusia tampak mendung ketika Dimitri menatap dari jendela mobil hitam yang telah terparkir di tempat ini sejak beberapa waktu yang lalu. Udara dingin sudah pasti menusuk di luar sana, ditemani oleh salju putih yang mencair saat musim dingin di Rusia mulai bergulir menuju musim semi yang tak sabar datang.


Ketika sosok perempuan yang berjalan tegap dengan pengawalan di kiri dan kanannya itu akhirnya melangkah mendekati mobil, Dimitri menyeringai, memberikan anggukan singkat untuk memberi izin ketika sosok perempuan itu masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.


Anak buahnya langsung menutup mobil itu dengan hati-hati, membiarkan Dimitri hanya berdua dengan Sabina yang memilih menutup mulutnya dan menenggelamkan mereka dalam keheningan.


“Kau akhirnya datang.”


Dimitri akhirnya memutuskan untuk memecahkan keheningan itu dan tersenyum dengan pandangan menyelisik ke arah Sabina. Akram Night telah mengirimkan Sabina kembali ke Rusia dengan pesawat khusus dan Dimitri yang terantai tangan dan kakinya serta dipaksa tunduk kepada kakak beradik itu, ditugaskan untuk mengurus Sabina atas segala hal yang dilakukannya di negara ini.


Pandangan Dimitri menusuk tajam menilai ke arah Sabina, sebelum kemudian dekusannya terdengar keras.


Yah, setelah diamati dengan baik, secara teknis Sabina memang telah berubah menjadi selayaknya robot dengan aksesoris nyawa, bukannya manusia dengan kehendak bebas seperti yang seharusnya.


Sabina hanya menganggukkan kepala tipis untuk menjawab sapaan Dimitri, sikapnya seolah-olah tak mengenal Dimitri. Perempuan itu menatap kosong lurus ke depan, memfokuskan diri kepada tujuannya dan menganggap Dimitri bukanlah sesuatu yang penting. Hal itu membuat Dimitri kembali mendekus, menatap Sabina dengan pandangan penuh kekecewaan.


“Di masa lampu, kau pasti menganggapku lemah dan menertawakanku di belakangku karena tak berdaya menghadapi kakak beradik itu akibat bom dan racun di tubuhku, bukan? Sekarang malahan begini nasibmu, berakhir seperti robot yang tak memiliki pikiran sendiri, dikendalikan oleh mereka sepenuhnya.” Dimitri terkekeh. “Setidaknya aku masih memiliki kehendak atas pikiranku sendiri. Sementara kau… kau tidak memilikinya sama sekali.”


Dimitri mengawasi Sabina yang duduk kaku tak menanggapinya, lelaki itu lalu mengangkat bahu dan menoleh ke arah supir yang menunggu di balik kemudi.


“Jalan,” Perintahnya sambil menyebutkan nama hotel tempat Sabina diturunkan nanti. Supir itu pun menganggukkan kepala dan melajukan mobilnya dengan cepat menembus jalanan yang sepi di dini hari yang dingin itu.


Dimitri menolehkan kepala ke arah Sabina, lalu mengedikkan dagunya ke arah tas serupa koper yang telah di letakkannya di tengah-tengah mereka.


“Segala yang kau perlukan, senjata, alat komunikasi, kartu identitas, uang dan yang lainnya ada di dalam sana. Aku akan menurunkanmu di hotel lalu kau bisa bergerak sesuai dengan instingmu.” Dimitri meraih dagu Sabina dan menghadapkan perempuan itu ke arahnya. “Kurasa, meski otakmu sudah diacak-acak, keahlianmu tidaklah pudar. Bekerjalah dengan baik dan usahakan supaya berhasil menemukan kecoak itu. Sesungguhnya, aku tak peduli apakah kau akan mati dan terbunuh. Tetapi, karena saat ini keberhasilanmu akan menyelamatkanku dan kegagalanmu akan membunuhku, maka kurasa, aku akan mendukungmu sampai kau berhasil. Ada alat komunikasi di dalam koper itu, kau bisa menghubungiku kapan saja kau membutuhkan bantuan dan aku akan mendatangimu.” Dimitri menatap mata kosong Sabina dan tersenyum. Yah, dimanapun Sabina berada, dia akan bisa menemukannya. Ada alat pelacak di tubuh Sabina, karena itulah perempuan itu tak akan bisa lari.


Kalau dipikir-pikir, dia dan Sabina sama-sama menyedihkannya. Terperangkap dan tak berdaya di bawah kendali orang lain.


 


***


 


Mata Xavier melebar ketika mendengar ancaman yang dilontarkan oleh Sera kepadanya. Lelaki itu terbangun duduk, membawa Sera bersamanya dengan gerakan cepat. Tangan lelaki itu bergerak menangkup bahu Sera, setengah mencengkeramnya ketika kemudian kepalanya menunduk, menatap ke arah Sera dengan tatapan mengancam yang mengerikan.


“Jangan pernah menggunakan nyawamu untuk mengancamku!” serunya dipenuhi kemarahan. “Jangan pernah dengan arogan kau bilang bahwa kau akan mati lebih dulu dariku dengan membawa anakku bersamamu!”


Sesungguhnya Sera merasa gentar. Tetapi Sera tahu bahwa dirinya harus menguatkan hatinya untuk menghadapi kemarahan Xavier yang tak biasa.


Lelaki itu biasanya selalu tenang dan terkendali, menghadapi semuanya dengan senyuman dan kata-kata sinis yang cukup menusuk untuk membuat lawan bicaranya bungkam. Tetapi, kali ini Xavier membentaknya dengan kobaran kemarahan yang nyaris mengerikan….


Sera menelan ludah, berusaha menatap mata Xavier dalam-dalam, bukan untuk menantang dan semakin menyulut kemarahannya, tetapi supaya Xavier memahami makna yang terkandung di dalam ucapanya, yang dia lontarkan sesuai dengan kata hatinya.


“Kau memerintahku supaya aku tidak bersikap arogan, tetapi bukankah kaulah yang arogan di sini?” Melawan nada suara Xavier yang dipenuhi kemarahan, Sera sengaja mengubah strategi bicaranya dan berucap dengan nada suara yang sangat lembut, tanpa ada setitikpun rasa negatif di dalam suaranya.


Sikapnya itu membuat Xavier mengerjapkan mata seolah terkejut dan tak menyangka bahwa Sera akan berucap seperti itu.


“Apa maksudmu?” Pertanyaan bingung Xavier yang terlontar kemudian menunjukkan bahwa Sera berhasil dengan strateginya. Kemarahan yang tadi mendera Xavier rupanya telah surut, berakhir dengan rasa ingin tahu yang tertahan.

__ADS_1


Perlahan, Sera menghela napas panjang, berusaha menyusun kata-katanya dengan benar.


“Kau menentukan sendiri waktu kematianmu. Kau menolak upaya penyembuhan apapun yang seharusnya bisa berhasil jika kau mau mencoba dan malahan bertekad meninggalkan anakmu, memutuskan membuat anakmu menjadi anak tak berayah, tanpa sedikit pun kau mempertimbangkan perasaan kami. Apakah itu bukan arogan namanya?”


Xavier terpana. Dia tak pernah memikirkan itu. Selama ini dia berpikir bahwa Sera tak menginginkannya, dan bahwa anaknya akan baik-baik saja tanpa dirinya setelah dia meninggalkan seluruh harta dan kekuasannya atas nama anaknya.


“Perasaanmu dan anakmu? Seperti apakah itu?” Xavier memutuskan untuk mengikuti arah pembicaraan Sera dan bertanya.


“Aku sudah menyatakan perasaanku terhadap keputusan aroganmu dengan gamblang, aku tak ingin anakku menjalani hidup tanpa mengenal ayahnya, karena itulah aku meminta klausul tambahan supaya kau menjalankan tranplantasi untuk memperpanjang umurmu. Sementara itu, mengenai perasaan anakku, anak kita, mungkin kau harus menunggu sampai kau bisa mengajak anakmu berbicara.” Tanpa sadar ketika berucap, tangan Sera bergerak menyentuh perutnya sendiri dan mengusapnya, membuat tatapan mata Xavier mengarah ke perutnya sehingga ekspresi lelaki itu melembut kemudian.


Bibir lelaki itu lalu menipis, seolah-olah Sera telah berhasil memukul kelemahannya dengan telak.


“Kau meminta jeda waktu yang sangat lama kalau aku harus menunggu sampai aku bisa mengajak anakku berbicara,” geramnya setengah bersungut-sungut. “Kurasa jika dilihat dari kondisiku sekarang, aku tak akan bisa hidup sampai selama itu.”


“Xavier, kau bisa hidup lama kalau kau mau melakukan prosedur transplantasi itu. Kau tidak akan tahu kalau kau tidak mencoba. Dokter Nathan bilang kalau transplantasi sel punca itu memiliki keberhasilan tinggi, karena kecocokannya sudah dipastikan hampir seratus persen.” Sera menyela, mulai tak sabar dengan sikap pesimis Xavier.Xavier menipiskan bibir.


“Kau sangat berharap pada keberhasilan transplantasi itu. Apakah kau tahu bahwa operasi itu memiliki risiko cukup besar? Apalagi bagi seseorang yang memiliki anemia aplastik seperti aku? Aku bisa saja mati di meja operasi saat itu juga. Apakah kau tidak menyadari, itu?”


Sera menggigit bibirnya. “Kau mengatakan kau bisa mati kapan saja. Tetapi, daripada berdiam diri dan menunggu kematian memelukmu, apakah tidak lebih baik kau berusaha lebih dulu untuk melangkahi kematian itu sendiri?”


“Melangkahi kematian?” Xavier terkekeh, menguraikan ketegangan di antara mereka. “Pilihan kata-katamu cukup menarik tetapi kurasa cukup mustahil. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri dan aku yakin bahwa diriku tidak memiliki kekuatan untuk melangkahi kematian itu.” Lelaki itu memalingkan muka, seolah hendak mengabaikan perkataan Sera.


Tetapi, tentu saja Sera tak akan menyerah semudah itu, dia harus berhasil membuat Xavier bertahan, setidaknya, dia harus berhasil membuat Xavier mendapatkan semangat hidupnya kembali dan mau mencoba melakukan transplantasi menggunakan sel punca anak mereka.


“Aku tadi sudah bilang, bukan? Kau tak akan tahu kalau kau belum mencoba.” Sera mendongkkan dagu dan mengulangi kata-kata yang sebelumnya telah dia ucapkan untuk menegaskan maksudnya. Dia mulai menyadari bahwa satu-satunya jalan yang bisa dia tempuh untuk membuat Xavier yang keras kepala itu berubah pikiran, adalah dengan mengusik harga diri Xavier. “Apakah kau sebegitu pengecutnya hingga kau tak berani mencoba?”


“Apa maksudmu dengan menyebutku pengecut, Sera? Apakah kau sedang sengaja memancing naluri lelakiku untuk menjawab tantangan karena kau meremehkan dan menghinaku?”


Sayangnya, Xavier bisa membaca pancingan Sera dengan sangat tepat. Sungguh susah jika harus bertarung kata menghadapi lelaki yang sepenuhnya jenius, Xavier seolah-olah bisa berjalan beberapa langkah jauhnya dari dirinya, membuat segala strateginya langsung tertebak bahkan sebelum bisa berjalan.


“Ya, aku mungkin memang sengaja mengusik harga dirimu. Namun, bukankah apa yang kukatakan itu adalah kebenaran? Kenyataan bahwa prosedur transplantasi itu berisiko tinggi membuatmu tak mau melakukannya, bukan? Itu semua karena kau pengecut dan arogan. Kau tak ingin diatur oleh suratan takdir. Kau tak ingin mati di atas meja operasi karena itu berarti kau dikalahkan oleh takdir. Kau ingin menentukan kematianmu sendiri, bersikap arogan seolah-olah kaulah yang menjemput kematianmu dan bukan kau yang menjemputnya.” Sera mengangkat dagu, berjuang dengan kekuatan penuh untuk memprovokasi lelaki di depannya ini. “Pada intinya, kau sangat egois, Xavier. Di saat kau sibuk memikirkan dirimu sendiri, di saat kau mempersiapkan kematianmu sendiri, kau lupa bahwa ada aku yang sedang mengandung darah dagingmu dan kami masih hidup di sini.”


Perlahan Sera mengucapkan kalimat pamungkasnya lambat-lambat, berharap bisa memukul mundur kekeraskepalaan Xavier dengan senjata terakhirnya.


“Aku tak akan pernah menjelek-jelekkanmu di depan anak kita nanti. Ketika dia dewasa dan bisa menerima penjelasanku, aku akan menjelaskannya dengan gamblang apa yang terjadi. Aku akan menjelaskan tentang keputusanmu yang tak mau berjuang, juga tentang pilihanmu untuk menjemput kematianmu dan meninggalkannya. Tak ada yang kutambahi dan kukurangi, aku akan jujur sejujur-jujurnya kepada mereka. Namun, setelah mendengar keputusan dariku, apakah kau tidak berpikir bahwa kemungkinan besar anak-anak kita akan menyimpan rasa benci dan kecewa kepadamu? Ayah mereka bahkan tidak mau berjuang untuk bersama mereka lebih lama lagi.”


Perkataan Sera itu jelas berhasil memukul Xavier seperti yang diniatkan oleh Sera sebelumnya. Lelaki itu tertegun, seolah-olah otak jeniusnya tak mampu bekerja.


Lama kemudian, ketika Xavier akhirnya berhasil berucap, suaranya terdengar lambat-lambat dan penuh perhitungan.


“Sel punca itu bisa menyelamatkan mereka di masa depan nanti, ketika genetik terkutukku itu nantinya menurunkan penyakit anemia aplastik ini kepada mereka,” geramnya perlahan ke arah Sera.


Sera ikut menipiskan bibir, menguatkan tekadnya.


“Dokter Nathan bilang bahwa kemungkinannya cukup kecil. Lagipula, jika itu sampai terjadi, anak-anak kita akan memiliki satu sama lain. Jika mereka memang kembar, maka memiliki saudara untuk menopang mereka. Mereka bisa saling membantu satu sama lain jika suatu saat nanti hal terburuk terjadi kepada mereka.” Sera menengadah, tak bisa menahan dirinya untuk menyentuh pipi Xavier, memaksa lelaki itu menunduk dan menatap langsung kedalaman matanya. “Bisakah sekali saja kau pikirkan dirimu sendiri? Maukah kau mencoba demi anak-anak kita?” tanyanya dengan sikap menuntut yang tak mau menerima bantahan.


Xavier menunduk dan menatap mata Sera, tatapannya tajam menyelisik seolah-olah ingin membaca apa yang ada di dalam hati Sera. Setelahnya, lelaki itu menghela napas tajam, sementara napasnya terembus setengah putus asa ketika dia akhirnya berucap.


“Kau bilang kau akan menambahkan klausul itu dalam perjanjian kita, dan aku juga berhak menambahkan satu klausul baru. Jika aku setuju untuk menggunakan sel punca dari plasenta itu dalam proses transplantasi untuk kesembuhanku, maka itu berarti kau harus menyetujui satu klausul persyaratanku yang akan kuajukan, bukan?”


Sungguh lelaki yang tak tahu malu. Sera tak bisa menahan diri untuk menipiskan bibir setengah jengkel. Dia berjuang supaya Xavier mau melakukan prosedur transplantasi dengan memanfaatkan sel punca dari plasenta anak-anak mereka nanti, itu semua selain untuk anak-anaknya, juga terutama untuk keselamatan Xavier sendiri.


Namun, sekarang tanpa malu-malu lelaki itu meminta imbalan satu klausul persyaratan kepada Sera?


Sera memang memberikan penawaran tadi, semata-mata demi menjanjikan keadilan kepada Xavier, tetapi dia tak menyangka kalau Xavier akan menyambarnya tanpa tahu malu.


Mata Xavier yang tajam tentu saja langsung bisa menebak apa yang ada di dalam benak Sera. Lelaki itu menyeringai, lalu mengangkat bahu seolah tak bersalah.

__ADS_1


“Kau sendiri yang mengajukannya, Sera. Apakah kau hendak menarik sendiri apa yang tadi kau janjikan?” ujarnya dengan nada bersalah yang menjengkelkan.


Sera menipiskan bibir, menatap Xavier dengan berhati-hati. Dia tahu bahwa menawarkan sesuatu secara bebas kepada Xavier adalah tindakan sembrono yang mungkin akan disesalinya nanti.


Lelaki itu sangat lihai, bisa saja Xavier mengajukan satu klausul yang sangat merugikan Sera jika dia mau, bukan?


“Jangan berprasangka padaku, aku tak akan menyulitkanmu dengan sengaja.” Xavier menyeringai, matanya berbinar licik yang membuat Sera malahan merasa semakin was-was.


“Katakan saja apa klausulmu dan aku akan mempertimbangkan apakah itu bisa diterima atau tidak.” Sera akhirnya menyahuti seolah terdesak. Dia memang tak punya pilihan lain.


“Serafina Moon.” Xavier menggerakkan jemarinya dan menyelipkan rambut Sera yang terurai ke belakang telinganya. “Kau memintaku tetap hidup supaya aku bisa tetap ada untuk anak-anakmu. Sebagai gantinya, aku ingin kau menjadi istriku yang sesungguhnya.”


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Yours Sincerely


AY


 


 


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2