
“Regas,”
Xavier memberi isyarat kepada Regas yang sejak tadi memilih berdiri kaku dan menjaga jarak dari mereka berdua untuk mendekat. “Kemarilah, duduklah bersama kami,” perintah Xavier dengan nada tegas.
Regas menelan ludah, matanya memandang ke arah Xavier, lalu berganti ke arah Akram yang duduk dengan wajah muram mengerikan di atas sofa dan jantungnya seketika berdebar kencang karena meragu.
Dua manusia di depannya ini adalah dua makhluk paling berbahaya yang mungkin hidup di dunia ini. Regas bahkan sudah menggunakan seluruh keberaniannya yang tersisa untuk bekerjasama dengan Dimitri di belakang punggung Xavier. Dan sekarang…. duduk dan minum bersama dengan Akram serta Xavier terasa bagaikan ujian berat yang harus dilaluinya dengan mengorbankan nyawa.
Tetapi, tidak ada pilihan lain. Sekarang Regas adalah asisten Xavier, dan perintah dari atasannya adalah perintah absolut yang tak boleh dibantah.
Maka, dengan langkah perlahan dan lutut gemetaran, Regas mengambil duduk di sofa yang menghadap ke arah Xavier dan Akram yang tengah duduk berhadap-hadapan.
Xavier mengambil minuman yang disiapkannya, lalu dengan santai meletakkan gelas minuman itu di depan Regas dan Akram.
“Minumlah, sambil mengobrol, masih beberapa saat lagi sebelum Lana selesai,” ujarnya dengan nada santai.
Regas menurut, mengambil minuman berwarna keemasan yang beraroma lezat itu dan mencicipinya dengan senang. Itu adalah champagne terbaik yang disajikan oleh Xavier bagi Akram Night, dan dia bersyukur karena dirinya ternyata juga mendapat kesempatan untuk mencicipinya.
Sementara itu, Akram bergeming ketika menerima tawaran minum Xavier dan malahan menatap Xavier dengan muram.
“Kau sudah tahu bahwa aku tak akan pernah mencicip apapun yang kau sajikan dengan tanganmu,” mata Akram menyipit. “Siapa yang tahu racun tak berasa macam apa yang sudah kau letakkan di dalam sana?” sambungnya dengan nada sinis penuh tuduhan.
Mendengar kalimat Akram yang tak terduga, seketika itu juga Regas hampir menyemburkan minuman yang tadinya sudah masuk ke tenggorokan. Dengan ekspresi ngeri, ditatapnya gelas minuman di tangannya lalu beralih takut-takut ke arah Xavier yang ternyata sedang menatapnya dengan senyuman terurai di bibirnya.
“Kenapa kau ketakutan, Regas? Apakah kata-kata Akram membuatmu berpikiran buruk terhadapku? Bagaimana mungkin aku meracunimu? Kau adalah asistenku yang setia dan kehadiranmu sangat membantuku menyelesaikan segala urusanku. Akan jadi apa diriku ini jika kau tak ada?” ujar Xavier dengan suara lembut mengalun yang nadanya bisa membunuh semua prasangka.
Regas menelan ludah. Meskipun dia sudah teryakinkan bahwa anggur di tangannya tak teracuni, entah kenapa dia kehilangan selera untuk mereguk anggur itu. Diletakkannya gelasnya dan mencoba memasang ekspresi datar sambil mengawasi interaksi antara Xavier dan Akram.
Sungguh merupakan kesempatan langka untuk bisa melihat dua makhluk buas yang biasanya siap saling membunuh satu sama lain itu kini duduk dengan tenang berhadap-hadapan tanpa ada darah yang tertumpah.
“Kenapa kau malah di sini?” Akram bersedekap dengan ekspresi dingin mencela, memulai percakapan dengan enggan untuk memecahkan keheningan yang mencekik tenggorokan.
Xavier melakukan gerakan yang sama dengan Akram, bersedekap dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tetapi postur tubuhnya berkebalikan dengan Akram yang duduk tegak dengan tegang, Xavier tampak santai, menyilangkan kakinya dengan serampangan sementara senyum malas tak juga lepas dari bibirnya.
“Kenapa aku tidak boleh di sini?” balasnya malah balik bertanya.
Akram mengerutkan kening. Pandangan matanya tampak menyapu arah lorong yang diketahuinya merupakan lorong tempat Elana didorong ke sana tadi pagi.
“Bukankah kau memaksakan mencuri waktu Elana dengan tujuan untuk merayu Elana supaya jatuh hati kepadamu? Sekarang kau malah menghabiskan waktu di sini bersamaku dan menjilat ludahmu sendiri. Kau juga bilang tidak mengizinkan aku datang ke tempat ini untuk menemani Elana, kenapa kau berubah pikiran?”
Xavier menyeringai. “Mungkin aku hanya membutuhkan teman minum. Lagipula, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan,” jawabnya dengan nada misterius.
“Apa maksudmu?” Akram menyambar sementara matanya menyipit curiga.
“Kepastian,” Xavier menjawab tenang sementara seringaiannya makin lebar melihat Akram semakin mengerutkan kening.
__ADS_1
“Kepastian?” Akram mengulang kalimat Xavier dan menambahkan nada pertanyaan di sana. Wajahnya menggelap ketika dia mengajukan pertanyaan dengan nada menuntut. “Kepastian tentang apa dan siapa?”
“Kepastian tentang Lana,” Xavier masih saja bermisteri. Matanya mengawasi Akram untuk melihat reaksinya. “Yang pasti kau bisa tenang. Aku tidak akan membunuh Lana jika itu yang kau takutkan,” sambungnya kemudian, sengaja menyelipkan kalimat provokatif di sana.
Ekspresi Akram menggelap. “Aku tidak pernah takut kepadamu,” geramnya marah.
“Tapi kau takut aku merenggut dan menghancurkan Elana darimu, bukan?” dengan nada sinis Xavier menyahut.
Kalimatnya langsung menohok ke dalam hati Akram, membuat lelaki itu tertegun sejenak. Tetapi, dengan cepat Akram bisa menguasai diri dan memandang sinis ke arah Xavier.
“Sedikit saja kau menyentuhkan tanganmu ke perempuanku, akan kupotong-potong kau hingga tak berbentuk lagi…”
“Whoaa… seharusnya akulah psikopat pembunuh di sini, kenapa kau jadi lebih haus darah daripada aku jika menyangkut Lana?” Xavier terkekeh sambil menyela perkataan Akram, ekspresinya tampak tenang meskipun dia baru saja mendengar ancaman mengerikan dari mulut pria paling berbahaya. “Tidak usah cemas, Akram. Aku sudah bilang tidak akan menyakiti apalagi membunuh Lana, kau bisa tenang sekarang.”
“Kalau begitu, masih perlukah pertemuan satu kali lagi untuk memberikan serum penawar pada Elana di rumahmu? Kau bisa memberikan serumnya padaku dan tim medisku akan menanganinya sebaik penanganan Elana di sini,” Akram menyambar kesempatan itu untuk bernegosiasi.
Tetapi, Xavier malah mengangkat satu alisnya.
“Tidak. Kompromi kita tetap berjalan seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya. Tidak mencoba merayu Lana lagi bukan berarti aku tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya,” untuk saat ini Xavier terlalu pengecut untuk menghadapi Elana karena dia belum mampu menata perasaannya sendiri. Tetapi nanti, sungguh, Xavier yakin dia akan sangat menikmati kesempatan sempit untuk menghabiskan waktu terbatasnya bersama Elana, meskipun sama sekali tidak ada motif menyangkut rayuan asmara di baliknya.
“Untuk apa lagi kau perlu menghabiskan waktumu bersama Elana?” sekali lagi Akram menggeram, kali ini tangannya mengepal penuh kemarahan.
Xavier mengangkat alis. “Aku senang menghabiskan waktu bersama Lana. Dia membuat hatiku tenang. Kau tentu juga merasakannya, bukan?” Xavier menunggu untuk mendengarkan jawaban dari Akram, tetapi tak didapatkannya. Adiknya itu tetap menutup mulut dengan ekspresi luar biasa muram, menolak memberikan jawaban untuk memuaskan Xavier. “Berada bersamanya seperti berada di dekat Marlene, ibu kita.”
“Marlene ibuku. Dan dia bukan ibumu,” Akram menyela dengan suara sinis. “Apakah kau lupa bahwa kau sudah dikeluarkan dari garis keluarga dan bukan lagi anggota keluarga Night?”
“Aku mungkin telah dikeluarkan dari garis keluarga. Tetapi ikatan di dalam hatiku tetap sama kuatnya. Bagiku, Marlene adalah ibuku.” Sahut Xavier tenang.
Xavier tertegun mendengar kalimat Akram tersebut. Sekilas ada kepedihan samar terlintas di matanya, tetapi hanya dalam beberapa detik Xavier sudah berhasil menyingkirkannya. Lelaki itu malahan menoleh ke arah Regas yang sejak tadi terpaku diam dan mengawasi interaksi kedua orang di depannya tanpa berani bergerak, lalu menyeringai penuh makna.
“Kau telah mendengarkan percakapan paling pribadi antara dua saudara, Regas. Biasanya, orang luar yang mendengar ini akan kubunuh hingga mulutnya tak bisa membuka kepada siapapun,” senyum Xavier luar biasa manisnya. “Tetapi, kau adalah asisten yang begitu penting bagiku untuk saat ini. Asal kau menutup mulutmu, maka kau tetap hidup.”
“Sa… saya akan menutup mulut,” Regas menjawab cepat, wajahnya pucat pasi sementara dia menghitung detik dalam batinnya. Betapa inginnya dia melepaskan diri dari siksaan menegangkan yang membuat debar jantungnya mengencang tak terkendali seperti saat ini. Betapa inginnya dia agar perempuan bernama Elana itu lekas keluar dari ruang perawatan sehingga dia bisa segera melakukan tugasnya.
Regas sudah didera kecemasan setengah mati malam ini, dilanda banjir adrenalin karena menanti perwujudan rencana yang sudah pasti akan menguras seluruh nyalinya sampai tak bersisa. Dan seolah itu semua belum cukup menegangkan, dia malahan dilibatkan di tengah pertikaian dua bersaudara yang sama-sama mengerikannya.
Bisa-bisa dia mati lebih dahulu karena serangan jantung sebelum rencananya terwujudkan…
Mata Regas menyadari bahwa Xavier tengah mengawasi reaksinya dengan saksama. Atasannya yang mengerikan itu memang selalu bersikap seperti itu kepada siapapun. Menatap tajam ke arah orang lain sementara apa yang ada di dalam kepalanya tidak tertebak.
Xavier sangat teliti sehingga tidak ada satupun yang bisa lolos dari mata tajamnya. Tetapi entah kenapa malam ini, Regas benar-benar merasa tidak nyaman diawasi di bawah mata Xavier yang tajam. Mungkin karena saatnya sudah mendesak ke detik-detik aksinya, atau memang suasananya sangat menegangkan dengan kehadiran Akram Night di ruangan ini, Regas tidak tahu.
“Kurasa sudah waktunya,” Xavier tiba-tiba mengalihkan pandangan dari Regas dan melirik jam tangannya. Ketika dilihatnya Regas sedikit kebingungan, Xavier mengangkat alisnya. “Kau kelihatan tak pucat dan tak fokus hari ini, Regas, apakah kau sakit?” tanyanya menelisik.
Regas langsung menelan ludah. “Tidak, Tuan Xavier. Saya hanya kurang tidur…” sahutnya memberi alasan paling tidak mencurigakan yang dia bisa.
Xavier tersenyum lebar. “Mimpi buruk?” tebaknya tajam. “Aku punya obat penenang yang bisa membuatmu tidur nyenyak kalau kau mau.”
__ADS_1
Menerima obat dari Xavier sama saja dengan bunuh diri, Regas tahu itu. Tetapi, tentu saja dia tidak punya nyali untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
“Te… terima kasih Tuan, Anda sangat baik,” sahutnya terbata.
Xavier masih tersenyum, lalu menggerakkan tangannya memberi isyarat. “Sudah waktunya Lana menyelesaikan proses infus serum ke tubuhnya. Lihatlah apakah tim medis sudah menyelesaikan tugas mereka di sana, dan bawalah Lana kemari.”
“Baik, Tuan!”Merasa mendapatkan sekoci penyelamat, Regas langsung bangkit dari duduknya dan tergopoh-gopoh berjalan dengan langkah cepat menuju arah lorong tempat kamar perawatan Elana berada.
Setelah Regas menghilang dan langkahnya tak terdengar lagi, Akram yang sejak tadi mengawasi interaksi antara Xavier dengan asistennya itu menyipitkan mata dan menatap Xavier dengan tatapan datar penuh pengetahuan.
“Kau memuji-muji asistenmu setinggi langit tetapi kau meracuninya?”
Xavier bahkan tidak mengedipkan mata sekalipun mendengar pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan tersebut.
“Apa maksudmu, Akram?” sahutnya tenang terkendali.
“Jangan kau pikir aku bodoh, Xavier. Kau sengaja menempatkan asistenmu di tengah-tengah percakapan dan membuatkan minuman khusus untuknya. Dia terlalu tegang karena berada di antara kita sehingga dia kehilangan kewaspadaannya, lalu menenggak minuman itu tanpa prasangka. Kau pikir aku tidak akan bisa melihat bahwa kau telah meracuninya?” Akram menyatakan kepastian dalam suaranya, membuat Xavier tidak bisa mengelak lagi.
“Ah, aku memang selalu terbaca olehmu.” Xavier akhirnya memutuskan untuk mengaku. “Ya, aku meracuninya, dengan racun penghancur darah yang akan membunuhnya dengan cara yang sangat menyakitkan tak lama lagi. Kau tahu kenapa?” tanya Xavier kemudian.
Akram menipiskan bibir. “Aku tidak pernah ingin tahu urusan internalmu. Kau bisa membunuh ratusan anak buahmu dan aku tak akan peduli,” sahutnya dengan nada dingin.
Xavier terkekeh. “Kali ini kau akan peduli, Akram. Aku meracuninya karena telah memastikan bahwa dia adalah pengkhianat. Sikap tunduknya yang palsu membuatku curiga dan meminta orang terbaikku untuk menyelidiki latar belakang Regas. Tetapi, latar belakang Regas begitu sempurna hingga orang terbaikku pun tak menemukan celah. Butuh waktu dan kerja keras begitu lama sampai akhirnya mereka menemukan retak tak sempurna di permukaan latar belakang Regas. Adiknya, yang memiliki nama keluarga berbeda dengannya karena ibunya menikah lagi ketika mereka berdua masih bayi, ternyata adalah salah satu korbanku.”
“Korban yang kau bunuh?” Akram menyahut dan bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.
“Ya, tentu kubunuh. Adiknya adalah pengkhianat yang mencoba mencuri uangku. Dan sekarang, kakaknya datang kepadaku untuk menuntut balas. Dia saat ini mungkin merasa puas telah menjadi orang terdekatku. Tetapi, yang dia tidak tahu, adalah dia bisa mencapai posisi ini karena aku membiarkannya. Dan malam ini adalah puncaknya, kita akan melihat pertunjukan penuh darah ketika racun ini bereaksi dan tubuh Regas meleleh karena seluruh pembuluh darahnya hancur. Itu adalah senjata biologis terbaru produk dari labiratoriumku, kurasa aku bisa mendemonstrasikannya kepadamu secara langsung dengan Regas sebagai sampelnya, siapa yang tahu bahwa kau akan tertarik dan memutuskan menggabungkannya dengan produk senjatamu? Mungkin dua perusahaan kita nanti bisa bekerjasama ke depannya?” tawar Xavier dengan senyuman persuasif.
Akram langsung menggelengkan kepala tipis.“Kau mendapatkan musuh yang ingin membalas dendam, itu semua karena perbuatanmu sendiri. Itu tak ada hubungannya denganku,” ekspresi Akram berubah jijik ketika memandang Xavier. “Dan tidak, aku tidak ingin melihat demonstrasi racun menjijikkan itu, pun aku tidak akan tertarik menggunakannya untuk disatukan dengan pengembangan teknologi senjata di perusahaanku. Cara membunuhmu kotor dan berantakan, sedang aku lebih menyukai yang bersih tanpa jejak. Dua metode yang bertolak belakang itu tak akan bisa disatukan,”
“Ah, bahkan aku sudah ditolak sebelum memulai penawaran…” Xavier sama sekali tidak tampak tersinggung. Lelaki itu membuka mulut hendak berbicara, tetapi suaranya terhenti ketika terdengar langkah kaki dan gerakan dari lorong di belakangnya.
Akram langsung berdiri dari duduknya, sementara Xavier menolehkan kepala dengan mata melembut ketika melihat Elana yang datang dengan Regas di sampingnya dan petugas medis yang mendorong kursi rodanya mendekat.
Tadi pagi Elana datang dengan tubuh pucat dan tampak lemah, tetapi sekarang, setelah mendapatkan infus serum penyembuh tahap kedua, kondisinya tampak jauh lebih baik. Ada rona di kulitnya yang membuat wajahnya tampak cantik, pun dengan binar di matanya yang tampak bersemangat setelah seharian tertidur karena imbas serum penawar tersebut.
“Akram?” mata Elana melebar terkejut ketika menemukan Akram yang melangkah mendekatinya. Tidak disangkanya Akram bisa memasuki rumah Xavier, bahkan duduk menunggu bersama Xavier di ruang tamu rumah ini tanpa saling membunuh.
“Kau tampak lebih baik, Lana,” Xavier sengaja mengganggu Akram dan melangkah mendekat terlebih dahulu ke arah Elana. “Aku senang karenanya,” dengan sengaja Xavier melirik ke arah ekspresi Akram yang menggelap, dan dia tidak bisa menahan diri untuk memprovokasi adiknya itu. “Terima kasih atas pelukan menenangkan yang kau berikan kepadaku, kau memberiku kedamaian yang luar biasa hingga aku kehilangan pertahanan diriku dan terlelap dalam pelukanmu. Aku sangat menghargainya, Lana.” Ucapnya dengan nada lambat-lambat, memastikan bahwa Akram mendengarkan kalimatnya dengan jelas.
Wajah Elana berubah pucat pasi, sementara wajah Akram sebaliknya. Ada gurat merah penuh bara kemarahan yang langsung mengubah ekspresi Akram menjadi sangat mengerikan.
“Pelukan?” tanya Akram dengan nada menggeram bersalut murka.
***
__ADS_1
***