
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Memangnya aku tidak pantas untuk tersenyum senang?” Xavier berucap dengan nada tak suka ketika dia mendapati sinar mata penuh pertentangan dari dokter Nathan yang masih terus mengawasinya dengan curiga.
Dokter sialan itu sampai menuduhnya telah membenturkan kepala atau bahkan sudah gila hanya karena dia tersenyum bahagia.
Memangnya kenapa kalau dia memasang senyum senang dengan seringai lebar terpasang di wajahnya? Dia mendapatkan pengalaman berharga ketika jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan cintanya itu ternyata berbalas. Wajar kalau dia terus menyeringai karena senang bahkan ketika tubuhnya terasa sangat lelah.
Wajahnya tak mungkin semengerikan itu ketika tersenyum lebar karena hatinya bahagia, bukan? Bukankah ketampanan dan keindahan penampilan fisiknya adalah salah satu aset terbaiknya? Orang bilang dengan Xavier yang diam tanpa ekspresi saja, dia sudah sangat memesona, dia sangat yakin bahwa pesonanya akan semakin bertambah jika dia menambahkan senyum manis di bibirnya.
Tentu saja Xavier tidak bermaksud menebarkan pesonanya kemana-mana. Dia sudah berjanji untuk menebarkan pesonanya hanya kepada Sera, jadi mulai dengan detik ini, dia akan berjuang lebih keras lagi untuk membuat Sera semakin dan semakin terpesona kepadanya.
Dokter Nathan mendekus ketika matanya mengawasi perubahan ekspresi Xavier tersebut.
“Bukannya tak pantas. Hanya saja terasa aneh dan mengerikan. Khususnya bagiku yang bahkan dalam mimpi terburukku pun tak pernah membayangkan kau akan bertingkah seperti ini,” jawabnya jujur. “Kau tidak biasanya seperti ini. Kurasa apapun penyelesaian masalah menyangkut Sera semalam, berakhir dengan memuaskan,” simpulnya kemudian.
Xavier menganggukkan kepala.
“Amat sangat,” jawabnya kemudian dengan nada pasti yang benar-benar mencerminkan kepuasan di dalam jiwanya. “Kau tahu rasanya jika kau berpikir bahwa selama ini cintamu bertepuk sebelah tangan, tetapi kemudian kau sadar bahwa kenyataannya tidak semenyedihkan itu? Cintamu ternyata bersambut dengan cinta yang sama besarnya. Itu sangat membahagiakan, aku bahkan tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.”
Dia memohon pengampunan Sera untuk mendapatkan penebusan dan dimaafkan. Namun, siapa yang menyangka bahwa dia juga mendapatkan cinta perempuan itu? Seorang lelaki yang waras sudah tidak akan berani meminta lagi jika mendapatkan anugrah yang sangat berlebihan ini.
Dokter Nathan berdehem.
“Aku bisa melihatnya dari seringai lebarmu yang mengerikan itu,” ejeknya sedikit mencemooh. “Jadi kau datang kemari pagi-pagi hanya untuk memberitahuku bahwa cintamu berbalas dan kau ingin menyombongkan diri di hadapanku?” sang dokter mendesah seolah kelelahan. “Seolah aku masih belum cukup sial karena harus menangani Akram yang jadi seperti orang bodoh karena tergila-gila dengan Elana, sekarang aku harus menangani dirimu juga?”
Xavier tersenyum mendengar perkataan dokter Nathan, matanya menatap tajam ketika menjawab kemudian.
“Ah, aku dulu juga seperti dirimu,” ucapnya kemudian dengan nada misterius yang memancing ingin tahu.
“Apanya yang seperti diriku?” Pancingannya berhasil, dokter Nathan langsung bertanya dengan ekspresi penasaran.
Xavier menyeringai.
“Ketika aku melihat bagaimana Akram mendedikasikan dirinya untuk mencintai Elana, aku menganggap itu sebagai sesuatu yang konyol. Yah, aku juga menyukai Elana, tapi pada waktu itu aku berpikir bahwa menyerahkan hati sepenuhnya pada seorang wanita, merupakan sebuah kelemahan yang tak bisa ditoleransi. Menyerahkan hati kita yang berharga hanya untuk mencintai sepenuh hati seorang manusia hanya akan membuat kita lemah, itulah kesimpulanku waktu itu.” Xavier menghela napas panjang ketika dia dia mendapatkan penerimaan diri yang ternyata membuat hatinya terasa lebih nyaman. “Tetapi sekarang, ketika aku berada di posisi Akram, aku menyadari bahwa mempercayai orang lain untuk menjaga hati kita merupakan sokongan kekuatan yang sangat nyata. Menyadari bahwa ada orang yang mencintai kita membuat kita merasa lebih kuat dibandingkan siapapun.”
Mata Xavier menatap ke arah dokter Nathan, lalu berucap dengan nada yakin.
“Kau bersikap skeptis seperti diriku yang dulu, tetapi aku yakin, begitu nanti kau sudah merasakan cinta, kau akan setuju dengan diriku.”
Dokter Nathan kembali mendekus, menunjukkan ketidaksetujuannya dengan gamblang.
“Aku suka wanita, tapi aku tak akan jatuh cinta. Aku tak akan menyerahkan hatiku pada satu wanita lalu menyerah dan bertekuk lutut tanpa daya seperti kalian. Aku tak akan menjadikan satu wanita sebagai sumber kelemahanku.” ucapnya kemudian dengan nada penuh tekad. “Aku tak akan menjadi seperti kau dan Akram.”
Xavier terkekeh mendengar kalimat dokter Nathan itu. Dia tidak menyanggah, tak pula mengatakan apa-apa. Yah, hal-hal menyangkut cinta memang tak bisa diargumentasikan dengan kata-kata. Itu semua hanya bisa dirasakan dengan pengalaman langsung. Dan Xavier berharap kalau dokter Nathan akan cukup beruntung di masa depan nanti sehingga bisa merasakan jatuh cinta sepenuh hati kepada seorang wanita seperti yang dirasakannya sekarang.
“Ngomong-ngomong, aku bukannya kemari untuk menyombongkan tentang kisah cintaku kepadamu.” Suara Xavier berubah serius kemudian ketika dia mulai membahas permasalahan inti yang membuatnya datang menemui dokter Nathan pagi ini. “Aku datang untuk membicarakan dokter Oberon.”
“Ah mengenai itu.” Ketika mendengar nama dokter Oberon disebut, ekspresi wajah dokter Nathan langsung mencerminkan keseriusan yang sama. “Begitu kau meneleponku dan memberitahukan kecurigaanmu, aku langsung meminta bantuan Elios dan beberapa orang terpercaya untuk melakukan penyelidikan.” Dokter Nathan meletakkan setumpuk mam berkas kepada Xavier dan juga microchip data mini yang berukuran sangat kecil di dalam kotak hitam yang membungkusnya untuk menjamin keamanannya.
“Semua itu adalah seluruh himpunan data yang berhasil didapatkan menyangkut dokter Oberon, baik itu data resmi maupun data yang didapatkan secara ilegal sekalipun.” Dokter Nathan megerutkan keningnya dalam. “Sayangnya, sama sekali tidak ada yang mencurigakan dari hasil penyelidikan itu.”
Xavier mengambil berkas itu dan membacanya dengan saksama. Dia membolak-balik kertas berkas itu dengan kecepatan tinggi dan mampu memindai serta menghapal semua data yang tertulis di luar kepalanya dalam waktu singkat.
“Tidak ada laporan keanehan darinya akhir-akhir ini? Seperti perubahan kebiasaan mendadak atau laporan perubahan perilaku yang tidak biasa?” Xavier bertanya pelan, menatap tajam ke arah dokter Nathan.
Dokter Nathan menggelengkan kepala.
“Tidak ada. Bagaimanapun, kenyataan bahwa dokter Oberon memang seorang penyendiri membuat penyelidikan lebih sulit. Dia tidak banyak berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja. Dia selalu datang tepat waktu ke tempat kerja, lalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, sebelum kemudian pulang ke rumahnya. Ketika pulang ke rumahnya pun, dia biasanya hampir tidak pernah keluar lagi dan baru keluar esok hari ketika dia berangkat te tempat kerja lagi.”
“Tidak ada catatan ke luar negeri?” Xavier bertanya dengan cepat.
Dokter Nathan menggelengkan kepala.
“Jangankan ke luar negeri. Sudah kubilang, catatan absensi dokter Oberon sangat sempurna. Dia datang ke tempat kerja tempat waktu dan pulang pada jam yang ditentukan, tak kurang dan tak lebih. Dia juga tidak pernah izin kerja sama sekali. Catatan kehadirannya sempurna di bulan ini, sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Dengan kondisi seperti itu, jangankan ke luar negeri, ke luar kota pun sepertinya dia tak mungkin melakukannya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan kegiatannya di akhir pekan? Apakah dia menemui orang-orang tertentu?” Xavier masih mengejar dengan pertanyaan, seolah tak puas dengan informasi yang didapatnya.
“Tidak. Dokter Oberon tidak punya keluarga, dia juga tidak menikah. Dari laporan yang didapat dari pengamatan terhadap kamera pengawas di area apartemennya, dia juga tidak pernah keluar rumah ketika akhir pekan. Dia hanya keluar rumah sekali pada hari sabtu untuk menjalani konseling kecanduan alkohol di rumah sakit ini. Konseling itu berlangsung tiga jam, dan setelahnya, dokter Oberon selalu langsung pulang ke rumahnya dan tak keluar lagi.”
Mata dokter Nathan tiba-tiba mengerjap seolah-olah dia teringat sesuatu.
“Ah, aku baru ingat. Sudah dua minggu ini dokter Oberon tidak menjalani konseling kecanduan alkoholnya.”
Mendengar perkataan dokter Nathan itu, Xavier memajukan tubuhnya dengan sikap tertarik.
“Kenapa? Biasanya konseling kecanduan alkohol dilakukan secara rutin, bukan?”
“Yah, bisa dibilang dokter Oberon sudah menjalani konseling kecanduan alkohol itu sejak lama. Kurasa, begitu dia mengalami kecelakaan itu, pada saat itulah dia mulai kecanduan alkohol dan kami kemudian mengarahkannya untuk mengikuti konseling kecanduan alkohol itu. Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan sikap konsistennya menjalani konseling secara teratur, kondisinya memang membaik dari waktu-ke waktu. Namun, aku baru ingat bahwa dua minggu kemarin, psikiaternya menyatakan bahwa dokter Oberon benar-benar bersih dari alkohol sehingga dia memberikan hadiah untuk ‘istirahat’ sebentar dari rutinitas konseling dan menggunakan waktunya untuk menikmati kebebasannya di akhir pekan.”
“Sebagai seorang dokter, apakah menurutmu itu mencurigakan?” Xavier bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Dokter Nathan mengangkat bahu.
“Menurutku -sebagai seorang dokter-, dinyatakan bersih dari kecanduan alkohol setelah bertahun-tahun menjalani konseling dengan catatan perbaikan perilaku yang meningkat setiap waktu, adalah sesuatu yang wajar,” jawabnya dengan jujur. “Hanya saja, pengaturan waktunya cukup tepat, dan itu tentu membuatmu curiga, bukan?” tebaknya tepat sasaran.
Xavier menganggukkan kepala. “Ya. Aku merasa curiga. Bisakah kau mengatur janji temuku kepada psikiater yang menangani konseling kecanduan alkohol dokter Oberon? Dia juga dokter di rumah sakit ini, bukan?”
Kembali dokter Nathan menganggukkan kepala. “Aku akan mengatur janji temu bagimu dengan psikiater itu secepatnya.”
“Aku juga ingin hadir di rapat umum dengan direktur keuangan yang dihadiri oleh semua pemimpin divisi. Rapat semacam itu biasanya diadakan setiap awal bulan untuk pembahasan performa laporan keuangan bulan sebelumnya, bukan?”
Mata dokter Nathan melebar. “Untuk apa kau menghadiri meeting internal seperti itu?”
Xavier menyeringai. “Memangnya aku tidak boleh hadir? Bagaimanapun, aku adalah salah satu pemilik saham di perusahaan Akram. Rumah sakit ini juga termasuk perusahaannya, bukan? Jangan lupakan bahwa aku termasuk salah satu ahli perencanaan keuangan handal di negara ini. Jadi aku termasuk orang yang memiliki kapabilitas untuk memberi masukan menyangkut perencanaan keuangan yang bisa menguntungkan perusahaan.”
“Jika kau melakukannya, kau akan membuat dokter Oberon merasa dicurigai.” Dokter Nathan tampak tidak setuju.
“Dengan dia mendekati istriku kemarin dan mengatakan turut sedih karena penyakit kanker ayah mertuaku sudah tidak bisa diselamatkan pun, sudah layak membuatnya dicurigai.” Xavier menyela dengan cepat, ekspresi wajahnya tampak mengeras.
“Kurasa, sudah bukan waktunya lagi aku bermain cantik. Jika dia adalah dokter Oberon, dia akan mendapatkan peringatan keras dariku karena berani-beraninya mendekati istriku di saat aku tidak sedang mendampinginya. Jika dia ternyata adalah Aaron yang menyamar, maka dia akan sadar bahwa aku sudah mencurigainya dan mengawasinya dengan ketat sehingga dia tak akan bisa berbuat apa-apa.” Sinar keji yang tadi sempat sirna tiba-tiba muncul kembali di mata Xavier. “Ini adalah saat pembuktian, dan aku akan menentukan sikap setelah aku memutuskan apakah dia memang benar dokter Oberon, ataukah dia Aaron yang mencuri identitasnya.”
***
Xavier melangkah mendekat dan bibirnya tersenyum ketika melihat Sera makan dengan lahap hingga hampir menandaskan isi piringnya.
Melihat dari bagusnya selera makan perempuan itu dalam menghabiskan makanannya, sepertinya masakan koki rumah sakit itu tidak mengecewakan.
Xavier berdiri di belakang Sera dan mencomot potongan strawberry yang terdapat di atas sisa potongan pancake yang masih tersedia di piring itu. Dilihatnya Sera mendongakkan kepala ke arahnya, lalu perempuan itu mulai mengomel meskipun bibirnya mengulas senyuman lebar.
“Kau mencuri nutrisi untuk si kembar,” tuduhnya kemudian dengan suara menggerutu.
Xavier terkekeh mendengarnya, strawberry di mulutnya terasa sangat manis dan segar berair, tetapi pemandangan yang tersaji di depan matanya tentunya adalah yang termanis dibandingkan segalanya.
“Kurasa si kembar telah mendapatkan cukup banyak nutrisi.” Mata Xavier menyapu piring-piring kosong di atas meja makan yang semua isinya hampir ditandaskan seluruhnya oleh Sera. “Mengingat betapa kosongnya tampilan sajian sarapan pagi ini,” sambungnya kemudian sambil tersenyum menggoda.
Seketika Sera menundukkan kepala malu. Ketika Xavier mengambil tempat duduk di sebelahnya dan mengambil sepotong roti tawar yang tersisa lalu mengoleskan selai kacang ke permukaannya, Sera akhirnya mendongakkan kepala kembali dan menatap Xavier dengan penuh rasa bersalah.
“Maaf, aku... aku menghabiskan sarapannya,” ucapnya kemudian malu-malu. “Kau tahu... aku lapar sekali pagi ini.’
Kekehan Xavier berubah menjadi tawa. Lelaki itu lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Sera, menularkan keceriaan di bibirnya ke bibir lembut istrinya itu.
“Kau tahu pepatah apa yang kudengar dari orang-orang di sekitarku?” Xavier kemudian bertanya dengan nada misterius, membuat Sera langsung mengerutkan keningnya dengan curiga.
“Pepatah apa?” tanyanya kemudian penasaran ketika Xavier tak juga menjelaskan.
Mata Xavier berbinar. “Ada orang yang mengatakan kepadaku bahwa perempuan itu adalah makhluk yang mendapatkan keistimewaan, karena mereka selalu benar.”
Sera langsung tersenyum lebar ketika mendengar perkataan Xavier tersebut.
“Aku menyukai pepatah itu dan sangat menyetujuinya,” sahutnya kemudian sambil terkekeh senang.
“Kau akan lebih menyukai apa lanjutan dari pepatah itu. Orang yang kukenal itu juga mengatakan bahwa perempuan hamil berkali-kali lipat lebih istimewa dibandingkan perempuan biasa.”
“Kenapa?” Sera tampak benar-benar tertarik dengan pembahasan mereka. Tubuhnya condong mendekat ke arah Xavier, dan matanya berbinar dengan penasaran seolah tak sabar menanti jawaban.
“Karena jika seorang perempuan adalah kebenaran, maka pendapat perempuan hamil adalah sebuah keabsolutan.” Xavier tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh Akram Night kepadanya yang dulu tidak dipercayainya tetapi sekarang diterimanya dengan senang hati.
__ADS_1
Xavier kemudian menatap Sera dengan penuh sayang dan mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi istrinya lembut.
“Jadi, kau bisa makan banyak semaumu dan tak akan ada yang menyalahkanmu. Kau bahkan boleh mendatangi restoran kesukaanmu, menutupnya untuk umum dan menghabiskan semua hidangan di sana, bukan masalah, aku akan membayar semua makanan yang kau habiskan hingga kau bisa makan sepuasnya.”
Sera tertawa tetapi perempuan itu menggerakkan tangannya untuk memukul pelan lengan Xavier.
“Aku memang kelaparan, tapi aku tidak selapar itu sampai menghabiskan seluruh hidangan yang tersaji di restoran,” bantahnya sambil terkikik geli.
“Yah kau mungkin tidak mampu makan sebanyak itu, tetapi siapa yang tahu kalau si kembar di dalam sini ternyata mampu?” Xavier menarik kursi Sera supaya menghadap ke arahnya, dia sendiri juga duduk menghadap perempuan itu dan tubuhnya membungkuk, mendekati perut Sera yang membuncit besar.
Tangan lelaki itu kemudian bergerak mengelus perut Sera, mengusapkan telapak tangannya dengan lembut di sana seolah ingin mengusap anak-anaknya yang sedang bertumbuh sempurna di dalam sana.
Lelaki itu lalu membungkukkan tubuhnya semakin dekat ke perut Sera dan menghadiahkan kecupan lembut di sana, membuat hati Sera dibanjiri perasaan hangat yang menyenangkan melihat perlakuan penuh kasih suaminya kepada buah hati mereka.
“Tinggal sebentar lagi maka anak kita akan lahir. Aku sudah tidak sabar menggendongnya.” Sera berucap dengan mata berkaca-kaca, membuat Xavier mengangkat kepala dan menegakkan punggungnya kembali.
Lelaki itu tersenyum lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sera sebelum kemudian menghadiahkan kecupan lembutnya di bibir ranum Sera yang menunggu.
“Aku juga sudah tidak sabar, sayang.” Bisiknya kemudian dengan suara parau, dipenuhi oleh haru yang menyesakkan dada.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1