Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 87 : Menghangatkan


__ADS_3


Elana tidak sadar kapan dirinya tertidur. Entah sudah berapa lama dia terlelap dalam mimpi. Kelelahan memeluk hasrat Akram yang seolah tak bertepi. Tubuhnya lunglai dan tulang-tulangnya seolah dilolosi dari tubuhnya, membuatnya langsung meringkuk dalam tidur menyenangkan ketika Akram akhirnya melepaskan dirinya dari pertautan hasrat yang seolah tak bertepi.


Ketika dini hari akhirnya menjelang, rasa dingin kembali merayap dari dalam tubuh Elana dan membuatnya terbangun dari tidurnya yang lelap, seolah racun-racun yang masih tersisa di aliran darahnya menggeliat kembali, meminta untuk diobati.


Elana mulai menggigil ketika tubuhnya tak mampu menahan hawa dingin yang menyiksa itu. Dia akhirnya membuka mata dan menyadari bahwa selimut tebal yang seharusnya membungkus tubuhnya, telah bergumpal di kakinya, mungkin karena pergerakan mereka berdua ketika tidur lagi.


Dengan perlahan, Elana bangkit, terduduk di atas ranjang dan membungkuk ke depan, hendak mengambil selimut itu dan menutupkan ke tubuhnya yang kedinginan, ketika tiba-tiba sebuah lengan hangat merangkul pinggangnya dan suara Akram yang parau karena baru terbangun dari tidurnya, terdengar menembus kegelapan dini hari yang masih remang di kamar tersebut.


“Kenapa?”Akram bertanya dengan nada ringan tetapi penuh perhatian. Nada suaranya yang seolah melayang-layang di udara menunjukkan bahwa lelaki itu sepertinya belum berhasil mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya.


Elana menggunakan tangannya untuk menarik selimut yang sudah dipegangnya dan menutupkannya ke tubuhnya yang telanjang, seketika setelah mendengar suara Akram, ingatan tentang pernyataan cinta lelaki itu dan juga percintaan panas mereka yang menyusul setelahnya tiba-tiba langsung tergambar nyata dalam imajinasinya, membuatnya gugup dengan pipi memerah karena merasa malu.


“Ti… tidak apa-apa… aku hanya sedang menarik selimut,” jawab Elana cepat, menahan rasa canggung dan berharap dia bisa segera berbaring lagi, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan tertidur kembali.


Dia belum siap menghadapi Akram saat ini setelah yang tadi. Dia masih butuh waktu untuk menelaah perasaannya sendiri.


Tetapi, tidak seperti keinginannya, Akram malahan ikut terduduk, lalu merangkul Elana merapat kepadanya.


“Kenapa? Kau merasa sangat kedinginan?” nada khawatir di dalam suara Akram membuat Elana terenyuh, dia seketika menggelengkan kepala, tidak ingin Akram terlalu mencemaskannya.


“Aku tidak apa-apa, rasa dingin ini masih bisa ditahan, tidak seperti yang sebelum-sebelumnya,” jawab Elana cepat.


“Tapi seluruh permukaan kulitmu dingin,” Akram yang duduk sedikit di belakang Elana, menarik Elana ke arahnya hingga perempuan itu membentur dadanya yang telanjang. Tangannya mengusap lengan Elana seolah ingin menyalurkan panas kepadanya, sementara kulitnya yang bersinggungan dengan kulit Elana terasa hangat dan menyenangkan, menggoda Elana dengan keinginan untuk bersikap egois dan manja dengan menyingkirkan seluruh rasa malu kemudian menenggelamkan diri di sana. Tetapi, tentu saja Elana tidak mungkin melakukannya, bukan hanya karena dia merasa malu, tetapi juga karena dia masih merasakan sedikit ketakutan yang menahan dirinya untuk bermanja-manja kepada Akram.


Hanya beberapa detik setelah Elana memikirkan kemungkinan itu, Akram tiba-tiba menarik Elana semakin merapat ke arahnya, kulit dengan kulit, hawa panas dengan hawa panas. Lelaki itu lalu berbaring kembali dengan posisi miring serta membawa Elana berbaring bersama dengannya di balik selimut. Kaki Akram bergerak berjalinan dengan kaki Elana, seluruh bagian depan tubuh mereka menempel, pun dengan lengan Akram yang memeluk Elana erat sementara dagu lelaki itu berada di puncak kepalanya dengan nyaman.


“Tidurlah, aku akan membantu menghangatkanmu,” bisik Akram dengan suara parau, tangan Akram menyusup di bawah lengan Elana, jemarinya yang hangat mengusap punggung telanjang Elana lembut dan menekannya ke arahnya.


Elana menghela napas panjang sebelum kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menempelkan pipinya yang dingin ke permukaan dada Akram yang bersuhu kontras dengannya dengan senyum damai tersungging di bibirnya.


Ketika Elana mencoba untuk tidur, entah kenapa suara detak jantung Akram yang berdegup semakin lama-semakin kencang itu mengganggunya, membuatnya mengerutkan kening dan mendongakkan kepala ke arah lelaki itu.


“Akram? Kau baik-baik saja?” tanyanya perlahan. “Apakah… apakah selimut ini membuatmu gerah? Kau tahu… kau kan tidak sedang sakit sepertiku… kau tidak perlu memelukku seperti ini dan menyiksa dirimu…” Elana menawarkan dengan cepat. Meskipun pelukan Akram terasa hangat dan sangat menghangatkan untuk tubuhnya yang dingin, tetapi tentu saja Elana tidak ingin membuat Akram merasa tidak nyaman demi dirinya.


Dengan gerakan cepat, Elana hendak menjauh. Tetapi, tangan Akram dengan sigap menahannya supaya tak lepas dari pelukannya.


“Aku bukannya sedang kegerahan,” Akram menggeram perlahan, memosisikan dirinya supaya Elana merasakan apa yang dia maksud. “Kau merasakannya? Aku memang… sedikit tak nyaman, tetapi itu jelas bukan karena kegerahan,” sambung Akram dengan nada penuh arti.


Pipi Elana merah padam seketika ketika menyadari maksud di balik kata-kata Akram yang bersayap. Kegugupan langsung menguasai dirinya, membuatnya ingin menjauh dari kedekatan yang tiba-tiba saja terasa menyesakkan napas entah kenapa.


Elana menggunakan kedua tangannya dan menahan dada Akram sementara dia berusaha menjauhkan diri, tetapi tangan Akram begitu kuat menahan dirinya, lelaki itu malah menundukkan kepala, lalu menyusurkan bibirnya ke pelipis Elana dengan sikap menggoda yang kental.


“Bagaimana kalau kita saling membantu?” bisik Akram dengan suara menggoda yang sensual, lelaki itu mulai mengecupi sisi wajah Elana, menggigit cuping telinganya dengan gigitan lembut penuh hasrat. “Aku akan membantu menghangatkanmu dengan efektif karena kujamin kau akan banyak bergerak serta berkeringat yang akan mempercepat metabolisme tubuhmu serta membuatmu hangat... Dan kau…. bisa sekaligus membantu meredakan ketidaknyamananku,”


Tanpa menunggu jawaban Elana, Akram bergerak cepat menggulingkan tubuh perempuan itu supaya berbaring telentang di bawah tindihannya, selimut mereka sudah terlempar entah kemana, menghilangkan batas di antara kulit mereka yang telanjang. Lelaki itu memposisikan dirinya dengan tepat, menunjukkan hasratnya yang tak terperi di dini hari yang menyiksa karena kedekatan dan sentuhan kulit mereka.


“Akram… posisimu, kau tidak apa-apa?” Elana melirik khawatir ke arah bebat perban yang membungkus lengan serta bahu Akram.


Jahitan lelaki itu baru saja terbuka kemarin dan baru saja ditangani, sekarang Akram malah bergerak dengan serampangan?


Seringai di bibir Akram yang muncul seketika entah kenapa berhasil meredakan kecemasan Elana. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Elana, lalu melumat bibirnya dengan penuh nafsu sebelum kemudian melepaskannya hanya setelah Elana terengah kehabisan napas karena tidak siap dicium dengan hasrat menggebu sepenuh hati seperti itu.


“Aku tidak apa-apa, yang terluka dadaku, bukan lenganku, lagipula…” Akram seolah tak bisa berhenti untuk mengecupkan bibirnya di permukaan kulit Elana, di sisi wajahnya, di dagunya, di lehernya, di mana-mana. “Yang butuh perhatianmu inilah yang paling terasa nyeri saat ini,” dengan gerakan lembut, Akram menyatukan dirinya dengan Elana, membawa kembali perempuan itu tenggelam dalam keahlian bercintanya yang menakjubkan.

__ADS_1


***



***


Suasana hati Akram yang tampak terang benderang ketika mereka akhirnya bersiap-siap berangkat langsung memudar dan berubah redup ketika mobil yang mereka kendarai berhenti di depan gerbang tinggi rumah Xavier Light yang dijaga ketat.


Seperti biasa, para penjaga langsung menghentikan mobil apapun yang hendak masuk ke area yang seolah terlarang itu, mengetuk jendela untuk melakukan konfirmasi sebelum kemudian mempersilahkan mereka masuk dengan membuka gerbang lebar-lebar.


Akram tampak bersungut-sungut melihat ketatnya penjagaan di area sekitar rumah Xavier. Lelaki itu duduk dengan tangan bersedekap, punggungnya bersandar ke kursi mobil dan gestur tubuhnya tampak santai meskipun pundak dan wajahnya terlihat tegang seolah marah.


“Xavier harus memasang penjagaan ketat di sekitar rumahnya karena dia memiliki banyak musuh,” Akram menoleh ke arah Elana dengan tatapan serius. “Kau harus sadar, Elana. Sebaik apapun dia kepadamu, dia tetaplah orang jahat. Karena itulah musuhnya banyak karena banyak yang ingin membalas dendam atas kejahatan yang dilakukannya,”


Elana mengangkat alis menatap ke arah Akram, lalu dia langsung menyimpulkan dengan polos.


“Kau… kau juga memiliki banyak bodyguard yang menjaga keamananmu, itu berarti kau memiliki banyak musuh… apakah itu juga berarti… kau orang jahat?” tanyanya cepat.


Seketika Akram tertegun, lelaki itu lalu memajukan tubuhnya yang tadinya santai sebelum kemudian tangannya bergerak mencengkeram bahu Elana dengan lembut, menghela perempuan itu supaya menghadap ke arahnya.


“Dalam kisah kita, di matamu, aku adalah tokoh baiknya. Xavierlah yang tokoh jahatnya. Sampai di sini kau paham?” tanya Akram dengan nada tegas seperti seorang guru yang gemas menghadapi murid yang susah diajar.


Elana hanya menganggukkan kepala untuk menanggapi Akram, entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa geli melihat sikap Akram yang seperti ini. Akram malah kelihatan seperti anak-anak yang sedang bersaing dengan musuhnya di sekolah, mencari cara untuk menjatuhkan musuhnya itu di belakang punggungnya.


“Bagus kalau kau mengerti. Kau harus ingat, Xavier mungkin bersikap baik dan mau bekerjasama untuk saat ini. Tetapi, sudah tentu itu bukan karena dia benar-benar baik. Kupikir, semua itu dilakukannya karena dia masih belum menyerah untuk mengincarmu. Dia masih menyimpan hasrat untuk merebutmu dari sisiku,” sahut Akram dengan nada dingin penuh permusuhan.


Elana menelan ludah melihat sikap Akram saat itu. Kebencian tampak menguar dari auranya, membuatnya begitu menyeramkan dengan aura membunuh yang terlihat jelas. Yah, bagaimanapun juga, apapun alasan yang dikemukakan oleh Xavier menyangkut hal-hal yang dia lakukan di masa lampau, perbuatan Xavier terlalu mengerikan dan meninggalkan trauma mendalam untuk bisa dilupakan dengan mudah.


Elana sudah pasti paham bagaimana bencinya Akram kepada Xavier… tetapi di hubungan dua kakak beradik ini, ada kesalahpahaman yang tak terungkapkan sampai sekarang karena kedua belah pihak sama-sama keras kepala. Meskipun kelihatannya tidak ada harapan untuk mendamaikan keduanya, tetapi sungguh Elana masih menyimpan harapan diam-diam agar mereka bisa meluruskan benang kusut yang berjalinan itu lalu saling memahami satu sama lain.


“Hentikan Elana. Aku tidak suka ada orang yang mencoba membuatku berdamai dari Xavier. Terlebih lagi jika itu keluar dari bibirmu,” Akram menggerakkan tangannya ke atas dan menangkup wajah Elana, lalu menghadiahkan kecupan lembut di sana untuk membungkam kalimat apapun yang hendak keluar dari bibir ranum nan menggoda itu. “Kita sudahi pembicaraan mengenai Xavier. Kita sudah berada di titik saling memahami satu sama lain, dan itu merupakan pencapaian yang sangat berharga. Jangan sampai itu mundur lagi hanya karena kita bertengkar menyangkut Xavier. Dia tidak cukup berharga untuk membuat kita bertengkar,” dengan dingin Akram menyambung kalimatnya, lalu melepaskan Elana dan menutup segala pintu percakapan.


Elana akhirnya hanya bisa mengembuskan napas panjang sambil memalingkan wajahnya ke sisi luar jendela, melemparkan pandangan matanya melewati pepohonan rindang yang berjajar rapi di taman indah yang terletak di halaman depan rumah Xavier.


Akram sangat keras kepala, dan hati lelaki itu seperti batu. Meskipun Akram telah melembutkan diri semalam serta memberikan pernyataan cintanya kepada Elana, Elana sendiri masih merasakan ketidakyakinan terselip di dalam jiwanya.


Lagipula… Akram mengatakan tidak menunggu jawaban dari Elana mengenai pernyataan cintanya. Kalau begitu… bagaimana sebenarnya rencana Akram terhadap hubungan mereka? Serta, bagaimana perasaan Elana sendiri? Bagaimana Elana menelaah perasaannya sendiri sedangkan dia saat ini seperti orang buta yang kehilangan arah di dalam rumahnya sendiri, tak mampu menemukan setitik terang yang bisa memberikan pemahaman atas perasaan tak terdefinisikan yang bergayut di dalam jiwanya.


***



***


Seperti biasa, Xavier sudah menunggu di lobby rumahnya ketika mobil mereka berhenti tepat di halaman depan rumah Xavier dan dekat dengan pintu utama rumahnya. Lelaki itu mengenakan pakaian santai, dan menyunggingkan senyumannya yang khas.


Tentu saja Xavier sudah diberitahu bahwa mereka akan datang, dan Akram sendirilah yang mengantarkan Elana kemari. Karena itulah Xavier benar-benar tidak membuang-buang waktu untuk memprovokasi Akram dengan sengaja berdiri di sana lengkap bersama senyumannya yang menjengkelkan.


Elana menipiskan bibirnya melihat tingkah Xavier itu. Meskipun lelaki itu telah berhasil meyakinkan Elana akan betapa besarnya cinta yang dia miliki untuk adiknya, tetap saja Xavier hampir sama seperti Akram, tidak bisa menyingkirkan sikap kekanak-kanakannya dan sangat senang menggoda serta memprovokasi Akram hingga batas kesabarannya.


Kalau dua-duanya bersikap seperti itu, bagaimana mereka berdua bisa menyelesaikan pertikaian mereka dengan baik?


Sedangkan Elana sendiri, apa peran yang bisa dilakukannya untuk membuat dua saudara yang sebenarnya masih memiliki harapan itu, bisa duduk bersama, menyingkirkan segala ego, kebencian dan kekeraskepalaan masing-masing, lalu bicara dari hati ke hati dan saling memaafkan satu sama lain?


Elana mengerutkan kening ketika tidak menemukan jalan keluar atas pemikirannya, tetapi dia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk terus memikirkannya karena Akram menyentuh lengannya lembut untuk menarik perhatiannya.

__ADS_1


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Akram perlahan, matanya menatap ke arah Elana, menelisik seolah berusaha membaca kedalaman jiwanya.


Elana langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak sedang memikirkan apa-apa,” sahutnya gesit, berusaha meyakinkan Akram dan menghindari interograsi lelaki itu yang mengintimidasi.


Sejenak, Akram masih mengawasi Elana dengan seksama, seolah tak yakin dengan jawaban perempuan itu.


Entah kenapa Elana tampak memendam sesuatu di jiwanya hingga ekspresinya terlihat kalut. Dan Akram tidak suka menemukan itu. Dia tidak suka Elana menyimpan perasaannya sendiri, membuatnya menahan frustasi karena rasa ingin tahunya yang luar biasa.


Dirinya, seorang Akram Night akhirnya menyatakan cintanya kepada perempuan itu. Tidakkah sekarang Elana bisa mempercayai dan membagi masalahnya dengan Akram?


Tetapi akhirnya, Akram memutuskan tidak memperpanjang hal ini. Masih ada banyak kesempatan lainnya nanti untuk membangun hubungan mereka dari awal dengan cara yang baik sekaligus membuka lebar jalan bagi Elana untuk mempercayainya. Untuk sekarang, yang terbaik adalah fokus pada kondisi kesehatan Elana terlebih dahulu.


“Ayo kita turun,” Akram mengulurkan tangannya  pada Elana sambil membawa dirinya keluar dari mobil.


Mau tak mau, Elana menerima uluran tangan Akram dan melangkah keluar dari mobil.


***



***


"Kau tampak lebih baik, hari ini, Lana.”


Xavier langsung menyapa lembut ketika matanya menelusuri keseluruhan diri Elana. Tentu saja sapuan mata Xavier yang tajam tak melewatkan apapun. Lelaki itu memperhatikan dengan saksama bekas-bekas lebam yang tersisa di leher dan lengan Elana, lalu ekspresinya melembut ketika melihat bekas lebam itu telah memudar.


Sepertinya Akram telah merawat Elana dengan baik sehingga Elana bisa sembuh dengan cepat. Elana mengangguk sopan ke arah Xavier dan hendak membuka mulut untuk memberi tanggapan atas sapaan lelaki itu, tetapi kalimatnya terhenti ketika Akram tiba-tiba saja merangsek ke depan tubuh Elana seolah menghalangi pandangan Xavier terhadap Elana, lalu menatap Xavier dengan tatapan bermusuhanyang tidak ditutup-tutupi.


“Tidak perlu berbasa-basi, Xavier. Elana datang kemari bukan untuk beramah tamah denganmu, dia sedang kedinginan dan suhu tubuhnya terus menurun seiring berjalannya waktu. Dia membutuhkan serummu, jadi dimana para petugas kesehatan sialanmu itu? Mereka seharusnya langsung menangani Elana sekarang,”


Akram sangat kasar, dan lelaki itu bahkan tidak berusaha untuk bersikap sopan, padahal saat ini mereka sedang menjadi tamu di rumah Xavier, dan itu membuat Elana merasa tak enak hati. Perlahan diliriknya wajah Xavier dan keningnya berkerut melihat Xavier tampak seperti menahan senyum.


Apakah Xavier memang sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap bermusuhan Akram, ataukah lelaki itu memang pandai menyembunyikan perasaannya?


“Tentu saja Lana akan segera ditangani. Bagaimanapun juga, kesembuhan Lana adalah prioritas utamaku,” Xavier memberi isyarat dengan gerakan tangannya dan petugas medis yang ada di belakangnya langung bergerak hendak mengambil alih Elana. “Tetapi kuharap kau ingat dengan perjanjian awal kita, yaitu waktu khusus bagiku untuk berduaan denagn Lana. Kuharap kau tidak mengingkari janjimu, Akram dan tetap berdiam di sini sampai proses poemberian penawar Lana yang terakhir terselesaikan.”


Akram menyipitkan mata. “Aku akan pergi dan meninggalkan Elana di sini dan menjemputnya segera setelah seluruh proses selesai. Bagaimanapun, kau bisa membuang mimpimu untuk mengambil alih dia dariku. Elana adalah milikku,” sahut Akram dengan nada posesif yang kasar, membuat pipi Elana langsung memerah begitu mendengarnya.


Tanggapan Xavier adalah tawa terkekeh. Lelaki itu sedikit menganggukkan kepala ke arah petugas medisnya yang menunggu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Elana.


“Mereka akan menanganimu dengan baik, Lana. Ikutlah dengan mereka,” ucap Xavier dengan nada lembut.


Elana menganggukkan kepala, terlalu malu untuk mengucapkan sepatah kata apapun. Dia sedikit mengangguk ke arah Akram, lalu menggumamkan ucapan pamit tak jelas sebelum kemudian mendorong kakinya untuk bergerak pergi.


Sayangnya, Akram meraih pergelangan tangannya, mencengkeram kuat untuk menariknya, tetapi dengan tetap berhati-hati agar tidak menyakiti bekas lebam di sana. Tarikan Akram yang berlawanan dengan arah kaki Elana membuat tubuh Elana yang tak siap bergerak seperti pegas dan melontarkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Akram.


Tidak ada kesempatan bagi Elana untuk melarikan diri karen Akram langsung menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang hangat dan kuat, lalu mendongakkan wajah Elana ke arahnya yang menunduk, dan langsung melumatnya dengan ciuman penuh hasrat yang tak tahu malu.



*********



__ADS_1


__ADS_2