
Pada detik itulah Vanessa menyadari keberadaan seorang wanita yang tadinya sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Siapa wanita itu? Siapa wanita yang berani-beraninya merenggut posisinya untuk berada di samping Akram Night?
Mata Vanessa melebar ketika dia berusaha untuk mencari tahu, bahkan bisa dibilang hampir melotot keluar dari rongganya. Rasa penasaran membuatnya menanggalkan sikap anggun pura-puranya yang dia pertahankan sejak tadi.
“Wa…. Wanitamu?” serunya keras dengan nada tak percaya. Matanya memindai sosok wanita yang entah kenapa mendapatkan keistimewaan untuk bisa berdiri begitu dekat dengan Akram, bahkan sang taipan juga tampak tak keberatan dengan hal itu dan malahan memperlakukannya dengan sangat lembut secara terang-terangan di depan umum.
Sesuatu yang tak pernah dilihatnya dilakukan oleh Akram Night kepada wanita manapun sebelumnya.
Dan… wanita ini mungkin bahkan lebih muda darinya! Dengan wajah polos tanpa riasan dan rambut terurai, juga tubuh mungil dan gaun satu potong warna terang, wanita yang disebut sebagai wanitanya Akram tampak sangat muda bahkan bisa dibilang hampir-hampir seperti remaja.
Apa yang istimewa dari perempuan ini?
Akram bersama seorang perempuan muda yang masih lugu? Kalau memang ternyata Akram berselera juga kepada wanita-wanita muda… kenapa Akram tak mendekatinya? Mengingat dari usia, usianya sendiri bisa dibilang kemungkinan besar tak jauh berbeda dengan wanita itu. Dirinya baru dua puluh satu tahun, dan wanita itu mungkin baru berusia dua puluh tahunan kurang.
Apakah Akram tengah membuat lelucon, atau jangan-jangan, inilah wanita yang memenuhi kriteria sesungguhnya dari seorang Akram Night?
Pemikiran itu sempat terlintas di benak Vanessa, tetapi entah kenapa jiwanya seolah tak mau menerima kalau Akram Night yang selama ini dipujanya dan dia jadikan sebagai target pasangannya di masa depan, ternyata ditaklukkan oleh perempuan sederhana yang kecantikan dan keindahan tubuhnya tentunya sangat jauh dari dirinya.
Dia jauh lebih baik segalanya dari perempuan sederhana itu! Dirinyalah yang seharusnya berdiri di dekat Akram Night, bergelayut di lengannya dan mendapatkan hak penuh untuk disirami oleh sikap lembut lelaki itu!
Ya ya ya, sudah tentu ini semua hanya lelucon yang tak mungkin jadi nyata. Akram pasti sedang bercanda hanya untuk menggoda dan memancing reaksinya. Vanessa memutuskan semuanya sepihak dalam hati, lalu segera dia memperbaiki ekspresi wajahnya hingga yang muncul kemudian adalah sikap anggun sedikit sombong ketika dia menatap mata perempuan jalang yang sok lugu di depannya itu, berusaha menunjukkan bahwa wanita itu sangat jauh di bawah kelasnya dan tak pantas menjadi saingannya.
Kemudian senyum menggoda muncul kembali di bibir Vanessa ketika dia menatap Akram.
“Kau sedang bercanda, bukan? Tidak mungkin seorang Akram Night menghabiskan waktu di siang hari bolong di tengah taman hiburan umum seperti ini untuk berkencan dengan wanita yang bukan siapa-siapa,” Vanessa melangkahkan kakinya maju, hendak mencari jalan untuk mendekat ke arah Akram karena ingin sekali menyentuhkan tangannya di permukaan dada bidang lelaki itu yang tampak kokoh dan menggoda.
Sayangnya, tatapan dingin Akram membuatnya tertegun dan mau tak mau membatalkan niatnya seketika. Dia bahkan tak berani mencoba melangkahkan kakinya untuk maju mendekat lebih jauh.
“Ya. Aku memang datang kemari untuk berkencan dengan wanitaku, ada yang salah dengan aku menghabiskan waktu di taman hiburan yang sebagian besar sahamnya merupakan milikku sendiri?” Akram menyipitkan matanya dengan penuh perhitungan, membuat lidah Vanessa kelu sementara ekspresinya memucat tak mampu menjawab. “Dan wanita yang kau bilang bukan siapa-siapa ini, kemungkinan besar saat ini di dalam tubuhnya sedang mengandung anakku.”
“Akram!” Elana tidak bisa menahan dirinya untuk berseru ketika keterkejutan menyambarnya saat mendengar kalimat terakhir Akram itu. Disentuhnya dada Akram untuk memperingatkan supaya lelaki itu tidak mengusik orang lain lebih jauh.
Elana sama sekali tidak berpikir bahwa ada kebenaran yang mungkin tersirat di dalam kalimat Akram, dia hanya berpikir bahwa Akram tahu pasti kalau artis Vanessa tidak menutupi rasa tertariknya kepada lelaki itu, dan dengan jahatnya Akram sengaja menggunakan Elana sebagai alat untuk memprovokasi Vanessa.
Akram menunduk ketika mendengar Elana berusaha menyelanya. Tatapan matanya tampak memperingatkan, seolah ingin Elana menutup mulutnya untuk saat ini.
“Nanti, sayang,” sahut Akram dengan suara tegas. “Biarkan aku menyelesaikan urusanku dulu,” sahutnya sambil mengalihkan pandangannya kembali pada Vanessa yang tampak menatap interaksi Elana dan Akram dengan iri.
__ADS_1
Perempuan itu bisa memanggil Akram dengan santai tanpa ada setitikpun rasa segan dan takut dalam suaranya, dan tanggapan lembut Akram terhadap perempuan itu bahkan lebih mengejutkan lagi.
“Sebagai seorang atasan, tentu kau bertanggung jawab atas perilaku anak buahmu,” Akram berucap dengan nada dingin membekukan, membuat Vanessa mau tak mau mengalihkan perhatian lagi ke arahnya. “Dan mereka berbuat semena-mena mengusir orang awam yang mereka anggap orang biasa hanya untuk kepentinganmu, tentu itu sudah mencerminkan perintahmu kepada mereka yang mereka laksanakan sebagai anak buah yang baik,”
Mendengar perkataan Akram itu wajah Vanessa kembali memucat, dia menelan ludah, berusaha mencari kata-kata pembelaan diri dari lidahnya yang kelu.
“Bu… bukan begitu..,” mata Vanessa melirik ke arah dua bodyguardnya yang terkapar dan tiba-tiba dia merasa ngeri. “Aku hanya memerintahkan mereka untuk mengutamakan kenyamananku bagaimanapun caranya…”
“Bagaimanapun caranya?” Akram menyela dengan nada sinir, “Termasuk bersikap kasar kepada wanita biasa yang tak tahu apa-apa dan mengusirnya dari tempatnya duduk? Apakah bodyguardmu tidak diajari bagaimana memperlakukan wanita dengan baik? Apalagi jika wanita itu sedang hamil, bagaimana jika kau membuatnya keguguran dan kehilangan anaknya? Bagaimana caramu mengganti kerugianku?” Akram langsung menyerang dengan serentetan kalimat mengerikan.
Mengerikan bukan hanya bagi Vanessa yang saat itu membelalak ngeri bercampur tak percaya, tetapi juga terdengar mengerikan bagi Elana yang hanya mampu menatap Akram seperti menatap orang gila yang meracau tak jelas.
Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh Akram ini? Hamil? Keguguran? Apakah Akram sengaja menggunakan sandiwara kehamilan untuk membuat Vanessa semakin terpuruk dan dipersalahkan?
“Aku… aku…. Bukan maksudku begitu! Aku hanya meminta anak buahku mencari tempat yang nyaman untuk duduk menunggu sampai persiapan set syuting dimulai… aku sama sekali tak menyangka…. Tak menyangka…” Vanessa melirik kembali ke arah Elana dengan tatapan tak rela. Sungguh dia masih tidak bisa menerima bahwa Akram Night memiliki kekasih yang jauh lebih muda dan tidak secantik dirinya yang diperlakukan dengan penuh kasih.
Tetapi, saat ini Vanessa tahu bahwa yang lebih penting sekarang adalah menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Sebab, semua orang tahu bagaimana akibatnya jika membuat Akram Night marah. Seorang model cantik mantan pacar Akram Night pun menurut desas desus dihancurkan karirnya karena gosipnya dia telah mengganggu pacar terbaru Akram Night.
Apakah jangan-jangan…. Dirinya sedang terlibat dengan masalah yang sama? Apakah wanita yang didesas desuskan sebagai wanita favorit Akram itu sebenarnya adalah wanita ini?
Akram secara tersirat mengatakan bahwa wanita itu sedang mengandung anaknya. Tetapi…. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin seorang Akram Night yang selalu membuang wanita manapun yang telah bosan dipergunakannya, mau meninggalkan jejak benihnya pada seorang wanita sederhana yang dengan dilihat saja, tampak jelas tidak punya keistimewaan?
“Kau tidak perlu menunggu lagi sampai set syuting disiapkan. Kau boleh pergi sekarang,” Akram tiba-tiba berucap dengan nada kejam tak terbantahkan. Matanya menatap ke arah Vanessa tanpa belas kasihan. “Ini adalah taman hiburan yang targer pasarnya adalah keluarga. Kupikir, kau yang masih terlalu muda sama sekali tak cocok untuk menjadi duta dan perwakilan tempat ini. Aku akan meminta tim divisi promosi untuk mempertimbangakan kembali artis yang cocok sebagai duta perwakilannya. Seharusnya artis yang sudah berkeluarga dengan cerminan keluarga bahagianya lebih cocok berada di dalam posisi itu.”
Memang siapa wanita sederhana itu hingga mampu membuat dirinya, seorang artis yang begitu dipuja orang harus dibuang begitu saja?
“Kau tidak bisa melakukan itu kepadaku, Akram! Ini kontrak besar yang membutuhkan negosiasi begitu lama. Tim manajemenku tidak akan….”
“Apakah kau meragukan keputusan bisnisku?” Akram menyahut dengan nada dingin yang penuh dengan ancaman mengerikan. “Aku akan membiarkan kau mendapatkan kompensasi yang adil jika kau melangkah pergi diam-diam tanpa keributan. Tetapi, jika tim manajemenmu tidak terima dan ingin mengajukan tuntutan atas keputusanku ini, aku akan memastikan kalian semua hancur tak bersisa. Bahkan hingga remah terkecil pun, kupastikan tidak akan bisa ditemukan jika aku selesai denganmu.”
Akram tampak tidak main-main. Lelaki itu terkenal dengan keputusan bisnisnya yang mumpuni, selalu tepat hingga membuatnya disegani di dunia bisnis. Jika Akram Night memutuskan untuk membatalkan kontrak seorang model sebab berdasarkan pertimbangan bisnisnya, model itu dianggap tidak cocok, maka seratus persen pertimbangannya akan langsung disetujui oleh pihak lainnya.
Tidak ada harapan bagi Vanessa untuk melawan. Kali ini dia hanya bisa mundur dan mengaku kalah. Masih baik karirnya tidak dihancurkan oleh lelaki di depannya ini. Vanessa tahu bahwa dia tidak mungkin bisa melawan orang sekuat Akram Night.
“Baiklah,” Vanessa menggunakan harapan terakhirnya, memasang wajahnya yang paling memelas dengan mata lebarnya yang berkaca-kaca, berharap Akram Night akan tersentuh dengannya. “Kuharap… kuharap kau mempertimbangkannya kembali, aku sungguh tidak bermaksud…”
“Pergi.” Akram menyela dengan nada tidak sabar. “Untuk ke depannya, latihlah supaya para bodyguardmu tidak bersikap arogan. Mungkin kau harus memulainya dari dirimu sendiri dulu. Ingat, seekor anjing akan selalu mencerminkan sikap majikannya,” sambung Akram dengan nada dingin penuh pengusiran.
Ketika tidak ada tanda-tanda Vanessa akan bergerak, Akram langsung melemparkan tatapan penuh isyarat kepada Richard yang masih berdiri di tempat seolah menunggu perintah, dan membuat Richard seolah tersadar seketika.
Lelaki itu bergerak sigap, mendekati Vanessa yang masih terpaku lalu menghelanya perlahan supaya wanita itu meninggalkan tempat tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Vanessa selain mengikuti. Dengan langkah gontai seolah terpuruk, artis muda yang luar biasa cantik itu akhirnya menurut ketika dimbimbing oleh Richard dan petugas keamanan lainnya untuk menjauhi area tersebut.
__ADS_1
Akram dan Elana kemudian masih berdiri di sana, mengawasi orang-orang yang beranjak pergi dan meninggalkan mereka berdua sendirian di area sudut dekat pohon rindang yang teduh, seolah tak ada yang berani mendekati.
Elana mengawasi tim persiapan syuting yang tampak membongkar set syuting setengah jadi, lalu mengemasi peralatan mereka dan bersiap pergi. Dia menoleh ke arah Akram, menatap dengan ragu.
“Apakah…. Apakah harus sampai seperti itu?” tanyanya dengan nada hati-hati, takut kalau sampai menyulut kemarahan Akram kembali.Akram melirik ke arah Elana, bibirnya menipis dengan sinis.
“Apakah kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi? Tempat ini adalah arena hiburan rekreasi keluarga, itu berarti target pasar terbesarnya adalah keluarga dan orang-orang yang datang berlibur. Bagaimana mungkin divisi promosi membuat kesalahan besar dengan menggunakan artis muda yang masih belia, dengan sikap arogan pula yang sama sekali tidak mencerminkan perwakilan dari keluarga dari image-nya? Aku hanya sedang mempraktekkan metode sekali tepuk untuk mematikan dua serangga. Aku mengoreksi kesalahan fatal keputusan bisnis divisi promosi, sekaligus memberi pelajaran bagi Vanessa Yesu. Sebab, jika dia sudah arogan di usia semuda ini, dia akan tumbuh menjadi iblis ketika dia menanjak puncak kesuksesan.”
Akram menyeringai ke arah Elana. Sekarang, setelah mereka hanya ditinggalkan berdua saja di tempat ini, suasana hatinya tampaknya mulai membaik.
“Kau lapar, bukan? Kau taruh dimana tadi makanan yang kubelikan untukmu?”
Begitu mendengar pertanyaan Akram, Elana langsung menoleh ke arah prasasti batu besar tempat dia meletakkan makanannya sebelum menghampiri Akram tadi, lalu menatap kembali ke arah Akram dengan khawatir. Lelaki ini pasti telah membuat jahitannya terbuka kembali dalam perkelahian yang dimulainya tadi. Sekarang bahkan permukaan kulit wajah lelaki itu tampak sedikit pucat meskipun tertutup oleh ekspresi datarnya.
“Kau… apakah kita tidak sebaiknya pergi mencari fasilitas kesehatan di lokasi ini?” Elana bertanya cemas, matanya masih sibuk menelusuri diri Akram. “Kau… kau kelihatan sedikit pucat,” sambungnya lagi dengan nada khawatir.
Ekspresi Akram mengeras dan lelaki itu menggelengkan kepala.
“Ini bukanlah apa-apa. Aku pernah mengalami yang lebih buruk. Ayo, ambilah makanan itu, aku lapar.” Sahutnya cepat sambil membalikkan tubuh dan melangkah ke kursi tempat Elana diusir sebelumnya, lalu duduk di sana dengan santai.
“Kau… kau harus berjanji kepadaku bahwa setelah ini, kita akan ke klinik atau fasilitas kesehatan untuk memeriksamu,” Elana masih berdiri di sana dengan keras kepala, sengaja tidak melakukan apa yang diperintahkan Akram kepadanya.
Akram menatap ke arah wajah Elana dan bibirnya menyunggingkan senyum kecut.
“Apakah kau mencemaskanku, Elana?” mata Akram berbinar dengan sinar licik yang tak disembunyikan. “Setelah sekian lama, akhirnya kau mau mengakui perasaanmu?”
Pipi Elana langsung merah merona mendengar godaan terus terang itu. Tanpa sadar, kakinya melangkah mundur, seolah benar-benar ingin menghindar dan menjauh dari Akram.
“Aku… aku bukannya mencemaskanmu. Aku hanya tidak mau kau pingsan di sini…” ketika mata Elana menatap ke arah mata Akram yang tampak mengejeknya, bibirnya langsung cemberut kesal. “Ah, sudahlah. Aku akan mengambil makanannya dan kita bisa makan seperti maumu. Aku juga lapar!” sambil menghentakkan kaki dengan kesal, Elana membalikkan tubuh, lalu melangkah mengambil makan siang mereka.
***
***
***
__ADS_1