
Hai Beautiful Ladies,
Ini adalah 8 dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019.
Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.
MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN
Kalian mungkin sudah tahu sistem ranking novel di mangatoon terbaru yang akan di samakan dengan noveltoon, dimana sistem ranking didasarkan oleh POIN yang disumbangkan sebagai Vote untuk author dan karyanya ya.
Dengar-dengar, per 25 November 2019, sistem vote menggunakan POIN sudah resmi dilakukan. Tetapi untuk sekarang, sistem VOTE menggunakan poin, baru bisa dilakukan di aplikasi NOVELTOON.
Jadi, jika ingin memberi dukungan kepada Author, kalian boleh mendownload NOVELTOON untuk memberikan poin kamu buat vote author ya. DI NOVELTOON, ada fasilitas untuk VOTE menggunakan POIN ke karya author ini.
Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :
1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis
2. Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing
3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.
Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.
Regadrs, AY
***
***
SEDIKIT TAMBAHAN BIAR GA PADA SALAH PAHAM
Ngomong-Ngomong, tiba-tiba banyak yang bisikin saya tentang nyinyir masalah bagi-bagi giveaway tumblerware ini yang dibilang pengemis poin lah, yang dibilang menghalalkan segala caralah, pengejar uanglah -- ga bilang ke saya sih siapa pelakunya dan saya juga ngerasa ga perlu cari tahu.
Saya bagi-bagi tumbler memang karena saya orangnya suka bagi-bagi rejeki, kebetulan duit saya cukup buat beliin, so what?
Kalo karena dapat ranking vote saya dan dapat hadiah, biarpun cuma secuprit, memangnya salah ya kalau saya pingin berbagi ke kalian yang udah baik hati ngasih poin? Biarpun maaf, kalo hadiahnya barang yang ga penting macam tumbler dan bukan paket liburan ke hawai atau motor gitu, daripada ga ngasih apa-apa, ya nggak?
Jadi vote dari kalian yang ngasih poin terbanyak, ya sekaligus saya jadikan kesempatan bagi giveaway, karena saya pingin berbagi. Effort kalian ngasih poin, pingin dijadiin barang untuk menghargai kalian.
Kalian ga mau vote poin atau ga mau ngasih poin ke saya? Ga pernah saya paksa kok. Ga masalah buat saya mau ngasih poin apa ga. Saya bukan penulis baper yang doyan ngambek, woles aja.
Dulu ada ga ada ranking vote poin pun, kalian yang jadi saksi kalo saya tetap berusaha update dengan target 6 kali post dalam seminggu sebanyak 2.400 words per partnya untuk menyenangkan kalian. Kadang kalau saya lagi bagus suasana hatinya, pernah saya kasih 10 part seminggu juga kan.
Satu lagi, kalian tentu tau, saya orangnya ga pernah nyinyir dan urusin author lain apalagi komen urusan author lain. Nulis di sini aja saya udah habis waktu, belum lagi jadi translator di mangatoon (ya, saya bukan author murni, dengan bangga saya bilang kalau saya adalah seorang translator mangatoon ), saya juga sibuk sama pekerjaan real life saya, ga sempat saya ngurusin orang lain.
Seratus lebih part saya up di sini, kalian saksinya, mana pernah sepatah katapun dari saya yang ngomongin author lain. Dan saya yakin kalau author lain di mangatoon ini juga orangnya pada baik hati dan ga pernah nyinyir kok.
Karena itu sebagai sesama author, mari fokus berkarya saja yuk dan harusnya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Dan lagi, sebagai seorang author yang memiliki banyak pembaca, sudah jadi kewajiban kita mengedukasi pembaca kita supaya berperilaku baik dan berpikiran positif dalam berinteraksi satu sama lain di dunia maya. Jadi kalian sebagai pembaca saya, ga usah nanggapin macam-macam klarifikasi saya ini, ga usah saling menuduh apalagi nyinyir dan menjelekkan pihak lain, mari kita jaga jari kita sebagai pembaca santun dan anak budiman serta pakdiman, ahahaha.
Tapi mudah-mudahan memang ga ada ya yang tega nyinyirin bagi-bagi giveaway ini, mudah2an yang bisikin saya tu cuma modal pitnah aja. Kayaknya sih memang ga ada, karena kalau sampai ada, tega amat orang lagi bagi-bagi rejeki malah dinyinyirin dan diomongin di belakang punggungnya.
Tetapi saya ngerti kok, dunia memang sudah semakin kejam, sehingga ketika ada orang berniat baik, akan selalu dicurigai dan dihakimi macam-macam, padahal tabayyun langsung aja ga pernah dilakukan. Jadi, jika inisiatif kebaikan tulus saya ini terasa mengancam atau mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan pihak lain, saya dengan tulus ikhlas mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang merasa.
***
***
***
“Kapan kau bisa menyajikan seluruh laporan temuanmu dan melegalkannya? Aku tidak ingin direktur keuangan ini menyadari bahwa dia sudah dicurigai. Kehadiran Xavier, disusul dengan kehadiranmu, tentu sudah membuatnya lebih waspada.”
Akram memajukan tubuhnya dan menopangkan sikunya ke meja kerjanya yang besar. Di hadapannya, ada Xavier, Cradence dan juga Maya yang sedari tadi menundukkan kepala dan tak berani bertatapan mata dengan Akram.
Setelah menghadiri meeting penting di pagi hari dan baru selesai ketika matahari mulai bergulir di ufuk barat, Akram menyempatkan diri untuk datang ke kantor pusatnya dan melakukan meeting kecil dengan Xavier dan Credence.
Credence sudah mulai melakukan tugasnya hari ini, dan Akram ingin mendengar secara langsung mengenai rencana lelaki itu ke depannya. Masalah kebocoran dana ini bukanlah main-main, jumlahnya besar dan pelakunya sepertinya memiliki orang kuat yang menyokong di belakangnya. Tujuan pencurian dana ini tidak sesederhana seperti melakukan pencurian uang untuk kepentingan diri sendiri, justru Akram melihat bahwa tujuan tindakan kotor ini adalah untuk menguji sistem pihak musuh dalam rangka menciptakan kerugian bagi Akram. Jika cara di satu bagian ini berhasil, bukan tidak mungkin mereka akan menyusupkan lagi orang-orang dan software yang lebih canggih untuk menciptakan kerugian yang lebih besar bagi Akram.
__ADS_1
“Tidak. Kupikir direktur keuangan itu belum menyadari bahwa kita mencurigainya. Aku bekerja dengan sangat hati-hati, sehingga tidak menimbulkan jejak apapun pada bukti-bukti yang kukumpulkan. Jangan khawatir. Begitu aku selesai mengerjakannya, dia tak akan berkutik dan tak bisa berbuat apa-apa lagi,”
“Kapan kau akan selesai?” Akram mengejar kembali dengan pertanyaan yang sama. Saat ini, dia harus memperhitungkan waktu pernikahannya dengan Elana. Tentu saja Akram ingin segala hal yang berhubungan dengan musuh-musuhnya ini dibereskan terlebih dahulu sebelum dia menikahi Elana.
“Paling cepat dua minggu, paling lambat satu bulan. Untuk saat ini semua berjalan lancar, tetapi aku tidak bisa memprediksi kesulitan yang akan ditemukan ke depannya…,”
“Buat supaya selesai dalam dua minggu.” Akram memberikan ultimatum dengan sikap arogan, lalu melirik ke arah jam tangannya. “Kurasa cukup untuk hari ini, aku harus segera pergi.”
“Aku juga akan segera pergi,” Xavier berucap sambil lalu, dengan sengaja mengatakan kalimatnya saat Credence dan Maya belum juga beranjak dari sana.
Akram langsung menolehkan kepala, menatap Xavier dengan waspada.
“Kau akan pergi kemana?” Xavier memang belum mengatakan apa-apa, tetapi sedikit banyak, Akram sudah bisa menebak apa mau lelaki itu.
Dan kakak angkatnya yang brengsek itu tidak pernah mengecewakannya. Lelaki itu seolah diciptakan untuk membuat jengkel Akram setengah mati.
“Kau hendak menengok Elana yang sedang dirawat di rumah sakit, kan? Aku juga akan pergi untuk menengok Elana di rumah sakit. Bos macam apa yang tidak menengok anak buahnya ketika anak buahnya itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Benar, kan Akram?” jawab Xavier penuh arti, membuat Akram hampir menggertakkan gigi karena marah.
Dia berencana untuk menghabiskan waktunya berdua dengan Elana hari ini setelah menyelesaikan pekerjaannya, dan sekarang Xavier malah berniat untuk mengganggunya.
Akram baru saja membuka mulut untuk menyuruh Xavier mengurungkan niatnya, tetapi tanpa diduga, Credence malahan berbicara terlebih dahulu.
“Elana dirawat di rumah sakit? Aku tahu kalau Elana sakit, tapi aku tidak menduga kalau asistenmu di rawat di rumah sakit,” Credence melirik jam tangannya sekilas, lalu mengambil keputusan dengan cepat. “Aku punya waktu luang setelah ini. Kalau kau memperbolehkan, aku akan ikut denganmu menengok Elana di rumah sakit,” dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, Credence menoleh ke arah Maya yang sejak tadi hanya terdiam dan mengirit kata. “Kau, apakah mau ikut juga, Maya?” tanyanya.
Kalau bicara jujur, sesungguhnya Maya tak sudi harus repot-repot membuang waktunya untuk menengok perempuan rendahan macam Elana. Dia memang sedikit malu pada Xavier ketika secara tidak langsung, Xavier langsung menohoknya sampai jatuh dan memupus habis tuduhannya saat bilang Elana sedang berada di rumah sakit saat ini. Tetapi, rasa malu itu tak sampai mendorongnya untuk menyesal dan mengubah pandangan buruknya terhadap Elana yang telah dianggapnya sebagai pelacur rendahan di matanya.
Sungguh sial, tidak ada kesempatan bagi Maya untuk menyatakan penolakan. Saat ini, tiga pasang mata dari tiga laki-laki tengah menatapnya, seolah mengintimidasi menunggu jawaban. Maya akan tampak sangat jahat kalau dia tidak mau ikut dengan alasan apapun. Karena itulah, dia tak bisa menjawab lain.
“Tentu saja aku ikut. Tapi aku tadi tak membawa mobil karena kepalaku terlalu sakit, jadi mungkin aku akan menumpang….” Maya melirik penuh arti ke arah Akram, dirinya berharap Akramlah yang menawarkan untuk memberinya tumpangan. Sayangnya, apa yang diinginkannya tak menjadi kenyataan, karena Akram malah memasang ekpresi datar seolah tak peduli.
“Kau bisa ikut dengan mobilku,” tanpa rasa bersalah, Credence bangkit dan melangkah ringan ke pintu, membuat Maya harus menahan jengkel dalam hati karena gayung yang diayunkannya ternyata tak bersambut.
Xavier juga bangkit dari duduknya, menyeringai lebar ke arah Akram seolah kesenangan melihat kejengkelan wajah adik angkatnya itu. Lalu membalikkan tubuh dan pergi dari ruangan mengikuti Credence tanpa mengatakan apapun.
Di ruangan itu hanya tinggal Akram dan Maya sendirian. Akram yang masih duduk di kursi besarnya, menatap ingin tahu ke arah Maya yang masih belum juga beranjak dari tempat duduknya.
“Ada sesuatu yang masih ingin dibahas?” tanya Akram cepat dengan nada dingin.
Maya mendongakkan kepala, membalas tatapan mata Akram dengan sinar mata sendu. Ekspresinya yang keras melembut, dipenuhi dengan penyesalan.
“Aku ingin minta maaf atas yang kemarin,” ujarnya pelan dan berhati-hati. “Sikapku kemarin kurang ajar dan melewati batas, pantaslah kalau kau mendorongku sampai jatuh karena aku memang layak menerima perlakuan itu. Tetapi….” Maya menghentikan kalimatnya sejenak untuk memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. “Tetapi, kau juga harus memahami kalau malam itu aku sedang mabuk, kadang jika aku mabuk, logikaku kalah oleh perasaanku, jadi…”
Lelaki itu lalu beranjak dari kursinya dan melangkah ke pintu, tidak mempedulikan Maya yang masih duduk termangu dan meninggalkan ruangan tanpa kata.
Hening yang lama, ketika akhirnya Maya menyadari sikap kasar Akram kepadanya, tangannya terkepal geram bercampur malu bukan kepalang.
Dirinya telah sengaja bersikap lemah dan merendahkan diri untuk meminta maaf kepada Akram Night, tetapi lelaki itu malah menanggapinya dengan sikap arogan luar biasa.
Geraham Maya mengetat. Dia tahu bahwa sikap dingin Akram malahan menumbuhkan rasa penasaran dan rasa memiliki di dalam jiwanya lebih berkobar. Pasti akan sangat memuaskan rasanya bisa membuat lelaki kejam itu menyerah dan bertekuk lutut di kakinya. Kemenangan yang dirasakannya pasti akan sangat memuaskan.
Maya mendongakkan kepala dengan angkuh, tekad kuat menyala di matanya.
Tunggu saja nanti, Akram Night. Aku pasti akan menundukkanmu. Geramnya kuat di dalam hati.
***
***
“Bagaimana perasaanmu?”
Kali ini yang bertanya kepadanya adalah dokter Nathan yang melakukan visit malam untuk memeriksa keadaaannya. Elana yang sedari tadi berbaring di antar sadar dan tidur-tidur ayamnya langsung terjaga seketika ketika menyadari kehadiran dokter Nathan di ruangan ini.
Dalam satu hari ini, ini adalah kali ketka dokter Nathan mengunjungi ruang perawatan untuk memantau kondisinya. Dan hal itu juga membuat Elana jadi bertanya-tanya sedang sakit apakah dia? Apakah sakitnya parah? Karena setahunya, visit dokter di rumah sakit biasanya dilakukan sehari sekali, bukannya sampai tiga kali seperti yang dilakukan oleh dokter Nathan saat ini.
“Sedikit mengantuk, dokter,” Elana menjawab dengan jujur. “Tetapi suster bilang kalau itu karena obat dan juta tekanan darahku yang sedikit turun…”
“Kalau bisa mengantuk, maka pergunakan untuk tidur. Istirahat yang cukup akan baik untuk memulihkan kondisimu. Pusing dan mual? Apakah masih terasa?” tanya dokter Nathan lagi.
Elana langsung menggelengkan kepala. “Tidak pusing dan tidak mual, tadi aku juga sudah bisa makan…”
“Kau menghabiskan makanannmu?” dokter Nathan menyela, menatap Elana dengan penuh perhatian.
Elana menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan dokter Nathan, sementara pipinya memerah karena malu. Pihak catering rumah sakit sudah beberapa kali mengirimkan sajian makanan porsi besar untuknya, dan setiap kali makanan datang, Elana merasa kelaparan hingga menghabiskan makanan itu sampai tandas.
__ADS_1
Nafsu makan Elana memang besar, tapi tak pernah sebesar ini sebelumnya, seolah-olah dia selalu lapar dan tak terpuaskan hanya dengan seporsi makanan. Anehnya, pihak rumah sakit seolah-olah mendukung nafsu makannya yang meningkat itu dengan terus menerus mengirimkan makanan untuknya.
Apakah penyakitnya berhubungan dengan kurang makan? Sehingga dia harus makan banyak untuk memulihkan kondisinya?
Perlahan, Elana mendongak, menatap dokter Nathan yang tengah memeriksa kotak digital yang mengatur aliran infus ke tubuhnya.
Didorong oleh rasa ingin tahu, akhirnya Elana memberanikan diri untuk bertanya.
“Dokter, aku sebenarnya sakit apa?” tanyanya perlahan.
Mata Elana menyipit ketika mendapati tubuh dokter Nathan sedikit menegang ketika mendengar pertanyaannya. Dia memiringkan kepala, mencoba mempelajari ekspresi dokter Nathan yang seolah-olah menyimpan rahasia.
Dokter Nathan menatap langsung ke arah Elana. Bibirnya kemudian membuka untuk mengucap sesuatu, tetapi sayangnya terhenti ketika pintu ruang perawatan yang terbuka mengalihkan perhatiannya.
Xavierlah yang pertama kali memasuki ruangan. Lelaki itu memasang senyum manisnya, sambil membawa buket bunga mawar putih yang sangat indah terangkai di tangannya.
“Kuharap, aroma harum mawar putih ini bisa mengalahkan bau obat-obatan kamar rumah sakit yang mungkin menjadi penyebab kau mual,” Xavier tersenyum manis, lalu meletakkan rangkaian bunga mawar yang dibawanya ke nakas di samping ranjang dan menatap Elana dengan saksama. “Kau sudah baikan?” tanyanya kemudian dengan penuh perhatian.
Xavier tentu saja sudah tahu tentang kehamilan Elana. Begitu Elios memberitahu bahwa Elana tak masuk kerja hari ini karena sakit, Xavier langsung merasakan keanehan, karena seingatnya, yang terakhir kali sakit adalah Akram dan bukan Elana. Dia lalu menghubungi Nathan untuk mencecar informasi sampai dapat. Dan karena Akram tidak meminta Nathan untuk merahasiakan perihal kehamilan Elana kepada siapapun selain kepada Elana sendiri, maka Nathan akhirnya mengungkapkn tentang kehamilan Elana kepada Xavier.
“Aku merasa sudah enakan,” Elana menatap ke arah Xavier dengan tatapan bersalah. “Maaf karena tidak bekerja hari ini, padahal kau sedang sibuk-sibuknya…” sambungnya kemudian.
Xavier langsung terkekeh, mengibaskan tangannya sambil lalu untuk menenangkan Elana.“Jangan dipikirkan, aku akan bertahan sampai kau kembali. Yang terpenting kau harus menyembuhkan diri dulu, supaya nanti bisa bekerja lagi dengan kondisi fit, oke?” sahut Xavier lembut.
Elana menganggukkan kepala dengan bersemangat. “Baik. Aku akan sembuh dengan cepat, jadi bisa masuk bekerja lagi segera,” ujarnya cepat.
“Tak perlu terburu-buru, Elana. Biarkan aku memastikan kondisimu dulu, baru nanti kita tentukan kapan kau boleh bekerja,” suara Nathan yang menyela kalimat Elana terpotong lagi oleh pintu yang terbuka kembali.
Kali ini, sosok yang tak disangkalah yang hadir. Credence masuk diiringi dengan Maya, lalu diikutii oleh Akram yang menyusul tak jauh dari mereka berdua.
“Kuharap kau segera sembuh, aku menantikan saat kita bisa bekerjasama,” ucap Credence dengan nada suara lembut, lebih lembut dari Xavier.
Elana menganggukkan kepala, mengulas senyum tulus dari lubuk hatinya. Dia sungguh tak menyangka orang sesibuk Credence dan juga Maya, mau menyempatkan diri untuk menengoknya.
“Terima kasih banyak,” sahutnya dengan nada sopan untuk mengimbangi sikap lembut Credence.
Maya yang sejak tadi memasang wajah datar bersedekap sambil mengawasi Elan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perempuan itu memang sedang diinfus dan agak pucat, tetapi selebihnya tampak baik-baik saja hingga seharusnya bisa beristirahat saja di rumah dan tak perlulah sampai dirawat di rumah sakit segala.
Lagipula, kamar rumah sakit tempat Elana dirawat ini, jauh lebih bagus dari kamar VVIP terbaik sekalipun. Kamar perawatan ini Maya tahu adalah sekelas president suite yang hanya dibuka untuk tamu-tamu tertentu dengan kelas dan kedudukan tinggi.
Seorang karyawan biasa yang menjabat asisten direktur-pun, meskipun nominal gajinya cukup besar, tetap saja tak akan mungkin bisa membayar biaya perawatan di kamar seperti ini.
Ternyata, menjadi wanita simpanan orang kaya, bisa membuat Elana mencicipi kehidupan kelas atas juga.
Maya melirik sinis kepada Xavier yang duduk di sisi tempat tidur, kemudian melirik ke arah Akram yang sejak tadi berdiam di sisi belakang mereka, berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding seolah-olah memilih sebagai pengamat dan bukan bagian dari para pembesuk ini.
Akram mungkin juga sudah muak dengan sikap sepasang kekasih ini, karena itulah lelaki itu mau datang, tetapi tak mau berinteraksi dengan Elana, apalagi menyapa atau menanyakan keadaannya.
Sungguh kesempatan yang bagus. Mungkin dengan begitu, Maya bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan Elana dan Xavier di depan Akram, biar Akram sadar, Elana tak sesakit itu dan Xavier telah menggutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan perusahaan dengan memanjakan Elana yang tak pada tempatnya.
“Kau tampak sehat,” Maya mulai menyemburkan racun dari mulutnya yang berbisa. “Memangnya kau sedang sakit apa?” tanyanya dengan nada menusuk penuh cemooh.
Keheningan langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, dan entah kenapa menciptakan ketegangan tak kasat mata di dalam ruangan yang penuh dengan orang tersebut. Xavier melirik ke arah Nathan, yang sedang melirik dengan cemas ke arah Akram. Sementara itu, Credence yang ahli membaca situasi malahan tampak menahan senyum karena geli melihat tingkah orang-orang yang ada di ruangan ini.
Sepertinya hanya Elanalah yang tak menyadari apapun di sini. Perempuan itu menatap Maya dengan tatapan polos tanpa rasa bersalah, lalu menjawab dengan suara lugas dan lembut.
"Sebenarnya aku juga ingin bertanya," Elana mengalihkan pandangannya ke arah dokter Nathan. "Dokter, sebenarnya apa diagnosa pasti dari penyakitku?"
Yang ditatap oleh Elana langsung terbatuk-batuk dengan sedikit gugup, sementara otaknya berputar segera untuk mencari jawaban yang meyakinkan.
"Kau hanya kurang istirahat. Makan yang banyak, cukup tidur dan menghilangkan stres, maka kondisimu akan baik-baik saja," ucap dokter Nathan segera.
Mata Maya membelalak mendengar keterangan dokter Nathan tersebut. Penyakit macam apa itu? Kalau cuma kurang istirahat, tentulah Elana tak perlu dirawat di rumah sakit dengan fasilitas semewah ini! Mata Maya kembali melirik ke arah Akram Night dan diam-diam menyembunyikan senyum puas dalam hati.
Biarpun hatinya memendam benci karena tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Elana, setidaknya tujuannya untuk membongkar betapa manja dan tidak kompetennya Elana sebagai karyawan dan juga kesalahan sikap Xavier yang terlalu memanjakan perempuan simpanannya itu, telah tersampaikan kepada Akram Night!
***
***
***
__ADS_1