Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 18 : Membangkang


__ADS_3


"The spaces between your fingers are meant to be filled with mine"


Dengan wajah pucat karena menyadari bahwa dirinya sedang dibidik dari jarak dekat, Nathan langsung mengangkat kedua tangannya ke atas, pertanda menyerah dan tak melawan.


Ekspresi Akram sendiri sangat gelap, seolah-olah dia memang berniat untuk menembak kepala Nathan dengan darah dingin.


Dan Nathan sendiri tahu bahwa Akram tak pernah main-main dengan ancamannya. Akram tidak mungkin berhasil menjaga kedudukannya yang kokoh sebagai pemimpin yang berkuasa dan ditakuti jika omongannya tak bisa dipegang.


Di balik penampilannya yang elegan dan berkelas, Akram adalah sosok bengis yang tak punya belas kasih. Tak peduli jika Nathan adalah teman masa kecil, atau bahkan dokter pribadi yang sudah bekerja padanya selama bertahun-tahun, jika Akram memutuskan untuk melenyapkan Nathan, maka Nathan sudah pasti akan kehilangan nyawa.


"Maaf Elana, aku masih sayang nyawaku, jadi kucabut tawaranku untuk membantumu," Nathan berbisik pada Elana yang pucat pasi di dekatnya, lalu segera memfokuskan pandangannya ke arah Akram.


"Jangan terlalu serius, Akram! Aku cuma main-main! Jangan bunuh aku, kau akan kesulitan menggali tanah untuk menguburku nantinya!" Nathan berseru dengan suara keras untuk mencairkan keadaan ketika dia melihat bahwa Akram masih membidik kepalanya dengan pistol di tangannya.


Akram menipiskan bibir, menatap mata Nathan dengan tajam, tapi tak urung akhirnya dia menurunkan pistolnya dan menyelipkannya kembali ke sarung pistol yang tersembunyi di balik blazer gelapnya.


"Kalau kau mati di sini, Aku tak akan repot-repot menguburmu.Tinggal meletakkan mayatmu di pantai dan buaya-buaya besar di sana akan membereskanmu sampai habis tak bersisa," Akram berucap dengan nada kejam, sengaja menatap ke arah Elana ketika berucap, hingga menyebabkan tubuh Elana begidik, ngeri mendengar kalimat Akram yang keji.


"Kau tahu aku hanya main-main," suara Nathan merendah ketika melanjutkan pembelaan dirinya. "Lagipula, aku membawakan sesuatu yang sudah kau tunggu-tunggu," Nathan menepuk tas yang dibawanya dengan penuh arti, berharap Akram memahami maksud tersiratnya.


Dan Akram paham. Apa yang dibawa oleh Nathan di dalam tasnya itu adalah sesuatu yang penting dan memang sudah ditunggu-tunggu olehnya.


Sesuatu yang berhubungan erat dengan Elana.


Akram akhirnya menganggukkan kepala sedikit, lalu membalikkan badan sambil memberi isyarat kepada Nathan untuk mengikutinya.


Dengan langkah ringan, Nathan bergerak mengikuti Akram sampai kemudian di ambang pintu tiba-tiba Akram menghentikan langkah mendadak hingga hampir membuat Nathan menabrak punggungnya.  Lelaki itu kemudian menoleh kembali, menatap langsung ke arah posisi Elana berdiri sebelumnya.


Elana sendiri langsung kaku ketika tatapan Akram menyambarnya. Sebenarnya dia sudah berhasil menjauh beberapa langkah tanpa suara di saat Akram membalikkan tubuh dan menyuruh Nathan mengikuti langkahnya tadi.


Elana memang sengaja kabur diam-diam karena tidak ingin berinteraksi lebih lanjut dengan Akram. Sebab, berdiri kaku sambil melihat bagaimana Akram menodongkan pistol dengan begitu barbar pada dokter pribadinya sendiri hanya karena lelaki itu menawarkan bantuan pada Elana, membuat Elana menyadari betapa kejam dan berbahayanya sosok Akram yang sebenarnya.


Lelaki itu bukan hanya pemerkosa yang suka memaksakan kehendak tanpa belas kasihan pada wanita... Elana sadar bahwa Akram bisa saja lebih berbahaya dari dugaannya. Kemungkinan besar, Akram adalah seorang pembunuh keji yang telah memadamkan begitu banyak nyawa dengan kekuatannya.


"Kau mau kemana?" Akram sedikit mengerutkan kening ketika melihat Elana sedang mengambil langkah menjauh berlawanan dengan pintu masuk villa.


Elana langsung memasang ekspresi membangkang, mendongakkan dagu dengan angkuh ke arah Akram sebelum menjawab.


"Aku ingin berjalan-jalan di sekitar sini." Elana sengaja menghirup udara segar nan sejuk di sekelilingnya dengan keras untuk mengusik Akram. "Di luar sini jauh lebih segar daripada di dalam, ruangan" sambungnya setengah menyindir.

__ADS_1


Kerutan di kening Akram semakin dalam mendengar jawaban Elana. Lelaki itu lalu mengawasi ke sekeliling dimana para pekerja perbaikan yang kesemuanya lelaki, tampak lalu lalang menjalankan tugasnya.


Para pekerja itu memang dilatih untuk melakukan tugasnya dengan efisien, mereka  bekerja dengan bersih, senyap, cepat dan sebisa mungkin tanpa mengganggu tuan rumah yang terkenal memiliki temperamen buruk. Mereka juga akan segera meninggalkan pulau ini setelah pekerjaan perbaikan diselesaikan. Tetapi, mata Akram mendapati sebagian besar dari para pekerja itu tampak mencuri-curi pandang ke arah Elana, beberapa bahkan tanpa malu sengaja melahap dengan mata mereka seluruh diri Elana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan penuh minat, membuat Akram ingin membidik para pekerja kurang ajar itu dengan pistolnya.


Pagi ini Elana memang tampak cantik, dengan wajah polos yang segar tanpa make up, rambut lembut terurai membingkai wajahnya, dan juga gaun sewarna hijau koral membungkus tubuh mungilnya yang kini tampak sedikit berisi, dengan kepadatan yang pas di bagian-bagian yang menyenangkan Akram. Penampilan Elana bagaikan peri hutan yang bercahaya, benar-benar tampak menyegarkan mata dibandingkan dengan pemandangan sekitar pulau yang porak poranda akibat badai.


Memikirkan keindahan Elana menjadi santapan pandangan pria lain, membuat Akram menggertakkan gigi. Dirinya tidak akan pernah rela membiarkan wanitanya, yang akhirnya berhasil dia miliki dengan susah payah, dinikmati oleh pria lain meskipun hanya lewat pandangan mata saja.


"Kau sarapan bersamaku," Akram menggeramkan kalimat perintah dengan tegas, dan ketika didapatinya Elana masih berdiri kaku di tempatnya dengan tatapan membangkang, Akram menyentuhkan tangannya ke pistol yang masih tersimpan di balik saku blazernya, sengaja agar Elana melihatnya. "Masuk, Elana."


Elana menelan ludah, tadinya dia ingin meneriakkan 'pergilah ke neraka!' keras-keras untuk melawan sikap Akram yang Arogan, tetapi ketika melihat Akram memberi isyarat ancaman dengan menyentuh pistolnya, Elana tahu bahwa untuk saat ini dia harus menyerah.


Akram sepertinya tidak suka dibantah terang-terangan, apalagi di depan anak buahnya. Dan Elana yakin jika dia terus membantah, Akram tidak akan segan untuk menodongkan pistol ke kepala Elana hanya untuk memaksanya ikut masuk ke ruang makan dan menyantap sarapan sesuai perintahnya.


Elana akhirnya melangkah menuju ke pintu villa dimana Akram menunggunya. Dipasangnya wajah cemberut dengan sengaja untuk menunjukkan kepada Akram bahwa meskipun kali ini dia menyerah serta menuruti perintah tirani lelaki itu, dia tidak melakukannya dengan sukarela.


 



 



 


Biasanya, ketika Elana menikmati sarapannya sendirian di villa ini, dia sudah cukup puas bisa memakan omelet dengan irisan paprika, jamur lezat dan keju lembut yang meleleh di tengahnya ditemani dengan secangkir cokelat hangat yang menenangkan.


Ketika koki dapur menanyakan menu sarapan apa yang menjadi kesenangannya, Elana menyerahkannya kepada koki itu sambil berpesan bahwa dia menginginkan menu yang merupakan masakan paling simpel dan sederhana yang pernah dibuat sang koki. Dan koki itu akhirnya menyajikan omelet serta minuman cokelat hangat untuknya. Jenis masakan yang meskipun namanya cukup sederhana, tetapi jelas dibuat dari bahan berkualitas tinggi sehingga tersaji dengan rasa luar biasa nikmat di atas meja.


Menu sarapan kali ini bukan hanya omelet dan minuman cokelat hangat, tetapi dilengkapi dengan salad segar, roti panggang, sosis dan juga kopi hitam mengepul yang menguarkan aroma harum dan sudah pasti sengaja disediakan untuk Akram.


Mereka makan sarapan dalam keheningan, beberapa kali Nathan tampak memulai pembicaraan ringan yang hanya ditanggapi oleh Akram dengan jawaban-jawaban yang singkat dan pendek.


Elana sendiri sengaja menempatkan dirinya sebagai orang luar, dia berusaha mengabaikan keberadaan Akram dan Nathan, mencoba menganggap mereka saat ini tak ada di hadapannnya. Elana memilih memusatkan perhatiannya pada makanan lezat di depannya, menikmati sarapannya sepenuh hati.


Meskipun begitu, Elana tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arah Akram dan Nathan yang duduk di seberang mejanya. Keduanya memakan sarapan dengan gaya yang terlihat sangat elegan, terutama Akram, lelaki itu makan dengan ekspresi berkharisma dengan punggung tegak dan gaya makan seperti bangsawan-bangsawan kelas atas di jamuan makan mewah yang hanya pernah dilihat oleh Elana melalui layar televisi.


Karena terpesona dengan gaya makan Akram yang elegan, Elana tanpa sengaja salah menempatkan garpunya, hingga ujung garpu perak itu menusuk piring keramik mewah yang menjadi alas makanannya, menciptakan suara keras memecah keheningan di meja makan itu.


Akram langsung menatap Elana dengan tajam, melemparkan pandangan memperingatkan supaya Elana menjaga etiket makan di meja tersebut. Tumbuh besar di keluarga aristrokat yang penuh dengan protokoler dan aturan kelas atas nan ketat, Akram boleh dibilang tidak bisa mentolelir ketidaksopanan dan sikap barbar di meja makan.

__ADS_1


Tetapi Elana sendiri, begitu menyadari bahwa Akram tidak menyukai etiketnya yang mungkin dianggap tidak berkelas di meja makan, bukannya dia memperbaiki diri, malah Elana sengaja menantang Akram dan mendemonstrasikan sikap pemberontaknya.


Penuh semangat, diirisnya omelet di depannya itu dengan potongan besar, dimasukkannya semua ke mulutnya, dikunyahnya dengan suara berdecak keras yang mengganggu. Dan seolah itu belum cukup, Elana menyambar cangkir cokelat hangat di tangannya, meminumnya seperti atlet marathon yang kehausan sehabis lari, sengaja meneguk dengan tegukan besar yang menyebabkan tenggorokannya menciptakan bebunyian keras seiring dengan dia menelan cairan itu.


Wajah Akram merah padam melihat sikap Elana, dan sampai di titik Elana meletakkan cangkir cokelatnya dengan serampangan hingga cairan itu menodai penutup meja makan yang berwarna putih bersih, Akram lepas kendali dan membanting telapak tangannya ke meja dan menciptakan suara keras yang membuat gerakan Elana yang sedang menyuap sepotong besar omelet berikutnya, terhenti.


Elana mendongakkan kepala, menatap Akram dengan tatapan menantang yang berarti 'Sebenarnya apa masalahmu?' dan terus mengunyah dengan suara berdecak keras seolah mengejek. Salah sendiri Akram memaksakan Elana yang berasal dari kelas bawah ini menjadi tawanannya. Kalau Akram menyukai perempuan beretiket baik, seharusnya dia mengambil perempuan kelas atas sebagai pemuas nafsunya, bukannya malah memaksa Elana berakhir bersamanya.


Elana tidak tahu etiket makan kelas atas itu seperti apa, dan dia tidak peduli serta merasa tidak butuh mengetahuinya. Bagi Elana, makanan itu dimakan sebagaimana fungsinya supaya manusia bisa bertahan hidup, makanan itu juga seharusnya dinikmati dengan penuh syukur, tanpa harus peduli dengan protokol dan tata cara yang menyulitkan untuk menyantapnya.


Akram mengelap mulutnya dengan serbet putih bersih yang disediakan di atas meja, rahangnya mengeras ketika menatap ke arah Elana yang terus menikmati makannya dengan serampangan tanpa peduli bahwa dia membuat Akram merasa tidak nyaman. Akram bahkan tidak mampu menghabiskan sarapannya setelah melihat tingkah Elana.


Yang membuat Akram lebih marah adalah karena dia tahu bahwa sesungguhnya gaya makan Elana yang biasanya tidaklah sekasar itu. Perempuan ini jelas-jelas sengaja makan dengan gaya serampangan dengan maksud untuk mendemonstrasikan sikap membangkangnya melawan Akram.


Tidak. Akram tidak akan semudah itu jatuh dalam emosi hanya karena provokasi kekanakan yang dilakukan oleh Elana dengan sengaja.


Saat ini, ada hal lain yang lebih membutuhkan fokusnya hingga Akram memutuskan mengabaikan Elana untuk sementara.


Tapi bukan berarti Elana bisa lepas begitu saja. Nanti ketika Akram sudah menyelesaikan urusannya dan mereka hanya berdua, Akram bertekad untuk menunjukkan kepada Elana mengenai siapa sebenarnya yang berkuasa dalam hubungan mereka. Elana harus sadar bahwa tidak ada gunanya mencoba menentang terus. Karena perempuan itu sudah pasti akan berakhir tunduk dan menyerah di bawah belas kasihannya.


Akram beranjak dari duduk, lalu berdiri dengan sikap elegan yang tenang, meskipun di ujung meja yang lain, Elana terus makan seperti orang kelaparan yang tidak diberi makan beberapa hari.


Mengabaikan Elana, Akram menoleh ke arah Nathan yang tampak menikmati sarapannya sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Ketika Akram memperhatikan Nathan dengan seksama, barulah dia sadar bahwa Nathan sedang menahan tertawa dan lelaki itu berusaha menyembunyikan ekspresinya dengan menunduk dalam.


Dokter sialan itu rupanya geli dengan situasi canggung antara Akram dengan Elana. Nathan tampaknya menikmati pertunjukkan provokasi dari Elana untuk memancing kemarahan Akram dan dia juga senang melihat Akram yang tampak tersiksa karena sekuat tenaga berusaha menahan diri agar tidak terpancing oleh provokasi Elana.


Tentu saja Nathan begitu menikmati situasi yang mungkin tidak akan pernah bisa terjadi dua kali ini. Karena biasanya, tidak ada orang yang berani memprovokasi kemarahan Akram, dan jika pun ada yang cukup gila untuk melakukannya, Akram sudah jelas tidak akan membiarkan orang itu bisa melenggang bebas tanpa luka seperti yang tengah terjadi pada Elana.


Elana benar-benar wanita yang istimewa, bukan hanya sikap polos perempuan itu yang tidak silau oleh kesempurnaan fisik dan kekayaan Akram, Elana juga menjadi satu-satunya wanita yang berani membangkang dan memprovokasi Akram secara terang-terangan. Pantas saja Akram memperlakukan Elana dengan berbeda, memberikan perlakuan yang tidak pernah diberikannya kepada manusia mana pun sebelumnya.


"Selesaikan makanmu segera, Nathan. Aku menunggu di ruang kerjaku, dan kuharap kau datang membawa kabar baik sesuai keinginanku," Akram berucap pada Nathan sambil melemparkan peringatan tersirat melalui pandangan matanya supaya Nathan tidak mencoba-coba berinteraksi kembali dengan Elana ketika Akram meninggalkan mereka berduaan.


Setelahnya, tanpa menoleh lagi pada Elana, Akram berbalik meninggalkan ruang makan itu dan melangkah menuju ke ruang kerjanya yang ada di seberang lorong.


 




__ADS_1


 



__ADS_2