
Ini adalah Part 4/10 dan part 5/10 ( di up author jumat sore ) yang akan author post untuk crazy update secara bertahap di hari jumat dan sabtu. Kemungkinan bisa lolos review di hari jumat malam atau sabtu atau senin kalau molor ahahaha.
Part 6,7,8,9 dan 10 di up hari sabtu sore kelima-limanya, dan kemungkinan bisa lolos review hari itu juga, atau masuk ke lolosan reviwe hari senin ( karena minggu libur )
Author up sesuai jadwal, tetapi masalah LOLOS REVIEW kapan, tentu tergantung pihak admin MT yang menentukan, jadi jangan anggap author PHP ya, saat ini author bersungguh-sungguh memenuhi target up sesuai jadwal yaitu 10 PART BERTAHAP hari JUMAT dan SABTU
Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.
Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.
Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.
EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)
***
***
Hari sudah menjelang sore, dan Elios sudah berpamitan sejak tadi meninggalkan ruangan kantor karena dia mendapatkan tugas untuk menjemput Nolan sepulang sekolah dan membawanya ke rumah sakit tempat Elana dirawat kemudian.
Tetapi, di ruangan kerja Xavier yang luas, Xavier dan Credence masih ada di sana, sementara berkas-berkas hasil pemeriksaan Credence tampak bertumpukan di meja besar depan sofa yang terletak di sisi berseberangan dengan meja kerja Xavier.
Credence yang sudah menghabiskan bercangkir-cangkir kopi akhirnya mengangkat kepalanya dari berkas-berkas yang diperiksanya, lalu melirik ke arah jam tangannya.
Sebentar lagi menjelang malam, karena semburat gelap sudah mulai menghiasi langit dan bersiap untuk menelan langit terang yang berwarna kekuningan. Kening Credence berkerut ketika menatap Xavier yang sejak tadi tampak diam dan sibuk di depan laptopnya.
Sudah berjam-jam berlalu dan Xavier sama sekali tak beranjak dari kursinya.
Penasaran, Credence bangkit berdiri dan menyempatkan diri untuk mengambil secangkir kopi panas dari mesin pembuat kopi untuk mengisi cangkirnya yang kosong. Dia lalu melangkah, mendekat ke arah Xavier sambil melongok ke layar komputer Xavier untuk mencari tahu apa yang sedang dikerjakan oleh lelaki itu.
Dua laki-laki itu tetap tak saling berbicara satu sama lain. Xavier mengawasi laptopnya dengan saksama, dan jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang hampir tak terdeteksi oleh mata, mengetikkan kode-kode yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh otak Xavier yang jenius itu. Sementara, Credence yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati, berdiri samping mejanya, sedang menyesap kopi dari cangkir hitam di tangannya.
“Kenapa kau pikir Maya ada hubungannya dengan semua ini?” tanya Credence kemudian, akhirnya memutuskan untuk memecah fokus Xavier yang terrtuju penuh konsentrasi pada tampilan gambar di layarnya.
Xavier tidak menjawab, menunjukkan bahwa dia belum mau diganggu. Lalu beberapa menit kemudian, terdengar bunyi bib di layar komputernya, dan tampilan layarnya yang semula hanya berupa kode-kode komputer tak terbaca, beralih layar, menampilkan gambar sebuah apartemen kosong yang mewah, dalam kotak-kotak dalam berbagi sisi yang terlihat jelas.
“Kau memutuskan untuk menyadap apartemen Maya dengan menggunakan kamera nano yang bisa terbang dan diprogram memasuki kamar apartemen Maya, lalu mengambil gambar dari semua sudut. Apa keuntungan dari semua ini? Apakah memang ada hubungannya dengan rencana kita, atau jangan-jangan kau menyimpan hasrat tak tersampaikan kepada Maya dan ingin mengintipnya?” Credence tak bisa menahan diri untuk bersuara lagi, kali ini diselipkan nada mengejek dan kejengkelan karena sejak tadi Xavier tak menanggapinya.
Xavier menolehkan kepala, bibirnya menyeringai seolah mencemooh perkataan Credence kepadanya.
“Aku tak akan terpesona pada jenis wanita seperti Maya. Aku hanya menganggapnya pion dan alat untuk mencapai tujuanku,”
“Dan tujuanmu adalah?” sambung Credence, bertanya dengan penasaran.
Xavier tergelak. “Kau tahu, Credence. Aku telah mempelajari tentang manusia begitu lama, dan mempelajari wanita dengan emosi kompleks adalah tantangan paling besar bagiku. Perasaan mereka tak bisa dipetakan seperti kita memetakan kode pemrograman yang paling rumit sekalipun. Tetapi, seberapapun rumitnya hati seorang wanita, aku tahu pasti, bahwa seorang wanita yang disakiti, bisa berbuat lebih kejam dan lebih mengerikan bahkan jika dibandingkan dengan algojo yang paling kejam di dunia sekalipun.”
“Kau berpikir bahwa Maya akan membalas dendam kepada Akram?” Credence mengerutkan kening ketika mulai bisa menyimpulkan arah pembicaraan Xavier.
__ADS_1
Xavier menganggukkan kepala. “Maya adalah jenis wanita yang tidak bisa ditolak begitu saja. Dia terlalu memandang tinggi dirinya, sehingga, ketika seseorang menolaknya, dia tidak akan menginstropeksi diri dan mencari kesalahan dirinya kenapa sampai dia ditolak, tetapi akan langsung menimpakan kesalahan pada orang yang menolaknya. Dan aku yakin, saat ini Maya akan mencari segala macam cara untuk bisa membalas dendam kepada Akram,”
Xavier melirik ke arah Credence dan tersenyum lebar ketika mengetahui bahwa Credence memahami apa yang hendak dikatakannya. “Tepat seperti dugaanmu, Credence. Sebelum diusir dari perusahaan, Maya sudah mendapatkan data-data hasil temuanmu di perusahaan Akram. Dia tahu siapa pelaku penggelapan dana keuangan Akram, dia juga tahu siapa otak di balik segala kejahatan keuangan ini, dan yang paling pasti, dia tahu bahwa Dimitri merupakan musuh besar Akram dan satu-satunya musuh kuat yang punya nyali untuk menantang seorang Akram Night.”
“Jadi, kau berpikir bahwa Maya akan menjangkau Dimitri untuk membalaskan dendamnya pada Akram?” tanya Credence lagi.
Xavier menganggukkan kepala. “Maya bukanlah jenis perempuan yang bisa ditolak, lalu menyerah dan pergi begitu saja dari kehidupanmu. Dia akan merancang segala macam cara untuk kembali dan menuntut balas dengan tujuan membuat Akram menyesal. Percayalah padaku, Credence, bersabarlah sedikit saja dan kita pasti akan melihat bagaimana Maya tak akan membuang-buang waktu untuk bersekutu dengan musuh demi bisa membalas dendam kepada Akram,”
***
***
“Elios akan datang sebentar lagi bersama Nolan,” Akram melirik jam tangannya. Jarak dari area rumahnya di pinggiran kota yang ditempati Nolan ke rumah sakit ini memang cukup jauh, ditambah lagi dengan macet di siang hari, jadi kemungkinan ketika sore menjelanglah, baru Nolan bisa sampai di rumah sakit. “Hari ini hari ujian terakhirnya dan Nolan libur sekolah besok. Aku sudah mengatur untuk disiapkan kamar di sebelah supaya Nolan bisa menginap di sini, Elios akan menemaninya, jadi besok dia bisa menghabiskan waktu seharian bersamamu.”
Mereka sudah kembali ke kamar tempat perawatan Elana dan dokter Nathan baru saja pergi meninggalkan ruangan. Dokter Nathan telah mendapatkan laporan dari hasil pemeriksaan kandungan awal oleh dokter Sandra dan kembali mengunjungi pasangan yang berbahagia itu untuk mengabarkan bahwa semuanya baik-baik saja, normal dan sehat.
Yang paling membuat malu, dokter Nathan dengan terus terang bahkan menjelaskan di depan Elana dan Akram langsung bahwa hubungan intim diperbolehkan tetapi harus dilakukand dengan sangat berhati-hati dengan intensitas yang tak boleh terlalu sering, setidaknya sampai kandungan kuat di usianya dua belas minggu atau tiga bulan.
Dan setelah menjelaskan apa yang perlu dijelaskan dan berhasil membuat pipi Elana memerah karena rasa malu, sang Dokter pun pergi melenggang meninggalkan ruangan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Saat ini, Akram sedang mengupaskan jeruk untuk perempuan itu. Lelaki itu duduk di tempat kesukaannya, di pinggir ranjang, dekat dengan Elana. Setelah jeruk itu terkupas, Akram menyuapkannya dengan sabar kepada Elana. Setelah jeruk itu habis, mata Akram otomatis terarah pada Elana dan mengikuti perubahan ekspresi Elana yang tiba-tiba menjadi muram hingga membuat alisnya terangkat.
“Kau tampak bingung. Kenapa? Apa yang memberati pikiranmu?” tanyanya cepat.
Elana menghela napas panjang, hendak berucap tetapi suaranya tak keluar. Ditatapnya Akram dengan hati-hati, sejenak meragu tetapi kemudian memutuskan untuk berbicara.
“Ini mengenai Nolan,” ujar Elana lemah. “Aku… aku masih ragu untuk mengatakan bahwa aku adalah kakaknya.”
“Kenapa kau merasa ragu?” tanyanya menelisik tajam.
Elana kembali menghela napas panjang. “Entahlah… aku hanya takut Nolan kecewa,” bisiknya perlahan, penuh dengan rasa rendah diri.
Akram menggerakkan kedua telapak tangannya untuk menangkup wajah Elana dan dia menundukkan kepala hingga ujung hidungnya hampir beradu dengan ujung hidung Elana.
“Kenapa harus Nolan merasa kecewa denganmu? Kau cantik, berhati baik dan kau adalah segalanya yang diinginkan oleh seorang lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya. Kau adalah wanita yang kucintai. Dia, Nolan, pasti akan merasa sama bahagianya denganku ketika menemukanmu untuk menjadi bagian dari keluarga,” Akram mengawasi wajah Elana dengan saksama, ketika masih dilihatnya gurat ketidakyakinan tercermin di wajah Elana, Akram mengecup lembut ujung hidung Elana untuk menenangkannya. “Kau tahu bukan? Aku sebatang kara di dunia ini, sama seperti Nolan?” tanyanya setengah berbisik.
Elana mengerutkan kening. “Kau masih punya Xavier,” sahutnya cepat.
Akram mengerutkan alis seolah tidak suka. “Xavier tidak masuk hitungan,” ujarnya menyanggah dengan cepat. “Dia sudah lama tak masuk hitungan,” sambungnya kemudian dengan suara tegas.
Elana sebenarnya hendak membantah perkataan Akram, ingin mengatakan bahwa segala yang dilakukan oleh Xavier hingga detik ini, meskipun semuanya tampak dilakukan dalam selubung kejahatan, itu semua didorong oleh rasa cinta dan sayang Xavier yang terlalu besar terhadap Akram.
Tetapi, sebelum Elana sempat mengangkat pembicaraan mengenai Xavier ini, Akram langsung memotongnya dengan sikap tak terbantahkan.
“Aku tak ingin saat-saat kita berdua yang berkualitas sekarang ini, dirusak dengan membicarakan Xavier. Aku sedang fokus membicarakanmu,” ucap Akram perlahan. “Elana. Kau tentu melihat bahwa selama ini aku sebatang kara sendirian dan tak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Aku juga tak pernah ingin memiliki keluarga, karena aku dengan kepongahanku merasa bahwa aku mampu hidup sendirian di dunia ini,” tatapan Akram tampak bersungguh-sungguh. “Itu semua sebelum aku bertemu denganmu.”
Elana mengerjapkan mata mendengarkan kalimat terakhir Akram. Tetapi lidahnya kelu, seolah tak mampu berucap apapun. Dia hanya diam, menatap Akram dengan penuh perhatian dan menunggu lelaki itu melanjutkan perkataannya.
“Kau adalah satu-satunya perempuan yang membuatku merasa yakin bisa berbagi kehidupan. Kau adalah satu-satunya perempuan dimana aku tak pernah keberatan menghabiskan setiap detik hidupku bersamamu. Dan kau akhirnya mengandung anakku, membuatku meyakini bahwa seseorang seperti aku pun, ternyata membutuhkan orang yang kucintai dan mencintaiku, untuk kulindungi atas nama keluarga.” Akram mengusap rambut Elana lembut. “Aku beruntung bisa menemukanmu di antara tujuh milyar manusia di bumi ini, tetapi kau bahkan lebih beruntung dari diriku. Kau masih memiliki seseorang di dunia ini yang memiliki pertalian darah denganmu, seseorang yang berbagi satu ibu denganmu, keluargamu bahkan sejak kalian dilahirkan di dunia ini. Kau tidak sebatang kara dan kau mensyukurinya, bukan?” tanya Akram penuh perhatian.
Elana masih tak berkata-kata, hanya mampu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Akram tersenyum, kali ini senyumnya tampak menenangkan dan memberi semangat.
“Kalau begitu, kau pasti mensyukuri kehadiran Nolan di dunia ini dengan sepenuh hati. Dan aku yakin, itulah yang akan dirasakan oleh Nolan ketika dia mengetahui bahwa dia masih memiliki dirimu, kakaknya, saudarinya, seseorang yang memlilki pertalian darah dan berbagi genetik dengannya. Aku yakin, tak akan ada satupun rasa kecewa di dalam benak Nolan ketika mengetahui bahwa dia memilikimu sebagai saudarinya. Dia akan mensyukurimu seperti kau mensyukurinya,” Akram mengecup dahi Elana, lalu bibirnya bergerak turun dan mencium mata Elana, sebelum kemudian berlabuh di bibir Elana dan mengecupnya lembut. “Karena itu, janganlah kau merasa rendah diri atau ketakutan bahwa kau akan mengecewakan Nolan. Seumur aku mengenalmu, kau tak pernah mengecewakan siapapun, kau tidak pernah mengecewakanku, dan kau tak akan pernah mengecewakan Nolan. Apakah kau mengerti, Elana? Kau adalah wanita yang patut disyukuri, bukan untuk disesali.”
Kalimat yang diucapkan oleh Akram begitu tulus dan menyentuh hati, membuat dada Elana sesak oleh keharuan yang nyata. Semenjak tadi, perasaannya telah bergolak oleh berbagai emosi, dan semua itu campur aduk di dalam jiwanya, membuat matanya panas dan kemudian air matanya akhirnya tumpah tak tertahankan, membasahi pipinya dalam isak tangis sendu yang tak terhentikan.Elana menangis tersedu, dan Akram dengan lembut mengusap air mata itu, menghapus jejak basah di pipinya, menggantikannya dengan kecupan mesra penuh penghiburan.
“Jadi, apakah kau akan mempertimbangkan untuk memberi tahu kepada Nolan mengenai hubungan darah kalian nanti ketika dia tiba di sini?” bisik Akram bertanya.
Elana menelan ludah, menghela napas dalam untuk menguatkan hatinya. Lalu akhirnya, dia menganggukkan kepala.
“Aku… aku akan mengatakannya malam ini,” bisiknya kemudian mengambil keputusan.
Akram tersenyum lebar. “Bagus. Percayalah kepadaku, Elana. Ketika tidak ada rahasia lagi, maka hatimu akan dipenuhi kelegaan yang mendamaikan. Dia akan mensyukurimu, aku yakin itu,” sahutnya cepat.
Elana mengerutkan kening, lalu mendongakkan kepala untuk menatap Akram dengan penuh rasa ingin tahu.
“Apakah kau… pernah menyesaliku, walau setitik saja?” tanyanya ragu.
Akram langsung menatap tajam ke arah Elana. “Masihkah kau perlu bertanya?” sahut Akram dengan nada tajam. “Aku di sini sedang berusaha keras untuk mempercepat pernikahan kita, dan kau masih bertanya apakah aku meyesalimu? Tidak Elana, mungkin ada banyak hal yang kusesali di masa lampau, tetapi aku bisa menjawabmu dengan pasti untuk yang satu ini. Kehadiranmu dalam hidupku tak akan pernah kusesali. Aku sudah bilang, bahwa aku mensyukurimu.”
Perkataan Akram kembali menyentuh jiwa Elana, membuat air matanya mengalis kembali. Entah kenapa Elana merasa mudah sekali menangis saat ini. Seolah-olah hatinya mencair menjadi air mata, mudah tersentuh dan mudah terharu.
“Aku memujamu, tetapi kau malah menangis,” dengan lembut Akram membawa Elana ke dalam pelukannya. “Apakah itu semua karena pengaruh hormon kehamilanmu hingga emosimu bergolak tak terkendali?” tanya Akram sambil terkekeh, mempererat pelukannya, mengecup pucuk kepala Elana, lalu menghadiahkan kecupan lembut di sana.
Mungkin memang karena pengaruh hormon, Elana sendiri tak membantahnya. Seluruh emosinya sekarang bercampur aduk oleh rasa yang tak terjelaskan oleh batinnya.
Elana memejamkan matanya, menenggelamkan kepalanya di dada Akram, mencari ketenangan di sana dengan menghirup aroma Akram yang menyenangkan serta mendamaikan. Dia mencoba menelisik ke dalam jiwanya sendiri, mencari jawaban atas pergolakan hatinya yang begitu kompleks hingga membuat dadanya membuncah sesak dan napasnya tersekat di tenggorokan.
Lalu, Elana akhirnya menemukan jawaban.
Segala kelembutan Akram, sifat protektifnya, kebaikan dan cinta yang dicurahkan oleh lelaki itu tanpa ditutup-tutupi dan terus mengalir kepadanya meski masih tak terbalas, ternyata telah menyentuh hati Elana di titik yang paling dalam. Semua hal yang terjadi di dalam kehidupan mereka, pertengkaran, kebencian, kesalah pahaman, rasa takut kehilangan, perhatian, cinta, rasa ingin memiliki, dan semua emosi yang semakin mendekatkan mereka itu…. Semuanya membawa hati Elana pada satu titik kulminasi hati yang tak terbantahkan lagi.
Untuk kali ini, entah kenapa, segala keraguan di benak Elana musnah sudah, membuat Elana memantapkan hati, menghela napas dalam-dalam, lalu menjauhkan wajahnya dari dada Akram, untuk kemudian mendongakkan kepala dan menatap lelaki itu.
“Akram…” Elana kembali menghela napas, jantungnya berdebar begitu kencang ketika dia berusaha mengucap kata.
Akram mengerutkan kening, dia menyadari bahwa emosi kegugupan membanjiri diri perempuan di depannya ini. Ekspresinya berubah cemas ketika dia menatap tajam ke arah Elana.
“Ada apa, Elana?” bisiknya khawatir.Tangan Elana yang kurus bergerak, menyentuh pipi Akram, dan melakukan apa yang sering dilakukan oleh Akram kepadanya.
Sementara itu, Akram menahankan debaran senang di dadanya ketika menerima sentuhan Elana itu. Dalam satu hari ini, tanpa merasa ragu dan tanpa sadar, Elana telah berkali-kali menyentuhnya, mengusap wajahnya dan berbagai keintiman lainnya.
Hal itu membuat Akram merasa sangat senang, karena itu berarti bahwa mereka sudah satu langkah lebih dekat lagi dibanding sebelumnya.
Kedua tangan Elana menangkup pipi Akram yang tegas, merasakan kulit hangat Akram terserap di sana, sementara mata Elana terpaku pada mata hazel Akram yang menatapnya tajam.Keheningan membentang di antara mereka, sebuah keheningan indah yang diisi oleh debar jantung dan helaan napas penuh antisipasi. Tanpa diduga, Elana mendongakkan kepala, lalu mengecup dahi Akram lembut, membuat Akram terkejut dengan lidah kelu.
Lalu akhirnya Elana membuka mulutnya, bibirnya pun gemetaran ketika berucap.
“Akram… aku mencintaimu,”
***
__ADS_1