
Prakata,
Terima kasih atas bantuannya untuk take down plagiat di platform sebelah pada kasus kemarin. Sebagai ucapan terima kasih, abah persembahkan free bonus part dari EOTD. Enjoy.
Anonymous Yoghurt.
PENGUMUMAN
PO BUKU CETAK edisi Koleksi Essence of The Darkness dan Sincerity ****TELAH DIBUKA
( Periode PO 27 Sept sd 10 Oktober 2022)
Edisi Cetak bertanda tangan hanya tersedia 100 Eksemplar saja.
ESSENCE OF THE DARKNESS - 954 halaman
Sincerity ( Bonus Part kisah kehamilan anak pertama dan kehamilan anak kedua Elana ) - 250 halaman
Cara PO
1, Jika ingin melakukan PO melalui PSA buka projectsairaakira.com' atau cek IG @projectsairaakira @anonymousyoghurt untuk info lebih lanjut
Jika ingin melakukan PO melalui WA, Silakan Wa mimin PSA di 0896-3650-7974
Jika ingin PO melalui reseller (PO lewat IG, Shopee, Tokopedia dll) silakan cek Instagram reseller sbb:
@chochovan95
@angelvin_olshop
@salenovel14
@rumahbukubundarasya
@cintabukubookshop
Thank You
Yours Sincerely
Anonymous Yoghurt.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Menyadari semua orang tertegun menatap ke arahnya, Akram tampak tak peduli. Tatapannya tertuju ke arah Zac, dan dia melangkah lambat-lambat dengan aura predator yang memberdirikan bulu kuduk.
“Bisa kau ulangi lagi, Zac? Apa yang dikatakan oleh dua makhluk tak signifikan itu mengenai istriku?” tanya Akram kemudian.
Zac melirik ke arah ibunya. Anak itu memang masih kecil, tetapi dia jelas tahu bahwa kalimat yang diucapkannya mungkin akan menyakiti hati ibunya. Karena itulah, dia sedikit ragu ketika hendak mengulangi lagi perkataannya. Namun, matanya kemudian tertuju pada ayahnya, dan melihat kemarahan tertahan di mata gelap ayahnya yang membara, Zac langsung tahu bahwa sang ayah adalah pahlawan bagi mereka.
Sang ayah sudah pasti akan melindungi ibunya supaya tak tersakiti dan pemikiran itu membuat Zac akhirnya mampu mengulang ucapannya dengan suara lantang kemudian.
“Perempuan itu, ibu dari Tommy dia menghina ibu.” Zac menyebut nama anak yang ditinjunya dengan nada dingin, begitu mirip dengan Akram ketika menyebut nama musuh-musuhnya. “Kata Tommy, ibunya bilang kepadanya bahwa ibuku dipungut ayahku dari jalanan.”
Ketika kalimat itu diucapkan oleh Zac untuk pertama kalinya, hal itu membuat telinga semua orang yang mendengarnya seolah tersambar petir, membuat mereka shock bukan kepalang. Dan sekarang, ketika kalimat itu diucapkan untuk kedua kalinya dengan nada yang sangat lantang pula, efeknya jauh lebih kuat, membuat telinga-telinga yang mendengarnya menjadi merah. Terutama perempuan itu, Ibu dari anak bernama Tommy. Tadinya dia kelihatan angkuh dan arogan dengan tatapan mata merendahkan dan nada suara penuh hinaan yang melengkapinya. Akan tetapi, ketika sekarang dipaksa berhadapan dengan Akram Night secara langsung, perempuan itu tampak ketakutan dan menciut, seperti tikus yang tersudut saat dipaksa berhadapan dengan macan kumbang berukuran besar.
Ekspresi Akram benar-benar kelam dan tatapan mata dinginnya bahkan seolah mampu membuat suhu ruangan turun beberapa derajat. Ibu Diana, wali kelas Zac bahkan tanpa sadar mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya sambil berusaha menahan nuansa tak nyaman sebab keringat dingin juga mengalir di tulang punggungnya. Dia menoleh ke arah Ibu Karin di sebelahnya dan dilihatnya wajah sang guru bimbingan dan konseling tampak sama pucatnya dengan dirinya.
Akram Night melangkah maju dan membuat dirinya berdiri rapat di sebelah Elana. Lelaki itu kemudian menggunakan sebelah tangannya yang kokoh untuk merangkul pinggang Elana dengan gerakan intim tanpa malu dan setelahnya, Akram mengangkat kepalanya lagi, menatap satu persatu orang-orang yang ada di sofa itu. Mulutnya sendiri tak mengucap kata, seolah sengaja menciptakan keheningan menegangkan yang membuat semua orang di sana merasakan jantungnya berdebar semakin kencang seiring berjalannya waktu.
Setelah beberapa menit dipaksa bertahan dalam keheningan menegangkan, Nyonya Melda, Ibu dari anak bernama Tommy yang babak belur itu akhirnya tak tahan lagi. Jantungnya terasa berdebar kencang dan dadanya seperti mau pecah seiring berjalannya waktu. Otaknya berputar keras untuk menyelamatkan diri dan pada akhirnya, dia tak menemukan jalan keluar lain selain menghindari tanggung jawab.
“Ini semua sudah berputar jauh dari permasalahan sebenarnya! Anak itu memukul anakku sampai babak belur dan kami tidak akan membiarkan masalah ini berakhir tanpa keadilan bagi anak kami!” Suara Nyonya Melda terdengar mengancam, berharap apa yang dipaparkannya cukup untuk menyelamatkan dirinya. Namun, reaksi Akram sama sekali tak sesuai dengan harapannya. Mata kelam itu berkilat dengan sikap mengejek yang nyata, menatap Nyonya Melda seperti menatap kotoran di sepatunya.
“Nama.” Akram berucap tenang, menyahuti dengan suara rendahnya yang dingin.
Satu patah kata yang meluncur dari bibir Akram itu tentu saja tak diduga oleh yang lainnya hingga semua menatap ke arah Akram dengan ekspresi bingung. Bahkan, Elana juga mengerutkan kening dan menengadahkan kepala untuk menatap suaminya dengan tatapan tak mengerti. Akram memang selalu menggunakan cara unik yang memberikan efek paling fatal ketika lelaki itu memutuskan untuk membalas dendam hingga terkadang Elana tak bisa menebak apa yang ada di dalam kepala suaminya.
Sesungguhnya, mendengar kalimat yang diucapkan oleh Zac menyangkut perkataan Nyonya Melda tentang dirinya, Elana tidak merasa sesakit hati itu. Sebab, memang benar bahwa dia diambil oleh Akram dari jalanan, bukan? Yah, dulu dia memang bukan gelandangan di pinggir jalan atau semacamnya, tetapi mengingat betapa jauhnya derajat antara dirinya yang hanya anak perempuan yatim piatu yang setengah mati berjuang bertahan hidup dengan lelaki keturunan Keluarga Night yang memiliki akar aristokrat kokoh di negara ini, bukankah idiom ‘diambil dari jalanan’ memang cocok digunakan untuk menyatakan kisah awal dirinya dengan Akram? Meskipun sesungguhnya, kalimat itu memang berkonotasi sangat negatif dan penuh penghinaan, sebab orang yang tak menghina akan lebih memilih untuk menyebut kisah Elana sebagai kisah Cinderella, kisah perempuan dari strata sosial kelas bawah yang berakhir dengan lelaki berkuasa dari strata sosial kelas atas.
Namun, sekali lagi, Elana tidak sesakit hati itu.
Menjadi istri Akram selama bertahun-tahun, Elana sudah siap menghadapi berbagai gosip yang menyerang dirinya. Dia memang lebih memilih berdiam dan tak bersosialisasi dengan kalangan kelas atas yang sepadan dengan Akram, lebih senang menjadi ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dua anak kesayangannya, dan sangat jarang mendampingi Akram di event-event umum yang selalu melibatkan banyak wartawan dan media massa. Sekali lagi, itu semua dilakukannya bukan karena dia malu menampakkan diri sebagai perempuan yang berasal dari golongan tak sepadan dengan Akram, tetapi lebih karena Elana tak menyukai hiruk pikuk dunia kelas atas yang penuh dengan gosip, adu kekuasaan dan huru hara.
Tentu saja, sikap diamnya yang sangat jarang menampakkan diri, sudah pasti akan memancing berbagai gosip liar di luar sana, termasuk salah satunya, adalah gosip yang dikatakan oleh Nyonya Melda bahwa dia adalah perempuan yang diambil Akram dari jalanan. Gosip semacam itu dan bahkan yang lebih kasar dari itu sudah pernah didengarnya, dan karena dia tak mengambil inisiatif untuk melakukan konfirmasi, gosip itu berkembang menjadi dua arah. Yang pertama, gosip itu pupus dengan sendirinya karena gagal menyalakan bara api, dan yang satu lagi, oleh orang-orang yang keras kepala, gosip itu bahkan berkembang semakin jauh dan ditambal sulam menjadi lebih liar dari yang sesungguhnya.
Pada saat ini, ketika akhirnya gosip itu sampai ke telinga Zac melalui mulut anak kecil lain yang menguping perkataan ibunya, Elana tidak merasa marah atau tersinggung. Dia malahan merasa bersalah. Ya, dia merasa bersalah karena tak pernah mengonfirmasi gosip-gosip itu sejak awal, menganggapnya sebagai angin lalu dan berharap bahwa hal yang tak ditanggapi akan pupus dengan sendirinya. Sekarang, gosip tak pantas itu didengar oleh Zac yang membuat Zac menjadi marah dan berkelahi dengan temannya.
Elana melirik ke arah putranya yang tampak menatap ke arah Nyonya Manda dan putranya dengan tatapan mengancam yang sama seperti yang diberikan oleh Akram kepada mereka. Berdiri di tengah-tengah seperti ini, Elana merasa seperti berdiri di antara dua sosok berbahaya yang sama meskipun yang satu adalah senior dan yang lain adalah junior. Dia menghela napas panjang dan akhirnya memutuskan untuk tak berbuat apa-apa.
Lagipula, jika Akram sedang marah, siapa yang bisa menghentikannya?
Kedua guru Zac tampak bingung dengan satu patah kata yang dilontarkan oleh Akram, begitupun Nyonya Melda. Meskipun tampak jelas Akram memandang tajam kepadanya, tetapi dia masih tak yakin dengan kalimat yang diucapkan oleh Akram kepadanya. Hal itu membuat Akram menipiskan bibirnya dengan tidak sabar, matanya menatap tajam dan kali ini, dagunya mengedik angkuh terhadap Nyonya Melda.
“Nama,” ulang Akram lagi, kali ini menyelipkan nuansa ketidaksabaran di dalam suaranya.
Nyonya Melda mengerutkan kening, tetapi ketika dia menyadari bahwa Akram memang benar-benar menanyakan namanya, wajahnya berubah sedikit cerah penuh harapan.
“Nama saya Melda dari keluarga Alexis. Anda tahu? Kami keluarga pemilik hotel bintang lima di distrik D. Saya pernah bertemu dengan Anda di pesta amal dua tahun yang lalu, apakah Anda ingat—”
“Bukan namamu.” Akram menyela dengan nada sinis, membuat Nyonya Melda yang tadinya berbicara penuh semangat langsung menghentikan kalimatnya karena malu. “Nama suamimu yang pejabat itu. Siapa namanya?” sambung Akram dengan nada mengintimidasi.
Nyonya Melda menatap Akram dengan terkejut. Dia tidak bodoh, ekspresi wajah Akram Night di hadapannya saat ini terlihat sama seperti ekspresi seseorang yang siap membunuh musuhnya. Entah bagaimana Nyonya Melda mendapatkan firasat bahwa ketika dia menyebutkan nama suaminya... suaminya jelas tidak akan menemui ujung yang baik.
“Nama.” Akram mengulang lagi, kali ini dia tak menyembunyikan nada penuh ancaman di perkataannya.
Semua yang ada di sana ikut menegang, mengarahkan tatapan ke arah Nyonya Melda yang tak bisa berbuat lain selain menjawab dengan bibir gemetaran.
“Eddie... Eddie Sordida.” Pada akhirnya, Nyonya Melda pun menyebutkan nama suaminya dengan suara bergetar lemah.
“Hmm.” Akram hanya menggumam, tetapi gumamannya memiliki seribu makna yang membuat semua orang langsung dibanjiri pikiran buruk di dalam kepala mereka.
Mata Akram kemudian menatap ke arah sosok Tommy yang menyedihkan, menundukkan kepala ketakutan dengan sebelah mata lebam dan juga perban di kepala dan kakinya. Akram menolehkan kepala ke arah Zac.
“Kau yang menyebabkannya jadi seperti itu?” tanya Akram dengan riang ke arah Zac.
Zac mengerutkan kening. “Aku hanya meninju matanya, Ayah. Dia jatuh sendiri,” sahutnya dengan nada jujur.
__ADS_1
Sudut mata Akram melirik ke arah Tommy, tidak memedulikan Nyonya Melda yang pucat pasi.
“Sayang sekali, seharusnya kau meninju mulut kotornya juga,” ucap Akram dengan nada santai kemudian.
“Akram.” Elana seketika menengadah, menegur ke arah Akram sambil melebarkan mata penuh peringatan. Sudah cukup buruk Zac memukul temannya yang lebih lemah dan menyandang julukan sebagai perundung, sekarang Akram malahan menunjukkan dukungannya yang pastinya akan membuat guru-guru Zac mempertanyakan pola asuh mereka terhadap anak-anak di rumah.
Namun, Akram tampak tak peduli dengan nada peringatan yang dilontarkan oleh Elana. Lelaki itu menyeringai dan mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah.
“Kenapa? Bukankah apa yang kukatakan benar adanya?” Akram melirik ke arah Tommy dan Nyonya Melda yang pucat pasi. “Untuk seorang anak yang bisa mengucap kata-kata kotor seperti itu, mulutnya harus dihajar. Akan tetapi, seorang anak tidak akan berucap seperti itu kalau bukan diajari oleh orang tuanya. Seperti pepatah yang terkenal, buah busuk berasal dari biji yang busuk pula. Dalam hal ini, aku akan membagi tugas dengan putraku. Karena putraku sudah menjalankan tugas untuk menghajar sang anak, maka aku akan menjalankan tugasku dengan baik untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tua sang anak.” Akram kali ini menatap terang-terangan ke arah Nyonya Melda dan menghadiahkan senyum manis yang penuh aura mengerikan ke arah perempuan malang itu.
Pada saat itu, Nyonya Melda tergeragap karena firasat buruk yang melingkupinya semakin terasa kuat, matanya menatap ke arah Akram dengan penuh teror.
“Apa... apa yang akan Anda lakukan?” tanya Nyonya Melda gemetaran.
Senyuman Akram berubah penuh arti.
“Kau akan tahu. Segera.” Kalimat misterius yang diucapkan oleh Akram semakin menyebarkan nuansa penuh teror ke dalam ruangan. Akan tetapi, bukan Akram namanya jika dia peduli dengan perasaan orang-orang di sekelilingnya.
Matanya kemudian beralih ke arah kedua guru Zac dan bibirnya mengurai senyuman lagi.
“Saya rasa, ini sudah yang kelima kalinya saya mendapatkan panggilan karena kasus Zac yang bermasalah. Sebagai orang tua, saya akan berbicara dengan Zac di rumah sehingga hal ini tidak terulang untuk yang keenam kalinya. Namun, sebagai gantinya, saya juga ingin pihak sekolah secara aktif mencari akar permasalahan dari kejadian ini. Kalian harus melihat dari dua sisi, baik dari Zac maupun dari anak lainnya. Jika Zac sudah diperbaiki tetapi anak yang lainnya tetap busuk dan dibiarkan mengotori mata dan telinga, tentu saja tidak akan ada penyelesaian dari masalah ini, bukan?” Akram adalah spesialis pelontar kalimat tajam yang menusuk hati, tampak jelas setiap patah kata yang diucapkannya membuat semua orang di hadapannya semakin lama semakin pucat karenanya.
Ibu Diana dan Ibu Karin yang malang tampak saling melempar pandang satu sama lain. Selama lima kali orang tua Zac dipanggil ke sekolah, empat kali sebelumnya hanya Ibu Zaclah yang hadir menyelesaikan masalah dan keempat-empatnya selalu berakhir dengan baik dan penuh keharmonisan karena Nyonya Elana selalu bersikap kooperatif, mau menerima masukan dan tak segan meminta maaf atas nama Zac. Mereka jelas tak menyangka bahwa saat mereka harus berhadapan dengan ayah Zac, sosok ayah Zac ternyata adalah sosok yang keras seperti batu. Dan bukan hanya itu, batu yang keras itu juga ditumbuhi duri tajam yang melukai dan mengancam semua orang secara mengerikan.
“Kami mengerti.” Ibu Karin yang lebih dulu menguasai diri akhirnya berhasil menjawab cepat karena tahu bahwa Akram Night masih menunggu jawabannya.
Akram menganggukkan kepala tipis, lalu dia menatap ke arah Nyonya Melda dengan tatapan dingin.
“Kompensasi apa yang Anda butuhkan untuk anak Anda? Saya akan mengirim dokter keluarga untuk memeriksa dan menangani putra Anda dan mendampingi sampai sembuh total.” Akram berucap sambil menyelipkan nada mengejek di dalam suaranya.
Nyonya Melda membeliakkan matanya. Tadinya dia bersikap angkuh dan arogan serta tak mau bekerjasama karena dia ingin menunjukkan bahwa posisi dan kekuatannya berada di atas ibu Zac yang tak disukainya, tetapi ketika berhadapan dengan Akram Night sendiri, nyalinya langsung ciut tak karuan.
“Anda tidak perlu—” Nyonya Melda berusaha menolak tetapi Akram mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dia tak mau mendengar.
Matanya menatap tajam ke arah Nyonya Melda yang berdiri di sana dengan mulut menganga dan nuansa sinis di wajah Akram berubah pekat. Dia sudah muak berhadapan dengan mental-mental manusia arogan seperti Nyonya Melda itu. Bertindak kasar dan berani ketika berhadapan dengan yang lebih lemah, tetapi langsung ciut nyalinya dan ketakutan ketika berhadapaan dengan yang lebih kuat.
“Anda harus menerima niat baik saya. Siapa yang tahu bahwa beberapa waktu lagi di masa depan, Anda bahkan tak akan mampu membayar dokter paling murah sekalipun?” tanya Akram dengan nada penuh arti. Kali ini, kalimat Akram benar-benar menohok hati Nyonya Melda. Akram mengucapkan kalimatanya dengan santai, tetapi jelas ada makna gelap di balik ucapannya.
Tiba-tiba saja, Nyonya Melda merasa khawatir setengah mati. Akram Night mungkin tampak seperti penguasaha biasa di luaran, tetapi semua orang tahu bahwa di balik layar, dia menguasai banyak hal yang memengaruhi hidup banyak orang, laksana sutradara permainan boneka yang menggenggam tali takdir dari boneka-boneka tak berdaya di tangannya.
Dia membuka mulut hendak berucap, tetapi Akram Night yang sekarang sudah tak memandangnya lagi tampak menatap ke arah guru wali murid Zac dengan ekspresi wajah sopan.
“Apakah kami sudah boleh pergi? Sepertinya permasalahannya sudah dibereskan, bukan?” Akram bertanya sopan, tetapi nada mengintimidasi tak hilang dari suaranya.
Ibu Diana, sang guru malang itu pada akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala.
"Baik, Tuan Akram.” Ibu Diana adalah orang yang lembut, dia tidak menghakimi maupun mengintimidasi murid-muridnya yang bersalah, karena itulah dia kemudian mengalihkan tatapan matanya ke arah Zac dalam senyuman. “Zac, kuharap ini adalah terakhir kalinya orang tuamu harus datang ke sekolah,” ucap Ibu Diana kemudian.
Zac sesungguhnya adalah anak yang penurut, karena itulah pipinya tampak memerah menerima sikap lembut Ibu Diana dan dia mengangukkan kepala dan menunduk.
“Baik, Bu Guru,” ucapnya kemudian dengan nada santun.
Akram lalu merangkul Elana yang membawa tangan Zac dalam gandengannya. Tatapan matanya tampak melirik ke arah Nyonya Melda.
“Dokter akan datang ke rumah Anda siang ini juga. Saya harap Anda menerimanya selagi bisa.” Akram bergumam dingin, lalu mengucapkan pamit ke arah kedua guru Zac sebelum kemudian lelaki itu menghela istri dan anaknya keluar dari ruangan.
Saat mereka menutup pintu ruang konseling dari luar, tampak di sana sosok anak perempuan kecil yang terlihat sangat cantik dengan seragam sekolah dan rambutnya yang dikucir kuda. Anak itu juga sudah mengenakan mantelnya yang berarna biru tua dan langsung bangkit dari duduknya dan menghambur ke arah mereka.
“Maafkan kami karena lama.” Elana mengusap kepala Zelena dengan penuh sayang, dan saat Zelena mengulurkan kedua tangannya dengan manja, tanpa pikir panjang Elana langsung mengangkat anak perempuannya dalam gendongan.
“Kau sudah besar, kenapa masih meminta digendong seperti itu?” Zac mencondongkan tubuhnya ke arah Zelena, nada suaranya tampak mengejek, tetapi bibirnya mengurai senyuman sayang.
Zelena menjulurkan lidahnya ke arah Zac sebagai balasan, tetapi matanya kemudian terpaku ke arah pipi Zac yang masih terlihat bekas cakaran dalam di sana.
“Kenapa pipi kakak seperti ini? Kakak jadi tidak tampan lagi,” komentar Zelena sambil bersungut-sungut.
Kalimat Zelena itu membuat Zac terkekeh.
“Bagaimana mungkin aku kehilangan ketampananku hanya karena cakaran kecil ini? Bahkan jika ada bekas luka melintang di hidungku, aku akan tetap terlihat tampan,” sahutnya setengah bercanda.
Zelena terkikik mendengar kalimat kakaknya yang penuh percaya diri, menertawakannya terang-terangan sehingga membuat Zac mengerutkan kening.
“Kenapa? Apakah kau tidak setuju dengan perkataanku?” tanya Zac sambil mengedikkan dagunya ke arah Zelena.
Anak perempuan itu masih terkikik di dalam gendongan ibunya, menutup mulutnya dengan tangan mungilnya yang menggemaskan.
“Ah, kakak memang tampan, tetapi—” Zelena menengadah, menatap ayahnya dengan tatapan memuja. “Tapi ayah yang paling tampan!” serunya kemudian dengan suara ringan.
Akram sejak tadi masih terdiam dengan suasana hati buruk, tetapi kalimat yang diucapkan oleh Zelena langsung memupuskan aura gelap yang melingkupinya. Lelaki itu tersenyum lembut, berubah wujud dari malaikat kegelapan yang mengerikan menjadi ayah penyayang dalam sekejap mata.
“Tentu saja. Tidak ada yang mengalahkan ayah.” Akram menyeringai penuh percaya diri, tak memedulikan Elana yang memutar bola matanya melihat sikapnya. Dia kemudian mengulurkan tangan dan mengambil Zelena dari gendongan Elana.
“Kemarilah. Kau sudah besar, kasihan ibumu jika terus menggendongmu,” Akram berucap sambil memindahkan Zelena dengan mulus dan anak itu tidak memprotes, melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher ayahnya dengan senang hati.
***
Ketika Akram selesai memberikan instruksi kepada Elios melalui ponselnya, dia lalu meletakkan ponselnya itu dan menatap ke arah Elana yang duduk di sofa di dalam kamar mereka dan sedang menatapnya.
Sejak Akram menelepon dan kemudian melontarkan rentetan perintah yang cukup mengerikan untuk didengarkan, Elana tak bisa berkonsentrasi lagi untuk membaca buku yang sekarang sudah diletakkan di pangkuannya dan memilih untuk mengawasi Akram terang-terangan.
“Kau benar-benar akan menghancurkan keluarga Eddie Sordida?” tanyanya perlahan dengan nada berhati-hati.
Akram mengangkat alisnya, menatap Elana dengan sikap arogan yang seolah memang telah lekat dengan kepribadiannya.
“Apakah kau tidak setuju?” Akram balik bertanya.
Elana menghela napas panjang.
“Menghancurkan kehidupan satu keluarga hanya karena Ibu anak itu menghinaku sepertinya—”
“Hanya?” Akram menyela marah. “Dia menghina istriku, perempuan yang kupuja setinggi langit di atas segalanya dan kau bilang ‘hanya’?” Akram mengucapkan kalimatnya dengan nada jujur yang membuat pipi Elana merona merah. Lelaki itu kemudian bergerak, berdiri di depan Elana yang duduk di atas sofa dan kemudian menyentuh dagu Elana, menengadahkan perempuan itu ke arahnya. “Aku tak akan membiarkan siapa pun menghinamu. Biarlah yang satu ini menjadi contoh bagi yang lainnya. Jika mereka sampai berani menghina wanita yang dicintai oleh Akram Night, aku akan menghancurkan mereka tanpa sisa.”
Mata Akram menatap tajam ke arah Elana, dan ketika Elana hanya terdiam tak bisa menyahuti kalimat tegas yang diucapkannya, Akram membungkukkan tubuh dan tangannya bergerak menarik bibir bawah Elana supaya membuka untuknya.
Bibirnya mendekat ke bibir Elana sebelum kemudian dengan ahli dia melabuhkan kecup lembut di sana, menikmati lembutnya bibir Elana yang selalu terasa manis untuknya. Setelahnya, Akram melepaskan pertautan bibir mereka, tetapi lelaki itu tak menjauhkan wajahnya, membuat hidung mereka saling beradu, begitupun tatapan mata mereka.
“Bukankah sudah kubilang bahwa aku akan melindungi keluargaku? Aku tak akan membiarkan kau direndahkan oleh orang lain, Elana,” bisik Akram dengan nada serius. “Karena mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya, kaulah yang memungutku dari tempat kotor dan menyelamatkanku, bukan sebaliknya,” bisik Akram dengan suara parau.
Nada suara Akram seolah menahan kepedihan dan hal itu membuat Elana tersenyum sebelum kemudian merangkulkan kedua tangannya melingkari leher Akram, memeluk suaminya rapat.
“Aku baik-baik saja Akram. Kau tahu, aku sudah kebal dengan hinaan seperti itu,” ucap Elana menghibur suaminya. Akram memang tidak mengucapkannya, tetapi dia tahu bahwa suaminya mencemaskan suasana hatinya setelah mendengar hinaan kasar yang terucap merasuk ke telinganya itu.
Kalimat Elana membuat Akram menipiskan bibir. Lelaki itu lalu menghadiahkan kecupan di dahi Elana.
__ADS_1
“Kebal atau tidak, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghinamu lagi setelah ini. Aku akan menjadi suami yang gagal kalau sampai masih ada orang yang menghina istriku,” geram Akram kemudian.
“Kau bukan suami gagal.” Elana membantah sambil terkekeh. “Kau adalah suami terbaik di dunia untukku,” tambah Elana dalam senyuman lebar.
Akram menyeringai mendengar pujian yang diucapkan oleh Elana tanpa pikir panjang. Lelaki itu tiba-tiba saja merangkulkan lengannya yang kokoh melingkari tubuh Elana dan mengangkat Elana ke dalam gendongannya.
“Akram!” Elana memekik terkejut, memanggil nama suaminya dengan spontan.
Akram membawa tubuh Elana dalam gendongannya yang tinggi dan Elana secara otomatis langsung memeluk leher Akram untuk menjaga keseimbangannya. Lelaki itu kemudian menunduk lagi dan menghadiahi Elana dengan ciuman penuh hasrat, membuka mulut yang beradu dengan mulut, memainkan lidah yang menggoda lidah Elana dan mengerangkan hasrat yang membuat suaranya parau ketika berucap. Saat pertautan bibir mereka terlepas kemudian, napas keduanya tampak sama-sama terengah.
“Kurasa, aku harus membuktikan padamu bahwa aku adalah suami yang hebat—” Mata Akram menatap Elana penuh arti. “Hebat di semua aspek, terutama di atas sini.”
Sambil berucap, Akram membawa Elana ke arah ranjang mereka dan kemudian merebahkan Elana ke atas ranjang. Tentu saja, setelah berhasil menempatkan istrinya di atas tempat tidur, Akram tidak berniat untuk melepaskan istrinya begitu saja.
Dengan sikap menggoda, Akram menempatkan dirinya di atas tubuh Elana, menggunakan kedua lengannya untuk menyangga sisi kiri dan kanan kepala Elana sementara tubuhnya menaungi tubuh Elana, memerangkap istrinya sehingga istrinya tak bisa bangkit dari sana.
Elana menatap Akram dengan tatapan memprotes.
Ini masih sore hari dan anak-anak sedang ada di luar mengerjakan tugas sekolah mereka, dan Akram malah hendak mengurung dirinya di dalam kamar untuk bercinta?
“Akram—” Elana berbisik memprotes ketika lelaki itu mulai melabuhkan bibirnya di sisi telinga Elana, menggodanya lembut dengan sentuhan bibir seringan jaring laba-laba yang langsung mengalirkan senyar panas ke tubuh Elana. “Anak-anak—” bisik Elana sambil menahan suaranya yang mulai gemetar.
“Hmm—” Akram hanya menggumam sebagai tanggapan, bibir dan tangannya terus menggoda, tak memberi kesempatan bagi Elana untuk menolak. Ketika napas Elana mulai terengah dan dadanya terlihat naik turun dengan debaran yang terasa nyata, Akram tersenyum dan mengangkat kepala, menatap Elana dengan tatapan penuh cinta. “Anak-anak baik-baik saja di luar sana. Mereka sudah besar dan bisa mengurus diri mereka sendiri.” Sambil berucap, bibir Akram menggoda bibir Elana lagi. “Sekarang, yang harus kau pikirkan hanyalah aku seorang. Kau hanya boleh fokus kepada aku seorang,” bisik Akram parau sambil menyentuh Elana dengan lebih kuat, mengalirkan nuansa panas membakar dari jari-jari dan bibirnya yang seolah diciptakan untuk menyenangkan Elana.
***
Hari sudah malam ketika Akram turun ke ruang makan dan melihat Zac sedang duduk di sana, menanti hidangan disajikan.
Kepala Zac langsung tengadah ketika melihat ayahnya melintasi ambang pintu ruang makan dan berjalan mendekatinya.
“Ibumu tidur lebih cepat. Aku akan meminta makanan dikirim di kamar jika dia bangun nanti.” Akram menjelaskan tanpa rasa bersalah sambil mendudukkan dirinya di kepala meja makan, di sisi Zac.
Zac menganggukkan kepala mendengar perkataan ayahnya. Dia tampak tak terkejut karena memang sudah biasa menghadapi ibunya yang tidur lebih awal setelah menghabiskan waktu bersama ayahnya di dalam sana.
“Apakah Zelena ada di kamarnya?” tanya Akram lagi.
Zac menganggukkan kepala.
“Zelena sudah minum susu dan makan sup makaroni tadi, dia bilang dia mengantuk dan masuk ke dalam kamar lebih awal, mungkin dia sudah tidur sekarang,” Zac menerangkan tenang kepada ayahnya.
Kali ini, Akramlah yang menganggukkan kepala.
“Aku akan menengok Zelena di kamarnya nanti dan mengucapkan selamat tidur.” Akram mengangkat pandangannya ke arah Thomas yang menunggu di ambang pintu. Dia memberi isyarat bahwa makan malam sudah bisa dihidangkan dan Thomas pun menganggukkan kepala, buru-buru berpamitan dan beranjak pergi keluar untuk menuju dapur dan memberi instruksi kepada koki kepala supaya mulai menyajikan hidangan makan malam.
Masih ada jeda beberapa waktu sampai hidangan disajikan dan Akram memutuskan menggunakan jeda waktu itu untuk berbicara dengan Zac.
“Kau membuat masalah di sekolah akhir-akhir ini, apakah itu berhubungan dengan apa yang dikatakan bocah kurang ajar itu mengenai ibumu?” tanya Akram ke arah Zac kemudian.
Zac tersentak, menengadahkan kepala menatap ke arah ayahnya seketika begitu mendengar pertanyaan itu. Lalu, anak itu memasang ekspresi murung dan menganggukkan kepala.
“Tommy... dia mengejek ibu di depan teman-teman. Pertama-tama, aku memilih menghindar dan tak berkonfrontasi, karena itulah beberapa kali aku membolos jika ada kelas yang sama dengan Tommy. Lalu... aku melempar bola basket ke arahnya sebagai peringatan, tetapi dia tak berhenti.” Zac menipiskan bibir dengan marah. “Kenyataan bahwa dia lebih lemah membuatnya semakin berani, berpikir bahwa aku akan menahan diri karena jika aku melawannya, sudah pasti aku akan dianggap sebagai perundung. Sebab, di mana-mana, yang bertubuh lebih besar dan yang lebih kuatlah yang bersalah,” ucap Zac dengan nada pahit.
“Kau benar.” Akram menganggukkan kepala. “Yang lebih kuat memang selalu mendapatkan stigma buruk ketika dia menghajar yang lebih lemah. Manusia kadang tak mau melihat alasan di baliknya dan hanya mau menilai berdasarkan apa yang terlihat mata. Kenyataan bahwa kau bukan hanya kuat, tetapi berasal dari Keluarga Night, membuat stigma itu semakin lekat pada dirimu. Akan tetapi, Ayah akan memberikanmu jalan keluar. Untuk sekarang, kau tak usah menggunakan tanganmu sendiri untuk memberi pelajaran kepada orang-orang itu.”
Saat berucap, Akram mengeluarkan sebuah buku agenda kecil dengan sampul kulit warna hitam dari sakunya. Lelaki itu kemudian menyorongkan buku agenda kecil itu ke arah putranya.
Zac menatap buku agenda itu dan dengan penuh rasa ingin tahu dia mengambilnya. Dibukanya agenda itu dan keningnya berkerut ketika dia melihat bahwa bagian dalamnya kosong dan tak ada tulisan apa pun di sana.
“Apakah ini, Ayah?” tanya Zac mengungkapkan kebingungannya.
Akram menyeringai ke arah putranya, tatapan matanya seperti malaikat kegelapan yang sedang membujuk dan mengajak untuk bersekongkol.
“Ini... bagaimana kalau kau menyebutnya sebagai ‘nota pembalasan’?” Akram berucap dengan nada ringan. “Kau masih anak-anak dan kadang-kadang, penyelesaian dengan cara anak-anak tak bisa membantumu karena kau akan dihakimi oleh orang dewasa yang berpegang pada norma dan aturan. Karena itulah, gunakan Ayahmu ini. Selama kau masih anak-anak, maka ayahmu akan membantumu. Buku ini, gunakan dengan baik. Jika ada anak-anak atau siapa pun itu yang menghina Ibumu, maka catat namanya dengan terperinci, terutama nama keluarganya, lalu serahkan kepada Ayah. Ayah akan membantumu memberikan pelajaran bagi siapa pun yang menghina ibumu,” ucap Akram dengan sikap kelam, menguarkan nuansa gelap dalam setiap patah kata yang diucapkannya.
Bersambung ke Free Bonus EOTD 3: Zachary Night pt.3
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
PENGUMUMAN
PO BUKU CETAK edisi Koleksi Essence of The Darkness dan Sincerity ****TELAH DIBUKA
( Periode PO 27 Sept sd 10 Oktober 2022)
Edisi Cetak bertanda tangan hanya tersedia 100 Eksemplar saja.
ESSENCE OF THE DARKNESS - 954 halaman
Sincerity ( Bonus Part kisah kehamilan anak pertama dan kehamilan anak kedua Elana ) - 250 halaman
CARA PO
1, Jika ingin melakukan PO melalui PSA buka projectsairaakira.com' atau cek IG @projectsairaakira dan IG @anonymousyoghurt untuk info lebih lanjut
Jika ingin melakukan PO melalui WA, Silakan Wa mimin PSA di 0896-3650-7974
Jika ingin PO melalui reseller (PO lewat IG, Shopee, Tokopedia dll) silakan cek Instagram reseller sbb:
@chochovan95
@angelvin_olshop
@salenovel14
@rumahbukubundarasya
@cintabukubookshop
Thank You
Yours Sincerely
Anonymous Yoghurt.
__ADS_1