Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 125 : Menjelang Akhir


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


Setelah EOTL Tamat, Bonus Prolog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers


Season ketiga dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers dan bisa dibaca gratis sampai tamat.


***


***


***


“Sudah selesai?”


Sera langsung menyapa dengan lembut ketika Xavier melangkah masuk ke dalam ruang bayi tempat si kembar dirawat secara intensif di dalam kotak inkubasi.


Segera setelah Sera bisa duduk sendiri dan berlatih berjalan setelah operasinya, dia mendapatkan jadwal berkunjung secara teratur untuk menyusui kedua bayinya secara bergantian.


Beruntung tidak ada masalah dengan air susu Sera. Pada saat setelah operasi, air susunya memang terlambat keluar, tetapi sekarang setelah bayinya terbiasa menghisap untuk melepaskan dahaga dari buah dada ibunya, air susu Sera mengalir sangat lancar dan berlebih hingga mampu memenuhi kebutuhan kedua bayinya tanpa perlu khawatir kekurangan.


“Kau menyusui secara beruntun?” Xavier tidak menjawab pertanyaan Sera dan malahan berhenti sejenak di depan kotak inkubator milik si sulung. Matanya mengawasi salah satu perwujudan keajaiban terindah dalam hidupnya itu dengan penuh rasa sayang.


Elaine sepertinya telah kenyang dan telah selesai disusui, sekarang bayi perempuan cantik itu tengah tidur dengan pulasnya di dalam kotak inkubatornya.


Setelah puas mengawasi Elaine untuk memuaskan rindunya, Xavier kemudian bergerak ke belakang kursi roda Sera yang tengah mendekap dan menyusui si bungsu Ainee ke dalam pelukannya. Tangan Xavier berlabuh di pundak Sera dan memijatnya lembut, sementara kepalanya melongok dari atas kepala Sera, menatap ke arah Ainee yang menyusu dengan kuat sambil memejamkan mata.


“Dia mengantuk karena kekenyangan.” Xavier tak bisa menahan senyum di dalam suaranya ketika melihat  betapa menggemaskannya Ainee.


Hanya beberapa hari setelah dilahirkan dan mendapatkan nutrisi yang cukup, anak itu sudah berkembang jauh lebih pesat dibandingkan sebelumnya. Keriput di kulitnya karena dilahirkan prematur memang masih ada, tetapi tidak setajam sebelumnya, sedikit memudar karena tubuh bayi itu telah menggemuk diisi nutrisi.


Ainee memiliki ukuran tubuh sedikit lebih mungil jika dibandingkan dengan kakaknya Elaine, tetapi menyangkut nafsunya menyusui, si bungsu juga sama kuatnya seperti kakak kembarnya.


“Aku memberikan sisi kanan dan kiri bergantian untuk mereka.” Sera menengadah sedikit sambil memasang senyumnya ke arah Xavier. “Suster mengajariku untuk mulai memerah ASI secara teratur dan menyimpannya di botol steril di dalam lemari pendingin. Katanya, kalau si kembar semakin besar nanti kebutuhan susu mereka akan semakin meningkat dan mungkin akan terjadi di saat bersamaan sehingga mereka kemungkinan besar tak akan bersabar jika harus mengantri giliran menyusu seperti sekarang.”


Xavier menganggukkan kepalanya setuju mendengar kalimat Sera itu. “Aku mengerti. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya untukmu di rumah, jadi kau bisa menyimpan ASI-mu dengan baik nantinya.” Mata Xavier mengamati Sera yang sedang menyusui dan keningnya berkerut dalam saat melihat betapa kuatnya Ainee mengisap untuk mendapatkan susunya.


Anak itu sedang mengantuk tapi hisapannya masih sebegitu kuatnya, bagaimana jika dia dalam kondisi terbangun segar bugar dan kelaparan?


“Apakah rasanya sakit?” Tanya Xavier kemudian dengan nada prihatin.


“Sedikit.” Sera menjawab sambil tersenyum lembut. “Tapi aku terlalu berbahagia hingga aku tak merasakan sakitnya.”


Xavier terkekeh, lelaki itu lalu menghadiahkan kecupan di puncak kepala Sera dengan sayang.


“Aku sudah menyelesaikan semuanya dengan ayahku,” bisiknya kemudian dengan suara parau, lelaki itu beralih ke hadapan Sera dan berlutut di depan Sera yang duduk di depan kursi roda.


Dengan lembut Sera menggunakan sebelah tangannya yang tak sedang menyangga kepala Ainee untuk mengelus pipi Xavier.


“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya lembut.


Xavier menghela napas panjang, lalu memberikan senyuman untuk Sera.


“Terima kasih, Sera. Kau benar, rasanya ringan. Seluruh beban di pundakku seperti terlepaskan dan membebaskanku,” jawabnya kemudian.


Sera menganggukkan kepala. “Kuharap kau bisa melangkah ke masa depan dengan hati ringan dan bahagia, Xavier. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu,” bisiknya dengan nada tulus, dipenuhi haru yang tiba-tiba menyeruak, menyesakkan dadanya.


Tatapan Xavier yang terarah kepada Sera tampak dipenuhi kehangatan yang sama. Lelaki itu meraih telapak tangan Sera dan menghadiahkan kecupan di bagian dalam telapak tangannya.


“Aku ingin berbahagia di masa depan, bersamamu dan anak-anak kita,” ucapnya perlahan dengan nada parau. “Dan aku akan berjuang untuk mewujudkannya bagimu serta bagi keluarga kecil kita, Sera,” sambungnya kemudian layaknya sebuah janji seorang ayah yang menginginkan keluarga kecilnya baik-baik saja.


***


Ketika Akram melangkah memasuki ruangan itu, dilihatnya Xavier sedang menelan dua buah pil putih yang selama ini menjadi obat penunjang kehidupannya. Obat itu tidak menyembuhkan, hanya bekerja untuk memaksa tubuh melipatgandakan produksi darahnya hingga Xavier bisa berdiri dan berjalan-jalan seperti orang sehat saat ini. Padahal, jika melihat kondisi Xavier yang sesungguhnya, jika tanpa obat hasil temuannya itu, mungkin saat ini Xavier harus sudah berbaring lemah di ranjang rumah sakit dan menerima transfusi darah terus menerus untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Sayangnya meski kelihatannya cukup efektif, obat itu tak bisa dijadikan sebagai jalan keluar akhir bagi penyakit Xavier, karena efeknya sungguh mengerikan. Tiap periode peminumannya secara rutin, akan memforsir bagian tubuh yang seharusnya sudah rusak untuk terus memproduksi darah demi memenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, obat itu akan mengurangi masa kehidupan peminum rutinnya dalam jumlah waktu pengurangan  berbanding lurus dengan jumlah masa pemakaiannya.


Jika Xavier terus menerus menggantungkan diri pada obat itu, meskipun saat ini dia tampaknya bisa berjalan-jalan seperti orang sehat, bukan tidak mungkin dia akan tiba di titik dimana sisa umurnya terpangkas habis dan tiba-tiba saja Xavier akan ambruk kehilangan nyawa.


“Bagaimana dengan dokter Rasputin?” Akram tahu bahwa pembicaraan menyangkut dokter itu menyakiti Xavier, tetapi tetap saja mereka harus membahasnya.


Tiba-tiba saja seorang lelaki asing yang selama ini mereka anggap sebagai bagian dari komplotan musuh datang dan mengaku sebagai ayah kandung kakak angkatnya ini, ketika hasil test darah dilakukan, perkataan lelaki itu pun terbukti benar. Bagaimana mungkin Akram tidak terkejut dengan segala kebetulan yang seolah tersusun sempurna tapi tak mereka sadari sebelumnya itu?


“Aku sudah melepaskannya. Seperti kata Sera, hati yang penuh dendam akan menggayuti dan membuatmu sakit. Hati yang memaafkan akan meringankan langkahmu dan membuatmu tenang.” Xavier tersenyum perlahan. Perkataan Sera ternyata benar adanya. Sejak pengakuan dokter Rasputin itu, baru kali inilah dia bisa mengulas senyum tanpa beban yang menusuk-nusuk rongga jantungnya.


“Kau tidak ingin melakukan penyelidikan lebih lanjut?” tanya Akram kembali.


Xavier menggelengkan kepala. “Credence sudah melakukannya dan kurasa itu sudah cukup. Aku tak ingin menggali lebih jauh lagi.” Tatapan Xavier sedikit menerawang. “Kata dokter, dia tak akan bertahan lama.”


“Siapa? Dokter Rasputin?” Akram mengulang untuk memastikan.


Xavier menganggukkan kepala.


“Ya. Mungkin dalam waktu dekat, aku harus menyiapkan pemakaman,” sahutnya kemudian dengan suara setengah mendesah.


Xavier benar-benar terlihat lelah dan itu menyelipkan kecemasan di benak Akram. Apalagi ketika memasuki ruangan ini, Akram sempat melihat Xavier mengusap hidungnya dengan tisu putih yang langsung berubah warna menjadi merah karena menyerap darah yang mengalir keluar dari hidungnya.


Ciri utama penyakit ini adalah pendarahan yang terjadi dengan mudah ketika kondisi tubuh menurun, karena tubuh tak mampu menciptakan sel pembeku darah untuk menahan pendarahan keluar dari tubuh. Saat ini sudah jelas kondisi Xavier sedang tidak baik karena darah mengalir keluar dari hidungnya.


Akram cemas jika Xavier memaksakan diri melebihi kekuatan tubuhnya dan pada akhirnya malahan melukai dirinya sendiri.


“Apakah kau yakin kau akan datang sendiri untuk menemui Aaron?”


Akram menatap ke arah Xavier dengan tatapan mata memindai. Kondisi Xavier tampak tidak begitu baik pagi ini. Lelaki itu terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, masih dihiasi dengan lingkaran hitam di bawah matanya pula. Mungkin Xavier memang kelelahan dengan segala hal yang datang bertubi seolah tak ada habisnya sehingga menurunkan kondisi tubuhya.


“Aku tidak apa-apa, aku hanya terlambat meminum obatku tadi.” Xavier mengusap perlahan wajahnya, lalu berusaha tersenyum ke arah Akram. “Segera setelah obat ini menyebarkan efeknya, aku akan baik-baik saja,” sahutnya perlahan.


Kali ini gantian Xavier yang mengawasi Akram, lelaki itu sadar bahwa Akram baru saja tiba dari melihat kondisi dokter Nathan.


“Bagaimana dengan kondisi dokter Nathan?” tanyanya kemudian ketika Akram tampaknya belum berniat untuk memberikan informasi.


“Kita masih tidak tahu kapan Nathan mendapatkan kesadarannya kembali. Kita hanya bisa menunggu. Namun, dokter bilang kondisi Nathan semakin stabil hari ini, itu akan berarti semakin besar harapan kita bahwa dia akan sadarkan diri.”


“Aku juga berharap begitu.” Xavier menghela napas panjang. “Kalau dipikir-pikir, selama ini dialah yang terus menerus mendorongku untuk melakukan operasi demi menyelamatkan nyawaku. Aku sama sekali tak menyangka bahwa sekarang malah dialah yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dan kita yang berganti berharap-harap cemas akan keselamatan nyawanya.”


“Aku sudah mempersiapkan dokter yang terbaik untuk Nathan. Beruntung sekali dia cepat mendapatkan penanganan sehingga efek overdosis obat yang disuntikkan oleh Aaron ke tubuhnya belum merusak organ tubuhnya secara fatal. Kita hanya bisa berharap dia memiliki semangat hidup cukup tinggi sehingga dia bisa sadar lalu pulih kembali.”


Akram berucap dengan nada bijaksana dan menatap Xavier berhati-hati.


“Kau sendiri, Xavier. Ingatlah bahwa kau harus mempertimbangkan dirimu sendiri. Begitu seluruh urusan ini beres, aku ingin kau mulai menjalankan prosedur untuk persiapan operasi.” Ketika Xavier terlihat akan membantah, Akram langsung menyahuti dengan nada tegas. “Kesehatan dan kesembuhanmu bukanlah untuk dirimu sendiri saja, tetapi juga untuk Serafina dan si kembar. Yang mereka butuhkan adalah ayahnya yang sehat dan bisa mendampingi mereka di masa depan. Bahkan, aku yakin Nathan juga akan senang kau memilih prosedur operasi dengan segera.”


Masih tampak keraguan yang terpancar di mata Xavier, tetapi lelaki itu memilih untuk tak membantah, matanya menatap ke arah pintu sebelum kemudian mengajukan pertanyaan.


“Bagaimana dengan Credence?”


Akram mengangkat bahu. “Karena kita tidak jadi menggunakan Sabina, Credence sedang mengurus kepulangan perempuan itu. Dimitri akan mengirimkan anak buahnya untuk menjemput kembali Sabina. Setelah semua urusan ini beres, Credence akan mengambil cuti dari perusahaannya sementara waktu dan dia bilang dia akan mengisi waktunya dengan menjadi petani dan peternak.”


Xavier tersenyum penuh ironi. “Dimitri tampaknya tak ingin kehilangan robot yang sempurna yang bisa dimanfaatkannya. Sekarang setelah Sabina dikendalikan otaknya oleh chip itu, dia pasti merasa senang karena bisa memaksimalisasikan kemampuan Sabina untuk kepentingannya tanpa harus menghadapi bantahan atau pemberontakan Sabina yang dulu menyulitkannya di masa lampau.”


Akram menganggukkan kepala. “Mereka, Dimitri dan Sabina sesungguhnya sangat cocok. Jika Dimitri menyukai perempuan seperti robot yang bisa dikendalikan tanpa membantah, siapa yang tahu kalau ternyata nanti Dimitri berakhir dengan Sabina?” Akram menyeringai seolah merasa kemungkinan itu cukup menyenangkan untuk dibayangkan. “Mengenai Dimitri sendiri, menurutku dia sudah cukup menunjukkan itikad baik untuk bekerjasama dengan kita selama ini. Apakah kau tidak berpikir untuk melepaskannya? Kau tahu, hidup dengan ancaman racun yang membutuhkan penawar secara berkala dan bom di batang otak, tidak baik untuk kesehatan. Itu bisa membuatnya cemas setiap waktu dan memperpendek umurnya.”


Xavier terkekeh. “Aku akan mempertimbangkannya. Dia tanpa disangka telah menunjukkan loyalitasnya dan kerjasama yang baik dengan kita. Hanya saja, aku harus menilai apakah tanpa ancaman racun dan bom di batang otaknya, dia akan tetap berperilaku sama atau malah kemudian berbalik merancang pembalasan dendam di masa depan yang mengganggu kedamaian keluarga kita.”


Mata Xavier menajam ketika melanjutkan kembali ucapannya.  “Aku baru akan melepaskan Dimitri kalau aku yakin bahwa dia tidak akan berbalik menyerang di kemudian hari nanti.”


“Aku setuju denganmu.” Akram tersenyum dengan sikap persetujuan yang nyata. Saat ini, kedua lelaki ini memiliki prioritas yang sangat jelas: Keselamatan keluarga mereka.


Xavier terlihat  masih lelah, rupanya obat yang diminumnya belum memberikan efek masimal, masih perlu menunggu beberapa saat sampai dia bisa mendapatkan kembali staminanya.  Lelaki itu lalu menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


“Bangunkan aku jika semua sudah siap,” ujarnya kemudian sebelum kemudian melelapkan diri dalam tidur sejenak untuk mengembalikan tenaga dan emosinya yang sempat terkuras habis.


***


Aaron sudah membongkar semua data yang bisa dibongkarnya. Dari semua berkas, isi di dalam ponsel, sampai laptop milik Thomas, semua sudah disisirnya tanpa tersisa. Dia telah memaksakan kemampuan otaknya untuk mempelajari semuanya secepat kilat, menyerapnya ke dalam otaknya dan berlatih untuk mempraktekkannya dengan baik. Dia bahkan mempelajari standar keperawatan secara sekilas supaya tidak terlihat canggung dan mencurigakan saat dirinya  masuk ke fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat dan menyamar menjadi Thomas.


Beruntung ada video-video yang bisa digunakan sebagai referensi Aaron yang tersimpan di laptop Thomas. Sebagian besar video itu berisikan mengenai kegiatan Thomas sehari-hari, dan beberapa menampilkan tempat kerjanya. Video itu membantu Aaron supaya lebih familiar dengan pusat kesehatan tempat ayah Sera dirawat sehingga dia bisa masuk dengan penyamaran sempurna dan menjalankan misinya.


Malam ini dia hendak melakukan penculikan dan penyanderaan terencana. Dia berencana untuk mencabut semua alat penunjang kehidupan yang mendukung ayah Sera, lalu membawanya keluar melalui pintu belakang rumah sakit ke tempat persembunyiannya. Bukan masalah jika ayah Sera mengalami koma dan bisa mati, Aaron sesungguhnya tak peduli dengan ayah Sera. Dia hanya butuh menggunakan ayah Sera supaya perempuan itu datang kepadanya.


Entah ayah Sera dalam kondisi hidup ataupun mati, dia sudah tak peduli lagi. Dalam kondisi terdesak seperti ini, dia hanya punya satu tujuan saja, membawa Sera ke dalam pelukannya.


Meskipun begitu, Aaron sungguh berharap supaya ayah Sera tidak sampai mati. Kalau sampai lelaki itu mati ketika dia sedang menculiknya, pasti akan sulit menundukkan hati Sera supaya mau membuka perasaannya dan mencoba jatuh cinta lagi kepadanya.


Tetapi jika terpaksa, Aaron tak keberatan untuk bersabar dan menunggu sampai Sera memaafkannya lalu membuka hati lagi untuknya serta jatuh cinta lagi kepadanya. Yang penting untuk saat ini, dia harus bisa mendapatkan Sera dalam genggamannya, lalu membawa perempuan itu keluar dari negara ini dan menjauhkannya dari Xavier Light busuk itu.


Cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Bukankah hal yang sama terjadi pada Sera dan Xavier? Dulu Sera membenci Xavier, memendam trauma dan ketakutan kepadanya, bahkan ikut bersama mereka dalam rencana balas dendam untuk membunuh Xavier Light. Tapi, lihat apa yang terjadi sekarang. Hanya dengan pemaksaan di awal, penyekapan dan memaksa perempuan itu menjadi miliknya dalam pernikahan sandiwara, Xavier berhasil membuat Sera jatuh cinta kepadanya, tertipu oleh wajah tampannya dan bahkan bersedia mengandung anaknya dengan sukarela.


Padahal Aaron sangat yakin bahwa Xavier sesungguhnya tidak membutuhkan cinta dari Sera! Lelaki itu hanya memperalat Sera supaya bisa mendapatkan anak kembar untuk mendapatkan sel punca dari plasenta dua bayi kembar itu demi menyelamatkan nyawanya sendiri.


Aaron harus membuat Sera sadar akan motif Xavier yang sesungguhnya. Dia harus bisa membuat Sera yakin bahwa selama ini Xavier hanya bersandiwara dan berpura-pura baik kepada perempuan itu. Sera harus tahu bahwa setelah Xavier mendapatkan apa yang dibutuhkannya, perempuan itu akan dibuang seperti sampah. Dan Sera juga harus sadar betapa beruntungnya perempuan itu karena Aaron masih mau menerimanya yang sudah selayaknya barang sisa dari Xavier.


Mata Aaron melirik ke arah tubuh Thomas yang terbaring tak sadarkan diri di atas sofa. Lelaki setengah baya itu kehilangan kesadarannya dan sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Meskipun helaan napasnya terdengar tipis, tetapi masih terasa embusan napasnya yang naik turun dengan lemah sesuai ritme masuk dan keluarnya udara dari paru-parunya. Aaron memang telah membius Thomas dengan obat tidur dosis khusus yang membuat Thomas tak sadarkan diri dalam waktu lama.


“Tenanglah, kau tak perlu menunggu lama, pria tua.” Aaron yang merasa bahwa dirinya sudah siap berdiri dari tempatnya duduk. Dimatikannya laptop yang ada di hadapannya, lalu dia membawa dirinya ke depan cermin dan merapikan topeng sempurna serupa wajah Thomas yang menutupi wajah aslinya. Mata Aaron menyiratkan sinar puas dan bibirnya mengulas senyuman ketika menatap penampilannya.


“Malam ini aku akan menjalankan misiku. Jadi setelah ini, kalau kau bisa beruntung terlepas dari pengaruh obat bius itu, maka kau akan bebas sepenuhnya.” Aaron berucap, menyambung kalimatnya ke arah Thomas yang masih tak sadarkan diri.


Sebuah ketukan tiba-tiba saja terdengar dari pintu ruang apartemen sederhana itu, membuat tangan Aaron yang bergerak merapikan pakaiannya langsung membeku sejenak.


Ada tamu tak terduga yang datang?


Kening Aaron berkerut dalam ketika menimbang-nimbang. Apartemen ini memang termasuk apartemen murah sehingga sistem keamanannya tak berfungsi, orang luar yang datang bertamu bisa langsung naik dan mendapatkan akses ke lantai atas tempat para penghuni apartemen tinggal dan mengetuk langsung pintu rumah tanpa harus melewati pemeriksaan keamanan. Karena itulah Aaron bergegas ingin segera pergi dari sini dan melaksanakan rencananya setelah dia selesai mempelajari semuanya. Lokasi rumah Thomas ini tidak aman, sebab siapapun bisa datang mengetuk pintu rumah ini.


Suara ketukan terdengar lagi, kali ini lebih mendesak dan seolah tak mau menunggu. Aaron melirik ke arah pintu dan menimbang-nimbang.


Kira-kira siapa yang datang?


Thomas sepertinya tak punya banyak teman di sini.


Apakah mungkin itu dari rekan sejawat Thomas?


Aaron berdehem, berusaha mempersiapkan pita suaranya untuk meniru suara Thomas. Matanya melirik ke arah tubuh Thomas yang masih terbaring tak sadarkan diri di sofa ruang tamu dan dia rasa panik langsung sedikit menyerangnya.


Gawat. Kalau sampai tamu itu masuk dan melihat Thomas di sini... Aaron tidak boleh membiarkan tamu itu masuk, siapapun dia!


Dengan gerakan cepat, Aaron meraih selimut yang terlipat rapi di salah satu ujung sofa, lalu melemparkannya hingga menutupi tubuh Thomas supaya tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Suara ketukan itu pun terdengar lagi, menciptakan kegugupan yang semakin menyeruak ke dalam jiwa Aaron.


Dia akhirnya melangkah dengan berhati-hati ke arah pintu dan menghentikan kakinya tepat di depan pintu. Dihelanya napasnya dalam-dalam dan setelahnya lelaki itu menempelkan matanya ke lubang pengintip tamu yang tersedia di depan pintunya.


Sekujur tubuhnya langsung terkesiap seperti disengat listrik ketika melihat bahwa Xavier Light-lah yang sedang berdiri di depan pintu kamar apartemen itu.


***


***


***


EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


Setelah EOTL Tamat, Bonus Prolog + 10 Part EOTL ( Xavier’s Happy Family ) akan menjadi konten premium yang hanya bisa diakses baca eksklusif melalui website projectsairaakira / PSA / Aplikasi PSA Vitamins Reader

__ADS_1


Season ketiga dari The Essence Series, yaitu Essence Of The Evening/ Dusk Layers of The Sunset ( Kisah Credence ) Hanya akan diposting secara bersambung di projectsairaakira/  PSA / Aplikasi PSA Vitamins Readers


***


__ADS_2