Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 11 : Adu Kekuatan


__ADS_3


Entah jam berapa ini. Tetapi, hari tampaknya sudah menggeliat, menggulirkan bola matahari naik ke ujung langit dan menghantarkannya hingga hampir melewati setengah putaran jam.


Sinar matahari sendiri begitu terang benderang, menembuskan sulur cahayanya melalui kaca jendela bening yang tirainya telah disibakkan lebar ke sisi kiri dan kanannya, membuat ruangan serba putih ini jadi semakin menyilaukan dan membuat hantaman rasa nyeri semakin menyiksa, memukul-mukul kepala Sera tanpa ampun.


Xavier sendiri, yang berdiri di ujung ranjang, terlihat begitu sempurna, dengan rambut tersisir rapi, kemeja yang begitu licin tanpa kerutan sedikit pun dan wajah segar penuh senyum pengertian. Lelaki itu tampak seperti tokoh sempurna yang meloncat keluar dari dalam cerita fiksi dua dimensi.


Sera membelalakkan mata dengan mulut ternganga menatap ke arah Xavier, sementara otaknya yang masih menggeliat mencari kesadaran seolah tak mau diajak berlari cepat untuk mencari perbendaharaan kata, guna disemburkannya ke arah lelaki itu.


Semua pertanyaan yang campur aduk di kepala Sera seolah membeku di pita suaranya, tak bisa dikeluarkan.


Dengan tenang, tanpa mempedulikan ekspresi syok Sera, Xavier yang membawa nampan penuh sarapan lengkap di tangannya lalu bergerak ke dekat nakas tepi ranjang dan meletakkan nampan itu di sana. Kemudian, tanpa peduli bahwa dia telah menginvasi ruang pribadi Sera dengan kedekatan yang dipaksakan, Xavier duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah Sera dan menyodorkan sebutir obat di tangan kiri dan segelas air di tangan kanan.


"Ini obat untuk hangover-mu. Minumlah, itu akan membuatmu lebih baik. Setengah jam kemudian, kau bisa makan sarapanmu tanpa merasa pusing dan mual lagi."


Mata Sera melebar sementara ekspresi kengerian tak bisa lagi dia sembunyikan, memancar keluar hingga memucatkan wajahnya.


Xavier adalah pembunuh yang sangat suka memanfaatkan racun, obat, dan berbagai virus serta bakteri pembunuh yang efeknya sangat mengerikan.... Jika lelaki semacam itu menyodorkan obat kepadanya dan menyuruhnya meminumnya, reaksi ketakutan Sera tak bisa dianggap berlebihan, bukan?


Bibir Sera bergetar ketika akhirnya dia berhasil memaksakan diri untuk menyuarakan pikirannya.


"Apa yang kau lakukan kepadaku? Kenapa aku bisa ada di sini?" serunya setengah menuduh.


Sera sudah berhasil menyibakkan sedikit selubung kabut yang membungkus memorinya dan dia ingat bahwa dirinya merasa pusing lalu kehilangan kesadaran setelah menyantap hidangan pembuka yang disajikan di restoran yang dipilihkan oleh Xavier pada acara makan malam mereka.


Ekspresi Xavier sama sekali tak menunjukkan ketersinggungan atas tuduhan yang dilemparkan oleh Sera kepadanya.


"Aku tidak menyadari bahwa ada alkohol dalam jus buah bit yang digunakan untuk merendam hidangan lobster dalam makananmu kemarin." Xavier berbohong dengan begitu mudahnya, tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Aku juga tak menyangka bahwa reaksi alergimu terhadap alkohol sangat kuat. Maafkan aku." suara Xavier terdengar tulus, ditambah lagi dengan senyumannya yang begitu manis, membuat wajahnya yang membelakangi cahaya matahari tampak berpendar oleh cahaya berkilauan hingga membuat Xavier terlihat seperti malaikat di mata Sera.


Tapi Sera tahu pasti bahwa Xavier bukanlah malaikat. Jiwa gelap lelaki itu begitu jahat sehingga pantas disebut sebagai makhluk dengan segala kebalikan dari malaikat.


"Kau merasa pusing yang amat sangat, kan?" Xavier menebak dengan cepat ketika melihat Sera meringis kesakitan. "Obat ini adalah obat yang dijual bebas untuk mengatasi hangover, kau pasti juga mengenalnya," seolah menyadari keraguan Sera, Xavier menunjukkan kemasan bermerk dari obat itu yang masih ada di atas nampan. "Minumlah. Bagaimanapun kau adalah calon asistenku yang berharga, aku tak akan meracuni atau memberikan sesuatu yang aneh untuk kau konsumsi."


Xavier seolah bisa menebak menembus jalan pikiran Sera dengan sengaja mengucapkan kalimat itu dan entah kenapa, sikap Xavier yang begitu baik itu jadi membuat Sera jadi merasa tak enak.


"Aku membawamu ke rumahku karena aku tahu kau tinggal sendirian dan tak ada yang mengurusmu di sana dalam kondisimu yang seperti ini." Dengan tenang, Xavier bangkit dari posisinya berdiri. Lalu, seolah tak tersinggung dengan sikap Sera yang tak juga menerima tawaran obat yang diulurkannya, lelaki itu meletakkan kembali obat dan gelas minum di tangannya ke atas nampan.


"Kau mungkin ingin meminumnya nanti. Kau bisa beristirahat sejenak setelah meminumnya sambil menunggu obatnya bereaksi," Xavier berucap sambil menatap Sera dengan pandangan tak terbaca. "Makan sarapanmu setelah pusingmu hilang dan mualmu reda. Pintu kamar mandi ada di sebelah sana jika kau ingin menyegarkan diri, tas dan ponselmu ada di closet kamar mandi, juga sudah tersedia baju ganti di sana dan kuharap kali ini kau tidak keberatan mengenakannya," sambil berucap Xavier melangkah menuju pintu keluar kamar tersebut.


Ketika dia membuka pintu, Xavier menyempatkan diri menoleh ke arah Sera ketika sebelum keluar dari kamar itu. "Kalau kau merasa sudah siap, aku menunggumu untuk berbicara di ruang baca. Banyak hal mengenai pekerjaan yang seharusnya kita bicarakan semalam tapi tak kesampaian," Xavier melempar senyum, lalu menganggukkan kepala dengan sopan dan menutup pintu kamar itu.


 



 


Entah berapa lama Sera masih terpaku menatap pintu tertutup yang ditinggalkan oleh Xavier sebelumnya. Dia merasa masih seperti bermimpi, tak bisa bergerak dan tak tahu harus berbuat apa.


Xavier tampak bersikap biasa, seperti seorang calon bos dan tuan rumah yang ramah.


Mungkinkah Sera yang terlalu curiga dan sensitif karena dia diam-diam mengetahui kekejaman Xavier di masa lalu?


Yah... Xavier bersikap baik kepadanya karena menganggapnya sebagai seorang calon asisten terpilih yang memenuhi kualifikasi. Sera menyesal bersikap berlebihan karena didorong oleh rasa takutnya pada Xavier yang menjadi pemicu trauma masa lalunya.


Sera hanya berharap sikapnya yang defensif tadi diterjemahkan oleh Xavier sebagai kebingungan karena terbangun dengan hangover, bukan karena Sera menyimpan rencana rahasia untuk mendekati Xavier dan menanti kesempatan menusuk dari belakang saat lelaki itu lengah.


Rasa pusingnya masih menyiksa, dan tangan Sera kembali bergerak untuk memijit pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit. Kemudian, tiba-tiba saja dia teringat pada wignya.


Tangan Sera bergerak meraba rambutnya dan jantungnya berdebar kencang antara kelegaan dan kebingungan ketika menemukan wignya masih terpasang rapi di kepala. Dengan penasaran, Sera menyibakkan selimutnya, lalu mencoba bangkit dari ranjang, hendak menyeret dirinya menuju kamar mandi.


Kepala Sera kembali terasa seperti dipukul ketika dia menapakkan kaki di permukaan karpet tebal yang langsung menenggelamkan telapak kaki telanjangnya. Tubuhnya terhuyung, membuat Sera harus berpegangan pada nakas tepi ranjang supaya tidak terjatuh.


Matanya tertuju pada obat di atas piring kecil yang tadi disodorkan oleh Xavier kepadanya. Dia lalu mengangkat wadah obat itu dan memeriksanya.

__ADS_1


Setelah memastikan kemasan dan merk obatnya asli, Sera lebih memilih mengambil obat yang diambilnya sendiri secara langsung dari kemasannya, dan mengabaikan obat yang oleh Xavier tadi disodorkan kepadanya.


Perlahan Sera meminum obat itu dan menelannya dengan bantuan seteguk besar air, setelahnya dia menghela napas dalam-dalam.


Dia tidak bisa berlama-lama di rumah ini dalam kondisi lemah seperti ini. Sera tahu bahwa dia harus menguatkan diri menghadapi Xavier, lalu mencari jalan untuk pergi.


Dengan susah payah, kembali Sera menyeret kakinya, menjaga keseimbangan tubuhnya dengan berpegangan ke sepanjang dinding ruangan menuju ke kamar mandi.


Dia sempat melewati jendela besar yang menembuskan cahaya matahari terang benderang dari bilah kaca jendela beningnya. Sera melirik sejenak keluar dan menyadari bahwa dirinya berada di lantai atas rumah ini karena pemandangan taman yang terbentang luas yang terpampang dari jendela itu telihat jauh di bawah. Setelahnya, Sera memalingkan muka karena cahaya matahari menyakiti matanya dan memusatkan kekuatannya kembali supaya berhasil mencapai pintu kamar mandi.


Butuh waktu beberapa lama bagi Sera sehingga dia bisa masuk ke dalam kamar mandi itu. Napasnya terengah ketika dia berpegangan pada meja wastafel berlapis marmer putih dan menatap langsung ke kaca besar yang terbentang hampir memenuhi satu dinding kamar mandi itu di depannya.


Wignya... anehnya masih terpasang sempurna di kepalanya.


Sera memang memilih menggunakan wig spesial yang bisa melekat erat di kepalanya yang tertutup jaring perekat khusus dan tidak mudah lepas, bahkan ketika rambut palsunya itu ditarik sekalipun. Wig ini biasanya digunakan oleh atlet olahraga atau artis penyanyi konser, atau artis drama opera yang bergerak aktif baik di lapangan maupun di atas panggung. Baru kali inilah Sera benar-benar bersyukur bahwa dulu dia memutuskan membeli wig ini meskipun harganya sangat mahal.


Pakaiannya juga masih sama dengan yang dipakainya semalam, terpasang rapi di tubuhnya tanpa ada sesuatu pun yang mencurigakan.


Sementara wajahnya... tampak sangat menyedihkan. Sera benar-benar terlihat seperti hantu yang kuyu, pucat pasi dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.


Perlahan Sera menyalakan keran air di wastafel, lalu membungkuk untuk mencuci wajahnya. Setelahnya, kembali dia menatap bayangan wajah basahnya pada pantulan dirinya di cermin dan mengerutkan kening.


Apakah semuanya memang baik-baik saja? Apakah rahasianya masih aman tersimpan dan Xavier memang tidak tahu apa-apa? Benarkah semua kejadian ini hanyalah insiden kecil akibat keteledoran yang tak disengaja?


Kalau memang begitu... kenapa Sera tetap tidak bisa tenang? Kenapa dia merasakan kegelisahan yang menggelitik bulu kuduknya seolah-olah ada firasat kuat dari instingnya yang meneriakkan tentang bahaya besar yang mungkin menimpanya?


 



 


Sera mengetuk pintu kokoh ruang kerja itu perlahan. Seorang pelayan yang ditemuinya ketika keluar kamar tadi telah mengantarkannya ke depan pintu ruangan ini dan mengatakan bahwa tuannya Xavier telah menunggunya di dalam, sebelum kemudian pergi meninggalkannya seorang diri di lorong ini.


Suara perintah untuk masuk yang dari dalam membuat Sera tanpa pikir panjang langsung membuka pintu itu dan melangkah masuk. Terima kasih kepada obat yang diminumnya tadi. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik, sudah lebih segar, dan sakit kepalanya sudah tidak mendominasi lagi.


"Kau masih memakai pakaian yang sama," suara Xavier terdengar tenang, tetapi Sera bisa melihat bagaimana sudut bibir lelaki itu berkedut ketika dia menyembunyikan kejengkelannya.


Ya, atas nama kekeraskepalaannya, kembali Sera telah menolak untuk memakai pakaian ganti yang disediakan oleh Xavier di kamar mandi untuknya. Pakaian itu semuanya baru dan sudah pasti mahal, tetapi entah kenapa Sera merasa jika dia menuruti Xavier dan memakainya, dia seolah-olah sedang mendeklarasikan ketidakberdayaannya di tangan lelaki itu.


Dan hal tersebut tidak boleh terjadi.


Menghadapi lelaki seperti Xavier, Sera tahu bahwa dirinya harus kuat dan punya pendirian yang kokoh supaya Xavier tidak bisa seenaknya menindasnya. Insiden pingsannya semalam karena keracunan alkohol adalah hasil dari keteledorannya dan Sera berjanji bahwa dia akan sangat berhati-hati di kemudian hari sehingga hal itu tak akan terulang kedua kalinya.


Ketika Sera hanya menganggukkan kepala dan berdiri di tempatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Xavier berdecak perlahan, lalu menggunakan isyarat tangannya ke arah Sera.


"Silahkan duduk, Nona Sera. Mari kita mulai pembicaraan kita menyangkut pekerjaan." Xavier menunggu sampai Sera menurut dan mengambil tempat duduk di seberangnya, lalu lelaki itu melanjutkan, "Meskipun aku bekerja di Night Corporation, tetapi aku tidak bekerja di sana sepenuhnya. Ada bebeberapa perusahaan lain yang kupegang yang membutuhkan perhatianku. Kau pasti tahu itu sebelum melamar menjadi asistenku, bukan?" tanya Xavier kemudian.


Sera menganggukkan kepala. "Ya, aku mengetahuinya," jawabnya jujur.


Dalam pengumuman lowongan pekerjaan dari Night Corporation yang diedarkan secara khusus hanya pada kalangan tertentu, memang dituliskan bahwa Xavier Light membutuhkan asisten pribadi bukan hanya di Night Corporation, tapi juga untuk menangani pekerjaannya di bidang yang lain.


"Sebagian besar pekerjaanku kulakukan di rumah," Xavier mengucapkan kalimatnya dengan penuh arti, lalu menatap ke arah Sera dengan pandangan tajam. "Juga ada beberapa pekerjaanku yang berada di balik bayang-bayang. Kau tentu mengerti maksudku. Kurasa, desas-desus yang berkembang mengenai diriku tak mungkin lolos dari telingamu," ucapnya dengan nada tak kalah taham.


Sera menelan ludah, dan menganggukkan kepala tanpa membantah dugaan Xavier. Dia tahu bahwa jika dia mengatakan bahwa dia tak tahu apa-apa, hal itu malahan terdengar mencurigakan.


Ketenaran Xavier yang ditakuti baik di dunia bisnis yang terang benderang maupun di dunia bawah tanah yang gelap pekat sama besarnya, tidak mungkin jika Sera datang melamar sebagai asisten Xavier tanpa mengetahui informasi apapun tentang lelaki ini.


"Kalau begitu, kau pasti sudah tahu kalau aku memiliki ketertarikan khusus di bidang pengembangan senjata biologis yang cukup berbahaya. Kau melamar sebagai asistenku, berarti kau juga siap menjadi asistenku di bidang yang itu, bukan?" tanya Xavier cepat.


Sekali lagi Sera menganggukkan kepala. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar cepat penuh antisipasi.


"Asisten-asistenku yang sebelumnya, semuanya adalah laki-laki, jadi aku tidak kerepotan menentukan ini. Tetapi, kau adalah asisten perempuan pertamaku, jadi aku merasa kau lebih baik diberitahu dulu aturan untuk menjadi asistenku sepenuhnya." Mata Xavier menyipit, mengawasi Sera dengan saksama.n"Karena jam kerjaku yang tak kenal waktu, semua asistenku sebelumnya harus tinggal di rumahku, sehingga bisa siap sedia secepatnya, kapanpun aku membutuhkannya."


Perkataan Xavier itu membuat mata Sera membelalak. Dia memang tahu bahwa semua asisten Xavier sebelumnya selalu mengikuti kemanapun Xavier pergi, dan sebagai asisten Xavier, dia memang mengincar posisi terdekat dengan lelaki itu untuk mencari kelemahannya sebelum kemudian menghancurkannya. Tetapi, bayangan bahwa mereka semua tenyata tinggal di rumah Xavier sama sekali tak terpikirkan olehnya.

__ADS_1


Sebenarnya, semakin dekat Sera dengan Xavier, maka semakin besar kesempatan baginya untuk melukai atau membunuh Xavier. Tetapi, didorong oleh egonya, Sera memilih untuk tidak mengambil jalan pintas penuntasan dendamnya itu.


Untuk lelaki yang telah merusak dan menghancurkan kehidupannya, hanya kematian saja tidak cukup sebagai pembalasan dendam. Sera harus bisa menghancurkan Xavier sampai ke dasar, sampai lelaki itu jatuh sejatuh-jatuhnya, barulah lelaki itu pantas mati.


Dengan cepat Sera mengendalikan hatinya yang bergolak oleh kobaran amarah. Dia menatap ke arah Xavier dengan sikap berani, sedit mendongakkan dagunya menantang.


"Tuan Xavier," Sera sengaja berucap dengan nada formal terkendali untuk mengingatkan Xavier akan posisinya. "Saya melamar menjadi asisten Anda secara profesional, dan Anda menerima saya, pasti dengan pertimbangan profesional pula. Jadi, saya harap kita terus menjaga hubungan ini tetap dalam ranah profesionalisme. Saya seorang perempuan, jadi tidak pantas rasanya saya tinggal di rumah Anda, meskipun dengan alasan bahwa saya adalah asisten Anda sekalipun."


Sera menghentikan kalimatnya dan menatap ke arah Xavier yang hanya mengangkat alis mendengarnya kembali menggunakan bahasa formal untuk berbicara. "Dengan berat hati, saya menolak persyaratan yang Anda ajukan. Jika Anda tetap ingin saya menjadi asisten Anda, saya berjanji akan selalu siap sedia kapanpun Anda membutuhkan saya, tanpa saya harus tinggal di rumah Anda. Tetapi jika Anda ingin membatalkan pekerjaan ini karena penolakan saya, maka silahkan. Hanya saja, saya berani menjamin, Anda tidak akan pernah bisa menemukan kandidat pelamar yang lain, dengan kualifikasi sebagus yang saya miliki."


Dengan penuh harga diri, Sera bangkit dari duduknya, menatap ke arah Xavier dengan sikap angkuh.


"Saya rasa pembicaraan cukup sampai di sini. Anda mungkin membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan keputusan Anda, jadi lebih baik jika saya tidak mengganggu. Permisi." Tanpa memberi Xavier kesempatan untuk berbicara, Sera membalikkan tubuh, lalu mempercepat langkahnya keluar pintu dan meninggalkan ruangan itu.


 



 


Taxi yang mengantarnya berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, dan segera Sera membayar lalu beranjak turun dari taxi dan melangkah buru-buru memasuki rumahnya.


Dia segera mengunci pintunya dan menyandarkan punggungnya di pintu tersebut. Kaki Sera terasa begitu lemas hingga akhirnya tak mampu menopang beban tubuhnya lagi dan membuatnya merosot jatuh ke lantai.


Sera menenggelamkan wajahnya di lututnya yang tertekuk, menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


Tadi dia berusaha melarikan diri secepat mungkin dari rumah Xavier dan setengah berlari melintasi taman rumah Xavier yang besar hingga akhirnya berhasil melangkah keluar melewati gerbang raksasanya yang dijaga oleh para bodyguard bertubuh besar yang Sera tahu dilengkapi dengan senjata.


Beruntungnya, sama sekali tak ada satu pun penjaga di sana yang menghentikannya. Mereka semua hanya memandang dan membiarkan saja ketika dia menghentikan taxi dan pergi. Seolah-olah Xavier memang menginstruksikan kepada semua anak buahnya untuk membiarkannya pergi....


Sera sendiri tak tahu apakah keputusan penuh harga dirinya dengan menolak perintah Xavier supaya pindah ke rumahnya adalah sesuatu yang tepat, atau hal itu malahan akan menutup seluruh jalan menuju pembalasan dendamnya kepada Xavier.


Mungkinkah Xavier akan benar-benar bersedia mempertimbangkan perkataannya? Ataukah lelaki itu memutuskan untuk membatalkan keputusannya menerima Sera sebagai asistennya?


Ketakutan langsung merayapi diri Sera. Jika sampai Xavier membatalkan keputusannya dan jika sampai Roman serta Samantha Dawn mengetahui bahwa sikap Seralah yang menyebabkannya, mereka akan marah besar dan mungkin akan melakukan sesuatu yang jahat kepada ayahnya yang linglung dan lumpuh yang saat ini masih terjebak dalam hukuman seumur hidup di penjara kota.


Roman Dawn dan istrinya selalu memaksanya menggunakan tubuhnya untuk merayu Xavier Light, mereka mengatakan bahwa lebih mudah merayu seorang laki-laki jenius seperti Xavier dengan menggunakan nafsunya. Tetapi, Sera tentu saja tidak mau melakukannya. Meskipun dia menuruti ancaman Roman dengan bersedia melamar menjadi asisten Xavier untuk mendekatinya, diam-diam dia sudah menyelidiki seperti apa rupa wanita-wanita kesukaan Xavier dan sengaja berdandan seperti kebalikannya, agar sama sekali tidak ada ketertarikan dari Xavier kepadanya.


Sera yakin, bahwa kecerdasannya sebanding dengan lelaki itu, dan bahwa dia bisa mengalahkan Xavier dengan menggunakan otaknya, bukan dengan tubuhnya.


Meskipun nanti, jika Xavier ternyata benar-benar membatalkan keputusannya untuk menjadikan Sera asistemnya, Sera tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan ke depannya....


 




Rumah itu tampak tenang dan sepi, seperti malam-malam sebelumnya, pun dengan keseluruhan area kompleks perumahan sederhana yang lengang dan tanpa penjaga keamanan yang kompeten ini.


Sudah lewat tengah malam. Hampir satu jam penuh Xavier duduk di dalam mobilnya yang berkaca gelap dan diparkir di bawah pohon-pohon besar yang berada di taman tak jauh dari rumah Sera. Warna mobilnya yang legam tampak menyaru dengan lingkungan di sekelilingnya, hingga, jika ada orang yang lewat di jalanan sepi ini sekalipun, tak akan ada yang memperhatikannya.


"Dia akhirnya tidur lelap," mata Xavier mengawasi jendela kamar depan rumah Sera yang gelap. Dia tahu bahwa lampu kamar yang sudah dimatikan selama beberapa waktu itu menandakan kalau Sera memang sudah tidur. "Bergerak sekarang. Bakar rumah itu. Aku ingin rumah itu terbakar sampai habis dan tak ada satu pun barang yang tersisa di dalam sana. Seluruh dokumen, harta benda, uang, pakaian, musnahkan semua. Tapi, Ingat untuk mengeluarkan perempuan itu dari sana tanpa terluka di tengah prosesnya, buat kebakaran ini seperti kecelakaan dan jangan sampai dia mencurigai penyamaran kalian sebagai pemadam kebakaran yang menyelamatkannya."


 



Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya.


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR

__ADS_1


Thank You. By AY



__ADS_2