Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 106 : Penebusan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


 


“Bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan seperti itu? Apa landasanmu sehingga kau menuduh dokter Oberon?” Dokter Nathan tentu saja tidak bisa menerima tuduhan Xavier begitu saja. Dia adalah seorang lelaki yang berpikiran logis. Segala kesimpulan harus didasarkan pada bukti.


“Sudah kubilang itu adalah instingku.” Xavier menipiskan bibir dengan jengkel.


“Insting atau kecemburuanmu? Aku tidak akan setuju denganmu jika kau melandaskan tuduhanmu pada sikap emosional semata.” Nathan menyahuti dengan nada tak setuju.


“Kau tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti, Xavier. Meskipun kepribadian dokter Oberon tidak baik sejak kecelakaan itu, tetapi dia adalah dokter yang baik. Dia juga pegawai yang sangat kompeten dan berdedikasi, tak pernah mencampurkan kehidupan pribadinya dengan kehidupan profesionalnya. Karena itulah meskipun dia tak bisa berpraktek lagi sebagai dokter bedah, dia tetap mendapatkan jabatan tinggi di rumah sakit ini.” Nathan memaparkan berbagai alasan yang bisa dipikirkannya untuk meragukan Xavier, berharap Xavier bisa memberikan jawaban memuaskan untuk memupuskan keraguannya.


“Aku belum punya bukti, tetapi tadi pagi dokter Oberon menghampiri Sera yang hendak menengok putri Elana dan mengajaknya berbicara.” Suara Xavier menajam. “Kemarin dia ada di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat, dan hari ini dia mendatangi dan menyapa Sera. Apakah kau pikir ini tidak terlalu mencurigakan?”


Nathan termenung mendengar perkataan Xavier itu. Keningnya berkerut, tampak berpikir.


“Bagaimana jika dokter Oberon memang tertarik pada Sera?” tanyanya kemudian.


Xavier mendekus. “Ah, ayolah Nathan. Kau pasti merasakan keanehan yang sama denganku. Kau hendak bilang bahwa dokter Oberon yang penyendiri setelah kecelakaan itu tiba-tiba merasa tertarik kepada Sera? Apa kau tidak lihat bahwa Sera sedang hamil besar dan mengandung anakku? Lelaki gila mana yang tertarik dengan perempuan yang sedang hamil besar dan mengandung anak dari suaminya yang jelas-jelas masih hidup dan ada di sampingnya?”


Perkataan Xavier benar adanya, dan hal itu membuat dokter Nathan jadi berpikiran sama. Ada yang tidak cocok dengan peristiwa yang dipaparkan oleh Xavier itu.


Dokter Nathan memang tidak begitu akrab dengan dokter Oberon, dia hanya mengenal dokter Oberon sebagai dokter bedah berbakat dengan masa depan cemerlang di bidang kedokteran. Kemudian, setelah kecelakaan yang menimpa dokter Oberon dan menghancurkan kariernya, sang dokter menutup diri sepenuhnya, membuat dokter Nathan semakin tidak akrab dengannya hingga di titik hanya berhubungan dengan dirinya jika menyangkut urusan pekerjaan saja.


Tetapi, meskipun dia tak mengenal akrab dokter Oberon, selama bertahun-tahun dia bekerja bersama lelaki itu. Jadi, dia tahu pasti bahwa dokter Oberon tidak tertarik pada siapapun, baik lelaki atau perempuan, dia tidak pernah membuka hatinya.


Kenapa tiba-tiba dokter Oberon berubah dan mendekati Sera?


“Aku setuju denganmu. Ada yang aneh.” Dokter Nathan akhirnya mengakui kebenaran dalam perkataan Xavier. “Baiklah. Aku akan mengawasi dokter Oberon sesuai maumu dan jika aku menemui sesuatu yang aneh, aku akan menghubungimu.”


“Aku ingin mendapatkan data pribadi karyawan secara terperinci dari dokter Oberon. Kau memiliki akses untuk itu, bukan? Derek sudah melakukan penyelidikan awal untukmu, tetapi kurasa aku harus menggalinya lebih dalam.”


“Oke. Ada lagi?” Nathan menyahuti cepat dan menunggu jawaban.


“Aku ingin mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan dokter Oberon secara langsung.” Xavier menyeringai, kilat keji yang menyala di sinar matanya tampak mengerikan. “Berikan aku pekerjaan yang bersangkutan dengan pekerjaan dokter Oberon, buatlah senatural mungkin supaya dokter Oberon tidak curiga. Meskipun jika dia benar-benar Aaron yang menyamar, maka dia pasti tahu bahwa aku sudah mencurigainya.”


***


Xavier melangkah memasuki kamar, dilihatnya Sera sudah tertidur pulas. Perempuan itu bernapas dengan teratur, di ruang yang hening ini, samar pula terdengar dengkuran halus darinya.


Xavier melangkah perlahan, mencoba tak bersuara karena dia tak mau mengganggu lelap tidur Sera. Tadi dia sangat berhasrat karena ciumannya dengan istrinya, tetapi bahkan dalam kondisinya yang seperti itu, dia sama sekali tak keberatan jika ditinggal tidur.


Dia tahu Sera kelelahan. Perjalanan dari rumah menuju ke rumah sakit ini cukup jauh, apalagi jika ditambah dengan gangguan yang ditambahkan oleh dokter Oberon kepadanya.


Xavier duduk perlahan di tepi ranjang, matanya menatap ke arah Sera yang tampak tertidur dengan damai.


Apa kira-kira yang dikatakan oleh dokter Oberon kepada Sera hingga membuat perempuan itu memasang ekspresi ragu dan penuh tanya kepadanya? Benarkah pertanyaan yang diajukan oleh Sera kepadanya itu tadi berhubungan dengan dokter Oberon?


Kepala Xavier dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang mengganggu, tetapi dia tahu bahwa dia tak mungkin mendapatkan jawabannya sekarang karena Sera masih tertidur pulas dan dia tak ingin mengganggu tidur perempuan itu.


Pada akhirnya, Xavier memilih membaringkan tubuhnya di sisa ruang sempit di pinggiran ranjang yang masih tersedia di samping Sera. Gerakannya perlahan dan hati-hati, berusaha supaya tidak mengganggu perempuannya.


Mata Xavier terpejam dan dia berusaha tidur, tapi sayang pikirannya terlalu sibuk memikirkan segala sesuatunya hingga dia tak bisa tidur juga.


***


Sera menggerakkan tangannya untuk memeluk dirinya sendiri, udara di sekitarnya terasa mendingin, membuatnya sedikit gelisah dalam tidur lelapnya.


Lalu tak lama kemudian, terasa selimut tebal yang dipasang menutupi tubuhnya, membuatnya merasa hangat dan nyaman kemudian.


Sayangnya, udara dingin itu sudah terlanjur membangunkan Sera sehingga kesadarannya telah kembali sepenuhnya dan dia tak bisa tidur lagi.


Dia ketiduran. Jam berapakah ini?


Pertanyaan itulah yang muncul pertama kali ketika Sera mengerjapkan mata dan menggeliat untuk meregangkan tubuhnya yang kaku. Ya, dalam kondisi hamil besarnya seperti ini, miring ke kanan supaya tak menindih jantung serta berbaring telentang adalah satu-satunya posisi yang memungkinkan.


Meskipun bagi Sera sendiri, dia lebih menyukai posisi miring ke kanan karena posisi berbaring telentang kadang membuatnya sesak napas.


Tangan Sera yang terentang untuk meregangkan diri tanpa sengaja menyentuh tubuh keras yang berbaring di sampingnya dan dia terkesiap, langsung membuka mata dengan waspada.


Nuansa kamar itu temaram dan tak tampak sama sekali sinar mentari yang menembus tirai jendela yang mendominasi hampir satu dinding ruangan kamar di lantai paling atas rumah sakit ini, menunjukkan bahwa hari mungkin berada pada awal dini hari dimana matahari bahkan belumlah menggeliat bangun untuk naik ke singgasananya.


Sera mendongakkan kepala untuk melihat wajah dari pemilik tubuh keras yang familiar itu dan matanya melebar ketika dirinya langsung bertatapan dengan Xavier yang tengah mengawasinya.

__ADS_1


Mata lelaki itu tajam, seolah mampu menembus kegelapan kamar dan langsung menusuk membalas ke mata Sera. Lelaki itu berbaring miring dalam diam seperti patung dengan mata terpaku ke arah Sera tanpa teralihkan sedikitpun.


Di tengah nuansa remang ini, Xavier tampak begitu tampan dan misterius, seperti hakim di peralihan dunia yang memandang para terdakwa dengan ekspresi dingin dan tak tersentuh.


Sera menelan ludah. Entah kenapa dia mendapatkan firasat bahwa Xavier kemungkinan besar sudah mengawasinya dalam posisi ini selama berjam-jam.


“Kau tidak tidur?” Sera berdehem untuk meredakan pita suaranya yang serak, lalu bertanya memecah keheningan.


Ekspresi Xavier tidak berubah, tetapi sudut bibir lelaki itu berkedut dalam lengkungan dalam, seolah menyiratkan senyuman tipis.


“Aku tidak bisa tidur,” jawab Xavier dengan tenang.


Sera mengerutkan kening. Tidak bisa tidur? Adakah yang mengganggu pikiran Xavier dan mengganjal perasaannya sehingga dia sampai tak bisa melelapkan dirinya ke dalam tidur lelap?


Mata Sera mengawasi Xavier dengan cemas. Dia tahu bahwa Xavier pasti lelah, apalagi dengan kondisinya yang masih mengidap penyakit kronis yang hanya bisa ditekan sementara dengan obat kimia dosis keras racikannya sendiri. Lelaki itu sudah bangun di dini hari kemarin saat mendengar kabar bahwa Elana dilarikan ke rumah sakit dan praktis sejak saat itu sampai dengan sekarang, Xavier belum juga mendapatkan kesempatan beristirahat.


Ketika sedang memutar otak untuk menebak apa yang menyebabkan Xavier tidak bisa tidur, tiba-tiba saja dia teringat akan janji yang diucapkannya semalam sebelum Xavier pergi untuk menelepon Credence.


Sera terperangah. Astaga. Dia berjanji untuk menunggu Xavier kembali dan… membantu lelaki itu untu menuntaskan hasratnya. Namun, bukannya menepati janji untuk menunggu lelaki itu, Sera malahan tertidur dengan pulasnya hingga dia bahkan tak tahu kapan Xavier kembali ke kamar ini dan mengambil posisi berbaring di sebelahnya.


Apakah… apakah Xavier tidak bisa tidur karena itu? Lelaki itu pernah bilang bahwa akan terasa nyeri ketika hasrat yang sudah terlanjur bangkit ternyata tak mendapatkan penyelesaian. Apakah karena rasa nyeri itulah Xavier jadi tak bisa tidur?


Sera tiba-tiba saja merasa bersalah karena dia malahan menikmati tidur lelap yang memuaskan, sementara suaminya dia biarkan berbaring menahan nyeri hingga tak bisa tidur.


“Maafkan aku.” Sera menundukkan kepala, berbisik lirih dengan malu bercampur deraan rasa bersalah.


Sudut bibir Xavier kini benar-benar melengkung tanpa bisa ditahan lagi, membentuk senyuman yang sangat indah dan begitu sedap dipandang mata.


“Kenapa kau meminta maaf?” Pertanyaan Xavier itu diajukan dengan nada menggoda yang kental.


Sera berdehem lagi, berusaha menenangkan diri meskipun rona merah mulai menyebar kembali ke seluruh permukaan kulitnya.


“Aku… aku tidak menepati janji untuk menunggumu,” perlahan Sera berbisik menjawab kemudian.


Xavier terkekeh. Lelaki itu lalu menggerakkan tanganya dan menjadikannya bantalan kepala Sera, dengan lembut ditariknya Sera mendekat untuk dipeluknya dengan erat.


“Kau kelelahan, tentu aku mengerti. Lagipula akulah yang bersalah. Aku menghabiskan waktu lebih lama untuk kembali ke kamar karena setelah menyelesaikan percakapanku dengan Credence, aku harus menyelesaikan beberapa urusan lainnya.” bisik Xavier lembut dan menghadiahkan kecupan di dahi Sera. “Tenanglah, bukan masalah itu yang membuatku tak bisa tidur.”


“Kalau begitu kenapa?” Sera mendongakkan kepala dengan penuh rasa ingin tahu, matanya menatap cemas ke arah Xavier. “Apakah… apakah kau sakit?”


Xavier langsung menggelengkan kepalanya.


“Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” Sera menebak dengan tepat dan Xavier menganggukkan kepalanya.


“Ya. Aku penasaran,” sahutnya tenang.


“Penasaran tentang apa?” Dengan cepat Sera menyahuti dan bertanya. Perkataan Xavier yang sepatah demi sepatah itu membuatnya tak sabar ingin mendapatkan jawaban.


Xavier tertawa, lelaki itu lalu mengetuk ujung hidung Sera lembut seolah ingin menghukumnya.


“Kau yang membuatku penasaran dan kau masih bertanya?” sahutnya kemudian. “Aku penasaran tentang pertanyaan apakah yang akan kau ajukan kepadaku semalam sebelum Credence menginterupsi percakapan kita dengan panggilan teleponnya.”


Sera mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Xavier itu. Pikirannya yang masih berkabut karena baru bangun dari tidurnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna sepenuhnya kalimat yang diucapkan oleh suaminya.


Ketika tak lama kemudian dia berhasil mencerna semuanya, Sera merasakan dorongan yang kuat untuk menepuk dahinya sambil mencela dirinya sendiri karenanya.


Ya ampun. Bisa-bisanya Sera lupa mengenai masalah pelik yang satu itu!


“Apakah kau ingin mendengar pertanyaanku sekarang?” Sera menguatkan hati, mengumpulkan keberaniannya dan menatap Xavier sedikit takut. “Kau berjanji kau tak akan marah?”


“Aku lebih senang kalau kau segera menuntaskan rasa penasaranku, jadi ya, aku berjanji tak akan marah.” Xavier menyentuh dagu Sera lembut dan mendongakkan wajah perempuan itu ke arahnya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”


Sera menghela napas panjang.


“Tentang ayahku.” Sera berpikir bahwa tidak sebaiknya dia melibatkan dokter Oberon secara personal menyangkut masalah ini. Dokter itu sudah meminta dengan sangat supaya Sera tidak mengatakan apapun kepada Xavier, dan sekarang Sera terpaksa melanggar permintaan Dokter Oberon itu.


Yah, jika dia harus memilih, tentu Sera akan memilih untuk jujur kepada suaminya sekaligus menuntaskan segala ganjalan di hatinya menyangkut sikap berahasia yang dilakukan oleh Xavier terhadapnya.


Meskipun begitu, tetap saja tersirat rasa bersalah di hati Sera karena apapun yang dilakukannya ini, bisa saja menempatkan dokter Oberon di dalam bahaya. Ditambah lagi, Xavier kemarin dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak menyukai dokter Oberon yang semakin menempatkan sang dokter dalam situasi sulit.


Jadi, untuk menebus rasa bersalahnya, Sera memutuskan untuk sedapat mungkin melindungi lelaki itu dari serangan Xavier dengan meminimalisasi menyebutkan sang dokter secara pribadi di depan Xavier.


“Dokter yang kita temui di fasilitas kesehatan ayahku tadi… dia tak sengaja berpapasan denganku di lift dan dia bilang…” Sera menelan ludah, sedikit kebingungan menyusun kata-kata. “Dia bilang turut berduka cita mengenai kondisi ayahku.” Mata Sera menatap langsung ke arah Xavier, ingin membaca ekspresi lelaki itu. “Dia juga bilang supaya aku tetap tegar dan kuat karena… karena ayahku didiagnosa kanker stadium empat dengan kemungkinan kecil untuk sembuh.”


Sera melirik kembali ke arah Xavier sebelum melanjutkan kalimatnya, ketika dilihatnya wajah Xavier tetap tenang tanpa emosi, Sera pun berucap kemudian.


“Dokter itu berkata bahwa aku bisa sedikit tenang karena kau… kau sedang mengusahakan pengobatan untuk ayahku dengan obat yang kau formulasikan sendiri.”


Ada beberapa hal yang Sera modifikasi sendiri dalam ucapannya itu, semuanya dia lakukan dengan tujuan untuk melindungi dokter Oberon.

__ADS_1


Ketika Xavier hanya diam seolah menunggu Sera berucap lagi, Sera akhirnya memutuskan untuk melanjutkan bertanya.


“Jangan salahkan dokter itu, dia mengucapkan itu semua karena dia jelas-jelas mengira bahwa aku sudah tahu semuanya.” Suara Sera melemah kemudian. “Tapi… aku tidak tahu apa-apa. Kau tidak pernah mengatakan itu semua kepadaku…” Suara Sera bergetar ketika dia memikirkan tentang ayahnya. “Mengenai kanker ayahku, mengenai percobaan obat-obatan kimia yang kau berikan kepada ayahku… kau tak pernah mengatakan apa-apa kepadaku…”


“Sera.” Melihat istrinya begitu lemah dan seolah kebingungan tak tahu berbuat apa itu, hati Xavier langsung melembut. Wajahnya yang tanpa ekspresi langsung pecah oleh kasih sayang dan tangannya bergerak merangkul, semakin mendekatkan tubuh Sera ke pelukannya di atas pembaringan itu. “Maafkan aku. Bukan maksudku untuk berahasia kepadamu.”


“Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku? Mengenai kondisi ayahku…” Air mata Sera langsung mengalir deras ketika dia terbayang tentang kondisi ayahnya yang berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. “Ayahku… bisa meninggal kapan saja, bukan? Kenapa kau… tidak memberitahuku? Sampai kapan kau berniat merahasiakannya kepadaku?”


Suara Sera terhenti ketika dia terisak dan menangis. Tangisan Sera itu menusuk hati Xavier, membuatnya mendesah sebelum kemudian mengubur wajahnya di kelembutan rambut Sera dan berbisik lembut dengan suara parau.


“Kau tahu bahwa semua yang kulakukan, itu kulakukan demi kebaikanmu, bukan?” Xavier meraih tangan Sera dan mengecupnya. Dipaksanya perempuan itu mendongak ke arahnya, menatapnya berurai air mata.


Xavier tahu bahwa Sera harus melihat ekspresinya, supaya perempuan itu mengerti bahwa apa yang dikatakannya itu tulus adanya. Dia tidak sedang memanipulasi Sera, dia bersungguh-sungguh dengan semua yang diucapkannya.


“Aku memang salah karena merahasiakan kondisi penyakit ayahmu. Tetapi, ketika aku mengetahuinya, aku tak sampai hati untuk memberitahukannya kepadamu. Kau sudah begitu sedih, aku tak ingin membuatmu semakin terpuruk.” Xavier tersenyum miris, matanya menatap dalam ke arah Sera lalu bibirnya bergerak untuk mengecupi sisi demi sisi kelopak mata Sera sebelum kemudian menciumi bekas air matanya yang masih membasah.


“Aku bahkan berpikir untuk mengambil tindakan nekad dengan berusaha keras meracik obat buatanku sendiri. Aku ingin menyembuhkan ayahmu. Aku ingin melenyapkan penyakit kanker yang dideritanya hingga kau tak perlu merasakan putus harapan lagi.” Xavier menghela napas panjang, memasang ekspresi kalah yang tidak pernah ditunjukkannya kepada orang lain. “Namun, aku terlalu arogan. Selama ini aku merasa bahwa diriku adalah manusia jenius yang bisa berbuat apapun. Aku tidak sadar bahwa aku tidak bisa melangkahi kekuatan takdir yang jauh lebih besar daripada kekuatanku sebagai manusia biasa. Aku gagal menyembuhkan ayahmu. Berkali-kali aku mencoba dan aku gagal. Kondisi ayahmu tetap stagnan, tak bisa juga membaik bahkan setelah aku memberikan obat buatanku.”


Xavier menundukkan kepala, mendekatkan wajahnya ke wajah Sera hingga hidung mereka hampir menempel.


“Kau tahu kenapa bahkan setelah aku gagalpun, aku tetap tak mampu memberitahumu? Itu semua karena aku terpukul mundur. Aku kalah dan aku malu mengatakannya kepadamu.” Xavier mengehela napas dalam lalu menghembuskannya perlahan seolah ingin membuang beban hatinya yang memberati. “Tapi sekarang kau sudah tahu tanpa aku memberitahumu. Jadi, aku tak punya pilihan lain.”


Suara Xavier terdengar parau ketika matanya yang tajam menatap Sera dengan bersungguh-sungguh.


“Serafina Moon. Maafkan atas semua yang telah kulakukan kepadamu. Maafkan atas keputusan kejiku di masa lalu yang membuat kehidupanmu hancur. Maafkan karena aku mengikatmu dan membuatmu mengandung anak-anakku dengan paksa meskipun pada awalnya kau tak setuju. Maafkan aku karena telah membuat ayahmu berada dalam kondisi seperti ini. Maafkan aku karena aku… tidak mampu menyembuhkan ayahmu.”


 Ini adalah saat penebusan, ini adalah saat memohon ampun dan meminta diampuni. Ini adalah saat bagi Xavier untuk mengakui segala kesalahannya dan membuang rasa bersalahnya.


Sera adalah penebus Xavier. Dan Xavier dengan tanpa perlawanan, telah menggantungkan seluruh asanya pada pengampunan perempuan itu.


***


***


***


***


 


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


 


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2