
“Kau harus memastikan bahwa Xavier masih hidup!” Tiba-tiba saja Aaron berseru histeris, wajahnya yang penuh lebam menoleh ke arah Sabina dengan mata melotot.
Sabina menipiskan bibir, menatap ke arah Aaron dengan sinis. “Kau sendiri yang menusuk Xavier, sekarang baru kau menyesal dan ingin dia hidup?” tanyanya penuh ironi.
Aaron tampak pucat. “D-dia memasang racun di tubuhku dan hanya dialah yang punya penawarnya! Kalau dia sampai mati, bukan tidak mungkin aku juga akan mati keracunan!” Aaron mulai tampak histeris. Suaranya terdengar meninggi. “Dapatkan Sera! Kau harus mencari jalan untuk menemukan Serafina Moon! Dia pasti akan membantuku jika tahu bahwa nyawaku sedang terancam!”
Sabina mengerutkan kening. “Aku jadi ragu dengan perkataanmu. Saat di pesawat, kau bilang bahwa Sera pasti mau bekerjasama denganmu, tapi kau tadi bilang bahwa dia mengkhianatimu dan memberitahu Xavier tentang ponsel mini itu.” Sabina melemparkan pandangan jijik ke arah Aaron. “Kurasa, kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Aaron. Kemungkinan besar, Seramu itu sudah membuangmu dan jatuh ke dalam pesona Xavier!”
“Itu tidak mungkin terjadi!” Mata Aaron melotot ke arah Sabina. “Aku sudah menanamkan citra diriku dengan kuat di kepalanya, bahwa aku adalah malaikat penolong dan orang terbaik yang akan selalu menyelamatkannya. Apa yang sudah ditanamkan di kepala Serafina Moon, tak akan mudah dicabut begitu saja. Aku yakin, bahwa di alam bawah sadarnya, dia masih berada di pihakku.” Napas Aaron terengah oleh emosi jiwanya. “Cari semua cara untuk mendapatkan Serafina Moon, hanya dia yang bisa menolongku!”
***
Sabina meninggalkan Aaron sendirian di kamar motel itu.
Dia sudah berpesan bahwa Aaron sama sekali tak boleh keluar dari kamar motel itu kalau dia ingin selamat, jika Aaron ingin makan, maka dia hanya bisa memesan langsung kepada pemilik motel yang menyediakan menu sederhana untuk orang yang menginap di tempat mereka.
Tidak boleh ada makanan pesan antar, karena itu memerlukan teknologi yang terhubung dengan internet. Mereka menghadapi penguasa teknologi yang sangat ahli di negara ini, jadi tindakan apapun yang menggunakan fasilitas teknologi, bahkan yang sekecil mungkin, haruslah dihindari karena itu bisa membuat posisi mereka terlacak.
Sabina hanya berharap Aaron cukup cerdas dan tidak melakukan tindakan bodoh yang akan merepotkannya nanti.
Sambil menyetir mobilnya kembali ke kota, Sabina mengutuki dirinya sendiri karena melibatkan diri dengan masalah besar yang berhubungan dengan orang-orang kuat di negara ini. Belum lagi, mantan bosnya, Dimitri Kazak juga sudah pasti tak akan tinggal diam ketika tahu bahwa dia sudah berkhianat.
Tetapi entah kenapa, Sabina merasa bahwa itu semua sepadan. Dia tak pernah sebegini tertariknya kepada seorang lelaki seperti yang dirasakannya kepada Xavier Light. Lelaki itu begitu angkuh, meninggikan diri dan menganggapnya seperti kotoran rendahan. Sabina sungguh ingin membuat lelaki itu bertekuk lutut di kakinya dan membuatnya sadar bahwa kotoran yang ditolaknya ini, sesungguhnya adalah berlian yang sangat berharga.
Mata Sabina tertuju tajam ke jalanan, sementara pikirannya berputar keras mencari jalan keluar atas masalah rumit yang membelitnya bagaikan benang kusut.
Pertama-tama, dia harus memastikan bahwa Xavier hidup dan baik-baik saja, lalu setelah itu….
Serafina Moon.
Mungkin Aaron benar. Serafina Moon akan menjadi kunci yang membuka pintu jalan keluar dari semua masalah yang membelenggunya.
Mata Sabina bersinar penuh tekad. Ya. Dia harus mendapatkan Serafina Moon dulu di tangannya.
***
"Apa yang dilakukan wanita cantik ini menangis sendirian di sini?”
Suara lembut itu menyapa Sera, membuat Sera terkesiap dan menghentikan tangisannya.
Astaga. Bodohnya dia, karena terbawa perasaan, dia menangis begitu saja di lorong rumah sakit ini. Para bodyguard yang berjaga di ujung lorong sana pasti sedang kebingungan melihat tingkahnya saat ini.
Sera mendongakkan kepala, mencari tahu siapakah suara tak dikenal yang menyapanya. Dia tahu bahwa sebagai istri Xavier, para bodyguard lelaki itu tak mungkin berani menyapanya dengan sikap informal seperti yang didengarnya barusan. Lagipula, siapapun yang masuk ke dalam area ini, harus melewati pemeriksaan ketat….
Mata Sera langsung bertemu dengan mata kemerahan yang berpadu dengan kulit pucat di wajah yang dibingkai oleh rambut pirang nyaris putih.
Seketika Sera terperanjat, tubuhnya langsung menegang, menatap sosok di depannya dengan waspada. Semua orang pasti tahu penampilan unik dari lelaki yang hampir keseluruhannya pucat dengan mata merahnya yang khas ini.
Dimitri Kazak.
Kenapa Dimitri Kazak ada di tempat ini? Bukankah Dimitri adalah musuh Xavier? Bagaimana bisa lelaki ini menembus sistem keamanan yang ketat di rumah sakit ini?
“Aku datang dengan damai,” Dimitri tampak mengangkat tangan untuk menunjukkan bahwa dia tak berbahaya.
Sera belum sempat memberikan reaksi ketika suara langkah kaki terdengar menyusul di ujung lorong. Jantungnya berdetak lebih keras, kali ini didera ketakutan yang lebih menggila, ketika melihat Akram Nightlah yang datang.
Lelaki itu menatap dengan sikap dingin ke arah Sera, sama sekali tidak mempertanyakan kenapa Sera duduk di lantai sambil bersandar di pinggir lorong seperti itu. Akram kemudian malahan mengalihkan tatapannya kepada Dimitri, berucap dengan sikap kasar penuh ancaman.
“Kau tidak seharusnya mendahului langkahku.” Akram tadi sedang menerima panggilan telepon sehingga tak sadar kalau Dimitri melangkah masuk mendahuluinya menuju lorong rumah sakit ini.
“Aku tadinya berniat mengunggumu.” Dimitri tampak terintimidasi dengan sikap Akram yang mendominasi, lelaki itu merendahkan nada suaranya. “Tapi lalu aku mendengar suara tangisan di lorong ini dan tak bisa menahan diri untuk menemukan sumber suaranya. Kemudian, aku bertemu dengan Nyonya Light yang sedang menangis.”
Akram melirik kembali ke arah Sera yang telah berdiri dari posisinya bersimpuh di lantai. Perempuan itu tampak kacau, matanya sembab dan pipinya basah.
Siapa yang perempuan itu tangisi? Apakah dia menangisi Xavier Light? Tetapi itu tidak mungkin, bukan? Xavier sendirilah yang bilang bahwa Sera membenci dan menyimpan dendam kepadanya serta sangat ingin melepaskan diri darinya. Xavier juga yang pernah bilang bahwa hati Sera, terikat pada Aaron Dawn, yang saat ini sedang dia buru.
“Kau bertanya-tanya kenapa Dimitri ada di sini?” Akram langsung bisa membaca pertanyaan yang memancar jelas dari mata Sera. “Dia kujadikan binatang pemburu. Karena Aaron-mu itu bekerjasama dengan anak buah Dimitri, maka aku memerlukan kerjasama Dimitri untuk menemukan dua makhluk itu secepatnya.”
Dimitri hanya bisa meringis ketika Akram menyebutnya sebagai binatang pemburu. Sesungguhnya, meskipun sekarang dirinya terlepas bebas dan tidak diborgol atau ditodong pisau, dia didatangkan ke negara ini melalui pemaksaan, bukan dengan cara baik-baik. Akram Night mengirimkan pasukan penyergap terbaiknya untuk mengepung Dimitri yang saat itu sedang berada di mobil, dalam perjalanan menuju rumahnya. Mereka membiusnya, lalu mengangkutnya melintasi negara hingga sampai di negara ini.
Setelahnya, Dimitri terbangun di bawah kekuasaan Akram Night, dengan chip kecil serupa bom mini berukuran nano yang ditanamkan ke lehernya. Jika Dimitri melawan, maka bom itu akan meledak, sekaligus meledakkan kepalanya.
Seharusnya sejak awal Dimitri tidak melibatkan diri dengan dua bersaudara yang mengerikan ini. Sekarang, dia berada di titik genting dimana nyawanya bergantung pada dua makhluk mengerikan tersebut. Posisinya sudah tidak bisa lebih sial lagi, sudah diracun dengan racun langka yang penawarnya hanya ada di dalam otak Xavier, sekarang gantian Akram yang menanamkan bom nano ke tubuhnya.
“Kurasa aku akan mengoreksi sedikit. Sabina adalah mantan pegawaiku. Sejak dia melanggar perintahku, aku juga memburunya sebagai pengkhianat.” Dimitri berusaha membela diri, menyeringai ke arah Sera dengan pandangan bersahabat.
Sesungguhnya, sejak Xavier memberitahunya bahwa Sabina telah bekerjasama dengan Aaron Dawn, Dimitri sudah berusaha menghubungi Sabina dengan berbagai cara. Tetapi, Sabina menghindarinya dengan lihai, membuat Dimitri tak bisa menggapainya. Sekarang, malahan Sabina membuat masalah besar dengan melarikan Aaron dari tahanan Xavier.
“Sabina sangat terlatih menyembunyikan diri, kalau dia sudah bersembunyi, akan sangat sulit menemukannya. Tetapi, yang Sabina tak tahu, adalah bahwa aku menanamkan pelacak kecil di tubuh setiap pegawaiku sehingga dengan mudah aku bisa menemukannya. Sayangnya, alat untuk memantau pelacak itu dibuat khusus dengan teknologi tinggi dan hanya ada satu-satunya di Rusia, dan karena Tuan Akram yang sangat gegabah ini menculikku tanpa persiapan, maka aku tak sempat membawa alat itu, sehingga membuat kami terlambat menemukan Sabina.”
__ADS_1
Dimitri tak bisa menahan diri untuk menatap Akram dengan pandangan mencela, sayangnya, ekspresi Akram yang jelas sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.
“Aku sudah mengirimkan anak buahku ke negaramu untuk mengambilnya. Alat itu akan tiba di negara ini segera," sahut Akram dengan suara tenang.
Sera melebarkan matanya, entah kenapa dia merasa bahwa tidak seharusnya dia mendengar pembicaraan antara dua orang mengerikan ini.
Kenapa Akram seolah sengaja membuka rencana pengejarannya terhadap Sabina dan Aaron di depannya? Apa yang Akram Night rencanakan? Apakah lelaki itu ingin melihat reaksinya atau menjebaknya dan mendorong Sera berkhianat sehingga dia punya alasan yang bisa diberikannya kepada Xavier jika nanti dia membunuh Sera?
“K-kalau begitu... apa yang hendak kau lakukan di rumah sakit ini?” Sera akhirnya malahan mengeluarkan pertanyaan ke arah Dimitri, karena dia tak berani mengkonfrontasi langsung Akram.
Pertanyaanya itu membuat Dimitri tersenyum penuh ironi.
“Karena, satu-satunya manusia yang bisa menyelamatkan nyawaku ada di dalam ruangan itu.” Tanpa keberatan, Dimitri memberikan jawabannya kepada Sera. “Aku sedang bersama Akram ketika mendapatkan kabar bahwa kondisi Xavier memburuk. Jadi dia membawaku lari kemari. Aku juga butuh memastikan keadaan Xavier, karena seperti yang sudah kau tahu, dia meracuniku dan penawarnya hanya ada di dalam kepalanya.” Dimitri memutar bola matanya dengan jenaka seolah sedang menertawakan dirinya sendiri. “Jadi, ketika Xavier mati, maka aku juga akan mati.”
Sera menelan ludah, kehilangan kata-kata. Dimitri Kazak terkenal sebagai mafia paling kejam di Rusia sana, mungkin karena itulah, lelaki itu bisa membicarakan tentang kematian dengan mudahnya seolah sedang bercanda.
Tiba-tiba saja Akram menatap Sera tajam, membuat Sera menelan ludah dengan gugup. Lelaki itu seolah-olah benar-benar ingin menyelisik ke dalam hati Sera, seolah ingin menemukan bukti kejahatan Sera.
“Ada ruangan kecil di sebelah kamar perawatan Xavier. Kau bisa beristirahat di sana jika mau.” Akram tiba-tiba memberikan usulan kepada Sera, seolah ingin mengusir perempuan itu secara halus.
Sera bukannya tak menyadari pengusiran Akram, tetapi dirinya sendiri sudah pasti tak mau meninggalkan tempat ini begitu saja.
Dia menoleh ke arah pintu kamar Xavier dimana lelaki itu sedang mendapatkan penanganan medis. Dokter Nathan dan para perawat belum keluar dari ruangan itu, sehingga dia belum mengetahui seperti apa kondisi Xavier di dalam sana.
Dengan keras kepala, Sera kemudian menggelengkan kepala, menatap ke arah Akram sambil memberanikan diri berucap.
“Kurasa… aku lebih baik menunggu di sini.” Sera melingkarkan lengan untuk memeluk tubuhnya sendiri, menahan sikap defensif yang menyeruak ke dalam jiwanya.
Akram mengangkat alis, tak bisa menghentikan kesinisannya.
“Oh ya? Kau di sini untuk memastikan Xavier sehat, atau untuk memastikan bahwa Xavier sudah mati?”
Sera membeliak, mulutnya yang gemetaran terbuka, hendak mengeluarkan sanggahan atas sikap jahat Akram. Tetapi, pada saat yang bersamaan, pintu ruang perawatan Xavier terbuka, dan Dokter Nathan keluar dari ruangan.
“Nathan.” Tubuh Akram yang tinggi tegap langsung menghampiri sang Dokter dan menghalangi pandangan Sera. “Bagaimana kondisi Xavier?”
Terdengar suara Dokter Nathan menarik napas panjang.
“Saat ini kondisinya sudah stabil.” Dokter Nathan memilih tak menjelaskan panjang lebar, hanya memberikan kepastian yang bisa melegakan semua orang.
“Sampai berapa lama Xavier harus dibuat tetap tak sadar?” Akram langsung bertanya cepat, matanya melirik ke arah kamar perawatan Xavier dengan cemas.
Dokter Nathan kembali menghela napas. “Sampai tubuhnya bisa menahan rasa sakit dalam keadaan sadar dan obat penahan sakit efektif untuknya.”
Dokter Nathan menganggukkan kepalanya. “Aku akan terus siaga di rumah sakit ini dan memastikan kondisinya terus stabil sampai sembuh nanti.”
“Bagus kalau begitu. Kabari aku jika ada perkembangan terbaru, baik atau buruk, sekecil apapun itu.”
Akram menganggukkan kepala sedikit ke arah Dokter Nathan, lalu membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan lorong tersebut. Sebelum melakukannya, kepalanya menoleh ke arah Dimitri dan menatapnya dengan tatapan bermusuhan yang tajam.
“Kenapa kau diam saja? Ikuti aku.” Perintahnya dengan nada meremehkan yang nyata.
Tak ada yang bisa dilakukan Dimitri selain memeringiskan bibirnya penuh ironi dan mematuhi perintah Akram. Bom dan racun yang tertanam sekaligus di tubuhnya membuatnya tak berdaya. Lelaki itu benar-benar memperlakukannya seperti seekor binatang pengikut yang patuh dan tak memanusiakannya.
***
Dua sosok lelaki bertubuh tinggi itu pun melangkah meninggalkan lorong, sehingga hanya ada Sera dan Dokter Nathan berdua saja di sana.
Dokter Nathan seolah baru menyadari ada kehadiran Sera di belakang Akram. Lelaki itu sudah pasti melihat mata Sera yang sembab dan ekspresinya melembut seketika, sedikit merasa bersalah.
“Maafkan sikapku tadi, Sera.” Dengan sopan, Dokter Nathan meminta maaf. Dia lalu mengedikkan dagunya ke arah ruangan yang ada di sebelah kamar perawatan Xavier. “Xavier akan tetap tertidur selama beberapa lama karena kami menempatkannya dalam kondisi koma untuk mempercepat proses kesembuhannya. Kau bisa pulang kalau mau dan aku akan memastikan kau mendapat kabar secara berkala mengenai kondisi Xavier. Atau, jika kau ingin menunggu di rumah sakit ini, aku akan menyiapkan kamar perawatan di sebelah kamar Xavier untukmu. Tetapi, aku tidak bisa memberikan jangka waktu pasti, kapan Xavier bisa dibuat sadarkan diri. Kau mungkin harus menunggu selama berhari-hari.”
Tak perlu berpikir panjang, Sera langsung menganggukkan kepala.
“Aku akan menunggu di sini,” putusnya kemudian. Mata Sera kembali melirik ke arah kamar perawatan Xavier.
“Kau ingin di sini untuk beberapa jam ke depan, atau kau ingin menunggui Xavier di rumah sakit ini?” Dokter Nathan bertanya kembali untuk memastikan, seolah tak yakin dengan perkataan Sera.
“A-aku ingin menunggu di rumah sakit ini sampai… sampai Xavier sadar kembali. Apakah boleh?” tanya Sera gugup dan menatap Dokter Nathan seolah takut.
Butuh waktu beberapa lama bagi Dokter Nathan untuk memutuskan, tetapi setelahnya, dia menghela napas panjang dan menganggukkan kepala.
“Baiklah. Aku akan mengatur petugas untuk menyiapkan kamar sebelah bagimu. Anak buah Xavier juga akan mengambilkan pakaian dan segera perlengkapanmu dari rumah,” ujarnya.
Sera menganggukkan kepala. “Terima kasih, dokter,” sahutnya dengan nada tulus, lalu berucap dengan hati-hati. “B-bolehkah aku melihat Xavier?” tanyanya perlahan.
Dokter Nathan menghela napas panjang. “Aku tak bisa menahanmu melakukannya. Bagaimanapun, kau adalah istri Xavier. Tetapi, jangan lakukan apapun yang kau lakukan tadi yang memancing Xavier terbangun. Jangan terlalu dekat dengannya, jangan mengajaknya berbicara. Pokoknya, Xavier harus selalu tertidur sampai aku memutuskan bahwa dia boleh bangun.” Tatapan Dokter Nathan berubah serius. “Kami sudah memasang kamera pengawas di kamar, juga alarm khusus yang bisa mendeteksi perubahan apapun meskipun hanya setitik dari Xavier. Jadi, jangan berpikir untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan kau sesali, Sera.”
***
__ADS_1
Seorang perawat mengantarkan makan siang untuk Sera dan mengatakan bahwa kamar di sebelah sudah disiapkan untuknya beristirahat jika diperlukan.
Tetapi, Sera yang duduk di sofa yang berada di seberang tempat ranjang Xavier terbaring tak sadarkan diri, sama sekali tidak tertarik untuk pergi meninggalkan kamar ini.
Sepertinya, untuk malam ini, lebih baik Sera tidur di dalam ruangan ini sambil menunggui Xavier. Sofa besar yang ada di dalam kamar ini, sudah lebih cukup sebagai tempatnya beristirahat dan tidur di malam hari.
Aroma masakan yang gurih dan menguarkan uap hangat itu terasa menggoda bagi Sera. Dia lalu beranjak berdiri, melongok ke arah meja tempat diletakkan nampan masakan, sebelum kemudian membuka penutup nampan itu.
Ada sup jagung hangat, roti bawang yang harum seolah baru dikeluarkan dari oven, salad sayuran, pasta dalam porsi kecil dan juga buah-buahan segar yang berpadu dengan puding manis.
Tiba-tiba saja perut Sera terasa bergemuruh, menagih untuk diisi. Barulah dia ingat bahwa dia belum makan apapun sejak pagi tadi.
Sera menarik kursi mendekati meja itu, lalu mulai menyantap makanan yang tersedia. Perutnya mulai terasa perih melilit, dan Sera tak mau sampai jatuh sakit karena terlambat makan. Dia harus tetap sehat supaya mampu menghadapi berbagai rintangan yang mungkin akan lebih berat muncul di hari esok.
Sera memakan semua makanan itu dengan lahap, menandaskannya tanpa tersisa, didorong oleh semangat bertahan hidup, sama seperti dulu ketika dia dikurung di kamar gelap oleh Samantha Dawn selama berhari-hari dan hanya diberi makan roti berjamur dan air. Saat itu, tanpa merasa jijik sedikit pun, Sera menghabiskan roti itu, karena dia tahu bahwa itu adalah satu-satunya nutrisi bahan bakar yang bisa menyokong tubuhnya untuk bertahan hidup. Ketika tubuh Sera tak tahan lagi makan-makanan tak layak, dia akan sakit parah, muntah setiap saat dan didera rasa sakit di sekujur badannya sebagai imbas keracunan makanan. Pada saat itu, Aaronlah yang datang diam-diam, menyelundupkan roti segar yang dicurinya dari dapur, dan memberikannya obat yang membuatnya merasa lebih baik dan mampu bertahan hidup.
Semua orang menyalahkan Sera karena dia mengkhawatirkan Aaron lebih dari siapapun. Tetapi, orang-orang itu tak mengerti, bahwa ketika Sera berada di titik paling mengerikan dalam hidupnya, hanya Aaronlah yang datang sebagai malaikat penolongnya.
Ya, Sera pernah menaruh hati kepada Aaron, itu semua didorong oleh kekagumannya atas kebaikan hati lelaki itu, tetapi dengan cepat Sera membunuh perasaannya itu karena dia tahu bahwa dirinya yang hanyalah pion rendahan dan alat pembalas dendam bagi Roman Dawn ini, sama sekali tak pantas menjadi pendamping Aaron.
Lelaki itu sudah disiapkan untuk menapaki jalan gemilang sebagai penerus Roman Dawn, dan pada saat itu, Sera tahu diri dan tak ingin menghalangi jalannya.
Tetapi saat ini semua hal seolah berhamburan ke arah berlawanan dari rencana mereka. Sera malahan melibatkan Aaron dalam praharanya bersama Xavier. Jika saja bukan karena dirinya, Xavier tak akan menahan Aaron sebagai sandera, dan juga… Xavier tak akan terluka karena Aaron.
Sekarang, Sera dihadapkan pada dilema mengerikan yang membuatnya terombang-ambing dalam kebingungan.
Sera tak tahu kenapa Aaron menyerang Xavier, pun dia juga tak bisa setuju ketika Aaron membuat Xavier sampai terluka seperti ini.
Bagaimanapun… saat ini Xavier adalah suaminya, lelaki yang telah mengikat janji pernikahan dengannya. Sementara hati Sera… sesungguhnya sudah terluluhkan oleh sikap lembut Xavier kepadanya.
Pernikahan itu memang pernikahan paksa. Tetapi, di dalam kehidupan pernikahan mereka, lelaki itu hampir tak pernah memaksakan kehendaknya kepada Sera, sikapnya selalu lembut, bahkan ketika lelaki itu marah dan berucap tajam pun, tak pernah sedikitpun dia mengayunkan tangannya untuk menyakiti Sera.
Sesungguhnya, Xavier terasa seperti rumah teduh yang menawarkan perlindungan baginya. Tetapi, bagi Sera yang otaknya telah dijejali oleh semua hal mengerikan yang pernah dilakukan oleh Xavier di masa lampau, rasanya sangat sulit untuk melangkahkan kaki dan meletakkan kepercayaannya kepada rumah teduh itu dan berlindung kepadanya.
Apa yang harus Sera lakukan? Jalan apa yang harus dia tempuh untuk bisa membahagiakan kedua belah pihak yang bertentangan?
Ketika menyuap makanannya, tanpa sadar tatapan Sera tertuju ke arah perutnya, dan tangannya secara otomatis mengusap perutnya dengan sikap lembut.Hatinya masih penasaran, mengutarakan pertanyaan yang jawabannya hanya bisa diberikan oleh waktu.
Apakah dia sudah hamil? Apakah Xavier sudah berhasil menanamkan benihnya di tubuh Sera?
***
PS : Besok masih ada 1 part lagi untuk jatah minggu ini, diupload jam 10an malam.
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
__ADS_1
Terima Kasih.
AY