Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 23 : Penggenapan Janji


__ADS_3


"When i start to kiss you, lust is the easiest emotion to generate."


Elana ternganga mendengar perkataan Akram yang kurang ajar itu. Wajahnya merah padam, dipenuhi rasa malu dan terhina yang berbaur menjadi satu.


"Kau..." suara Elana tersekat ketika dadanya yang bergemuruh oleh kemarahan membuat napasnya tersengal. "Aku.. aku tidak mau!" seru Elana seketika, menyuarakan penolakannya dengan suara penuh emosi.


Ekspresi Akram tidak berubah, bahkan, lelaki itu tampak seolah menikmati kemarahan Elana yang meluap-luap.


"Aku tidak akan memaksamu." Akram berucap santai sambil bersedekap. "Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Tetapi, lupakan saja semua persyaratan yang kau ajukan tadi. Kau bisa menganggap bahwa aku tidak pernah mendengarnya, jadi bukan salahku jika aku tidak mempertimbangkannya. Karena, bagaimana mungkin aku mempertimbangkan sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya?"


Kepandaian Akram bersilat lidah dengan begitu licik benar- benar membuat Elana terpana tak bisa berkata. Lelaki ini bilang tidak akan memaksanya, padahal Elana tidak diberi kesempatan untuk memilih. Dada Elana sendiri masih bergemuruh oleh kemarahan atas permintaan kurang ajar Akram. Meskipun begitu, ada kecemasan terselip di benak Elana mendengar ancaman tersirat dalam suara Akram itu.


Kalau Akram benar-benar tidak mau mempertimbangkan persyaratannya, berarti Elana akan terus tertahan di pulau ini entah sampai kapan.


Elana mengepalkan tangan, bibirnya menipis saat dia menelan ludah dan berpikir keras.


Apakah itu semua akan sepadan? Membiarkan Akram melecehkannya demi sercercah harapan untuk kebebasan?


Elana hanya memiliki harga diri yang digenggamnya erat-erat sebagai satu-satunya yang berharga di dirinya untuk saat ini. Sebab Elana sadar bahsa tubuhnya yang sekarang sudah tak berharga, layaknya harta yang telah rusak oleh Akram hingga kehilangan semua nilainya.


"Jadi?" Akram menatap Elana dengan tatapan mengejek. "Ya atau tidak, Elana?" tanyanya kemudian.


Tanpa sadar Elana menggigit bibir, untuk menguatkan diri. Dia tahu bahwa Akram sengaja memintanya melakukan hal vulgar seperti duduk di pangkuannya dan menciumnya, adalah demi memojokkannya hingga mundur dari keinginannya untuk bebas meninggalkan pulau ini.


Tetapi, Elana tak akan mundur begitu saja. Jika Akram hendak memojokkannya sampai tak ada jalan keluar lain, Elana akan meloncat untuk merobohkan Akram guna mencari jalan keluar.


Toh, entah Elana menolak atau menerima permintaan Akram, lelaki itu akan tetap melecehkannya, bukan?


"Aku akan melakukannya kalau kau memberiku janji sebagai timbal balik!" Elana berseru lantang, berusaha bersikap kuat di depan Akram. Dia tahu kalau dirinya tampak lemah, Akram akan terus menindasnya tanpa ampun.


Akram kembali mengangkat alis, seolah tak menyangka bahwa alih-alih menyerah dan segera naik ke pangkuannya, Elana malahan kembali mencoba bernegosiasi.


"Bukankah tadi sudah kubilang? kalau kau naik ke pangkuanku dan menciumku sebagai itikad baik serta pembuktian atas janjimu, aku akan mempertimbangkan semua persyaratan yang sebelumnya telah kau ajukan kepadaku. Cukup adil, bukan?"


"Itu tidak cukup." Elana menyela cepat. "Aku ingin jaminan. Begitu aku mengikuti permintaanmu, kau harus berjanji untuk mengeluarkanku dari sini dan juga membiarkanku bekerja."


Mata Akram menyipit, kini isyarat gelap dan menakutkan mulai berkelebat di pupil matanya.


"Kau tidak sedang dalam posisi sepadan untuk bisa bernegosiasi denganku, Elana. Posisimu terlalu rendah untuk melakukannya. Kau pikir aku sedang bermain-main duduk di sini dan membuang waktuku demi negosiasi omong kosong denganmu? Aku memberimu satu kesempatan, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya. Ingatlah, bahwa aku akan selalu bisa memaksakan kehendakku kepadamu tanpa harus repot-repot mendengarkan persyaratanmu." desis Akram penuh ancaman dari sela giginya yang terkatup.


Elana menelan ludah, detak jantungnya semakin berkejaran ketika dia memutar otak kembali untuk mencari cara menghadapi Akram.


Jika lelaki di depannya ini tidak bisa dihadapi dengan sikap angkuh penuh harga diri, mungkin cara yang lain bisa...


Pipi Elana merah padam ketika dia memutuskan untuk berucap, menahan perasaan mau dan benci luar biasa ketika dia memutuskan menantang Akram dengan cara lain.


Tangannya bergerak gugup mencengkeram ikatan selimut yang melingkar di dadannya, sementara Elana menguatkan diri mengangkat dagu untuk menatap lurus langsung ke mata Akram.


"Bukankah sepadan menukarkan persyaratanku dengan bisa membuatku naik ke pangkuanmu dan... menciummu?" tanyanya terbata, menggunakan hasrat Akram terhadapnya sebagai senjata.

__ADS_1


Akram langsung tertegun mendengar pertanyaan Elana itu. Matanya bergerak menyapu keseluruhan diri Elana, dan darahnya bergolak seketika.


Perempuan itu sama sekali tidak berniat menggodanya, Akram tahu itu karena dia mengerti bahwa Elana begitu tidak berpengalaman dengan laki-laki, sehingga jelas bahwa dia tidak mengetahui teknik untuk merayu laki-laki secara visual. Tetapi, apa yang tersaji di depan mata Akram saat ini benar-benar menggodanya. Pemandangan Elana yang sedang memeluk selimut putihnya layaknya tameng, dipadu dengan bahu terbuka dengan kulit merona yang pasti akan terasa lembut ketika disentuh. Sementara itu rambut Elana tampak tergerai indah membingkai wajahnya yang dihiasi mata lebar yang penuh kilau kepolosan.


Dan pertanyaan Elana tadi ... apakah sepadan?


Akram tahu bahwa dia hanya perlu menatap Elana untuk mendapatkan jawabannya. Membayangkan Elana yang selama ini selalu menolaknya, tak sudi membalas cumbuannya, dan harus dipaksa untuk melayaninya, kini melangkah dengan sukarela ke dekatnya, naik ke pangkuannya dan menciumnya...


Ya. Sudah pasti bahwa itu sepadan.


Akram tidak pernah mau melonggarkan dirinya ketika bernegosiasi, tapi kali ini, perempuan kurang ajar itu telah berhasil membuatnya bersedia menanggung kekalahan, dengan senang hati pula!


"Kemarilah." Akram memberi isyarat dengan tangannya.


Tetapi, bukannya mendekat, Elana malahan mengkerut semakin mundur. Tatapannya menghujam ke arah Akram dengan waspada.


"Apakah kau menyetujui persyaratanku?"


Akram membalas tatapan mata Elana tak kalah tajam. "Aku menyetujuinya." ujarnya kemudian, mengakui kekalahan dengan gamblang.


"Ba... bagimana aku bisa yakin kalau kau tidak sedang berbohong dan mencurangiku?" tanyanya buru-buru.


Akram menyipitkan matanya.


"Kau selalu bisa memegang perkataanku." jawabnya tenang. Dan itu benar adanya. Akram dididik untuk memiliki integritas sebagai seorang pemimpin. Ketika Akram berjanji, dia akan menepatinya.


Sekarang ini, hanya demi sedikit sentuhan Elana, dia telah bersedia membuat janji yang sudah pasti akan dia tepati. Akram tidak akan bermain-main dengan janjinya, meskipun dia tahu bahwa membawa Elana ke dunia luar serta membebaskannya berinteraksi dengan orang luar sudah pasti akan membawa banyak masalah untuknya di masa mendatang.


Mata Elana menemukan kilat mengerikan di mata Akram seiring dengan semakin banyaknya perkataan yang keluar dari bibirnya. Dan Elana mulai panik, takut kesempatannya bebas terenggut begitu saja karena dia salah kata. "Tentu saja... tentu saja aku juga akan menepati janjiku... kalau kau masih menginginkanku, kau bisa menjemputku untuk mendatangimu dan aku... aku akan melayanimu, tapi... kalau bisa... tolong lakukan itu di akhir pekan saja, karena aku harus bekerja..."


"Jangan memaksakan keberuntunganmu, Elana." Akram menyela dengan tidak sabar, ekspresinya berubah gelap. "Aku berjanji untuk membawamu keluar dari pulau ini dan memberikanmu kesempatan untuk bekerja. Hanya dua hal itu saja. Segala pengaturan serta persyaratan yang menyusul nanti, aku yang akan menentukannya" ucapnya dengan nada arogan tak terbantahkan.


Elana tertegun dan meremas jalinan tangannya dengan gelisah. Dia tahu bahwa dirinya terlalu bersemangat hingga hampir saja mengacaukan kesempatannya. Dihelanya napas dalam untuk menenangkan diri, lalu diangkatnya pandangannya untuk kembali menatap Akram yang sedang mengawasinya bagaikan predator mengincar mangsa.


"Kau... kau ingin aku kesana dan menciummu?" tanyanya kemudian.


Entah bagaimana, pertanyaan Elana yang diajukan dengan begitu polos itu seolah mampu menguraikan kemarahan Akram yang telah terkumpul sebelumnya. Ekspresi Akram yang gelap tampak melembut, lelaki itu lalu menggerakkan tangannya kembali, memberi isyarat kepada Elana supaya mendekat.


"Kemarilah," ujarnya setengah menggeram.


Elana menatap Akram ragu, tapi tak urung di beranjak berdiri juga. Kedua tangannya mencengkeram selimut yang membungkus tubuhnya sementara matanya menunduk menatap pakaiannya yang berantakan tersebar di seluruh karpet dekat sofa.


"Ba... bagaimana kalau aku memakai pakaianku dulu? Selimut ini terasa... eh... tidak nyaman." ujar Elena berusaha mengulur waktu.


Sekali lagi Akram menyipitkan mata.


"Kau tidak akan memerlukan pakaian itu. Kalau nanti aku sudah mulai, kau bahkan tidak akan memerlukan selimut yang membalut tubuhmu itu." jawabnya dengan penuh arti.


Pipi Elana merah padam. Dia tahu bahwa Akram tidak akan melepaskannya sekarang. Lelaki itu sudah tentu tidak sebaik hati itu untuk melakukannya. Kenyataan bahwa Elana telah mengumpankan dirinya ke tangan Akram seperti mangsa yang memasukkan kepalanya ke mulut predator lapar, menciptakan situasi dimana dia tak boleh mundur. Dia telah mengajukan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam situasi ini, dan dia harus bertanggung jawab menyelesaikannya.


Satu pengorbanan untuk mendekatkan langkahnya menuju kebebasan....

__ADS_1


Elana menghela napas panjang, lalu melangkah mendekati Akram. Langkahnya terseret, sengaja dilambatkan supaya semakin lama waktu yg bisa diulurnya sampai dia bisa mencapai Akram. Sayangnya, jarak mereka berdua yang tak terlalu jauh, membuat Elena dalam sekejap sudah berdiri di dekat Akram. Langkahnya terhenti, sementara jantungnya berdebar, mulai meragu.


Akram mengangkat pandangannya dan sedikit mengerutkan kening ketika Elana tak kunjung bergerak mengikuti kemauannya. Perempuan itu begitu cantik, berdiri malu-malu di sana dengan ekspresi ragu bercampur takut. Seharusnya Akram merasa tak tega memaksa perempuan polos tak berpengalaman ini mengambil inisiatif, tetapi hasratnya untuk menyentuh dan berdekatan dengan Elana telah mengalahkan segalanya.


"Kemarilah," kembali Akram menggeramkan ketidaksabarannya, tangannya terulur, seolah memaksa Elana untuk mengambil langkah.


Dan ketika Elana menerima uluran tangannya, Akram langsung menarik tubuh mungil itu ke arahnya, tak mempedulikan pekikan tekejut Elana ketika tubuhnya terbanting dan berakhir di pangkuan Akram.


Seketika itu juga, didorong oleh reflek dan ketakutan akan kedekatan yang dipaksakan, tubuh Elana melenting hendak bangkit menjauh. Sayangnya, Akram benar-benar tidak berniat untuk melepaskan Elana. Kedua lengan Akram bergerak mencengkeram perempuan itu agar tetap dekat dengan dirinya.


Duduk di atas paha Akram yang terasa kuat dan keras serta mengalirkan hawa panas di sekujur tubuh Elana, benar-benar membuat jiwa Elana tidak nyaman. Posisi mereka sungguh akan membuat mata terbelalak bagi yang melihat, kaki Elana berada di sisi kiri dan kanan paha Akram, tubuh mereka berhadapan, dan saat ini lengan Akram melingkar di pinggang Elana, memaksa Elana supaya tidak bergerak dari posisinya saat ini.


"Kau tidak boleh lari," Akram melepaskan sebelah tangannya dari pinggang Elana, lalu bergerak untuk meraih dagu perempuan itu, mendekatkan wajah mereka semakin rapat hingga nafas panas mereka berpadu diiringi detak jantung yang semakin mengencang di setiap detiknya.


"Cium aku," Akram kembali menggeramkan perintah, memaksa Elana menghapuskan semua keraguan yang menahannya.


Elana menundukkan pandangan dan debar jantungnya semakin kuat ketika tatapannya berpadu dengan mata hazel yang membalasnya tajam penuh kilat gairah.


Tidak ada jalan mundur...


Kedua tangan Elana gemetaran ketika bergerak memegang pipi Akram di sisi kiri dan kanannya. Kulit Akram terasa panas menyengat hingga Elana harus menahan diri supaya tidak berjingkat menjauh, berjuang untuk melakukan apa yang diperintahkan Akram kepadanya.


Satu pengorbanan untuk mendekatkan langkahnya menuju kebasan....


Sekali lagi Elana merapalkan kalimat yang sama seolah mantra untuk mendorong kekuatan dirinya. Lalu akhirnya, Elana menundukkan kepala dan semakin mendekatkan bibirnya kepada Akram. Masih bisa dilihatnya pada detik yang sama ketika bibirnya menyentuh bibir Akram yang tengah menanti, lelaki itu langsung memejamkan mata.


Dan Elana mengikuti, memejamkan matanya rapat ketika akhirnya bibirnya menyentuh bibir Akram yang terkatup rapat. Elana menghadiahkan kecupan kecil di sana, lalu buru-buru menarik kepalanya menjauh.


Mata Akram terbuka seketika, seolah jengkel karena kontak bibir mereka yang ternyata jauh lebih singkat dari yang dibayangkannya. Meskipun begitu, ada seringai tipis dan kelebat sinar geli di matanya sebelum akhirnya Akram berucap dengan nada mencemooh.


"Seperti itu kau bilang ciuman? Apa kau tidak pernah belajar dari apa yang sudah kau lakukan kepadamu selama ini?" ejeknya dengan nada pedas.


Pipi Elana memerah dan wajahnya terasa panas. Dia ingin beranjak pergi tapi Akram menahan dengan kuat hingga Elana tak berkutik.


Dasar lelaki kurang ajar yang tak tahu terima kasih... sudah untung dirinya mau mengecup bibir lelaki itu. Kalau bukan demi mendapatkan kebebasannya, mungkin Elana akan lebih memilih untuk mengepalkan tinju kecilnya dan langsung meninju mulut Akram sekuat tenaga.


"Kau bilang meminta ciuman dan aku sudah menciummu! Aku sudah melakukan apa yang kujanjikan! Bibirku sudah menempel di bibirmu! Dan itu sudah cukup memenuhi syarat sebagai sebuah ciuman!" sahut Elana membela diri.


"Bibir yang menempel hanya beberapa detik tidak bisa disebut sebagai ciuman..." bukannya marah karena Elana berani menantangnya, Akram malah makin merasa berhasrat. Tangannya bergerak ke belakang kepala Elana, kembali mendorong kepala perempuan itu ke arahnya.


"Biar kutunjukkan kepadamu seperti apa ciuman yang sesungguhnya itu. Dan kau harus mengingatnya dengan benar. Karena di masa depan nanti, ketika aku memerintahkanmu untuk menciumku, kau harus melakukannya dengan cara yang persis sama." ujar Akram dengan nada arogan, sementara bibirnya semakin dekat dengan bibir Elana, mengecupnya perlahan, menggunakan kekuatannya untuk memaksa bibir Elana membuka, lalu memperdalam ciuman mereka dengan begitu intim, dibalut hasrat membara yang mungkin tak akan surut meski malam telah berlalu.


 





__ADS_1


__ADS_2