Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 43 : Meminta Izin


__ADS_3


Ketika Elana terbangun, dia mendapati bahwa dirinya sendirian di dalam kamar milik Akram yang sangat luas itu. Elana menajamkan indra pendengarannya dan menyadari ada suara air mengalir dari kamar mandi, menunjukkan bahwa Akram tengah mandi di dalam sana.


Segera Elana melirik ke arah jam yang terpasang di dinding tepat di seberangnya dan dia menghela napas lega ketika menyadari bahwa hari masih pagi. Masih cukup waktu baginya untuk mempersiapkan diri dan berangkat bekerja tanpa terlambat.


Elana langsung menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan beranjak hendak pergi ke kamarnya sendiri. Tetapi, langkahnya terhenti ketika dia menatap kekacauan yang disebabkan oleh Akram semalam saat sedang mencari kotak obat dan dia tertegun menatap semuanya.


Akram seolah menumpahkan seluruh isi lemarinya secara serampangan ke lantai. Sungguh aneh, karena Akram yang bersikap serampangan itu seolah bukanlah Akram yang biasanya.


Tiba-tiba saja Elana berpikir, kalau kondisi lemari itu saja hancur lebur oleh tindakan Akram, Elana tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya kondisi dapur yang digunakan oleh Akram membuatkan bubur baginya semalam. Mungkin dapur itu sangat kotor dengan peralatan masak berantakan dan berbekas gosong dengan lelehan dan cipratan bubur dimana-mana.


"Biarkan saja. Pelayan yang datang kemari setiap hari akan membereskan semua," suara Akram tiba-tiba terdengar dari arah belakang Elana, membuat Elana segera menoleh dengan waspada.


Didapatinya Akram yang masih berada di ambang pintu kamar mandi, tampak segar, lembab dan basah sehabis mandi.


"Bagaimana keadaanmu?" Akram tampak mengawasi rona kulit Elana yang sudah tak sepucat semalam, menyadari bahwa Elana sudah tampak lebih baik pagi ini.


"Aku sudah baik. Terima kasih," tangan Elana meraba perutnya dan tanpa sadar mengusapnya. Obat yang diberikan oleh Akram kepadanya sungguh manjur. Setelah semalam kelelahan bergulat dengan pikirannya, Elana langsung jatuh tertidur tanpa sadar. Ketika bangun di pagi hari ini, rasa sakitnya sudah tidak lagi terasa.


Sambil berpikir, mata Elana mau tak mau melihat ke arah Akram dan pikirannya tiba-tiba berpindah, terpusat ke lelaki itu. Benaknya mengiringi tatapan matanya yang menelisik sosok lelaki itu lebih dalam.


Akram mengenakan jubah mandi berwarna hitam yang diikatkan dengan serampangan di pinggangnya dan pipi Elana memerah ketika menyadari bahwa kemungkinan besar, Akram tidak mengenakan apapun di balik jubah mandinya itu.


Mata Akram yang tajam mengamati wajah Elana yang memerah dan sebuah seringai muncul di bibirnya ketika dengan ahli, dia berhasil menyimpulkan apa yang terlintas di benak Elana saat mata lebar nan polos itu tengah memandanginya.


"Ingin tahu?" tanyanya perlahan, penuh arti.


Elana mengerutkan kening, menatap ke arah Akram bingung. "Ingin tahu tentang apa?" balasnya bertanya.


Senyum Akram lambat-lambat terurai menghiasi bibirnya ketika tangannya bergerak menyentuh tali jubah mandi di pinggangnya sambil lalu.


"Ingin tahu apakah aku mengenakan sesuatu di balik jubah mandi ini, atau tidak?" rayu Akram dengan nada sensual sementara tangannya semakin bergeser menggoda, seolah-olah hendak melepaskan ikatan tali jubah itu.


Wajah Elana kali ini benar-benar merah padam. Dia melangkah mundur tanpa sadar, bergerak sesuai naluri untuk menjauh dari Akram, ketakutan kalau Akram benar-benar akan memamerkan ketelanjangannya di depannya.


"Kurasa... kurasa aku akan pergi ke kamarku untuk mandi dulu... aku sudah hampir terlambat!" Elana berseru terbata dan langsung membalikkan badan, lalu mengangkat kakinya dengan segera untuk berlari-lari kecil meninggalkan kamar Akram dan membanting pintu di belakangnya.


Akram yang ditinggalkan sendirian, hanya menatap masam ke arah pintu yang tertutup itu.


Baru kali ini dia merendahkan diri untuk memberikan rayuan sensual kepada seorang perempuan, hanya untuk ditolak dengan sikap ketakutan.


***



***


"Tuan,"


Elios langsung berucap ketika Akram memerintahkannya masuk segera setelah asistennya itu mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Ada apa?" Akram mengangkat kepala dari layar digital yang menampilkan berkas-berkas pekerjaannya dan mengangkat alis ketika melihat Elios berdiri dengan sedikit ragu di ambang pintu.


"Tuan Akram, ini tentang Nona Elana. Dia meminta untuk disambungkan kepada Anda. Nona Elana bilang bahwa ponsel Anda tidak bisa dihubungi.


Mata Akram melebar, dipenuhi keterkejutan. Elana tidak pernah menghubunginya lebih dulu sebelumnya, bahkan ponsel yang diberikannya pada Elana sepertinya tidak pernah digunakannya sebagaimana fungsinya hingga membuat Akram merasa jengkel.

__ADS_1


"Jemput dia, suruh naik ke atas sini." ucap Akram kemudian dengan nada tegas. Dia bersikap tidak peduli di luar, meskipun dalam hatinya, Akram tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu yang kuat akan alasan kenapa Elana meminta menghubunginya.


Elios kembali menampakkan keraguan di wajahnya, meskipun begitu, tak urung dia berucap juga. "Tapi... eh, Tuan Akram, sesungguhnya Nona Elana tidak meminta bertemu dengan Anda. Dia hanya minta disambungkan melalui telepon karena dia ingin berbicara dengan Anda mengenai sesuatu."


Ekspresi Akram menggelap. "Bilang padanya aku ada dekat di sini, bukan ribuan kilometer jauhnya. Jika dia ingin bicara, maka dia harus bertatap muka denganku," sahutnya dengan nada marah.


Akram lalu mengabaikan Elios dan kembali memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan di depannya, hingga tiada yang lain yang bisa dikerjakan oleh Elios selain mengikuti perintah tuannya.


Tetapi, ketika Elios melangkah mundur dan hendak menutup pintu ruang kerja Akram, tiba-tiba Akram seolah teringat sesuatu dan memanggil kembali.


"Elios."


Elios langsung menghentikan gerakannya, dan melongok kembali dari pintu yang terbuka dengan sikap sopan.


"Ya, Tuan?"


Ekspresi Akram tidak berubah ketika memberi perintah, masih tampak begitu gelap dan menakutkan.


"Pesankan aku dua set makan siang menu eksklusif dari restoran langgananku. Pilihkan menu sehat, tidak pedas, lunak dan baik untuk kesehatan perut. Minta mereka datang dan menyajikannya di meja tamu ruang kerjaku segera." ucapnya tegas.


***



***


Ketika ketukan pintu berikutnya terdengar dan Akram mengizinkan sosok yang sudah ditunggunya itu masuk, Elana melangkah ragu memasuki ruangan dengan tatapan canggung bercampur ketakutan, sementara Elios dengan penuh pengertian menutup pintu di belakangnya untuk menjaga privasi mereka berdua.


Akram langsung meletakkan seluruh pekerjaan yang dipegangnya, mengaitkan kedua tangannya untuk menyangga dagu, dan menatap Elana dengan tatapan matanya yang tajam menusuk.


"Ada yang ingin kau katakan?"


"Kau tidak kesini untuk minta bercinta denganku, bukan?" Akram tiba-tiba bertanya sambil menyipitkan mata ketika Elana tak juga berbicara.


Perkataannya itu membuat Elana terperanjat, wajahnya langsung bersemu merah ketika dia menatap Akram dengan marah.


"Tentu saja tidak! Tidak mungkin aku melakukan itu!" serunya langsung membela diri, menusukkan  jawaban menohok yang langsung menusuk ke hati Akram.


Mereka memang telah menjalin kesepakatan bahwa mulai hari ini, Akram tidak akan memanggil Elana ke ruangannya setiap jam makan siang. Sebagai gantinya, Elana harus bersedia memenuhi persyaratan dari Akram - untuk menunjukkan sikap aktif ketika mereka bercinta nanti - dan itu akan dimulai malam ini.


"Jadi untuk apa? Apakah kau kesini untuk minta makan siang?" tanya Akram lagi, kali ini menyelipkan nada mengejek di suaranya.


Elana kali ini benar-benar tersinggung dengan sikap meremehkan Akram, dia langsung mendongakkan dagu angkuh, lalu berucap dengan penuh harga diri. "Tidak, terima kasih. Aku bisa membeli makananku sendiri. Aku datang untuk meminta izin," seketika Elana mengungkapkan tujuannya menghadap Akram kali ini.


Akram mengangkat alis, ekspresinya terlihat sangat berbahaya. Jika Elana meminta izin, itu pasti berhubungan dengan izin untuk melakukan sesuatu yang ceroboh dan pada akhirnya akan membahayakan dirnya sendiri.


"Tidak. Kau tidak diizinkan." Akram memutus kontak matanya dengan Elana lalu dengan sikap dingin kembali memusatkan perhatiannya pada pekerjaan di depannya. Mengabaikan Elana adalah salah satu cara efektif supaya perempuan itu tidak berkesempatan untuk membantahnya.


"Bagaimana mungkin kau memutuskan begitu cepat dan arogan? Aku bahkan belum menjelaskan untuk keperluan apa aku meminta izin." seru Elana marah. Dia melupakan niatnya awal untuk menjaga jarak dari Akram dan melangkah mendekat, tepat di depan meja kerja Akram yang sangat besar.


Akram bahkan tidak mengangkat pandangannya ketika menjawab Elana kemudian.


"Aku tidak perlu mendengar penjelasanmu. Keputusanku adalah ketetapan bagimu dan jika aku bilang 'tidak' maka kau harus mematuhinya," jawabnya dengan nada tenang menjengkelkan.


Napas Elana mulai tersengal karena kemarahan menguasai dirinya. "Kau bukan pemilikku dan aku bukan kucing peliharaanmu. Aku tidak memerlukan izinmu untuk melakukan apapun! Apapun!" sambil berseru marah, Elana membalikkan tubuh.


Langkahnya cukup cepat menyeberangi ruangan ke arah pintu dan hendak membukanya. Tetapi, tentu saja dia kalah gesit dengan Akram. Lelaki itu tiba-tiba sudah berada di belakangnya, tangannya bergerak melewati wajah Elana dan mendorong pintu ruang kerjanya yang sudah sedikit terbuka sehingga menutup kembali dengan suara keras.

__ADS_1


Elana tertegun, mendongakkan kepala hanya untuk mendapati Akram menunduk menatapnya. Lelaki itu begitu dekat memerangkapnya sehingga punggung Elana menempel ke dadanya hingga membuat Elana merasa terancam luar biasa.


"Aku tidak datang kesini untuk bercinta denganmu! Minggir! Lepaskan aku!" Elana mulai melawan sekuat tenaga, dia membalikkan tubuh dan berusaha menendang Akram. Sudah cukup Akram memperlakukannya seperti alas kaki yang diinjak semaunya, kali ini Elana akan melawan. Dia tidak akan membiarkan Akram melecehkannya setelah lelaki itu bersikap arogan terhadapnya.


Akram tidak menangkis pukulan tangan Elana dan tendangannya. Dibiarkannya Elana meluapkan seluruh kekesalannya. Lalu, setelah gerakan Elana berkurang dan pukulannya melemah, Akram mendorong Elana ke pintu, melingkarkan lengannya ke tubuh Elana dan memeluknya kuat untuk mencegah semua gerakan serangan susulan Elana ke tubuhnya.


"Ssh...aku tahu. Aku tidak akan memaksamu bercinta denganku. Maafkan aku." ucap Akram tiba-tiba. Suaranya berubah tenang tanpa dihiasi nada arogannya yang biasa, membuat seluruh gerakan Elana terhenti dan perempuan itu tertegun, mendongak ke arah Akram dengan tatapan tak percaya.


"Kau bilang apa?" Elana bertanya lagi untuk memastikan, seolah tak mempercayai pendengarannya sendiri. Rasanya sungguh tidak mungkin jika seorang Akram Night yang arogan dan angkuh akan bersedia untuk meminta maaf serta merendahkan hatinya.


Akram melangkah mundur, membebaskan Elana dengan sukarela sementara lelaki itu mengalihkan pandangannya ke meja pendek yang terletak di depan sofa besar yang berada di sisi ujung ruang kerjanya. Lelaki itu seolah tidak mau menatap ke arah Elana untuk menghindari apa yang ada di dalam hatinya sampai terbaca oleh perempuan itu.


"Aku tidak akan mengucapkannya dua kali," Akram menjawab dengan nada ketus, lalu membalikkan badan dan bersikap seolah mengabaikan Elana. "Kemarilah dan makan siang bersamaku. Aku akan memberimu satu kesempatan untuk menjelaskan kembali apa maksud tujuanmu datang kemari siang ini."


Sejenak Elana masih terpana menatap punggung Akram yang menjauh. Sungguh, Akram Night adalah seorang manusia yang paling sulit dipahami di seluruh dunia. Lelaki itu memulai segalanya dengan sikap arogan yang menyebalkan, lalu tiba-tiba berubah sikap seperti sosok bijaksana yang mau mendengarkan dalam sekejap?


Tetapi, tentu saja Elana tak punya pilihan lain. Dia tahu bahwa berkompromi dengan Akram adalah jalan terbaik untuk saat ini. Karena itulah Elana ahkhirnya menurut dan mengikuti langkah Akram ke sofa itu dan duduk di sana.


Ketika itulah dia menyadari bahwa di meja depan sofa itu sudah terhidang berbagai macam hidangan yang menggugah selera, tertata pada piring-piring kecil cantik bercorak bunga warna emas yang memuat beberapa sajian menu dengan tampilan yang sangat indah. Sepertinya Akram menghabiskan sebagaian besar waktu makan siangnya dengan tidak keluar dari ruang kerjanya dan menikmati hidangan makan siang yang dipesan khusus dan disajikan langsung di ruang kerjanya.


"Jadi?" Akram tiba-tiba sudah mengangsurkan piring berukuran besar ke tangan Elana. Elana menerimanya dan meletakkan piring itu di pangkuannya ketika merasakan betapa beratnya muatan di dalam piring tersebut . Rupanya lelaki itu telah mengambil sejumlah banyak dari setiap hidangan yang tersedia dan memindahkannya ke piring yang diberikannya kepada Elana hingga piring itu tampak penuh.


Ketika Elana masih belum menanggapi perkataannya, Akram kembali berucap dengan nada menuntut. "Jelaskan padaku kau hendak meminta izin untuk keperluan apa. Bicara saja sambil makan. Habiskan makananmu, jangan kau sisakan sedikitpun makanan di piring ini. Kau tahu bahwa dengan sakitmu itu kau tidak boleh terlambat makan, jadi belajarlah untuk mengurus dirimu dengan baik dan tidak terlambat makan untuk mulai saat ini."


Elana hanya menatap Akram yang terus menggerutu akan tidak kompetennya Elana dalam mengurus diri sendiri. Dia sungguh kagum dengan kemampuan Akram dalam memberi serentetan perintah tanpa jeda. Mungkin ketika lelaki ini masih bayi, Akram sudah bisa menunjuk-nunjuk sambil mengoceh dan memerintah dalam bahasa bayi ke arah pengasuhnya dengan galak dan menuntut, membuat siapapun yang kebetulan sedang sial harus mengurusnya jadi merasa kerepotan.


Karena Akram terus mengomel, Elana akhirnya hanya bisa menurut dan menyuapkan sesendok penuh hidangan ke mulutnya. Matanya melebar ketika indra perasanya mencecap seberkas kelezatan yang bergulir cepat melingkari lidahnya, membalutnya dengan sensasi rasa yang luar  biasa nikmat, membuat nafsu makannya meningkat cepat dan ingin kembali menyuap lagi dan lagi.


"Enak?" tanya Akram kemudian. Dan ketika Elana mengangguk, bibir lelaki itu langsung menyunggingkan senyum sombong. "Tentu saja itu sangat enak, itu adalah masakan dari koki yang pernah bekerja di salah satu restoran peraih predikat Michelin bintang tiga yang merupakan standar restoran nomor satu di dunia. Dia terbiasa menyajikan hidangan khas yang diolah menggunakan bahan-bahan terbaik dengan teknik memasak tingkat tinggi tanpa cela. Kau juga merasakannya, bukan? Ini tentu lebih enak dari hidangan olahan rumahan yang dimasak sekedarnya dengan bahan sekedarnya pula."


Mata Elana menyipit mendengar kesombongan Akram. Apakah lelaki itu sedang mengejek masakannya di hari libur kemarin? Akram sama sekali tidak memprotes dan menghabiskan masakannya sampai tandas waktu itu, kenapa sekarang lelaki itu mengambil kesempatan untuk mengejeknya? Apakah sudah merupakan sikap dasar Akram untuk selalu menyerang dan memulai pertengkaran setiap lelaki itu membuka mulutnya?


"Menurutku, semua masakan akan terasa lebih baik jika dibandingkan dengan bubur buatan seseorang," Elana membalas dengan sindiran, sengaja memprovokasi lelaki di depannya itu.


Sekejap ada rona merah melintas di pipi Akram. Tetapi, lelaki itu berhasil menyembunyikannya dengan cepat. Akram segera memasang ekspresi dingin dan langsung mengalihkan pembicaraan. Sepertinya tindakannya memasak bubur semalam adalah kecerobohan yang akhirnya menunjukkan bahwa sosok Akram Night yang sempurna ternyata memiliki kelemahan. Karena itulah Akram tampaknya tidak mau membahasnya lagi


"Jadi, kau ingin meminta izin untuk apa?"


Elana meletakkan piring besar itu di pangkuannya dan menyelesaikan mengunyah serta menelan makanan di mulutnya sebelum berbicara.


"Kepala divisi kebersihan mengadakan acara perayaan dua puluh lima tahun pernikahannya dengan istrinya di sebuah restoran yang tak jauh dari perusahaan. Acara diadakan nanti sore dan tentu saja semua anak buahnya diundang untuk datang. Seluruh karyawan divisi kebersihan telah mendapat izin dari HRD untuk menggunakan bis karyawan guna membawa mereka pergi ke lokasi pesta bersama-sama untuk kemudian juga diantar pulang ke rumah masing-masing dengan bis karyawan setelah pesta selesai." Elana menatap takut-takut ke arah Akram. "Aku... bolehkah aku ikut pergi?" tanyanya kemudian.


Ekspresi Akram menggelap dengan sedikit rona marah di wajahnya. Tentu saja dia tahu tentang perayaan pesta itu, dia bahkan mendapat undangan untuk hadir di sana. Tetapi, seorang Akram Night hanya muncul di acara-acara formal yang menyangkut perusahaan atau menghasilkan liputan menguntungkan bagi perusahaan, dia sangat jarang dan bahkan hampir tidak pernah muncul di acara pribadi karyawannya, sebesar dan semewah apapun itu.


Mata Akram mengawasi Elana dan alisnya berkerut.


Perempuan ini tidak menyadari betapa berbahayanya situasi yang sedang mereka hadapi sekarang. Dengan Xavier yang terus mengintai, akan selalu muncul bahaya yang sewaktu-waktu datang menyerang dan bisa merenggut nyawa Elana.


Bahkan, untuk meminimalisasi segala risiko yang membahayakan Elana, Akram telah memerintahkan penjagaan ketat tak terlihat yang akan selalu melingkupi Elana dimanapun perempuan itu berada. Ketika Elana sedang berada di dalam lingkungan perusahaan sekalipun, penjagaan terhadapnya tetap dilakukan dengan sangat ketat, memaksa anak buahnya bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.


Dan sekarang, perempuan itu hendak mempersulit semuanya dengan keinginannya pergi ke pesta di luar lingkungan perusahaan?


***



***

__ADS_1



__ADS_2