Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 76 : Dua Pasangan


__ADS_3

“Elana!”


Akram membanting pintu di belakangnya, menghambur dan melangkah berderap menuju ke arah ranjang besar yang menempel di sisi seberang ruangan, tempat Elana duduk di pinggiran ranjang dan sedang menyantap sup dari mangkuk yang hampir ditandaskannya.


Elana mendongakkan kepala, mengerutkan kening bingung ketika mendengar segala kehebohan yang menghantarkan kedatangan Akram ke dalam ruangan ini. Diletakkannya mangkuk sup kosongnya ke meja makan beroda yang ada di depannya, ditatapnya Akram dengan bingung.


“Akram? Kau datang?” sapanya dengan nada ringan.


Ekspresi Akram tampak gelap mengerikan ketika dia melangkah mendekati Elana. Disingkirkannya meja makan beroda yang menghalanginya mendekati Elana dengan satu dorongan, sebelum kemudian dia melangkah mendekat rapat hingga lutut Elana yang sedang duduk di pinggiran ranjang beradu dengan tubuhnya.


Sebelah tangan Akram bergerak mencengkeram bahu Elana sementara tangannya yang lain mengangkat dagu istrinya supaya menghadap ke arahnya. Mata Akram memindai keseluruhan diri Elana, mencari luka sekecil apapun yang syukurlah tak dia temukan pada diri Elana.


“Bagaimana kondisimu? Apakah kau terluka?” Merasa masih belum yakin dengan hasil pemindaian matanya, Akram akhirnya mengeluarkan pertanyaannya dengan geraman tajam.


Elana mengawasi ekspresi Akram dan menemukan kecemasan yang bergulung di dalam bola mata indah suaminya, lelaki itu tampak kacau, rambutnya tampak acak-acakan dan wajah sedikit memucat, dibarengi dengan napasnya yang sedikit terengah. Akram memiliki stamina yang sangat kuat, lelaki itu selalu meluangkan waktu untuk berolahraga dan melatih fisiknya supaya tetap prima, dan dari pengalaman Elana, entah dari sehari-harinya bersama Akram ataupun di atas ranjang, dia tahu pasti bahwa Akram tidak mudah kehabisan napas.


Melihat keadaan Akram sekarang, Elana bisa membayangkan bagaimana lelaki itu berlari dengan sangat cepat untuk mendatanginya demi melihat keadaannya.


Perasaan Elana langsung melembut seketika saat menyadari betapa cintanya suaminya itu kepada dirinya.Tangan Elana bergerak lembut menangkup pipi Akram yang membungkuk di depannya, bibirnya mengulas senyum menenangkan ketika kemudian berucap penuh sayang.


“Aku baik-baik saja, Akram. Tidakkah kau melihatnya sendiri? Aku hanya lapar, tetapi pihak rumah sakit sudah memberikan makanan lezat untukku yang sudah kuhabiskan sampai tandas. Jadi sekarang aku kenyang, senang dan bahagia.” Ketika dilihatnya mata Akram masih berlumur kecemasan, Elana menarik wajah Akram mendekat ke arah dirinya yang mendongak, lalu mengadiahkan kecupan lembut di bibir lelaki itu. “Aku baik-baik saja,” ujarnya mengulang dengan nada riang, tahu kalau Akram butuh diyakinkan.


Akram mengawasi Elana dengan tajam, tak lama kemudian ekspresinya melembut dan ia mendesah perlahan. Akram kemudian bergerak duduk di atas ranjang, di samping Elana dan tubuhnya membungkuk untuk merengkuh Elana ke dalam lengannya.


“Kemarilah.” Akram mengangkat tubuh Elana dan membawa tubuh perempuan mungil itu duduk di pangkuannya. Setelahnya Akram membungkukkan tubuh dan memeluk Elana erat-erat dengan seluruh kekuatannya seolah ingin meremukkan Elana dan meleburkan tubuh mereka menjadi satu.


“Akram,” Elana berbisik pelan, merasa sesak karena begitu eratnya pelukan itu. “Sesak...,” sambungnya kemudian.


Ucapan pelan itu membuat Akram tersadar dan langsung melonggarkan pelukannya, tetapi, bukan berarti lelaki itu melepaskan Elana begitu saja. Akram mendekatkan wajahnya ke wajah Elana, lalu berbisik parau sambil menggesekkan bibirnya ke bibir perempuan itu.


“Kau tak tahu betapa cemasnya aku memikirkanmu? Aku mendapatkan kabar tentang insiden itu ketika aku berada jauh darimu, aku bisa dibilang berbalik mendatangimu dengan menggunakan segala cara yang bisa kutempuh agar secepatnya dapat melihatmu. Perjalananku kemari terasa seperti neraka. Kau baru saja berhadapan langsung dengan pembunuh bayaran profesional tanpa perlindungan dan aku…”


“Akram… aku baik-baik saja. Tidak terjadi apa-apa kepdaku,” Elana menyela perlahan. “Lagipula kalau dipikir-pikir, aku dengan bodohnya sedang sibuk sendiri di dalam bilik toilet pada saat kejadian dan itulah yang menyelamatkan diriku. Malahan Sera yang menghadapi langsung pembunuh bayaran itu, beruntung Xavier bisa menyelamatkan situasi dengan baik.”


“Xavier membunuh pembunuh bayaran itu dengan racunnya dan kuduga, itu akan menjadi pemandangan traumatis jika kau melihatnya.” Mata Akram mengawasi Elana dengan cemas. “Apakah kau melihat hal mengerikan di sana?” tanyanya khawatir.


Elana menggelengkan kepala. “Credence menggunakan tubuhnya untuk menutupi pandanganku, dia juga merelakan jas mahalnya untuk menutupi… untuk menutupi itu.” Elana menelan ludah ketika mengucapkan hal yang tak nyaman baginya, dengan cepat disingkirkannya pikiran mengerikan itu dan ditatapnya Akram dalam senyuman. “Kau tak boleh lupa berterima kasih kepada Credence nanti.”


Akram menipiskan bibir. “Setelah ini, jika aku tidak sedang bersamamu, kau tidak boleh keluar rumah sama sekali. Atau jika kau memang benar-benar perlu keluar rumah, kau harus membawa sekumpulan bodyguard kelas satu untuk melindungimu,” putusnya tegas.


Elana membeliak. “Akram. Tidak lucu kan kalau aku tempat umum dan harus membawa sekumpulan bodyguard bersamaku, itu malahan akan menarik perhatian orang padahal aku ini orang biasa, bukan artis atau orang penting. Aku malu kalau sampai itu terjadi.”


“Kau bukan orang biasa. Kau istriku.” Akram menipiskan bibir, menyanggah dengan nada tegas. “Menunjukkan bahwa kau diikuti oleh sekumpulan bodyguard merupakan peringatan bagus bagi siapapun yang ingin menyakitimu, mereka akan mundur teratur karena tahu bahwa mereka tak bisa menembus barisan pertahanan yang melindungimu.”


“Akram.” Elana mendongak dan menyentuh kembali pipi suaminya. “Pembunuh bayaran itu tidak mengincarku. Kurasa aku hanyalah berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Menurutku, kau harus berkoordinasi dengan Xavier untuk melindungi Sera, Seralah yang diincar, dialah yang harus dilindungi.”


Akram menggelengkan kepala tipis. “Sera punya suaminya sendiri untuk melindunginya. Xavier sudah pasti akan menempuh segala cara untuk melindungi Sera sebaik mungkin. Sedangkan tugasku sebagai suamimu adalah untuk melindungimu.”


Suara Akram berubah serak ketika lelaki itu membungkukkan tubuh dan langsung memagut bibir istrinya, menciuminya dengan kuat seolah tak ingin melepaskannya, menumpahkan segala perasaan cemas, lega, khawatir dan juga kasih sayang yang membanjirinya, memeluk rapat Elana, menunjukkan cintanya.


Ketika pertautan bibir mereka itu terlepaskan, napas keduanya sama-sama terengah. Akram terus mengecupi bibir lembab Elana yang sedikit bengkak karena diciuminya, menghadiahkan ciuman demi ciuman penuh cinta yang seolah tak ada ujungnya.


“Aku sangat mencintaimu, istriku.” Akram berbisik pelan dengan bibir masih begitu panas di permukaan bibir Elana. “Aku tak bisa menanggung pemikiran bahwa aku bisa kehilangan dirimu dari kehidupanku. Aku tak mau kalau sampai kau hilang dari sisiku. Susah payah aku menemukanmu dan mengikatmu menjadi bagian dari hidupku, tak akan kubiarkan kau terluka atau hilang dari pelukanku. Tidakkah kau mengerti?” Akram menangkup kedua pipi Elana, mendongakkan wajah perempuan itu supaya tepat meghadapnya, sementara lelaki tangguh dengan hati segelap malam itu tak malu menunjukkan matanya yang berkaca-kaca, penuh dengan luapan perasaan yang selalu mudah mencair lembut ketika berhubungan dengan Elana. “Aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu, aku bisa gila tanpamu,” bisik Akram kemudian dengan suara serak penuh perasaan.


Sikap Akram yang begitu penuh cinta membuat mata Elana ikut berkaca-kaca, sebutir bening harus mengalir lembut di pipinya, membuatnya menyadari bahwa dia akan sangat egois jika memilih bersikap serampangan dan tak mau melindungi dirinya.


“Aku akan mengikuti keputusanmu. Aku tidak akan keluar rumah dan akan membawa banyak bodyguard jika aku tidak sedang keluar bersamamu.” Elana melunakkan diri, merendah dan menekan sikap keras kepalanya.


Ketika Akram mendesah lega dan menghadiahkan kecupan lembut ke bibirnya, Elana pun membalasnya dengan sepenuh hati, tersenyum lembut saat ditenggelamkan ke dalam pelukan kokoh suaminya kemudian.


“Aku juga mencintaimu, Akram Night,” desahnya lembut, mensyukuri betapa bahagianya hidupnya karena dianugerahi seorang suami yang mencintainya sepenuh hati, setengah mati.


***


Suara dentingan itu berhasil menembus alam mimpi Sera dan menarik kesadarannya hingga terbangun. Sera membuka mata dan kewaspadaan akibat trauma peristiwa sebelumnya langsung melingkupinya, membuatnya seketika menolehkan kepala dengan takut ke arah sumber suara.

__ADS_1


Ketika melihat bahwa Xavierlah yang tengah meletakkan nampan penuh makanan ke meja beroda di samping ranjangnya, kelegaan langsung memenuhi diri Sera, membuat tubuhnya yang tadinya tegang dan setengah duduk di atas ranjang seketika melemas.


Gerakan Sera membuat Xavier menolehkan kepala dan lelaki itu pun mengulaskan senyumnya perlahan.


“Maafkan aku,” Xavier mengucap maaf dengan nada lembut sambil mengangkat bahunya. “Aku sudah berusaha supaya tak bersuara dan tak mengganggumu, tetapi koki rumah sakit ini sepertinya sedang bersemangat memberikan makanan penuh nutrisi bagimu sehingga memenuhi nampan dan membuatku cukup kerepotan ketika meletakkannya.”


Perkataan Xavier tentang makanan langsung menarik perhatian Sera. Mata perempuan itu langsung terarah kepada isi nampan yang diletakkan oleh Xavier dan perutnya langsung terasa melilit menagih diisi ketika melihat makanan yang tersaji di sana.


Ada sup dan nasi ditemani sayuran yang dipadu padan dengan irisan tipis daging berlemak dengan bumbu lada hitam yang menciptakan titik-titik gelap bertebaran yang menggoda untuk disantap, ada pula roti dengan olesan krim keju tebal bercampur irisan stroberi. Di dalam mangkuk putih berukuran cukup besar, terdapat sup dengan kuah yang masih mengepulkan asap hangat dengan isian warna warni menarik, padu padan antara brokoli, tomat, jagung dan jamur yang menjadi satu simfoni hidangan yang menggoda mata.


Aroma seluruh masakan itu tak kalah nikmatnya, menggoda indra penciuman yang bergegas mengirimkan sinyal lapar ke otaknya dan membuat air liurnya mulai bangkit tak sabar mencicip.


“Kau ingin makan?’ Xavier tersenyum lembut melihat mata Sera yang berbinar kelaparan. Satu hal yang dia sukai dari perempuan ini, adalah Sera selalu jujur jika menyangkut kesukaannya pada makanan.


Sera menganggukkan kepala, menatap Xavier dengan malu-malu.


“A-aku lapar,” sahutnya pelan, sedikit canggung.


Xavier terkekeh, lalu mendorong meja dengan nampan penuh makanan itu ke hadapan Sera.


“Tentu saja, sejak sarapan tadi hingga hari menjelang sore seperti ini, aku belum memberimu makanan apapun.” Dengan santai Xavier melangkah duduk di tepi ranjang perawatan Sera, lalu mengambil mangkuk berisi sup, menyendokkan isinya dalam sesendok penuh isian sup bercampur kuah nan menggoda, lalu menyodorkannya ke bibir Sera. “Makanlah, buka mulutmu,” perintahnya dengan lembut.


Sera tertegun, bukannya membuka mulut, matanya malahan menatap ke arah Xavier dengan tak yakin.


“K-kau menyuapiku?” tanyanya ragu.


Xavier terkekeh, menyentuhkan ujung logam sendok di tangannya ke bibir Sera.


“Ya, aku menyuapimu. Memangnya ada yang salah? Buka mulutmu.” Meskipun sikap Xavier terlihat santai, tetapi perintah yang diucapkannya terdengar tegas.


Mau tak mau, Sera akhirnya membuka mulutnya, menerima satu suapan besar yang memenuhi mulutnya dalam ledakan citarasa lezat masakan yang membuat indra pengecapnya berpesta pora kesenangan. Mulut Sera penuh dan ketika mengunyah, ia tahu bahwa dirinya pasti terlihat sangat koyol. Tetapi, untuk saat ini Sera tak peduli, dia terlalu lapar untuk mempedulikan penampilannya di depan mata Xavier.


Lelaki itu tak bersuara lagi, memilih fokus memberikan suapan demi suapan untuk membantu memenuhi kebutuhan perut Sera yang kelaparan. Ketika akhirnya sup itu tandas, Xavier meletakkan mangkuknya dan melirik ke arah nampan sebelum kemudian bertanya lembut kepada Sera.


“Berikutnya kau mau apa? Nasi atau roti?” tanyanya menimbang-nimbang.


Yah, semangkuk sup sepertinya masih belum berhasil menenangkan rasa lapar yang bergolak di perutnya. Dulu nafsu makan Sera tidaklah sebesar ini, tetapi sejak dia hamil, sepertinya dia mampu melahap apapun yang disajikan untuknya tanpa merasa terlalu kenyang atau kebanyakan makan. Mungkin benar kalau dia sedang mengandung bayi kembar, karena nafsu makannya terasa di luar normal, bahkan untuk seorang ibu hamil biasa.


“Oke. Nasi.” Xavier tersenyum seolah menahan geli, tetapi lelaki itu tidak mengucapkan apa-apa. Diambilnya piring nasi dengan lauknya dan mulai disodorkannya satu suapan penuh kepada Sera.


Mata Sera melirik ragu ke arah sesendok penuh nasi yang ada di depan mulutnya. Lalu akhirnya dia menatap ke arah Xavier dengan ragu.


“Aku … eh … sepertinya aku bisa memakan makananku sendiri tanpa disuapi,” ujarnya kemudian dengan nada berhati-hati.


Bibir Xavier menipis dan lelaki itu menggelengkan kepalanya tegas.


“Aku tahu kau bisa makan sendiri. Tetapi saat ini aku ingin menyuapimu. Buka mulutmu lagi,” tolaknya dengan tegas, tidak ingin memberi kesempatan bagi Sera untuk menyuap sendiri makanannya.


Sera akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan itu, meskipun begitu matanya melirik ke arah Xavier, tidak bisa menahan rasa ingin tahu di benaknya.


“Kenapa kau bersikeras?” Sera berbisik perlahan, bertanya dengan nada canggung.


“Bersikeras apa?” Xavier mengangkat alis dan malahan balik bertanya.Sera berdehem pelan sebelum berucap kemudian.


“Menyuapiku. Kenapa kau bersikeras menyuapiku? Apa tujuanmu?” tanyanya lagi.


Xavier tertegun tetapi kemudian lelaki itu terkekeh, melemparkan tatapan provokatif ke arah Sera.


“Memangnya kenapa? Apakah aku harus mempunyai alasan untuk melakukannya? Bukankah hal yang wajar jika seorang suami menyuapi istrinya, istri yang sedang mengandung anak kembarnya pula?"


Jawaban Xavier terdengar santai, tetapi entah kenapa hal itu membuat Sera makin curiga. Bukankah Xavier sudah bertekad tak akan berhubungan dengannya sampai anaknya dilahirkan? Xavier bahkan tak mau repot-repot menemui Sera selama berminggu-minggu dan tak mempedulikan keadaanya yang sedang hamil muda. Bahkan, untuk sekedar menelepon dan menanyakan kondisi Sera pun, Xavier tak pernah melakukannya.


Sera tadi mengira ketika dia membuka matanya, Xavier sudah tak ada, menghilang lagi dari hidupnya sesuai dengan niatannya semula. Namun, sekarang lelaki itu seolah melupakan semua ultimatumnya sendiri dan menyuapi Sera dalam sandiwara sebagai seorang suami yang baik kepada istri hamilnya.


“Apakah kau sedang berusaha menyogokku?” Setelah habis menyantap makanannya serta menolak diberikan makanan lain karena sudah kenyang, Sera meminum tandas jus buah dari gelas yang disodorkan oleh Xavier kepadanya sebelum akhirnya berani menyuarakan kecurigaannya.

__ADS_1


Xavier mengusap bibir Sera dengan tisu, meletakkan gelas kosong Sera dan memfokuskan perhatiannya kepada perempuan itu dengan tatapan tak berdosa yang menjengkelkan.


“Menyogokmu? Untuk apa?” tanyanya tenang.


Sera menghela napas panjang. “Me-menyangkut Aaron…. Kau kau tak ingin aku melawan keputusan kejammu menyangkut Aaron, jadi kau sengaja bersikap baik kepadaku…,” simpulnya perlahan.


Mata Xavier langsung menyala oleh kilat ancaman. “Keputusan kejamku?” Perhatiannya malah terfokus pada perkataan Sera yang tidak bisa diterimanya. “Jangan salah, Serafina Moon. Aaronlah yang terlebih dulu mengambil keputusan kejam menyangkut keselamatan bayi dalam kandunganmu. Aku hanyalah membalas sikap kejamnya dengan kekejaman yang sama, supaya dia menuai benih dari kejahatan yang telah ditaburnya.”


Xavier mendekatkan tubuhnya ke arah Sera, menatap Sera dengan sikap mengancam yang mengerikan. “Jangan berani-berani membandingkan diriku dengan Aaron busukmu itu. Aku mengejar Aaron karena dia adalah penjahat dan pengkhianat yang penuh dosa. Tidakkah kau lihat betapa busuknya hati Aaron? Dia mengincar nyawa makhluk tak berdosa di perutmu, hanya demi memuaskan hasratnya untuk mendapatkan kembali wanita yang diinginkannya di sampingnya, tanpa benih lelaki lain bertumbuh di perutnya.”


Xavier menyentuh dagu Sera, mendongakkan perempuan itu ke arahnya.“Mungkin kau merasa tersanjung karena merasa diinginkan oleh lelaki yang menjadi cinta pertamamu, mungkin juga kau sudah berharap-harap supaya bayi di dalam kandunganmu itu sebaiknya tidak ada sehingga kau bisa menghambur bersama Aaronmu itu. Maka kukatakan kepadamu, jangan coba-coba melukai bayimu atau mengkhianatiku. Kau harus tahu satu hal, aku tak perlu menyogokmu dengan berpura-pura bersikap baik. Sebab, entah aku bersikap baik atau tidak kepadamu, pilihanmu cuma satu. Kau ada di bawah kuasaku dan tak akan kubiarkan kau jatuh ke tangan Aaron. Ini adalah pertarunganku dengannya dan aku tak akan mengalah sampai salah satu dari kami mati.” Mata Xavier menatap tajam ke arah Sera, mengancam dengan tatapan membara. “Kau sedang mengandung anakku, dan kau wajib berada di sisiku. Jadi, jangan coba-coba mengkhianatiku, Sera.”


Perkataan Xavier itu membuat Sera tergugu, dan selintas kesedihan langsung muncul di benaknya.


Sebegitu burukkah Xavier memikirkan tentang dirinya? Apakah Xavier berpandangan bahwa dia adalah seorang wanita jahat yang tega menyakiti bayinya sendiri?


“Meskpun aku tak setuju dengan keputusanmu untuk memburu Aaron, tetapi aku tak akan mengkhianatimu, Xavier. Aku tak akan melukai bayi ini.” Sera berucap dengan nada sedikit terluka. “Bayi ini adalah darah dagingku juga, aku sudah mencintainya ketika menyadari bahwa dia bertumbuh di dalam perutku. Aku tak akan sanggup melukainya, jadi kau bisa tenang.”


Ucapan Sera yang lembut itu seketika memadamkan api kemarahan yang membakar Xavier. Bara di matanya hilanglah sudah, berganti dengan sinar redup ketika lelaki itu akhirnya melabuhkan pandangannya ke perut Sera.


“Apakah bayi di dalam perutmu baik-baik saja?” tanyanya perlahan dengan suara parau.


Sera menganggukkan kepala, entah kenapa terpercik rasa senang di benaknya ketika Xavier menunjukkan perhatiannya kepada bayinya.


“Aku merasa baik-baik saja, dan dokter Nathan juga bilang kalau dia tidak apa-apa,” jawabnya meyakinkan. Mata Sera terangkat dan tatapannya langsung tertuju ke arah Xavier yang tidak sedang menatapnya. Lelaki itu merendahkan pandangan matanya, terpaku lekat ke arah perut Sera.


Ekspresi Xavier terlihat seperti seorang anak kecil yang menempelkan wajahnya di etalase kaca toko, hanya bisa menatap mainan kesukaannya yang tak terjangkau, tetapi tak bisa menyentuhnya.


Pria ini tak punya keluarga kandung sebelumnya. Bayi yang ada di dalam perutnya ini adalah manusia pertama yang berbagi genetik dengannya. Memikirkan itu membuat Sera jadi memahami kenapa Xavier terlihat begitu posesif ketika mengambil sikap untuk melindungi anaknya.


Sera menelan ludah, memberanikan diri ketika dia akhirnya menawarkan dengan sikap impulsif ke arah Xavier.


“K-kau ingin memegang perutku?” tanyanya terbata.


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2