Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 35 : Mengenal Musuh


__ADS_3


"Im sorry because i hurt you. You probably think i dif it because i didn't care about you. That's not true. I dit it because i dont care about me.


Menyadari bahwa lelaki yang duduk di samping ranjangnya itu adalah Akram Night, Elana langsung memutuskan untuk memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana dan hal terakhir yang diinginkannya adalah berinteraksi dengan Akram Night yang selalu melelahkan jiwanya karena mereka akan selalu berakhir dengan bersitegang.


Akram adalah orang terakhir yang ingin dia lihat ketika membuka mata. Tetapi kenapa dirinya selalu berujung dengan Akram Night dimanapun dia berada?


Sekarang, ingatan Elana sudah jernih, dan dia sudah mampu merunut seluruh kejadian yang membuatnya kembali terdampar di rumah sakit ini dengan tubuh penuh luka dan nyeri. Dia ingat benar tabrakan keras dari truk besar yang seolaj kehilangan kendali hingga menabrak mereka sebelumnya.


Tapi, mengingat dahsyatnya kecelakaan tersebut, Akram Night yang tertidur di kursi itu, dalam pengamatannya sekilas tadi, tampak baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apapun, padahal mereka mengalami kecelakaan yang sama, di dalam mobil yang sama pula ....


Kenapa bisa begitu? Seolah semesta memberikan ketidakadilan dengan melindungi Akram, tapi malah tega membuatnya babak belur.


Karena sibuk dengan lamunannya, Elana tanpa sadar berdehem pelan lalu akhirnya malahan terbatuk-batuk keras sebagai reaksi alami tubuhnya guna membasahi tenggorokannya yang kering. Sebenarnya, begitu terbangun tadi, tenggorokan serta mulutnya terasa begitu kering didera dahaga hingga air liur saja tidak cukup untuk membasahi .


Suara batuk Elana yang membahana di kamar senyap itu dengan mudah langsung memecah keheningan dan seketika menembus alam mimpi Akram yang sangat sensitif.


Elana bisa merasakan lelaki itu bergerak di kursi sempit tersebut, menimbulkan suara gemerisik dari gesekan pakaiannya ketika lelaki itu bangkit dari duduknya. Elana lalu mendengar lelaki itu beranjak dari kursinya dan berakhir dekat di pinggir ranjang, untuk kemudian duduk di tepiannya.


Tanpa diduga, tangan Akram bergerak menyentuh dahi Elana, menangkup di sana dan kali ini terasa sejuk, sangat nyaman di permukaan kulitnya yang panas.


"Kau sedikit demam, tapi jangan khawatir, penghilang rasa sakit di infusmu juga memiliki efek untuk menurunkan demam, kau akan baik-baik saja," Akram berucap seolah tahu bahwa Elana sudah sadarkan diri meskipun tubuh Elana sama sekali tidak bergerak dan matanya masih terpejam rapat. "Kau ingin minum?" tawar Akram berikutnya.


Godaan untuk minum luar biasa kuatnya, apalagi saat ini tenggorokannya begitu kekeringan hingga nyaris terasa sakit. Elana akhirnya menyerah dan membuka mata lalu menganggukkan kepala untuk menjawab tawaran Akram.


Akram langsung bergerak, mengambil gelas berisi air minum yang disediakan oleh pihak rumah sakit, lalu memasangkan pipa penyedot di gelas tersebut dan mendekatkannya ke bibir Elana, membiarkan Elana menghisap air di gelas itu sampai habis untuk memuaskan dahaganya.


"Sudah? Atau mau lagi?' Akram bertanya dengan suara tertahan ketika isi air di gelas itu sudah hampir tandas.


Elana menggeleng, memberi isyarat melalui gerakan. Sudah cukup.


Ketika rasa hausnya terpuaskan dan kekeringan di tenggorokannya terhapus, rasa kantuk yang amat kuat kembali menyerang diri Elana. Kali ini Elana memilih menyerah kalah, dengan sukarela membiarkan rasa kantuk itu menjajah otaknya dan merenggut kesadarannya.


Beberapa detik sebelum Elana benar-benar larut dalam lelapnya, sempat didengarnya suara Akram berbisik dengan parau.


"Apa yang telah kulakukan kepadamu?" suara Akram terdengar berat dan lelaki itu menghela napas seolah kehabisan udara. Kemudian,bisik rendah terdengar samar di udara.


"Maafkan aku, Elana."


Sedetik setelah bisikan itu, Elana benar-benar menyerah dalam pelukan alam mimpi yang memaksanya untuk beristirahat. Meskipun begitu, terselip tanya di benaknya: mungkinkan bahwa permohonan maaf yang diucapkan oleh Akram tadi, hanyalah bunga tidur Elana yang mekar akibat disiram oleh harapan yang tak nyata?


Akram tidak pernah minta maaf sebelumnya pada Elana atas semua perbuatan dan kekejaman yang dia lakukan. Akram tidak meminta maaf setelah memperkosa Elana, tidak juga ketika lelaki itu mengurung Elana, merenggut kemerdekaannya serta memaksa Elana melayani nafsunya semau hatinya.


Lalu... kenapa sekarang lelaki itu meminta maaf?


 



 


Dalam kegelapan, Akram menatap kondisi Elana yang menyedihkan. Bahkan hanya diterangi cahaya remang yang terbatas inipun, kondisi Elana yang penuh luka terlihat jelas di mata Akram.


Bukan hanya tulang patah yang harus di gips, sisi dahinya, pipi, pundak, rusuk, paha, kaki, bagian-bagian tubuhnya yang lain, semua itu penuh dengan luka memar dan goresan.


Seandainya saja waktu itu Elana tidak bertemu dengannya, mungkin sekarang perempuan ini bisa menjalani hidupnya dengan tenang, tanpa menderita luka, dan berbahagia hatinya dalam kebebasan, walaupun hidup berkekurangan.

__ADS_1


Selama ini, Akram tidak pernah menyesali keputusan apapun yang diambilnya, karena dia tahu setiap keputusan pasti membawa konsekuensi tersendiri, entah baik, entah buruk, dan dia siap menanggung konsekuensi tersebut bahkan sejak sebelum keputusan itu diambilnya.


Begitupun keputusan menyangkut Elana. Karena terbiasa mendapatkan apapun yang dia inginkan, maka Akram dengan sadar telah mengambil keputusan untuk memiliki Elana dengan paksa, merenggut perempuan itu dari dunianya dan membawanya ke dalam dunia Akram yang penuh bahaya. Dia tidak pernah menyesali keputusan - keputusannya sebelumnya untuk merenggut Elana menjadi miliknya, tidak sama sekali...


Tidak sampai detik ini, ketika luka, kesakitan dan penderitaan Elana membuat jantungnya terasa diremas hingga hancur berkeping-keping.


Harusnya tidak seperti ini, harusnya ini hanyalah hubungan singkat saling memuaskan fisik sambil lalu yang hanya bertujuan untuk memuaskan jasmani semata. Harusnya Akram hanya memanfaatkan Elana demi kesenangan singkat sesaatnya saja dan setelah dia puas, akan dibuangnya Elana dengan harga yang pantas.


Tetapi, kepolosan Elana telah membuatnya lengah. Perempuan itu masuk diam-diam ke dalam hatinya tanpa Akram sadari, lalu memasangkan ikatan mungil tak kasat mata yang membuat hati Akram terkoneksi kuat kepada Elana.


Apakah Akram harus mempertimbangkan sesuatu yang dahulu sama sekali tidak pernah dia pertimbangkan sebelumnya? Haruskah dia melepaskan Elana dan membiarkan perempuan itu bergelimang kebebasan dan meraih kebahagiaannya sendiri?


Kebahagiaan yang sudah pasti tanpa Akram di dalamnya.


 



 


"Bodoh!"


Sosok lelaki tampan bertubuh tinggi dan mengenakan setelan jas gelap tiga potong yang rapi tampak mengayunkan tangannya ke wajah anak buahnya, di ruang serupa perpustakaan megah dalam sebuah rumah yang memiliki desain seperti bangunan abad pertengahan.


Meskipun lelaki itu bertubuh ramping, tetapi kekuatannya sangat besar hingga satu ayunan pukulannya, bisa membuat lawannya mundur terhuyung ke belakang hingga jatuh terjerembab.


"Kau bilang kau pasti akan berhasil! Kau bilang kau tak akan gagal lagi kali ini! Tapi lihat apa yang terjadi! Bukan hanya kau gagal dan membuat Akram Night menjadi lebih waspada mulai detik ini, kau juga kehilangan saksi kuncimu, supir truk itu! Dia sudah pasti berada di tangan Akram!" Lelaki itu menyambung kembali dengan suara tenang penuh penekanan. Meskipun suaranya terdengar tenang, bara kemurkaan yang terselip di sana sudah pasti terasa begitu mengerikan, hingga mampu membuat bulu kuduk berdiri.


"Ampun, Tuan!" setelah dijatuhkan, lelaki itu tidak berani bangkit dari bawah dominasi tuannya yang mengerikan. Yang dilakukannya adalah merangkak perlahan di lantai, merayap di sana dengan darah menetes dari hidung dan bibir bekas pukulan tuannya, lalu baru berhenti ketika kepalanya telah mencapai sepatu tuannya.


"Supir truk itu tidak akan berani membuka mulutnya, dia takut kepada Anda, dia pasti akan lebih memilih mati daripada membuka mulutnya...." lelaki itu beriba-iba dengan penuh harapan. "Saya... saya juga menemukan informasi penting bahwa di luar dugaan, Akram Night tidak sedang sendirian saat kecelakaan terjadi... dia bersama wanita... wanita yang sepertinya sangat penting untuknya...."


"Be... benar, Tuan. Saya melihat sendiri dari pengamatan di lokasi kecelakaan di detik setelah kecelakaan itu terjadi. Meskipun penuh luka dan berdarah-darah, Akram Night tetap memberi instruksi dengan luar biasa panik supaya anak buahnya menyelamatkan perempuan itu terlebih dahulu, Akram Night bahkan menggunakan tubuhnya untuk memeluk dan menjadi tameng pelindung bagi perempuan itu ketika kecelakaan terjadi. Dan melihat betapa cemas serta khawatirnya Akram waktu itu, saya yakin bahwa wanita itu luar biasa penting baginya... wanita itu adalah kelemahannya! Saya masih belum tahu dimana Akram menyembunyikan wanita itu setelahnya, tetapi... kalau kita bisa mendapatkannya, kita akan bisa menggunakannya untuk mengalahkan Akram Night!" lelaki yang masih merangkak di depan sepatu tuannya itu menunduk, memohon dengan penuh harap sambil mencium sepatu mahal tuannya, membuat darah dari hidung dan mulutnya berceceran di sana. "Saya mohon, tuan! berikan... berikan kesempatan sekali lagi supaya saya...."


Sang Tuan menyeringai, matanya memandang rendah ke arah anak buahnya di kakinya, yang telah gagal melaksanakan tugas.


"Kau telah membawakan infomasi yang sangat menarik untukku...sayangnya darahmu yang mengotori sepatuku membuatku muak!" tiba- tiba kaki Sang Tuan bergerak cepat, menendang wajah anak buahnya itu dengan begitu kerasnya hingga tubuhnya terjengkang ke belakang.


Darah mengalir lagi dari mulut si anak buah malang tersebut karena beberapa giginya yang rontok akibat tendangan Sang Tuan. Tertatih, dia berusaha bangkit, tapi gerakannya tertahan ketika tuannya sudah menyerang di atasnya, menusukkan pisau dengan tikaman brutal berkali-kali ke tubuhnya, mencabut nyawanya dengan keji dan tanpa belas kasihan.


Ketika Sang Tuan selesai, tempat itu begitu mengerikan bagaikan ladang pembantaian, dengan darah berceceran dimana-mana. Darah itu bahkan terciprat di tubuh Sang Tuan sendiri, juga membasahi wajah dan rambutnya.


Lelaki itu lalu berdiri, dan salah satu dari beberapa anak buahnya yang sejak tadi hanya diam dan menjadi saksi adegan brutal itu, bergegas bergerak untuk memberikan saputangan bersih kepada tuannya. Sementara itu, para anak buahnya yang lain langsung bergerak menyeret tubuh korban yang sudah mati tercabik penuh luka tikaman, dan menyingkirkannya dari ruangan itu.


Lelaki itu menerima saputangan tersebut dan menggunakan untuk mengusap wajahnya yang bernoda darah. Senyumnya tampak begitu mengerikan di wajahnya yang tampan ketika memberikan instruksi pada anak buahnya yang lain.


"Cari tahu tentang wanitanya Akram yang ini," matanya berkilat penuh ancaman gila berbahaya, "Aku ingin kalian menemukan informasi tentang wanita itu sebanyak mungkin dan setepat mungkin, lalu menginformasikan kepadaku dengan segera."


 



 


"Buka mulutmu," Akram mendekatkan sendok yang penuh makanan di tangannya ke bibir Elana, memaksa perempuan itu membuka mulut.


Elana memasang wajah canggung, tapi disodorkan sendok seperti itu menempel di mulutnya tanpa bisa menghindar, mau tak mau Elana membuka mulutnya juga dan membiarkan Akram menyuapkan makanan tersebut masuk kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Bagus. Makan yang banyak dan kau akan memiliki bahan bakar untuk menyembuhkan diri dengan cepat," Akram berucap sambil mengambil sesuap besar makanan lagi, memenuhi sendok di tangannya untuk disuapkan pada Elana.


Elana yang tengah berusaha mengunyah makanan di mulutnya yang penuh, meletakkan tangan kirinya yang tidak sedang sakit untuk menutup mulutnya dan berucap cepat dalam upaya mencegah,


"Ti... tidak! Suapannya terlalu besar..." Elana berseru perlahan ketika Akram menggerakkan sendoknya lagi hendak menyuapkan kembali.


Akram mengangkat alisnya seolah mengejek.


"Terlalu besar? Apa kau lupa besarnya suapan yang kau masukkan ke mulutmu pagi itu saat sarapan di villa? Ini bahkan bukan apa-apa." celanya telak.


Pipi Elana merah padam ketika Akram dengan sengaja menyebutkan kembali gaya makannya yang serampangan waktu itu yang dilakukannya guna memprovokasi Akram, tapi tak urung Elana tetap menolak suapan Akram berikutnya.


"Ti... tidak... aku bisa makan sendiri," ucapnya cepat.


Kali ini ekspresi Akram tiba-tiba berubah gelap berbahaya.


"Tanganmu sedang sakit, kau tidak akan bisa menyuapkan makananmu sendiri," desisnya mengancam.


"Aku masih punya tangan kiri," Elana menunjukkan tangan kirinya di depan wajah Akram kalau-kalau lelaki itu tidak bisa melihat dengan jelas.


Wajah Akram menunjukkan ketidaksetujuan muram ketika lelaki itu membuka mulut hendak memberikan ultimatum, tetapi kalimatnya tidak sampai keluar dari mulutnya karena tiba-tiba saja Elios muncul dari pintu yang terbuka dan memandang penuh isyarat ke arah Akram.


"Tuan, saya datang membawa laporan yang Anda inginkan," ucap Elios dengan nada misterius yang segera dimengerti oleh Akram.


"Kita bicara di luar," putusnya tegas ke arah Elios, lalu melangkah berdiri dan meletakkan nampan makanan Elana di nakas samping ranjang. Akram lalu menyempatkan diri untuk membantu Elana minum dengan sedikit merangkul Elana dan menyangganya supaya duduk dengan tegak dalam pelukannya ketika minum.


Setelah Elana selesai, tanpa diduga Akram menghadiahkan kecupan di dahi Elana sekilas dengan sentuhan ringan bagaikan jaring laba-laba.


"Aku akan segera kembali," ucapnya pelan sebelum beranjak dan melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan pintu tertutup di belakangnya.


Elana menatap pintu yang tertutup tempat Akram menghilang dengan ekspresi bingung, tangannya tanpa sadar bergerak menyentuh dahinya sendiri, bekas ciuman Akram di sana.


Apa yang sebenarnya sedang merasuki Akram hingga bersikap seperti itu?


Beberapa hari dilewatkannya di rumah sakit ini, Akram bersikap penuh perhatian dan tak segan merawatnya ketika lelaki itu sedang datang berkunjung. Yang lebih anehnya, lelaki itu selalu datang ke rumah sakit tiap malam tanpa kecuali sepulangnya bekerja, lalu pergi pagi-pagi sekali ketika fajar menjelang. Meskipun sudah larut malam sekalipun , Akram selalu datang tanpa absen dan dia selalu melewatkan malamnya dengan tidur di sofa bed besar yang tersedia di ujung ruangan. Seolah-olah Akram merasa wajib menunggui dan menjaganya...


Apa mungkin Akram menyesal telah menyebabkan Elana mengalami kecelakaan?


 



 


"Dua puluh tujuh tusukan pisau di area depan tubuhnya, yang sepertinya ditikamkan dengan brutal dan tanpa ampun. Lalu mayatnya dibakar untuk menghilangkan jejak identitas. Meskipun begitu, orang kita di forensik berhasil mengumpulkan bukti tentang dugaan kuat mengenai orang yang kita cari," Elios memberikan penjelasan seiring dengan Akram yang tengah memindai foto-foto yang diberikan kepadanya.


Foto-foto itu sungguh mengerikan, hasil penemuan mayat misterius dengan wujud tak utuh lagi yang akan membuat siapapun mual ketika melihatnya. Tetapi Akram tampak mengawasi semuanya tanpa berkedip lalu berhenti di foto terakhir yang menampakkan gambar hasil pengawasan kamera CCTV yang menampilkan sebuah mobil boks yang berkamuflase menggunakan merk pabrikan roti terkenal di bagian luarnya dengan sosok supir misterius yang berpakaian hitam-hitam mengendarain


"Kau yakin bahwa mayat ini adalah sosok supir di kamera CCTV ini?" Akram berucap tenang untuk meyakinkan kembali.


Elios menganggukkan kepala tegas. "Saya yakin, dan forensik juga memastikannya. Dia dibunuh karena gagal menjalankan tugas." simpulnya cepat.


Akram menganggukkan kepala. "Melihat metode pembunuhannya yang brutal dan gila, sepertinya aku tahu siapa musuh yang sedang kita hadapi." geramnya perlahan dengan kilat mengerikan mengancam di matanya.


 


__ADS_1



__ADS_2